
Dimas yang saat ini berada di kantor merasa tak tenang. Pikirannya gagal fokus karena ada perasaan was-was menghampirinya, dan bayangan Tiara juga selalu melekat dipikirannya. Ia bahkan berkali-kali memarahi anak buah yang menghadapnya. Padahal mereka tidak melakukan kesalahan apapun.
"Ulangi semua laporan ini dari awal."
"Tapi kalau saya boleh tau, salahnya di bagian yang mana ya Pak. Saya sudah berkali-kali mengeceknya dan saya rasa laporan saya tidak ada masalah."
"Bosnya saya apa kamu. Kalau saya bilang harus diulang ya diulang. Kamu nggak usah banyak protes. Ulang semua laporan ini. Saya ingin kamu buat konsep yang baru."
"Baik Pak" ucap karyawan Dimas mengalah.
Setelah kepergian anak buahnya Dimas memejamkan matanya. Ia lalu menyenderkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Apa yang terjadi padaku Mungkinkah aku terlalu merindukan istriku? Ah tapi kerjaanku menumpuk. Aku harus segera menyelesaikan semua ini. Kalau tidak aku bisa gila jauh darinya."
Tak lama terdengar suara telpon dari handphone Dimas. Handphone miliknya ia letakkan di atas meja kerjanya.
*******************
Sementara itu Papa Teo yang berada di ruangan Anggi masih terlibat pembicaraan serius dengan Anggi.
"Ada apa Anggi? Siapa yang diculik?" tanya Teo, Anggi tidak menjawab pertanyaan Teo.
"Kau tau siapa yang mau diculik Bagas" tanya Anggi pada anak buahnya.
"Saya tidak tau namanya Nyonya, saya hanya tau jika itu seorang wanita."
"Baiklah..., sekarang kau keluarlah."
Anggi yang sebelumnya terkejut dan membuatnya berdiri dari duduknya. Kini ia memerosotkan kembali tubuhnya duduk di sofa. Ia menutup kepalanya sambil memijat keningnya. Ia merasakan kepalanya berdenyut hebat setiap kali memikirkan ulah nekat suaminya itu.
"Anggi ada apa? Bagas ingin menculik siapa? Kau harus menghentikan perbuatannya Anggi."
"Diamlah Teo..., Kepalaku rasanya mau pecah. Beri kesempatan aku untuk berpikir dengan tenang."
"Baiklah, kau tenangkan dirimu dalam lima menit. Setelah itu jelaskan semua padaku. Jika tidak aku akan meminta pihak kepolisian untuk menyelidiki semua ini."
Teo memperhatikan Anggi, yang terus memijat kepalanya.
"Sini biar aku memeriksa kesehatanmu" Akhirnya Teo mendekat pada Anggi. Ia duduk di sebelah Anggi. Anggi tidak menolak ketika Teo memeriksanya.
"Kau terlalu lelah akhir-akhir ini, sebaiknya kau menambah jam istirahatmu. Jangan memendam kesulitanmu sendiri berbagilah dengan orang lain. Aku akan meresepkan beberapa vitamin untuk daya tahan tubuhmu. Kau bisa menyuruh anak buahmu membelinya di apotek terdekat."
__ADS_1
"Seandainya aku menceritakan semua padamu, maukah kau menolongku dan putriku."
"Aku pasti akan berusaha menolongmu dan putrimu. Tapi dengan syarat, ini adalah kejahatan terakhir kalian. Jangan lakukan ini pada siapapun lagi. Kembalilah ke jalan yang benar Nggi, dan aku akan selalu mendukungmu."
"Janji..."
"Iya aku janji, sekarang kau harus menceritakan semua tanpa ada satupun lagi kebohongan."
"Sebenarnya semua ini berawal dari sebuah kalung. 12 tahun yang lalu, Bagas pernah dimintai tolong untuk mencari seorang anak perempuan yang hilang. Anak itu memiliki sebuah kalung yang melingkar di lehernya."
"Dan baru-baru ini aku secara tidak sengaja telah merekrut anak itu dengan paksa."
Bagas mengetahui identitas anak itu karena kalung yang terdapat pada tasnya sama persis dengan kalung yang dimiliki anak hilang itu. Akhirnya Bagas mengambil kalung itu dan menukarnya dengan kalung yang modelnya sama persis. Ia juga menukar identitas Putri mereka dengan putri kami. Ia melakukan semua ini tanpa sepengetahuanku. Aku sudah mengusirnya dari rumah bahkan mengancamnya jika...."
"Apa keluarga yang kehilangan putrinya itu adalah keluarga Aziz Atwijaya.?" tanya Teo penasaran memotong pembicaraan Anggi.
"Darimana kau tau?" Anggi terkejut dengan pertanyaan Teo.
"Aku secara tidak sengaja bertemu dengan putrimu. Waktu itu seharusnya Putraku menikah dengan Putrimu. Tapi aku menghentikan pernikahan itu karena aku tau Putraku tidak mencintai putrimu."
"Apa? kenapa aku tidak tau semua ini? Lalu bagaimana dengan kondisi putriku saat ini?"
"Sekarang bukan saatnya kita membahas itu, aku ingin tau siapa yang diculik Bagas? Untuk permasalahanmu dan putrimu bersama keluarga Aziz biar aku akan membantumu menghadapi mereka."
"Apa? Bagaimana bisa dan apa hubungannya menantuku dengan semua ini."
"Se-sebenarnya putri keluarga Aziz adalah Tiara."
"Apa? Astaghfirullah Anggi!!! Kau sudah mencelakainya dengan memperkerjakan di tempat yang tidak layak. Masih juga kau rebut identitasnya. Aku benar-benar kecewa padamu"
"Iya-iya maaf, aku memang jahat tapi sekarang aku ingin bertobat. Sebaiknya kau hubungi menantumu atau orang rumah, mudah-mudahan Tiara baik-baik saja. Jangan sampai Bagas berhasil menculiknya. Aku takut jika Bagas nekad dan melenyapkannya."
Teo mengambil handphone miliknya yang ia taruh di tas kerjanya. Sangking paniknya Teo bahkan menjatuhkan handphone itu.
"Tenanglah Teo." Anggi mengambil handphone yang terjatuh di bawah meja lalu memberikannya pada Teo.
"Bagaimana ini kenapa telpon rumah sibuk terus dan handphone Tiara kenapa tidak aktif."
"Coba kau telpon putramu. Siapa tau dia mengetahui keberadaan istrinya."
Teo kemudian menghubungi Dimas.
__ADS_1
"Hallo Dim, apa Tiara bersamamu?"
"Tidak Ayah Dimas di kantor saat ini sedangkan Tiara ada dirumah."
"Papa sudah menelpon ke rumah beberapa kali. Tapi telpon selalu sibuk. Bahkan telpon Tiara juga tidak bisa di hubungi. Coba kau cek Tiara Dim. Papa takut terjadi sesuatu padanya."
"Papa tenang saja dirumah banyak pengawal yang menjaga istriku. Dan kemungkinan ponsel Tiara yang mati itu karena baterai ponselnya habis. Dia selalu lupa mengecek ponselnya hingga kehabisan daya."
"Tidak Dim, kau harus mengeceknya. Karena ada seseorang yang ingin menculik istrimu."
"Apa? Siapa yang berani menculik istriku?"
"Papa akan menceritakan nanti. Sekarang pastikan istrimu aman."
"Baik Pa, Dimas akan menghubungi ponsel milik kepala pelayan."
Dimas segera mengakhiri panggilannya, ia lalu menghubungi kepala pelayan dirumahnya.
"Hallo Tuan."
"Dimana istriku?"
"Nyonya sudah keluar bersama supir sejak satu jam yang lalu Tuan. Apakah Tuan belum bertemu Nyonya. Nyonya mengatakan ingin ke kantor Tuan. Bahkan Nyonya juga membawakan makan siang untuk anda."
"Apa dia sudah keluar satu jam yang lalu. Kenapa tidak ada yang melaporkan kepergiannya padaku."
"Maaf tuan, saya tadinya ingin melaporkan kepergian nyonya tapi nyonya melarang dan mengatakan ingin membuat kejutan untuk Tuan."
"Kalian semua benar-bener bodoh. Menjaga satu orang saja tidak becus. Perintahkan semua pengawal yang ada di rumah untuk mencari Tiara. Aku akan menghukum kalian nanti."
"Ba-baik Tuan."
Dimas mengakhiri panggilan teleponnya dengan kesal. Ia lalu menelpon Papa Teo mengabari jika Tiara tidak di ketahui keberadaannya.
"Dimana kamu sayang? Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja saat ini? kenapa handphone milikmu tidak bisa di hubungi? gumam Dimas cemas.
Ia lalu segera keluar dari ruang kerjanya dengan tergesa-gesa. Ia Menghubungi beberapa orang yang ia kenalnya untuk mencari tau keberadaan Tiara. Ia juga berkali-kali mencoba menghubungi Aryo. Tapi handphone Aryo masih saja tidak bisa dihubungi.
"Sial, Tiara menghilang dan Aryo juga tidak bisa dihubungi. Awas saja jika sampai ada yang berani menculik istriku."
Dimas melajukan mobilnya, dengan kencang. Menelusuri jalan yang kemungkinan di lewati istrinya. Ia juga menemui sahabatnya yang ada di kepolisian. Ia akan melacak keberadaan istri beserta supirnya melalui CCTV jalan.
__ADS_1
TBC.