UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Menjemput Andini.


__ADS_3

Tak terasa seminggu lebih sudah berlalu, Kondisi Tiara pun telah membaik. Selama Tiara dirumah sakit Dimas tak pernah meninggalkan Tiara. Dimas membawa pekerjaannya di rumah sakit, agar ia bisa terus memantau Tiara.


Sementara itu Aiko telah kembali ke negaranya. Dengan bantuan Kakek Dimas Aiko berhasil lepas dari jeratan hukum. Aiko yang kehilangan satu tangannya masih menyimpan dendam dengan Tiara. Untuk sementara ia akan menjauh dari Tiara dan Dimas, karena itu adalah syarat kebebasan untuk Aiko.


"Hari ini Dokter sudah mengijinkanmu untuk pulang" Ucap Dimas, sambil mengupas apel untuk Tiara.


"Benarkah mas."


"Iya, tapi sebelum itu aku ingin kamu cek lab dan Rontgen sekali lagi. Aku tidak ingin kalau ada efek di kemudian hari akibat kecelakaanmu. Dan menyebabkan kamu sakit kembali atau bahkan mengancam nyawamu."


"Terimakasih ya Masku, karena selama ini udah ngerawat Tiara. Tiara nggak tau gimana caranya membalas semua kebaikan Masku."


"kamu nggak usah memikirkan semua itu, yang terpenting kamu kembali sehat seperti sediakala. Banyak cara buat balas semua kebaikanku, jadi jangan khawatir sayang."


"Tapi gimana caranya, mas punya segalanya. terus Tiara gimana dong balasnya."


"Menjadi istri dan Ibu dari anak-anakku. Dan satu hal lagi yang paling penting, servis tiap malam ya yang"


"Servis tiap malam, emang apanya yang rusak mas."


"Ya ampun kamu ini polos banget sih" Dimas terkekeh mendengar perkataan Tiara.


"Mas Andini mana ya kok tumben belum datang, biasanya kan jam segini dia udah sampai sini."


"Sebentar lagi paling say, tadi mas minta Aryo menjemputnya. Biar sekalian Andini beresin semua barang disini."


"Aryo..., Tuan Aryo yang mas maksud itu, apa yang dulu nolong Tiara pas di ganggu preman dulu itu ya mas."


"Hemmm..." Dimas menaruh sepiring apel yang telah di kupasnya di pangkuan Tiara.


"Kapan dia datang mas kok nggak kasih tau Tiara sih, terus gimana kabarnya? Dia baik-baik aja kan. Kenapa dia nggak jenguk Tiara sih."


Tiara bertanya antusias, sementara Dimas menampilkan wajah masam. Ia tidak suka Tiara begitu bersemangat bertanya tentang pria lain.


"Mas kok diem aja sih, jawab dong."


Tiara bertanya kembali, setelah tidak mendapat respon dari Dimas.


"Memang mas harus jawab apa Tiara, mas bukan Aryo yang bisa jawab pertanyaanmu itu" ucap Dimas acuh.


"Mas tau nggak, Tuan Aryo itu keren banget. Dia bisa menghajar banyak orang sendirian. Tiara beruntung bisa kenal orang seperti dia" ucap Tiara kagum. Sementara raut wajah Dimas semakin kesal. Dia benar-benar tidak suka Tiara terkagum-kagum dengan sosok pria lain.


"Kamu jangan lupa satu hal. Aryo bisa menolongmu karena Mas yang minta menjagamu. Jadi seharusnya yang kamu kagumi itu mas, bukannya si Aryo" Dimas mendengus kesal. Tiara yang memperhatikan raut wajah Dimas pun mencoba untuk merayunya.

__ADS_1


"Ia Masku yang terhebat, terimakasih mas" Tiara bergelayut Anja di lengan Dimas.


"Ini buah Mas kupasin daritadi kok di anggurin sih, cepat dimakan. Apa mau mas suapin?" Dimas kembali mengambil piring di pangkuan Tiara.


"Aaaa..." Dimas menyuapi Tiara apel yang sudah ia kupas dan potong kecil-kecil.


"Enak mas apelnya, Masku rasain juga ya" Tiara mengambil alih garpu di tangan Dimas, lalu menyuapi Dimas.


*****************


Sementara itu di sebuah rumah kost putri Aryo menatap nomor rumah yang tertera di depan gerbang yang terbuka.


"Sepertinya benar ini alamatnya" gumam Aryo lirih, Ia lalu memarkirkan mobilnya.


Aryo masuki gerbang itu yang bertuliskan kost putri. Ia melihat ada segerombolan wanita menatapnya heboh.


"Ya ampun siapa itu ganteng banget."


"Lihat mobilnya kerennya."


"Body nya gila kekar banget."


"Ya ampun, ia mengarah kesini."


Terdengar suara kehebohan para gadis yang sedang bercengkrama duduk di salah satu balai kosong. Aryo mengabaikan ucapan mereka semua. Ia menghampiri segerombolan wanita itu. Sementara para wanita itu langsung duduk tertib dan merapikan penampilannya.


"Oh benar-benar," ucap mereka serentak.


"Ruangannya yang mana ya?"


"Itu Mas, nomor dua dari ujung. apa mau kita antar?"


"Tidak perlu, biar saya kesana sendiri."


Aryo berlalu meninggalkan para wanita itu


"Ya ampun, patah hati gue. Ternyata yang dicari Andini." gumam salah satu dari mereka.


Aryo melangkah mendekat ke ruangan Andini, Ruangan itu tidak tertutup. Aryo bisa melihat dengan jelas Andini yang sedang menyetrika baju sambil bernyanyi. Posisi Tiara membelakangi Aryo saat ini. Di telinganya terdapat headset. Sesekali ia menganggukkan kepalanya, sambil menggoyangkan tubuhnya.


Aryo melongo melihat penampilan Andini saat ini. Ia menggunakan celana pendek dan baju kaos tanpa lengan. Rambutnya di Cepol keatas.


Aryo tiba-tiba tertawa kecil melihat Andini yang bernyanyi sambil goyang ngebor. Tapi tangannya masih sibuk dengan setrikaan.

__ADS_1


Andini yang mendengar ada suara tawa pria di belakangnya terkejut, ia membalikan badannya.


"Tampannya, ini nggak mimpikan" gumam Andini melihat Aryo, Andini melepaskan setrikaannya. Ia mengucek-ngucek kedua matanya.


"Ehemm..." deheman Aryo membuyarkan keraguan Andini.


"Tu-tuan mau ngapain kesini, Tuan nggak mau balas dendam kan?" Begitu tersadar Andini memegang lehernya. Ia mengingat ucapan Dimas yang mengatakan bahwa pria di depannya ini tak segan-segan menghilangkan kepala orang yang sudah berani menyinggungnya. Andini menelan saliva nya.


"Saya kesini ka..." Aryo mendekat ke arah Andini


"Jangan dekat-dekat Tuan, saya janji nggak maki-maki Tuan lagi. Ampun Tuan jangan penggal kepala saya" Andini ketakutan melihat Aryo yang ingin mendekat padanya.


"Kamu ini kenapa? siapa yang mau memenggal kepalamu? Saya kesini, atas perintah Tuan Dimas untuk menjemputmu" Aryo menghentikan langkahnya menatap Andini heran.


"Eh...," Andini tersenyum kikuk lalu tak lama setelahnya ia menjerit karena tercium bau gosong dari setrikaan miliknya.


"Aaahhh...., ya ampun kenapa bisa begini" Andini menyingkirkan setrika yang masih berada diatas bajunya, ia mengangkat tinggi-tinggi kemejanya yang bolong terkena setrika panas. Padahal kemeja itu ia akan kenakan ke tempat Tiara nantinya.


"Yah bolong deh, ini semua gara-gara Tuan."


"Hah, kenapa jadi salahku." tanya Aryo heran.


"Iya salah Tuan, coba Tuan nggak muncul di depanku. Dan nggak ngebuat aku kaget. Pasti bajuku nggak jadi seperti ini."


"Jangan buat banyak alasan. Cepat ganti bajumu aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar ocehanmu."


"Tuan ini ya , ka..."


"Kamu nggak ingin kehilangan kepalamu kan?"


"Ti-tidak tidak, Silahkan duduk tuan saya mau mandi sebentar saja" Andini langsung kabur masuk ke kamar mandi.


Di ruang Andini Aryo sama sekali tidak masuk, ia hanya berdiri di depan kamar kost Andini. Sebentar-sebentar ia melihat jam tangannya, sepertinya ia sudah tidak sabar menunggu.


Tak lama Andini sudah terlihat rapi berdiri di depan Aryo.


"Ayo," ucap Andini setelah mengunci pintu kamar kost nya.


Mobil yang ditumpangi Andini dan Aryo meluncur menuju ke rumah sakit. Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung. Tak ada suara obrolan antara Andini dan Aryo. Andini memandang keluar jendela, jujur saja ia masih takut dengan pria disebelahnya ini.


Mobil telah Aryo parkir di tempat parkir rumah sakit. Andini melangkah keluar terlebih dahulu. Ia melangkah cepat, ia takut jalan bersandingan dengan Aryo.


Aryo berjalan santai menuju ka ruangan Tiara, ia tidak mempermasalahkan Andini yang mendahuluinya. Tinggal beberapa langkah menuju kamar Tiara, Aryo menghentikan langkahnya. Ia merasakan debaran aneh di dadanya, memikirkan bagaimana kira-kira reaksi Tiara terhadapnya.

__ADS_1


Tenang Aryo, tenangkan dirimu. Buang perasaaanmu untuknya. Ia bukan takdir milikmu, batin Aryo.


TBC


__ADS_2