UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Tanggung Jawab.


__ADS_3

Dimas menatap Manda dengan geram. Ingin sekali ia menyingkirkan wanita itu dalam hidupnya, andai saja wanita itu tidak hamil, mungkin sudah ia lenyapkan sangking geramnya.


"Jelaskan padaku, apa maumu sebenarnya?"


"Aku ingin kau menikahiku."


"Jangan mimpi di siang bolong, aku tidak akan pernah menikahimu."


"Tapi ini anakmu Dim, bagaimana masa depan anak ini jika kau tidak mau bertanggung jawab?"


"Tidak perlu berdrama di depanku, katakan siapa ayah dari anak ini?" Dimas mencekal tangan Manda kuat.


"Sakit Dim, lepaskan!! Apa kau lupa kita melakukannya di hotel waktu itu, dan karena hal itu kau tak jadi pergi undangan pesta perayaan ulang tahun mitra kerja perusahaan. Kau ingat kan Dim."


"Aku tidak perduli tentang hal itu, aku tidak akan pernah menikahimu sekalipun yang ada di kandunganmu itu adalah anakku."


"Kau brengsek Dim, kau menduriku hingga hamil tapi kau tidak mau bertanggung jawab padaku dan juga anakku."


"Aku akan bertanggung jawab atas anak ini jika ia benar-benar anak kandungku, tapi tidak untuk dirimu" jawab Dimas dengan geram.


"Tega sekali kau lakukan itu padaku Dim, kau sudah menodaiku hingga hamil dan tidak mau bertanggung jawab padaku. Aku tidak akan menuntutmu untuk bercerai, Aku bersedia menjadi istri keduamu. Tolong biarkan aku tetap di sisimu Dim, demi anak kita" Manda menangis dan memohon pada Dimas.


"Tutup mulut busukmu itu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikahimu. Dimas mengepal erat tangannya. Ia terus berusaha menahan tangannya untuk tidak memukul wanita di depannya ini.


Dimas mengambil handphone miliknya dan menghubungi anak buahnya. Ia berencana menahan Manda hingga anak itu lahir dan melakukan tes DNA ketika bayi itu lahir nanti. Dimas tidak mau mengambil resiko dengan melakukan tes DNA secara terburu-buru.


"Hallo, cepat kemari dan bawa wanita ini ke markas."

__ADS_1


***********


Sementara itu di lain tempat, Tiara yang mengetahui jika Erick mencarinya, maka ia memutuskan untuk memasuki ruang ganti petugas medis. Ia melihat baju perawat yang tergantung dan mengenakannya. Tidak lupa ia juga menutupi wajahnya dengan masker agar tak ada yang mengenalinya.


Tiara melangkahkan kakinya mengikuti kata hatinya, ia melihat sebuah lorong sepi dan melewatinya. Ia berjalan sambil terus mendengarkan percakapan melalui handsfree. Batinnya terasa seperti teriris-iris mendengar suaminya pernah tidur dengan Manda.


Tiara yang melihat Erick berjalan kearahnya dengan cekatan masuk ke salah satu ruangan dengan asal.


Ia mendekati tempat tidur pasien yang terlihat tertidur nyenyak. Tiara duduk di sebelah ranjang pasien dan menelungkup kan kepalanya. Ia menangis, meluapkan amarahnya.


Ia sama sekali tidak menyangka jika suaminya tega berkhianat padanya.


"Hiks hiks hiks..., Dasar pria brengsek, Kenapa ia tega sekali mengkhianatiku. Apa salahku Tuhan hiks hiks hiks..., Kenapa ia tega sekali."


"Mama Dimas jahat ma, dia menyakitiku. Mama..., ini sungguh sakit. Tolong Tiara Ma."


Setelah puas dengan tangisannya Tiara memperhatikan pasien yang ada disebelahnya. Ia mengernyitkan dahinya, ia merasa pernah melihat pria ini, tapi ia lupa dimana pernah melihatnya.


"Tuan, apa yang terjadi padamu? Kenapa tidak ada keluargamu yang menemanimu? Apa keluargamu tidak ada yang menyayangimu? Huaaaa, bahkan suami yang ketanya mencintaiku ia tega sekali mengkhianatiku. Tuan cepat sembuh ya" Tiara menghapus air matanya dan ingin berbalik pergi.


Jari pasien itu terlihat bergerak lemah ketika Tiara membalikkan badannya. Baru saja Tiara ingin keluar dari ruangan itu, tiba-tiba tiga orang pria masuk ke dalam ruangan itu. Orang itu adalah Seorang Dokter, seorang perawat laki-laki dan seseorang yang menggunakan pakaian kerja formal.


"Anda mau kemana suster, tolong bantu kami membawa pasien ke dalam ambulance" Seorang dokter menegur Tiara yang ingin keluar dari ruangan.


Tiara sempat terbengong dan bingung, tapi Dokter kembali memanggilnya. Tiara ikut membantu mendorong tempat tidur pasien, ketika melewati lorong rumah sakit, ia berpapasan dengan Erick yang kebingungan mencarinya. Dan ketika menuju ke mobil ambulance, ia juga melihat Dimas dari arah parkiran terlihat tergesa-gesa masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Atas permintaan Dokter Tiara ikut ke dalam mobil ambulance. Tiara yang belum siap bertemu dengan suaminya akhirnya memilih untuk ikut masuk ke dalam mobil itu.

__ADS_1


Tiara mencuri pandang pria berjas yang ada di sebelahnya, ia merasa pernah bertemu dengan pria itu. Tiara berusaha mengingat-ingat dimana ia bertemu dengannya. Tiara melihat pasien yang terbaring di hadapannya lalu melihat pria berjas di sampingnya. Tiara menutup mulutnya terkejut, ia ingat sekarang Dimana ia bertemu dengan pria-pria itu.


Ya pria itu adalah pria yang pernah bertemu Tiara di toilet night club di hari pertama ia bekerja di tempat Nyonya Anggi.


Tiara melihat map kuning yang tergeletak di samping pasien yang merupakan data kesehatan pasien, Ia membaca riwayat kesehatan pasien itu dan cukup terkejut, karena pria itu ternyata sudah koma selama sembilan bulan. Berarti pada saat pria itu ia temukan di toilet sampai dengan sekarang, belum juga sadarkan diri.


Astaga pantas saja ia tidak menepati janjinya untuk mengeluarkanku dari night club ternyata ia belum sadarkan diri sampai sekarang. Maaf karena aku sempat berpikiran buruk tentangmu.


Kasihan sekali nasibmu Tuan, jika di bandingkan dengan masalahku aku jadi malu dengan tingkahku tadi. Tiara mengingat dirinya yang menangis keras meratapi nasibnya. Kini ia sadar tidak ada gunanya meratapi nasib, yang ia perlukan sekarang adalah bangkit dari rasa sakitnya. Setidaknya ia harus bersyukur karena masih di beri kesehatan.


Tiara yang belum siap bertemu dengan suaminya dan juga Manda akhirnya memutuskan sesuatu.


Aku akan merawatmu mulai sekarang Tuan, anggap saja sebagai tanda terimakasihku karena sudah menyadarkanku dari keterpurukan.


Pikiran Tiara lebih tenang sekarang setelah mengikhlaskan apa yang terjadi pada rumah tangganya. Ia memutuskan untuk menjauh saat ini bukan berarti ia menyerah ia hanya ingin hidup tenang di trimester pertama kehamilannya.


Tiara tidak ingin masalah yang di hadapi di rumah tangganya berdampak buruk untuk perkembangan janinnya. Ia mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Aku pasti akan kembali Mas, aku janji. Tapi biarkan untuk kali ini saja aku menjauh untuk sementara. Aku ingin menenangkan pikiranku, dan kembali padamu dalam kondisi yang kuat. batin Tiara dalam hati.


Tanpa ia sadari air matanya kembali menetes dengan cepat ia menghapusnya ketika menyadari tatapan aneh pria yang ada di sampingnya.


"Anda baik-baik saja" tanyanya.


"Sa-saya baik Tuan, hanya saja sepertinya tadi ada debu yang masuk ke dalam mata saya."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2