
LIGHT LAYERS OF THE DAY/ESSENCE OF THE LIGHT
BONUS MINI NOVEL
XaVIER’S Happy Family
DAFTAR ISI
1. NYANYIAN SANG AYAH
2. MENJEMPUT PULANG AYAH
3. TUGAS SEORANG AYAH
4. AYAH YANG CEMBURU
5. TERPISAH DARI AYAH
6. AYAH PASTI DATANG
7. SOSOK ASLI AYAH
8. CINTA SEORANG AYAH
9. AYAH YANG TAMPAN
10. KELUARGA BAHAGIA
Bonus Epilog EOTL ( FREE ) : Merengkuh Kesembuhan – Hanya diposting di PSA, SELASA 17 NOVEMBER 2020
Ebook Full plus BONUS 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA 17 NOVEMBER 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )
Bonus EPILOG ( FREE) + Ebook EOTL Full dan 10 Part EOTL Xavier’s Happy Family ( KONTEN PREMIUM ) hanya bisa diakses baca eksklusif melalui projectsairaakira.com.
Bagian ketiga dari The Essence Series/ Season 3, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira, bisa dibaca gratis sampai tamat mulai 1 Januari 2021.
***
***
***
***
***
“Xavier.”
Akram menatap tajam ke arah Xavier. Suaranya terlihat tersekat seolah lelaki itu kebingungan merangkai kata. Namun, melihat Xavier yang menunggu dengan tegang, akhirnya Akram berucap juga. “Aku tahu kalau kau tak ingin aku membawa pembahasan ini lagi ke permukaan. Namun, Kurasa kau harus mengunjungi dokter Rasputin sekarang.”
Ekspresi Xavier seketika mengeras mendengar nama ayah kandungnya itu disebut.
“Kenapa aku harus mengunjunginya?” Xavier berucap dengan nada dingin.
“Waktunya tidak lama lagi. Kondisinya kritis. Dokter bilang bahwa kemungkinan dia tak akan bisa bertahan melewati malam ini.” Akram menjawab dengan kalimat lambat-lambat, ekspresinya tampak bijaksana, menasehati Xavier dengan berhati-hati. “Aku tahu bahwa kau sudah mengucapkan selamat tinggal kepada ayahmu dan memaafkan semua hal yang terjadi di masa lalu. Tetapi, saat ini kau mendapatkan kesempatan yang mungkin tak akan terulang lagi, kau mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan benar. Kau tidak akan melewatkannya, bukan?”
Pertanyaan Akram itu tidak mendapatkan jawaban karena Xavier memilih berdiam diri dan membentangkan keheningan yang canggung di antara mereka. Elana dan Sera sendiri saling bertukar pandang, tetapi mereka sepakat untuk tidak bersuara dan memberikan kesempatan kepada kakak beradik itu untuk saling berbicara mengemukakan apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Akram mengawasi ekspresi Xavier yang keras dan tak terlembutkan, dan dia menarik napas panjang.
“Kau tahu, aku tidak pernah mendapatkan kesempatan seperti yang kau dapatkan saat ini dan aku selalu dipenuhi penyesalan setiap kali memikirkannya.” Akram menatap Xavier dalam-dalam. “Ayah dan ibu kita meninggal dalam kecelakaan.Pada saat mereka berangkat pergi, aku sibuk dengan urusanku sendiri dan pada akhirnya, di saat terakhir mereka, aku tak mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan benar.” Suara Akram terdengar gelap, dipenuhi oleh penyesalan yang dalam. “Kau kemarin mendapatkan kesempatan untuk memaafkan ayahmu dan meringankan hatimu. Sekarang kau bahkan juga mendapatkan kesempatan mengucapkan selamat tinggal dengan benar kepada ayahmu, Xavier. Jangan buang kesempatan itu. Percayalah, di masa depan nanti saat kau menoleh kembali dan mengingat saat ini, kau akan bersyukur karena kau mau mendengarkan nasehat dariku ini.”
***
Sera menyerahkan Ainee yang telah tertidur karena kekenyangan menyusu ke perawat yang langsung menerimanya dan meletakkan kembali bayi itu ke dalam kotak inkubator dengan berhati-hati. Si kembar telah disusui secara bergantian hingga kenyang, Sera juga telah memerah ASInya dan mendapatkan dua botol susu segar yang kental dan bergizi yang segera disimpan oleh perawat ke kotak pendingin berteknologi khusus.
Sementara itu, Xavier yang sejak tadi mendampingi Sera menyusui kedua anak mereka, tampak murung dan terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Xavier tidak memberikan jawaban yang pasti mengenai nasehat Akram kepadanya tetapi sudah jelas kalau lelaki itu memikirkannya.
Lelaki itu menatap kedua anaknya dengan sayang di dalam kotak inkubator sebelum kemudian menolehkan kepalanya ke arah Sera dan tersenyum lembut.
“Apakah kau ingin kembali ke kamar sekarang? Anak-anak sudah tidur nyenyak dan mereka memiliki persediaan ASI yang cukup. Kurasa kau bisa menghabiskan waktu dengan tidur siang dan mengistirahatkan tubuhmu,” ucap Xavier sambil bergerak ke belakang kursi roda Sera, bersiap mendorongnya keluar kamar.
Sera menganggukkan kepalanya dan membiarkan Xavier mendorong kursi roda yang dipakainya keluar dari kamar bayi itu. Mereka berjalan dalam diam, melewati lorong sepi dengan nuansa warna putih yang melingkupi.
“Xavier?” Sera akhirnya memecah keheningan di antara mereka, mendongakkan kepala sedikit supaya bisa melihat Xavier di belakangnya.
Ekspresi lelaki itu masih muram, tetapi Xavier langsung memasang senyuman lembut mendengar Sera memanggil namanya.
__ADS_1
“Ada apa? Kau ingin makan sesuatu lagi? Aku akan membelikannya kalau kau mau.” Xavier menawarkan dalam senyuman, membuat pipi Sera memerah malu karena diingatkan oleh sikap sembrono dan kekanak-kanakannya semalam.
Semalam, Xavier menyempatkan diri menyelundupkan cheese cake kesukaan Sera diam-diam ke dalam kamar rumah sakit untuk disantap Sera menjelang hampir tengah malam. Sesungguhnya tidak ada pantangan makanan dari rumah sakit untuk ibu yang baru melahirkan dan sedang menyusui. Sera malah dianjurkan untuk makan banyak-banyak segala jenis menu untuk memenuhi kelengkapan gizinya dan air asinya, sekaligus mempercepat pemulihannya pasca operasi. Namun, ada satu aturan ketat dari rumah sakit yang harus dipatuhi, yaitu bahwa untuk menjaga standar kehigienisan dan kesehatan pasien selama berada di bawah tanggung jawab rumah sakit, maka pasien hanya diperbolehkan makan-makanan yang disediakan oleh rumah sakit dan tidak diperkenankan menyantap makanan dari luar.
Bahkan bagi Xavier yang memiliki sebagian saham kepemilikan dari rumah sakit ini pun, tidak mendapatkan pengecualian. Sera sebagai istrinya harus tetap mengikuti aturan tersebut.
Namun semalam, Sera sangat ingin makan cheese cake dan dia mengatakannya pada Xavier. Suaminya yang baik itu langsung pergi membelikannya, lalu menyelundupkan cheese cake itu ke kamarnya dan mereka menyantapnya diam-diam di tengah malam setelah grup visit perawat terakhir sudah datang berkunjung.
“Aku tidak sedang ingin makan apapun saat ini. Aku memanggilmu karena… karena… bukankah sebaiknya kau pergi?” tanya Sera perlahan dengan nada berhati-hati.
Xavier mengerutkan keningnya.
“Pergi kemana?” sahutnya balik bertanya.
Sera menengadah supaya Xavier bisa jelas melihat wajahnya.
“Apa yang dikatakan oleh Akram tadi… aku setuju dengannya. Kau harus mengucapkan selamat tinggal dengan benar kepada ayahmu, Xavier.”
Sekali lagi, Xavier memilih untuk tak menjawab. Lelaki itu bergerak dalam diam, mendorong kursi roda Sera hingga masuk ke dalam kamar perawatannya, lalu dengan gerakan cekatan membantu Sera naik ke atas ranjangnya.
Tentu saja Sera tak menyerah begitu saja. Dia tak ingin Xavier melepaskan kesempatan ini, lalu menyesal di kemudian hari.
“Pergilah.” Kembali Sera berbisik perlahan. Nadanya tidak memaksa, hanya dipenuhi oleh pengertian seorang istri yang memahami isi hati terdalam suaminya.
Xavier tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu membungkuk dan mengambil tangan Sera, lalu mengecupnya lembut penuh cinta. Setelahnya, bibirnya bergerak mengecup dahi Sera dan bergeser ke ujung hidungnya dan beralih ke kedua sisi pipinya sebelum berakhir di bibirnya, mengecupnya lembut dengan penuh perasaan.
Xavier baru melepaskan ciumannya setelah napas keduanya terengah. Lelaki itu melabuhkan kecupan-kecupan kecil di ujung bibir Sera untuk menenangkan diri, sebelum berbisik kemudian dengan suara parau.
“Aku sangat beruntung memilikimu, apakah kau tahu itu?”
Sera tersenyum, merangkulkan tangannya di leher suaminya, lalu melabuhkan kecupan penuh kasih di dahi Xavier.
“Aku tahu. Begitupun sebaliknya Xavier,” bisiknya dengan penuh rasa sayang. Setelahnya, dilepaskannya pelukan lengannya dari leher lelaki itu, dan Sera menepuk pundak Xavier lembut seolah memberikan semangat.
“Sekarang, pergilah,” bisiknya pelan dan tersenyum lega ketika kali ini suaminya memilih untuk menurut kepadanya.
***
Waktu kedatangan Xavier sangatlah tepat. Pada saat dia tiba, dokter Rasputin sudah masuk ke dalam ruangan penanganan khusus karena kondisinya sudah kritis.
Xavier mengenakan pakaian steril berwarna hijau, lengkap dengan masker dan penutup kepala, lalu seorang perawat menemaninya masuk ke dalam ruang penanganan untuk menemani saat terakhir ayahnya.
Tim dokter sedang menangani dokter Rasputin, menjalankan tugas mereka untuk menyelamatkan nyawa sebisanya meskipun sesungguhnya mereka tahu bahwa sudah tidak ada harapan lagi.
Matanya mengawasi sosok dokter Rasputin yang sudah kehilangan kesadarannya. Lelaki itu tak berpakaian untuk memudahkan dokter memberikan penanganan. Hanya selimut berwarna hijau yang menutupi area pinggang sampai ke ujung kakinya. Alat-alat penunjang kehidupan tersambung ke tubuhnya, sementara dadanya yang kurus hingga tulang rusuknya terlihat, tampak naik turun dengan susah payah memompa udara ke dalam paru-parunya dengan bantuan tabung oksigen yang terhubung dengan selang ke saluran pernapasannya.
Suara alat pendeteksi detak jantung terdengar mengeras, seiring dengan semakin memuncaknya masa kritis dokter Rasputin yang datang menjelang. Lalu, suara terputus-putus itu berubah menjadi satu suara panjang yang tak terputus lagi, menunjukkan bahwa jantung dokter Rasputin sudah tak berdetak lagi, berhenti sepenuhnya setelah hembusan napas terakhirnya yang tak terselamatkan.
Mata Xavier terus mengamati seluruh prosesnya dengan tenang, menyimpan dalam-dalam kepergian lelaki baru yang hadir di kehidupannya pada ujung usianya lalu pergi dengan segera dijemput maut.
Dokter Rasputin sudah meninggal dunia. Lelaki itu sudah pergi.
Xavier memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam. Baru pada saat itulah dia membiarkan emosinya lepas bebas, mengalir dalam bentuk buliran air mata yang tak bisa ditahan menuruni sudut matanya.
Akram benar, begitupun Sera. Xavier memang harus hadir sampai akhir, hingga nanti di masa depan dia tak merasakan penyesalan karena melewatkan saat-saat ini.
Tangan Xavier terangkat untuk mengusap air matanya yang membasah. Dia lalu menatap sosok dokter Rasputin yang terbujur kaku, menyimpan memori wajah lelaki itu sebelum salah seorang perawat yang bertugas menarik kain selimut hijau itu untuk menutup wajah dokter Rasputin dan petugas yang lain segera mencatat waktu kematiannya untuk menyatakan status pasien sudah meninggal dunia secara resmi.
Selamat tinggal, Ayah.
Kalimat itu terucap dalam senyap, hanya berupa lantunan kata yang bergema di dalam hati seorang anak yang patah dan terbelah karena harus melepaskan kepergian seorang ayah yang tak pernah memeluknya.
***
“Si kembar sudah siap.”
Xavier memberi tahu sambil melangkah memasuki ruang perawatan Sera. Bibirnya menyunggingkan senyuman lebar ketika melihat istrinya sudah berganti pakaian, mengenakan gaun warna biru tua dengan renda putih di kerah dan lengannya yang membuatnya terlihat sangat cantik.
Tak bisa menahan dirinya, Xavier bergerak mendekat, lalu merangkulkan lengannnya untuk memeluk Sera rapat ke tubuhnya.
“Rupanya kau juga sudah siap,” bisiknya parau, dipenuhi oleh hasrat.
Sera merasakan pipinya memerah panas. Sudah sebulan lebih berlalu sejak si kembar lahir dan akhirnya dokter memutuskan bahwa kondisi si kembar sudah sangat stabil, sehat dan normal sehingga bisa keluar dari inkubator dan boleh dibawa pulang ke rumah.
Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa. Masih teringat jelas di benak Sera malam itu ketika Xavier naik ke ranjangnya diam-diam di malam hari setelah acara pemakaman dokter Rasputin. Lelaki itu tidak menangis, hanya memeluk rapat dalam senyap, sementara Sera juga tak mengatakan apapun dan hanya mengusap punggung Xavier untuk menyalurkan kekuatan dan cintanya kepada lelaki itu.
Semenjak itu, hari-hari tenang mereka lalui dalam kebahagiaan yang damai. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit karena si kembar yang masih dirawat intensif di ruang NICU, hingga akhirnya tibalah waktunya mereka semua bisa pulang ke rumah sebagai satu keluarga yang berbahagia.
“Apa yang kau pikirkan?” Xavier berbisik lembut, sebelah tangannya merangkul pinggang Sera supaya merapat kepadanya, sementara tangannya yang lain mengangkat dagu Sera supaya menengadah kepadanya.
“Aku memikirkan semua hal yang kita lalui hingga kita sampai di titik ini.” Sera berbisik lembut, menatap suaminya dengan penuh cinta. “Itu semakin membuatku semakin mencintaimu di setiap detiknya,” sambungnya kemudian dengan nada tulus penuh cinta.
Mata Xavier berkilat hangat ketika mendengar kalimat istrinya itu. Lelaki itu menundukkan kepala, lalu tak bisa menahan diri untuk tidak melabuhkan bibirnya ke bibir Sera dan menciuminya dengan lembut.
Ciuman itu semula dimaksudkan sebagai ungkapan kasih sayang, namun Xavier adalah lelaki normal yang selama beberapa minggu ini tertahan untuk menuntaskan hasratnya kepada istrinya.
__ADS_1
Kenyataan bahwa mereka telah melewati waktu larangan juga mendorongnya untuk semakin berhasrat menginginkan istrinya, karena itulah ciuman yang diberikan kepada istrinya dipenuhi oleh hasrat yang membara, panas dan penuh dengan keinginan untuk memiliki saat itu juga.
Ketika tangan Xavier mulai bergerak menuruni lengan dan pinggang Sera, lalu merambat turun ke pahanya dan hendak menaikkan gaunnya, Sera langsung tersadar bahwa mereka berdua hampir saja hanyut dibawa hasrat.
Tangan Sera kemudian bergerak menyentuh tangan Xavier yang liar dan menahannya. Kepalanya bergerak mundur, melepaskan diri dengan susah payah dari pagutan suaminya yang penuh hasrat.
“Xavier. Kita sedang berada di rumah sakit,” Sera berbisik lemah memperingatkan. Suaranya gemetaran dan napasnya terengah panas, sama seperti napas suaminya.
Xavier tersenyum lembut, matanya tampak berkabut dipenuhi hasrat ketika lelaki itu menangkup kedua sisi pipi Sera di kiri dan kanannya dan tanpa peduli pada protes perempuan itu, menghadiahkan kembali ciuman yang penuh hasrat ke bibir istrinya, menikmati dan menyesap rasa manisnya sepuasnya dengan teknik ciuman panas yang membuat kaki Sera melemas hingga akhirnya yang bisa dilakukannya hanyalah berjinjit, lalu melingkarkan lengannya ke leher Xavier sebagai tumpuannya.
Kali ini, Xavier berhasil mengendalikan dirinya dengan baik, memaksakan diri untuk puas hanya dengan ciuman saja. Napasnya yang panas mengembus bibir Sera ketika lelaki itu menggesekkan bibirnya di sana dan berbisik lembut.
“Malam ini, di rumah. Kita akan bercinta.” Ucapan Xavier terdengar serak, dipenuhi oleh hasrat tak bertepi yang mendorong ketidaksabaran nyata dari dalam tubuhnya.
Pipi Sera merah padam mendengar kalimat vulgar suaminya yang mendesak laksana janji. Dia akhirnya menenggelamkan wajahnya ke dada suaminya, tak mampu menanggapi.
Pada saat yang sama, pintu ruangan itu terbuka dan sosok memesona lainnya, melangkah masuk ke dalam ruangan.
Credence tentu langsung menyadari intensitas suhu ruangan yang entah kenapa terasa begitu panas. Lelaki itu mengangkat alisnya, lalu mengamati dua pasang manusia di hadapannya.
Sera yang sedang dipeluk erat oleh Xavier jelas tampak merah padam bahkan sampai ke telinga dan lehernya. Sementara itu, Xavier tampak seperti lelaki yang baru saja pulang dari pertempuran di medan perang dan membawa piala kemenangan. Ada senyum puas di wajahnya sementara matanya berkilat penuh antisipasi.
Credence mengangkat alisnya, lalu melemparkan senyuman tahu sama tahu ke arah Xavier.
“Apakah aku mengganggu?” bisik Credence kemudian dengan suara lambat-lambat penuh arti, membuat rona merah di wajah Sera semakin nyata.
Xavier berdehem, melemparkan tatapan penuh peringatan ke arah Credence supaya menjaga sikapnya dan membuat Sera tidak lebih malu lagi dari ini.
“Tidak. Kami sudah selesai.” Xavier berdehem lagi. “Maksudku, kami sudah selesai bersiap-siap untuk pulang. Si kembar juga sudah siap di kamar bayi, tinggal dijemput saja.” Xavier mengerutkan kening dan barulah dia menyadari keanehan kehadiran Credence di ruangan ini. “Kenapa kau kemari? Ada apa?” tanyanya kemudian.
Credence menyeringai lebar. Pada saat itulah Sera dan Xavier melihat ekspresi lega yang sangat nyata di wajah lelaki itu.
Credence jelas-jelas datang untuk membawakan kabar baik dan lelaki itu langsung membuka mulutnya seolah tak sabar untuk mengatakannya.
“Kurasa, kau ingin melihat dulu sebelum pulang. Baru saja dokter Nathan membuka matanya. Dia sudah sadar.”
***
***
***
***
LIGHT LAYERS OF THE DAY/ESSENCE OF THE LIGHT
BONUS MINI NOVEL
XaVIER’S Happy Family
DAFTAR ISI
1. NYANYIAN SANG AYAH
2. MENJEMPUT PULANG AYAH
3. TUGAS SEORANG AYAH
4. AYAH YANG CEMBURU
5. TERPISAH DARI AYAH
6. AYAH PASTI DATANG
7. SOSOK ASLI AYAH
8. CINTA SEORANG AYAH
9. AYAH YANG TAMPAN
10. KELUARGA BAHAGIA
Bonus Epilog EOTL ( FREE ) : Merengkuh Kesembuhan – Hanya diposting di PSA, SELASA 17 NOVEMBER 2020
Ebook Full plus BONUS 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA 17 November 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )
Bonus EPILOG ( FREE) + Ebook EOTL Full dan 10 Part EOTL Xavier’s Happy Family ( KONTEN PREMIUM ) hanya bisa diakses baca eksklusif melalui projectsairaakira.com.
Bagian ketiga dari The Essence Series/ Season 3, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira, bisa dibaca gratis sampai tamat mulai 1 Januari 2021. Tidak akan diposting di Mangatoon/Noveltoon
__ADS_1