Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 100 : Hasil Pencarian


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


 


 


****


****


****


Xavier menjejakkan kecupan sepanas bara api sebelum kemudian lelaki itu menarik kepalanya mundur. Ekspresinya tampak tersiksa, bercampur dengan keputusasaan, tetapi lelaki itu mampu menahan dirinya sekuat tenaga.


Sera sendiri membuka matanya dengan gugup ketika Xavier tiba-tiba saja melepaskan kehangatan bibir yang bertautan dengan bibirnya, ditatapnya lelaki itu dengan penuh rasa ingin tahu, menebarkan rona merah di pipinya ketika dia akhirnya berhasil mengeluarkan suara lemah ke arah Xavier.


"Kenapa kau- berhenti?"


Setelah pertanyaan itu terlontar, barulah Sera merasa malu. Meskipun Sera hanya mengungkapkan ingin tahunya, tetapi di telinga orang, pertanyaannya itu bisa saja diartikan salah, seolah-olah Sera adalah wanita penuh hasrat yang merajuk ketika suaminya berhenti menciuminya.


"Ah... " Sera menelan ludahnya dan meletakkan jemarinya di bibir yang membengkak setelah ciuman intens mereka, benaknya bingung merangkai kata-kata ketika matanya menatap malu ke arah Xavier. "Mak-maksudku bukan begitu... aku hanya..."


Suara Sera berhenti mendadak ketika Xavier menundukkan kepala lagi, lalu tanpa peringatan langsung menyambar mulut Sera, menautkan kembali kedua bibir panas mereka dan menciumi Sera dengan sangat bergairah. Ciuman itu mengirimkan senyar yang menggetarkan tubuh Sera, membuat sekujur tubuhnya membara dan tanpa sadar mengerang meminta lebih ketika kembali Xavier melepaskan ciuman mereka lalu menghela Sera supaya tenggelam rapat di peluknya sambil melabuhkan kepalanya di sisi telinga Sera seolah-olah ingin mengumpulkan kembali kendali dirinya yang tercerai berai.


"Sekarang, kau tahu kenapa aku berhenti, bukan?" Suara Xavier terdengar lembut di sisi telinga Sera, meniupkan napas hangatnya yang terengah karena hasrat di telinga Sera yang sensitif. "Sebab, jika aku tak berhenti sekarang, aku tak akan bisa berhenti." Tangan Xavier bergerak lembut mengelus pipi si kembar. "Kata Nathan, jika aku memaksakan melampiaskan hasratku kepadamu, aku bisa menyakitimu dan si kembar."


Wajah Sera merah padam ketika mendengar perkataan Xavier. Dia malu, tetapi mau tak mau terselip rasa bahagia di hatinya. Sejak usia kandungannya tujuh bulan, Xavier memang sangat menahan diri terhadap Sera dan Sera menerimanya begitu saja dengan permakluman. Itu semua karena Sera sadar diri dan berpikir, bahwa dengan tubuhnya yang membengkak seperti ini dan kulitnya yang kusam serta memucat karena bawaan kehamilannya, penampilannya tentu saja sangat tak menggugah selera Xavier untuk berhasrat kepadanya.


Selama ini Sera berpikir bahwa satu-satunya yang mengikat Xavier dengan dirinya secara personal selain kenyataan bahwa dia sedang mengandung anak-anak Xavier, adalah kecocokan mereka di tempat tidur yang dibuktikan dengan besarnya hasrat Xavier kepadanya. Tetapi akhir-akhir ini, Sera jadi merasa bahwa lelaki itu sudah tak tertarik kepadanya, karena itulah Sera mencoba menerima bahwa ikatan mereka berdua di masa depan mungkin hanya akan tergantung kepada dua anak kembar mereka di perutnya yang akan segera dilahirkan.


Namun, sekarang saat mendengar bahwa Xavier masih berhasrat kepadanya tetapi sedang menahan diri demi kepentingannya dan bayinya, hati Sera langsung dipenuhi kebahagiaan.


Suaminya masih menginginkan dirinya yang penampilan fisiknya tak karu-karuan karena kehamilannya. Adakah yang lebih membahagiakan seorang istri dibandingkan ini?


"Kalau kau sudah tak tahan... aku bisa membantumu... dengan cara-cara lain yang pernah kau ajarkan kepaku." Sera mengusulkan dengan tulus, tatapan matanya tampak polos, dipenuhi keinginan kuat untuk membantu Xavier.


Perkataan Sera itu membuat Xavier terkesiap, lelaki itu menarik mundur kepalanya sehingga mereka saling berhadap-hadapan dan mata Xavier terpaku pada mata Sera yang berkilauan dan lelaki itu langsung merasakan hasrat yang sangat kuat menghantam serta meyambar tubuhnya dengan dahsyat hingga membuatnya sejenak membeku kalah tak mampu bersuara. Setelahnya, Xavier mendesah, menghela napas berkali-kali dan berusaha untuk menenangkan dirinya.


Apa yang telah dia lakukan kepada istri polosnya ini? Kenapa dulu dia mengajarkan perempuan ini cara-cara lain untuk memuaskan diri dan haratnya yang meluap-luap dan membuat Sera menjadi perempuan sensual yang sangat berbahaya bagi pertahanan dirinya yang rapuh?


Sera menawarkan bantuannya dengan begitu polosnya, layaknya seekor kelinci baik hati yang menawarkan bantuan pada serigala jahat yang kelaparan. Tidak tahukah Sera bahwa hasrat Xavier kepadanya begitu besarnya hingga Xavier harus berjuang sekuat tenaga untuk berpegang pada akal sehatnya supaya tidak meraup tubuh Sera dan memuaskan dirinya pada perempuan itu?


"Tidak." Xavier menggeramkan kalimatnya dengan sepenuh tekad. "Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku sudah cukup puas bisa memelukmu. Aku tak akan menjadi suami egois yang memaksa istri hamilku untuk memuaskan hasrat egoisku."


"Tapi..." Sera mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan kukuhnya pertahanan diri Xavier. "Jika aku membantumu... bukankah aku tidak apa-apa?"


"Sera." Xavier membisikkan nama Sera dengan lembut, lalu lelaki itu meraih sebelah tangan Sera dan menghadiahkan kecupan penuh hasrat di pergelangannya. Ketika Xavier mengangkat tatapan matanya kemudian kembali ke arah Sera, api hasrat membara di matanya, mengancam untuk membakar mereka berdua jika tak segera dijinakkan. "Jika kau membantuku... dengan cara-cara lain, maka itu akan berlangsung dengan cukup intens dan secara sensual, itu bukan hanya mempengaruhiku, tetapi juga bisa mempengaruhimu." Xavier menghela napas panjang. "Dokter Nathan sudah memperingatkanku. Apapun yang bisa mempengaruhimu secara intens... bisa membahayakanmu... kau bisa mengalami kontraksi kuat yang membuat si kembar bisa dilahirkan lebih cepat dari waktunya."


Sera melebarkan mata, berusaha mencerna perkataan Xavier itu perlahan-lahan dan rona merah menyemburat, menyebar ke seluruh permukaan kulitnya ketika dia akhirnya menganggukkan kepala dan menunjukkan bahwa dia bisa menerima alasan yang diberikan oleh Xavier.


"Oh... maafkan aku... aku tidak berpikir seperti itu." Sera tampak malu, tapi da berusaha berucap. "Aku hanya berpikir... untuk membantumu."


"Aku tahu." Xavier menyahuti dengan erangan parau, lalu membawa kembali Sera ke dalam pelukannya. "Tapi untuk saat ini, aku tidak apa-apa. Biarkan aku memuaskan diri dengan memelukmu saja."


"Kau boleh melakukannya sepuasnya." Sera menyahuti dalam senyuman. Karena aku adalah milikmu, sambungnya kemudian di dalam hati, menyatakan kalimat pengakuan yang tak terucapkan.


Xavier melabuhkan kecupan di puncak kepala Sera, lalu memaksakan diri memejamkan mata dan mengalihkan semua hasratnya yang membara dengan tekad kuat untuk tak mengganggu istrinya.


"Tidurlah, kelinci kecil, kau harus beristirahat karena perjalanan pulang kita masih panjang," bisiknya lembut sambil mulai membuai Sera di antara pelukan lengannya.


***


 

__ADS_1


"Credence."


Xavier berucap pelan di dini hari yang senyap saat semua makhluk dunia sedang memejamkan mata dibuai lelap. Saat ini Sera sudah tertidur lelap di kamar, mungkin karena kelelahan sepanjang perjalanan yang cukup jauh yang harus ditempuh dari fasilitas kesehatan untuk pulang kembali ke rumah ini. Karena itulah, ketika menerima telepon lintas negara di dini hari ini, Xavier berusaha supaya tak mengganggu Sera saat turun dari tempat tidur sebelum kemudian menyelinap ke ruang kerjanya.


"Xavier. Aku sudah menemukan dokter yang kemungkinan melakukan operasi kepada Aaron." Credence menyahuti di sana dengan nada tegas.


"Siapa dokter sehebat itu yang lolos dari pengawasanku?" Xavier mengangkat alisnya setengah penasaran. Setelah dirinya memastikan bahwa Aaron kemungkinan telah bertukar wajah dengan mayat yang mereka temukan, dia menggunakan seluruh kemampuannya di bidang pencarian teknologi untuk memindai seluruh dokter bedah plastik dari seluruh dunia dengan reputasi tinggi memiliki hasil kerja mendekati sempurna. Pencarian itu dipersempit dengan mengkhususkan diri pada dokter-dokter dari Rusia dengan pertimbangan bahwa setelah sayembara pengejaran Aaron dilakukan, lelaki itu tak akan sempat melarikan diri dari Rusia ataupun berpindah ke negara-negara lain.


Tetapi pencarian itu pada akhirnya belum bisa juga menemukan profil yang tepat sehingga mendorong Xavier meminta bantuan Credence yang memiliki jaringan lebih lengkap serta keahlian di bidang data. Keputusannya itu tidak sia-sia, kurang dari sehari saja, Credence sudah menemukan yang mereka cari.


"Kau mungkin melewatkan dokter ini karena dia sudah pensiun lama. Namanya tenggelam di dunia kedokteran resmi, tetapi berjaya di dunia bawah tanah. Dokter Rasputin, aku yakin dialah orangnya." Credence menjelaskan dengan suara dalam. "Aku sudah mengirimkan seluruh berkas dokter Rasputin kepadamu, berikut seluruh rekam jejak hasil kerjanya. Aaron mungkin tidak terdaftar, begitu juga dengan ratusan penjahat lain yang telah ditanganinya. Aku secara pribadi yakin bahwa dokter Rasputin membuka jasa perlindungan dan penyediaan naungan kepada para penjahat yang ingin bersembunyi dan melarikan diri dengan mengubah wajahnya di bawah kendali tangannya. Kemungkinan besar, kita tidak melakukan kesalahan, Xavier."


"Apakah kau sudah bergerak mendapatkannya?"


"Dimitri membantuku di sini. Pasukan sudah dikirimkan untuk menyergap ke tempat tinggalnya. Kita akan mendapatkan dokter itu dengan segera."


"Bagus, aku tidak menyangka Dimitri akan menjadi bantuan yang begitu patuh dan setia." Xavier menyeringai, menyiratkan kepuasannya yang penuh ironi.


"Kau menggunakan racunmu untuk merantai leher Dimitri, tentu saja dia akan patuh." Credence menyahuti sedikit sinis. "Kau tentu sadar bahwa racunmu bisa membuat kaum antagonis dipaksa berubah halauan menjadi sebaik hati malaikat, bukan?" tanyanya dengan nada retoris yang kental.


Xavier terkekeh, tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah kejam dan gelap. "Dapatkan dokter Rasputin itu. Lalu pastikan lakukan interograsi untuk mendapatkan seluruh keterangan meyeluruh darinya. Jika cara biasa tidak berhasil, maka aku akan memberikan racun-racunku yang bisa berguna untuk memberikan ancaman dan memancing kebenaran meluncur dari mulutnya."


"Aku akan melakukannya, dengan bantuan Dimitri tentu saja." Credence berucap terus terang bahwa dia tak suka mengotori tangannya dengan darah jika tak benar-benar diperlukan. Lelaki itu lalu memberikan jeda keheningan sejenak di seberang sana, sebelum kemudian mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana dengan Sera? Apa kabarnya?"


"Kenapa kau ingin tahu?" Xavier berucap dengan nada defensif seketika.


Kali ini giliran Credence yang terkekeh di sana. "Kenapa aku tak boleh tahu? Kau bersikap seolah-olah aku akan mengambil istrimu."


"Bukankah itu yang kau rencanakan sebelumnya? Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau membuat kesepakatan dengan Akram untuk menggoda Sera dan membuatku cemburu, bukan?" sahut Xavier sinis.


Tawa Credence terdengar dari seberang sana. "Apakah itu berhasil?"


"Apa maksudmu?" Xavier menyahuti dingin.


"Apakah kau berhasil cemburu?" tanya Credence lagi.


"Kau jatuh cinta kepadanya?" Credence langsung menyimpulkan dengan tepat. Ketika Xavier hanya menyahuti dengan keheningan di seberang sana, Credence langsung melanjutkan kalimatnya lagi. "Aku bisa saja benar-benar mengambil Serafina Moon darimu jika kau tidak memperlakukannya dengan baik, Xavier. Tetapi kurasa saat ini ceritanya sudah berbeda, aku tahu tempatku dan sejahat-jahatnya diriku, aku tak akan merusak rumah tangga di antara dua orang yang saling mencintai."


"Kau salah. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Kami tak saling mencintai, hanya aku yang cinta." Xavier menyahuti dengan nada dingin. "Dan camkan perkataanku baik-baik. Jangan berpikir untuk mengganggu Sera lagi. Dia milikku. Meskipun dia tak mencintaiku, aku akan mengikatnya sehingga dia tak bisa meninggalkanku."


Credence menipiskan bibir, mengulasnya dengan senyuman miris di seberang sana. Ah, Xavier. Kenapa kau begitu buta?


Ingin rasanya Credence memaksa Xavier membuka matanya dan melihat apa yang seharusnya terpampang jelas di depan mata. Tetapi, Credence tahu bahwa masalah ungkapan hati antara dua kekasih, bukanlah sesuatu yang bisa dicampuri oleh orang luar seperti dirinya.


Akan tiba saatnya Xavier membuka mata dan menyadari bahwa cintanya sesungguhnya bersahutan rasa dan akan tiba saatnya Sera merasa yakin untuk mengungkapkan rasa cinta di hatinya yang sudah tumbuh nyata kepada Xavier.


Waktu akan berpihak pada dua kekasih yang saling mencinta dan Credence tahu bahwa saat terbaik akan tiba pada waktu yang tepat.


"Aku mengerti." Credence menjawab dengan nada ringan meskipun terselip keseriusan dalam suaranya. "Kalau begitu, aku akan melakukan apa yang harus kulakukan. Aku akan mengabarimu nanti."


Xavier menutup pembicaraan, lalu melangkah menuju jendela ruang kerjanya. Dari sana dia melihat bagaimana anak buahnya masih berlalu lalang dan berjaga dengan waspada di dini hari yang gelap ini.


Rumah ini merupakan rumah terbaik untuk tinggal dengan sistem keamanan sempurna yang tak mungkin ditembus. Tetapi, rumah ini juga cukup jauh dari fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat.


Jika Sera berniat untuk menjenguk ayahnya lebih sering dan lebih rutin, maka Xavier harus memikirkan cara supaya Sera tak kelelahan menempuh perjalanan panjang bolak balik di saat usia kandungannya semakin mebesar dari hari ke hari.


Tetapi dia tahu bahwa dia tak bisa meninggalkan rumah yang paling aman ini. Jika dia mengambil keputusan untuk pindah ke tempat baru yang lebih dekat dengan fasilitas kesehatan, maka seluruh instalasi di lingkar perimeter keamanan harus diperbarui lagi dari awal dan itu berarti akan menghabiskan banyak waktu dan energi yang mengalihkan fokus mereka untuk menjaga keamanan Sera.


Jika Sera tak bisa berpindah mendekat, maka ayah Seralah yang harus dipindahkan mendekat.


Xavier menganggukkan kepala dalam hening, mengambil keputusan dalam hatinya dan berniat untuk melaksanakannya secepatnya. Dia akan menghubungi Akram esok hari dan meminta persetujuan adik angkatnya itu untuk mengurus seluruh pemindahan ayah Sera ke rumah sakit yang dimiliki oleh Akram. Itu adalah keputusan paling efisien, karena selain jarak rumah sakit itu lebih dekat ke rumah, Sera juga akan melahirkan di rumah sakit itu sesuai rencana.


***

__ADS_1


 


Suara dering ponsel Xavier terdengar terus menerus tanpa menyerah pada pukul lima pagi saat Xavier yang sudah menyelinap kembali ke kamar dan terlelap dengan Sera dalam pelukannya mengerutkan kening dan membuka mata.


Dia tadinya memutuskan mengabaikan bunyi ponselnya yang membahana memenuhi seluruh penjuru kamar, tetapi sepertinya deringan itu tak mau berhenti sebelum Xavier mengangkatnya.


Mungkin ada informasi penting atau sesuatu yang terjadi.


Pemikiran itu membuat Xavier menegakkan punggungnya perlahan, berhati-hati supaya tak mengganggu Sera yang masih terlelap menempel dalam rengkuhannya dan tangannya bergerak meraih ponsel yang dia letakkan di nakas samping ranjang. Keningnya berkerut ketika melihat nama elios terpatri di sana dan dengan sigap dia langsung menerima panggilan ponsel dini hari itu.


"Ada apa?" Xavier menyahuti dengan waspada. Panggilan Elios di dini hari itu hanya memungkinkan satu hal, yaitu terjadi sesuatu yang buruk pada Akram atau pada Elana.


"Xavier. Tuan Akram menyuruhku menghubungimu. Beliau saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Nyonya Elana dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan."


 


 


 


***


***


***


***


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


 


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt


 


Yours Sincerely


AY


 


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2