Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 7 : Tak Terduga


__ADS_3


Upload 3/6 part minggu ini.


"Dimitri."


Xavier yang melangkah melewati ambang pintu privat room dari restoran mewah itu langsung mengulas senyum ketika matanya bersirobok dengan sosok yang sudah dinanti untuk dia jumpai dengan penuh antisipasi.


Tanggapan Dimitri tentu saja berkebalikan dengan keramahan yang diberikan oleh Xavier. Lelaki itu memberi isyarat kepada para anak buahnya yang berdiri dengan tegap di belakangnya untuk bersiaga dan berjaga-jaga kalau-kalau Xavier melakukan tindakan mengerikan di luar nalar.


Sikap Dimitri itu tentu saja tak lolos dari pengawasan Xavier, membuat lelaki itu terkekeh dengan sikap mengejek, lalu mengambil posisi duduk di seberang meja, tepat dihadapan Dimitri yang tampak semakin tegang.


Ketakutan Dimitri sebenarnya cukup beralasan. Rekam jejak Xavier sangat mengerikan, dan rumor yang berkembang di dunia bawah seakan diberikan bumbu penyedap yang membuat kisah tentang Xavier Light, sang ahli racun jadi berkembang lebih menyeramkan daripada kenyataannya.


Mereka bilang Xavier sudah membunuh dengan kejam di usia belum genap sepuluh tahun. Satu lagi cerita yang membuat semua orang takut pada Xavier Light, adalah cerita yang tersebar mengenai sindikat penjahat yang mencuri uang Xavier di belakang punggungnya, dimana mereka semua akhirnya mati dalam kondisi mengenaskan di ruang tertutup, teracuni oleh gas pembunuh yang misterius dan tak terlacak oleh pihak berwajib.


Karena itulah saat ini, Dimitri bersikeras untuk menjadi pihak yang menentukan tempat pertemuan mereka. Dia sengaja memilih lokasi pertemuan di sebuah restoran umum yang sangat terkenal, dengan banyak sekali manusia yang menghabiskan waktunya untuk makan malam di jam-jam seperti ini.


Ruangan tempatnya menemui Xavier sekarang memang merupakan ruangan tertutup yang menjamin privasi pelanggan, tetapi tetap saja mereka hanya dibatasi oleh dinding yang di sekelilingnya banyak sekali manusia tak berdosa yang tak tahu apa-apa.


Sekejam-kejamnya Xavier, Dimitri tahu bahwa Xavier hanya membunuh orang-orang jahat yang perlu diberi pelajaran. Lelaki itu tak mungkin melakukan pembunuhan masal dengan menyebarkan gas beracun yang mungkin bisa menyebar ke seluruh penjuru restoran.


Ya. Dimitri saat ini berada di posisi sulit, dia telah menjadi salah satu orang jahat yang menggantungkan kehidupannya di tangan Xavier. Dirinya lengah dan akhirnya terjebak oleh kekejaman Xavier, hingga saat ini, tak ada yang bisa dilakukannya selain mengikuti kemauan psikopat gila itu.


"Kenapa kau begitu tegang? Ekspresimu seolah-olah kau akan meledak sebentar lagi. Apakah kau kesakitan?" Sambil melemparkan tatapan mengejek ke arah Dimitri dan para anak buahnya yang waspada, Xavier mengangkat bahu dan berucap sambil lalu, "Kalian bisa tenang. Aku tak akan melepaskan gas beracun di sini. Kurasa merupakan keputusan tepat bagimu mengadakan pertemuan di tempat umum semacam ini. Itu bisa sedikit meredakanku, meskipun kau pasti tahu bahwa aku tidak mungkin datang sendiri tanpa perlindungan diri."


Mata Xavier meredup dengan sikap mengancam. "Jangan berpikir untuk melakukan hal-hal yang menentang kesepakatan kita, atau kujamin bahwa kau akan berakhir mengenaskan," ancamnya dalam desis mengerikan.


Perkataan Xavier itu membuat Dimitri mengepalkan tangan dan menggertakkan gigi. Merasa marah dan tersinggung, sekaligus frustasi karena dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Dimitri adalah pemimpin klan mafia tertinggi di Rusia yang sangat dihormati, tetapi di sini, di negara ini, dia benar-benar dibuat tak memiliki kendali apapun.


Dua bersaudara dengan nama belakang yang bertolak belakang itu benar-benar menjadi duri dalam daging di hidupnya. Dia mengaku bahwa dirinya telah membuat keputusan impulsif dengan tak berpikir panjang menerima tawaran kerjasama dari Maya. Tanpa mempertimbangkan keputusannya, Dimitri langsung pergi ke negara ini, didorong ketergesaan untuk menuntut balas kepada dua bersaudara yang membuatnya merugi dan merasa dipermalukan luar biasa oleh kelicikan mereka.


Akram Night dan Xavier Night memang telah memberikan pabrik senjata dan pabrik penelitian senjata biologis mereka kepada Dimitri. Semua itu telah dipindahtangankan dengan resmi dan berlandaskan hukum legal. Sayangnya, sebelum proses serah terima itu dijalankan, Akram dan Xavier sepertinya telah bekerjasama dengan memindahkan aset temuan terbaru mereka yang sepertinya belum terdaftar secara legal.


Pabrik yang diberikan kepada Dimitri, hanyalah berisi hasil penelitian lama, kuno dan jauh tertinggal dengan jenis terbaru yang lebih hebat.


Pantas saja dua bersaudara itu dengan mudah melepaskan perusahaan mereka.


Hal itu membuat Dimitri alih-alih mendapatkan keuntungan besar dari hal ini, akhirnya malahan menerima malu dan kerugiaan yang cukup besar. Kemarahan itulah yang membuatnya tak membuang waktu dan langsung menerima tawaran kerjasama dari Maya.


Ya, meskipun tak mengenal Maya dengan baik, tetapi Dimitri tahu reputasi Maya dari hasil penyelidikannya. Perempuan itu dekat dengan Credence yang terkenal, dan siapapun yang dekat dengan ahli keuangan berpengaruh itu, layak untuk dipertimbangkan sebagai rekan.


Sayangnya, keputusan impulsif itu akhirnya berbuah pada kehancuran. Pada malam kedatangannya ke negara ini, bukannya Maya yang datang menemuinya, tetapi Xavier telah mengirimkan anak buahnya yang terlatih, seorang perempuan yang ditugaskannya untuk berperan sebagai Maya, dengan bentuk fisik  dan wajah yang terlihat sama, hingga tidak membuat Dimitri merasa curiga.


Tanpa mengetahui bahwa Maya yang asli sedang meregang nyawa dalam insiden di rumah sakit yang juga melukai Xavier, Dimitri menerima Maya palsu masuk ke dalam batas teritorinya dan mengendorkan pengawasan karena menganggap bahwa perempuan itu tidak berbahaya.


Yang terjadi kemudian sudah bisa ditebak. Perempuan itu menusukkan racun ke dalam tubuhnya, mengatakan bahwa hanya Xavierlah yang memiliki penawarnya dan mulai detik ini, hidupnya bergantung pada belas kasihan Xavier.


Dan di sinilah dia sekarang, merendahkan diri demi mendapatkan penawar racun yang dengan sengaja diberikan oleh Xavier secara bertahap untuk mengikatnya supaya tunduk kepadanya.


Racun itu memang tidak mengganggu fisiknya, selama mendapatkan penawarnya di waktu yang tepat, tetapi jika penawarnya terlambat diberikan, racun itu dengan mudahnya akan merusak organ-organ dalam yang vital di tubuhnya, lalu akhirnya membunuhnya. Sudah berbulan-bulan Dimitri menggantungkan hidupnya hanya dari pemberian penawar yang diberikan secara berkala oleh anak buah kiriman Xavier.


“Kenapa sekarang kau merasa perlu menemuiku?” Dimitri mengajukan pertanyaan dengan sikap curiga. Biasanya Xavier hanya mengirimkan anak buahnya untuk mengirimkan penawar racun kepada Dimitri. Baru kali ini lelaki itu memutuskan datang sendiri menemui Dimitri. Itu berarti, psikopat gila ini akhirnya membutuhkan sesuatu dari dirinya.


Dimitri tahu bahwa dia harus menggunakan kesempatan ini untuk bernegosiasi dengan Xavier supaya dia mendapatkan penawar racun sepenuhnya sehingga tidak perlu menggantungkan hidupnya pada belas kasihan Xavier. Dia akan melakukan segala yang diminta oleh Xavier untuk dilakukannya jika itu memang perlu.


“Karena setelah sekian lama, aku akhirnya bisa menemukan kegunaanmu.” Xavier menjawab dengan gamblang dan setengah mengejek. “Aku ingin kau menyelidiki seorang perempuan.” Xavier menyodorkan berkas dalam amplop cokelat ke arah Dimitri. “Penyelidikku menemukan bahwa dia hidup di negaramu hingga beranjak remaja. Negaramu adalah salah satu negara tertutup yang susah ditembus oleh orang luar dengan banyak data yang dienskripsi supaya tidak mudah ditembus oleh orang luar. Tetapi aku tahu kalau kau sebagai orang dalam yang memiliki kekuasaan, bisa mendapatkan informasi dengan mudah.”


Dimitri melebarkan mata seolah tak percaya.


“Aku adalah pemimpin organisasi mafia paling besar di negaraku dengan pengaruh besar dan ditakuti di negaraku, dan kau meracuniku berbulan-bulan lamanya, hanya untuk menyuruhku menyelidiki seorang wanita? Seorang penyeldik biasa bisa melakukan pekerjaan ini jika mereka mau berusaha. Kenapa kau harus melibatkanku dalam pekerjaan remeh ini?” Geraham Dimitri bergemeretak menunjukkan ketersinggungannya dengan jelas. “Kau pikir aku ini siapa? Apakah kau sengaja melakukan ini untuk mempermalukanku?” serunya marah.


Xavier sama sekali tak berkedip menghadapi gertakan itu.


“Kau ini siapa? Bagiku kau bukan siapa-siapa. Kau mungkin memiliki kekuatan di negaramu. Tetapi di sini, di tempatku, kau tak lebih dari manusia dengan tubuh penuh racun yang bergantung pada belas kasihanku untuk memberikan penawar bagimu. Tidak ada yang bisa kaulakukan selain mengerjalan apa yang kuperintahkan.” Mata Xavier menyipit penuh ancaman. “Baca berkas itu. Nama perempuan itu Serafina Moon, kemungkinan besar itu adalah nama asli meskipun semua selain namanya sudah dimodifikasi. Aku ingin kau datang kepadaku membawa kabar baik dalam waktu satu bulan,”

__ADS_1


Xavier meletakkan benda lain di meja. Sebuah tabung khusus untuk mewadahi serum penawar yang dibutuhkan oleh Dimitri.


“Serum penawar ini berbeda dengan yang kemarin-kemarin yang bisa mempertahankan tubuhmu dari serangan racun selama tiga bulan. Yang ini hanya bisa membantumu selama satu bulan. Jadi, jika dalam sebulan ini kau tidak datang kepadaku dan membawa hasil memuaskan, aku akan memastikan kau tidak akan mendapat penawar lagi sampai kematian datang menjemputmu.”


Setelah mengucapkan kalimat ancamannya, Xavier beranjak dari tempatnya duduk dan membalikkan tubuhnya, melangkah pergi sambil meninggalkan nuansa mencekik yang tak mengenakkan ke seluruh penjuru ruangan yang ditinggalkannya.


 


 



 


Sera duduk di depan meja rias sederhana di dalam kamarnya dan menatap wajahnya sendiri di cermin.


Ketika sedang tidak memakai riasan, wajahnya tampak begitu pucat. Sementara itu, Sera juga telah menanggalkan wignya dan meletakkanya dengan rapi di kotaknya. Tangannya lalu bergerak, melepaskan cepol rapat rambutnya yang tadinya ditata rapi dengan tertutup jaring hitam penahan ketat yang membungkus kepalanya, lalu membiarkan rambut panjangnya terurai menyentuh bahunya.


Mata Sera bertemu dengan tatapan dari bayangan dirinya sendiri di cermin dan dia menemukan sinar kelelahan di sana.


Perlahan Sera mengangkat tangannya dan mengusapkan kapas basah dengan aroma menyegarkan sebelum kemudian menepuk-nepukkan di wajahnya untuk menyalurkan nuansa dingin yang menyenangkan di kulitnya.


Bukan hanya wajahnya yang tampak kelelahan, seluruh tubuhnya juga merasa lebih lemas dari sebelumnya. Itu semua mungkin karena dia harus menahan ketakutannya dalam menghadapi Xavier tadi pagi.


Orang bilang, bersandiwara itu terasa sangat melelahkan….


Setelah membuang kapas basahnya ke tempat sampah, Sera beranjak dan membanting tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat.


Dia sudah dilatih untuk ini, jadi tidak seharusnya dia ambruk begitu saja hanya karena sebuah pertemuan singkat untuk sesi wawancara. Seluruh jiwa dan raga Sera harusnya siap menghadapi Xavier dan dia semestinya sudah bisa mengatasi rasa takutnya pada Xavier sejak bertahun-tahun lalu.


Sera harus kuat. Kalau tidak, bagaimana jika nanti dia mendapatkan pekerjaan itu dan menghabiskan hampir delapan jam hidupnya di setiap hari kerja untuk menjadi asisten pribadi lelaki itu?


Tetapi, bagaimanapun juga, mengatasi phobia yang sudah dirasakannya sejak belia tentu saja bukanlah sesuatu yang mudah. Xavier telah menanamkan trauma itu kepada dirinya, bahkan tanpa lelaki itu menyadarinya.


Sera adalah perempuan pemberani. Sudah banyak tugas yang diberikan kepadanya dan selalu berhasil dilaksanakannya dengan penuh keberanian nan gemilang. Tetapi kelemahannya adalah Xavier Light.


Tubuh Sera begidik ngeri ketika membayangkan tatapan intens lelaki itu yang seolah menembus ke dalam jiwanya. Seandainya saja Sera tidak terikat hutang budi dan juga keinginan mendapatkan keadilan, pasti Sera akan memilih terbirit-birit lari dan bersembunyi.


Untuk sekarang saja, dia sudah berlebihan memberi tameng diri, hanya untuk mencegah Xavier memilik keingintahuan lebih kepadanya secara pribadi.


Sera sudah menyelidiki kekasih-kekasih Xavier, dan semuanya memiliki tipe yang hampir sama. Mereka semua adalah perempuan bertubuh proposional dengan tipe wajah elegan, pendiam dan tanpa senyum dan memiliki rambut panjang nan indah.


Untuk perlindungan dirinya, Sera mendandani diri dengan penampilan yang sangat bertolak belakang dengan wanita-wanita Xavier sebelumnya. Dia mengenakan wig kualitas terbaik yang tampak seperti rambut asli, dengan potongan pendek yang jauh berbeda dengan selera Xavier yang dikenalnya, dia memakai pakaian longgar yang tak menonjolkan bentuk tubuhnya yang indah, dia tidak merias wajahnya dengan elegan dan sengaja membuat penampilan wajahnya sedikit berantakan, dan dia sengaja bersikap ceria, cerewet dan polos seperti anak kecil, yang dia tahu bahwa itu merupakan tipe yang tidak disukai oleh Xavier karena lelaki itu biasanya menyukai tipe wanita yang lebih dewasa dan pendiam.


Ya, Sera membuat dirinya begitu bertolak belakang dengan wanita-wanita yang pernah menjadi kekasih Xavier sebelumnya. Dia memastikan dirinya berada di luar lingkup perempuan yang menjadi selera Xavier.


Tetapi, tentu saja secara profesional, Sera melakukan yang sebaliknya. Dia mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menunjukkan kepandaiannya dan betapa pantasnya dia menempati posisi sebagai asisten pribadi Xavier.


Kepandaian dan kecerdasan Sera memang tak diragukan lagi adalah salah satu senjata andalannya. Mungkin karena itulah dia dianggap berharga dan dipertahankan. Karena, semua orang berpikir bahwa hanya dialah yang bisa mengimbangi Xavier Light yang memiliki kecerdasan mengerikan.


Mata Sera terpejam ketika dia memaksa pikirannya beristirahat.


Entah apa yang akan terjadi di masa depan nanti, dia hanya bisa diam dan berharap Xavier menyadari potensi dirinya yang besar dan akhirnya memutuskan untuk menerimanya sebagai asisten pribadinya.


Hanya dengan menusuk ke dalam lingkar keamanan Xavier yang dijaga ketat itulah, Sera bisa melaksanakan misi yang ditugaskan kepadanya… dan semua ini tergantung pada keputusan Xavier apakah akan menerimanya sebagai asisten pribadinya, atau tidak.


Jika Sera gagal dan Xavier tidak menerimanya… mungkin Sera harus menerima bahwa dia akan disingkirkan dan dianggap tidak berguna lagi….


Mata Sera terpejam oleh rasa kantuk yang mulai menyerang. Kelelahan secara fisik dan mental membuatnya lekas terlelap tanpa bisa menahan diri lagi.


Jika dia gagal… bukankah itu bagus? Itu berarti Sera bisa mati tanpa harus berurusan dengan Xavier yang menjadi sumber ketakutan dan monster yang menghiasi mimpi-mimpi buruknya.


 


 

__ADS_1



 


Dua hari setelah proses wawancara itu telah berhasil dilalui Sera meskipun dengan penuh ketegangan. Seolah-olah ada seutas tali yang melingkari lehernya dan siap mencekiknya jika Sera melonggarkan kewaspadaannya.


Mata Sera selalu tertuju kepada ponselnya, menunggu dengan harap-harap cemas.


Sama sekali tidak ada panggilan dari Night Corporation yang mengabarkan tentang hasil wawancaranya kemarin.


Apakah itu artinya dia gagal? Apakah itu artinya dia membuang semua usaha dan kerja keras yang disusun dalam rencana rapi selama bertahun-tahun ini dengan sia-sia?


Tetapi, bukankah seharusnya perusahaan sebesar Night Corporation akan menangani kandidat pelamar di perusahaan mereka, baik yang gagal maupun yang berhasil, dengan cara yang profesional?


Bahkan saat Sera gagal pun, mereka akan menginformasikan dan membuat pemberitahuan secara resmi, bukan?


Sera memikirkan itu semua dalam kondisi setengah melamun sambil mengaduk tetesan madu murni dan lemon ke dalam teh hangatnya untuk memadukan rasa nikmat menyegarkan di dalam cangkir tehnya tersebut. Karena itulah, ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi, tubuh Sera terlonjak dalam keterkejutan, hampir-hampir membuat cangkirnya terjatuh dan menumpahkan isinya.


Mata Sera tertuju pada ponselnya dan pupilnya langsung melebar.


Nomor telepon tak dikenal… apakah itu adalah panggilan yang diharapkannya?


Kemungkinan besar memang seperti itu, mengingat nomor ini adalah nomor yang benar-benar baru dan hanya orang-orang tertentu yang bisa dihitung dengan sebelah tangan yang mengetahuinya.


Tangan Sera menyambar ponsel itu. Dirinya berdehem sedikit untuk menetralkan suaranya supaya terdengar profesional, sebelum kemudian menerima panggilan ponselnya dan menyapa.


“Halo, Selamat pagi, dengan Sera di sini,”


“Selamat pagi, Nona Sera.”Suara ramah yang penuh senyum di seberang sana langsung merenggut jantung Sera ke dalam genggaman dan meremasnya kuat hingga napasnya terasa sesak.


Jemari Sera yang memegang ponselnya gemetaran. Dia tak mungkin salah mengenali suara ini. Itu adalah suara Xavier light yang khas, dengan nada suara lembut nan ramah, tetapi menyelipkan ancaman tersirat sangat berbahaya di dalamnya.


Jika ini berhubungan dengan hasil wawancaranya, Xavier Light seharusnya cukup memerintahkan sekertaris atau bagian personalia di perusahaannya untuk menghubungi Sera. Tetapi kenapa Xavier yang menghubunginya sendiri?


“Aku seharusnya memerintahkan Elios untuk menghubungimu, tetapi setelah kupikir-pikir, ada baiknya aku yang langsung menghubungimu langsung. Karena… ada kondisi-kondisi tertentu yang harus kujelaskan kepadamu.“


Xavier berucap di seberang sana dengan kalimat telak, seolah-olah lelaki itu bisa membaca pikiran Sera.


“Kondisi-kondisi khusus?” Sera mengulang kalimat Xavier seperti orang bodoh. Keterkejutan membuatnya sedikit kesulitan mencerna perkataan lelaki itu.


“Ya. Kondisi dan persyaratan khusus.” Kembali terselip nuansa senyum di suara Xavier yang malahan membuat Sera begidik ngeri. “Intinya, kau adalah kandidat terbaik jika dibandingkan dengan kandidat lainnya dan posisi sebagai asisten pribadiku ada dalam genggamanmu. Tetapi, ada perkembangan terbaru yang membuatku harus mendiskusikan beberapa hal denganmu terlebih dahulu sebelum kita membicarakan tentang kontrak pekerjaan.”


Berbarengan dengan suara Xavier tersebut, suara bel pintu tiba-tiba terdengar dari bagian depan rumahnya membuat Sera terdistraksi dan kebingungan. Perumahan ini cukup sepi di pagi hari, dan meskipun Sera mengenal tetangganya dengan baik, hampir tidak pernah ada tetangganya yang datang bertamu ke rumahnya.


“Nona Sera, mengingat bahwa kondisi dan persyaratan yang akan aku ajukan ini cukup penting serta rahasia, aku berpikir bahwa lebih baik kita berdiskusi secara tatap langsung empat mata dan bukannya melalui ponsel,” Xavier berucap lagi seolah menuntut perhatian Sera yang sempat teralihkan oleh suara bel dari pintu depan rumahnya. “Jadi, saat ini aku sudah ada di depan pintu rumahmu. Biasakah kau membiarkan aku masuk sehingga bisa bercakap-cakap secara pribadi denganmu?”


 


 




 


Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.

__ADS_1



__ADS_2