
Akhirnya Tiara berhasil menidurkan putri kesayangannya yang menangis sejak tadi karena baru saja mendapatkan imunisasi.
Setelah pulang dari rumah sakit mengantar putri kesayangannya seharusnya Dimas kembali ke perusahaannya. Tapi ia malah memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Kamu pasti capek ya sayang" Dimas bangun dari tidurnya dan meminta Tiara untuk duduk di sampingnya. Ia memijat punggung Tiara.
"Aqilla rewel bener habis imunisasi, untung saja ia mau tidur setelah meminum obat" ucap Tiara sambil menikmati pijatan Dimas di punggungnya.
"Gimana Yang, enak nggak pijatannya" tanya Dimas masih terus memijat.
"Kalau gini gimana sayang" tangan Dimas turun ke bagian dada dan memijat dua benda kenyal kesukaannya.
"Daddy kalau mijat yang benar dong, tangannya bisa nggak jangan kemana-mana?" Tiara meraih tangan Dimas dan menaruhnya di punggungnya.
"Capek bener ya Yang, aku cariin baby sister ya biar kamu nggak terlalu capek" ujar Dimas pada Tiara.
"Nggak perlu Daddy, aku bisa kok ngasuh putriku sendiri. Lagipula Tiara juga nggak ngapa-ngapain di rumah" sahut Tiara. Ia pasti akan merasa bosan kalau hanya diam dan tak melakukan apapun.
"Oh ya Yang tadi Anton bertanya tentang Dewi, apa kita jodohkan mereka berdua ya. Biar hubungan Mike sama Nara juga aman."
"Kok Daddy ngomong gitu sih, emang Daddy yakin Dewi suka ama Mike, lagian mau jodohin anak orang dipikir gampang apa" ucap Tiara ragu mengingat jarak usia mereka yang terlalu jauh belum lagi Anton yang sudah menduda sebanyak dua kali.
"Kalau Dewi suka Mike udah kelihatan jelas lah sayang dari cara Dewi mandang si Mike. Kalau masalah jodohin anak orang asal istri kesayanganku mendukung nanti Mas yang atur deh caranya" ucap Dimas yakin.
"Terserah Mas aja deh, yang penting aman jangan sampai ada permusuhan Tiara nggak suka" ucap Tiara serius.
"Mas kalau mijit tangannya jangan kemana-mana dong" protes Tiara.
"Ya gimana lagi sayang ini tangan nggak bisa di bilangin maunya megang yang empuk-empuk. Jadi gimana dong?" ucap Dimas dengan manja.
"Kalau gitu udahan aja, tangan Mas nakal" ucap Tiara ingin pergi dari kamarnya.
"Eiits, siapa bilang boleh pergi. Nanggung ini Yang" Dimas menarik Tiara yang ingin melangkah keluar hingga mereka terjatuh di atas tempat tidur dengan posisi Tiara diatas menindih Dimas.
__ADS_1
"Karena kamu sudah membangunkan tongkat sakti, jadi kamu harus bertanggung jawab" Dimas membalikkan badannya, ia mengungkung Tiara yang berada di bawahnya.
"Mas, ini masih siang nanti kalau Aqilla bangun gimana?" tanya Tiara khawatir ia bisa merasakan gair*h suaminya yang besar.
"Ssuuttt, tenang saja sayang Aqilla nggak akan bangun asalkan kau tidak ribut" ucap Dimas kembali melancarkan aksinya.
Dimas menyatukan bibir mereka, ia mencium Tiara dalam. Tangannya menjelajah ke seluruh tempat favoritnya.
"Sayang, jangan A-aku lelah!" protes Tiara ke Dimas saat melucuti seluruh baju Tiara.
"Suuuttt kamu cukup diam jika lelah, biar Daddy yang bercocok tanam" jawab Dimas ambigu.
Akhirnya Tiara membiarkan suaminya memegang kendali atas tubuhnya. Permainan Dimas yang menurut Tiara begitu luar biasa membuatnya kesusahan menahan Des*han. Tiara bahkan sampai menutup mulutnya agar tidak mengganggu tidur Aqilla yang berada di ruangan sebelah.
****************
Di hari kedua di sekolah, Nara dan Dewi terlihat Akur di luar, tapi di dialam siapa yang tahu jika Nara mengalami per-bully an.
Nara yang tidak ingin ribut memilih mengalah dan membiarkan Dewi menukar buku mereka.
"Nanti sepulang sekolah, aku ingin kita mampir ke Mall, kau harus ikut denganku" ucap Dewi.
Ketika memasuki jam istirahat, tiba-tiba kelas Nara dan Dewi menjadi heboh, empat orang Pria idola the most wanted sekolah mereka tiba-tiba memasuki kelas mereka.
Kelas yang tadinya hening mendadak riuh seketika. Para siswi yang baru saja melangkah keluar untuk istirahat terpaksa kembali karena ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sang idola di kelas mereka.
"Vano, Ali, Heri, Firman!!" teriak para siswi terdengar heboh.
"Hwaaaaa.....!!" teriak mereka ketika Heri yang dikenal paling genit diantara mereka mengedipkan sebelah matanya ke para siswi itu.
"Hallo Dewi, Nara. Perkenalkan kami perwakilan dari OSIS ingin mengajak kalian bergabung dalam organisasi kesiswaan" ucap mereka beralasan. Ini adalah salah satu taktik mendekati wanita tanpa harus menjatuhkan harga diri mereka.
"Tidak tertarik!!" jawab Dewi singkat dan terdengar galak.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu Nara cantik" tanya Heri dengan nada manja yang membuat Nara bergidik ngeri.
"Dia ini saudariku kalau jawabanku tidak maka dia juga seperti itu!!" sahut Dewi masih terdengar galak. Nara tersenyum ketika Dewi tanpa sadar menyebutnya sebagai saudarinya.
"Tapi aku masih ingin mendengar jawaban darimu cantik" Heri dengan gombalannya masih saja belum menyerah.
"Kalau kalian mau bergabung dalam organisasi kami, maka akan banyak kemudahan dan keuntungan yang kalian dapatkan dari sekolah. Dijamin kalian tidak akan rugi" sahut Ali.
"Tidak perlu terburu-buru dalam menjawab, kalian bisa pertimbangkan lagi dan kami tunggu jawaban kalian tiga hari lagi" sahut Vano. Sementara Firman hanya diam melihat teman-temannya beraksi.
"Oh ya ini hadiah perkenalan dari kami" Ali mengeluarkan sekotak coklat merek terkenal dan termasuk jenis coklat yang mahal keluaran negeri Swiss. Negara yang terkenal dengan kelezatan coklatnya yang sudah mendunia.
Nara dan Dewi hanya melirik coklat yang ada di atas meja, jujur saja sebenarnya mereka tertarik dengan coklat itu. Tapi sayang ketampanan dan kepopuleran ke empat pria itu tidak cukup untuk membuat Dewi dan Nara bersimpati pada mereka.
"Bye cantik" ucap Heri sembari mengedipkan sebelah matanya. Akhirnya keempat pria pembuat kehebohan itu meninggalkan kelas Nara menuju kantin sekolah.
Para siswi yang heboh ada yang bubar dan ada juga beberapa dari mereka mendekati Nara dan Dewi karena penasaran. Terutama dengan hadiah coklat yang masih tergeletak di atas meja dan belum disentuh oleh Dewi dan Nara.
"Kenapa kalian mau?" tanya Dewi pada beberapa siswi yang melirik kotak coklat itu penasaran.
"Memang boleh" tanya siswi itu terdengar polos.
"Ambil aja kalau mau" ucap Dewi membuat siswi itu bersemangat.
Dengan secepat kilat ia mengambil kotak coklat itu dan kabur dari sana sebelum Dewi dan Nara berubah pikiran.
"Hai tunggu!! kita juga mau!! teriak beberapa siswi mengejar pelaku pembawa kabur coklat itu.
"Kenapa?" tanya Dewi saat Nara memperhatikannya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa" ucap Nara kembali tersenyum. Ia bisa melihat sisi baik Dewi hari ini, sekalipun Dewi selalu jutek pada Nara. Tapi Nara yakin suatu saat nanti mereka pasti bisa hidup rukun dan berdampingan.
TBC.
__ADS_1