UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Salah Paham


__ADS_3

Di bantu dengan dua orang pelayan Nara memindahkan barang-barang ke kamar yang dekat tangga. Sekalipun kamar itu kecil tapi, terlihat bersih dan rapi. Akhirnya dengan dibantu pelayan Kamar Nara siap juga. Bahkan baju dan barang-barang miliknya juga sudah ditaruh pada tempatnya.


"Tidak buruk juga" gumam Nara mengamati kamarnya.


"Aku akan beli beberapa hiasan agar kami ini lebih bagus lagi" gumam Nara sembari memeluk sebuah boneka yang pernah Mike berikan.


Mike yang terus sibuk dengan pekerjaannya baru turun pada waktu jam makan malam.


"Gimana, suka nggak tinggal di rumah ini?" tanya Mike pada Dewi dan Nara.


"Suka Kak, apalagi kamarnya Dewi suka banget" ucap Dewi sambil melirik ke arah Nara.


"Nara, kamu betahkan tinggal disini?" tanya Mike lagi.


"Iya, Kak" jawab Nara.


"Oh ya, ini kartu untukmu ambillah" Mike menyodorkan kartu debit untuk Nara.


"Tidak perlu Kak" tolak Nara.


"Ambillah Dewi juga sudah menerimanya tadi siang. Kakak harap kamu gunakan uangnya untuk membeli keperluanmu, jangan sungkan kau tanggung jawabku sekarang " ucap Mike pada Nara.


"Kalau Dewi di bilangin jangan boros kalau sama Nara bilangnya jangan sungkan" Kak Mike benar-benar nggak adil" protes Dewi.


"Bukan nggak adil wi, karena kamu emang kelewat boros sedangkan Nara dari dulu nggak pernah mau Makai uang yang Kakak kasih" Mike membela Nara makin mbuat Dewi kesal.


"Iya Nara emang anak as, bela aja terus Kak. Dewi kan memang bukan siapa-siapa" ucap Dewi dengan nada memelas.


"Maksud Kak Mike nggak gitu Wi, kamu jangan salah paham. Kak Mike menasehatimu karena Kak Mike lebih perduli denganmu" sambung Nara lagi. Ia tidak ingin terus terjadi pertengkaran di meja makan.


"Kak Mike mau makan apa biar Nara ambilin" ucap Nara mengalihkan pembicaraannya.


"Biar aku aja yang ngelayani Kak Mike, Nara kan sudah sering ngelayani Kak Mike selama di rumah Kakek" ujar Dewi.

__ADS_1


Ya, selama dirumah Kakek Dewi membiarkan Nara melayani Mike. Ia lebih memilih diam dan mengalah, sama sekali tidak pernah memicu keributan atau kekesalan Nara.


Akhirnya mereka makan dengan tenang, selesai makan Mike meminta Nara untuk menemuinya di ruang tengah, ada yang ingin ia bicarakan dengan Nara dan juga Dewi.


"Begini, besok pagi Kakak akan daftarkan kalian di sekolah terbaik di kota ini. Agar lebih mudah dan praktis kalian akan kakak sekolahkan di sekolah yang sama. Lusanya kalian sudah bisa mulai berangkat sekolah bersama. Kalian tidak keberatan kan harus sekolah disekolah yang sama" tanya Mike pada Dewi dan Nara.


"Tidak Kak" jawab mereka bersamaan.


"Bagus, Kakak harap kalian bisa saling kerjasama dan rukun satu sama lain karena Kakak tidak bisa mengawasi kalian terus. Belajarlah yang benar karena tahun depan kalian sudah lulus dan mulai masuk bangku kuliah. Kakak harap nilai kalian tidak mengecewakan, belajar yang benar agar kalian bisa masuk salah satu universitas negeri" nasehat Mike pada Dewi dan Nara.


Jika melihat nilai-nilai Nara selama Home schooling Mike tidak khawatir. Tapi untuk nilai-nilai Dewi, sepertinya masih banyak yang harus di perbaiki.


"Dewi Kakak ingin kamu mengikuti Les untuk meningkatkan nilai-nilaimu. Kamu ingin les privat di rumah atau les disekolah?" tanya Mike pada Dewi.


"Les di sekolah aja Kak, Nara juga ikutkan?" tanya Dewi pada Mike.


"Terserah Nara saja karena Nilai-nilai Nara selama ini tidak ada masalah, berbeda dengan nilaimi yang bermasalah. Kakak juga berharap di sekolah yang baru ini kamu lebih baik lagi, jangan terus membuat masalah. Kalau ingin melakukan sesuatu, buatlah satu prestasi yang membanggakan. Kau mengerti kan Dewi!" ucap Mike menasehati Dewi, sementara Dewi mencibirkan bibirnya.


"Kamu lebih mengerti dirimu sendiri Wi, nggak perlukan Kakak dikte satu-satu kesalahan yang sudah kamu buat" Mike mengingatkan Dewi.


"Iya, Dewi akan merubah kenakalan Dewi jadi prestasi. Kakak lihat saja nanti, pasti nilai Dewi lebih membanggakan di banding Nara" ujar Dewi penuh percaya diri.


"Oh, baguslah itu. Kalau nilaimu bisa mengalahkan Nara, kakak kasih hadiah istimewa buatmu" tantang Mike pada Dewi.


"Benar Kak ya, janji ya" ucap Dewi terlihat senang.


"Nara, kau dengar itu. Kau jadi saksi jika nilaiku bagus nanti, kak Mike harus menepati janjinya" ucap Dewi lagi terlihat senang. Sementara Nara menganggukkan kepalanya.


Malam itu akhirnya mereka bertiga lewatkan dengan Nara menonton drama Korea sedangkan Mike dan Dewi bermain game, mereka semua berada di ruang tengah.


Diam-diam Mike mengamati Nara yang terlihat pendiam hari ini, berbeda di hari-hari biasanya saat di rumah Kakek. Ya, mungkin disana ada Aqilla yang bisa membuat Nara terhibur dengan tingkah lucu bayi itu, pikir Mike


"Nara, apa filmnya bagus?" tanya Mike yang sedari tadi melihat Nara lebih fokus dengan filmnya. Ia seolah menulikan telinganya dengan kehebohan yang dibuat Mike dan juga Dewi saat bermain game online.

__ADS_1


"Bagus Kak" jawab Nara singkat.


"Kau tidak ingin mencoba bermain game denganku?" tanya Mike pada Nara.


"Tidak Kak, Nara nggak bisa main game online" jawab Nara sambil menolehkan kepalanya kepada dua orang yang sedang duduk berdampingan.


"Kemarilah, duduk di sebelahku. Kakak akan ajarkan caranya bermain jika kau tidak bisa" ujar Mike pada Nara.


"Nara sepertinya bukan hanya tidak bisa Kak, tapi ia memang sama sekali tidak tertarik bermain game. Iyakan Nara!" sahut Dewi, ia tidak ingin perhatian Mike padanya terbagi juga untuk Nara.


"Iya aku lebih suka menonton drama dan sepertinya Nara mengantuk Kak. Nara tidur duluan ya" ucap Nara berpamitan, ia tidak ingin mencari masalah dengan dewi. Nara segera mematikan televisi dan keluar dari ruangan itu. Mike hanya bisa menatap pasrah kepergian Nara hingga menghilang dari pandangannya.


"Dewi kau juga pergilah tidur, Kakak juga sepertinya ada yang harus kakak kerjakan." ucap Mike. Entah mengapa semangat yang tadinya ingin terus bermain game tiba-tiba menghilang melihat ekspresi Nara seperti tidak bahagia dan lebih memilih jaga jarak darinya.


"Ya sudah Dewi ke kamar dulu ya Kak" ucap Dewi ikut berpamitan. Ia lalu melangkah keluar ruangan itu


Sementara Mike memilih ke lantai dua, ia duduk di balkon kamarnya. Mengeluarkan sebungkus rokok dari kantongnya. Merokok adalah hal yang teramat jarang ia lakukan. Ia biasanya merokok di saat bosan dan disaat sedang memikirkan sesuatu seperti sekarang ini.


Setelah menghabiskan dua batang rokok, ia memilih untuk menemui Nara. Bayang-bayang wajah Nara yang terlihat tak bahagia mengusik pikirannya.


Mike turun menemui anak tangga, menatap heran sebuah kamar di dekat tangga yang lampunya masih menyala.


"Apa bibi lupa mematikan lampu, kenapa kamar kosong ini lampunya hidup" gumam Mike. Sebenarnya ia berniat memberikan lampu kamar itu, tapi karena pikirannya yang tak tenang akhirnya ia memilih menemui Nara terlebih dahulu.


Mike membuka pintu pelan, karena takut membangunkan penghuni kamar. Ia mendekat ke tubuh seorang wanita yang tertidur miring. Posisinya membelakanginya hingga Mike hanya melihatnya dari belakang.


"Sayang, apa kau marah denganku hari ini. Kenapa kau tak seperti biasanya" tanya Mike, menyibakkan rambut yang menutupi wajah wanita itu. ia berpikir wanita yang ada di depannya saat ini adalah Nara.


"Dewi" ucap Mike terkejut, bukankah ini kamar Nara tapi kenapa ada Dewi, batin Mike.


"Kakak" ucap Dewi dengan wajah tersipu malu, sebenarnya ia belum tertidur nyenyak. Hatinya berbunga-bunga karena Mike memanggilnya dengan sayang.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2