UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Dimas mesum


__ADS_3

Semenjak Tiara sakit, Dimas tidak pernah meninggalkan Tiara, ia selalu berada di samping Tiara. Dimas tidak akan membiarkan orang lain seenaknya menyentuh yang sudah ia klaim miliknya. Entah harus merasa senang atau sedih. Sekalipun pria itu saat ini memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Tapi tetap saja Tiara merasa masih sulit untuk menggapai pria itu.


*********


Setelah di rawat selama 3 hari akhirnya Tiara di ijinkan pulang. Tiara dan Dimas kembali ke Apartemennya. Di apartemen, Tiara tidak di ijinkan untuk melakukan tugas apapun. Dimas menyewa pelayan untuk bersih-bersih, memasak untuk sarapan dan makan siang. Sedangkan untuk makan malam Dimas memilih memesan makanan.


Pelayan di apartemen Dimas hanya bekerja sampai setengah hari, Ia akan langsung pulang setelah selesai memasak makan siang. Karena Dimas tidak ingin waktunya berdua Tiara terganggu dengan kehadiran orang asing.


Dimas saat ini berada di ruang kerjanya, ia lebih sering pulang kerja lebih awal dan menyelesaikan pekerjaannya di apartemen. Ia tidak ingin Tiara kesepian sendirian di apartemen, sementara Tiara selalu menolak jika Dimas mengajaknya ke kantor.


Seperti saat ini, Dimas sudah berada di rumah. Padahal jam baru menunjukkan pukul dua siang.


"Tuan..."


"Hem"


"Bolehkah aku ke rumah Mas Reno, aku kangen Rendra."


"Kau memanggilku apa?"


"Tuan"


"Dan Duda jelek itu, kenapa kamu memanggilnya Mas"


"Tapi..., itu permintaannya Mas Reno."


"Sekarang dengarkan kata-kataku, mulai saat ini jangan panggil dia Mas tapi ganti dengan Tuan. Dan ganti panggilanku dengan yang lain, aku tak ingin mendengarmu memanggilku Tuan."


"Tapi ganti dengan panggilan apa Tuan." Tiara bingung harus memanggil Dimas apa."


"Pikirkanlah, sebuah panggilan yang berbeda tapi berkesan."


"Berbeda tapi berkesan. Masku...,"


"Jangan panggil aku dengan kata-kata itu, panggilan itu sudah pernah kau berikan pada duda itu."


"Tidak ini berbeda aku hanya memanggilnya mas saja, sedang padamu aku memanggil Masku. Tidakkah itu berbeda dan lebih berkesan" jelas Tiara.


Ada semburat merah dan senyum yang tertahan di wajah Dimas, ia tidak ingin Tiara mengetahui kalau ia menyukai panggilan itu. Ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Masku, jadi gimana?"


"Gimana apanya?"


"Panggilan itu, apa kau menyukainya"


"Baiklah, kau boleh memanggilku itu. Tapi ingat panggilan itu hanya untukku, Kau tidak boleh memanggil orang lain dengan sebutan itu."


"Deal, terus bagaimana dengan permintaanku tadi."

__ADS_1


"Permintaan yang mana?"


"Tuh kan Masku selalu begitu, Permintaanku yang barusan aku katakan tadi."


"Yang mana yang, aku beneran lupa."


"Aku ingin mengunjungi Rendra, boleh ya aku kangen padanya. Aku juga belum bilang kalau mau resign, jadi biar aku pamit sekalian. Mereka pasti bingung karena aku menhilang begitu saja."


"Kau ini untuk apa merindukan anak orang lain. Kalau kau menginginkan seorang anak bilang saja. Aku akan mengabulkannya, ayo kita bikin anak saja. Agar kau tak merindukan anak orang lain."


"Masku, Aku serius"


"Aku juga serius sayang. Aku bahkan sudah membeli beberapa lingerie untukmu sayang. Ini sama sexy nya dengan yang kau kenakan di hotel waktu itu. Kau mengingatnya bukan" Dimas tersenyum Mesum menatap Tiara.


"Masku..., Dasar mesum" Tiara melempar bantal sofa ke arah Dimas, ia lalu berlalu pergi.


"lho mau kemana sayang. ini lingerie nya gimana"


"Bodo"


"Yah nggak jadi produksi Dede bayi dong."


Dimas sengaja mengalihkan perhatian Tiara, setiap Tiara menyinggung masalah Rendra. Maka Dimas akan kembali membahas hal yang berbau mesum. Hingga membuat Tiara melupakan permintaannya.


"Yang terus kapan dong pabriknya di buka, biar kita bisa produksi dedek yang banyak." Dimas mengikuti langkah Tiara menuju ke kamar.


"Bodo," Tiara menutup pintu kamar tepat di depan wajah Dimas, ketika ia ingin memasuki ruangan itu.


************


"Semenjak Reno mengajak Tiara ke pesta malam itu. Tiara tak pernah muncul lagi di rumah Rendra. Reno sebenarnya sangat penasaran apa yang terjadi pada Tiara. Tapi sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak ikut campur.


Tapi apabila selama 10 hari ini nanti Tiara tidak muncul juga, maka Reno memutuskan untuk menyelidikinya. Semenjak Tiara tidak pernah datang ke rumah mereka, Rendra selalu menolak pulang ke rumahnya. Ia selama ini memilih tinggal di rumah Omanya. Ia masih marah dengan Daddy nya. Setiap hari Reno selalu pulang ke rumah orang tuanya untuk membujuk Rendra tapi tidak pernah berhasil.


Pulang dari kantor Reno tidak pulang ke rumahnya tapi ia pergi ke rumah orang tuanya. Ia kangen dengan putranya karena sudah beberapa hari tidak mau pulang ke rumah mereka.


Saat ini Reno, Rendra dan Oma Rina berada di ruang tv, mereka menemani Rendra menonton kartun kesayangannya.


"Sayang, ini sudah satu Minggu lho kamu nginep di rumah omah, Ayo kita pulang. Apa kau tidak merindukan kamarmu?"


"Tidak, aku hanya akan pulang kalau Daddy membawa Kakak cantik ke rumah."


"Kakak cantik, siapa itu Ren" Tanya Oma menyela pembicaraan Reno dan Rendra. Rina, Ibu kandung dari Reno.


"Pengasuh Rendra ma." ucap Reno.


"Lalu dimana dia sekarang"


"Dia ijin ma, pulang kampung." jawab Reno asal.

__ADS_1


"Daddy bohong Oma, kalau emang Kakak Cantik pulang kampung. Kenapa di hari pertama Kakak Cantik tidak datang, Daddy bahkan tidak mengetahuinya."


"Baiklah-baiklah aku memang tidak mengetahui keberadaannya."


"Kamu kan bisa meneleponnya Reno" ucap Mama Rina.


"Aku tidak memiliki nomornya Ma."


"Kamu ini aneh sekali punya pegawai tapi tidak mengetahui nomornya." Reno diam saja tak menanggapi ucapan mamanya.


"Rendra sudah semakin besar, dan umurmu juga semakin bertambah. sebaiknya kau mencari seorang istri." Mama Rina tidak mengetahui kalau Reno tiga tahun belakangan ini mempunyai alergi terhadap wanita.


Reno selalu menutupi kekurangannya dari semua orang. Hanya beberapa sahabatnya dan pekerja di rumahnya yang mengetahui kekurangannya. Sedangkan orang-orang di luar sana hanya menganggap Reno lelaki yang dingin yang tidak ingin di sentuh wanita semenjak penghianatan istrinya.


"Jangan membahas masalah itu lagi Ma"


"Mau sampai kapan kau terus menduda, pikirkan anakmu pasti ia juga butuh kasih sayang seorang Ibu."


"Anakku tidak akan kekurangan Ma, kan ada mamaku yang paling cantik."


"Itu beda Ren, coba kau tanyakan anakmu pasti ia juga menginginkan seorang Ibu."


"Rendra apa kau menginginkan seorang Ibu" tanya Mama Rina.


"Mau Oma kalau yang jadi Ibu Rendra Kakak Cantik. Tapi Daddy terlalu payah" jawab Rendra dengan mengerucutkan bibirnya


"Hai boy, apa maksudmu?"


"Mau bagaimana lagi Oma, baru juga sekali Daddy mengajaknya berkencan kakak cantik sudah kabur."


"Hai kapan aku mengajaknya berkencan."


"Aku memang anak kecil Daddy, tapi kau tidak bisa membohongiku. Oma ingat seminggu yang lalu Daddy membawaku kemari. Daddy mengatakan kalau Oma rindu padaku. Padahal ia mengajak kakak cantik ke pesta sahabatnya. Sejak kapan Daddy mau menghadiri acara seperti itu."


"Wah wah ternyata anak mama sudah punya pilihan sendiri rupanya" ejek mama Rina.


"Tapi Daddy payah Oma. Baru sekali berkencan wanitanya sudah kabur. Cek cek cek Daddy sungguh menyedihkan."


"Hai boy berhenti mengejekku" Reno menghampiri Rendra dan mengelitiki perutnya.


"Ha ha ha..., ampun Daddy. Ampun..."


"Kenapa tidak kau lamar langsung saja Ren, lagipula anakmu terlihat menyukainya." Mama Rina melihat Reno yang sedang bercanda dengan anaknya.


"Kakak cantik nggak bakalan mau oma, Daddy sudah tua. Ha ha ha ..., ampun Daddy. Ha ha ha...., ampuuunn..." Reno terus mengelitiki perut Rendra. Sementara Oma Rina hanya tersenyum memperhatikan tingkah ayah dan anak itu.


"Ayo apa katamu tadi hah..." Reno terus mengelitiki Rendra.


"Ha ha ha..., ampun Daddy, Ha ha ha..., jangan kelitiki lagi nanti Rendra ngompol.

__ADS_1


TBC


__ADS_2