UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Nita dan Nyonya Anggi.


__ADS_3

"Hai mengapa Nyonya menarik adikku dengan kasar. Dan Siapa dia dek, kenapa kau memanggilnya Momy, apa hubungan kalian berdua?"


"Saya ini Mom..."


"Dia ini Momy angkat aku Kak" jawab Nita dengan cepat memotong pembicaraan Momy Anggi.


Ya Nita adalah anak dari Nyonya Anggi dan Tuan Bagas. Tapi selama ini Nyonya Anggi tidak mengetahui bahwa orang yang menggantikan peran Tiara adalah anaknya sendiri. Ia berpikir Suaminya akan menggunakan orang lain.


"I-iya Ibu ini adalah Momy angkatku Kak, dia bersahabat dengan mami Susi. Dia sudah seperti Ibuku sendiri, Ia selama menyayangi dan menjagaku seperti anak kandungnya." Jelas Nita lagi. Sementara Nyonya Anggi masih menatap anaknya bingung.


"Oh jadi Anda orang tua angkat Nita. Perkenalkan Nyonya saya Farih Kakak kandung Nita. Terimakasih karena sudah menyayangi dan menjaga Adikku dengan baik." Farih mengacungkan tangannya untuk bersalaman, tapi di abaikan Nyonya Anggi


"Ini apa maksudnya Nita, permainan apalagi yang kamu mainkan."


"Kakak, maaf boleh aku bicara berdua dengan Momy ku. Sebenarnya Momy belum tau identitasku yang sebenarnya. Jadi aku ingin menjelaskan sebentar, bolehkan Kak," Ucap Nita memohon, sedangkan Nyonya Anggi menatap bingung mereka berdua bergantian.


"Ya sudah kalau begitu, Kakak cari buah sebentar. Kamu boleh bicara dengan Momy angkatmu, tapi jangan terlalu lama ya dek. Kita masih harus ke rumah sakit setelah ini." Farih akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.


Sementara Nyonya Anggi langsung menyeret tangan anaknya keluar, merek menuju ke parkiran sekarang ini. Nyonya Anggi menyuruh anaknya masuk ke dalam mobilnya.


"Jelaskan"


"Sebenarnya Papa yang memintaku masuk ke dalam keluarga pria itu. Mereka adalah keluarga yang sangat kaya raya, tapi mereka kehilangan putrinya dan Aku jadi Putri mereka sekarang."


"Maksudmu, Kamu masuk keluarga itu dengan membohongi mereka kalau kamu adalah Putri mereka yang hilang begitu!!!" Nyonya Anggi tak bisa menahan amarahnya, ia benar-benar kesal sekarang.


"I-iya" jawab Nita, Ia meneguk Saliva nya kasar, menatap wajah Ibunya yang sepertinya sebentar lagi akan meledak karena marah


"Astaga Nita, dimana pikiranmu Nak. Bagaimana jika sampai ketahuan? Momy nggak mau kalau sampai kamu kenapa-kenapa"


"Momy tenang aja Nita baik-baik aja. Mereka bahkan membelikan mobil idaman Nita Mom, belum lagi kartu kredit tanpa batas. Nita bisa beli apa aja yang Nita mau. Tas, sepatu, baju, perhiasan dan lain-lain semua edisi terbatas dan di rancang oleh perancang terkenal mom."


"Tapi nak, kita juga bukan orang yang miskin. Momy selalu berusaha memenuhi semua keinginanmu, bahkan Momy juga menyekolahkanmu di luar negeri."


"Sudah deh Mom, harta Momy itu nggak bisa dibandingi ama mereka. Momy memang memenuhi apa yang Nita butuhkan, tapi barang yang Momy kasih ke Nita itu barang-barang biasa, paling barang yang edisi terbatas hanya beberapa saja. Beda Ama mereka semua branded dan edisi terbatas, termasuk kartu kreditnya. Udah deh Momy jangan ikut campur Nita mau pergi nyusul Kakak Nita dulu bye Mom"


"Tapi Nit, Nita..." Nita mengabaikan panggilan Momy nya ia berlalu begitu saja dan kembali menyusul Farih.


Ya Tuhan aku rela jadi orang jahat demi membahagiakan anakku, tapi mengapa anakku juga harus jadi jahat sepertiku. Apakah ini karma untukku?


Bagas brengsek berani-beraninya ia melibatkan Nita dalam rencananya. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti, batin Nyonya Anggi. Ia memukul-mukul setir mobilnya melampiaskan kemarahannya.


****************

__ADS_1


Sementara itu di rumah sakit, kondisi Tiara sudah semakin membaik. Tapi Dimas belum mengijinkan Tiara untuk turun dari tempat tidur.


"Mas Andini kemana ya, kok nggak pernah keliatan lagi."


"Andini dia pulang kampung, Ayahnya sakit. Dia tergesa-gesa jadi nggak sempat pamit sama kamu. Dia titip salam buat kamu, tapi Mas lupa nyampaikan ke kamu."


"Memang Ayah Andini sakit apa mas"


"Mas juga nggak tau, mas nggak tanya banyak. Udah deh yang nggak usah pikirin orang lain. Kamu cukup pikirin kesembuhanmu dan aku aja oke"


"Mas, tolong panggilan suster dong."


"Kenapa? Apa ada yang sakit?"


"Bukan, Aku pingin ke kamar kecil."


"Udah sama mas aja, ay..."


Tok tok tok


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar, menghentikan Dimas yang ingin membopong Tiara ke kamar mandi.


"Ada orang mas, suruh masuk dulu gih."


"Tunggu dulu mas. Masuk...," ucap Tiara, dan lagi-lagi menghentikan Dimas yang ingin membopong Tiara.


Tampak dua orang memasuki ruang rawat Tiara. Mereka adalah Farih dan Nita. Begitu memasuki ruangan itu pandangan Nita tak pernah lepas dari Dimas. Satu hal yang ada di otaknya kali ini tentang Dimas "perfect".


"Hallo Tiara, bagaimana kondisimu sekarang?"


"Baik Tuan" Tiara menatap Dimas seolah bertanya-tanya siapa pria di depannya ini. Sepertinya Tiara melupakan Farih, padahal ia sudah melihatnya pada saat pertama kali sadar dari koma.


"Dia Farih, orang yang sudah mendonorkan darahnya untukmu Yang."


"Oh, terimakasih tuan dan siapa orang di sebelah tuan ini, apa kekasih anda," Tiara menatap Nita yang berkali-kali mencuri pandang ke arah Dimas, ada perasaan tidak suka melihat wanita itu terus saja menatap Dimas.


"Perkenalkan dia adik saya Nita" Farih menyenggol Nita, menghentikan Nita yang terus saja menatap kagum kearah Dimas.


Sementara Dimas ia cuek saja dengan tatapan Nita. Bukannya ia tidak mengetahui perbuatan Nita, ia tau wanita itu terus menatap padanya, dan itu sudah biasa terjadi. Karena bukan hanya Nita saja yang sering menatapnya kagum seperti itu.


"Hai, saya Nita" Nita dan Tiara bersalaman saling memperkenalkan diri. Tapi ketika Nita menyodorkan tangannya ke arah Dimas, Dimas mengabaikannya. Nita kembali menarik tangannya dengan rasa malu.


"Maaf ya Farih, saya mau antar Tiara dulu ke kamar kecil," Dimas menghentikan aliran infus Tiara dan menaruhnya di pangkuan Tiara. Ia lalu menggendong Tiara ala bridal style.

__ADS_1


"Mas, masih ada orang nanti aja ke kamar kecilnya," protes Tiara di abaikan oleh Dimas.


Sementara Nita memandang Tiara dengan tatapan tidak suka. Farih yang menyadari tatapan adiknya menghela nafasnya.


"Sudah diam" Dimas berjalan ke kamar mandi melewati Farih dan Nita. Ia ikut masuk ke dalam kamar mandi, dengan perlahan ia menaruh Tiara di atas kloset kemudian menutup pintunya.


"Masku kok nggak keluar sih, Tiara mau pipis nih."


"sudah pipis aja, mas juga udah lihat semua. Jadi nggak usah malu," Dimas mengambil infus dari pangkuan Tiara.


"Masku balik badan dong, Tiara risih nih dilihatin gitu."


Dimas membalikkan badannya sambil memegangi infus Tiara.


"Tiara malu deh Masku ikut masuk kedalam, apa coba nanti pikiran mereka kita kan belum nikah mas," ucap Tiara sambil membenarkan celananya.


"Nggak usah pikirin pendapat orang lain, malahan Mas mau nunjukin ke semua orang kalau kamu tuh milik Mas, jadi biar nggak ada lagi laki-laki yang berani deketin kamu termasuk duda nggak laku itu.


Sementara itu di ruang rawat Tiara, Farih sedang menegur adiknya.


"Dek, jaga sikapmu ya jangan mempermalukan Kakak."


"Maksud Kakak apa?"


"Dimas itu calon suami Tiara, jadi kalau lihat yang biasa aja. Jangan coba-coba ngerusak hubungan mereka."


"Ya elah Kak baru juga calon belum nikah. Dan kalau Dimas yang suka ama Nita gimana? masa sih Nita mau nolak pria tampan dan kaya seperti dia."


"Nggak usah berpikir yang aneh deh dek, Kakak nggak mau kelakuan kamu ini sampai nyakitin Tiara."


"Kakak ini belain siapa sih, yang adik kakak itu siapa? harusnya kakak itu bantu aku dapetin Dimas."


Ucapan Nita terhenti karena pintu kamar kecil yang terbuka. Dimas kembali membopong Tiara setelah sebelumnya ia membantu Tiara membasuh muka Tiara dan juga merapikan rambut Tiara yang sedikit berantakan. Karena hobi Dimas yang suka sekali mengacak-acak rambut Tiara gemas. Walaupun sering mendapatkan protes dan dengusan kesal Tiara ia tetap saja melakukannya.


Dengan hati-hati Dimas menaruh Tiara diatas kasur, meletakkan kembali infus pada tempatnya. Setelah itu ia mencium pucuk kepala Tiara dan kembali mengacak-acak rambut Tiara.


"Masku..., baru juga dibenerin jadi berantakan lagi kan."


"Ia maaf," Dimas kembali merapikan rambut Tiara. Sementara Nita kembali menatap kesal ke arah Tiara. Farih yang menyadari perubahan ekspresi Nita, menghela nafas kasarnya. Ia memijat keningnya pusing memikirkan tingkah adiknya, sepertinya ia menyesal mengajak Nita menengok Tiara.


Lihat saja aku akan merebut pria ini darimu, dia tidak cocok untukmu, batin Nita menatap kesal kearah Tiara.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2