
Ketiga orang pria beda usia itu terdiam, menatap Dewi yang berada tak jauh dari mereka sembari menggendong Angga. Tadinya Dewi berniat mengajak Angga jalan-jalan ke halaman samping rumah, tapi siapa sangka ia di kejutkan dengan ketiga orang pria yang merencanakan lamaran pernikahan untuknya.
"Kemarilah" panggil Kakek dengan lembut meminta Dewi untuk duduk di sampingnya. Sementara itu Anton menetapnya tersenyum kecut. Lamaran belum juga dilaksanakan ia sudah di tolak oleh Dewi duluan.
Dengan ragu Dewi melangkah mendekat dan duduk di sebelah Kakek, sesuai permintaan pria tua itu. Dewi terlihat canggung melirik sekilas ke arah Anton dan Dimas. Ia tidak memiliki keberanian untuk menatap Anto, bahkan jantungnya serasa berdetak tak karuan. Ia merasa tak nyaman karena merasa semua mata tertuju padanya.
"Kakek ingin kau segera menikah dengan Anton bukan tanpa alasan" ucap Kakek lembut pada Dewi. Lagi-lagi Dewi kembali melirik Anton, Ia merasa gugup dan salah tingkah.
"Kalian berdua pergilah, Kakek ingin bicara secara pribadi dengan Dewi" usir Kakak pada Dimas dan Anton. Kakek bisa melihat Dewi yang terlihat tak nyaman dengan pandangan kedua pria itu, terutama tatapan Anton yang tak lepas darinya.
"Biarkan saya disini Kek, saya juga ingin tahu alasan Dewi kenapa menolakku" Anton merasa enggan beranjak dari duduknya padahal Dimas sudah berdiri dan menariknya.
"Ayolah, nanti juga Kakek bakalan ngasih tahu kamu alasannya" Dimas kembali menarik Anton dari duduknya.
"Tunggu sebentar" Anton melepaskan genggaman tangan Dimas pada lengannya. Ia mendekat dan menatap Dewi membuat Dewi semakin gugup. Tanpa sadar ia memeluk erat Angga hingga bocah kecil itu terkejut dan menangis.
"Kemarikan Angga, biar kau bisa bicara dengan tenang" Anton meminta Angga pada Dewi.
"Sepertinya kita harus cari bunda baru, karena bunda nggak mau jadi istri Ayah" ucap Anton merajuk pada putranya, sembari mengelus punggung Angga yang masih menangis. ku yg Dimas menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Anton yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan.
"Aku..." Dewi yang ingin berbicara mengurungkan niatnya. Ada perasaan tak rela jika Angga memiliki bunda lainnya.
"Cepat pergi sana, jangan berbicara yang bukan-bukan pada anakmu" ucap Kakek memukul pantat Anton dengan tongkat yang selalu ia bawa.
Dimas menarik Anton pergi, mereka melewati pintu samping untuk menuju ke arah taman.
Sampai di taman Anton duduk di sebuah kursi taman, begitu juga Dimas. Anton memanggil seorang pelayan pria untuk mengambilkan Laptop miliknya yang ada di kamar. Ia juga meminta pria itu untuk memanggil Bibik pelayan yang biasa mengasuh Angga jika Dewi sedang pergi maupun home schooling.
__ADS_1
"Bawa dia main bersamamu, jangan sampai nangis. Ingat mainnya di sekitaran sini saja jangan kau bawa masuk ke rumah" ujar Anton pada Bibik pelayan yang baru saja tiba.
"Aku pikir kau meminta putramu dari Dewi untuk kau asuh sendiri anakmu, ternyata kau serahkan juga anakmu pada pengasuh" sindir Dimas pada Anton.
"Ada hal yang lebih penting, yang harus aku urus. Kau sendiri ngapain pagi-pagi sudah kemari. Apa kau tak pergi bekerja?" tanya Anton pada Dimas. Tak lama Laptop Anton tiba dan di letakkan diatas meja oleh pelayan sesuai intruksi Anton.
Anton mengambil Laptop miliknya, Ia membuka perlahan laptop itu, jari-jemarinya mulai menjelajah pada papan keyboard mengetuk sesuatu.
"Harusnya hari ini aku bertemu dengan klien. Untuk memperlihatkan contoh produk terbaruku" Dimas mengeluarkan sekotak perhiasan dari tas kerja miliknya.
"Lihat sepasang perhiasan ini, cantik sekali bukan?" tanya Dimas sembari memperhatikan setiap detail ukiran produk perhiasan, yang sebenarnya akan ia berikan pada kliennya.
"Bagus!" ucap Angga tanpa menoleh sedikitpun. Dimas yang melihatnya menjadi tambah kesal.
"Aku kemari dan meninggalkan semua pekerjaanku. Dan kau! apa yang kau lakukan pada laptopmu itu! Perhatikan dan hargailah hasil karya perhiasan perusahaanku ini. Ini di desain olehku sendiri" ucap Dimas merasa di abaikan oleh Anton.
"Kau ini, benar-benar menyebalkan" Dimas memilih menutup kotak perhiasannya dan menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi sembari melipat kedua tangannya.
"Jangan ribut, kau ingin lihat ini juga tidak!!" seru Anton sembari menggeser laptop miliknya. Tampak gambar Kakek dan Dewi yang terlihat berbicara serius. Rupanya Anton memata-matai mereka melalui CCTV.
"Keraskan volume suaranya" ujar Dimas ikut penasaran. Ternyata Ia sama kepo nya dengan Anton.
"Apa kamu serius menolak Anton?" tanya Kakek pada Dewi.
"Aku..." Dewi terdiam, ia ragu ingin menjawab apa. Ia masih terlalu muda, ia merasa belum siap menjadi seorang istri. Tapi ia juga tak rela jika Angga memiliki Ibu lain yang akan dekat dengannya nanti.
"Jika kamu menikah dengan Anton, kau bisa bersama Angga selamanya. Tapi jika kau menolak Anton, maka ketika Anton menemukan Ibu baru buat Angga, tentunya kau tidak lagi bisa tinggal disini dan merawat Angga. Karena hak itu akan menjadi milik Istri Anton" ucap Kakek mencoba memberikan pandangan untuk Dewi. Ia tahu seberapa pentingnya Angga buat Dewi. Ia sudah menyelidiki dan mendengarnya dari Dimas maupun Tiara.
__ADS_1
"Aku menyukai Angga dan sangat menginginkannya, tapi untuk menjadi istri Kak Anton, Dewi belum siap Kek. Aku takut jika..." Dewi terdiam menundukkan kepalanya dalam, ia benar-benar takut kehilangan Angga, tapi ia juga belum siap menjadi istri sepenuhnya. Ia masih muda dengan pikiran yang masih labil. Ia takut jika pernikahannya nanti tidak membawa kebahagian, tapi malah kehancuran bagi mereka berdua dan tentu saja itu juga akan berdampak buat Angga.
"Untuk lamaran yang akan kami ajukan padamu, kau pikirkanlah baik-baik. Jangan sampai kau menyesalinya nanti. Pikirkanlah baik-baik, apa sebenarnya pilihan hatimu."
"Tapi untuk itu, kau harus keluar dari rumah ini. Bukannya Kakek melarangmu untuk tetap tinggal disini, tapi kau dan Anton adalah dua orang asing yang tak terikat pernikahan. Kakek tidak ingin tetangga berbicara tentangmu yang bukan-bukan. Tinggallah dirumah Kakek jika kau tak ingin kembali ke rumah Mike, nanti Kakek akan meminta Anton untuk sering-sering membawa Angga kerumah."
"Kemasilah barangmu dan bawa juga beberapa pakaian dan keperluan Angga, kau bisa mengajaknya bersamamu. Sore nanti biar Anton menjemput Angga kembali ke rumah" ucap Kakek akhirnya, ia mengerti jika Dewi memerlukan waktu untuk berpikir.
"Tidak boleh!!" ucap Anton nyaring dengan nafas tersengal-sengal. Rupanya ia berlari untuk bisa lekas sampai di ruangan tempat Kakek dan Dewi berbicara.
Dewi dan Kakek yang terkejut menatap Anton bengong. Pria itu terlihat berkeringat dengan nafas yang masih belum beraturan.
"Keputusan kakek sudah bulat. Kalian tidak boleh satu rumah sebelum sah menjadi suami istri. Ini, lap keringatmu dulu!" Kakek menyodorkan sekotak tisu pada Anton. Anton meraih selembar tisu dan menghapus keringat di dahinya.
"Tapi Kek, Angga akan rewel dimalam hari jika tidak ada Dewi. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Dewi" protes Anton. Ia tak rela jauh dari Dewi. Dekat saja ia susah untuk menaklukkan Dewi, apalagi jika harus berjauhan. Bisa gagal total rencana untuk membuat Dewi jatuh cinta padanya.
"Jangan pergi ya, Wik" ucap Anton memelas. Ia berjalan mendekat pada Dewi yang menatap bengong padanya.
"Kek..." Dewi menatap pada Kakek, memohon untuk di ijinkan tinggal.
"Kalau kalian tidak mau dipisahkan sekarang, maka menikahlah besok. Jika kalian tidak menikah, jangan harap" ucap Kakek tegas.
"Dewi menikahlah denganku" Anton bersimpuh sembari menyodorkan sekotak perhiasan yang dibawa Dimas sebelumnya. Dimas yang baru tiba mendengus kesal pada Anton. Ia setengah tak rela karena Anton sebelumnya berlari sembari membawa kabur perhiasan rancangannya untuk di berikan pada Dewi.
TBC.
TBC.
__ADS_1