UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Mencari Buronan.


__ADS_3

Saat ini pesawat yang ditumpangi Tiara, Lia dan Farih sudah tiba di bandara tujuan mereka. Mereka melanjutkan perjalanan dengan menaiki mobil selama satu jam setengah untuk sampai di desa dimana Tiara di besarkan.


Mereka baru memulai perjalanan darat selama sepuluh menit tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi terjebak macet yang cukup panjang. Farih mengamati banyak pasukan polisi memeriksa setiap kendaraan yang melewati jalan.


"Ada apa ya Pak, kok banyak sekali polisi memeriksa setiap kendaraan yang lewat" tanya Farih kepada supir mobil yang ia sewa.


"Saya juga tidak tahu Tuan, sepertinya mobil kita akan lama terjebak macet disini. Saya akan turun sebentar Tuan mencari informasi, apa yang sebenarnya terjadi" ungkap sopir itu.


Supir itu turun dari kendaraannya, mendekati beberapa petugas yang sedang memeriksa mobil yang lumayan jauh dari mobilnya saat ini. Supir itu segera kembali kedalam mobil setelah berhasil mendapatkan informasi yang ia butuhkan.


"Katanya ada buronan kabur dari mobil tahanan Tuan."


"Kok bisa?" tanya Farih heran.


"Sebenarnya polisi tadinya ingin memindahkan tahanan itu ke penjara pusat Tuan. Tapi di tengah perjalanan tiba-tiba si tahanan berhasil melumpuhkan petugas polisi dan kabur Tuan."


"Polisi saat ini sedang menelusuri daerah-daerah yang kemungkinan akan dilewati oleh buronan itu. Karena kabarnya buronan itu cukup berbahaya Tuan, ia bahkan sudah membunuh beberapa rekan kerjanya sendiri dengan sadis Tuan. Ia juga menghabisi empat polisi yang ada di mobil tahanan yang membawanya" supir itu bergidik ngeri membayangkan kejahatan sang buronan.


"Bagaimana mungkin seorang tahanan, berhasil menghabisi empat orang polisi yang bersenjata sendirian?" Farih bergumam keheranan.


"Ada seseorang dengan membawa senjata api yang membantunya Tuan."


"Penjahat sekarang semakin mengerikan saja Sepertinya kita akan lama terjebak macet disini, lihat bahkan belum separuhnya mereka memeriksa kendaraan yang lewat" keluh Farih. Sementara Tiara sudah terlihat bosan di dalam mobil tersebut.


"Sabar mas, toh polisi melakukan ini juga pasti karena mempertimbangkan keamanan masyarakat. Bagaimana jadinya jika buronan itu sampai mencelakai orang lain" ujar Lia.


"Tiara capek Kak, pingin selonjoran kakinya. Kapan sampainya kalau seperti ini?" Tiara yang diam saja dari tadi mulai mengeluarkan suaranya.


"Kemarikan kakimu biar aku pijat" ujar Lia pada Tiara, tapi ditolak oleh Tiara karena merasa tak enak dengan Lia.


"Di dekat sini ada kafe Tuan, jika anda ingin istirahat sejenak. Itu Tuan kafenya yang ada Tenda kecil disampingnya, anda bisa istirahat terlebih dahulu disana. Nanti saya akan menghubungi Tuan jika giliran kita sudah selesai" ucap sopir itu memberi solusi.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan Lia dan Tiara, akhirnya Farih memutuskan mengajak mereka untuk istirahat sejenak di kafe itu.


Farih memesan minuman dan makanan kecil pada pelayan untuk mereka bertiga. Tiara yang merasakan ingin buang air kecil pamit untuk menuju toilet.


"Apa mau kutemani" tawar Lia.


"Tidak perlu Kak, sepertinya Tiara akan lama di toilet. Tiara juga mau bersihin muka, gerah banget ini" ujar Tiara berlalu pergi.


Toilet di kafe itu lumayan sepi. Tiara memasuki salah satu bilik toilet untuk menuntaskan hajatnya.


Pada saat Tiara ingin keluar dari bilik itu ia mendengar seperti suara orang terjatuh dari ruang sebelah biliknya. Tiara yang merasa khawatir mencoba mengetuk ruangan itu.


Tok tok tok


"Maaf apa anda baik-baik saja?" tanya Tiara khawatir karena tidak mendengar jawaban.


Tok tok tok...,


"Hallo..., apa ada yang bisa saya bantu! Baiklah saya akan memanggil pelayan untuk membantu anda jika anda tidak nyaman dengan saya."


"Tu-tuan a-apa yang anda lakukan di toilet wanita?" tanya Tiara terkejut, mengetahui jika ada seorang pria di dalam bilik toilet.


"Diamlah, ikut aku ke dalam" pria itu langsung menarik tangan Tiara paksa ke dalam bilik toilet. Tiara yang ingin berusaha melawan pria itu tak sanggup karena tenaga pria itu jauh lebih besar darinya.


"Tuan tolong jangan kasar, saya lagi mengandung, dan apa ini apa yang kau lakukan padanya" protes Tiara. Ia lalu membelalakkan matanya melihat tubuh seorang pria terduduk pingsan di atas toilet duduk. Di hidung pria itu terlihat darah yang hampir mengering dan juga lebam pada pipinya. Sepertinya pria itu baru saja mendapatkan tonjokan di wajahnya.


"Jangan khawatir dia belum mati, hanya pingsan saja karena ketakutan. Dan kau, jika tidak ingin terjadi sesuatu pada calon bayimu dan juga dirimu maka kau harus menurut padaku" ujar pria itu menatap tajam ke arah Tiara.


Tiara menelan salivanya mencoba mengontrol ketakutannya. Pria itu terlihat sangar dengan banyaknya bulu halus yang tumbuh di wajahnya.


"A-apa anda adalah buronan yang dicari-cari polisi?" tanya Tiara penasaran bercampur takut.

__ADS_1


"Baguslah kalau kau sudah paham siapa saya. Jadi saya tak perlu menjelaskan semuanya padamu. Berbaliklah aku akan melepas bajuku" pria itu melepas bajunya dan menukarnya dengan baju pria yang pingsan.


Tiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang bergetar. Ia berusaha menahan rasa takutnya berada dalam satu ruangan dengan orang yang sedang di cari oleh anggota kepolisian.


Pria itu meminta Tiara bekerjasama dengannya agar bisa keluar dari kafe itu. Ia berjanji tidak akan mencelakai Tiara maupun calon jabang bayi yang ada di Perut Tiara jika ia mau bekerjasama dengannya.


Pria itu meraba kantung bajunya yang baru saja ia kenakan. Mengambil kunci mobil yang ada di saku bajunya.


"Wah ini akan mempermulus rencanaku" gumamnya lirih, mempermainkan kunci mobil yang ada ditangannya. Kunci mobil itu merupakan milik dari pria yang pingsan.


"Kau berpura-puralah sakit perut saat nanti di hadapan petugas. Dan katakan kalau aku adalah suamimu, apa kau mengerti!!" ucap pria itu dan diangguki Tiara dengan ragu.


"Kemarikan tasmu" pinta pria itu menodongkan pisau lipat yang sedari tadi ia bawa. Ia lalu merebut tas milik Tiara.


"A-apa yang ingin anda lakukan Tuan?"


"Diamlah!!" pria itu mengobrak-abrik isi tas Tiara. Ia mengeluarkan kaca yang ada di dalam tas Tiara.


Pria itu menggores jenggot dan kumisnya dengan pisau lipat miliknya. Hingga terlihatlah wajahnya yang lumayan tampan. Ia juga mengambil kacamata hitam yang ada di tas Tiara dan mengenakannya.


Pria itu juga mengambil selendang yang Tiara taruh dalam tasnya. Selendang itu Tiara gunakan sebelumnya saat berada dalam pesawat.


"Jangan bergerak!!" ucap Pria itu lagi, sambil mengenakan selendang itu pada kepala Tiara. Lalu menuntun Tiara menuju parkiran mobil. Tiara dan pria itu lewat pintu belakang kafe hingga Farih tak menyadari kepergiannya.


Pria itu menggandeng tangan Tiara menuju parkiran. Ia lalu memencet tombol pada kunci untuk mengetahui keberadaan mobilnya.


Ya Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan hal buruk terjadi padaku maupaun bayiku ya Allah, batin Tiara.


"Bekerjasamalah denganku jika kau tidak ingin bayimu ini celaka" ancam pria itu menunjuk ke perut Tiara. Tiara yang terlihat gugup mengeluarkan keringat dingin, wajahnya juga terlihat pucat karena ketakutan dengan nasibnya dan calon bayinya.


"Ta-tapi anda janji ya Tuan, ja-jangan sakiti saya dan calon anak saya" ucap Tiara dengan nada takut.

__ADS_1


"Semua tergantung bagaimana aktingmu" ucap pria itu menatap Tiara tajam.


TBC.


__ADS_2