
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
Sera terpaku bisu setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Xavier.
Bahkan ketika lelaki itu kemudian melepaskan pelukan mereka, lalu duduk bersila di atas ranjang dengan tubuh membungkuk frustasi dan menggunakan kedua tangannya untuk menutup wajahnya pun, mulut Sera seolah terkunci, tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Perlahan Sera bangkit dari posisinya berbaring dan mengikuti duduk di atas ranjang. Perutnya yang membuncit membuatnya kesulitan bergerak, tetapi akhirnya dia berhasil melakukannya.
Mata Sera tertuju pada sosok Xavier yang masih bersila dengan tubuh membungkuk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan seolah menyerahkan penghukuman yang akan ditanggungnya ke tangan Sera, dan hati Sera langsung terasa sakit seolah disayat dan dicabik oleh pisau tak kasat mata karenanya.
Dari semua yang bisa dibayangkannya saat dia mengkonfirmasi Xavier menyangkut kebenaran tentang ayahnya, hal terakhir yang bisa dibayangkannya adalah semuanya berakhir dengan Xavier yang tampak dipenuhi penyesalan dan memohon ampun kepadanya.
Lelaki itu tampak begitu meyedihkan, didera oleh rasa bersalah kuat yang pasti terasa membebani dan menyesakkan dada. Sera tahu persis bagaimana rasanya karena dia sendiri pernah didera rasa bersalah yang sama ketika dia merasa gagal menyelamatkan ayahnya. Sera mengerti bahwa rasa itu begitu sakit hingga hampir tak tertahankan.
Apakah itu yang dirasakan oleh Xavier sekarang? Kesakitan yang sama seperti yang dirasakannya?
Selama ini, lelaki itu berhasil menutupinya dengan baik di balik wajah penuh senyum dan tanpa bebannya, hingga Sera bahkan tidak menyadarinya.
Selama ini, dia mengira bahwa hati Xavier terlalu gelap untuk merasakan penyesalan. Tetapi ternyata dia salah. Hati Xavier tidaklah segelap itu. Kekejaman yang ditampilkan Xavier mungkin hanyalah kamuflase dan pelarian untuk melindungi dirinya supaya dia tak terluka. Di balik itu semua, jiwa Xavier ternyata serapuh anak laki-laki kecil yang sebatang kara di dunia ini dan hanya mengharapkan cinta dalam kehidupannya, tetapi tak pernah mendapatkannya.
Menatap Xavier yang tampak lelah sekaligus rapuh itu, Sera tidak bisa merasakan yang lain selain rasa iba yang membeludak di jiwanya. Tidak ada lagi benci, tidak ada lagi dendam, yang ada hanyalah keinginan untuk menghapuskan siksaan yang membebani Xavier.
Lelaki itu seharusnya tidak perlu didera rasa bersalah lagi. Lelaki itu seharusnya sudah terbebaskan, karena Sera tahu dengan pasti, bahwa sejak dia menyadari cintanya kepada Xavier, dia sudah memaafkan lelaki itu.
Cintanya kepada Xavier telah membuatnya memusnahkan segala dendam yang ada. Cintanya kepada Xavier telah membuatnya memaafkan lelaki itu tanpa syarat.
Mungkin dosa Xavier di masa lalu memang berat, keputusan keji yang telah Xavier lakukan di masa lalu itu memang telah menjerumuskan dirinya dan keluarganya dalam kehancuran.
Tetapi, bukankah kesalahan itu tidak seharusnya ditimpakan di punggung Xavier seorang? Semua takdir mengerikan itu saling berjalinan dengan kusut karena tangan-tangan kotor lain yang turut campur tangan.
Jika memang tangan Xavier penuh noda dosa dan darah, begitupun tangan orang lain yang terlibat di dalam insiden kematian Anastasia yang berujung pada rencana pembalasan dendam Keluarga Dawn yang gagal itu.
Xavier mungkin bersalah karena dia memilih jalan gelap dengan menghancurkan hidup Anastasia demi memisahkannya dengan Akram. Meskipun begitu, Sera bisa mengerti alasan kuat yang membuat Xavier melakukannya. Bagi Xavier, tindakan Anastasia yang tengah mengandung anak lelaki lain tetapi dengan licik ingin membuat Akram bertanggung jawab, adalah sebuah tindakan pengkhianatan terburuk yang harus mendapatkan hukuman.
Xavier memang telah membayar ayah Sera untuk menculik dan menyiksa Anastasia guna menakut-nakutinya supaya pergi menjauh meninggalkan Akram. Namun, sudah jelas Xavier tidak pernah memerintahkan mereka untuk bertindak sejauh itu dengan menyiksa dan memerkosa Anastasia. Tindakan keju itulah yang akhirnya mendorong perempuan itu untuk bunuh diri dan menciptakan tragedi beruntun yang menimpa semua orang yang terlibat.
Pelaku penyiksaan yang lepas kendali dan pemerkosaan yang brutal tersebut adalah anak buah ayah Sera yang pada waktu itu gelap mata karena pengaruh konsumsi alkohol. Sang ayah yang gagal mengendalikan anak buahnya, terpaksa menanggung kesalahan mereka dengan menjalani kehidupan di penjara. Para pelaku pemerkosaan dan penyiksaan itu juga telah menanggung dosa mereka masing-masing, mereka juga dipenjara, mendapatkan ganjaran hukuman atas kejahatan mereka, sama seperti ayah Sera.
Xavier memang bersalah telah menjadi penyebab semuanya, tindakan yang diambilnya membuat Sera menjadi korban rencana pembalasan dendam Roman Dawn yang ingin memanfaatkannya sebagai pion untuk mengalahkan Xavier.
Xavier memang berhubungan dengan semua kemalangan dalam kehidupannya. Namun, bukan Xavier yang memukuli ayahnya di penjara hingga jatuh koma, bukan Xavier yang menghajar Sera dengan cambuk sebagai pelampiasan dendam dan menciptakan bilur di punggungnya yang tak bisa hilang. Bukan Xavier yang mengurungnya berhari-hari tanpa makanan serta minuman hingga nyaris mati karena kelaparan dan kehausan. Bukan pula Xavier yang memberikan penyakit kanker kepada ayahnya.
Itu semua, meskipun sakit untuk diterima, adalah suratan takdir dalam kehidupan Sera yang harus dijalaninya. Sera sudah ikhlas menerima semuanya dengan lapang dada.
Kalau begitu, kenapa lelaki ini meminta maaf? Kenapa Xavier membebankan segala sesuatunya di pundaknya dan memilih untuk menanggung semua hal sendirian?
“Xavier.”
Sera memanggil perlahan dan suaranya yang lemah itu ternyata cukup untuk membuat suaminya yang tengah menenggelamkan diri di tengah kubangan penyesalan, langsung tersentak seolah terkejut. Perlahan Xavier melepaskan kedua tangannya yang menutupi wajahnya dan matanya membalas tatapan mata Sera.
Sera tak mengalihkan pandangan, ditatapnya wajah pucat suaminya, kesedihan langsung menghantamnya kembali saat melihat betapa pucatnya wajah Xavier yang dihiasi dengan lingkaran gelap samar di bawah matanya.
Lelaki itu tampak menderita dan kesakitan.
Apakah beban rasa bersalah itu selalu ditanggung oleh Xavier selama ini? Tubuh Xavier sedang sakit secara fisik, dan lelaki ini malah menambahkan beban sakit secara psikis ke jiwanya.
Rasa kasih yang begitu besar kepada Xavier dan kesadaran bahwa suaminya selama ini menyembunyikan beban rasa bersalah dan penderitaannya sendirian, membuat hati Sera merasa pedih.
__ADS_1
Sera mencintai suaminya, dia mencintai Xavier. Tetapi, kenapa Xavier seolah tak mau berbagi beban yang ditanggungnya? Kenapa Xavier ingin menanggung semuanya sendiri?
Mata Sera berkaca-kaca ketika dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi suaminya dan sekali lagi membuat Xavier tersentak karena lelaki itu sepertinya tak menyangka kalau Sera mau melakukan itu kepadanya.
“Xavier. Kumohon, lepaskanlah.” Sera tak bisa menahan lagi kepedihan yang bergolak di dadanya, dia berbisik perlahan dengan suara parau, air mata menetes deras dari kedua matanya, membasahi pipinya.
Wajah Xavier tampak memucat ketika mendengar kalimat Sera itu, dadanya seolah dihantam oleh kekuatan dahsyat yang menghancurkan, hingga membuatnya merasa tercekik kehabisan napas.
Melepaskan? Apakah ini ujung dari permohonan ampunnya kepada Sera? Apakah Sera memintanya melepaskannya? Melepaskan cintanya yang bertumbuh semakin pekat kepada perempuan di depannya ini?
Bibir Sera membentuk senyum tipis ketika dia memahami ekspresi ketakutan yang tercermin di wajah Xavier. Dia tahu bahwa tidak seharusnya dia menertawakan Xavier yang tengah salah paham mendengar perkataannya yang belum diselesaikannya sampai tuntas. Wajahnya sendiri sama konyolnya dengan wajah Xavier saat ini, dia tersenyum, tetapi dia juga menangis terisak dengan air mata membanjiri wajahnya.
Sera menahan isakan kuat yang membuat napasnya terasa sesak. Dia menggerakkan tubuh mendekati Xavier, lalu berlutut di depan lelaki itu hingga membuat posisi tubuhnya lebih tinggi dari Xavier yang sedang bersila. Tangan Sera menyentuh kedua pipi Xavier dan menengadahkan wajah lelaki itu dengan gerakan lembut.
Ditatapnya mata Xavier yang seolah sedang menahan sakit dan menyimpan ngeri atas ultimatum yang akan dilemparkan oleh Sera berikutnya.
Lelaki ini takut kalau Sera menyuruhnya pergi dan memutus semua hubungan di antara mereka. Semua ketakutan itu jelas tercermin di wajah Xavier saat seluruh topeng kepalsuannya terlepas dan lelaki itu tak berpura-pura menutupi perasaannya lagi di hadapan Sera.
Kesadaran itu membuat hati Sera menghangat. Dia ingin cepat-cepat menyingkirkan segala rasa takut di hati Xavier, karena itulah dia menundukkan kepala, mendekatkan bibirnya ke dahi Xavier dan mengecup dahi lelaki itu.
Sikapnya itu membuat Xavier tertegun. Matanya melebar, menatap Sera dengan pandangan tak mengerti. Tetapi lelaki itu hanya diam menunggu, tak berani bertanya karena takut akan memancing kalimat perpisahan yang mungkin akan terlontar dari bibir Sera dengan segera.
“Lepaskanlah semua rasa bersalahmu, Xaver.” Sera berucap, memberikan kalimat yang seutuhnya kepada Xavier. “Karena aku, sudah memaafkanmu atas segalanya.” Suara Sera tenggelam, pecah oleh isakan hebat hingga dia tak mampu berucap lagi.
Sementara itu, Xavier terperangah ketika telinga dan otaknya akhirnya mampu bersinergi dengan baik sehingga dia bisa mencerna sepenuhnya kalimat yang diucapkan oleh Sera itu. Matanya menatap ke arah Sera dengan tak percaya.
Didorong oleh hentakan yang langsung meluap menghebat di dadanya, tangan Xavier kemudian menarik tubuh Sera dan membawa tubuh perempuan itu ke dalam buaiannya.
Ketika Xavier berucap kemudian, Sera meliha bahwa bibir lelaki itu gemetar.
“Sera....” Xavier berucap dengan suara parau tersekat, seolah kehabisan kata-kata untuk berucap. Tangannya yang mengusap rambut Sera ikut gemetaran ketika dia menahan pergolakan di jiwanya sekuat tenaga.
Lelaki itu menelan ludah, menghela napas panjang untuk menenangkan diri, lalu menatap istrinya seolah sedang terombang-ambing di dalam ketidakpastian. “Apakah... apakah kau memaafkanku? Apakah kau benar-benar sudah memaafkanku?”
Xavier bertanya kembali karena tak yakin. Kali ini wajahnya sejajar dengan Sera dan matanya menatap dengan penuh permohonan agar segera diberi kepastian.
“Ya. Aku memaafkanmu Xavier. Aku memaafkanmu. Aku memaafkanmu....”
“Apakah kau yakin? Kau memaafkan aku? Aku bahkan telah...” Suara Xavier tersekat di tenggorokan seolah dia kehilangan keberanian untuk menjabarkan semua kejahatannya di masa lampau di hadapan istrinya ini.
Hati Sera tersentuh oleh rasa haru. Tangannya gemetar ketika dia mengangkatnya untuk menyentuh pipi lelaki itu.
“Aku memaafkanmu, Xavier. Bahkan sebelum kau meminta maaf kepadaku malam ini pun, aku sudah memaafkanmu.”
Sera tak bisa melanjutkan kalimatnya karena dia merasakan tangannya basah. Matanya terpaku ketika melihat air mata yang mengalir dari mata suaminya.
Xavier menangis. Suaminya itu meneteskan air mata.
“Xavier....”
Suara Sera yang hendak menghibur suaminya tiba-tiba dipaksa menghilang ketika mulut Xavier seketika menyatu dengan mulutnya. Lelaki itu melahap bibirnya dengan penuh emosi luar biasa yang membanjir dari dalam hatinya. Mereka berdua saling meluapkan diri, menuntaskan semua rasa yang bergolak di dalam dada, dan melepaskan semua beban yang menyesakkan hati.
Ciuman itu berlangsung begitu lama, dan penuh air mata. Wajah mereka berdua yang basah berpadu, menciptakan nuansa ciuman yang asin oleh luapan kepedihan bercampur rasa lega yang tertumpahkan. Dan seperti yang seharusnya terjadi, ciuman itu memang melegakan hati mereka.
Ketika akhirnya Xavier melepaskan bibirnya dari bibir Sera, posisi mereka sudah berubah sepenuhnya. Lelaki itu duduk dengan punggung bersandar di kepala ranjang, tangannya menyangga kedua sisi tubuh Sera untuk menahan perempuan itu supaya tak terjatuh di atasnya. Sementara, Sera berada di atas lelaki itu, duduk setengah berlutut di pangkuannya dengan kedua lutut bertumpu di sisi kiri dan kanan panggul Xavier.
Napas Xavier terengah akibat ciuman penuh luapan perasaan yang ditumpahkannya kepada istrinya, dan hal yang sama terjadi pada Sera. Kedua mata mereka sama-sama basah, dan ketika mereka saling menatap, Sera tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa dan menangis secara bersamaan.
Xavier melakukan hal yang sama, lelaki itu tersenyum dengan mata yang masih membasah. Lalu tangannya bergerak menarik tangan Sera dan mengecup bagian dalam telapak tangannya, menanamkan bibir hangatnya yang tadi menciumi bibir Sera, pada kelembutan permukaan kulit di sana.
Dalam hidupnya yang dipenuhi kekejian oleh darah, yang dirasakan oleh Xavier adalah hasrat membalas dendam yang berkobar nyata. Orang-orang yang berkhianat akan mendapatkan ganjarannya, orang-orang yang tak bisa memenuhi standarnya akan mati dengan mengerikan di tangannya, dia tak pernah memiliki belas kasihan, dia tak pernah sekalipun merasa ragu ketika menumpahkan darah orang-orang yang dirasanya pantas mati.
Namun sekarang, semua itu tak ada artinya lagi. Rasa sakit di jiwanya, rasa traumanya, rasa pedih yang mencabik hatinya, pun dengan kemarahan terpendam yang bergolak dan menciptakan kekejian yang mendorongnya terus menerus membasahi tangannya dengan darah yang tertumpah, semua itu sudah tak ada lagi. Semua itu sudah hilang, musnah sepenuhnya.
Sera telah menyembuhkannya. Perempuan itu telah memulihkannya.
__ADS_1
Perasaan Xavier mengembang oleh rasa cinta yang meluap begitu kuatnya terhadap Sera, hingga dia tak bisa menahan mulutnya untuk membuat pengakuan.
“Aku mencintaimu, Serafina Moon.”
Pernyataan cinta itu bergulir begitu saja dari mulut Xavier, terdengar begitu jelas memecah keheningan yang hanya diisi oleh deru napas mereka berdua yang saling bersahutan.
Mata Sera melebar dan kali ini gantian mulutnya yang membuka karena terperangah, dipenuhi keterkejutan yang nyata ketika mendengar pernyataan cinta yang meluncur tanpa ragu dari bibir suaminya.
Sayangnya, Xavier tidak melihat ekspresi berharga itu. Dia terlalu pengecut karena itulah Xavier memilih memejamkan mata. Lelaki itu takut melihat ekspresi jijik dan muak yang mungkin muncul dari wajah Sera, dia tak kuat hati melihat penolakan yang mungkin akan langsung terpancar dari ekspresi perempuan itu.
Meskipun begitu, Xavier sama sekali tak menyesal karena telah mengucapkan kalimat pengakuannya dengan sepenuh hatinya.
Ia tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menuntaskan semuanya. Tadi adalah saat-saat pengampunan, dan Sera dengan jiwanya yang besar, telah berbaik hati memberikan penebusan itu kepadanya.
Tetapi Xavier ternyata masih ingin lebih lagi. Ketika dia telah mendapatkan pengampunan, jiwanya yang serakah tidak merasa cukup sampai di situ.
Ia tidak hanya ingin diampuni, ia tidak hanya ingin dimaafkan. Ia ingin dicintai. Xavier ingin Sera membalas cintanya. Ia ingin perempuan itu membuka hati untuknya dan membiarkannya masuk lalu menjajah di sana hingga Sera tak bisa terlepas lagi darinya.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
***
***
__ADS_1