Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 33 : Seberkas Penyesalan


__ADS_3

“A-apa katamu?” Mata Sera membelalak lebar seolah tak percaya. Begitu vulgar dan kasarnya kalimat yang diucapkan oleh Xavier hingga bahkan otaknya pun jadi kesulitan menerjemahkannya.


“Buka pakaianmu dan naiklah ke ranjang. Lakukan apa yang sudah menjadi tugasmu sesuai kesepakatan, maka aku akan melakukan apa yang sudah menjadi tugasku sesuai kesepakatan juga.” Xavier sama sekali tak berkedip ketika mengucapkan kalimatnya. Ekspresinya sendiri terlihat begitu dingin dan tak terbaca hingga Sera tak mampu menembusnya.


“K-kau benar-benar akan melakukannya dengan cara seperti ini?” Sera tak mampu menahan diri dan akhirnya bertanya dengan nada ngeri. Xavier benar-benar merendahkan hal sakral yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri yang terikat oleh pernikahan, menganggapnya sebagai proses teknis yang tak berarti.


Pembuahan katanya? Apakah Xavier sengaja mengabaikan posisi Sera yang merupakan manusia dengan segala kehendak dan kemauan pribadinya yang harus dihormati? Apakah Xavier menutup mata terhadap itu semua dan menganggap Sera yang manusia ini, hanya sebagai hewan atau tumbuhan untuk dibuahi supaya bisa menghasilkan keturunan?


Xavier menyeringai. “Kenapa kau malah bertanya kepadaku? Ini yang kau inginkan, bukan? Tadi aku sudah mencoba bersikap sebagai pengantin yang romantis dan berniat memperlakukanmu dengan baik, sebagai manusia yang setara, sebagai istriku. Tetapi kau malah menolaknya mentah-mentah. ” Tangan lelaki itu sudah melepaskan kancing terakhir kemejanya, lalu melemparkan pandangan angkuh ke arah Sera. “Kalau kau memang ingin diperlakukan sebagai mesin pembuat anak saja, maka dengan senang hati aku akan memberikannya kepadamu. Lebih mudah bagiku, jadi aku tak perlu repot-repot menghabiskan energi untuk merayumu. Kau tinggal berbaring saja dan membiarkan aku menanamkan benihku ke tubuhmu.”


Begitu merendahkannya kalimat Xavier itu, sehingga mendorong Sera untuk melonjak bangkit dari posisinya duduk, melemparkan buku di pangkuannya ke sofa, lalu secara refleks tangannya terayun untuk menampar lelaki itu keras-keras.


Suara tamparan itu membahana, menggema di kamar nan senyap dan tertutup tersebut. Sementara, Xavier malahan bergeming setelah menerima tamparan keras tersebut. Lelaki itu hanya mengusap pipinya perlahan, lalu mengangkat alis sambil menatap Sera dengan pandangan mencemooh.


“Aku tak mengerti kenapa kau menamparku, padahal aku sudah memberikan apa yang kau mau. Wanita, apakah kau punya semacam masalah di kepalamu sehingga kelakuanmu begitu kontradiktif dan susah dipahami?” Xavier mengucapkan kalimatnya lambat-lambat, tak lupa menyelipkan nada mengejek kental dalam suaranya.


Hal itu membuat kemarahan Sera semakin tersulut. Napasnya tersengal seiring dengan dadanya yang naik turun menahan emosi.


Ketika dia mendongakkan kepala untuk menatap Xavier, segenap kebencian terpancar nyata dari tubuhnya.“Aku menamparmu karena mulutmu yang sangat kurang ajar itu, Xavier. Aku tak akan membiarkan diriku direndahkan oleh manusia sepertimu!” sentak Sera dengan marah.


Xavier terkekeh, lalu tanpa peringatan, lelaki itu tiba-tiba menggunakan tangannya untuk meraih pinggang Sera dan memerangkap perempuan itu dalam rengkuhan pelukannya yang kuat. Lengan-lengannya yang kokoh memagari Sera dengan erat, menarik perempuan itu merapat kepadanya sehingga upaya Sera yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri menemui jalan buntu.


“Manusia seperti apakah suamimu ini, istriku?” Xavier menggunakan sebelah lengannya untuk mencengkeram rahang Sera dan mendongakkan perempuan itu ke arahnya. Cengkeramannya lembut tak menyakiti, sekaligus sangatlah kuat, membuat Sera tak bisa menolehkan kepala meskipun dia berusaha melakukannya.


“Sejahat-jahatnya aku, Seburuk-buruknya aku di matamu, bahkan sebesar apapun kau merasakan jijik dan muak kepadaku, kau tetap tak bisa mengingkari bahwa manusia ini sudah menjadi suamimu. Apakah kau tak sadar, bahwa meskipun kau menyangkal, memberontak, membantah dan membuang-buang seluruh tenagamu untuk melawanku, pada akhirnya kau akan tetap tunduk di bawah kakiku?” tanya Xavier dengan nada arogan yang disengaja.


Mulut Sera terbuka, hendak menyanggah, tetapi isyarat tangan Xavier membuat kalimat apapun yang hendak dilontarkannya langsung terhenti seketika.


“Tidak usah mengatakan apapun. Aku memiliki kunci untuk membuatmu menurutiku, dan jika kau terus menerus membangkang, jangan salahkkan aku jika terpaksa menggunakannya untuk membuat perlawanan bebalmu itu berhenti,” geram Xavier dengan nada mengancam yang nyata.


Sera membeliak ketika menyadari bahwa meskipun Xavier tidak mengucapkan ancamannya dengan gamblang, lelaki itu tengah memperingatkannya tentang keselamatan ayahnya dan Aaron. Perlahan, Sera menghela napas panjang, berusaha menjaga harga dirinya di hadapan lelaki itu meskipun saat ini dia tak punya pilihan selain tunduk dan menurut. Hatinya sakit ketika menyadari kebenaran perkataan Xavier.


Lelaki itu benar, Sera saat ini benar-benar tak berdaya di bawah lelaki itu karena Xavier memiliki kunci untuk membuatnya berubah menjadi bidak tanpa kekuatan yang bisa digerakkan semaunya.


“Kau mungkin bisa membuat ragaku membungkuk di kakimu. Tetapi, kau harus tahu, bahwa aku akan selalu membencimu, Xavier Light! Apapapun yang akan kau lakukan pada ragaku, aku berani menjamin bahwa hatiku tak akan goyah! Aku akan….hmmph!”


Ungkapan kebencian Sera terhenti paksa ketika tangan Xavier menekan sisi pipinya dan memaksa mulutnya membuka, lalu tanpa peringatan, lelaki itu membungkuk dan menanamkan bibirnya di bibir Sera, menciumnya tanpa izin dengan jenis ciuman paling intim yang bisa diberikan oleh seorang lelaki pada seorang perempuan.


Lidah lelaki itu menjelajah lembut, masuk tanpa izin dan mencicipi tanpa permisi, sementara tangan Xavier yang tadinya mencengkeram rahangnya, bergeser lembut menangkup kedua sisi kepala Sera, lalu menggunakan ibu jarinya untuk mengusap pipi Sera dengan gerakan seringan jaring laba-laba, bergulir lembut di permukaan kulitnya, menambahkan sensasi senyar yang langsung merambati seluruh tubuh Sera, menjalar kemana-mana.


Lelaki itu memperdalam ciumannya, membuat Sera tak berdaya dengan keahlian jelajahnya yang melemahkan. Sebelah tangannya lalu bergerak, mengusap lengan Sera, menuruni pinggangnya dengan gerakan menggoda. Tangannya meremas pinggul perempuan itu, mendorong Sera supaya merapat ke tubuhnya yang berhasrat. Xavier mempererat kedekatan mereka, memastikan Sera menyadari betapa besar keinginannya untuk memeluk dan menyatukan diri dengan perempuan itu, hingga memancing erangan lemah terlepas dari mulut Sera yang sedang diciumi dengan penuh hasrat.


Ketika telinganya yang tajam mendengar erangan tak berdaya Sera yang lolos tanpa bisa ditahan itu, Xavier yang sedang menautkan lidahnya pada lidah Sera dengan pilinan menggoda, tersenyum senang dengan bibirnya yang masih menempel di bibir Sera.


Lelaki itu perlahan melepaskan bibirnya yang tadinya di tanamkan dalam di bibir perempuan itu, tetapi tak membiarkan kedekatan mereka merenggang seinci pun. Lengan-lengan-lengannya masih memeluk perempuan itu dengan rapat, sementara sebelah tangannya masih menangkup pipi Sera, menjaga wajah mereka tetap dekat, dengan ujung hidung menempel, napas berpadu dan bibir yang masih berbagi uap hangat, terengah akibat panasnya ciuman mereka sebelumnya.


“Ayo ke ranjang,” ucap Xavier dengan nada parau penuh hasrat.


Lelaki itu tak mau repot-repot memberikan kesempatan bagi Sera untuk membantah dan langsung bergerak membungkukkan tubuh untuk meraup tubuh Sera ke dalam gendongannya. Kakinya bergerak cepat, melangkah menyeberangi ruangan dan membawa tubuh pengantinnya itu ke atas ranjang, untuk kemudian membaringkan tubuh Sera di sana.


Kesadaran Sera yang masih berkabut akibat terbuai oleh ciuman Xavier, mulai meneriakkan alarm peringatan di kepalanya. Matanya mengerjap dan ketika menyadari bahwa dirinya sudah berada di atas ranjang dan terjebak di sana tanpa daya.


Seketika Sera melenting bangun, hendak mencoba bangkit dari tempat itu dan menggunakan sedikit sisa kesadarannya untuk mencoba melarikan diri dari Xavier. Sayangnya, kepalanya langsung menubruk dada Xavier yang sudah menempatkan diri di atas tubuhnya.


Lelaki itu menyangga tubuhnya dengan siku di sisi kepala Sera, lalu setengah membungkuk hingga wajahnya tepat berada di atas wajah Sera. Bibir Xavier mengulas senyum sensual, sementara matanya membara penuh hasrat ke arah wanitanya.


Lalu tanpa kata, Xavier menunduk, kembali menanamkan bibirnya ke bibir Sera dan menciuminya habis-habisan sebagai penghantar rayuan menuju malam pertama mereka.


***


Lelaki itu masih berbaring rapat di atas tubuhnya setelah memuaskan dirinya.


Sera bahkan bisa merasakan dada Xavier yang naik turun setelah selesai mendapatkan apa yang dia inginkan dari tubuhnya setelah proses percintaan panas yang berlangsung begitu lama dan membakar.


Meskipun mulut Xavier vulgar dan kasar ketika berucap, ternyata lelaki itu melakukan yang sebaliknya ketika bercinta.


Xavier memperlakukan Sera dengan lembut, perlahan-lahan membujuk Sera yang gemetaran supaya mengikuti langkahnya, mengajarinya dan menggandeng tangannya memasuki dunia baru yang dulunya tak pernah berani di sentuh oleh Sera sebelumnya.


Xavier memiliki pengendalian diri yang kuat, mampu bersabar menunggu sampai dirasanya Sera siap, lalu perlahan-lahan membawa Sera menapaki tangga kenikmatan yang sama sekali tak pernah dia bayangkan bisa dirasakan oleh tubuhnya yang tak berpengalaman.

__ADS_1


Napas keduanya masih terengah setelah bekejaran mencapai pemenuhan, kulit Xavier yang tak berpenghalang menempel di tubuh Sera, sementara aroma feromon nan sensual melingkupi Sera, membuatnya hampir-hampir merasa pening tak terkendali.


Tubuhnya sakit, dan itu wajar karena wanita manapun yang mengalami saat pertamanya pasti merasakan kesakitan. Tetapi, rasa sakitnya jauh lebih ringan daripada cambukan Samantha Dawn yang dilakukan dengan menggila dan tak terkendali ke tubuhnya bertahun lampau, karena itulah Sera masih mampu menahannya.


Meskipun begitu, hatinya sesungguhnya lebih sakit, dan rasa sakit di hatinya itu malahan lebih menyesakkan dadanya dibanding kesakitan fisik.


Perempuan mana yang tak akan menangis ketika dipaksa memberikan tubuhnya, tubuhnya yang tadinya suci, kepada seorang lelaki yang tidak dicintainya? Perempuan mana yang tak akan menangis ketika dipaksa memberikan dirinya karena ancaman?


Kenyataan bahwa Xavier bersikap lembut hingga membuat Sera terbuai, tetap tak bisa menutup kebenaran bahwa lelaki itu menggunakan ancaman untuk menundukkannya.


Apakah dengan ini dia sudah ditasbihkan sebagai benda? Hanya sebagai wadah yang digunakan Xavier untuk menyemai benih demi kepentingan lelaki itu?


Meskipun Sera sudah bertekad untuk mengorbankan diri demi orang-orang yang dia cintai, tetap saja ada rasa kehilangan yang begitu mengerikan menjalar di benaknya, menciptakan palung kosong di jiwanya yang hanya bisa diisi oleh rasa sesak dan mencekik.


Sera merasakan isak yang menjalar dan menyiksa di tenggorokannya mulai merambat naik, menciptakan rasa panas yang membakar matanya dan membuat nuansa basah mengambang, mengalir dari sudut matanya dan melumuri bola matanya.


Xavier sendiri, yang masih berusaha menenangkan dirinya setelah ledakan kesenangan yang tak disangka itu, akhirnya merasakan perubahan diri Sera. Tadinya dia ingin memeluk perempuan itu dengan lembut, saling berbagi kesenangan dan terima kasih atas pemuasan yang mereka dapatkan, dan berencana untuk tidur sambil tetap merapatkan perempuan itu di tubuhnya.


Tetapi, Xavier kemudian merasakan dada perempuan itu naik turun, seperti hendak meledak menahan tangisan tak terkendali. Hal itu membuat Xavier mengangkat kepalanya yang tenggelam di sisi wajah Sera dan tadinya sedang asyik menghidu aroma menyenangkan dari wanita yang telah berhasil dimilikinya.


Kening Xavier langsung berkerut ketika dia melihat air merebak di mata Sera.


Perlahan, dipenuhi kecemasan, Xavier melepaskan dirinya dari istrinya lalu mengangkat tubuhnya dan menggulingkan tubuhnya turun dari ranjang. Seketika itu juga Sera langsung menarik selimut yang berserakan di kakinya, menutupkan ke tubuhnya dan menenggelamkan diri dalam isak tertahan tanpa mau menunjukkan wajahnya kepada Xavier.


Xavier tertegun, dipenuhi rasa bersalah yang sama sekali tak dia mau.


Tak pernah dia sangka bahwa wanita yang beruntung bisa menjadi istrinya, malahan menangis tersedu seolah dibanjiri penyesalan mendalam setelah mereka berbagi kenikmatan pada malam pertama mereka.


Atau jangan-jangan dia salah? Hanya dialah yang merasakan ledakan kenikmatan itu, sementara Sera malahan kesakitan? Apakah Xavier terlalu lupa diri hingga tak mempedulikan kondisi Sera sepanjang percintaan mereka tadi?


Tetapi, Xavier telah berusaha selembut mungkin. Dia tak pernah bercinta dengan perawan sebelumnya, jadi dia sangatlah berhati-hati ketika menyentuh istrinya untuk pertama kalinya tadi. Dia bahkan tak menyatukan diri dengan perempuan itu sebelum dirinya memastikan bahwa Sera sudah siap untuknya.


Hanya saja, ada detik dimana dia terbuai dan lupa diri, apakah pada saat itulah Xavier melukai istrinya tanpa sadar, membuatnya kesakitan hingga menangis?


Xavier menghela napas panjang untuk menyingkirkan segala penyesalan tak tertahan yang merasuk dan bergulung di dalam benaknya. Dia lalu membungkuk dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu memakainya satu persatu.


“Aku akan meminta pelayan untuk mengirimkan obat pereda sakit dan kompres untukmu,” ucapnya kemudian dengan nada dingin, lalu membalikkan tubuhnya, membuka pintu dan hendak melangkah keluar dari kamar. Tetapi, ketika berada di ambang pintu yang terbuka, Xavier seolah teringat sesuatu dan lelaki itu menolehkkan kepalanya lagi ke arah Sera.


Suaranya tajam dan penuh ancaman ketika berucap kemudian.“Jangan pernah mencoba melukai dirimu setitik pun, atau akan membuat ayah dan Aaronmu itu hidup dalam siksaan dalam jangka waktu lama sebelum membiarkan mereka menyambut kematian.” Xavier mengucapkan kalimat peringatan itu karena dia mengingat insiden Elana yang diketahuinya melakukan percobaan bunuh diri setelah Akram menjamahnya dengan paksa.


Tentu saja Xavier tak ingin hal yang sama terjadi pada Sera. Dia tak akan kuat menanggungnya.


Tak ada jawaban dari Sera. Perempuan itu masih terisak dengan punggung kurusnya bergoncang oleh sedu sedan, sepenuhnya mengabaikan ucapan Xavier.


Sekali lagi Xavier menghela napas panjang, berpikir untuk mengaktifkan kamera pengawasan untuk memastikan Sera tidak melakukan hal-hal yang bodoh ketika dia tak ada untuk mengawasi, lalu memaksa diri menuntup pintu kamar itu dan melangkah pergi, meninggalkan pengantinnya seorang diri dan tak berniat mengganggunya lagi sepanjang malam ini.


***


Langkah Xavier memelan ketika dia mendekati area pintu lorong yang menghubungkan dengan ruang duduk besar yang tersedia di baliknya.


Perlahan dia membuka pintu itu, lalu kakinya langsung membawa tubuhnya menuju sebuah bar besar yang memenuhi hampir seluruh sisi dinding ruangan.


Diambilnya salah satu botol vodka yang menarik perhatiannya, sebuah botol kristal buatan tangan yang dilengkapi detail emas, terbungkus dalam kotak kayu kenari, beludru, dan sutra.


Musim dingin di Rusia membuat sebagian besar penduduknya menjadi peminum vodka dengan tujuan awal untuk menghangatkan tubuh, minuman beralkohol yang diklaim berasal dari negara ini. Minuman beralkohol ini dibuat dari semua tumbuhan yang kaya akan gula, mulai dari grain ( jagung, gandum,sorghum, dan rye ), anggur, kedelai dan bahkan kentang.


Standar kadar alkohol Vodka yang dihasilkan di Rusia juga cukup tinggi, mencapai 38,3% yang kemudian dibulatkan menjadi 40%, sehingga mampu menjalankan fungsi utamanya untuk menghangatkan tubuh.


Vodka yang ada di tangan Xavier ini cukup terkenal dengan citarasa aslinya. Bahkan dikatakan bahwa ini adalah jenis vodka yang dibuat bagi orang-orang yang ingin mencicipi pengalaman menjadi seorang bangsawan. Vodka ini benar-benar dibuat untuk raja-raja. Disuling dengan menggunakan berlian dan disaring melalui emas dan perak, vodka ini diklaim memiliki citarasa serupa dengan vodka yang kerap dihadiahkan Tsar Nikolai II untuk Kerajaan Inggris.


Tetapi, untuk saat ini, Xavier tidak sedang ingin mencicipi cita rasa vodka itu ataupun ingin merasakan menjadi bangsawan. Pun, dia juga tidak sedang ingin menghangatkan tubuh. Tubuhnya sudah cukup hangat dan terpuaskan setelah memeluk istrinya tadi.


Yang diinginkannya saat ini adalah memasukkan kadar alkohol yang cukup tinggi ke dalam tubuhnya, supaya terserap oleh aliran darahnya, lalu memabukkan dirinya hingga bisa membuat otaknya yang selalu jernih ini bisa berkabut meski hanya untuk sementara waktu, dan syukur-syukur segala kekacauan itu bisa membuatnya tertidur.


Xavier lelah.


Dia hanya ingin bisa tidur sejenak dan melupakan semuanya untuk sementara waktu, mengistirahatkan pikirannya yang tumpang tindih dengan berbagai hal yang tak mungkin bisa dilupakannya. Sayangnya, kemampuan otaknya yang mengerikan, yang membuatnya mampu mengingat setiap detail secara terperinci tanpa lekang oleh waktu dan tak bisa melupakan. Hal itu kadang-kadang mempengaruhi mentalnya hingga membuatnya kesulitan tidur.


Berapa gelas yang harus dihabiskannya sampai dia bisa mabuk berat lalu jatuh kehilangan kesadaran?

__ADS_1


Xavier masih menimang-nimang botol itu di tangannya ketika sebuah gerakan di pintu mengalihkan perhatiannya dan membuatnya waspada. Tangan Xavier sendiri langsung bergerak ke bagian bawah meja bar, meraih pistol otomatis mematikan yang disimpan di sana demi keamanan.


Sosok Akramlah yang muncul kemudian.


Ketika Xavier mengenali bahwa Akramlah yang ada di ambang pintu, tubuhnya yang semula menegang langsung berubah santai, dan tangannya yang tadinya hendak meraih pistol dari bawah meja, langsung terlepaskan begitu saja.


“Apa yang kau lakukan berkeliaran di sini malam-malam begini, Akram?” tanya Xavier dengan nada sinis sedikit jengkel.


Akram mengerutkan keningnya ketika melihat Xavier yang tengah menimang botol vodka mahal dan duduk dengan menyedihkan di depan bar yang terdapat di ruang duduk tersebut. Lelaki itu lalu melangkah masuk ke ruang duduk tersebut dan mengawasi Xavier dengan saksama.


“Aku sedang berusaha menjauhkan tanganku dari istriku, kalau tidak, aku tak akan berhenti menyentuhnya semalaman, padahal aku tahu bahwa dia harus beristirahat.” Akram menyeringai, ekspresinya dipenuhi dengan senyum dan kepuasan.


Akram lalu membanting tubuhnya duduk di sofa besar yang terletak di tengah ruangan. “Tadinya aku ingin berenang di kolam renang belakang untuk mendinginkan tubuh, tetapi aku kemudian menemukan gerakan mencurigakan di ruang duduk ini yang ternyata adalah dirimu.”


Tidak ada bodyguard yang berjaga di depan pintu ruangan tempat Xavier berada seperti biasanya, karena itulah Akram tadinya tak menyangka kalau Xavierlah yang ada di ruangan ini.


Tatapan Akram dipenuhi pertanyaan ketika mengawasi ekspresi Xavier yang getir, sementara Xavier sendiri masih membisu sambil menimang-nimang botol itu di tangannya seolah sedang menimbang-nimbang apakah akan meminumnya atau tidak.


“Kusarankan tak usah kau lakukan. Kau sudah cukup banyak minum-minuman beralkohol di pesta pernikahan nanti. Jika kau menambah lagi, kemungkinan besar itu akan berpengaruh pada kesehatan tubuhmu. Kau tak lupa kalau dirimu sedang sakit, bukan?” Akram berucap dengan nada tegas ketika menemukan keraguan Xavier. “Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya malam ini kau bersenang-senang dengan pengantinmu dan menjalankan tujuanmu untuk membuatnya hamil? Atau jangan-jangan, kau diusir oleh pengantin perempuanmu karena tak mampu memuaskannya?” tanya Akram dengan nada setengah mengejek.


 


***


***


***


REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR


JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom


PENULIS : YOZORA


 


 


***


***


***


___PRAKATA DARI AUTHOR___


- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.


-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya


- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR\, klik aja profil author\, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.


- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara\, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.


Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.


Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).


- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata\, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.


 


Thank You


Sincerely Yours - AY


 


 

__ADS_1


__ADS_2