
"Kamu harus secepatnya meyakinkan para pemegang saham untuk mendukungmu."
"Jangan khawatir Pa, kali ini saya akan berusaha yang terbaik."
"Tanpa dukungan dari Kakek posisi Dimas saat ini sama dengan kita. Total dukungan saham yang Dimas dan kita miliki masing-masing 35% dan saham Kakek 20% saat ini bersikap netral. Jadi ada sisa 10 persen saham yang harus kita perebutkan dengan Dimas. Lakukan dengan benar dekati pemilik saham itu agar mereka mau mendukung kita."
"Jangan khawatir Pa. Anton kali ini tidak akan mengecewakan Papa."
"Bagus, kau memang putraku."
"Mau kemana kau" Tanya Dodi Papa dari Anton begitu melihat Anton beranjak dari duduknya.
"Ada hal yang harus aku urus Pa."
"Ingat jangan membuat ulah yang akan mencoreng nama baikmu. Saat ini kau telah menjadi sorotan para pemegang saham."
"Tenang Pa aku akan menjaga tingkah lakuku."
***********
"Dasar payah, sudah berpura-pura sekarat tapi Dimas masih juga tak tergoda olehmu. Sepertinya kau harus mengganti strategimu itu."
"Diamlah Bu!! Aku sedang berfikir saat ini."
"Kau benar-benar kalah dari istrinya. Kalau Ibu jadi Dimas juga akan memilih istrinya. Dia lebih muda dan cantik darimu. Sudahlah kau tak perlu mengejarnya lagi. Ibu sudah punya kandidat pria kaya untukmu."
"Hentikan Ibu, jangan coba-coba menjodohkanku lagi. Jangan terus-terusan kau jadikan aku sebagai ladang uangmu Ibu."
"Apa salahnya jika pria itu menginginkanmu. Dan sebagai balasannya kau bisa sepuasnya menikmati hartanya."
"Pria tua mana lagi yang akan Ibu jodohkan padaku."
"Dia pengusaha tekstil dan juga memiliki beberapa hotel. Kekayaannya juga tidak kalah jauh dari Dimas. Yah walaupun umurnya sudah kepala lima tapi setidaknya pria itu akan memberikan apapun yang kau inginkan. Dan jangan khawatir pria ini duda kau tidak akan dijadikan wanita simpanan. Tapi dia akan menikahimu secara resmi."
"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu itu Ibu. Seandainya lima tahun yang lalu kau tidak membuat ulah Ibu. Aku pasti sudah menikah dengan Dimas dan hidup mewah. Jadi sekarang jangan coba lagi menjadi batu sandungan untukku Ibu."
"Baiklah terserah padamu. Tapi ingat jika dalam empat bulan kau belum sanggup menaklukkan Dimas maka kau harus menuruti Ibumu ini. Kau mengerti!"
"Manda..."
Manda mengacuhkan omongan Ibunya. Ia keluar membawa mobilnya melaju ke sebuah club malam. club pilihan Manda kali ini sangat istimewa. Ini adalah club' yang diperuntukkan orang-orang kalangan atas. Hanya mereka yang memiliki kartu Anggota yang dapat memasuki club ini.
Manda bahkan sudah memiliki kartu akses masuk sejak 6 tahun yang lalu. Kartu akses masuk itu merupakan pemberian dari Dimas. Manda memilih duduk di pojokan. Tempat Itu terlihat sedikit tersembunyi.
__ADS_1
Ia memesan minuman keras dengan kadar alkohol rendah.
"Hai cantik."
"Kau!! Mau apa kau kemari."
"Tentu saja sedang menikmati keindahan di depanku."
"Tidak usah berbasa-basi denganku. Aku tau pasti ada yang kau inginkan dariku bukan."
"Selain cantik kau juga makin bertambah pintar."
"Aku hanya ingin melanjutkan kerjasama denganmu. Aku akan membantumu mendapatkan Dimas dan kau bantu aku mendapatkan kursi Direktur utama di perusahaan Aditya Grup."
"Jangan bermimpi, apa kau pikir aku bodoh. Dan mau bekerjasama denganmu lagi dan membantumu merebut jabatan Dimas. Cukup sekali saja aku membantumu, sisanya tergantung kecerdasanmu."
"Tapi aku memiliki tawaran menarik untukmu."
"Sudahlah Anton, pergilah jangan menggangguku. Aku sama sekali tidak tertarik dengan tawaranmu itu."
"Ini kartu namaku, jika kau berubah pikiran kau bisa menghubungiku. Oh ya ini adalah bayaranmu. Terimakasih karena akal licikmu itu, kau membuatku mendapatkan kesempatan bersaing dengan Dimas. Seandainya kau mau membantuku sampai akhir maka aku akan sangat berterimakasih padamu dan tentunya bayaran yang kau dapatkan akan jauh lebih besar dari ini."
"Pergilah, aku sudah tidak tertarik dengan tawaranmu. Aku memiliki cara tersendiri untuk mendapatkan Dimas. Jadi kau tidak perlu menghubungiku lagi."
"Dasar bodoh, seandainya aku tidak memerlukan uang ini untuk ibuku, apa kau pikir aku mau dimanfaatkan olehmu. Sial, aku harus membuat ibu berhenti dari hobi judinya. Dan untuk Dimas aku akan membuat siasat baru yang akan membuatnya tidak bisa lepas dariku, gumam Manda lirih tersenyum licik.
*************
Sinar matahari masuk melalui sela-sela kamar. Mengusik tidur cantik kedua insan yang masih berbalut selimut dengan tubuh polos mereka.
"Sayang..." Tiara mencoba menyingkirkan kedua tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Hemmmm..."
"Lepasin, aku mau bangun. Dan kau bukannya harus ke kantor. Lihat sudah jam berapa saat ini" Tiara melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Biarkan saja, aku adalah bos mereka. Siapa yang berani memarahiku karena datang telat."
"Tapi sayang, aku mau pipis. Jadi tolong cepat singkirkan kedua tanganmu ini."
Dimas melepaskan Tiara dari pelukannya. Tiara yang tergesa-gesa ke kamar mandi tidak menyadari dia masih dalam keadaan polos. Dimas tersenyum penuh arti menatap tubuh polos Tiara.
"Aaaaaah..." Mas ngapain ikut masuk kesini."
__ADS_1
"Mandi bareng sayang."
"Mandi bareng apanya, kau pasti akan menyiksaku lagi."
"Hanya sebentar aku janji akan bersikap lembut."
Kegiatan mandi pagi yang seharusnya hanya berlangsung beberapa menit jadi berlangsung hampir 2 jam. Membuat tubuh Tiara sedikit menggigil kedinginan.
"Hatchi..., hatchi..., hatchi" Tiara bersin berkali-kali dan menatap kesal Dimas.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit sebelum berangkat ke kantor."
"Tidak perlu ini hanya bersin biasa, aku akan minta bibik membuatkan minuman hangat untukku."
"Baiklah, istirahatlah dirumah. Sore nanti aku akan mengajakmu ke rumah sakit menemui teman lamaku. Aku tidak ingin kau terus mencurigaiku."
"Oke aku akan menunggumu Masku. Awas saja sampai aku tau mas macam-macam di belakangku."
"Jangan berpikir berlebihan, Ya sudah Mas berangkat ke kantor dulu. Ingat jangan keluyuran, istirahat di rumah. Kalau sayangku menginginkan sesuatu atau ingin pergi kemanapun kau harus menghubungi Mas."
"Beres Masku."
Dimas segera menuju ke kantor. Sesampainya di kantor Kakek Dimas sudah berada di ruangannya menunggunya.
"Jam segini kau baru datang. Entah apa yang akan terjadi dengan masa depan perusahaan ini jika kau terus bersikap seperti ini."
"Kenapa? ini masih jam sepuluh, bukankah jam sepuluh juga masih termasuk pagi hari. Sudahlah Kek tidak perlu berbasa-basi lagi, katakan saja ada keperluan apa Kakekku yang terhormat dan selalu sibuk datang ke kantorku pagi-pagi seperti sekarang ini."
"Aku berpikir.dengan adanya Tiara di sisimu kau akan bertambah cerdas. Tapi kau masih saja bodoh mau diperdaya masa lalumu sehingga membahayakan posisimu."
"Kenapa Kakek tiba-tiba tertarik dengan masalah pribadiku. Dan jika Kakek memang benar-benar simpati terhadap cucumu ini, bukankah seharusnya kau gunakan sahammu untuk mendukungku."
"Cih, aku tidak akan mendukung orang bodoh sepertimu. Aku hanya ingin memperingatkanmu. Manda tidak sepolos dulu gadis itu berubah banyak karena pengaruh Ibunya. Jika kau tidak ingin rumah tanggamu hancur jauhi dia."
"Kakek tenang saja aku tidak akan menghianati Istriku sekalipun dulu aku tergila-gila padanya."
"Sebaiknya begitu, kalau kau sampai menghianati Tiara aku pasti akan membuatmu miskin."
"Aku dulunya bertanya-tanya apa yang membuat Kakek merestui hubunganku dengan Tiara. Tapi setelah mengetahui identitas Tiara yang sebenarnya aku jadi mengerti. Tapi aku mohon Kek, jangan mencampuri lagi masalah pribadiku. Kalau aku masih perhatian dengan Manda itu hanya sebatas balas budiku padanya. Karena ia pernah mendampingi dan mendukungku di saat tersulit dulu. Hanya itu Kek."
"Terserah kau saja yang terpenting Kakek sudah memperingatkanmu. Dan sebaiknya kau mulai menjaga jarak dengan Manda. Dan untuk masalah dukungan pemegang saham. Selamat berjuang" Kakek pergi meninggalkan ruangan Dimas. Sementara Dimas mulai memikirkan ucapan Kakeknya. Ia akan memikirkan bagaimana menjauhi Manda tanpa membuat wanita itu tersinggung padanya."
TBC
__ADS_1