Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 84 : Damai


__ADS_3


“Tidak enak,”


Entah sudah keberapa kali Akram menyebutkan kata yang sama hingga hampir membuat Elana mengerutkan bibirnya kembali dengan kesal. Lelaki itu menggigit sandwichnya, lalu menggerutu tanpa henti sebelum kemudian menggigit lagi, menggerutu lagi, seolah-olah dia hendak mengganggu Elana yang sedang menyantap bagiannya sendiri dan menunjukkan kepada perempuan itu, betapa terpaksanya dia harus ikut menyantap sandwich yang dianggapnya makanan kelas rendahan itu.


Bagi Elana sendiri, makanan yang ada di tangannya cukup lezat, dan dia memakannya dengan lahap. Mungkin karena mereka memang telah melewati jam makan siang hingga membuatnya kelaparan, mungkin juga karena rasa makanan yang sudah pasti di bawah standar bagi lidah Akram, ternyata cukup cocok di lidah rakyat jelatanya.


Roti yang menangkup lapisan daging dan sayuran di tangannya masih terasa lembut meskipun insiden tadi telah membuat makanan mereka terlanjur mendingin, irisan daging tipis berbumbu manis pedas dengan aroma bakaran yang tersisa juga terasa lezat di lidahnya, berpadu dengan sayuran segar yang menambahkan rasa gurih yang renyah ketika dikunyah. Saos dan mayones yang melengkapi pun, semakin menyeimbangkan rasa, dan bagi Elana, sepotong sandwich berukuran besar ini, sungguh cocok sebagai menu lengkap dan praktis untuk makan siang mereka.


“Seharusnya makanan seperti ini diletakkan di atas piring, disantap dengan pisau dan garpu. Kalau dengan cara seperti ini, isi dan saosnya berceceran kemana-mana, sangat jorok,”Sekali lagi terdengar suara Akram di sebelahnya, membuat Elana yang telah menelan gigitan terakhir sandiwchnya dan menahan diri sejak lama ketika mendengarkan segala omelan lelaki itu, akhirnya kehilangan kesabarannya.


Dia kemudian menolehkan kepala ke arah Akram, dan menatap jengkel ke arah lelaki itu yang bahkan belum menghabiskan seperempat potong dari sandwich di tangannya.


Akram malah tampak sedang memandangi makanan di tangannya dengan kening berkerut layaknya juri lomba masak kelas tinggi yang sedang menilai makannya.


“Rotinya murahan, hambar dan sama sekali tak wangi, teksturnya juga menempel di lidah ketika dikunyah. Daging yang digunakan sudah tidak segar, seperti dimasak hari kemarin… apalagi sayurnya layu dan tak enak, ini bukanlah sayuran organik tetapi sayuran beracun yang mengandung banyak pestisida di seluruh permukaan daunnya….”


Akram hendak menyambung dan melontarkan segala protesnya yang tampaknya akan sangat panjang,  tetapi kemudian dengan tidak sabar, Elana bergerak impulsif, lalu menyambar potongan sandwich yang masih tersisa tiga perempatnya itu dari tangannya Akram dan menggenggamnya dengan tangannya sendiri.


“Kau masih mau memakannya atau tidak? Kalau kau tidak mau, aku saja yang akan menghabiskannya. Aku masih lapar,” sahut Elana sambil mendongakkan dagu menantang, bersiap melawan segala kritik pedas Akram yang dikiranya akan menyusul kemudian.


Tetapi ternyata dugaannya salah, bukannya menyambungkan rentetan celaannya yang tadi sempat mengalir tanpa henti, pandangan Akram malah terpaku pada sanwich di tangan Elana yang telah tergigit olehnya.


“Ada bekas gigitanku di sana. Itu tidak higenis dan termasuk ke dalam kategori sisa makanan. Itu seharusnya langsung masuk ke dalam tempat sampah dan kau malahan mau memakannya?” sahut Akram dengan jijik.


“Memangnya kenapa kalau aku memakannya?” dengan jengkel Elana membuka mulutnya lebar, lalu menggigit sandwich itu dengan gigitan besar sebelum kemudian mengunyahnya dengan suara keras dan sikap menyebalkan.


Dia sudah bersiap untuk bertengkar dengan Akram. Tetapi sekali lagi, Akram memberikan reaksi tak terduga. Lelaki itu hanya menatap ke sisa sandwich yang bekas dia gigit di tangan Elana, lalu pandanganya kembali lagi ke arah Elana dengan tatapan pongah meremehkan.


“Itu bisa dibilang sebagai ciuman tidak langsung. Padahal jika kau menginginkan ciuman dariku, tidak seharusnya kau memakan bekas makananku. Kau tinggal bilang saja, dan aku akan memberikannya kepadamu.” Sahutnya dengan nada penuh percaya diri yang disengaja.


Seketika itu juga makanan yang dikunyah Elana dan ditelannya dengan tergesa langsung salah bergulir, bukannya melewati jalan kerongkongannya, makanan tersebut malahan tersangkut di batang tenggorokannya ketika Elana mendengar kalimat Akram tersebut. Bulu-bulu penolak di dalam tenggorokannya yang bertugas menjaga supaya tidak ada benda asing dari luar bisa menembus pertahanan menuju paru-parunya langsung bereaksi, bergerak melontarkan makanan itu keluar kembali dengan kecepatan penuh, hingga menembus melalui tenggorokannya dan sebagian lagi melalui hidungnya.


Elana terbatuk-batuk keras dengan suara tercekik yang menyiksa ketika dia menahan diri untuk tidak menyemburkan kembali makannya. Hidungnya terasa panas dan sakit, begitu juga dengan matanya yang langsung berurai air mata.


Astaga. Akram Night dengan segala kepongahannya memang selalu berhasil mengucapkan kalimat yang membuatnya terkejut setengah mati.


Melihat Elana berusaha berusaha memulihkan diri karena tersedak, Akram bergerak cepat menepuk punggungnya dan menawarkan air minum untuknya. Ketika Elana menerima botol air minum tersebut, dia mendongakkan kepala dan bibirnya menipis ketika melihat sudut bibir Akram tampak berkedut menahan tawa.


Lelaki sombong, angkuh, perfeksionis dan sok bangsawan ini berani-beraninya menertawakannya!


Ingin sekali Elana bersikap seperti anak kecil yang kolokan, yang langsung bangkit sambil kembali menghentakkan kaki marah dengan sikap merajuk. Tetapi, dia tahu bahwa dia tak bisa melakukannya, karena hal itu sudah pasti akan membuat Akram semakin menertawakannya.


***


__ADS_1


***


Segera setelah menyelesaikan makan mereka, Elana kembali memaksa Akram untuk mengunjungi klinik fasilitas kesehatan yang tersedia di Ocean Garden tersebut. Meskipun tampak kuat, Elana tahu bahwa Akram sedang menahan sakit, dan juga, luka terbuka di dadanya itu, jika tidak segera ditangani, takutnya akan bertambah semakin parah.


Beruntung ketika mereka melihat di peta raksasa yang terpasang di dinding kaca dekat lokasi mereka duduk, Elana menemukan bahwa lokasi klinik terdekat berada tak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Mereka hanya perlu berjalan sekitar dua ratus meter untuk mencapai tempat itu.


Anehnya, sikap para petugas klinik sungguh tak biasa. Begitu mereka mengetahui Akram dan dirinya melangkah masuk ke dalam klinik, seluruh petugas yang ada langsung tergopoh-gopoh menyambut, dan langsung memberikan pelayanan kelas satu secepat yang mereka bisa.


Seolah-olah semua orang telah diberitahu mengenai keberadaan Akram Night di sini dan diperintahkan untuk memberikan pelayanan yang terbaik.


Elana duduk di kursi ketika dokter menutup kembali luka Akram dan membebatnya dengan bebat yang sangat kuat. Keningnya berkerut ketika mengawasi Akram yang bahkan tidak berkeringat setetespun sepanjang penanganan terhadap lukanya yang pastilah sangat sakit.


“Apakah selalu seperti itu?” Elana memberanikan diri bertanya, menatap ke arah Akram yang duduk di pinggiran ranjang dan sedang memasang pakaiannya kembali.


Akram mendongakkan kepala dan balas menatap Elana. Keningnya berkerut tak mengerti.


“Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada tak mengerti.


Elana melirik ke arah pintu tertutup tempat dokter yang menangani Akram tadi melangkah pergi setelah sebelumnya berpamitan dengan sikap luar biasa sopan bercampur ketakutan.


“Perlakuan orang-orang kepada dirimu setelah mengetahui identitasmu…. Apakah… semuanya seperti itu?” tanya Elana kemudian, kembali dipenuhi keraguan.


Akram mengawasi ekspresi Elana, lalu entah kenapa senyum getir muncul di bibirnya.


“Hampir semuanya seperti itu. Begitu mereka tahu namaku, siapa aku, kekayaan yang kumiliki dan kuatnya latar belakang keluargaku, mereka semua langsung memasang topeng terbaiknya di depanku. Di satu sisi mereka berlomba-lomba untuk menjilatku dengan harapan hal itu bisa membuatku senang, dan di sisi lain, mereka menyimpan ketakutan mendalam akan malapetaka yang bisa menimpa mereka jika sampai mereka membuatku tidak senang,” mata Akram menyipit, lalu lelaki itu mengulurkan tangan ke arah Elana, sebelum kemudian memerintah dengan nada tak terbantahkan. “Kemarilah, Elana.”


Tanpa diduga, Akram meraih Elana mendekat, merangkulnya erat dengan kedua tangan melingkar di punggung Elana, merapatkan pinggang Elana di sela kedua kakinya yang terbuka, yang saat itu masih duduk di tepi ranjang perawatan.


“Kau tahu kenapa aku tidak ingin melepaskanmu?” Akram menggesekkan kepalanya erat ke kepala Elana, memeluknya rapat hingga Elana tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. “Itu semua karena kau adalah satu-satunya wanita, yang memperlakukanku sebagai diriku sendiri. Bukan sebagai orang kaya, orang berkuasa atau orang jahat yang harus ditakuti, tetapi benar-benar sebagai diriku sendiri, sebagai seorang Akram Night, lelaki biasa dengan segala kekurangannya yang kadang tidak bisa kau toleransi.”


Suara Akram entah kenapa tampak menyedihkan. Dan pada detik itu, barulah Elana menyadari bahwa selama ini, ada emosi kesepian yang tersamarkan di dalam jiwa Akram, disembunyikan baik-baik di balik sikap kerasnya yang membekukan, tenggelam di dasar dan tertutup berlapis-lapis perlindungan yang tak tertembus.


Akram mungkin tampak sempurna di luar dengan segala kekayaan dan kelebihannya, itu semua masih ditambah dengan orang-orang yang bersikap hormat serta memujanya. Tetapi… sekarang Elana menyadari bahwa jauh di dalam dirinya, Akram selalu kesepian dan menanggung beban hatinya seorang diri, karena tak pernah ada satu orang pun yang dia rasa mampu benar-benar memahami dirinya yang sesungguhnya.


Elana melingkarkan lengannya yang kecil ke tubuh Akram nan kokoh dan lelaki itu sama sekali tidak menolak tawaran penghiburannya. Punggung Akram yang tegang tampak santai ketika lelaki itu menggumamkan kalimat tak jelas, lalu bergerak dengan nyaman seolah bersandar kepada Elana.


Tubuh Elana mungkin tidak sekuat Akram, tetapi untuk saat ini, entah kenapa dirinya merasa seperti memeluk anak kecil manja yang tak pernah dipeluk dengan tulus sebelumnya.


***



***


Setelahnya, seharian itu sangat menyenangkan. Begitu mereka selesai berpelukan lama dalam keheningan, mengungkapkan apa yang ada di dalam perasaan mereka dalam bahasa tubuh dan pelukan erat tanpa kata, secara ajaib seolah tercipta sebuah pengertian satu-sama lain di antara mereka.


Tidak ada pertengkaran lagi setelahnya. Akram dan Elana, melewatkan sisa waktu mereka di taman hiburan itu dengan kedamaian utuh yang sebelumnya tak pernah bisa terwujud sempurna. Elana bahkan membiarkan Akram menggandeng tangannya dengan erat, menjaganya supaya tak sampai terpisah di tengah kerumunan pengunjung yang tampaknya semakin lama semakin penuh seiring dengan berlalunya hari.

__ADS_1


Langit sudah gelap ketika waktu menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Mereka berdua telah mencoba seluruh wahana yang tersedia, kecuali wahana-wahana yang menurut Akram membahayakan bagi keamanan mereka. Akram juga telah berhasil mencegah Elana menaiki roller coaster dengan tanjakan tertinggi di dunia yang diidam-idamkannya itu, dengan alasan bekas jahitan di dadanya yang mungkin akan terasa sakit jika harus menempuh wahana penuh guncangan dengan kecepatan tinggi.


Saat ini, Elana telah berhasil membujuk Akram untuk berdiri di tepi lapangan, di tempat yang teduh oleh pepohonan rindang pada posisi paling belakang dari kelompok manusia yang telah datang berduyun-duyun memenuhi lapangan hingga mereka berdiri rapat satu sama lain.


Elana tadinya mengajak Akram untuk masuk ke kerumunan, paling tidak ke tengah lapangan supaya pengalaman yang mereka dapatkan lebih terasa berkesan. Tetapi, tentu saja Akram menolaknya, lelaki itu lagi-lagi menggunakan alasan luka di dadanya dan mengatakan tidak mau sampai tersenggol orang lain dan menyakiti dirinya sendiri.


Entah kenapa Elana mengetahui kalau itu hanya alasan Akram saja. Akram bukanlah jenis orang yang lembek dan takut sakit. Lelaki itu jelas-jelas sedang menolak masuk ke dalam kerumunan dan berdesak-desakan dengan orang asing yang tidak dia kenal. Tetapi tentu saja Elana tidak mendebatnya, dia sungguh tidak ingin merusak suasana damai yang tercipta antara dirinya dan Akram selama beberapa jam terakhir ini.


Karena itulah, dia memilih mengikuti kehendak Akram, berdiri diam di bagian paling belakang lapangan, sedikit terpisah dengan kerumunan dan berada di dekat dinding yang dinaungi oleh pohon besar nan rindang.


Saat ini, semua orang berkumpul untuk menunggu atraksi penutupan puncak yang selalu diadakan ketika waktu menunjukkan pukul tujuh malam di tempat ini.Itu adalah atraksi kembang api yang legendaris, yang Elana pernah baca di beberapa artikel berita sebagai atraksi kembang api terbesar yang sangat indah, berwarna-warni, megah dan memanjakan mata.


Elana tidak pernah mengkhususkan diri untuk melihat kembang api secara langsung. Di malam tahun baru, kalau tidak sedang bekerja shift sebagai kasir supermarket, Elana akan memilih tidur lebih awal supaya bisa bangun pagi untuk bekerja keesokan harinya. Begitupun ketika dia masih tinggal di panti asuhan, karena panti asuhannya terletak di pinggiran kota, tidak pernah ada atraksi besar seperti pesta kembang api di sana. Ketika tinggal di kota, Elana kadang hanya sempat mendengarkan suara letupan-letupan bersahutan di langit pada malam tahun baru, atau juga matanya sempat menikmati percikan cahaya kembang api yang posisinya sangat jauh dari tempatnya berdiri ketika dia sedang kebetulan berada di luar rumah saat pergantian tahun tiba.


Sekarang, suasananya sungguh berbeda. Lapangan itu sangat luas, tak ada penghalang apapun bagi mereka semua untuk memandang ke atas, ke arah langit hitam yang seolah menjadi kanvas siap pakai terbentang lebar dan tersedia untuk dihiasi oleh percikan nyala kembang api yang berwarna-warni.


Semakin waktu mendekati pukul tujuh malam, semakin berdeguplah jantung Elana dengan penuh antisipasi, menunggu atraksi indah yang akan terjadi. Akram sepertinya merasakannya, lelaki itu menoleh ke arah Elana dan menyeringai ketika melihat perpaduan kebahagiaan dan kepolosan seorang anak kecil lugu yang mengiasi wajah Elana.


“Gugup?” tanya Akram tanpa bisa menahan senyumnya


.Elana mendongak ke arah Akram yang menunduk menoleh ke arahnya, dan dia membalasnya dengan senyum malu-malu.


“Ini… ini adalah yang pertama kali dalam hidupku. Bisa masuk ke taman hiburan ini, dengan semua atraksinya dan juga kembang api…. Terima kasih, Akram…” sahut Elana dengan ketulusan yang nyata.


Ekspresi Akram tak terbaca, lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya tipis, lalu tangannya yang menggenggam tangan Elana bertambah erat ketika letupan pertama tampak meluncur kencang menghiasi langit.


“Lihat!” ujar Akram cepat yang membuat Elana langsung memusatkan perhatiannya ke arah langit.Seketika itu juga, bunyi letupan keras terdengar, berbaur dengan percikan yang melebar membentuk lingkaran raksasa di udara dengan warna warni yang menghiasi, begitu indahnya hingga tampak seperti pelangi yang dipecahkan dan kepingannya dihamburkan untuk menghiasi langit.


Bibir Elana hampir tenganga melihat keindahan luar biasa yang tampak begitu dekat itu. Bahkan suara letupan kembang api yang memekakkan telinga itu sama sekali tak mengganggunya. Elana begitu terpesona, dimanjakan matanya oleh ledakan demi ledakan penuh warna di udara, begitu indahnya memanjakan mata.


Yang tidak disadarinya adalah, ketika Elana sibuk menatap terpesona ke arah kembang api, Akram malah sedang menatapnya dengan pandangan terpesona yang sama.


Lalu ketika pertunjukan kembang api itu hampir selesai, Akram tidak bisa menahan diri lagi. Lelaki itu merangkul Elana, membawanya ke dalam pelukannya, mengangkat tubuh Elana ke arah dirinya yang membungkuk, lalu menyambar bibir indah nan lembut dan setengah terbuka itu dengan bibirnya sendiri, menciuminya dengan sepenuh hasrat yang bukannya mereda setelah sentuhan, tetapi malahan semakin bergelora.


Semua orang masih mendongak menatap ke arah langit dan membelakangi mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa ada dua sejoli yang saling memadukan bibir di ujung sana, terbawa oleh nuansa magis yang melingkupi dan melembutkan hati mereka.


Ketika atraksi kembang api itu berakhir dan orang-orang mulai memenuhi udara dengan gumaman ramai dan bergerak membubarkan diri, barulah Akram melepaskan ciumannya. Ibu jari lelaki itu mengusap bibir Elana yang merekah basah setelah diciuminya habis-habisan, sementara matanya berkilat penuh hasrat ketika berucap.


“Ayo kita pulang dan bercinta,” 


***



***


__ADS_1



__ADS_2