UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Ancaman.


__ADS_3

Tiara saat ini sedang berada di kamarnya. Tiara dan Alex memang satu kamar untuk menghindari kecurigaan. Tapi Alex tidak pernah tidur di atas tempat tidur ia memilih tidur di sofa panjang yang memang tersedia di kamarnya atau terkadang ia tidur di ruang kerjanya dengan alasan lembur.


Kandungan Tiara saat ini sudah berusia 5 bulan, ini saatnya bagi Tiara untuk melakukan USG agar bisa mengetahui jenis kelamin bayinya. Dokter yang memeriksa Tiara selama berada di Villa tak pernah melakukan USG karena terkendala alat. Lagipula Dokter yang memeriksanya adalah Dokter umum, bukan dokter kandungan. Jadi Tiara hanya melakukan pemeriksaan luar saja.


"Akan ada Dokter kandungan yang disiapkan kerajaan untuk memeriksamu. Satu jam lagi sudah di Pastikan ia akan tiba disini." ucap Alex.


"Terimakasih Kak" ucap Tiara.


"Kak!" panggil Tiara pada Alex.


"Ada apa? Apa ada yang kau inginkan?" tanya Alex.


"Apa aku boleh menelpon suamiku, aku merindukannya" ucap Tiara pelan dan memohon. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan Alex. Alex mendekat ke arah Tiara, hingga jarak mereka hanya beberapa centi. Alex memajukan kepalanya tepat berada di sebelah telinga Tiara yang tinggal beberapa inci saja.


"Jangan pernah kau berkata seperti itu lagi. Bahkan tembok disini bisa mendengar semua ucapanmu. Turuti lah semua keinginanku maka suamimu akan selamat dan kau beserta bayimu juga akan aman" ujar Alex.


"A-aku dan bayiku merindukannya" ucap Tiara dengan suara berbisik, ia tertunduk dan menangis. Ibu hamil ini terlihat begitu sensitif. Ia benar-benar merindukan Dimas dan menginginkan Dimas untuk membelai perutnya.


"Tenanglah, aku berjanji akan mengembalikanmu padanya jika saatnya sudah tepat. Sekarang hapus air matamu, Aku tidak ingin orang berpikir kau tak bahagia bersamaku. Bisik Alex sambil memeluk Tiara dan mengusap lembut punggungnya.


"Boleh aku mengusap perutmu, aku ingin berkenalan dengan bayi mungilmu itu. Siapa tau sentuhanku bisa mengobati kangennya bayi ini terhadap Ayahnya" pinta Alex, tulus. Ia ingin bayi di dalam perut Tiara itu tenang agar dapat mengurangi kekhawatiran Tiara.


"Boleh, tapi jangan lama-lama"Tiara menyetujui keinginan Alex.


Alex mengusap pelan perut Tiara, ia bisa merasakan tendangan bayi itu saat ia menyentuh perut Tiara.


"Bayi ini sepertinya memusuhiku, baru saja aku menyentuhnya ia langsung menendangku" ucap Alex sembari menjauhkan tangannya dari perut Tiara.


Tok tok tok


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu di depan kamar mereka.


"Ada apa?" teriak Alex tanpa membuka pintu itu.


"Dokternya sudah datang Pangeran."

__ADS_1


"Suruh Dokter itu kemari" perintah Alex.


"Laksanakan, Pangeran."


Segera maid itu menjauh dari pintu dan mengajak Dokter beserta dua orang perawat. Satu perawat wanita dan satu perawat laki-laki bersamanya.


Terlihat perawat laki-laki membawa perlengkapan peralatan USG di ikuti oleh Dokter dan juga suster yang ikut membawa alat kesehatan milik Dokter.


"Silahkan ibu berbaring" perintah seorang suster, sementara Dokter di bantu perawat laki-laki menyiapkan peralatan untuk USG. setelah peralatan siap perawat laki-laki itu diminta untuk menunggu di luar.


"Permisi sebentar Bu ya, saya oleskan gel dulu di perut ibu" ucap suster itu, Tiara terlihat tidak nyaman ketika perutnya terekspos. Apalagi ada Alex diruangan itu.


"Selamat Bu bayinya seorang putri yang cantik" periksa Dokter itu sambil memperhatikan layar monitor, ada Alex juga disana yang ikut memperhatikan pergerakan bayi tersebut.


"Cantik, seperti ibunya" Alex menimpali ucapan Dokter.


"Selama ini kondisi Ibu dan Bayinya cukup baik, tolong perhatikan asupan gizinya dan jangan terlalu banyak beban pikiran agar perkembangan Bayinya sehat" Ucap Dokter itu sambil menuliskan resep vitamin ibu hamil untuk Tiara.


"Jangan khawatir Dokter, saya akan memperhatikan asupan makanannya mulai sekarang. Aku juga akan berusaha membuatnya bahagia" ucap Alex memberikan perhatian pada Tiara, ia tidak ingin di cap sebagai suami yang cuek.


*****************


Sementara itu ditempat Michael dan Nara berada, situasi terlihat begitu menegangkan.


Michael yang sudah terbiasa menghadapi situasi bahaya terlihat tenang berbeda dengan Nara yang terlihat ketakutan, Ia bahkan bersembunyi di balik tubuh Mike dengan memegang erat lengan Mike.


"Gadis kecilku, ayo kemari" perintah Katsuro pada Nara yang berjarak sekitar 15 langkah darinya.


Nara tak bergeming sedikitpun, ia terlalu takut dengan amarah Papanya. Ia tahu betul seperti apa jika pria tua itu sudah marah. Ia bahkan tidak akan sungkan main tangan, bahkan membunuh anak buahnya tanpa segan jika sudah tersulit emosi.


"Naraa!!!!" teriak pria tua itu lagi. Nara mengintip memperhatikan ekspresi Ayahnya melalui sela-sela lengan Mike. Ia memegang lengan itu dengan erat menggunakan kedua tangannya seolah mencari perlindungan pada Mike.


"Apa aku harus menembak pria ini, baru kau datang pada Papa mu" ancam Katsuro.


"Pergilah, ia tak akan mungkin menyakiti putrinya sendiri" ucap Mike, menarik pelan tangan Nara ke depannya.

__ADS_1


"Tapi aku takut Kak" Nara kembali bersembunyi di balik tubuh Mike.


Pria tua itu sudah hilang kesabarannya, ia menembak ke atap gedung pabrik tua itu untuk memperingati Nara.


"Iya-iya, A-aku kesana!" teriak Nara tiba-tiba lalu keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan perlahan menuju Ayahnya sembari menoleh ke arah Mike.


"Tidak apa-apa, tenanglah" ucap Mike pelan menggerakkan bibirnya. Ia tersenyum pada Nara seolah-olah meyakinkan semua baik-baik saja.


Nara menatap Mike, matanya memerah bahkan air matanya kini menetes walaupun tak terdengar suara tangisan.


"Anak pintar" Katsuro mengelus kepala Nara lembut.


"Maaf" ucap Nara lirih dan menunduk ia belum berani menatap mata Ayahnya.


"Kau tidak perlu takut padaku, harusnya aku berterimakasih padamu karena sudah membawa Pria pengkhianat ini padaku! Karenamu juga Papa bisa terlepas dari penangkapan untuk kedua kalinya, terimakasih atas kerjasamanya putri cantikku" ucap Katsuro lantang dan sedikit membungkuk memberi penghormatan pada putrinya.


"A-apa maksud Papa?" tanya Nara bingung pasalnya ia merasa tidak ada membocorkan masalah penggerebekan yang kedua ini pada Katsuro ayahnya.


"Kau mengkhianatiku lagi Nara!" ucap Mike terlihat kecewa.


"Ti-tidak Kak, aku tidak ada menghubungi siapapun selama bersamamu. A-aku juga tidak tahu mengapa ayah berkata begini" Nara terlihat bingung.


"Kau tidak perlu takut putriku, pengkhianat ini memang perlu di beri pelajaran. Untung saja kau tak menolak pada saat Ayah mengajakmu kerjasama untuk menjebaknya, kau memang benar-benar putriku."


"Naraa!!! Kau..." tunjuk Mike terlihat marah dan geram, ia tidak menyangka akan masuk kedalam jebakan yang di rencanakan Ayah dan anak.


"Ti-tidak Kak, aku bersumpah aku tidak mengkhianatimu kali ini. Percayalah padaku Kak. Dan Papa mengapa Papa berkata begini. Aku tidak pernah memberikan informasi apapun padamu ataupun mengkhianatinya Pa!." Nara memotong pembicaraan Mike. Mencoba meyakinkan Mike kalau ia tak pernah mengkhianatinya.


"To-tolong jangan apa-apa kan Kak Mike Pa, dia orang baik. Na-nara bersedia menuruti semua perintah Papa, a-asalkan Papa lepaskan dia. Nara mo-hon Pa" pinta Nara memohon sambil terbata-bata, ia sedikit takut berbicara dengan Ayahnya.


"Orang baik! Sudahlah putriku, hentikan sandiwaramu itu. Kau tak perlu berakting di depan pengkhianat ini. Sekarang adalah waktunya untuk menyiksa pria ini! Ambil pisau ini, aku ingin kau mengiris setiap pergelangan kaki dan tangannya. Aku ingin darahnya tumpah disini malam ini, sebagai bayaran pengkhianatannya padaku." Katsuro berjalan mendekati Nara.


"Ti-tidak Pa, aku tidak akan melukainya" Nara menolak pisau yang di berikan Ia bahkan memundurkan langkahnya.


"Kau harus memilih, pisau ini untuk melukainya atau anak buahku yang menembak kepalanya" ancam Katsuro.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2