Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 34 : Menjagamu


__ADS_3


"Relationships aren't complicated. I take care of you. You take care of me. End of story."


Begitu keluar dari lift yang membuka tepat di lantai khusus gawat darurat untuk pasien VVIP di rumah sakit tersebut, Nathan langsung mendorong dirinya setengah berlari melewati lorong rumah sakit . Ekspresinya dipenuhi kecemasan dan pikirannya fokus tertuju ke pintu ruang gawat darurat yang terletak di ujung lorong, hingga dia mengabaikan sapaan dari para kolega dan perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.


Dia sedang berada di jalan ketika mendapatkan kabar bahwa mobil yang dikendarai Akram mengalami kecelakaan dan korban dilarikan ke rumah sakit milik Akram sendiri yang kebetulan berada tak jauh dari lokasi kecelakaan. Nathan sendiri langsung memutar balik mobilnya dan bergegas menuju rumah sakit tempat Akram dilarikan setelah kecelakaan.


Nathan mendorong pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat dengan gerakan begitu cepat dan hampir-hampir menabrak pintu itu hingga terbuka. Matanya memindai dengan panik ke seluruh ruang steril yang sangat luas itu hingga akhirnya menemukan sosok yang dicarinya.


Akram Night tengah duduk di ranjang periksa, sementara seorang dokter dan suster sibuk menangani luka di lengan dan dahinya. Nathan mengawasi Akram dari kejauhan, memindai kondisi lelaki itu sebelum melangkah mendekat untuk memeriksa lebih dekat.


Dokter yang menangani Akram langsung memberi salam dengan hormat ke arah Nathan, dan Nathan hanya melambaikan tangan sedikit dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya, sebagai isyarat agar dokter itu melanjutkan pekerjaannya. Mata Nathan tetap tertuju pada keseluruhan diri Akram, lalu kembali melakukan pemindaian luar dengan matanya.


Akram Night telanjang dada, hanya mengenakan celana panjang, sementara kemeja dan jasnya yang kotor dengan noda darah dan sobek di beberapa bagian, diletakkan di salah satu kursi di dekat ranjang periksa. Lelaki itu tampak memar di beberapa sisi, di kepala, di area rusuk sebelah kiri dan juga terdapat beberapa luka gores di wajah dan kedua lengannya. Luka yang paling besar adalah luka sayatan yang memanjang beberapa senti di lengan kirinya dan sekarang sedang dijahit oleh dokter.


Selebihnya, Akram tampak baik-baik saja.


Nathan mengerucutkan bibir sambil menatap Akram dengan pandangan penuh ironi.


"Kurasa aku telah membuang kecemasanku untuk sesuatu yang sia-sia," gerutunya perlahan.


Akram mengangkat alis mendengar ucapan Nathan.


"Apa sebenarnya yang kau harapkan ketika datang kemari, Nathan? Aku yang berbaring sekarat di atas ranjang?" celanya ketus.


Nathan menyeringai, mengangkat bahunya dengan sikap sembrono.


"Yah, kupikir akan ada kesempatan bagiku untuk melihatmu tak berdaya karena sakit, lalu terpaksa tunduk berada di bawah kuasaku untuk beberapa saat. Sayangnya ternyata susah sekali membuat seorang Akram Night tidak berdaya," sahut Nathan dengan nada santai yang hanya ditanggapi dengan ekspresi muram Akram.


Jahitan di lengan Akram telah selesai, Nathan lalu memberi isyarat pada dokter dan perawatnya untuk pergi, dia kemudian melangkah sedikit dekat dengan Akram, suaranya merendah untuk memastikan tidak ada siapapun selain mereka berdua di ruangan ini yang bisa mencuri dengar.


"Ini bukan suatu ketidaksengajaan, kan? Aku tahu bahwa kau tidak mungkin seteledor itu hingga mengalami kecelakaan di jalan raya. Kecuali kau menyetir sambil mabuk."


Akram menyipitkan mata, seolah tersinggung. "Aku tak pernah menyetir sambil mabuk. Truk itu benar-benar mengincar untuk menabrakku, beruntung di detik terakhir aku berhasil membanting kendali mobilku menjauh, sehingga meskipun tabrakan terjadi, kerusakannya tidak terlalu fatal. Para bodyguard juga mengikuti sesuai protokol, hanya berjarak tiga mobil di belakang, jadi proses evakuasi bisa berlangsung cepat dan efisien." desisnya menjelaskan. Ekspresi Akram lalu berubah gelap ketika melanjutkan kalimatnya dengan sesuatu yang sama sekali tak berhubungan dengan kalimatnya sebelumnya. "Nathan, pergilah ke belakangmu sana dan bantu aku."


Nathan tertegun mendengar kalimat terakhir Akram, lelaki itu tampak gelisah, cemas, dan tidak yakin, suatu emosi yang dulu tidak pernah tampak dalam diri Akram.


Akram juga meminta bantuannya dengan gamblang... itu adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya!


"Apa yang kau perlukan dariku?" Nathan mengamati bahwa mata Akram terus menerus terarah ke belakang punggungnya, akhirnya Nathan ikut menoleh dan mengerutkan kening ketika melihat bahwa di belalakangnya terdapat ruang operasi dengan lampu merah menyala di atas pintunya.


Seketika itu juga Nathan menoleh kembali ke arah Akram, ekspresinya tampak tidak percaya.


"Mereka bilang kau kebetulan sedang mengendarai mobil sendiri dan tidak sedang bersama supir...jadi ketika kecelakaan terjadi, kau sedang bersama orang lain?" Nathan mencoba memastikan.


Jika Akram sedang bersama supir dengan mobil dinasnya yang biasa, lelaki itu sama sekali tidak keberatan membawa orang lain ke dalam mobil, biasanya kekasih-kekasih Akramlah yang mendapatkan fasilitas ini. Tetapi berbeda lagi menyangkut mobil pribadinya, Akram tidak menyukai jika ada orang lain masuk ke dalam mobil pribadinya, bahkan Nathan pun belum pernah merasakan menumpang mobil yang dikendarai oleh Akram sendiri.


Lalu siapa yang cukup punya nyali hingga diizinkan naik mobil pribadi Akram?

__ADS_1


Nathan tidak perlu bertanya-tanya terlalu lama karena pikirannya yang tajam lekas menemukan sendiri jawabannya. Ekspresi Nathan berubah syok ketika menemukan jawabannya. "Elana?" tebaknya tepat.


Akram benar-benar tampak muram ketika nama Elana disebut.


"Aku sudah berusaha memeluk dan mencoba melindunginya dengan tubuhku. Tetapi bahkan tubuhku dan fitur keamanan mobil yang canggih tidak bisa melindungi tubuhnya yang rapuh. Dia memar di seluruh tubuh, berdarah di mana-mana dan tangan kanannya patah. Itu yang dikatakan dokter kepadaku. Tidak ada gegar otak atau luka dalam yang fatal, cedera terberat Elana adalah tangan kanannya yang patah," Akram mengedikkan dagunya ke arah ruang operasi. "Dokter bedah terbaik sedang menanganinya di ruang operasi. Aku bukanlah orang dengan latar belakang medis sehingga mereka tidak mengizinkanku masuk. Tetapi, kau seorang dokter, kau pasti bisa masuk ke dalam sana. Jadi masuklah dan lihat keadaan Elana, mereka sudah lama berada di dalam sana dan tak juga keluar. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana, dan aku tidak bisa menilai apakah mereka becus atau tidak menjalankan tugasnya."


Nathan menyadari kekhawatiran Akram dan menahan senyumnya. Sebenarnya menilik sikap Akram, lelaki itu bisa saja memaksa merangsek masuk ke dalam ruang operasi. Tetapi kenyataan bahwa Akram tidak melakukannya, menunjukkan bahwa Akram benar-benar mencemaskan kondisi Elana dan ingin Elana ditangani dengan baik tanpa ada drama yang mengganggu.


"Aku akan melihatnya," Nathan akhirnya memutuskan untuk membantu. Meskipun rasanya menyenangkan melihat Akram didera kecemasan, dia tetaplah seorang dokter. Bagi seorang dokter, menyelamatkan nyawa dan memberikan penanganan terbaik adalah prioritas utama. "Kau istirahatlah dulu, kelihatannya memang kau baik-baik saja dari luar, tetapi sekuat apapun tubuh manusia, setelah mengalami kecelakaan dan benturan semacam itu, tubuhmu tetap memerlukan jeda untuk memulihkan diri."


Setelah mengucapkan kalimatnya, Nathan berbalik melangkah menuju ruang operasi. Dia tampak bercakap-cakap dengan perawat yang berada di depan ruang operasi, lalu masuk ke dalam dengan diantar oleh perawat tersebut.


 



 


Tentu saja Akram tidak bersedia mengambil jeda waktu untuk beristirahat. Setelah Elios datang dan mengantarkan pakaian ganti untuknya - sebuah pakaian yang lebih santai dan bukan berupa jas atau kemeja resmi - Akram segera mengambil pakaian baru yang bersih itu. Dia berganti pakaian sambil menatap ke arah Elios yang berdiri dengan sabar menanti Akram selelesai mengenakan pakaiannya, sementara para bodyguard tampak menunggu di belakangnya.


"Kau sudah mendapatkan supir truk itu?" tanya Akram perlahan, nada suaranya pelan tetapi menyiratkan ancaman.


"Dia ada di ruang basement paling bawah di lantai yang tidak bisa diakses sembarangan di rumah sakit ini. Kami membawanya kemari seperti perintah Anda. Kami juga sudah melakukan proses interograsi awal," Elios menjawab cepat. Supir truk itu tentu saja berusaha melarikan diri setelah berhasil melaksanakan tugasnya menabrak mobil Akram Night, tetapi tentu saja anak buah Akram dengan cepat bisa berhasil meringkus supir truk tersebut dalam operasi senyap dan segera mengamankan supir truk itu agar tidak terlacak oleh pihak berwajib yang juga sedang mengejarnya.


"Apa yang kau dapat?" Akram Night bertanya lagi, mengenakan jaket sebagai pelapis t-shirt gelap yang telah dipakainya.


"Dia masih tidak mau membuka mulutnya, Tuan. Bersikeras bahwa itu adalah kecelakaan tidak disengaja."


"Sudah, Tuan. Supir truk itu sudah bercerai dari istrinya bertahun-tahun lalu, dan dua anaknya dipelihara oleh istrinya di kota kecil ratusan kilometer dari tempat ini. Kami sudah merunut ke belakang dan tidak melihat jejak kedekatannya dengan anak-anaknya. Hubungan mereka sepertinya tidak terlalu baik."


"Jadi tidak akan ada yang menangisinya kalau dia mati," mata Akram berkilat berbahaya, "Bawa aku kepadanya, ketika aku selesai dengannya, dia akan memohon-mohon untuk lebih baik dibunuh saja,"


Dengan cepat Akram membalikkan tubuh, melangkah keluar dari ruangan gawat darurat itu. Ketika sampai di ambang pintu, Akram menghentikan langkah sejenak, dan melirik ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.


Elana masih ditangani di dalam sana, dan Nathan juga belum keluar dari ruang operasi. Untuk saat ini, Akram harus pergi dan meninggalkan Elana di tangan Nathan. Akram berharap dia bisa menyelesaikan proses interograsi dengan cepat sehingga dia bisa lekas kembali ke tempat ini pada saat operasi Elana selesai.


Dia harus menelisik sampai ke dalam hingga menemukan otak di balik kecelakaan ini. Akram memang memiliki banyak musuh, tetapi yang satu ini akan mendapatkan perhatian penuhnya. Bukan hanya karena musuhnya itu telah berani mengusik dirinya, tetapi juga karena mereka telah berani menyebabkan wanitanya terluka. Akram tidak akan berhenti sebelum menghabisi mereka sampai tandas ke akar-akarnya.


Ketika Akram melangkah keluar dari ruang gawat darurat itu, dua orang anak buahnya secara bersamaan tampak keluar dari lift, mereka berlari-lari dengan ekspresi panik bukan kepalang, dan baru berhenti ketika berhadapan dengan Akram, lalu menunduk ketakutan tanpa berani berkata-kata.


"Ada apa?" Akram bertanya cepat, tahu bahwa terjadi sesuatu yang tidak beres dan membuyarkan rencananya.


Salah satu anak buahnya berhasil menetralkan napasnya dan menjawab cepat.


"Tuan, supir truk itu telah menghabisi nyawanya sendiri. Ketika dia tetap tidak mau mengaku, kami mengatakan bahwa Anda sendiri yang akan menginterograsinya. Dan demi mendengar bahwa Anda sendiri yang akan menanganinya, supir truk itu... dia didera ketakutan luar biasa hingga memilih bunuh diri dengn menggigit lidahnya sendiri. Kami berusaha menghentikan pendarahannya, tetapi sudah terlambat, dia tidak terselamatkan..." jelas anak buahnya terbata, dipenuhi ketakutan karena telah gagal melaksanakan tugas.


Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa saksi kunci itu akan mengambil tindakan nekat yang merenggut nyawanya sendiri, dan saat ini, jika Akram Night murka atas ketidakbecusan mereka, maka habislah sudah nyawa mereka.


"Supir truk itu begitu ketakutan kepada Anda sehingga lebih memilih mati daripada diinterograsi oleh Anda sendiri..." Elios menyimpulkan perlahan dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Bukan," Akram menyanggah sambil menggeleng tipis. "Mungkin dia memang takut kepadaku, sebab aku pasti akan berhasil membuatnya membuka mulut dan mengorek informasi darinya. Tetapi, kurasa dia lebih takut pada bossnya, orang yang ada di balik semua ini. Supir truk itu tahu kalau dia membuka mulutnya kepadaku, dia akan menghadapi konsekuensi mengerikan dari bosnya. Mati di tanganku atau mati di tangan bosnya, hasilnya tetap sama, dia akan menghadapi kematian dengan cara menyakitkan. Karena itulah dia mengambil jalan pintas, mati dengan mudah dan cepat, dengan cara menghabisi dirinya sendiri." Akram menyimpulkan dengann cepat. "Kita harus waspada, Elios. Musuh kita kali ini sepertinya cukup kuat dan lihai."


 



 


Rasa dingin melumuri seluruh tubuh Elana, seolah-olah tulangnya dibekukan dari dalam. Elana langsung mengerang, menyuarakan ketidaknyamanannya.


"Dingin..." rintihnya perlahan, masih tak mampu membuka mata karena kelopak matanya terasa begitu berat.


Sebuah tangan yang hangat menangkup dahinya, mengusap pipi Elana dengan lembut.


"Shhhh... kau baru keluar dari ruang operasi dan sedang berada di ruang pemulihan dan observasi. Kalau dalam beberapa waktu ke depan tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan, kau bisa masuk ke kamar perawatan yang lebih nyaman," jemari itu mengusap kedua pipi Elana sementara tubuh Elana masih menggigil, "Tubuhmu menggigil kedinginan karena efek bius setelah operasi. Aku akan menambahkan selimutmu. Tidurlah lagi, aku berjanji bahwa kau akan baik-baik saja."


Sesuatu yang berat terasa ditumpukkan ke tubuhnya. Berat, lembut dan hangat, sebuah selimut tebal yang terasa nyaman. Elana merasakan hawa dingin ditubuhnya mulai terusir dan gigilannya mereda sementara matanya masih terpejam rapat.


Apa yang terjadi pada dirinya? Di mana dia? Siapa yang dioperasi?


Pertanyaan-pertanyaan itu terlintas bergantian secara samar di otaknya yang berkabut, tapi rasa kantuk yang dalam akibat pengaruh obat tidur yang masih tersisa di pembuluh nadinya mengambil alih semuanya, memaksa Elana kembali tenggelam dalam pelukan alam mimpi yang gelap dan dalam.


 



 


Ketika Elana membuka mata, yang tampak di sekelilingnya hanyalah nuansa remang dari lampu tidur mungil di samping ranjang yang menjadi sumber cahaya satu-satunya di dalam ruangan ini.


Seluruh tubuh Elana terasa kaku dan dia merasa haus, meskipun begitu, Elana tetap memandang ke sekeliling ruangan dengan waspada, merasa bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Kesadarannya belum pulih benar dan ingatannya masih berkabut. Elana bahkan merasa pikirannya kosong, seolah mengambang di antara awan hitam yang melingkupi dan hendak memaksanya kehilangan kesadaran lagi


Sekuat tenaga Elana menahan diri supaya tidak terjatuh kembali dalam kantuk yang lelap. Dia berusaha menggerakkan tubuh untuk bangun, tapi tubuhnya menolak bekerjasama, terasa berat ketika digerakkan.


Elana melebarkan mata, menatap ke bawah tubuhnya dan terbelalak ketika menemukan bahwa tangannya di gips dengan tebal. Sebelah tangannya yang lain juga tersambung dengan selang ke kantong infus yang menetes-netes di tiang khusus yang terletak di samping ranjang.


Dia berada di rumah sakit lagi?


Elana berusaha menggali ingatannya berusaha mencari tahu kenapa dia berakhir di rumah sakit lagi, lalu kelebatan sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi mendatangkan kengerian yang mendesak jiwa Elana dan membuat jantungnya berdetak kencang


Elana memejamkan mata, berusaha menetralkan napasnya yang tersengal. Ketika Elana membuka matanya kembali, tatapannya malah terpaku pada sosok yang baru dia sadari keberadaannya di dalam kamar ini.


Sosok itu mengenakan pakaian hitam-hitam, dengan rambut acak-acakan dan tidak tersisir rapi seperti biasanya, membuatnya tampak lebih muda dari penampilannya yang biasa. Matanya terpejam rapat, menunjukkan bahwa lelaki itu tengah tertidur lelap dalam duduknya di sebuah kursi sofa tunggal yang tampaknya telah ditarik hingga mendekati ranjang. Tubuhnya yang tinggi tampak tidak nyaman duduk di sofa sempit itu sehingga membuat kakinya yang panjang harus diluruskan ke depan dan bersilangan satu sama lain.


Akram Night? Kenapa lelaki itu ada di sini?


 

__ADS_1




__ADS_2