UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Pingsan lagi.


__ADS_3

Sementara itu ada sebuah mobil yang tengah melaju menuju bocah kecil itu. Dengan sekuat tenaga Tiara berlari menuju bocah kecil itu. Dengan segera Tiara menarik bocah kecil itu ke dalam pelukannya dan bergegas berlari ke pinggir jalan untuk menghindari sebuah mobil yang melaju.


Akhirnya karena kesigapan Tiara, mereka berhasil lolos dari maut. Dan tampak seorang pria tampan dengan wajah pucatnya memperhatikan mereka berdua. Sangking paniknya pria itu bahkan tak menyadari, Handphone yang sedari tadi berada di tangannya terlepas begitu saja.


Dengan wajah paniknya ia berlari menghampiri Tiara dan bocah kecil itu. Dengan segera ia menarik bocah kecil yang masih berada dalam pelukan Tiara. Ia menarik bocah itu kemudian memeluknya dengan erat.


"Maafkan Papi sayang, maaf..." pria itu terus mengatakan kalimat itu berulang-ulang.


Sementara Tiara, karena peristiwa tadi ia mendapatkan sekelebatan ingatan masa kecilnya. Ia melihat Truk besar yang mengarah padanya, dan seseorang yang berlari menyelamatkannya. Tapi sebelum ia pingsan dan menutup mata, ia melihat seorang pria tergeletak bersimbah darah karena kecelakaan itu.


Kenangan itu terus berputar di kepalanya hingga menimbulkan denyutan yang luar biasa sakit di kepalanya. Tiara yang tidak mampu menahan rasa sakit itu akhirnya berteriak sekeras mungkin.


"Aaaaaaaa...!!!!" Teriak Tiara sambil memegang kepalanya, yang berdenyut hebat. Tak lama setelahnya Tiara merasakan pandangannya yang mulai buram. Dan tubuhnya tiba-tiba limbung begitu saja.


Pria yang sedang memeluk anak kecil itupun melepaskan pelukannya. Ia terkejut mendengar teriakkan Tiara. Ia menatap Tiara bingung dan dengan sigap ia menangkap tubuh Tiara yang terlihat limbung dan hampir terjatuh ke pinggiran trotoar.


"Nona..., Nona ada apa denganmu. Nona..., bangunlah" pria itu terus mengguncang tubuh Tiara yang berada dalam pelukannya. Ia bermaksud untuk menyadarkan Tiara.


Sementara anak kecil yang berada di sebelahnya menangis ketakutan.


"Papi ada apa dengan Kakak cantik" tanya bocah itu dengan suara terisak.


Pria itu kemudian mengangkat Tiara seperti karung beras. Sementara tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menggandeng tangan anaknya.


Keadaan jalan raya terlihat cukup sepi. Dengan segera ia menuju ke parkiran mobilnya. Ia menidurkan Tiara di kursi belakang. Sedangkan ia dan anaknya duduk di depan.


Pria itu mengendarai kendaraannya sedikit terburu-buru.


"Papi, kakak cantik mau di bawa kemana" tanya bocah itu dengan suara khas anak kecil.


Pria itu diam sejenak mendengarkan pertanyaan anaknya. Bagaimana ini jika aku bawa ke rumah sakit, siapa yang akan menjaganya nanti, batin pria itu.

__ADS_1


"Kita bawa pulang saja ya, soalnya Papi sebentar lagi ada meeting."


Pria itu berusaha merogoh kantung bajunya untuk mencari Handphone miliknya. Ia bermaksud menelpon Dokter keluarga untuk datang ke kediamannya.


Astaga aku lupa tadi menjatuhkan handphoneku, gumam pria itu.


Tak terasa mobil yang di Kendarai pria itu sampai di gerbang besar. Rumah itu terlihat tertutup dengan pagar pembatas yang menjulang tinggi. Rumah ini terlihat sangat mewah, tapi tertutup. Berbeda dengan rumah yang ada di sekitarnya.


Mobil itu segera meluncur masuk dan berhenti di depan pintu utama.


Tampak beberapa asisten rumah tangga berjejer agak jauh menyambut kedatangan Tuannya. Semua asisten rumah tangganya mengenakan sarung tangan dan memakai masker. Begitu juga dengan penjaga rumah itu.


"Cepat siapkan kamar tamu dan telpon dokter Ardi suruh kemari" Ucap pria itu ketika keluar dari mobilnya diikuti bocah kecil yang selalu mengekor padanya. Dan dengan segera ia membuka pintu mobil belakang. Tanpa pikir panjang ia segera menggendong Tiara. Dengan langkah yang tergesa-gesa.


Para asisten rumah tangga yang melihat perbuatan tuannya cukup terkejut. Pasalnya semenjak perpisahannya dengan istrinya, ia tidak pernah dekat dengan wanita. Bahkan Tuannya bisa di katakan menjaga jarak dengan yang namanya wanita. Ia juga menjadi enggan bersentuhan dengan orang lain.


Tapi apa yang mereka lihat saat ini, sungguh membuat mereka tercengang. bahkan ada beberapa di antara mereka yang sampai ternganga menatap Tuannya.


Pria itu kemudian menaruh tubuh Tiara diatas kasur.


"Sudah Tuan, dokter lagi di perjalanan. sebentar lagi pasti sampai."


"Papi..., Kenapa kakak cantik dari tadi tidur terus. Apa kakak cantik sakit Pi?" bocah itu naik diatas kasur dan duduk di sebelah Tiara.


"Tidak kakak cantik hanya kelelahan, sekarang kamu cari Bi Mona. Minta Bi Mona membantumu mandi dan ganti bajumu."


"Tidak Pi, aku ingin disini saja menemani Kaka cantik" ucap bocah itu manja.


"Narendra" Papinya memanggilnya dengan suara yang terdengar cukup keras.


Bocah kecil itu menekuk wajahnya, tanpa berkata apa-apa lagi ia segera turun dan melaksanakan perintah Papinya. Sebab jika Papinya sudah memanggil namanya dengan suara yang keras. Maka itu adalah pertanda bahwa perkataan Papinya tidak dapat di bantah lagi.

__ADS_1


Tak lama dokter Andre pun datang ke kamar itu, dengan di antar oleh salah satu asisten rumah tangga.


"Siapa yang sakit" tanya dokter itu.


"Cepat periksa wanita ini"


"Wanita, wah kejutan besar apa ini Ren" Dokter itu tersenyum penuh arti pada sahabatnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya menatap gadis yang ada di atas tempat tidur.


Dokter itu segera memeriksa kondisi Tiara


"Bagaimana? Tanya Reno. Ya pria yang sedari tadi sibuk mengurusi Tiara bernama Reno.


"Jangan khawatir, gadis ini hanya kelelahan dan kekurangan cairan. Tapi sepertinya dia tidak hanya kelelahan secara fisik, tapi juga batinnya.


Jangan terlalu menyiksanya" ucap dokter Andre.


"Apa maksudmu, aku saja baru pertama kali mengenalnya. Bagaimana mungkin aku menyiksanya" protes Reno.


"Wah Rekor baru ini, seorang Reno membawa seorang wanita yang tak dikenalnya. Oh ya, anak buahmu tadi mengatakan. Kau sendiri yang menggendong wanita ini ke kamar ini."


"Ya, memangnya kenapa" tanya Reno heran.


"Apa kau melupakan sesuatu, bukankah selama 3 tahun ini kau alergi wanita. Apa tidak timbul rasa gatal atau bercak merah di tubuhmu."


Reno cukup terkejut dengan pertanyaan Dokter Andre. Pasalnya ia hanya refleks menggendong Tiara karena kondisi Tiara yang sedang pingsan. Ia bahkan melupakan alergi yang ada di tubuhnya.


"Kau benar, aku bahkan tidak menyadarinya. Tapi aku sama sekali tak merasa gatal pada tubuhku. Dan kau lihat ini bahkan tidak ada bercak merah di kulitku. Apa aku sembuh dari alergi ku" Tanya Reno heran sambil memperlihatkan kondisi kulit tangannya pada sahabatnya.


"Gadis ini sepertinya membawa berkah untukmu. tapi untuk memastikannya kita harus menguji kebenarannya."


TBC.

__ADS_1


Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini. Happy reading.


Jangan lupa like, vote dan komentarnya terimakasih 🙏😘 I love U All.


__ADS_2