
Seorang tetua di desa itu menghampiri Dimas dan mengucapkan terimakasih atas bantuannya. Dimas dan Mike di bawa oleh penduduk desa menuju kamp pengungsian.
Kondisi bencana yang hampir meratakan separuh desa sungguh sangat memprihatinkan. Tenda-tenda di bangun secara darurat untuk tempat tinggal pengungsi dan dapur-dapur umum juga didirikan oleh beberapa relawan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Hal pertama yang ingin Dimas lakukan adalah menemui Tim medis. Ia ingin mencari tau keberadaan ayahnya.
Sementara Mike membantu di dapur umum yang kekurangan tenaga. Ia berbaur dengan ibu-ibu membantu mengolah makanan.
Dapat di pastikan Mike menjadi idola emak-emak seketika, bahkan ada yang tak segan-segan menawarkan putrinya untuk menjadi calon istri Mike.
"Gus masih sangat muda dan tampan Emak nggak keberatan kali bagus mau mempersunting anak emak" ucap salah seorang ibu pada Mike sambil membantu mengupas kentang.
(Gus/Bagus adalah panggilan untuk seorang pemuda yang belum menikah)
"Huuuuuu..." terdengar sorakan dari ibu yang lainnya seolah tak terima.
"Jangan mau Gus, anak Bu Narti janda anak dua. Sama anak Ibu aja masih perawan tingting" salah satu Ibu yang sedang menggoreng tempe menimpali.
"Jelas masih tingting, anakmu masih kelas 6 SD sudah kau tawar-tawarkan dasar kau ini Tun" ucap yang lainnya lagi.
"Ini anak saya Minarsih, kalau Agus mau nikah sekarang juga Ibu ikhlas. Mas kawin apa aja diterima yang penting nggak ngutang Gus"
Ibu itu menarik tangan putrinya dan membawanya ke hadapan Mike. Wanita yang tangannya ditarik ibunya sedikit kebingungan dengan entong nasi ditangannya. Ya pada saat Ibu itu ingin memperlihatkan putrinya. Ia sedang mengaduk nasi di dalam panci besar.
__ADS_1
"Dasar kau ini, jangan kau samakan Agus dengan suamimu yang tukang becak itu. Menikahimu mas kawin 20.000 hutang."
Mereka spontan tertawa kecil. Bisa dibilang nikahnya Ibu itu dadakan karena kepergok tukang ronda sedang berpacaran. Terpaksa mereka harus dinikahkan malam itu juga untuk menghindari fitnah. Dan saat itu suaminya tidak membawa uang sepeserpun jadi terpaksa mas kawin hutang dengan kepala desa. Peristiwa itu seringkali di jadikan candaan ibu-ibu yang hobi sekali mengejeknya.
"Lagipula mana mau nak Bagus sama gadis desa, lihat sendiri penampilan nak Bagus keren gini, orang kaya, ganteng lagi pasti sudah punya calon ya Gus?" tanya salah seorang ibu-ibu.
Mike yang sedari tadi diam saja menanggapi candaan Ibu-ibu itu akhirnya bersuara.
"Saya sudah punya calon istri Bu, insyaallah segera saya resmikan. Doakan saja" ucap Mike akhirnya menghindari para Emak yang mencoba menjodohkan anaknya.
Sementara itu Dimas saat ini sedang berbincang dengan salah satu tetua desa yang dihormati. Ia ingin mencari tahu keberadaan Ayahnya. Dan yang paling mudah adalah mencari informasi dari tim medis.
"Apa saya bisa bertemu dengan dokter penanggung jawab disini?" tanya Dimas pada salah seorang tetua desa.
"Bisa Tuan, mari saya antarkan, kebetulan dokter itu sedang membagikan vitamin dan susu untuk anak-anak dan lansia" ucap pria tua itu, Dimas mengikuti orang itu menuju ke sebuah balai desa. Disana terlihat ramai dan di dominasi oleh ibu-ibu yang membawa anak kecil, ada juga beberapa lansia disana. Sepertinya mereka juga sedang mengadakan posyandu gratis.
Setelah satu persatu pasien pergi, dan keadaan sepi Dimas menghampiri dokter muda itu.
"Selamat sore, saya Dimas. Bisa saya bicara sebentar dengan dokter?" tanya Dimas sopan.
"Tentu, Pak Dimas. Silahkan duduk" ucap dokter itu tersenyum ramah.
"Ada apa Pak Dimas, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu.
__ADS_1
"Saya anak dari Dokter Teo Hadi Nugraha, Apa anda tau keberadaan Ayah saya?" tanya Dimas, dokter itu menatap Dimas sesaat lalu tersenyum.
"Senang berjumpa anda Tuan Dimas, Dokter Teo adalah Dokter senior terbaik di rumah sakit kami. Dan untuk keberadaan Dr.Teo setau saya beberapa jam sebelum kejadian bencana alam, Dokter Teo pamit pulang. Katanya anak mantunya mau melahirkan, itu adalah hari terakhir saya melihat beliau" jelas Dokter muda itu.
"Ya benar, istri saya Alhamdulillah sudah melahirkan. Tapi Ayah saya sampai sekarang belum kembali ke rumah bahkan dimana keberadaannya, tidak kami ketahui. Bisa Dokter tolong bantu saya mencari informasi tentang Ayah saya. Mungkin ada anggota Tim medis yang lain, yang mengetahui keberadaan Ayah saya" pinta Dimas.
Ia berharap semakin banyak yang membantu mencari informasi tentang Ayahnya maka akan semakin cepat ia mendapatkan informasi.
"Tentu Tuan, saya dan Tim lainnya pasti akan senang membantu anda menemukan informasi keberadaan Dokter Teo. Ia adalah Dokter yang hebat dan senior yang baik, kami akan merasa senang bisa membantu keluarga beliau."
Dokter itu akhirnya mengajak Dimas ke tenda darurat pusat kesehatan penangan bencana alam. Disana banyak Tim medis dan juga obat-obatan yang diperlukan pengungsi.
Mereka menanyai Tim dokter dan juga Tim relawan. Tapi tak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Dokter Teo. Hingga ada salah satu dokter yang baru tiba dan mengatakan ada satu wilayah yang benar-benar terisolasi dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Lokasi menuju kesana cukup sulit dan berbahaya karena terletak di perbukitan jadi daerah itu rawan longsor.
"Saya baru saja bertemu dengan beberapa kepala desa yang wilayahnya terkena bencana. Dan ada satu wilayah yang tak tersentuh sama sekali dan membutuhkan relawan, dokter dan perawat untuk membantu di sana. Katanya sih disana sudah ada satu dokter senior, dari ciri-cirinya seperti Dokter Teo."
"Disana saat ini membutuhkan banyak relawan, Minimal 3 dokter dan beberapa perawat pria. Mengingat medan yang cukup sulit jadi kaum pria lebih di utamakan" Jelas dokter itu meminta kesukarelaan Tim medis nya.
"Apa helikopter bisa menuju ke wilayah itu?" tanya Dimas penasaran.
"Sejujurnya kami belum tahu Tuan, tentang kondisi dan medan yang sebenarnya disana. Dan separah apa kerusakan di lokasi itu. Tapi jika anda mau mencoba kesana menggunakan helikopter saya bisa mengirimkan titik koordinat nya pada Anda. Dan kami juga berharap bisa menitipkan obat-obatan, makanan dan pakaian di helikopter anda. Seandainya tidak ada tempat mendarat anda bisa menjatuhkannya dari tempat terendah."
"Benar itu akan lebih meringankan perjalanan menuju kesana jika barang-barang bisa di bawa oleh helikopter. Saya akan menghubungi instansi terkait agar barang yang nanti dikirim melalui helikopter tidak jatuh ke tangan yang salah" ucap salah satu Dokter.
__ADS_1
"Baik, saya bersedia menuju kesana menggunakan helikopter, Kira-kira kapan saya bisa memulai perjalanan saya?" tanya Dimas terlihat bersemangat.
TBC.