Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 10 : Pintu Terbuka


__ADS_3


“Desire is the kind of thing that eats you and leaves you starving.”


Entah sudah berapa hari Elana menghabiskan hari-harinya terkurung di dalam kamar perawatan rumah sakit ini. Dia sudah kehilangan jejak perhitungannya di hari ke lima dan lupa untuk melanjutkan lagi. Itu semua karena di dalam kamar perawatannya ini begitu steril, tidak ada jam untuk menunjukkan waktu dan juga kalender untuk menunjukkan tanggal. Elana hanya bergantung pada jendela di kamarnya yang terkunci rapat dengan lapisan kaca tebal yang menampilkan pemandangan langit yang bisa memberikan informasi kepadanya apakah hari masih pagi, sudah beranjak siang, menjelang sore atau bahkan sudah berganti malam.


Satu-satunya yang disyukurinya ketika terkurung di dalam kamar perawatan ini adalah karena Akram Night sudah tidak pernah datang untuk mengunjunginya lagi. Pada awalnya Elana masih dipenuhi kecemasan ketika menatap pintu yang terbuka, takut jika yang memasuki ruangan adalah monster mengerikan yang akan memaksakan kehendak terhadapnya. Sekarang setelah hari-hari berlangsung dengan damai, Elana mulai dipenuhi ketenangan karena Akram Night tidak pernah muncul lagi di depannya.


Elana pernah mencoba menengok ke satu-satunya jendela kaca di ujung ruangan itu, melangkah tertatih-tatih sambil membawa tiang infusnya ke sana, mencoba mencari cara untuk melarikan diri. Tetapi tentu saja yang didapatkannya adalah kekecewaan. Jendela itu menampilkan pemandangan langit yang sangat tinggi, dan permukaan daratan yang bisa dilihatnya terdapat jauh di bawah sana, menunjukkan bahwa ruangan tempatnya berada terdapat di lantai yang cukup tinggi dan tak mungkin dia bisa melepaskan diri dengan meloncat dari jendela.


Tanpa menyerah, Elana juga pernah berusaha membuka pintu ruang perawatannya, tetapi kemudian merasa kesal ketika menyadari pintu itu dikunci dari luar. Ketika para dokter, perawat dan petugas kebersihan keluar masuk ke kamarnya untuk menjalankan tugasnya, Elana pernah melemparkan pandangan mengintip ke arah pintu ruangannya yang terbuka dan melihat sekelebatan ada dua penjaga berpakaian jas hitam khas pengawal milik Akram Night tengah berjaga di sisi kiri dan kanan pintu kamarnya. Besar kemungkinan merekalah yang mengunci pintu kamarnya dari luar dan membatasi akses keluar masuk ke kamar ini. Jadi, seandainya pun Elana bisa membuka kunci pintu itu, dia masih harus menghadapi dua penjaga bertubuh kuat dengan ekspresi dingin yang sudah tentu memiliki keahlian bertarung tingkat tinggi jika dibandingkan dengan Elana.


Dengan kata lain, semua akses sudah dikunci oleh Akram. Tidak ada harapan baginya untuk keluar dari tempat ini. Dan setelah menjalani hari-hari yang sama di ruangan tertutup beraroma rumah sakit dengan perawatan intensif yang mereka lakukan terhadapnya, Elana mulai menyerah, kehilangan daya untuk melarikan diri karena tahu bahwa tidak ada harapan baginya.


Tetapi, bukan berarti dia menyerah sepenuhnya. Nanti, ketika dia keluar dari rumah sakit ini, Elana yakin dia bisa menemukan cara untuk melepaskan diri dari Akram Night. Mungkin untuk saat ini dia akan bersikap patuh dan membuat Akram Night lengah, sebelum kemudian melepaskan diri ketika kesempatan datang.


Dan hari ini berbeda dari biasanya. Sejak pagi tadi, seorang perawat telah datang untuk memandikan Elana dan memintanya berganti pakaian. Pakaian yang disediakan untuknya bukanlah piyama rumah sakit seperti biasanya, melainkan sebuah gaun musim panas sepanjang betis yang melebar di pinggangnya. Gaun itu berwarna kuning muda, dengan sulaman bunga kecil-kecil berwarna senada yang menghiasi bagian bawah gaun itu, membuatnya tampak begitu indah. Ukurannya juga sangat pas di tubuh Elana, seolah-olah gaun itu memang khusus dibuatkan untuknya.


Setelah Elana selesai berpakaian, perawat itu pun melepaskan infus dari tangannya, membebaskan jemari Elana sepenuhnya dari selang yang mengikatnya ke tiang infus selama ini.


Ketika Elana ditinggalkan sendirian di ruangannya, dia duduk di tepi ranjang, tidak bisa menahan rasa antisipasi akan dugaan bahwa dia akan keluar dari tempat ini. Matanya menatap perban tebal yang melingkar membungkus pergelangan tangannya. Lukanya sudah nyaris sembuh sempurna dan tidak terasa nyeri lagi seperti ketika dia tersadar pertama kali setelah upaya percobaan bunuh diri yang dilakukannya.


Akram Night juga tidak pernah datang lagi menemuinya.


Elana menyentuhkan jemari ke perban di pergelangan tangannya.


Untuk saat ini, bolehkah dia berharap bahwa Akram Night sudah kehilangan minat kepadanya dan berniat untuk melepaskannya? Itu mungkin saja terjadi, bukan?


Bagi Akram Night, mencari perempuan yang mau mendampingi dan menyembahnya dengan sukarela sangat mudah dilakukan. Sementara itu, seorang seperti Elana mungkin hanyalah selingan dari kebosanannya dengan wanita-wanita kelas atas.


Sungguh Elana benar-benar berharap bahwa Akram Night akan bosan kepadanya dan melepaskannya. Meskipun begitu, hati kecilnya tetap saja berteriak bahwa itu adalah harapan palsu. Saat ini Elana masih dikurung dengan penjagaan ketat di ruang perawatan ini, itu berarti Akram Night masih berniat menguasainya.


Elana menghela napas panjang, tiba-tiba merasa ketakutan menghadapi mimpi buruk yang membentang di masa depannya.


 



 


"Tuan Akram,"

__ADS_1


Elios menggugah pandangan Akram yang fokus tertuju pada layar digital di depannya. Mereka berada di ruang kantor Akram yang eksklusif siang ini dan Akram menggunakan waktu senggangnya di sela berbagai pertemuan penting menyangkut urusan bisnisnya dengan menyalakan tampilan layar yang menunjukkan pemandangan di kamar perawatan Elana.


Ya, Akram telah menugaskan anak buahnya untuk memasang kamera tersembunyi di sudut-sudut tersembunyi di kamar perawatan Elana untuk mengawasi perempuan itu dari semua sisi. Saat ini, mata Akram tertuju tajam pada tampilan Elana di layar yang sedang duduk di tepi tempat tidur dan tampak melamun, seolah kalut dengan pikirannya sendiri.


Akram memang sengaja tidak mengunjungi Elana selama sepuluh hari kemudian ketika Elana menjalani perawatan sampai benar-benar sembuh. Itu semua karena rekomendasi Nathan yang menganjurkan Akram tidak menyentuhkan tangannya ke tubuh Elana dulu kalau dia ingin Elana benar-benar sembuh sempurna dan siap secara fisik maupun mental untuk menjadi kekasihnya, yang nantinya akan memiliki tugas utama untuk melayaninya di atas ranjang. Karena itulah untuk sejenak Akram merelakan diri untuk mengekang hasratnya pada Elana dan menghabiskan waktu senggangnya dengan menyiksa diri menatap Elana dari tampilan layar dari kamera pengawas di kamar perawatan Elana.


Tentu saja Akram juga tidak melewatkan bagaimana Elana berusaha mencari jalan keluar dari kamar itu, perempuan itu mengintip beberapa kali melalui jendela untuk menilai situasi di luar dan akhirnya menelan kekecewaan karena kamar tempatnya dirawat berada jauh tinggi di atas tanah. Lalu, di malam hari, ketika nuansa kamar sudah remang oleh lampu tidur, Akram mengawasi Elana mengendap-endap sambil menyeret tiang infusnya dengan hati-hati dan mencoba membuka pintu yang tentu saja terkunci dari luar atas perintah Akram.


Perempuan yang keras kepala. Bisa menarik perhatian Akram sampai sedalam ini seharusnya merupakan suatu anugerah untuknya. Tetapi perempuan itu seolah menganggapnya sebagai musibah dan terus berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.


Perempuan yang tak tahu terima kasih.... Akram menipiskan bibir, menempatkan jemari tangannya yang terjalin di bawah dagu dengan rahang mengeras.


"Tuan Akram," sekali lagi Elios berucap untuk mengusik Akram yang begitu fokus dengan lamunannya. Kali kedua, panggilannya berhasil membuat Akram mendongakkan kepala.


"Ada apa?" tanya Akram dengan nada tajamnya yang biasa.


"Dokter Nathan sudah mengeluarkan ijin pulang bagi Nona Elana dan pihak rumah sakit mengatakan bahwa pasien sudah siap. Jika Anda ingin memberangkatkannya sekarang ke villa di pulau, maka saya akan mengirimkan helikopter bersama beberapa bodyguard untuk mengawal perempuan itu."


Akram menatap jam tangan mewah di pergelangan tangannya.


"Apakah setelah ini aku ada jadwal pertemuan dengan kolega?"


Di hari kerja seperti ini, seorang Akram Night yang gila kerja biasanya menghabiskan dua puluh jam waktunya untuk bekerja dan barulah menggunakan sisanya untuk beristirahat. Walau begitu, lelaki itu masih bisa kembali bekerja dengan penuh stamina setiap harinya, sementara Elios yang bertugas mengikuti seluruh kegiatan atasannya tersebut biasanya akan berakhir kelelahan tanpa tenaga di malam hari.


Semua itu membuat Elios kadang berpikir bahwa jangan-jangan, Akram Night bukanlah manusia biasa melainkan seorang robot.


"Jadwal anda penuh untuk janji pertemuan dengan perusahaan Heksagon pukul dua siang nanti," Elios membacakan seluruh janji pertemuan yang harus dihadiri oleh Akram sampai malam nanti dengan cepat, total ada lima pertemuan yang harus dihadiri Akram hari ini, "Kemudian ditutup dengan perjamuan makan malam di rumah gubernur nanti malam." tutup Elios kemudian.


Akram memasang wajah datar mendengarkan semua penjelasan Elios yang runut dan lancar. Mengangkat Elios sebagai asistennya merupakan keputusan tepat bagi Akram. Elios adalah lelaki yang berasal dari panti asuhan, sebatang kara dan tidak punya keluarga. Kebetulan yayasan yang menaungi panti asuhan itu adalah milik keluarga Akram dan juga keluarga Akram adalah penyumbang dana terbesar panti asuhan itu.


Pertemuan pertama Akram dengan Elios adalah lewat sepuluh tahun yang lalu, saat Akram datang mewakili keluarganya untuk memberikan sumbangan tahunan di perayaan ulang tahun yayasan panti asuhan tersebut. Elios adalah lulusan terbaik di sekolahnya, dengan peringkat nilai tertinggi dan catatan kelakuan yang sangat baik. Begitu Akram mengetahui bahwa Elios sedang berusaha mencari pekerjaan untuk hidup mandiri dan tidak membebani panti asuhan lagi, Akram langsung menawarkan pekerjaan di perusahaannya karena dia melihat potensi luar biasa di  balik penampilan Elios yang pendiam dan tenang.


Sekarang, setelah meniti karier dengan kerja keras dan pantang menyerah, Elios telah berhasil membuktikan diri menjadi orang terbaik dan tepat sebagai tangan kanan dan orang kepercayaan Akram.


Insting Akram sangat ahli menilai karakter dan kelebihan orang lain, itulah yang menjadi senjatanya sehingga berhasil membangun bisnis dengan sangat sukses seperti sekarang. Kemampuannya itu membuatnya mampu memilih dengan akurat sehingga dia bisa bekerjasama dengan orang-orang yang tepat serta membuang lebih dini orang-orang yang tidak tepat menurut penilaiannya. Akram sangat susah dibohongi dan dia bahkan mampu membaca rencana-rencana orang lain terhadapnya selangkah lebih cepat.


Kalau begitu.... apakah Akram tepat menilai tentang Elana? Ataukah seluruh penilaiannya terkaburkan oleh nafsu dan obsesi yang menggelegak tanpa bisa dijelaskan?


"Batalkan semua rencanaku di sisa hari ini dan esok pagi," Akram memutuskan dengan cepat, "Lalu untuk akhir pekanku, aku tidak ingin diganggu." ketika mengucapkan kalimat terakhirnya, Akram tidak bisa menyembunyikan seringai penuh antisipasi yang muncul di bibirnya.


Akram tidak pernah merasakan ini dengan wanita manapun sebelumnya. Sebuah keinginan kuat untuk memuaskan hasratnya tanpa batas hingga membuang seluruh urusan pekerjaan terasa begitu mudah baginya.

__ADS_1


 



 


Mata Elana melebar ketika memandang pintu kamar perawatannya yang dibuka oleh salah seorang perawat untuknya. Jantungnya langsung berdebar, membuat Elana  mengepalkan jemarinya di pangkuan tanpa sadar.


Saat ini dirinya tengah duduk di sebuah kursi roda yang disiapkan untuknya. Sekuat apapun Elana bersikeras bahwa dia sudah sehat dan bisa berjalan sendiri, para perawat itu kukuh pada keputusan mereka bahwa dia harus menggunakan kursi roda.


Akhirnya, setelah perdebatan panjang yang berujung dengan masuknya para bodyguard bertampang dingin milik Akram ke dalam ruangan dan bersikap mengintimidasi, Elana harus menyerah dan membiarkan tubuhnya didorong untuk duduk di atas kursi roda itu.


Pintu ruangan kamar perawatannya memang dibuka, tetapi kali ini sepertinya tetap tak ada harapan untuk Elana, karena sekarang, bukan hanya dua orang bodyguard yang datang menjaganya, tetapi enam sekaligus. Dua orang berjalan di depannya, dua orang di sisi kiri dan kanan kursi rodanya, dan dua orang lagi ada di belakangnya. Mereka semua menutup ruang kemungkinan bagi Elana untuk menyelinap dan melarikan diri.


Seorang perawat mendorong kursi roda Elana keluar kamar, mereka lalu melalui lorong panjang yang steril dengan warna putih bersih tanpa ada satu manusiapun yang tampak, dan akhirnya berakhir di ujung ruangan, menghadap sebuah lift yang sudah menanti. Kursi roda Elana lalu didorong memasuki lift oleh perawat itu, diikuti oleh enam bodyguard bertubuh kekar berjas hitam yang memenuhi seluruh ruang lift itu hingga Elana merasa kehabisan napas karena nuansa sesak yang mengganjal paru-parunya.


Ketika pintu lift itu terbuka, Elana langsung mengerutkan kening, menggerakkan tangannya dengan refleks untuk menutup wajahnya ketika hempasan angin yang begitu kuat langsung menghantam wajahnya. Suara berisik yang terdengar kencang memenuhi indra pendengarannya, membuat Elana mengangkat tangan yang menutupi wajahnya dengan penuh rasa ingin tahu.


Matanya langsung melebar ketika melihat sebuah helikopter berwarna hitam legam yang sudah menunggu, baling-balingnya yang berputar kencang menciptakan suara berdengung keras berpadu dengan hembusan angin kencang yang memporak-porandakan rambut Elana yang telah tersisir rapih. Perawat di belakangnya mendorong kursi roda Elana keluar dari lift dan barulah Elana menyadari bahwa lift yang membawa mereka tadi bergerak ke atas dan bukannya ke bawah. Mereka saat ini berada di atap tertinggi rumah sakit yang sekaligus digunakan sebagai landasan helikopter. Sepertinya rumah sakit ini termasuk rumah sakit elit berteknolgi modern yang menyediakan ambulance dalam bentuk helikopter untuk keperluan darurat bagi pasiennya.


Kursi roda Elana didorong hingga mendekati helikopter itu, masih dalam pengawalan enam bodyguard tersebut, dan kemudian berhenti di jarak aman. Seorang lelaki yang diketahui Elana sebagai asisten Akram Night sudah menunggunya di dekat pintu helikopter tersebut, bergegas mendekati Elana yang masih terpana memandang helikopter besar yang dekat sekali di depan matanya dengan tatapan tak percaya.


"Biarkan saya membantu Anda, Miss," Elios mengulurkan tangannya dengan sikap sopan, membuat Elana mau tak mau menerima uluran tangan itu. Dia tidak bisa berbuat yang lain, bukan? Dengan para bodyguard bertubuh kekar dan bertampang garang yang mengelilinginya, Elana secara tidak langsung diintimidasi untuk bersikap patuh.


Elios menggenggam tangan Elana dengan hati-hati, lalu membimbing Elana untuk berjalan perlahan mendekati helikopter dan dengan sikap tenang membantu Elana untuk menaiki helikopter tersebut dan masuk ke dalamnya.


Elana menghela napas panjang ketika akhirnya dia berhasil masuk ke dalam helikopter dan duduk di bangku empuk yang tersedia di sana. Tetapi ketenangannya tidak berlangsung lama ketika dia menyadari bahwa ada orang lain di ruangan helikopter yang terbatas itu.


Mata mereka saling bersinggungan. Yang satu panik seperti mangsa yang terperangkap, sementara yang lainnya tampak begitu puas sekaligus lapar.


Akram Night ada di dalam ruang helikopter itu, dengan tatapan buas seorang predator yang tidak sabar untuk melahap mangsanya.


 





__ADS_1


__ADS_2