Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 78 : Terlambat


__ADS_3


Keheningan yang membentang di kamar itu ternodai oleh desah napas dua anak manusia yang saling berkejaran. Apa yang tadi menggelora, usailah sudah. Berganti dengan kepuasan luar biasa yang memberikan pemenuhan terhadap raga sekaligus mengalirkan kepuasan bagi jiwa.


Akram sendiri masih dipenuhi oleh sisa-sisa kenikmatan yang membanjiri dirinya, dia memejamkan mata sambil membiarkan tubuh perempuan itu lunglai bersandar kepadanya. Ketika napasnya sudah mulai teratur, bibirnya bergerak mencium leher Elana yang masih terduduk di atas pangkuannya.


Indra penciumannya tengah bergembira, menghirup aroma menyenangkan yang menguar dari lekukan lembut di permukaan kulit leher Elana yang hangat. Dirasakannya tubuh Elana melemah, seiring dengan napas tersengalnya yang melambat dan semakin lama semakin teratur.


Percintaan mereka kali ini sungguh berbeda dengan yang sudah-sudah. Jika sebelumnya Akramlah yang aktif dan memaksa perempuan itu menerima segala perlakuannya, sekarang dia bisa menikmati bagaimana Elana belajar untuk memuaskannya sekaligus mengejar kepuasannya sendiri.


Rasanya sungguh luar biasa. Kepuasannya sungguh tak terperikan.


Ketika bercinta dilakukan oleh dua orang anak manusia yang bersedia, saling memberi dan saling menerima, kenikmatannya begitu melambung sampai di titik dimana Akram tak pernah merasakannya sebelumnya.


Oh, dirinya memang sudah berpengalaman dengan perempuan-perempuan cantik yang menyediakan tubuh untuknya dan lebih dari bersedia untuk melayaninya. Tetapi, ketika mendapatkan perempuan yang mudah didapat seperti itu, hasratnya tidak sekuat ketika dia menginginkan Elana.


Dengan Elana semua terasa berbeda, setiap sentuhannya, setiap gerakannya yang dilakukan dengan sukarela, semua itu mampu membuat tubuh Akram merespon dengan luar biasa, memuaskannya sepenuhnya.


Ketika bibir Elana menggumamkan desahan rileks tanpa sengaja seolah hampir terlelap, Akram secara refleks ingin memberikan ketenangan pada perempuan itu. Tangannya bergerak untuk mengelus punggung telanjang Elana yang lembab, sedikit memijitnya perlahan, berhati-hati supaya tidak menyakiti.


Semakin lama, tubuh Elana semakin lemah, seolah-olah tulang-tulangnya telah dilolosi dari tempatnya berpadu, napasnya juga semakin teratur menandakan bahwa perempaun itu hampir saja jatuh dalam kantuk yang membuaikan.


Sekali lagi Akram menghadiahkan kecupan singkat di permukaan kulit Elana, menahan gairahnya yang memercik bara nafsunya dan hendak bangkit kembali, lalu memaksakan diri untuk melepaskan tubuh Elana darinya, sebelum kemudian dengan lembut menghela perempuan itu supaya turun dari pangkuannya dan membaringkannya di atas ranjang.


Seketika Elana langsung bergerak membelakangi, bergelung meringkuk, sudah tak tahan lagi melawan kantuk yang melanda. Akram memandang Elana dan senyum tipis muncul di bibirnya tanpa bisa ditahan, lalu dia bergerak mengikuti, berbaring di belakang Elana.


Seolah kedekatan mereka masih belum cukup, Akram menarik punggung Elana supaya menempel ke tubuhnya. Lengannya yang dibebat dekat dengan dadanya yang tertembak menyusup dengan hati-hati ke bawah lengan perempuan itu dan memeluknya erat.


Akram masih berhasrat, pelukan saja tak cukup. Dia ingin menyatu dengan perempuannya, menunjukkan kepemilikannya, menandai Elana sampai di titik di mana perempuan itu tak akan bisa menghapuskan jejak dirinya di dalam tubuhnya. Tetapi, dia tahu bahwa Elana sudah begitu kelelahan dan butuh beristirahat, begitupun dengan dirinya.


Masih ada waktu, mereka bisa bercinta lagi sepuasnya nanti setelah tenaga mereka terpulihkan.


Perlahan Akram mencoba memejamkan mata, ingin ikut tertidur bersama perempuan itu. Seluruh indranya menyadari keberadaan Elana, aromanya yang menyenangkan, hembusan napasnya yang naik turun diiringi seuara dengkuran halus yang manis, juga kelembutan tubuhnya yang terasa begitu pas menempel di kulitnya, terasa hangat dan menanangkan.


Elana sudah berada dalam pelukannya lagi, tetapi perempuan itu belum sepenuhnya menjadi miliknya.


Meskipun begitu, Akram akan menggunakan segala cara supaya Elana tidak ingin lagi pergi dari dirinya.Tidak akan mungkin dia melepaskan Elana dari sisinya setelah apa yang telah perempuan itu perbuat kepada hati dan jiwanya.


***



***


Ketika Akram terbangun, seluruh tubuhnya langsung menegang dipenuhi keterkejutan yang amat sangat ketika dirinya tidak menemukan Elana di sebelahnya. Sisi ranjang tempat Elana tertidur masih menyisakan bekas kusut setelah ditiduri, tetapi perempuan itu tak ada di sana.


Jantung Akram langsung berdebar oleh kecemasan. Dia bergegas beranjak dari ranjang, melirik ke arah pintu kamar mandi dan memastikan bahwa Elana juga tak sedang membersihkan diri di dalam.


Berusaha mengusir pikiran buruk dari kepalanya, Akram memungut pakaiannya yang berserakan dan memakainya sebelum kemudian melangkah cepat keluar kamar, tak sabar ingin menemukan kepastian tentang keberadaan Elana.


Aroma harum langsung menyapa indra penciumannya ketika dia menutup pintu kamar di belakangnya dan hendak beranjak menuruni tangga. Keningnya berkerut ketika kakinya menjejak karpet yang melapisi permukaan lantai satu apartemennya. Dia langsung mengarahkan langkahnya menuju dapur, tempat sumber aroma harum itu berada.


Mata Akram melebar ketika dia menyandarkan panggulnya dengan santai di meja pantry dapur dan menatap ke arah Elana yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kompor.


Kelegaan langsung membanjiri dirinya ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Elana baik-baik saja. Rasa senang yang nyata ketika mengawasi tubuh mungil itu meluap dari jiwanya. Entah kenapa rasanya senang sekali ketika dia menemukan perempuan ini tada di rumahnya, memasak di dapurnya.


Elana langsung menyadari kehadiran Akram segera setelah lelaki itu melangkah ke area dapur, diamenolehkan kepala dengan sikap canggung, pipinya sedikit memerah ketika matanya melirik hati-hati ke arah Akram.


“Aku lapar, jadi aku memutuskan membuat makan malam,” ujarnya singkat, lalu menoleh kembali untuk memfokuskan diri pada makanan yang sedang dimasaknya. “Ini hanyalah omelet telur sederhana. Kalau kau tidak suka menu ini, kau bisa memesan makanan untukmu sendiri dari restoran langgananmu,”


Akram menyeringai, sengaja mendekati perempuan itu untuk mengganggunya. Dia berdiri dekat di belakang Elana hingga menempel erat, lalu memeluk perempuan itu dari belakang dan menghadiahkan kecupan di permukaan kulit bahunya yang sedikit terbuka.

__ADS_1


“Aku terlalu malas untuk memesan apapun dari luar, karena itulah aku bersedia merendahkan seleraku dan memakan masakanmu,” godanya dengan sengaja.


Akram bisa membayangkan bagaimana Elana sedang memberengutkan bibirnya saat ini mendengar kalimat angkuh yang diucapkannya. Dugaannya memang benar-benar terjadi, Elana merengut dan dengan gerakan jengkel perempuan itu menggunakan lengannya untuk menyikut tubuh Akram di belakangnya, berusaha mengusirnya.


“Jangan… jangan menggangguku! Aku sedang memasak,” usirnya dengan nada ketus.


Sayangnya, tanggapan Akram sama sekali tak seperti dugaan Elana. Bukannya menjauh, lelaki itu malahan mengaduh seolah kesakitan. Membuat Elana langsung meletakkan spatula di tangannya dan membalikkan tubuh dengan kecemasan luar biasa.


Dia dipenuhi kekhawatiran hingga langsung lupa akan rasa canggung dan malu yang dia rasakan ketika harus menghadapi Akram lagi setelah percintaan mereka sebelumnya… setelah untuk pertama kalinya... Elana meminta bercinta dengan Akram....


Tangannya mendarat di dada Akram, matanya membelalak lebar dipenuhi rasa bersalah.


“Aku… aku mengenai dadamu? Ma… maafkan aku!” seru Elana cepat, mulai merasa kebingungan.


Akram malah terkekeh mendengar pertanyaannya. Entah kenapa saat ini, ekspresi gelap yang biasanya menghiasi wajah itu tersingkirkan dan berganti dengan senyuman yang terulas seolah tak mau lepas.


“Bagaimana bisa kau mengenai dadaku?” jemarinya bergerak menjumput rambut Elana dan menciumnya. “Dengan tinggi badanmu yang kurang itu, sikumu hanya bisa menjangkau di pinggangku, meleset sedikit dari posisi yang kuinginkan. Seandainya saja kau mau lebih menurunkan lenganmu ke bawah lalu menyentuh dengan lembut dan bukannya menyikut, maka aku akan sangat menyukai…”


“Akram!” Elana menyela, kali ini pipinya merah padam. Percuma ternyata mencemaskan Akram, lelaki itu hanya ingin menggodanya. “Kalau kau ingin makanan ini layak dimakan, jangan menggangguku. Pergilah menjauh,”


Suara pengusiran Elana yang gemetar sedikit malu tetapi diselipi kemarahan itu bukannya membuat Akram marah, malah membuatnya terkekeh. Sudah lama sekali dirinya tidak mudah tertawa seperti saat ini. Elana sungguh telah memberikan warna baru di hatinya yang dulunya hanya terdiri dari satu warna kegelapan yang begitu kelam.


Melihat betapa canggungnya Elana, Akram memutuskan tidak akan mendesak perempuan itu lebih jauh. Hari ini saja, ketika Elana dengan sukarela bercinta dengannya, sebenarnya sudah merupakan kemajuan yang sangat luar biasa bagi hubungan mereka berdua. Akram tidak ingin membuat Elana mundur lagi karena dia terlalu memaksa. Perempuan itu seperti kucing kecil yang tersesat, mencakar ketika didesak karena ingin melindungi diri, tetapi mendekat malu-malu serta menginginkan elusan ketika dia sudah mulai menaruh kepercayaan.


“Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Panggil aku jika makanan sudah siap,” Akram menghadiahkan kecupan lembut di dahi Elana, lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dengan langkah ringan.


***



***


Saat ini, dia harus menjaga supaya perpindahan kepemilikan perusahaan senjatanya yang diakuisisi oleh Dimitri dengan cara licik, tidak sampai mempengaruhi Night Corporation secara keseluruhan.


Menjadi pemilik perusahaan bukan berarti Akram bisa bebas berbuat semaunya dan tidak mempedulikan orang-orang lain di perusahaannya. Ada media yang harus dibungkam supaya tidak menyebarkan isu negatif menyangkut akuisisi yang akan menghebohkan pasar dan menurunkan nilai saham perusahaan mereka, ada para pemegang saham dan komisaris perusahaan yang harus dibeli penjelasan karena terlepasnya satu perusahaan besar tentu akan membawa kekhawatiran tersendiri. Belum lagi, seluruh karyawannya yang memerlukan penjelasan supaya bisa satu suara dan mampu diarahkan supaya bergerak bersama untuk mengatasi pergolakan yang akan muncul karena perubahan yang terjadi secara mendadak.


Setelah semuanya selesai didiskusikan dengan Elios, Akram mulai meninggalkan urusan perusahaanya dan melangkah ke ranah pribadi.


“Apakah kau menemukan dimana Michaela?” suara Akram yang tadinya formal berwibawa berubah menjadi dingin dan mengerikan.


Tentu saja Akram tidak akan melupakan perbuatan Michaela yang sengaja mendatangkan Tedy, kakak angkatnya yang sedikit kurang pikiran, untuk memperkosa Elana. Akram tidak akan melepaskan Michaela begitu saja. Dia akan membuat perempuan itu menderita luar biasa untuk membalaskan apa yang telah dilakukannya pada Elana.


Keheningan terdengar dari seberang sana, seolah-olah Elios sedang berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan atasannya itu. Setelah berdehem sejenak, Elios akhirnya berhasil mengeluarkan suara.


“Tuan Xavier membawa Michaela ke rumahnya,” jawab Elios dengan nada berhati-hati.


“Xavier membawa Michaela ke rumahnya?” mata Akram melebar. “Untuk apa? Apakah dia hendak membuat Michaela menjadi sekutunya dan melawanku bersama-sama?” duganya seketika, dibanjiri pikiran negatif dalam benaknya.


“Saya rasa… bukan seperti itu, Tuan Akram.” Elios menyahut perlahan dan berdehem lagi seolah gugup. “Saya rasa…. Tuan Xavier telah menghabisi Michaela, dengan cara yang kejam seperti yang biasa dilakukannya.”


“Apa?” Akram langsung berseru tak percaya. Keningnya berkerut ketika otaknya berusaha keras memikirkan apa alasan yang berada di balik tindakan Xavier itu.


“Saya menempatkan pengawas untuk mengintai rumah Tuan Xavier. Dan hari ini, dia mendatangkan petugas pembersihnya yang biasa ke rumah. Mereka keluar dengan membawa kantong ‘sampah’. Hal yang selalu terjadi setelah Xavier membunuh korban-korbannya. Dan juga, Michaela sudah tak terlacak lagi jejaknya di rumah itu.”


Sebagai seorang psikopat berjiwa keji, Akram tahu bahwa Xavier memiliki pasukan petugas khusus yang sangat ahli yang mampu membersihkan seluruh jejak tempat kejadian perkara sekecil apapun. Mereka semua bertugas menghapuskan jejak kekejiannya tanpa bisa dilacak lagi. Bahkan, setetes darah ataupun sehelai rambut tak akan mungkin bisa ditemukan jika rumah itu diperiksa oleh forensik yang paling ahli sekalipun. Karena itulah, meskipun para penegak hukum sudah mengincarnya tanpa ampun, Xavier selalu berhasil lolos dari segala tuduhan karena mereka semua tidak memiliki setitik pun bukti untuk menangkapnya.


Sikap Xavier sungguh aneh, bukan hanya kesediaannya untuk mengorbankan perusahaannya demi menyelamatkan Elana, tetapi entah kenapa Akram merasa Xavier yang selama ini selalu memosisikan diri sebagai musuhnya, telah berpindah jalur menjadi berada di pihaknya.


Tetapi mungkinkah itu? Mereka sudah bermusuhan begitu lama sehingga kebencian di jiwa Akram sudah mengakar kuat. Tidak mungkin sesuatu yang telah tertaman begitu lama bisa dicabut dengan mudahnya, bukan? Hanya karena kehadiran seorang Elana di dalam hidup Xavier? Benarkah Elana memberikan efek yang begitu besarnya sehingga membuat Xavier berubah drastis?


“Xavier meminta saham di perusahaanku, apakah kau sudah mengurusnya?” tanya Akram tiba-tiba, seketika dia teringat akan persyaratan tambahan yang diberikan oleh Xavier sebelum mereka berangkat untuk menjemput Elana dari tangan Dimitri.

__ADS_1


“Sudah, Tuan Akram. Seluruh proses pelegalan telah diselesaikan. Tuan Xavier telah resmi menjadi salah satu pemegang saham utama perusahan Anda.” Elios menjawab cepat untuk memastikan.


“Aku masih belum tahu apa yang sedang direncanakannya dengan meminta saham perusahaanku. Tetapi aku ingin kau tetap mengawasi Xavier karena….”


Getaran di ponselnya membuat Akram mengerutkan kening. Dia menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat siapa yang menyela pembicaraannya dengan Elios. Keningnya  berkerut ketika melihat nama Nathan tertulis di sana.


“Lakukan semua yang kuinstruksikan tadi, aku akan menghubungimu lagi nanti,” Akram segera memutuskan sambungan teleponnya dengan Elios dan langsung mengangkat panggilan telepon dari Nathan.


Nathan sangat jarang meneleponnya. Jika lelaki itu melakukannya, berarti ada sesuatu yang penting, entah itu berhubungan dengan kesehatannya, atau malahan berhubungan dengan kesehatan Elana.


“Ada apa Nathan?” tanya Akram dengan nada menuntut, tak sabar untuk segera tahu.


“Akram, ini menyangkut Elana. Kau tentu tahu bahwa Elana masih harus menerima serum yang ketiga untuk menetralisir racun di tubuhnya, bukan?” Nathan langsung memberondong dengan pertanyaan, seolah-olah dia baru teringat sesuatu yang sangat penting dan berusaha mengejar waktu, ingin mencegah kerusakan terjadi akibat keteledoran yang tak disengaja.


Kening Akram berkerut. “Tentu saja aku tahu, Ada apa?” sahutnya bingung.


“Ini sudah tiga bulan berlalu sejak terakhir kali aku menyuntik Elana dengan kontrasepsi. Seharusnya dia menerima suntikan itu kemarin. Tetapi, kita semua disibukkan dengan segala urusan racun dan penawar, belum lagi penembakan, penculikan dan usaha menyelamatkan Elana. Serta, aku juga belum sempat mempelajari efek dari  hormon kontrasepsi, racun dan juga serum itu jika mereka bercampur di dalam darah Elana. Aku membutuhkan waktu untuk memetakan resikonya dan itu membutuhkan waktu beberapa hari,” suara Nathan berubah menjadi sedikit rendah seolah menyesal. “Aku berjanji akan menyelesaikan penelitian dan memastikan hasilnya dengan cepat. Tetapi, selama periode waktu itu, jika memang kau tidak menginginkan Elana mengandung anakmu tanpa rencana, bisakah kau tidak bercinta dulu dengan Elana? Sebab, ketika efek kontrasepsi itu habis di tubuh Elana, dia akan menjadi sangat subur. Itu semua karena tubuhnya yang sekarang tidak dibatasi oleh kontrasepsi sedang berusaha mengembalikan hormon-hormonnya yang sempat ditekan, hal itu... membuat Elana sangat mudah untuk dihamili. Kau bisa melakukannya, kan, Akram?"


Ketika keheningan membentang di percakapan saluran telepon itu dan Akram seolah membeku tidak menjawab apapun, Nathan memanggil kembali, kali ini suaranya sedikit cemas.


“Akram? Kau masih ada di sana? Pemberitahuan dariku masih belum terlambat, bukan? Kau tidak mungkin bercinta dengan Elana dalam kondisi sakitnya seperti itu dan dalam kondisi sakitmu yang juga seperti itu, bukan?”


***



***


CATATAN AUTHOR


✍️✍️✍️✍️✍️✍️


Hai


Utuk episode 78 di-up author pada hari kamis 3 oktober 2019 kalau sudah bisa kalian baca sekarang, berarti sudah lolos review.


untuk episode 79 akan di-up author pada hari jumat malam tanggal 4 oktober 2019


untuk episode 80 akan di-up author pada hari sabtu malam tanggal 5 oktober 2019


untuk episode 81 akan di-up author pada hari minggu malam tanggal 6 oktober 2019


Setelah author melakukan up episode terbaru, naskah masih harus melalui proses review oleh pihak admin mangatoon. Episode 79,80,81 mungkin baru akan keluar pada hari sabtu malam/ minggu. Atau, jika sabtu dan minggu admin editor mangatoon libur, maka baru akan keluar hari senin/ selasa.


Doakan semoga proses reviewnya lancar dan cepat ya. Terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada author.


Thank You - by Ay


🙏🙏🙏🙏🙏🙏


***





***


__ADS_1


__ADS_2