
Aku senang melihat selera makanmu membaik," dokter Nathan yang selesai memeriksa Elana tersenyum sambil melirik piring-piring kosong bekas makan Elana. "Tekanan darah baik, semuanya baik, dan kuharap kau akan menjadi ibu hamil yang sehat," sambungnya tulus.
Akram telah memberitahunya bahwa Elana sudah tahu mengenai kehamilannya. Karena itulah Nathan tak mau repot-repot lagi berusaha menutupi kondisi kehamilan Elana. Perempuan yang tahu bahwa dirinya sedang hamil juga akan lebih menguntungkan bagi kesehatan perempuan itu sendiri. Karena, sudah pasti Elana akan sangat berhati-hati menjaga dirinya nanti karena sekarang sudah ada bayi di dalam kandungannya.
"Apakah dokter sudah benar-benar memastikan kehamilan ini?" Elana bertanya dengan kening berkerut. Jika menurut keterangan Akram dan dihitung dari dugaan pembuahan, memang usia kandungannya pastilah masih sangat muda. Akram sendiri kemarin tak menjelaskan bagaimana kehamilan Elana akhirnya dipastikan secara medis.
"Aku melakukan tes darah, dan hasilnya akurat," dokter Nathan mengawasi Elana dan dengan tepat bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di benak Elana. Kalimat berikutnya yang dia ucapkan pun terdengar penuh perhatian. "Kau sendiri Elana...bagaimana perasaanmu setelah menerima kabar kehamilan ini? Apakah kau tidak apa-apa?"
Elana menunduk mendengar pertanyaan itu, tangannya lalu bergerak mengusap perutnya dan seberkas senyum terurai di bibirnya.
Anak ini mungkin tercipta tanpa rencana, tetapi Elana akan memastikan bahwa anak ini tidak akan kekurangan cinta, bahkan di detik pertama dia mulai berkembang di dalam perutnya saat ini.
"Aku... senang," Elana menjawab singkat. Tetapi, rona bahagia di wajahnya sudah menunjukkan semuanya
Dan hal itu menular, membuat dokter Nathan juga ikut mengurai senyum.
"Kandunganmu memang masih terlalu muda, tapi kita masih bisa mengintipnya melalui USG jika kau mau, setidaknya kita bisa mengintip kantong kehamilan yang pasti mulai terbentuk. Kau ingin melakukannya?" tanyanya menawarkan dengan nada berbaik hati.
Mata Elana melebar, dipenuhi ketakjuban.
"Benarkah... benarkah kita bisa melakukannya? Aku mau... aku mau kalau kita bisa melakukannya," jawabnya dengan nada bersemangat.
Nathan terkekeh. "Tentu saja kau bisa melakukannya. Aku akan mengatur janji temu dengan dokter kandungan untukmu. Tentu saja konsultasinya masih di bawah supervisiku," dokter Nathan mengangkat bahunya. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Makan yang banyak, menu makanan rumah sakit ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizimu, jadi kuharap kau menghabiskannya. Minum vitaminmu dan jaga kondisimu, jangan sampai terforsir." pesannya sebelum membalikkan tubuh hendak meninggalkan ruangan.
Elana menganggukkan kepala. "Baik, terima kasih dokter," jawabnya singkat.
Ketika sampai di pintu, Nathan menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya.
"Oh ya, mengenai pemeriksaan USG pertama ini, kau ingin melakukannya sekarang, sendirian, atau **menunggu nanti sehingga Akram bisa ikut serta?" tanyanya ingin tahu.
Tak ada keraguan di ekspresi Elana ketika perempuan itu akhirnya menjawab.
"Aku... kurasa lebih baik kalau USG nya dilakukan setelah Akram di sini," sahutnya cepat.
Jawaban itu membuat Nathan tersenyum dan seberkas kelegaan tersirat di matanya ketika dia menganggukkan kepala tanpa mengatakan apapun lagi dan melangkah pergi meninggalkan ruangan perawatan Elana.
Ketika lelaki itu berjalan di lorong, senyumnya terkembang tak mau lepas.
Akram. Sahabatnya itu, sepertinya akan segera menemukan happy endingnya yang utuh dan membahagiakan. Sebab, apa lagi yang bisa membahagiakan seorang laki-laki pada akhirnya, selain kesempatan untuk bisa memiliki keluarga kecilnya sendiri?
***
***
Sosok Akramlah yang keluar dari lift itu, sendirian.
Mata Maya melebar ketika melihat lelaki yang sudah ditunggu-tunggunya itu ternyata datang sesuai dengan keinginannya. Sungguh memang dewi fortuna sedang berpihak kepadanya, memberinya kesempatan untuk menyadarkan Akram sedini mungkin.
Tapi sayangnya, kegembiraan Maya memudar ketika melihat ada sosok Elios yang muncul dari belakang Akram, ikut keluar dari lift juga. Elios memang sepertinya selalu menempel Akram kemanapun lelaki itu pergi, memupuskan harapan Maya untuk mendapatkan saat pribadi berdua saja dengan
"Jemput Nolan setetelah jam sekolahnya," sudut mata Akram tentu saja menyadari kehadiran Maya di sana. Tetapi, Akram memilih bersikap biasa dan memusatkan perhatiannya pada Elios untuk memberi instruksi. "Katakan pada Nolan, dia boleh memilih membeli buah tangan apapun untuk dibawa menjenguk Elana," sambungnya lagi.
Elios mengangukkan kepala, menerima instruksi itu dengan patuh.
Sementara itu, Maya yang sengaja menajamkan pendengarannya untuk mencuri dengar pembicaraan mereka langsung mengerutkan keningnya dalam.
Siapa Nolan itu? Dan mereka membicarakan tentang menjenguk Elana? Jadi jalang itu memang benar-benar sakit dan akan menghabiskan waktu lama dirawat di rumah sakit?
Padahal kalau dilihat dari rona wajahnya kemarin, Elana tampaknya baik-baik saja, bahkan dokternya kemarin juga bilang kalau Elana tidak menderita penyakit berat apapun. Sungguh sialan jalang itu, mendapatkan fasilitas mewah hanya karena berpura-pura sakit!
Setelah memberikan instruksi kepada Elios dan membiarkan Elios duduk di belakang mejanya untuk menjalankan tugas, Akram melangkah kembali ke arah pintu ruang kerjanya. Langkahnya sedikit melambat ketika berhadapan dengan Maya yang sepertinya sengaja berdiri di jalannya untuk menghalanginya.
"Selamat pagi, Akram," Maya langsung menyapa cepat ketika menyadari bahwa Akram hendak melangkah melewatinya.
Akram menghentikan langkah, lalu mengangkat alis.
"Selamat pagi. Kau datang pagi sekali, di mana Credence?"
__ADS_1
Meskipun Akram menjawap sapaan Maya, tetapi mata Akram terlihat tajam, mengawasi Maya seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Dan itu membuat Maya semakin gugup tak terkira. Tetapi tekadnya tetap kuat untuk menunjukkan kepada Akram mana yang benar dan mana yang salah. Serta, bayangan bahwa Akram akan berterima kasih padanya nanti, membuatnya bersemangat mengalahkan ketakutan dan menjelaskan semuanya kepada Akram.
"Credence masih belum datang," Maya melirik jam tangannya. Hari memang masih pagi dan Maya sengaja datang pagi karena dia mengamati bahwa Akram sering tiba ke kantornya pagi-pagi sekali sebelum kemudian keluar lagi untuk berbagai urusan bisnis yang dilakukannya.
Jika beruntung, Akram bisa saja tinggal di ruang kerjanya sepanjang hari, tetapi Maya tak mau mengambil resiko, karena itulah dia mengambil kesempatan datang di pagi hari dan beruntung karena sesuai dugaan, Akram benar-benar ada.
"Aku sengaja datang pagi untuk membicarakan sesuatu denganmu," Maya menengadah, menatap Akram dengan penuh harap. Sudut matanya melirik ke arah Elios yang tampak sibuk di belakang meja kerjanya. Elios memang tampak sibuk bekerja, tetapi pada jarak seperti ini, jika Elios menajamkan telinganya, sudah pasti dia bisa mendengar apa yang hendak dikatakan oleh Maya. Itu tak boleh terjadi, bagaimanapun, yang ingin dibicarakan oleh Maya adalah perihal perselingkuhan Elana dengan Elios.
Karena itulah Maya menatap Akram menggunakan mata lebar indahnya yang penuh permohonan.
"Akram, bisakah kita berbicara di dalam ruang kerjamu?" rayunya dengan suara lembut penuh permohonan.
Akram mengerutkan kening. "Kau ingin membicarakan masalah pekerjaan atau pribadi?" tanyanya.
Sebenarnya, tanpa bertanya pun, Akram sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan oleh Maya. Xavier memang sangat pandai memprediksi perilaku manusia, sama seperti ketika dia begitu pandai memprediksi permainan saham yang membuatnya kaya raya. Dan Maya datang tepat persis sama seperti yang diperingatkan oleh Xavier melalui telepon dini hari tadi.
Maya mengigit bibirnya yang berlipstick merah merona dengan gugup. "Ini... masalah pribadi," jawabnya perlahan, setengah berbisik.
Punggung Akram menegak dan sosoknya bertambah penuh kharisma kuat yang membuat siapapun tak akan berani mengambil resiko untuk membantahnya.
"Nona Maya," Akram mengucapkan kalimatnya lambat-lambat. "Kau tentu tahu aku tidak membuka pintu ruanganku bagi semua orang. Untuk membicarakan masalah bisnis, hanya masalah yang menyangkut kerahasiaan tingkat tinggi yang dibicarakan di dalam sana. Sedangkan untuk pembahasan masalah pribadi...," Akram menghentikan kalimatnya dan mengawasi Maya seolah menilai perempuan itu secara terang-terangan. ".... hanya orang-orang tertentu yang boleh melakukannya. Dan kau sudah tentu tak masuk di dalamnya."
Kalimat Akram begitu tegas, langsung menohok ke dalam jiwa Maya hingga membuatnya tertegun sejenak. Tetapi, Maya tak akan bisa berada di posisinya saat ini jika dia mudah menyerah hanya dengan satu gertakan saja. Dengan cepat dia melangkah lebih dekat lagi ke arah Akram, menyeberangi jarak di antara mereka, lalu berbisik lirih.
"Ini memang masalah pribadi. Dan ini menyangkat skandal yang kurasa kau tak ingin kalau sampai ini didengar oleh...." Maya sengaja melirik ke arah Elios dengan terang-terangan supaya Akram memahami maksudnya. "...orang lain," sambungnya kemudian penuh arti.
Sayangnya, Akram ternyata tak sependapat dengannya. Lelaki itu menyeringai, menatap Maya dengan arogan.
"Elios bukanlah orang lain untukku. Bahkan bisa dibilang dia mengetahui segala sesuatu tentang diriku," mata Akram menyipit dan menyiratkan peringatan berbahaya kepada Maya. "Bahkan sampai ke rahasia tergelapku pun, Elios mengetahuinya. Jadi, silahkan, katakan apa yang ingin kau katakan di sini dengan sebebas-bebasnya," ucap Akram seolah menantang.
Ingin rasanya Maya menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal karena keinginannya tak bisa tercapai dengan mudah. Tetapi tentu dia tak bisa melakukannya demi menjaga citra wanita elegan di depan mata Akram. Perlahan dia menghela napas panjang untuk menenangkan diri sehingga bisa menampilkan wajah cantiknya yang lembut dan pengertian untuk semakin meyakinkan Akram.
"Aku... sudah mendengar mengenai hubunganmu dengan Elana... dari Credence," ucapnya memulai. Maya tahu dia harus segera menyampaikan ke pokok permasalahan karena bisa saja Credence atau Xavier datang sebentar lagi dan membuatnya terhalang lagi untuk menyampaikan kebenaran kepada Akram.
Akram mengangkat alis. "Jadi, apakah kau hendak mengucapkan selamat?" tanya Akram cepat.
Akram bersedekap, menatap Maya dengan santai.
"Untuk pernikahan kami. Kami akan menikah minggu depan," jawabnya, membocorkan rencana mereka dengan sengaja.
"Itu tidak boleh terjadi!" Maya tiba-tiba berteriak keras. Keterkejutan dan syok yang membanjiri dirinya membuatnya tanpa sadar meluapkan perasaannya dengan menaikkan nada suaranya. Napasnya terengah ketika emosi mulai menguasai jiwanya.
Akram akan menikahi Elana? Sosok Akram Night yang sempurna di matanya ini... sosok luar biasa yang dipujanya, sosok yang menjadi sumber motivasinya untuk berjuang menjadi wanita sempurna di segala bidang supaya dia bisa sepadan dengan Akram... sosok sempurna inu akan menikah dengan wanita rendahan semacam Elana?
Itu tak boleh terjadi! Jika Akram menikah, itu harus dengan wanita kelas atas dari keluarga berpengaruh dan dengan kecerdasan tingkat tinggi seperti dirinya!
"Kau sepertinya keberatan dengan rencana pernikahan kami?" Akram bertanya tenang setelah memberi jeda lama bagi Maya untuk berkutat dengan pikirannya sendiri yang bergolak.
Maya menatap Akram dengan panik, bibirnya bahkan sampai gemetar ketika dia mulai berbicara.
"Akram, kau tak boleh melakukannya... kau tidak boleh menikahi Elana, atau kau akan melakukan kesalahan terbesar sepanjang hidupmu yang akan kau sesali kemudian!" Maya bergerak maju kembali, semakin dekat ke arah Akram, "Elana adalah perempuan rendahan yang menjual dirinya ke semua laki-laki yang dianggap menguntungkannya. Kau mungkin tertipu dengan citra kepolosan yang ditampilkannya, tetapi sesungguhnya, dibaliknya adalah perempuan jalang rendahan yang licik. Dia menggunakan tubuhnya untuk merayu Xavier supaya mengangkatnya sebagai asistennya! Lalu dia menjual tubuhnya ke Elios sebagai ganti supaya dia mendapatkan kesempatan untuk mendekatimu! Kau adalah goal terakhirnya! Kau yang berada di posisi puncak adalah tujuannya sebagai mangsanya yang utama!" napas Maya terengah ketika dia terus menyerocos, memuntahkan segala yang ada di pikirannya dengan penuh semangat hingga lupa bernapas.
Mata Maya melirik ke arah wajah Akram yang tanpa ekspresi, hal itu malahan membuat emosi Maya semakin tersulut dan kehilangan kendali.
"Akram, kau harus sadar, wanita yang akan kau nikahi itu adalah wanita munafik yang menggunakan tubuhnya untuk memanjat kelas sosial supaya bisa menggapaimu! Siapa yang tahu berapa banyak laki-laki yang pernah menjamah tubuhnya demi membuatnya mencapai posisi ini! Kau mungkin adalah lelaki keseratus lebih yang pernah menyentuhnya....!"
Suara tamparan kencang menggema di udara hingga membuat kalimat Maya yang tanpa jeda itu terhenti seketika. Maya merasakan panas di pipinya, begitu menyakitkan sehingga tangannya bergerak refleks menangkup pipinya untuk mengusap dan meredakan sakitnya. Langkahnya terhuyung sementara kepalanya mendongak, menatap Akram dengan tatapan tak percaya.
Akram... menamparnya?
Sosok Akram sendiri berdiri menjulang di depan Maya. Aura kemarahan memenuhi tubuhnya, sementara matanya yang berkilat mengerikan, penuh dengan nafsu membunuh yang sudah pasti bukan main-main.
"Jaga mulutmu ketika membicarakan Elana, wanitaku, calon istriku," Akram mendesis dengan nada penuh ancaman.
Maya tetap saja tak mau mundur meskipun sudah mendapatkan tamparan keras di pipinya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Akram! Kau telah ditipu! Bahkan kemungkinan Elana adalah wanita jahat yang dikirimkan oleh musuhmu untuk mendekatimu! Aku tak menyangka kalau seorang Akram Night sebegitu mudahnya dibohongi! Apa kau tak melakukan pemeriksaan latar belakang terhadap Elana? Tidakkah kau lihat bahwa semua data tentangnya sedikit mencurigakan? Ada sesuatu di belalang ini semua, Akram! Kau harus menyadarinya!"
Akram mengangkat sebelah alis. "Oh ya? Masih sedikit mencurigakan? Kalau begitu aku akan menegur Elios nanti, dia seharusnya memasang data yang lebih baik supaya tak mencurigakan."
__ADS_1
Maya mengerjapkan mata, seolah kesulitan mencerna apa yang dikatakan oleh Akram. Ketika akhirnya dia mengerti, keterkejutan tampak memenuhi wajahnya, sementara matanya bersinar tak percaya.
"Apa... apa maksudmu... Akram?" seru Maya dengan nada terbata.
Akram tersenyum. "Semua data tentang Elana, akulah yang menghapusnya dan menanamnya kembali dengan data terbaru. Jika kau bertanya mengenai siapa yang ada di belakang kemisteriusan latar belakang Elana, maka akulah orangnya. Sekarang, apakah kau sudah mengerti?" sahut Akram dengan sikap sinis.
Maya terperangah. Dia memang jenius dan pandai menganalisa segala sesuatu. Tetapi, yang satu ini, sama sekali tak pernah terlintas di dalam benaknya, membuatnya terpukul mundur seketika dan kehilangan senjata untuk melawan.
"Kau... kau yang mengubah latar belakang Elana? Kenapa? Bagaimana?" ujarnya lagi, masih dengan nada terpatah-patah, tak mau menerima kenyataan.
"Nona Maya," Akram menyahut dengan nada mengejek yang kental. "Kau memang pandai, tapi pemikiran subyektifmu telah menelan kepandaianmu dan membuatmu jadi bodoh. Tak perlu mengajariku bagaimana memilih wanitaku, karena kau tak punya kapasitas untuk melakukannya," tatapan Akram tampak mengancam, dipenuhi kemarahan, "Elana adalah wanita paling murni dengan jiwa terbaik yang pernah kukenal. Akulah laki-laki yang mengambil kesuciannya, dan untuk menenangkan hatimu yang penuh prasangka itu, aku bisa memastikan kepadamu bahwa sampai dengan detik ini, akulah satu-satunya lelaki yang pernah menidurinya."
Mata Maya melebar dan mulutnya makin ternganga mendengar perkataan Akram. Tubuhnya sendiri membeku dan tak mampu bergerak ketika Akramlah yang kini melangkah mendekat ke arahnya, lelaki itu berdiri di jarak yang cukup dekat dan memaksa mata terpaku di kedalaman matanya yang penuh ancaman.
"Elana tak pernah merayuku, dia tak pernah menginginkan uangku, dia bahkan tak tergoda dengan tampilan luar serta kekuasaan yang kumiliki. Aku harus bersusah payah untuk merebut hatinya, untuk membuatnya menganggukkan kepala agar mau menerima lamaranku dan bersedia menikahiku," mata Akram menyipit dengan sungguh-sungguh. "Jadi, tak akan kubiarkan kau merusak reputasi calon istriku dengan berbagai tuduhan kotor yang kau buat hanya berdasarkan asumsi dan tanpa bukti."
Maya tergeragap, tetapi beruntung dia teringat dengan pembelaan terakhir yang dimilikinya.
"Aku menjadi saksi! Dan semua itu bukan asumsi! Kau harus mempercayai kesaksianku, Akram!" Maya berteriak, matanya melotot dipenuhi dorongan kuat untuk memaksakan supaya Akram percaya kepadanya. "Elana! Perempuan yang kau bela dengan buta itu, aku melihatnya sendiri ketika dia selesai bercumbu dengan Elios! Dengan asistenmu sendiri!" suara Maya begitu keras sehingga membuat Elios yang sedang sibuk di belakang meja kerjanya dan mencoba tak ikut campur dengan urusan pribadi bosnya, akhirnya mendongakkan kepalanya dengan bingung karena namanya disebut-sebut.
"Oh ya? Biarkan aku memastikan apakah tuduhanmu itu nyata, atau lagi-lagi hanya berdasarkan asumsi," Akram menoleh sedikit ke arah Elios, dan memanggil asisten malangnya yang tak tahu apa-apa itu.
"Elios, kemarilah."
***
***
Hello, bosan ya baca ini ahahaha tapi baca jangan dilewatkan ya. Jangan khawatir part pengumuman ga memotong jatah cerita. Khusus untuk ceritanya saja ( tanpa pengumuman ) jumlah wordsnya tetap 2400 words.
Jangan lupa berikan dukungan dengan memberikan VOTE POIN ya di Noveltoon.
3 pemberi Poin terbanyak bulan November dan desember Akumulasi akan mendapatkan giveaway tumbler yang bisa dicustom tulisan sesuai requestmu. ( Pemenang diumumkan awal Januari )
Nah, karena author mendapatkan ranking 1 novel berdasarkan ranking vote poin minggu kemarin, sebagai ucapan terima kasih kepada kalian semua, atas dukungan yang diberikan kepada author, maka author akan menghadiahkan CRAZY UPDATE
HARI JUMAT 6 Desember 2019 : 5 Part
HARI SABTU 7 Desember 2019 : 5 Part
( Semoga semua part bisa lolos review di hari yang sama ya, engga dicicil )
EOTD akan tamat minggu depan, sekali lagi terima kasih para kalian yang telah menyemangati kisah ini dari awal hingga akhir.
Mohon maaf author tidak bisa memberi hadiah mewah atau mahal untuk kalian, hanya part terbaru yang bisa author hadiahkan untuk kalian semua sebagai bentuk rasa terima kasih tulus dari author.
***
__ADS_1