Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 136 : END SEASON 1


__ADS_3


Hai, untuk yang sudah update Mangatoon versi terbaru 1.7.1 , kalian sudah bisa melakukan VOTE dengan menggunakan POIN melalui MANGATOON lho.


Tinggal Klik halaman depan novel Essence Of The Darkness di MANGATOON, lalu pilih tulisan VOTE di sebelah nama author annonymous yoghurt, dan berikan POIN mu untuk novel author ya


Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler  yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.



***


Author akan update episode tamat novel ini di hari Kamis 12 Desember 2019. Semoga bisa lolos di hari yang sama ya, kalau tidak mungkin baru akan lolos di hari jumat 13 Desember 2019. Terima kasih telah menemani Akram dan Elana dari awal sampai menjelang akhir. Author sangat berterima kasih kepada kalian semua.



***



***


“Kau cantik sekali,”


Akram menangkup sisi kiri dan kanan wajah Elana, lalu membungkuk untuk menciumnya mesra.


Mereka telah menyelesaikan upacara pernikahan dan kali ini adalah saat bagi pengantin pria untuk mencium pengantin wanitanya.


Pulau hijau telah dihias indah untuk upacara pernikahan pribadi yang sakral ini. Seluruh bagiannya berhiaskan bunga-bunga yang harum mewangi, sangat indah ketika dinikmati oleh mata.


Akram dan Elana menikah di luar ruangan, di halaman belakang rumah yang langsung menghadap kepantai. Angin pantai nan sejuk meniup pengantin dan juga sedikit tamu undangan yang merupakan orang terdekat saja yang duduk di belakang mereka.


Pada detik ini, Akram tidak menahan-nahan diri lagi. Lelaki itu melumat bibir Elana sepenuh hati, tidak peduli saat ini mereka berada di bawah tatapan orang-orang terdekat yang mendapatkan keistimewaan untuk menghadiri pernikahan pribadi Akram Night.


Lengan Akram melingkari pinggang Elana yang tampak cantik dengan gaun pengantin putihnya yang indah, memeluknya erat sementara lelaki itu mencurahkan seluruh cinta dan sayangnya kepada wanita yang memiliki hatinya dan akhirnya telah menjadi miliknya.


“Istriku,” Akram berbisik serak ketik melepaskan ciumannya dari bibir Elana. Tatapan matanya memuja, berbinar penuh kasih sayang yang nyata.


Sementara Elana, yang melingkarkan lengannya ke leher Akram membalas tatapan mata penuh cinta lelaki itu dengan senyuman terharu dan mata berkaca-kaca.


“Suamiku,” kata sakral itu akhirnya berhasil meluncur dari bibir Elana, terucap nyata dari bibirnya yang bergetar seiring dengan air mata yang menetes di pipinya.


Akram terkekeh, lalu lelaki itu mengecup air mata Elana dengan penuh sayang.


“Ini saat bahagiamu, kenapa kau menangis?” tanyanya lembut.


Elana tersenyum, tak bisa menahan tawa kecil yang terlepas dari bibirnya.


“Ini tangisan bahagia,” bisik Elana kemudian.


Dengan sayang, Akram membawa Elana ke dalam pelukannya, mengecup dahinya lalu merangkulkan lengannya penuh kasih.


Dokter Nathan yang melihat kemesraan kedua pengantin yang tak ditahan-tahan lagi itu mengerucutkan bibirnya. Para tamu yang diundang kesini, Elios, Credence, Xavier dan dirinya sendiri, adalah pria-pria lajang malang yang belum beruntung bisa menemukan cinta sejatinya, dan sekarang, dua makhluk berbahagia di depan mereka ini malahan sibuk memamerkan kemesraan penuh cinta meluap-luap tanpa merasa kasihan kepada mereka.

__ADS_1


Dengan sikap ingin mengganggu, Nathan mendekat ke arah pasangan pengantin yang masih berpelukan, lalu menepuk pundak Akram untuk menarik perhatiannya.


“Kapan kau akan melemparkan bunga pengantinmu itu kepada kami, lajang-lajang yang merana ini?” tanyanya jenaka ke arah Elana yang sedikit menundukkan kepala dan tersipu malu.


Elana tertawa, lalu lelaki itu menengadah dan menatap ke arah Akram seolah meminta persetujuan. Ketika lelaki itu menganggukkan kepala sedikit dan memberikan persetujuannya, Elana kemudian melepaskan diri dari pelukan Akram, dan melangkah menuju Xavier yang tampak begitu tampan, mengenakan jas resmi dan menghadiri pernikahan mereka sambil duduk di atas kursi roda karena dia belum pulih benar.


Melihat Elana mendatanginya, Xavier tersenyum lebar, dan Elana mendekat, lalu dengan lembut menyerahkan rangkaian bunga pengantin yang dibawanya itu ke pangkuan Xavier.


Mata Xavier melebar seolah tak percaya, ditatapnya Elana dengan kening berkerut.


“Untuk apa ini?” tangan Xavier memegang rangkaian bunga yang diberikan oleh Elana dengan sikap bingung.


Elana tertawa. “Bunga pengantin diberikan kepada orang yang beruntung menerimanya. Katanya, orang itu akan menjadi yang berikutnya menerima kebahagiaan,” ucap Elana kemudian.


Xavier tersenyum masam. “Aku tak pantas mendapatkan kebahagiaan itu, Elana, dan aku menyadarinya,” ekspresi Xavier tampak menahan sakit. “Sudah cukup bagiku melihat kebahagiaan kalian,” Xavier bergerak, hendak menyerahkan bunga pengantin itu kembali ke tangan Elana. “Berikan saja bunga pengantin ini kepada Elios, atau Credence, atau Nathan… dia yang kelihatannya paling menginginkannya.”


“Oh, ya, aku memang paling menginginkannya. Kenapa malahan kau yang mendapatkan bunga itu? Kau tidak adil, Elana” Nathan yang berdiri di samping Akram dan mencuri dengar, langsung menyahuti dengan sengaja.


Elana melirik ke arah Nathan dan menertawakannya, dan semua yang ada di sana ikut tertawa bersamanya. Setelahnya, Elana menatap serius ke arah Xavier, menolak pemberian kembali bunga itu dan menggenggamkannya kembali di tangan Xavier.


“Anggap saja bunga ini adalah doa dariku… supaya kau menemukan kebahagiaanmu kembali Xavier,” bisik Elana dengan sepenuh hati. “Karena aku tahu, kau pantas mendapatkan kebahagiaanmu. Setiap manusia, sebaik apapun dia, seburuk apapun dia, pantas mendapatkan kebahagiaan. Dan aku percaya, kau juga pantas mendapatkannya,” sambil mengucapkan kalimatnya, Elana membungkuk, lalu tanpa diduga, perempuan itu mengecup pipi Xavier, sebelum beranjak  dan membalikkan tubuh untuk kembali kepada Akram yang telah menunggu dan merangkul kembali istrinya dengan posesif di dalam pelukannya, meninggalkan Xavier yang terpana karena tak menyangka akan dicium.


***



***


Elana mendongakkan kepala, menatap Akram dengan penuh rasa ingin tahu.


“Itu hanyalah ciuman pipi … aku melakukannya untuk menunjukkan rasa terima kasihku… dan karena… karena Xavier tampak begitu sedih,” Elana mendongakkan kepala dan menatap ke arah Akram dengan malu-malu. “Kau… tidak sedang meras cemburu, bukan?” tanyanya kemudian.


Akram menipiskan bibir. “Meskipun aku sudah menerima Xavier sebagai saudaraku dan memandangnya dari semua sisi positif yang kubisa, aku akan tetap cemburu kepada lelaki manapun yang menerima ciumanmu,” tatapan Akram menajam, menunjukkan kalau lelaki itu serius dengan perkataannya. “Aku akan membebaskan Xavier saat ini karena ini adalah hari pernikahan kita dan aku tak ingin menodainya dengan insiden berdarah lagi, kau sudah terlalu sering mengalami insiden berdarah dan aku tak ingin kau mengalaminya lagi. Tetapi, lain kali, saat kau mencium lelaki lain, aku akan langsung menembaknya,” ancamnya cepat sedikit bersungut-sungut.


Elana langsung memukul lengan Akram untuk memperingatkannya. “Akram, jangan berkata seperti itu,” bisiknya pelan.


Akram terkekeh. “Kenapa? Kau harus tahu konsekuensinya setelah setuju menjadi Nyonya Night. Aku tak akan membiarkan siapapun menyentuh wanitaku,” ucap Akram dengan nada serius.


“Dan kau, Tuan Night, aku juga tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu sebagai gantinya,” sahut Elana, dengan cepat menyanggah sambil mengerucutkan bibirnya.


Bukannya marah, Akram malah tertawa ketika pertama kalinya Elana menunjukkan sikap posesif terhadapnya, dipeluknya Elana dan diciumnya kuat-kuat sekali lagi.


“Bukankah aku sudah berjanji kepadamu? Aku tak akan membiarkan tubuhku disentuh oleh orang lain selain dirimu. Aku milikmu, Elana, jiwa dan raga.”


Seolah waktunya tepat, musik klasik dari pemain musik khusus yang didatangkan di upcara pernikahan itu dimainkan dengan indahnya mengiringi mereka. Akram langsung membungkuk dengan sikap formal dan tersenyum menatap ke arah Elana yang berdiri di sana dengan pipi memerah malu.


“Sekarang Nyonya Night, bersediakah kau menemani Tuan Night yang kesepian ini untuk berdansa?” tanyanya lembut sambil mengulurkan tangan.


Elana tersenyum lebar, menerima uluran tangan Akram, lalu memeluk lelaki itu dan berdansa bersamanya. Mereka berdua begitu bahagia dan sibuk dalam selubung kebahagiaannya sendiri sehingga mengabaikan suara Nathan yang bersungut-sungut di belakang mereka.


“Sungguh pasangan pengantin yang tak punya hati,” ucap Nathan sedikit keras dengan sengaja. “Tak ada tamu perempuan cantik di sini, memangnya aku harus berdansa dengan Credence atau Elios. Xavier bahkan tidak bisa diajak berdansa karena dia terikat di kursi rodanya…”


Suara protes Nathan ditanggapi dengan  tawa semua orang yang ada di ruangan itu, diiringi musik indah yang mengalun merdu di antara hembusan angin laut sejuk yang berpadu dengan pemandangan indah di Pulau Hijau yang penuh sejarah ini, tempat segalanya di awal hubungan Akram dan Elana bermula, dan sekarang menjadi tempat terikatnya janji dua makhluk yang berakhir saling mencintai itu.

__ADS_1


***



***


“Aku sangat bersyukur bisa memilikimu, sudahkah aku mengatakannya hari ini?”


Setelah percintaan mereka yang panas di dalam kamar itu, yang menyisakan tubuh lembab berkeringat dan napas berkejaran, Akram menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Elana dan membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.


Ini adalah pertama kalinya mereka bercinta setelah sekian lama, dan Akram melakukannya dengan sehati-hati mungkin, berusaha keras agar tak menyakiti bayi mereka.


Dokter Nathan telah memberikan izinnya bagi Akram untuk bisa menyentuh Elana, karena hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan bahwa bayi mereka telah bertumbuh kembang dengan kuat di dalam perut Elana tanpa kekurangan suatu apapun. Tetapi, tentu saja tetap dengan catatan bahwa Akram harus melakukannya percintaan mereka dengan hati-hati dengan frekuensi yang tidak terlalu sering untuk menjaga kondisi kehamilan Elana.


Saat ini, kepuasan telah menjalari seluruh tubuh Akram, membuat mulutnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia. Tangannya bergerak menelusuri punggung Elana yang berada dalam peluknya, sementara jiwanya seolah melayang karena terlalu bahagia.


“Kau sudah mengatakan beberapa kali hari ini,” Elana menyahut dengan senyuman setelah berhasil menetralkan napasnya sendiri. Perempuan itu tampak berpikir sejenak, lalu berucap dengan nada malu-malu. “Tapi… tapi aku tak akan pernah bosan mendengarnya.”


Akram tersenyum lebar, lalu meraih dagu Elana dan mendongakkannya.


“Aku juga tak akan pernah bosan mengucapkannya, Elana. Aku mencintaimu,” ucapnya dengan nada serak kemudian.


Mata Elana berkaca-kaca ketika membalas tatapan Akram. “Aku juga mencintaimu, Akram,” balasnya dengan suara lembut penuh kasih.


Suasana berubah syahdu ketika Akram mengecup kembali bibir Elana, menikmati bibir perempuan itu sekaligus meluapkan cintanya yang melimpah.


Tubuh Akram bergerak secara otomatis mendekati Elana lagi, membuat pipi Elana memerah ketika merasakan bahwa lelaki itu telah berhasrat kembali.


“Akram…” Elana berbisik untuk menegur ketika menyadari bahwa Akram berniat untuk bercinta lagi dengannya. “Kata dokter Nathan… frekuensinya tidak boleh terlalu sering…”


“Ini malam pernikahanku, dan aku sangat ingin memeluk istriku,” ciuman Akram semakin dalam seiring dengan gerakan tangannya yang menggoda. “Aku akan sangat berhati-hati,” ucap Akram kemudian, memberikan janji yang tak bisa ditolak oleh Elana.


Tangan Elana merangkul punggung Akram ketika lelaki itu menyatukan jiwa dan raga merek dalam pertautan penuh cinta yang telah terikat oleh janji pernikahan sehidup semati.


Dua manusia yang berlawanan sisi, yang satu berada di atas dengan segala kegelapan yang melingkupinya, dan yang lain berada di bawah dengan sinar kepolosan yang menerangi cahaya redupnya, ternyata mereka berdua telah dipersatukan oleh takdir yang tak disangka mengikat mereka dalam jalinan cinta yang begitu dalam.


Akram Night tak pernah menyangka bahwa perempuan polos ini adalah perempuan yang akan memiliki hatinya, begitupun dengan Elana yang juga tak menyangka bahwa seorang lelaki kejam dan gelap seperti Akram yang pada akhirnya bisa meluluhkan hatinya untuk mencoba mencintai.


Segala hal telah mereka lalui, kebencian, kekejaman, rasa ingin memiliki, cemburu, kelembutan hati, rasa sayang dan kemudian berujung pada cinta sejati yang tak terelakkan lagi.


Dan Akram Night yang saat ini sedang memeluk perempuan kesayangannya di tangannya, akan selalu mengulang mantra itu di dalam jiwanya. Bahwa dia akan selalu mensyukuri kehadiran Elana di dalam kehidupannya, begitupun sebaliknya. Bersama meraka akan bergandengan tangan, menyongsong masa depan bahagia, bersama anak buah cinta mereka yang akan terlahir kemudian.


***






__ADS_1


__ADS_2