
Dimas benar-benar merasakan sakit. Kerinduannya selama bertahun-tahun sia-sia sudah. Orang yang sangat ingin ia temui sudah pergi meninggalkannya. Ia melepaskan pelukan Michael.
" Aku ingin sendiri saat ini, tolong tinggalkan aku" ucapnya berlalu pergi meninggalkan Michael yang terpaku tak tahu harus berbuat apa. Dimas menuju kamarnya dan mengunci dirinya di dalam ruangan itu.
Michael tahu orang yang saat ini Dimas butuhkan adalah Tiara. Ia memutuskan untuk kembali ke tempat perawatannya dan berbicara pada Tiara.
Michael mengetuk pintu Tiara. Ia mendapat informasi dari Roy bahwa Tiara sudah berdiam di kamarnya lebih dari setengah hari. Mood wanita hamil itu sedikit memburuk karena merindukan suaminya.
Tok tok tok...
"Tiara, boleh aku masuk. Tiara tolong buka pintunya ada hal penting yang harus aku sampaikan. Tiara..." Michael terus memanggil-manggil Tiara karena belum juga mendapatkan jawaban dari dalam.
"Tiara tolonglah buka pintunya ini penting. Ini tentang suamimu Dimas." mendengar nama suaminya di sebut Tiara langsung membukakan pintu.
Michael terkejut ketika melihat wajah Tiara yang sembab, bahkan mata wanita itu bengkak. Kelihatannya ia terlalu banyak menangis. Entahlah apa ini yang namanya kontak batin. Ia hari ini begitu Melo ketika mengingat suaminya.
"Ada apa Tiara? Kau menangis." tanya Michael ketika Tiara mempersilahkannya masuk.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Mengapa ia tidak pernah sekalipun datang untuk melihatku" wanita itu kembali menangis.
"Jangan terlalu bersedih kasihan bayimu. Dia bukannya tidak pernah datang, ia selalu datang hanya saja ia tidak bisa masuk ke dalam gedung ini karena Kakek tidak mengijinkannya. Bukankah itu kemauanmu" ujar Michael hati-hati. Ia tahu mood ibu hamil yang selalu berubah-ubah, ia tidak ingin Tiara berpikir terlalu berat yang akan mempengaruhi kandungannya.
"Aku ingin bertemu dengannya" ucap wanita itu tiba-tiba tak bisa membendung kerinduannya.
"Sebenarnya aku kemari juga ingin memintamu untuk menemuinya. Ia sedang terpukul saat ini karena baru mengetahui Mama kami yang sudah meninggal dunia."
"Mama kami? maksudmu."
"Aku adik Dimas, Kami satu Ibu tapi beda Ayah. Sebenarnya kedatanganku kemari sembilan bulan yang lalu adalah untuk mencari keberadaannya. Aku ingin menyampaikan pesan terakhir mendiang Mama untuknya."
"Katakan Dimana dia saat ini?" tanya Tiara khawatir pada Michael. Ia terlihat sangat cemas, Ia tahu seberapa besar Dimas merindukan Ibunya. Pria itu sering menceritakan masa kecilnya bersama Ibunya dulu, dan bagaimana sampai ia bisa terpisah dari Ibunya.
Ibu Dimas mungkin bukan istri yang baik, Ia berselingkuh dari suaminya. Tapi itu semua karena suaminya yang tidak begitu memperdulikannya. Pernikahan tanpa cinta membuat suaminya seolah mati rasa padanya. Tapi walaupun begitu, ia tak pernah sekalipun mengabaikan Dimas, ia selalu perduli pada Dimas dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang Ibu.
Tiara langsung pergi begitu saja setelah Michael memberitahu jika Dimas ada di apartemennya. Michael meminta Roy untuk mengantarkan Tiara menuju apartemen Dimas.
Tiara yang mengetahui sandi apartemen itu langsung masuk tanpa hambatan. Ia bersyukur karena Dimas belum mengganti sandi apartemen itu.
Tok tok tok....
__ADS_1
"Mas tolong buka pintunya, ini Tiara. Mas...., Mas Tiara pergi ya kalau Mas nggak mau buka pintunya" ancam Tiara.
Tiara mengingat ada kunci cadangan di laci meja kerja Dimas. Ia segera menuju kesana mengambil kunci cadangan itu.
Tiara memandang suaminya yang terdiam duduk bersandar di kepala ranjang. Pandangan pria itu kosong, tapi terlihat jelas guratan sedih diwajah pria itu dengan mata yang terlihat memerah.
"Mas" panggil Tiara. Dimas terlihat terkejut dengan kedatangan istrinya. Ia segera turun dari ranjang menghampiri Tiara.
"Sayang kamu disini, maaf aku tidak menyadari kedatanganmu" Dimas mendekat dan mencium kening istrinya.
Tiara meraih jemari Dimas dan menggenggamnya. Ia tahu suaminya saat ini sedang menahan kesedihannya dengan berpura-pura terlihat tegar di depannya. Tiara sama sekali tidak melihat air mata suaminya saat ini. Pria itu terlihat mencoba menekan rasa sedihnya dengan terus tersenyum di depannya.
"Mas jika kau ingin menangis, maka menangislah. Jangan memaksakan diri berpura-pura tegar di depanku. Menangis adalah cara terbaik untuk menghilangkan semua rasa sakitmu. Aku disini untukmu, aku ingin kau membagi rasa sakitmu denganku."
"Sayang" Pria itu menubruk Tiara dan memeluknya. Tiara mengelus punggung suaminya yang bergetar. Tiara melepaskan pelukannya menatap wajah sembab suaminya. Ia menghapus air mata suaminya dan menuntunnya menuju ranjang mereka. Kedua suami istri itu duduk di tepi ranjang.
"Mama sayang, Mama meninggalkanku" Dimas kembali memeluk istrinya. Ia tidak lagi menyembunyikan air matanya. Istrinya adalah tempat ternyamannya saat ini.
"Iya sayang, kamu yang sabar ya. Mama sudah bahagia dan tenang disana, kamu ikhlaskan ya sayang" Tiara ikut memeluk tubuh suaminya mereka menangis bersama.
"Aku sudah kehilangan Mama, Aku tidak ingin kehilanganmu sayang. Jangan tinggalkan aku lagi sayang, aku tak sanggup tanpamu." Dimas melepaskan pelukannya, memperhatikan wajah yang sangat ia rindukan. Ia mencium bibir istrinya lembut melampiaskan rasa rindunya.
"Mas."
"Hemmm" mencium ceruk leher Tiara.
"Sesak Mas, tolong longgarkan pelukannya."
"Kau tidak akan meninggalkanku kan?"
"Tidak."
"Janji."
"Iya, Tiara janji Mas."
Dimas melonggarkan pelukannya, tapi ia sama sekali tidak melepaskan Tiara. Tiara bernafas lega. Ruangan itu hening seketika tak ada suara apapun yang keluar dari bibir Tiara maupun Dimas.
"Mas kok diem aja sih, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu. Apa kau tak ingin membagi rasa sakitmu denganku" tanya Tiara. Tiara ingin suaminya meluapkan rasa sakitnya, agar ia bisa cepat bangkit kembali.
__ADS_1
Tiara kembali merasakan tubuh Dimas yang bergetar, Tiara merasakan ceruk lehernya yang mulai basah karena air mata suaminya yang menetes.
"Sayang" panggil Tiara lagi dengan suara yang terdengar lebih lembut.
"Hemm."
"Menangislah jika dengan menangis kau akan merasa lebih baik. Tapi janji setelah ini kau harus menjadi lebih kuat lagi."
"Sayang, mengapa Mama meninggalkanku? Ia meninggalkanku begitu saja tanpa menemuiku sebelumnya. Sayang apa aku begitu buruk, sampai-sampai semua wanita yang kucintai meninggalkanku begitu saja." tanya Dimas dengan suara terisak.
"Tidak, suamiku tidak buruk."
"Benarkah. Lalu mengapa kalian semua meninggalkanku?"
"Suamiku memang tidak buruk, tapi ia menyebalkan."
"Sayangggg...."
"Suamiku adalah yang terbaik. Karena ia tidak hanya mencintai Ibunya tapi juga Istrinya. Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu, aku dan anakmu sangat membutuhkanmu."
"Kau bisa merasakan kehadirannya" Tiara membawa tangan Dimas ke perutnya. Ia menempelkan telapak tangan suaminya ke perutnya yang masih terlihat rata.
"Ada dia yang akan hadir di tengah-tengah kita nanti. Kamu tidak sendirian Mas, masih ada aku dan anak kita. Nanti kita kunjungi makam Mama ya. Mama pasti bangga memiliki anak sepertimu."
"Aku belum pernah membahagiakannya sekalipun, tapi ia sudah meninggalkanku."
"Dengan melihatmu hidup bahagia, Mama pasti juga akan bahagia Mas. Karena kebahagiaan seorang Ibu adalah bisa terus melihat senyuman kebahagiaan di wajah anaknya."
"Terimakasih sayang, terimakasih karena mau menemaniku di saat aku benar-benar membutuhkanmu. Maafkan kebodohanku selama ini, tolong jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku."
Dimas memeluk erat Tiara, ia mencium seluruh wajah Tiara.
"Pingin nengokin anak kita, boleh ya sayang" pinta Dimas, menatap Tiara.
"Pelan-pelan Ya Mas" ucap Tiara dengan wajah memerah.
Dimas melancarkan aksinya, mengabsen setiap jengkal tubuh milik istrinya itu.
TBC.
__ADS_1