
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Kau ingin bertanya apa?”
Suara Xavier terdengar lembut dan santai, tetapi lelaki itu jelas menyadari ketegangan Sera. Ada yang mengganggu pikiran Sera dan itu ikut mengusik Xavier.
Apa yang terjadi? Bukankah selama ini dia selalu menjaga Sera dengan baik? Apa yang terjadi di waktu singkat ketika dia tak mendampingi istrinya?
Sera menelan ludah. Perempuan itu menggerakkan tangannya untuk menyentuh dada Xavier, sementara matanya berkabut penuh rasa bingung.
“Kuharap kau tak marah jika aku menanyakannya. Aku… aku tak sengaja mendengarnya tentang ini tadi… dan aku… aku ingin memastikannya kepadamu.”
Xavier menggenggam tangan Sera di dadanya dan mengecupnya.
“Apa yang ingin kau pastikan? Katakan.” Sahutnya dengan nada tegas seolah memberi perintah.
Sera menghela napas panjang, mengumpulkan kekuatannya untuk bertanya. Dia sudah membuka mulutnya dan pertanyaan itu sudah berada di ujung pita suaranya ketika tiba-tiba saja ponsel Xavier terdengar berdering.
Semua Xavier berniat mengabaikannya, tetapi ponsel itu dengan keras kepala tetap saja berdering seolah tak mau menyerah sebelum Xavier mengangkatnya.
“Angkat saja, siapa tahu penting.” Sera berbisik memberikan persetujuan ketika dilihatnya Xavier menatapnya seolah meminta izin.
Xavier mendekus, mau tak mau akhirnya mengeluarkan ponsel itu dari sakunya. Keningnya berkerut ketika melihat nama yang tertera di sana.
Credence?
Lelaki itu sedang berada di Rusia dan sedang fokus dalam usahanya melakukan penyergapan terhadap dokter Rasputin. Dokter yang dicurigai merupakan sosok yang berada di balik operasi plastik sempurna yang dilakukan oleh Aaron.
Apakah Credence berhasil menangkap dokter Rasputin?
Xavier mengangkat ponsel itu dan langsung berucap dengan nada tegas.
“Sepuluh menit lagi aku akan meneleponmu kembali. Aku harus mengantarkan istriku ke tempat tidur dulu.”
Setelah mengucapkan kalimatnya, tanpa menunggu tanggapan dari Credence, Xavier langsung menutup pembicaraan.
Sera yang memperhatikan Xavier melebarkan bola matanya.
“Kau… kenapa kau bersikap seperti itu? Apa perasaan orang yang menjadi lawan bicaramu jika kau berkata begitu kepadanya?” ucap Sera kemudian dengan nada mencela.
Xavier menyeringai. “Tidak apa-apa. Dia hanya Credence. Dia sudah terbiasa.”
“Ah, Credence menelepon? Apakah dia berencana datang ke negara ini karena kelahiran putri Akram dan Elana?” Sera langsung menyimpulkan dan Xavier memutuskan untuk tak mengoreksinya.
“Mungkin dia akan kemari… untuk mengucapkan selamat pada Akram.” Sambil berucap Xavier beranjak berdiri dari sofa, lalu meraup tubuh istrinya dalam gendongan dan membawanya ke kamar. “Ayo, hari sudah larut. Kurasa sudah waktunya kau beristirahat.”
Sera berpegangan kencang ke kemeja Xavier, tubuhnya berayun ketika lelaki itu melangkah menuju kamar dan kepalanya langsung mendongak, menatap ke arah Xavier dengan cemas.
“Kenapa kau tidak menggunakan kursi rodaku? Aku… aku sangat berat dalam kondisi seperti ini,” bisiknya dengan pipi merona merah.
Xavier terkekeh, menatap Sera dengan pandangan menggoda.
“Apakah kau sudah lupa dengan apa yang kukatakan sebelumnya padamu? Ini adalah kesempatan langka, jadi aku tak akan melewatkannya,” sahutnya menggoda yang membuat Sera tak bisa melawan perkataannya.
Mereka sampai di dalam ruang kamar apartemen itu dan dengan hati-hati, Xavier membaringkan Sera ke atas ranjang.
“Apakah kau ingin ke kamar mandi?” tanya lelaki itu dengan nada penuh perhatian.
Sera menggelengkan kepalanya. “Aku sudah ke kamar mandi tadi, di ruang perawatan Elana. Aku juga sudah berganti baju dengan pakaian bersih. Jadi, aku akan berbaring saja sampai ketiduran,” jawabnya sambil mengulas senyum.
Xavier menganggukkan kepala, lalu menghadiahkan kecupan di pucuk kepala Sera.
“Kau pasti sangat kelelahan, beristirahat saja dulu ya? Aku akan keluar sebentar untuk menerima telepon dari Credence.” Ketika menegakkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi, Xavier tiba-tiba saja meragu. “Mengenai pertanyaanmu tadi, apakah kau bersedia menunggu sampai aku menyelesaikan percakapan teleponku dengan Credence?” tanyanya kemudian.
Sera menganggukkan kepalanya.
“Ya, Xavier. Aku bisa menunggu. Selesaikanlah dulu percakapan teleponmu,” jawabnya dengan nada meyakinkan meyakinkan.
Sekali lagi Xavier membungkuk, mengecup pipi Sera sebelum kemudian menghadiahkan ciuman lembut di bibirnya. Ciuman itu dimaksudkan sebagai ciuman selamat tidur dan perpisahan. Tetapi tanpa diduga, Sera secara refleks malahan menggerakkan tangannya untuk merangkul Leher Xavier, membuat tubuh Xavier terbungkuk mendekat dan ciumannya bertambah dalam.
Xavier sudah lama menahan diri dan tidak menyentuh Sera. Kelembutan tubuh perempuan itu, rangkulan di lehernya, ditambah lagi dengan sikap pasrah dan penerimaan Sera kepadanya membuat hasratnya berkobar kuat. Tanpa sadar Xavier menaikkan salah satu lututnya ke ranjang, tubuhnya bergerak menekan tubuh Sera sementara mulutnya semakin kuat menjajah bibir ranum Sera yang terasa sangat manis.
Ciuman itu berlangsung lama dan luar biasa panas, dan Xavier lupa diri. Tangan lelaki itu bergerak mengelus lengan Sera sebelum kemudian merambat perlahan ke pinggul dan pahanya.
“Aku merindukanmu Serafina Moon,” Xavier akhirnya berhasil melepaskan pertautan bibir mereka. Lelaki itu mendaratkan napasnya yang terengah di telinga Sera dan menggigitnya lembut untuk menggoda. “Aku tahu aku tak boleh menyentuhmu. Tapi, kurasa aku membutuhkanmu untuk menuntaskan kerinduanku.” Xavier mengecup sisi pipi Sera dan menyentuhkan lidahnya ketika kecupan demi kecupan dilabuhkannya di sepanjang rahang Sera. “Apakah kau mau membantuku?”
Permukaan kulit Sera sudah dipenuhi rona merah yang menutupi hampir semua kepucatannya. Mata Sera tampak berkabut dan hasrat membuatnya terengah. Suaminya sangat ahli merayu dan selalu berhasil menggoda Sera kapanpun dia memutuskan untuk merayunya.
Sera tersipu ketika mengutuki dirinya sendiri. Astaga, beginilah rasanya memiliki suami yang sangat pandai merayu, bahkan dalam kondisinya yang sedang hamil besar pun, Sera gemetaran ketika membayangkan menyentuh Xavier dan membantunya menuntaskan hasratnya.
Kepala Sera terangkat, menatap mata Xavier yang penuh dengan bara hasrat terhadapnya. Lelaki itu sedang menunggu dan akhirnya Sera memberikan anggukan kepalanya sebagai jawaban.
“B-baiklah.” Sera menggigit bibir tanpa sengaja dan tindakannya itu menarik perhatian Xavier. Mata lelaki itu menatap bibir Sera seperti predator yang tak sabar memangsa korbannya.
Xavier kemudian menunduk lagi, hendak menciumi kembali istrinya. Tetapi beruntung Sera sudah mendapatkan kembali kesadarannya yang tadi sempat tertawan oleh hasrat, didorongnya lembut dada lelaki itu yang mulai merapat ke arahnya, dilemparkannya pandangan penuh peringatan ke arah suaminya sebelum kemudian dia berucap mengingatkan.
“Ingat, kau berjanji menelepon Credence sebentar lagi,” bisiknya perlahan.
Xavier mengerang mendengar kalimat Sera itu, tetapi lelaki itu menyadari bahwa nasehat Sera benar adanya. Telepon Credence dan nada suaranya ketika menyapa Xavier dalam panggilan singkat tadi, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang penting yang harus ditanganinya.
Xavier mendekus, menegakkan tubuhnya dan mengusap rambutnya dengan frustasi. Meskipun begitu, tatapannya tetaplah lembut ketika dia mengulurkan lengan untuk mengusap pipi Sera sebelum berpamitan.
__ADS_1
“Aku akan segera kembali.” Bibir Xavier menipis penuh janji. “Segera setelah aku kembali, kita lanjutkan lagi yang tadi.”
Lelaki itu kemudian membalikkan tubuhnya setelah melahap indahnya wajah Sera yang merona merah karena kalimatnya. Dipaksanya tubuhnya bergerak hingga dia akhirnya berhasil melangkah keluar dari kamar sambil menutup pintu di belakangnya.
***
“Xavier. Dokter Rasputin menghilang. Dia berhasil melarikan diri sebelum kami bisa menangkapnya.”
Begitu Xavier meneleponnya kembali, Credence tidak membuang-buang waktu dan segera mengungkapkan inti tujuannya menelepon lelaki itu.
Perkataan Credence membuat Xavier tertegun. Ternyata arah rencananya berputar halauan ke sisi yang tak terduga.
“Bagaimana dia bisa lari? Apakah rencana penyergapan kita bocor? Apakah dia tahu bahwa kita sedang mengejarnya?” tanyanya kemudian.
“Sepertinya dia memiliki kontak dengan beberapa pihak rumah sakit, dia juga bisa mengakses informasi dari dalam rumah sakit dengan menembus panel keamanan di informasi data rumah sakit bekas tempatnya bekerja dulu. Kurasa dari situlah dia menyadari bahwa kita sedang mengumpulkan informasi tentangnya.” Credence menipiskan bibir dengan geraham mengetat. Dia sangat tidak suka kegagalan dan pelarian dokter Rasputin ini membuatnya marah. “Karena itulah, dia merencanakan pelarian ini. Dia tepat waktu karena ketika pasukan kami datang meyergap, dia belum lama pergi.”
“Apakah menurutmu dia telah keluar dari Rusia?” tanya Xavier kemudian.
Sejenak ada jeda keheningan dalam percakapan mereka, seolah-olah Credence sedang memikirkan segala kemungkinan yang ada sebelum menjawab.
Credence selalu begitu, hanya bisa memutuskan dan menyimpulkan setelah mengkalkulasikan dengan tepat dari data serta variabel yang ada. Jika dia tidak pasti, biasanya dia memilih untuk tidak menjawabnya, tetapi jika hasil perhitungannya pasti, biasanya perencanaan Credence selalu berakhir akurat dengan hasil yang tepat.
“Sembilan puluh persen aku yakin bahwa dia sudah keluar dari Rusia. Dengan kemampuannya menyamar, dengan kemampuannya memalsukan dokumen. Kurasa dengan mudah dia bisa keluar dari Rusia tanpan terlacak.” Credence kemudian menyahuti dengan nada penuh perhitungan. “Sumberku mengatakan bahwa dokter Rasputin bukan hanya melayani operasi pengubahan wajah di dunia bawah tanah, dia juga melayani pemalsuan identitas dan juga mempermudah kliennya dalam melakukan pencurian identitas orang lain. Kurasa dia memiliki kekayaan yang cukup banyak dari usahanya membantu para kriminal itu.”
Credence menghela napas panjang. “Maafkan aku, Xavier. Kurasa dokter Rasputin adalah orang yang memenuhi kriteria paling tepat untuk menjadi si ahli bersembunyi yang sulit ditemukan untuk saat ini. Dengan kemampuan menyamarnya, kemampuan memalsukan dokumennya dan juga hartanya yang melimpah, dia bisa berubah menjadi apa saja semaunya, menghapus jejak identitas lamanya dan melenggang pergi tanpa kita bisa menangkapnya.
Xavier termenung. Sesungguhnya, kalkulasinya hampir sama dengan apa yang dipikirkan oleh Credence. Dokter Rasputin hampir mustahil untuk ditangkap.
Tetapi, Xavier membutuhkan dokter Rasputin. Hanya dokter sialan itulah yang bisa memberikan informasi telah berubah menjadi siapa Aaron sekarang. Dia tak ingin dirinya terlambat mengetahuinya dan menyesal kemudian karena Sera sudah terluka.
“Apakah kau ingin melanjutkan pencarian?” Credence akhirnya bertanya kembali dan memecahkan keheningan di antara mereka.
Dengan mantap Xavier langsung menganggukkan kepala. Meskipun secara rasional pencarian ini mustahil, dia tetap harus melakukannya.
“Kerahkan seluruh kekuatan. Aku tak peduli biayanya, Credence, kau bebas mengaturnya dan aku akan menanggungnya. Yang pasti dokter busuk itu harus tertangkap,” ucap Xavier dengan nada geram.
Credence menghela napas panjang tetapi mulutnya mengucap persetujuan. Dia memiliki hutang budi kepada Xavier di masa lampau dan sejak saat itu, dia sudah bertekad untuk membantu sahabatnya ini sebisanya.
Setelah Xavier menutup pembicaraan mereka, Credence membanting tubuhnya di sofa hotel tempatnya tinggal selama di Rusia. Tadinya Credence berniat datang untuk memberi ucapan selamat kepada Akram dan Elana secara langsung, tetapi sepertinya dia harus menunda rencannya itu karena upaya pencarian itu membuatnya harus tetap tertahan di Rusia.
Sebuah gerakan di seberangnya membuat mata Credence teralihkan dan langsung bertemu dengan bola mata bersemu merah milik Dimitri.
“Aku benar, kan? Xavier tidak mungkin mau menyerah. Apalagi sekarang setelah istrinya sudah hampir melahirkan. Dia sedang berkejaran dengan waktu.” Ucap Dimitri sambil tersenyum penuh ironi.
Credence mendekus, menatap Dimitri dengan pandangan mencemooh.
“Anak buahmu gagal dan kau masih berani duduk di sini dan tersenyum? Apa kau tidak merasa malu?” sahutnya kemudian dengan nada dingin.
Dimitri terkekeh, seolah-olah ucapan menusuk Credence itu sama sekali tidak mempengaruhinya.
“Aku sudah berusaha, siapa yang menyangka kalau dokter tua itu sangatlah licik dan begitu lihai bersembunyi?” Tatapan Dimitri berubah serius. Dia bukannya ingin menjadi pembantu yang bisa disuruh-suruh oleh Xavier, tapi untuk saaat ini dia menyayangi nyawanya.
“Bagus.” Credence menganggukkan kepala menyetujui. “Aku akan mengerahkan tim ahli data dan teknologiku untuk mengakses semua data manusia yang keluar dari negara ini dalam periode seminggu ke belakang. Jika dokter Rasputin ke luar negeri, maka aku akan menemukannya,”ucapnya kemudian dengan nada suara yakin, tak sabar menyingsingkan kemejanya untuk segera bekerja.
“Satu lagi.” Dimitri menyeringai ketika mengutarakan maksudnya. “Kalian menduga bahwa Aaron mungkin sudah berada di dekat Serafina Moon, bukan? Aku punya ide brilian untuk mengguncang Aaron jika memang dia sudah ada di dekat Sera dan berusaha mengincarnya.”
Credence mengerutkan kening, menatap Dimitri dengan curiga.
“Apa rencanamu?”
Mata Dimitri berkilat karena puas dengan rencana hebatnya.
“Sabina. Pengendali otaknya masih berfungsi dan selama ini dia terus berperan sebagai robot yang patuh. Kurasa dia tidak berbahaya lagi. Bagaimana kalau kita tempatkan dia di sekitar Sera untuk menjadi salah satu pengawalnya? Itu pasti akan membuat Aaron terkejut setengah mati. Bagaimanapun, Sabina adalah penyelamat Aaron di masa lalu, aku tahu Aaron merasa berhutang budi kepadanya. Kurasa, Jika Aaron mengira bahwa itu adalah Sabina yang sama, kita bisa memancing Aaron yang sedang bersembunyi untuk muncul ke permukaan demi menjangkau Sabina.”
***
Jika dokter Rasputin belum ditemukan, maka Xavier harus benar-benar mengetatkan penjagaan di sekeliling Sera untuk menjaga dari semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Ada rasa tak senang yang mengganjal di dalam jiwa Xavier, membuatnya tak tenang. Hatinya seolah selalu dipaksa berharap-harap cemas, bahkan ketika situasi di sekelilingnya sedang dipenuhi kedamaian.
Rasanya seperti keheningan mencurigakan yang tercipta sesaat sebelum badai luar biasa besar datang menyerang….
Xavier mendekus. Sudah tentu dia akan terus menerus merasakan ketidaktenangan ini selama dirinya masih belum bisa mengidentifikasikan Aaron telah berubah menjadi siapa.
Lelaki itu bisa berubah menjadi siapa saja. Itulah yang mencemaskan Xavier. Dia tak ingin Aaron ternyata berada jauh lebih dekat dari yang dia perkirakan tanpa dia menyadarinya.
“Tuan.” Pintu ruang apartemennya terbuka dan wajah Derek tampak muncul di balik pintu. Lelaki itu menatap ke arah Xavier yang tengah duduk termenung di atas sofa dan langsung bertanya. “Anda memanggil saya?”
Xavier mengangguk, memberi isyarat ke arah Derek. “Masuklah,” perintahnya dengan nada tegas.
Dengan sikap patuh Derek melangkah masuk. Lelaki itu sempat berhenti dan meragu sejenak di depan Xavier dan Xavier kembali memberi isyarat kepadanya.
“Duduklah. Banyak yang harus kita bicarakan. Kau tak bisa melakukannya sambil berdiri,” perintahnya lagi yang segera dipatuhi oleh Derek. Lelaki itu pun bergegas mengambil tempat duduk di depan Xaver. Tubuhnya siaga dan sikapnya waspada, menanti istruksi apapun yang mungkin muncul dari mulut Tuannya.
“Apakah ada yang ingin kau laporkan kepadaku mengenai apa yang terjadi selama aku sedang tak ada di samping Sera? Sebagai kepala keamananku, kau bertugas menggantikanku saat aku tak ada. Jadi, kurasa kaulah yang paling tahu jika itu menyangkut Sera, bukan?”
Pertanyaan itu membuat Derek tertegun. Sesungguhnya, sejak tadi pagi dia sudah ingin menyampaikan peristiwa ketika dokter Oberon mendekati Sera dan mengatakan sesuatu yang mencurigakan kepada nyonya itu. Namun, Xavier tampak sibuk mendampingi Sera dan pasangan itu terlihat baik-baik saja.
Xavier tampak tenang dan Sera tampak bahagia, tidak ada lagi sisa kepucatan dan pikiran terganggu seperti yang ditampilkannya setelah dokter Oberon menyampaikan sesuatu kepadanya. Jadi, Derek mengira bahwa mungkin apa yang dikatakan dokter Oberon kepada Sera tidaklah sepenting yang dia duga.
Akan tetapi, Derek salah menduga. Ada sesuatu yang tidak benar dan tuan Xaviernya yang memiliki insting tajam itu tidak bisa dibohongi. Sera sepertinya belum membicarakan secara langsung mengenai perkataan dokter Oberon tadi pagi, karena itulah Xavier bertanya-tanya.
Derek menelan ludah. Dia takut salah kata, tetapi dia sudah berjanji untuk membantu nyonyanya tadi pagi. Karena itulah, dia tidak mengatakan sesuatu yang lebih dari seharusnya karena dia tahu bahwa Seralah yang akan melakukannya.
“Tidak ada sesuatu yang aneh, Tuan. Hanya saja, tadi pagi salah satu dokter rumah sakit ini menyapa dan mengajak Nyonya Sera berbicara.” Derek menjawab jujur, nada suaranya terdengar tegas meyakinkan.
__ADS_1
Kening Xavier berkerut. “Dokter rumah sakit ini? Siapakah selain dokter Nathan yang mengenal Sera di sini?”
“Nyonya Sera mengenal dan menyebut namanya. Nama dokter itu adalah dokter Oberon. Saya sudah mengkonfirmasi dengan pihak rumah sakit dan memang dokter itu bekerja di rumah sakit ini… sebagai direktur keuangan.”
“Aku tahu.” Kerutan di kening Xavier tampak semakin dalam. “Apa yang dikatakan oleh dokter Oberon kepada istriku?”
“Saya tidak mendengarnya secara pasti karena nyonya Sera meminta saya mundur untuk memberikan privasi ketika dokter Oberon mengajaknya berbicara. Tetapi, selain sapaan dan percakapan biasa, ada satu hal serius yang diucapkan oleh dokter Oberon kepada Nyonya Sera yang membuat nyonya Sera memucat.”
“Hal serius?” Xavier tampak berpikir dalam, entah kenapa lonceng peringatan tiba-tiba berdentang di dalam kepalanya.
Apakah ini berhubungan dengan apa yang hendak ditanyakan oleh Sera kepadanya tadi?
“Saya tidak bisa membaca gerak bibirnya karena posisi dokter Oberon memunggungi saya. Jadi, yang tampak jelas di mata saya hanyalah ekspresi Nyonya Sera yang berubah. Tetapi setelahnya, Nyonya Sera tampak pulih kembali dan ekspresinya jadi baik-baik saja. Sampai dengan malam ini beliau sepertinya tidak terganggu apa-apa. Karena itulah saya menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh Dokter Oberon tadi kepada Nyonya, bukanlah sesuatu yang penting.”
“Apakah kau sudah melakukan penyelidikan kepada dokter Oberon? Apa latar belakang dan situasinya?” Xavier mulai curiga. Lelaki itu tiba-tiba saja muncul dimana-mana. Kemarin mereka bertemu di fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat, dan sekarang si dokter itu menyapa Sera ketika berpapasan dengannya? Xavier memang sudah merasakan ketidaksukaan kepada dokter itu dan sekarang rasa tidak sukanya semakin menguat.
“Saya sudah melakukan pemeriksaan background dokter Oberon. Semuanya bersih. Dia adalah seorang dokter bedah ahli tetapi mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa berpraktek lagi. Sejak saat itu dia menjabat sebagai direktur keuangan rumah sakit ini.” Derek menjawab dengan lancar dan lugas. “Mengenai kehidupan pribadinya, saya rasa kecelakaan itu telah mengubah drastis kehidupannya. Dia menjadi penyendiri yang kecanduan alkohol sebagai pelariannya.”
“Hmm….” Xavier menggumam ketika otaknya bekerja keras untuk menghubungkan semua benang kusut yang ternyata saling berjalinan itu.
Apakah dokter Oberon ini hanyalah orang aneh yang mengalami tekanan jiwa akibat kecelakaan yang menghancurkan kariernya sebagai dokter, atau jangan-jangan… dia adalah Aaron yang menyamar?
Mungkinkah itu? Tetapi jika dia memang Aaron yang menyamar, berarti operasi yang dilakukan oleh dokter Rasputin pasti sangatlah hebat, karena tidak ada satu orang pun yang mengenal dokter Oberon -termasuk Nathan yang merupakan rekan kerjanya sekalipun- yang bisa menyadari ataupun mengenali perubahan dari dokter Oberon.
“Kau boleh pergi. Aku akan memberikan instruksi lanjutan nanti.” Xavier menganggukkan kepala, memberi isyarat pada Derek supaya meninggalkan ruangan.
Dengan patuh Derek mengangguk, lalu membungkukkan tubuhnya dengan sikap hormat untuk berpamitan sebelum kemudian melangkah pergi.
***
Ditinggalkan sendirian membuat Xavier semakin dalam tenggelam ke dalam pikirannya.
Kemungkinan itu ada. Meskipun tidak ada yang mengenalinya, Aaron bisa saja telah menyamar menjadi dokter Oberon.
Tetapi untuk saat ini, dugaan hanyalah tinggal dugaan. Xavier tidak bisa bertindak gegabah yang berakhir pada salah tembak dan berujung pada mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah.
Meskipun dugaannya sangatlah kuat, masih ada kemungkinan dia salah. Karena itulah, dia harus menemukan petunjuk dan bukti yang kuat yang bisa menyatakan dengan jelas bahwa Aaronlah yang menyamar di balik topeng dokter Oberon yang dicuri identitasnya.
Perlahan Xavier mengeluarkan ponselnya dan menelepon.
“Nathan?”
Ketika dokter Nathan menyahuti di depan sana, Xavier langsung menyapa.
“Aku masih ada di rumah sakit ini. Di ruanganku. Kenapa kau menelepon?” Suara Nathan tampak letih di seberang sana, tetapi lelaki itu jelas-jelas masih bangun.
“Aku ingin kau menyelidik dokter Oberon dan memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan saksama. Jika ada yang mencurigakan, laporkan kepadaku.”
Hening sejenak seolah dokter Nathan di seberang sana kesulitan mencerna perkataan Xavier. Ketika lelaki itu berhasil mencerna dengan jelas kemudian, suara dekusan napasnyalah yang memecah keheningan di antara mereka.
“Hah! Seolah-olah aku tidak punya banyak pekerjaan yang menumpuk saja.” Dokter Nathan mengegerutu dengan suara tak suka. “Sudah kubilang kau tak perlu mengincar dokter Oberon. Kau mungkin tak menyukainya di kesan pertamamu bertemu degannya. Namun, dia memang orang aneh dan penyendiri yang sulit disukai sejak kecelakaan yang menimpanya. Mungkin kau memang sangat posesif serta pencemburu hingga tak suka ketika dokter Oberon melabuhkan perhatiannya ke Sera, tetapi kuharap kau tidak bertindak konyol dengan menguntit orang yang kau anggap bisa menjadi saingan cintamu.”
Xavier menipiskan bibir ketika lelaki itu menahankan kesabarannya. Nathan bisa menjadi lelaki yang sangat cerewet dan mengganggu ketika lelaki itu memutuskan membuka mulutnya dan menggerutu. Telinganya bahkan mulai terasa panas ketika lelaki itu terus menerus mengomel tanpa henti.
“Bukan begitu.” Xavier akhirnya memutuskan menyela. “Tidak ada hubungannya dengan rasa cemburuku maupun rasa tidak sukaku dengan dokter Oberon. Aku hanya menemukan sesuatu yang membuatku curiga….” Xavier sengaja memberikan jeda di kalimatnya supaya Nathan memperhatikan perkataannya dengan saksama. “Kau tahu bahwa kemungkinan besar Aaron melakukan operasi plastik untuk mengubah wajahnya, kan? Aku curiga bahwa Aaron menyamar menjadi dokter Oberon.”
Bersambung ke Part berikutnya
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
***
***
__ADS_1