UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kedatangan Anton.


__ADS_3

Pagi ini rumah Kakek kedatangan tamu yang telah lama tidak pernah menginjakkan kakinya ke rumahnya.


Pria itu datang dengan seorang Baby sister dan bayi yang berada dalam gendongannya.


"Anton apa kabar?" sapa Kakek menghampiri Anton. Anton memberikan bayinya pada seorang Baby sister, dan memeluk Kakek.


"Kabar baik Kek" ucapnya memeluk pria tua itu dan menepuk pelan punggungnya.


"Ini putramu, dia sangat tampan benar-benar gen keluarga kita" ucapnya terdengar bangga. Kakek mengambil bayi itu dari gendongan Baby sister. Kakek terlihat pandai dalam menggendong bayi karena terbiasa dengan Aqilla.


Kakek mengajak Anton duduk, ia juga memanggil pelayan dengan kode gerakan tangannya karena tak ingin mengejutkan bayi dalam gendongannya.


"Tolong panggilkan Dimas dan Tiara, katakan juga untuk membawa Aqilla kemari" ucap Kakek lirih pada seorang pelayan.


"Dimas dan Tiara tinggal disini! Syukurlah ada yang menemani Kakek sekarang" ucap Anton terkejut, tadinya ia berpikir hanya ada Kakek dirumah ini.


"Ya, aku meminta mereka untuk tinggal. Kau Taukan betapa kesepiannya orang tua sepertiku harus tinggal sendirian di rumah sebesar ini" sahut Kakek, ia lalu menatap bayi yang ada di gendongannya.


"Dimas sudah menceritakan masalahmu dengan istrimu. Apa hubungan kalian benar-benar tidak bisa di perbaiki lagi?" tanya Kakek, ia hanya ingin memastikan seberapa besar perasaan Anton pada Manda.


"Hari ini adalah sidang perceraian kami Kek, dua jam lagi aku harus ada di pengadilan agama. Aku terpaksa membawa Angga bersamaku karena aku tidak tenang meninggalkannya dirumah" ucap Anton terlihat sedih. Angga adalah nama putranya bersama Manda.


"Biarkan putramu disini bersama kami" ucap Tiara tiba-tiba. Ia baru saja datang bersama Dimas dan putrinya Aqilla.


"Apa yang dikatakan Tiara benar, tidak baik membawa anakmu yang masih kecil kesana. Biarkan dia disini bersama kami, kau bisa menjemputnya kembali setelah urusanmu selesai" sahut Kakek mendukung Tiara.


"Terimakasih banyak, aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan kalian. Maaf atas sikap aroganku sebelumnya" ucap Anton menyesal.


"Tidak ada orang yang sempurna kita semua pernah berbuat salah. Yang terpenting saat ini adalah kita menyadari kesalahan kita dan mau memperbaikinya. Kita adalah saudara sampai kapanpun, dan akan tetap seperti itu" ucap Dimas, ia mendekat duduk di sebelah Anton dan merangkul bahunya.


"Selesaikanlah urusanmu dengan Manda, anakmu aman bersama kami" ucap Kakek mendukung Anton.


"Jangan memasang tampang sedih seperti itu, Manda tidak pantas menerima cinta tulusmu. Bersikaplah tegar saat di pengadilan nanti, jangan merengek dengan wanita seperti itu. Ia hanya akan menyakitimu dan memalukan keluarga kita jika kau terus menahannya" ucap Dimas menasehati.

__ADS_1


"Aku sudah tidak menaruh perasaan apapun padanya, aku hanya sedih anakku kehilangan kasih sayang ibunya. Aku iri melihat kau dan Tiara, anak kalian benar-benar beruntung" ucap Anton. Ia memandang sedih putranya yang masih tertidur pulas dalam gendongan Kakek.


"Jangan khawatir, kau akan mendapatkan gantinya nanti yang bisa mencintaimu dan anakmu melebihi Manda, bersabarlah" ucap Dimas menepuk bahu Anton.


"Aamiin" sahut Tiara.


***************************


Sementara itu di rumah Mike, Nara sedang tertawa kecil bersama Mike sembari menuruni anak tangga.


Tatapan kebencian yang seolah menghunus mengarah padanya membuat Nara menghentikan tawanya. Ia segera melepaskan gandengan tangan Mike begitu menyadari Dewi tengah memandangnya.


"Apa yang kalian bicarakan, seru sekali kelihatannya. Kenapa tak mengajakku juga" Dewi merubah wajahnya tersenyum tiba-tiba dan mendekat pada Mike lalu merangkul lengannya menuju meja makan mengabaikan keberadaan Nara.


Nara mengikuti Mike dan Dewi dari belakang, tatapan Dewi barusan membuat nyalinya menciut dan menjaga jarak aman dari Mike.


"Nara hanya bercerita tentang kelucuan Aqilla saja, dan Tiara juga baru menelponku mengabarkan kalau agak siangan dia mau kemari. Katanya sih ia merindukan kalian" ucap Mike menjawab pertanyaan Dewi.


Tiba-tiba Mike menghentikan langkahnya ketika menyadari Nara tidak berada disampingnya.


"Maaf Kak, Nara melamun tadi" ucap Nara mensehajari langkah Mike sembari memperhatikan raut wajah Dewi yang masih saja tersenyum.


Dia memang aktor terbaik, batin Nara memperhatikan ekspresi Dewi yang berbeda-beda setiap waktu.


Suasana di meja makan kali ini tampak sunyi, tak ada perdebatan atau obrolan berarti mereka seolah-olah sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Nara kau bersiaplah, satu jam lagi kita berangkat untuk mendaftarkanmu sekolah bersama Dewi" ucap Mike setelah mereka selesai makan.


"Baik Kak" jawab Nara berlalu pergi meninggalkan meja makan yang masih ada Mike dan Dewi disana.


"Dewi ikutlah denganku ke ruang kerjaku sebentar" pinta Mike, ia bangun dari duduknya menuju ke lantai atas di ikuti oleh Dewi.


Mike meminta Dewi untuk duduk di sofa di ruang kerjanya. Mike memilih mendekat dan duduk tepat di sebelah Dewi.

__ADS_1


"Apa kau menyukai tinggal di rumah ini?" tanya Mike berbasa-basi.


"Suka sangat suka" ucap Dewi tersenyum ke arah Mike.


"Dewi, bisakah kau hilangkan kebencianmu pada Nara. Ia tidak bersalah apapun pada kita, ia juga korban karena memiliki Ayah seorang penjahat. Kau tau kan kita tidak bisa memilih dan menentukan siapa orangtua kita, tapi kita masih bisa menentukan seperti apa kita mau menjalani hidup ini. Kakak ingin kamu berdamai dengan Nara. Tolong hilangkan kebencianmu itu" pinta Mike sungguh-sungguh.


Mike memiringkan badannya menghadap Dewi dan memegang kedua telapak tangannya. Ia menatap Dewi dengan tatapan memohon.


"Kakak bicara apa? Dewi nggak ngerti" Dewi membuang pandangannya yang sedang di tatap oleh Mike, walaupun ia tetap membiarkan Mike memegang kedua tangannya.


Bukannya Dewi tak mengerti dengan perkataan Mike, dia mengerti bahkan sangat mengerti. Tapi kebenciannya pada Nara tidak dapat di hilangkan begitu mudahnya.


"Dewi, bukan maksud kakak untuk mengungkit-ungkit masa lalu yang menyakitimu. Tapi kematian Kakakmu Roy tidak ada hubungannya dengan Nara. Kalau kau ingin membenci, bencilah aku. Roy meninggal karena menyelamatkan nyawaku. Tolong jangan kau persulit Nara."


"Ha ha..., apa maksud Kakak?, Dewi tertawa tapi tawanya itu terdengar seperti mengejek, bahkan Mike bisa melihat jelas mata Dewi yang mulai berkaca dan terlihat memerah.


"Menangis lah kalau kau ingin menangis, jangan kau pendam kesedihanmu dan kau jadikan pupuk kebencian. Cobalah berdamai dengan hatimu, Kakak menyayangimu karena kau adalah adikku."


Mike memperhatikan air mata Dewi yang mulai menetes, akhirnya Mike memilih untuk memeluk Dewi. Tangis Dewi tak terbendung dalam pelukan Mike.


Kebencian memang terus tertanam di hati Dewi tanpa ia sadari. Nara merupakan ancaman ketenangan baginya karena Mike membagi perhatian yang ia anggap miliknya seutuhnya.


Jika Mike menganggap kebencian Dewi terkait pembunuhan Roy maka ia salah besar. Dewi tahu dan paling tahu bagaimana di cap sebagai anak pembunuh padahal ia tak melakukan kesalahan apapun.


Dewi merasakan itu sebelas tahun yang lalu sebelum Ibu mereka bekerja di rumah Mike. Di usir dari kontrakan karena ayahnya membunuh seorang rentenir yang selalu meneror keluarga mereka. Di cap sebagai anak pembunuh dan di pandang jijik hingga tak ada satu anakpun yang mau bermain dengannya. Saat itu bahkan usianya masih enam tahun, tapi peristiwa itu masih membekas dalam ingatannya.


"Wi, kamu maukan berdamai dengan Nara" Mike melepaskan pelukannya, menghapus air mata yang masih menempel di pipi Dewi.


"Dewi akan coba Kak" ucap Dewi.


"Kakak tau kau adalah anak baik, jangan lakukan hal yang akan kau sesali nantinya" ucap Mike.


"Dewi akan berusaha untuk berdamai dengan Nara tapi Kakak juga harus janji satu hal sama Dewi" ucap Dewi berharap.

__ADS_1


"Seperti Kakak menganggap Dewi adalah seorang adik buat Kakak. Seperti itu juga Kakak harus menganggap Nara. Tolong jangan memiliki perasaan lebih dari itu untuk Nara, Dewi benar-benar belum bisa menerimanya."


TBC.


__ADS_2