Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 126 : Permintaan Sera


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


Tinggal 4 Episode Lagi!


EOTL 127 : Jumat 06 November 2020


EOTL 128 : Selasa 10 November 2020


EOTL 129 & EOTL 130 : Jumat, 13 November 2020


EOTL akan tamat di episode 130 ( Jumat, 13 November 2020 )


Bonus Epilog EOTL ( FREE ) dan Ebook Full plus Bonus 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA 17 November 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )


 


Setelah EOTL Tamat, Bonus Epilog + 10 Part EOTL ( Xavier’s Happy Family ) akan menjadi konten premium yang hanya bisa diakses baca eksklusif melalui website projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers


Season 3 dari The Essence Series, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers dan bisa dibaca gratis sampai tamat.


 


***


***


***


 


“Apakah Tuan hendak menemui Aaron secara langsung?”


Derek yang membukakan pintu mobil untuk Xavier bertanya perlahan. Nada suaranya terdengar biasa, tetapi Xavier menangkap kecemasan di dalam suaranya. Xavier menipiskan bibir dengan segurat senyum tipis terulas di bibirnya sebelum menjawab kemudian.


“Tentu saja, kau pikir untuk apa aku repot-repot datang kemari?”


Xavier menengadah, menatap gedung tua yang menjadi rumah apartemen tempat tinggal Thomas, korban Aaron yang entah sekarang dalam kondisi baik atau mungkin malahan sedang sekarat menunggu diselamatkan.


Para pengintai yang mengawasi gedung ini sejak semalam mengatakan bahwa Aaron sama sekali tidak keluar dari kamar apartemen milik Thomas. Mereka menggunakan pemindai panas dan pendeteksi manusia menembus dinding kamar apartemen tersebut dan menemukan ada dua manusia hidup di dalam kamar apartemen tersebut.


Yang satu bergerak normal dan yang lain tidak bergerak sama sekali.


Kemungkinan besar, Thomas dibekap dan diikat, tetapi jika melihat bahwa tubuh Thomas sama sekali tidak bergeser dan bergerak sama sekali, Xavier menduga bahwa lelaki itu sudah dibius.


Ketika akhirnya mereka berhasil menguasai kamar kosong yang berada tepat di atas kamar Thomas, mereka berhasil menyusupkan kamera pengawas mini yang mengambil gambar dari bagian atap kamar dan mengawasi seluruh pergerakan Aaron tanpa Aaron mengetahuinya. Hal itu membuat posisi Aaron sudah terkunci pada kekalahan dan sebentar lagi tiba waktunya bagi lelaki itu untuk menuai hasil perbuatannya sendiri.


Langkah Xavier terlihat pasti ketika dia berjalan melewati area lobby apartemen itu. Seperti yang dia duga, apartemen ini tidak memiliki petugas penjaga atau petugas penerima tamu, tentu saja itu menjadi hal yang bagus untuk Xavier, karena dia bisa langsung menuju ke depan pintu kamar Thomas tempat Aaron berada tanpa membuat keributan yang tak perlu terjadi.


Bagaimanapun, seluruh gedung ini telah dikepung oleh orang-orang yang dikirim oleh Akram untuk menyertai Xavier. Penembak jitu juga ditempatkan di beberapa titik, siap menembak jika Aaron sampai melangkahkan kaki keluar dari gedung ini. Mereka bersiaga dengan formasi rapat kali ini karena tak mau kecolongan seperti saat Aaron melarikan diri dari rumah sakit waktu itu.


Sesungguhnya, Xavier merasa tak perlu menggunakan pasukan sebanyak ini hanya untuk menangkap Aaron yang sendirian, tetapi Akram bersikeras mengirimkan pasukannya untuk mendukung Xavier. Akram menganggap bahwa Aaron adalah orang yang nekat dan seorang manusia yang sudah berada di batas keputusasaan biasanya akan melakukan hal-hal gila untuk menyelamatkann dirinya. Akram tentu saja tak ingin apa yang terjadi pada Nathan terjadi lagi pada Xavier.


Xavier melangkah memasuki lift menuju lantai tempat kamar Thomas berada. Derek dan dua bodyguard lain mengikutinya dengan setia di belakangnya.


Memikirkan bahwa sebentar lagi dia akan menemui Aaron, musuh yang mengganggu kehidupan keluarganya, aliran adrenalin langsung membanjiri dirinya, membuat hawa nafsu membunuh hampir-hampir menguasainya.


Namun, Xavier tahu bahwa dia harus menahan diri kali ini. Jika itu menuruti kemauannya, sudah pasti Xavier akan langsung membunuh Aaron begitu mereka bertatapan mata. Sayangnya, dia tak bisa melakukannya. Karena dia sudah berjanji untuk memenuhi permintaan Sera.


Ingatan Xavier langsung melayang ke waktu sebelumnya, ketika dia berterus terang kepada Sera bahwa dia akan datang untuk menangkap Aaron secara langsung.


***


 


Ada kerutan yang tercipta di pangkal hidung Sera ketika Xavier berkata bahwa setelah ini dia akan mendatangi Aaron.


“Kau akan mendatangi Aaron sendirian?” Sera bertanya perlahan, tak bisa menyembunyikan kecemasan dalam nada suaranya.


Xavier yang duduk di tepi ranjang tempat Sera berbaring kembali di kamar perawatannya setelah menyusui si kembar, menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Sera dengan sayang.


“Jangan khawatir. Akram sudah menyiapkan pasukannya untuk mengiringiku. Aku tak akan berakhir seperti Nathan. Aku akan baik-baik saja.”


Sera menangkup tangan Xavier dengan tangannya yang mungil.


“Tentu saja aku khawatir. Aaron adalah jenis orang yang bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Kau... ketika berhadapan dengannya dia bahkan pernah berhasil menusukmu, bagaimana jika dia mendapatkan kesempatan dan melakukannya lagi?” tanyanya dengan bibir gemetaran.


“Kau tak perlu cemas.” Xavier berucap kembali untuk menenangkan istrinya. “Derek dan yang lainnya akan datang masuk menyergap bersamaku. Kali ini, Aaron tak akan lolos, Sera.”


Keheningan membentang lama di antara mereka ketika Sera membisu dan tak mengucap kata. Perempuan itu terlihat mengerutkan kening seolah sedang memikirkan sesuatu. Sementara itu, Xavier sendiri memilih untuk tak memecah keheningan itu. Dia menunggu sampai Sera mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.


“Xavier, apakah kau akan membunuh Aaron?” Seralah yang kemudian memecah keheningan itu, bibirnya terlihat gemetar ketika bertanya.


Xavier menatap Sera dengan tajam mendengar pertanyaan itu.


“Aku sangat ingin membunuhnya. Begitu dia lenyap, maka segala gangguan untuk kebahagiaan kita juga akan lenyap. Bukankah kau juga berpikir begitu?” ujarnya kemudian balik bertanya.


Sera melebarkan matanya, lalu menggeleng perlahan.

__ADS_1


“Aku berpikir bahwa kebahagiaan keluarga kita tak perlu diraih dengan mengorbankan satu nyawa lagi.”


“Sera.” Ekspresi Xavier menajam, pun dengan tatapannya. “Aaron telah berbuat begitu banyak kejahatan kepadamu di masa lampau, dia bersandiwara kepadamu, dia memanfaatkan dirimu untuk mencapai tujuannya sendiri. Dia tidak menghargai cintamu, tetapi ketika kau tak memujanya lagi, dia berbalik terobsesi kepadamu dan hendak memaksamu mencintainya. Sekarang dia bahkan berencana menggunakan ayahmu sebagai sandera. Dan kau masih ingin membelanya?”


Xavier menyentuh dagu Sera dan mengarahkan wajah perempuan itu ke arahnya. Sinar kecemburuan yang tak tertahankan tampak menyala di matanya, membuat tampilan dirinya yang lama, Xavier yang menyeramkan dan selalu dipenuhi nafsu membunuh, muncul ke permukaan.


“Apakah kau masih menyimpan perasaan kepadanya? Apakah kau belum benar-benar berhasil memusnahkan cintamu kepadanya? Karena itukah kau membelanya dan berusaha mempertahankan nyawanya supaya tetap hidup?” tanyanya kemudian dengan nada geram.


“Xavier.” Sera menyentuh pergelangan tangan Xavier, tatapannya teduh sementara ekspresinya penuh dengan senyuman tipis yang bijaksana, berusaha menenangkan suaminya yang mulai dibakar oleh api kecemburuan. “Aku tidak ingin Aaron dibunuh, semua itu bukan demi Aaron, tetapi demi dirimu dan keluarga kita.”


“Apa maksudmu?” Xavier biasanya sangatlah cerdas, namun ketika berhadapan dengan Sera yang terkadang memiliki pikiran rumit dan tak tertebak, entah kenapa dia selalu gagal menerjemahkan arti dari perkataan Sera dengan baik.


“Maksudku, aku tak ingin dendam terus berputar karena pertumpahan darah. Ingat, kita sudah menjadi orang tua, kita memiliki si kembar, dua anak perempuan cantik yang masa depannya tergantung kepada kita, kedua orang tuanya.” Sera menatap Xavier dengan bersungguh-sungguh. “Kau adalah seorang ayah dari dua putri kecil yang cantik. Aku tak ingin kau membasahi tanganmu lagi dengan darah. Pun dengan Aaron. Jika kau membunuhnya, apakah kau yakin bahwa semua perputaran dendam ini akan berakhir? Siapa yang tahu di luar sana ada orang-orang lain yang mencintai Aaron dan memutuskan untuk membalas dendam atas namanya di masa depan nanti? Bagaimana kalau mereka mengincar putri-putri kita? Jika perputaran dendam ini tak bisa diakhiri sekarang, aku takut kita akan berada di lingkaran setan, terus berputar menuntaskan pembalasan dendam demi pembalasan dendam tanpa henti.”


Xavier terdiam lama, menelaah apa yang dikatakan oleh Sera kepadanya. Ketika berucap kemudian, keningnya tampak berkerut dalam.


“Jika kita membiarkan Aaron tetap hidup, dia bisa saja menyerang kita kembali setiap saat. Obsesinya kepadamu bukan main-main, Sera.”


“Aku akan mengakhiri obsesinya kepadaku.” Sera menjawab dengan nada tegas.


Kerutan di kening Xavier tampak semakin dalam.


“Bagaimana caranya?” tanyanya kemudian dengan nada penasaran.


Sera menatap Xavier dengan sungguh-sungguh.


“Aaron melakukan semua cara nekat seperti yang dilakukannya kemarin, hanya karena ingin menemui diriku, bukan? Kalau begitu, kenapa tidak kau biarkan saja dia menemui diriku?”


“Tidak!” Xavier langsung berseru dengan suara keras. Ketidaksetujuan tampak terpatri jelas di tatapan matanya. “Apa kau lupa bahwa Aaron adalah pria berbahaya? Aku tidak akan pernah membiarkan kau menemuinya!”


Sera menghela napas panjang. Tangannya bergerak meremas tangan Xavier, sekali lagi berusaha menenangkan suaminya.


“Xavier. Kita harus menuntaskan semuanya. Biarkan Aaron menemuiku, setelah itu aku berjanji bahwa dia akan menghentikan seluruh obsesinya kepadaku.”


“Lalu kau akan membebaskannya?” Xavier menyela dengan nada tak setuju. “Aku tak bisa memenuhi permintaanmu, Sera. Aku tak akan pernah membiarkan Aaron bebas dan lepas lagi. Jika membunuhnya adalah satu-satunya cara.”


“Xavier.” Kali ini Seralah yang menyela perkataan Xavier. Suaranya terdengar lembut, tetapi matanya berbinar penuh arti. “Siapa yang bilang bahwa kau harus membebaskan Aaron?” tanya Sera kemudian, menciptakan nada misterius di dalam suaranya.


***


 


“Tuan Xavier.”


Suara Derek yang terdengar di belakang punggungnya membuat Xavier mengerjapkan mata dan tersadar dari lamunannya yang mengkilasbalikkan memori percakapannya dengan Sera sebelum dirinya berangkat ke tempat ini untuk meringkus Aaron.


Xavier menatap pintu tertutup di depannya. Ekspresinya berubah hidup, ditandai dengan seringai kejam yang menghiasi senyumannya.


“Mari kita jemput tamu istimewa kita,” Xavier berucap dengan nada dingin menyeramkan, lalu tangannya bergerak mengetuk pintu itu dan mengetuk pintu itu dan menunggu.


Ketika tidak ada sahutan dalam waktu cukup lama, Xavier mengetuk lagi dengan ketukan yang lebih kuat dan mendesak. Dia tahu bahwa Aaron yang ada di dalam sana pasti sedang ketakutan karena kedatangan tamu yang tak diundang di depan pintunya. Bisa dibayangkannya bagaimana Aaron dipenuhi teror di balik pintu itu karena kedatangannya.


“Apa yang sedang dia lakukan sekarang?” Xavier bertanya kepada Derek ketika tak ada juga pergerakan dari dalam ruangan itu.


“Aaron bergerak untuk menutupi tubuh Thomas dengan selimut. Kemungkinan besar dia berpikir untuk menyembunyikan keberadaan Thomas dari pandangan tamu yang datang.” Derek yang menatap layar sebesar ponsel di tangannya berucap menjawab. Di tampilan layar ponsel itu, terlihat jelas pergerakan Aaron yang merupakan citra dari kamera pengawas di dalam sana.


Seringai di bibir Xavier semakin lebar seolah menertawakan.


“Jadi, dia belum tahu kalau akulah yang ada di depan pintu?” Xavier menggerakkan tangannya dan mengetuk dengan lebih keras serta mendesak. “Mari kita buat dia datang ke pintu dan mengintip sehingga dia tahu bahwa aku sendiri yang datang kepadanya.”


***


 


Xavier sedang menyeringai. Lelaki itu menatap balik ke arah Aaron yang mengintip dari lubang pentintip di pintu, lalu mengulaskan senyuman lebarnya dan menganggukkan kepala tipis ke arah lubang pengintip itu. Tatapan matanya tampak tajam, menusuk Aaron hingga menyelipkan rasa takut yang menyengat ke dalam jiwanya.


Seketika Aaron menjauhkan matanya dari lubang pengintip itu dan melangkah mundur dengan kaki gemetaran.


Xavier membalas tatapannya seolah-olah dia tahu bahwa Aaron sedang mengintip melalui lubang kaca pengintip itu! Apakah jangan-jangan Xavier memang tahu? Apakah ternyata kamar ini telah diawasi?


Kepala Aaron memandang sekeliling dengan dipenuhi teror, tapi tak bisa menemukan jejak kamera pengawas di manapun.


Aaron telah sangat berhati-hati demi menghindari kejaran teknologi tingkat tinggi dari Akram Night dan Xavier Light. Ketika dia menyalakan laptop milik Thomas pun, Aaron menutup kamera laptop milik Thomas dengan perekat tebal yang tak tertembus. Dia juga memeriksa apakah ada perangkat elektronik lain yang tersambung online dengan internet dan langsung memutuskan semua sambungan online, memastikan semuanya mati dan berada dalam kondisi offline.


Akan tetapi... kenyataan bahwa Xavier mengetahui keberadaannya di sini, bahkan dengan tenang mendatanginya seperti ini, menunjukkan bahwa seluruh rencana Aaron telah terbongkar sejak awal!


Siapa? Siapa yang membocorkannya? Bukankah Aaron telah sangat berhati-hati? Tempat persembunyiannya tidak terlacak, dia juga menggunakan topeng penyamaran berkualitas tinggi yang tak mungkin bisa dibedakan oleh mata orang awam.


Topeng penyamaran....


Sialan! Xavier dan rekan-rekannya pasti telah berhasil menangkap dokter Rasputin! Ya! Pasti begitu! Satu-satunya yang membuat seluruh rencananya untuk menyandera ayah Sera dengan menyamar sebagai Thomas bisa terbongkar adalah kaitan dengan dokter Rasputin sebagai pembuat topeng dengan identitas Thomas dan juga topeng-topeng lainnya!


Dokter sialan itu! Dia bilang akan bersembunyi dengan baik dan tak akan tertangkap. Aaron percaya dengan kemampuan dokter Rasputin hilang dari pelacakan, karena itulah dia mengurungkan niatnya untuk membunuh dan menusuk dokter Rasputin dari belakang saat topeng-topeng pesanannya itu sudah jadi.


Tetapi, kenapa dokter tua dan bodoh itu malahan tertangkap? Kalau tahu akan begini, seharusnya dia membunuh dokter Rasputin saat itu!


Sialan! Sialan! Benar-benar Sialan!

__ADS_1


Aaron berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar, mulutnya mengumpat-umpat tanpa suaranya, menunjukkan keputusasaannya yang tak terperi.


Matanya mencari-cari tapi dia tak menemukan jalan keluar. Jika dia meloncat dari jendela... hasilnya akan sama saja, bukan hanya kakinya yang mungkin akan patah, tetapi juga anak buah Xavier pasti sudah banyak menunggu di bawah sana untuk meringkusnya.


Tak ada jalan keluar bagi Aaron selain menghadapi Xavier dan mungkin menghadapi kematiannya sendiri.


Sekujur tubuh Aaron gemetaran, tetapi dia menguatkan diri dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa di saat genting sekalipun, selalu ada jalan keluar untuknya.


Bukankah dia telah berkali-kali berhasil lolos dari serangan Xavier? Dia mungkin merupakan satu-satunya orang yang berhasil menusuk Xavier dari jarak dekat. Mungkin jika dia mendapatkan kesempatan untuk mendekati Xavier lagi, dia akan menemukan kembali jalan untuk melukai lelaki itu dan melarikan diri.


Aaron menghela napas panjang, lalu meraih pistol kecil sejenis revolver yang sedianya disiapkan untuk menyandera ayah Sera dan memasukkan pistol itu ke dalam sakunya.


Mungkin dia bisa menggunakan pistol itu sebelum anak buah Xavier menggeledahnya...


Jantung Aaron berdebar kencang ketika akhirnya dia membuka pintu itu dan melepaskan penghalang batas antara dirinya dengan Xavier Light, musuh besarnya.


***


 


Xavier sendiri memasang senyuman di bibirnya ketika langsung berhadapan dengan Aaron.


“Selamat siang, Aaron. Kuharap aku tidak mengganggu tidur siangmu yang nyaman,” sapanya dengan suara ramah.


“Apakah kau datang untuk membunuhku?” Aaron menggeram dengan sikap bermusuhan yang kental, sangat berkebalikan dengan sikap Xavier yang ramah. Tangannya yang tersembunyi di balik saku menggenggam revolver kecil di tangannya, berpikir bahwa kemungkian ini adalah satu-satunya kesempatannya untuk menyerang Xavier.


Aaron bergerak secepat kilat, mengeluarkan revolver itu dari sakunya dan hendak menembakkannya ke wajah Xavier dengan putus asa, tetapi tentu saja para anak buah Xavier yang terlatih mampu bergerak sigap dari gerakan Aaron yang dibumbui oleh rasa takut.


Dalam sekejap, Derek dan dua bodyguard lainnya bergerak menerjang ke arah Aaron, membuat tubuh Aaron terbanting telentang di tanah dan revolver itu terlontar jatuh dari tangannya.


Salah seorang bodyguard Xavier mengambil revolver itu dan mengamankannya hingga akhirnya tubuh Aaron yang berhasil diringkus kemudian digulingkan dengan kasar hingga tengkurap di bawah kendali tiga orang laki-laki bertubuh kuat di atasnya.


Derek sendiri langsung menarik kedua tangan Aaron ke belakang punggungnya dan memasang borgol dengan kendali digital khusus di sana. Tubuhnya yang tegap setengah menindih Aaron, membuat tubuh Aaron yang tengkurap semakin tak berdaya, tak bisa bergerak di lantai.


Xavier bergerak melangkah masuk ke dalam ruangan dan matanya langsung tertuju ke arah tubuh Thomas yang ditutupi selimut. Segera dia memberikan isyarat ke arah salah satu bodyguard-nya.


“Perintahkan tim dokter kemari.” Xavier tahu bahwa setidaknya dia harus mencegah Thomas kehilangan nyawa. Seperti yang Sera inginkan, perempuan itu tak ingin ada lagi nyawa yang tercabut karena perbuatan Aaron. Mereka masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawa Thomas yang saat ini dibius dengan dosis tinggi.


Derek langsung menyerahkan Aaron di bawah pengawasan dua anak buahnya. Mereka menjaga tubuh Aaron supaya tetap tengkurap di tanah, menekannya hingga tak bisa melawan. Sementara itu, Derek sendiri langsung menelepon anak buahnya yang lain untuk membawa tim dokter naik ke atas sini dan melihat kondisi Thomas yang tak sadarkan diri.


Mata Xavier memindai ke sekeliling ruangan. Mereka telah memastikan ruangan ini aman tanpa adanya peledak atau racun gas yang dipasang untuk menjebak tamu yang datang. Aaron memang benar-benar lengah. Lelaki itu mengira bahwa rencananya akan berhasil dengan lancar dan sama sekali tak menyangka bahwa akan ada ‘tamu’ yang berkunjung ke tempat ini. Karena itulah, Aaron sama sekali tak menyiapkan apa-apa untuk perlindungan dirinya.


Pada saat itu, barulah Xavier menolehkan kepalanya kembali ke arah Aaron dan senyuman manis kembali tersungging di bibirnya.


“Tadinya aku datang dengan niat berbicara baik-baik, tapi kau sepertinya terlalu bersemangat untuk menyerangku, bukan?”


Xavier melangkah mendekat ke arah Aaron yang tengkurap dan memberi isyarat ke arah anak buahnya. Salah satu bodyguard-nya kemudian menarik rambut Aaron dan menarik rambut Aaron, memaksa lelaki itu mendongak menatap Xavier.


Tatapan mata Aaron tampak dipenuhi oleh dendam, kemarahan dan campuran rasa terhina yang sangat kuat. Ditengkurapkan di bawah seperti ini, dekat dengan kaki Xavier, merupakan penghinaan terbesar yang pernah diterimanya.


“Kau pengecut! Kau membawa anak buahmu untu melawanku! Jika tanpa anak buahmu, kau pasti tak bisa apa-apa! Kau hanyalah lelaki lemah yang penyakitan!” Aaron berusaha memprovokasi Xavier dengan harapan lelaki itu akan memerintahkan anak buahnya melepaskannya. “Kalau kau memang benar-benar lelaki sejati! Ayo kita bertarung satu lawan satu! Kita lihat siapa yang menang!”


Senyum masih terpasang di bibir Xavier ketika menerima provokasi dari Aaron itu.


“Aku memang tidak tahu malu.” Xavier malahan menganggukkan kepalanya dengan sikap tenang, sebuah reaksi yang berkebalikan dengan keinginan Aaron. “Buat apa aku menggunakan kekuatanku sendiri jika aku punya uang banyak untuk membayar anak buahku melakukan tugasnya?”


Xavier menempatkan sepatunya di dekat wajah Aaron dengan sikap mencemooh yang kentara. “Kau pikir aku adalah anak kemarin sore yang masih sibuk memperjuangkan harga diri dengan beradu otot dan bertempur fisik? Aku adalah lelaki dewasa, aku adalah suami dan ayah dari dua orang anak yang berbahagia. Lagipula, aku tak ingin wajahku yang memiliki pesona asli ini ternoda oleh pukulan atau memar. Itu jelas akan membuat istriku sedih. Kau tahu, Sera sangat menyukai wajah tampanku. Bagaimanapun, dia adalah perempuan pandai yang bisa membedakan mana yang tampan asli dan mana yang tampan dari plastik.”


Xavier terkekeh sambil memindai wajah Aaron dengan sikap menghina. “Karena itulah, aku terpaksa menolak tantanganmu untuk bertarung seperti bocah lelaki yang masih kecil.”


Dengan tenang Xavier mengeluarkan peraralatan suntik dari sakunya, lalu mempersiapkan peralatannya dengan sengaja tepat di hadapan Aaron.


Pemandangan itu membuat Aaron yang masih terperangah mendengar jawaban Xavier tadi langsung terperanjat dan panik. Dia berusaha meronta-ronta, didera ketakutan karena tahu bahwa suntikan itu pasti disiapkan untuk dirinya.


Namun, apalah dayanya, tangannya di borgol di belakang punggungnya dan dua bodyguard Xavier menekan tubuhnya tanpa belas kasihan.


***


***


***


Tinggal 4 Episode Lagi!


EOTL 127 : Jumat 06 November 2020


EOTL 128 : Selasa 10 November 2020


EOTL 129 & EOTL 130 : Jumat, 13 November 2020


EOTL akan tamat di episode 130 ( Jumat, 13 November 2020 )


Bonus Epilog EOTL ( FREE ) dan Ebook Full plus Bonus 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA 17 NOVEMBER hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )


 


Setelah EOTL Tamat, Bonus Epilog + 10 Part EOTL ( Xavier’s Happy Family ) akan menjadi konten premium yang hanya bisa diakses baca eksklusif melalui website projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers

__ADS_1


Season 3 dari The Essence Series, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers dan bisa dibaca gratis sampai tamat.


__ADS_2