
EOTL ( Essence Of The Light - Story of Xavier Light and Serafina Moon )
***
Ekspresi Xavier yang berubah drastis membuat Sera yang sedang mempersiapkan bumbu untuk menumis sayuran dan telur di depannya jadi mengerutkan kening. Tidak pernah sebelumnya dia melihat Xavier menampilkan emosinya dengan jelas di wajahnya. Lelaki itu memang biasanya tampak pucat, tetapi kali ini darah seolah disurutkan paksa dari wajahnya, membuat kulit Xavier benar-benar seputih kertas.
Mata Sera mengawasi ketika Xavier akhirnya menutup pembicaraan dengan gumaman tak jelas, lalu mematikan sambungan ponselnya sebelum kemudian merenung dalam senyap. Kecemasan langsung merayapi hati Sera ketika melihat tingkah Xavier yang tak biasa itu.
Hanya kabar yang benar-benar buruk atau benar-benar mengejutkankah yang mungkin bisa sampai membuat Xavier meloloskan topeng ketenangannya seperti itu....
"Ada apa?" Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Sera memutuskan untuk bertanya.
Xavier mengerjapkan mata, seolah pertanyaan Sera itu membangunkannya dari jiwanya yang diliputi rasa terguncang. Matanya menyusuri keseluruhan diri Sera, lalu lelaki itu berdehem sejenak untuk menenangkan dirinya.
"Kurasa kita harus memundurkan jadwal untuk menjenguk ayahmu menuju esok hari. Barusan Dokter Nathanlah yang menelepon, dia hendak melakukan pemeriksaan mendadak karena suatu pertimbangan.”
Sera mengerutkan kening. "Pemeriksaan? Apakah ada hubungannya dengan lukamu?" tanyanya kembali.
Sekali lagi Xavier berdehem, sikapnya tampak aneh, seolah-olah lelaki itu kesulitan merangkai kata.
"Semacam itulah." Xavier mengalihkan pandangannya dari mata Sera, lalu memusatkan perhatiannya ke arah masakan yang sedang dipersiapkan oleh perempuan tersebut. Lelaki itu tiba-tiba saja beranjak dari posisinya duduk dan melangkah memutari pantry menuju ke area dapur tempat Sera berdiri.
"Kau ingin memasak apa?" Xavier yang sudah menjajari Sera tiba-tiba bertanya, mengalihkan perhatian Sera dari pembahasan sebelumnya.
Sera mengerutkan keningnya, mendongak sedikit ke arah Xavier dengan ekspresi bingung.
"Aku hanya akan menumis sayuran, lalu menambahkan telur ke dalam tumisan." Meskipun tak mengerti kenapa tiba-tiba Xavier tertarik dengan masakannya, Sera tak urung menjawab juga. "Kenapa? Apakah kau mau?" tanyanya menawarkan.
"Aku mau." Tanpa diduga, Xavier menerima tawaran tersebut. Lelaki itu lalu melangkah meninggalkan sisi Sera dan bergerak menuju lemari pendingin di belakang mereka. "Kurasa kita harus menambahkan porsinya, lebih banyak sayuran hijau bergizi dan juga protein."
Lelaki itu mengeluarkan sekotak keju segar dari lemari pendingin dan menunjukkannya kepada Sera. "Apakah kau suka jika ditambahkan keju ke dalam tumisanmu?"
Sera melirik sedikit, lalu menganggukkan kepala. Mungkin memang Xavier baru menyadari bahwa dia sama kelaparannya seperti halnya Sera. Tadinya Sera ingin memasak makanan yang sederhana saja, yang cukup untuk mengganjal perutnya. Tetapi, bukan masalah jika bahan makanan lain ditambahkan di sana, Sera sendiri tak keberatan dengan keju pada makanannya.
Melihat anggukan Sera, Xavier melongok lagi ke arah lemari pendingin, seolah-olah masih belum puas dengan apa yang ditemukannya. Lelaki itu lalu mengeluarkan sebungkus daging asap dan sosis homemade berkualitas tinggi yang juga tersedia di sana. Setelah mendapatkan bahan-bahan yang diinginkannya, Xavier mengeluarkannya dari kulkas dan meletakkannya di pantry besar tempat Sera mempersiapkan sayurannya tadi.
Mata Sera melebar, dirinya kemudian meringis dan menatap Xavier setengah menahan tawa. Lelaki itu sungguh tak main-main ketika sedang ingin makan. Berbagai macam sayuran hijau, jagung, tomat, jamur mahal semua ditambahkannya dan itu pun masih ditambah keju, sosis dan daging asap kualitas nomor satu sebagai tambahan protein selain telur. Xavier tampaknya ingin memasukkan semua bahan itu ke dalam masakannya.
"Tadinya aku hanya ingin membuat tumisan telur dan sayuran biasa. Tetapi sepertinya kau berpikiran lain, kau seolah ingin memasukkan resep menu restoran ke dalam makan siang kita." Sera mengeluarkan pendapat setengah bersungut-sungut dan hal itu berhasil memancing Xavier untuk terkekeh.
Tanpa didiga, Xavier kemudian meraih bahu Sera dengan kedua tangannya, lalu mengarahkan perempuan itu dan mendorongnya untuk memutari serta meninggalkan sisi pantry tempatnya berdiri semula.
Sera tidak menolak digiring seperti itu meskipun keingintahuan yang kental semakin menderas di benaknya.
Lelaki ini bertingkah aneh sejak menerima panggilan telepon tadi. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuat Xavier seolah tak menjadi dirinya sendiri seperti ini?
"Aku harus memasak." Sera memprotes ketika Xavier menekan tubuhnya supaya duduk di kursi depan pantry. Dia berusaha bangkit dari kursi tersebut tetapi Xavier menahannya dengan kuat.
"Duduklah di sini, akulah yang akan memasak untukmu. Jika menyangkut memasak, maka akulah yang lebih ahli dari dirimu." Xavier bersikeras, melemparkan tatapan tak mau dilawan ke arah Sera. "Duduk saja, Sera. Untuk kali ini aku tak mau dibantah." Lelaki itu mengeluarkan nada suara tegas yang biasanya dia gunakan untuk mengancam orang-orang. Lalu, tanpa memberikan kesempatan pada Sera untuk berbuat sesuatu, Xavier memutari kembali pantry dan mulai menyiapkan masakannya.
Sera sendiri memutuskan untuk diam dan melihat saja. Perutnya sudah lapar dan jika waktunya dihabiskan untuk bersitegang dengan memaksakan keinginan mereka masing-masing, bisa-bisa mereka malahan tak jadi makan dan tetap kelaparan. Salah satu dari mereka harus mengalah kali ini dan Sera tak keberatan melakukannya.
Lagipula, cukup enak duduk sambil bertopang dagu di tempatnya sekarang sambil menikmati pemandangan Xavier yang tengah mengiris sayuran dengan begitu cekatan dan rapi.
Lelaki itu benar, ketrampilannya memegang pisau jelas sekali berada jauh di atas Sera, bahkan irisan sayurnya bisa menampilkan hasil yang seragam dan konstan. Mungkin memang Xavier dilahirkan untuk melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Sera membatin dalam diam sementara matanya mengawasi dengan tertarik ketika Xavier akhirnya menumis bumbu-bumbu masakan itu di atas kompor.
"Kau akan membuat tumisan sayuran dan telur sesuai rencana, bukan?" Ketika aroma harum mulai tercium memenuhi ruangan, Sera mau tak mau menghirupnya dengan penuh sukacita. Dia masih tak yakin dengan apa yang dimasak oleh Xavier.
__ADS_1
Xavier terkekeh, melirik sedikit ke arah Sera sementara tangannya sibuk menumis sayuran dan berbagai bahan masakan yang dimasukkannya secara bertahap.
"Aku tetap membuat menu yang sama seperti yang kau rencanakan sebelumnya. Hanya saja, aku menambahkan sentuhanku sehingga membuatnya sedikit lebih elegan," jawabnya dengan nada angkuh sedikit menggoda.
Sera mencibirkan bibirnya, tetapi dia tak menyahuti. Dirinya memutuskan untuk menunggu sampai bisa mencicipi dulu masakan Xavier yang disombongkannya itu sebelum berkomentar.
Tak perlu menunggu lama, Xavier menuangkan tumisannya itu ke dua piring besar, lalu mendorong salah satu piringnya ke depan Sera. Mata Sera melebar ketika melihat bahwa porsi yang diberikan oleh Xavier ke pirinnya jauh lebih banyak, hampir dua kali lipat dari porsi yang diletakkan oleh Xavier untuk dirinya sendiri.
"Kenapa kau memberiku makan banyak sekali?" Sera bertanya bingung, matanya masih membanding-bandingkan antara piring di depannya dengan piring milik Xavier. Xavier bisa dibilang hanya mengambil seporsi kecil saja untuknya dan menuangkan seluruh sisa porsinya ke piring Sera.
Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran Xavier? Lelaki ini menambahkan porsi bahan makanan untuk dimasak tadi seperti orang yang kelaparan, tetapi hanya mengambil sedikit saja ketika masakan itu sudah matang.
"Habiskan makananmu. Kau lebih lapar dibandingkan diriku, bukan? Makanlah cepat, setelah itu kita pergi." Xavier menarik kursi untuknya sendiri lalu duduk di meja sisi seberang Sera, dia kemudian menyuap makanan ke mulutnya seolah tak peduli.
Sikap Xavier itu membuat Sera sengaja mendekus keras untuk menunjukkan kejengkelannya, tetapi mau tak mau dia ikut juga menyuapkan makanan ke mulutnya. Sera sungguh lapar, perutnya mulai terasa perih dan aroma serta penampilan indah makanan di depannya ini luar biasa menggoda seleranya.
Suapan pertama yang dikunyahnya menciptakan sensasi lezat yang langsung membaluri indra perasanya. Sera mengerjapkan mata, senang dengan rasa masakan yang berpadu di dalam mulutnya, lalu dia menyuap lagi dengan suapan besar penuh selera.
"Enak?" Xavier yang ternyata mengamati suapan demi suapan yang dilakukan oleh Sera tak bisa menahan diri untuk bertanya.
Sera mengangguk dengan bersemangat. Perempuan itu tak bisa menjawab karena mulutnya sedang penuh oleh makanan.
Xavier tersenyum, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Makanlah yang banyak. Kurasa kau membutuhkannya," ucapnya kemudian dengan nada misterius yang tak sempat ditangkap oleh Sera karena terlalu terpaku pada makanan di depannya.
***
"Duduklah dan biarkan Dokter Nathan yang bekerja."
"Kau akan mengambil darahnya sekarang, kan?" tanyanya kemudian ke arah Nathan.
Dokter Nathan melirik sedikit ke arah dua makhluk di depannya itu, lalu menganggukkan kepala tipis.
"Sebentar lagi," jawabnya tenang.
Sera yang sejak tadi terdiam, melirik ke arah Xavier dan Dokter Nathan berganti-ganti. Sang dokter tampak sibuk sendiri sementara Xavier malahan berdiri tegang menanti di dekat Sera dan bukannya ikut duduk di sofa bersamanya.
"Dokter Nathan mengambil darahku?" Karena Xavier tak juga menoleh ke arahnya, Sera akhirnya menyentuh sedikit ujung lengan kemeja Xavier untuk menarik perhatian lelaki itu. "Jadi, kita di sini bukan untuk memeriksakan kondisimu, akan tetapi untuk memeriksaku? Kenapa darahku diambil? Bukankah beberapa hari yang lalu Dokter Nathan sudah mengambil darahku untuk pemeriksaan TORCH? Apakah ada yang salah?"
Ketika Xavier tak juga memberikan jawaban atas berondongan pertanyaan yang dilontarkannya, rasa cemas langsung mewarnai ekspresi wajah Sera. "Apakah hasil pemeriksaan dari test TORCH kemarin, ada yang menyatakan bahwa aku terpapar dari virus-virus itu?" sambungnya takut. Dirinya jadi ingat ketika sedang berkebun dan Dokter Nathan menegurnya karena potensi penularan virus toksoplasma dari tangan yang memegang tanah tetapi tidak dicuci bersih.
Pemeriksaan TORCH adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi adanya berbagai virus yang berpotensi menyebabkan komplikasi dan gangguan pada janin. TORCH merupakan singkatan dari Toksoplasmosis, Other infection ( infeksi lain ), Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes simplex virus. Pada ibu hamil atau yang sedang merencanakan kehamilan, ada baiknya pemeriksaan ini dilakukan terlebih dahulu untuk mendeteksi keberadaan virus-virus yang terkadang tak disadari oleh wanita karena bergejala ringan, atau bahkan tak bergejala sama sekali.
Pada wanita yang sedang merencanakan kehamilan, jika memang hasil pemeriksaan dinyatakan positif, dokter akan memberikan terapi obat-obatan untuk 'membersihkan' tubuh dari virus terlebih dahulu sebelum memulai program kehamilan. Bagaimanapun, jika perempuan yang sudah hamil dinyatakan positif terhadap salah satu komponen virus tersebut, maka dokter akan melakukan metode terapi obat khusus yang aman bagi ibu hamil, sekaligus memastikan bahwa virus itu tidak mengganggu perkembangan janin dan menyebabkan komplikasi kehamilan serius ke depannya.
Karena virus-virus ini bisa menyebabkan gangguan kehamilan, keguguran atau gagal lahir dan bahkan cacat pada fisik janin di dalam kandungan, maka pemeriksaan TORCH ini sebaiknya wajib dilakukan oleh wanita-wanita yang sedang merencanakan kehamilan atau yang sudah terlanjur hamil. Sebab, dengan deteksi dini, maka dokter akan bisa menetapkan metode terbaik untuk menjaga terwujudnya kehamilan dan kelahiran yang sehat.
"Tidak. Kau bersih. Tidak ada virus di tubuhmu." Dokter Nathan membalikkan tubuh, mempersiapkan jarum untuk mengambil darah Sera. "Hasil test TORCH-mu menyatakan semuanya negatif. Tubuhmu baik-baik saja."
Sera mengerutkan kening sambil menatap ke arah Dokter Nathan yang sedang membungkuk, mengoleskan cairan dingin di bagian dalam sikunya.
"Jadi, untuk apa dokter mengambil darahku lagi?" Perlahan Sera mengajukan pertanyaan, alisnya sedikit mengerut ketika ujung jarum suntik itu menempel di kulitnya.
"Tahan sedikit, ini akan cepat." Dokter Nathan berucap tenang, memfokuskan dirinya untuk mengambil darah Sera dan melakukannya dengan cepat sesuai dengan perkataannya. Tidak butuh waktu lama bagi Dokter Nathan untuk menyelesaikan tugasnya. Lelaki itu lalu melakukan apa yang harus dilakukannya sebelum kemudian menekan panggilan intercom untuk memanggil anak buahnya.
Seorang perawat langsung datang mengetuk dan Dokter Nathan memberikan sampel darah itu untuk diantarkan ke bagain laboratorium guna dilakukan pemeriksaan di sana.
__ADS_1
Lelaki itu lalu bersedekap, menyandarkan tubuh di meja kerjanya dan menatap Sera dengan alis terangkat.
"Kau datang ke sini tanpa tahu apa-apa. Apakah Xavier tak mengatakan sesuatupun kepadamu?" ujarnya kemudian, malah balik bertanya.
Kembali Sera melirik ke arah Xavier dan Dokter Nathan berganti-ganti.
"Mengatakan apa?" Kejengkelan mulai merayapi Sera karena dirinya diombang-ambungkan dalam ketidaktahuan yang menyesakkan. Xavier sendiri tampaknya tak mau membantu. Lelaki itu tampak terdiam, sengaja memberikan panggung kepada Dokter Nathan supaya sang dokterlah yang menjelaskan. "Sebenarnya ada apa? Apa yang kalian sembunyikan dariku? Aku sakit apa?" berondong Sera kembali dengan pertanyaan bertubi.
"Kau tidak sakit apa-apa. Jangan cemas, Sera. Stres tidak akan baik bagi kondisi tubuhmu, jika apa yang kuduga benar adanya." Dokter Nathan melirik ke arah Xavier seolah meminta izin, ketika Xavier hanya mengangkat bahunya, sang dokter akhirnya melanjutkan kembali perkataannya. "Aku melakukan test kehamilan ulang pada sampel darahmu yang kuambil terakhir kali, ternyata hasilnya menunjukkan data berbeda dengan hasil-hasil yang sebelumnya. Hasil test lab yang terakhir menunjukkan bahwa kau sedang mengandung."
Kalimat Dokter Nathan itu bagaikan petir yang menyambar Sera di siang bolong. Matanya membeliak seolah tak percaya, dicarinya sanggahan dari Xavier yang masih berdiri di dekat sofa tempatnya duduk, tapi tak ditemukannya bantahan setitik pun dari lelaki itu.
Jadi, itu benar?
"B-bagaimana bisa? Bukankah dua minggu yang lalu test kehamilannya secara berturut-turut menyatakan hasil negatif?" Pada akhirnya Sera mampu mengajukan pertanyaan meskipun nadanya terbata.
"Dua minggu lalu, kemungkinan besar hormon Hcg-mu belum terlalu banyak sehingga tak terdeteksi oleh kami. Aku yang penasaran memutuskan untuk melakukan test ulang dan ternyata dua minggu kemudian, testnya menyatakan hasil yang berbeda." Dokter Nathan tampak mempelajari ekspresi Sera, sebelum kemudian melanjutkan kembali kalimatnya. "Pemeriksaan kilat saat ini dilakukan di laboratorium untuk memastikan. Kita akan mengetahui hasilnya beberapa jam lagi. Sambil menunggu, aku akan meminta dokter kandungan yang merupakan kolegaku di rumah sakit ini untuk melakukan USG kepadamu. Kalau perkiraanku benar, usia kandunganmu sudah empat minggu jika dihitung dari pembuahan dan sudah enam minggu jika dihitung dari menstruasi terakhir, jika kita beruntung, kita akan bisa melihat kantong kehamilan yang terbentuk pada tampilan USG nanti."
Dokter Nathan berhenti menjelaskan ketika melihat wajah Xavier yang penuh isyarat. Seketika dia langsung paham bahwa Xavier ingin mendapatkan kesempatan berbicara seorang diri bersama Sera.
"Aku akan memeriksa ke ruang USG dan memastikan dokter kandungan ada di tempat. Perawat akan meminta kalian hadir di sana ketika semua sudah siap." Sambil menganggukkan kepala ke arah Sera, Dokter Nathan melangkah pergi dan langsung keluar dari ruangan itu, meninggalkan pintu ruang kerjanya tertutup di belakang punggungnya, dengan Xavier dan Sera yang berada di dalam sana berduaan.
Sera mengangkat tubuhnya beranjak dari sofa, dia melangkah ke hadapan Xavier dan mendongak menatap lelaki itu dengan tatapan menuduh.
"Kau pasti sudah tahu sejak Dokter Nathan menelepon tadi. Kenapa kau tak memberitahukannya kepadaku?" tanyanya kesal. Pantas saja Xavier tampak aneh tadi di rumah itu. Sera bahkan langsung menghubungkan dengan porsi makan besar yang diberikan oleh Xavier kepadanya tadi. Apakah lelaki itu sengaja memberinya makan banyak karena berpikir bahwa Sera sedang mengandung?
Mata Sera menyusuri wajah Xavier yang tak terbaca. Tiba-tiba saja dia merasa jengkel luar biasa. Lelaki di depannya ini selalu berbuat semaunya dan kadang-kadang bertingkah tak bisa ditebak yang menyebabkan Sera terombang-ambing dalam kebingungan terlebih dahulu sebelum mendapatkan pegangan. Apa sih yang sebenarnya ada di dalam kepada Xavier yang rumit itu?
"Apa susahnya mengatakan kepadaku begitu kau menerima informasi itu dari dokter Nathan? Daripada bersikap misterius yang menjengkelkan seperti tadi, kau kan bisa bicara saja kepadaku. Tetapi, kau tak melakukannya dan malahan membiarkanku dalam ketidaktahuan selama berjam-jam hingga akhirnya mendapatkan pengetahuan dari dokter Nathan sendiri." Sera berkacak pinggang, menunjukkan kekesalannya kepada Xavier. "Apa jangan-jangan kau termasuk pria pengidap sadisme yang suka menyiksa orang lain secara emosional, ya?" tuduhnya kejam.
Detik yang sama ketika kalimat tuduhannya itu terlontar dari bibirnya, detik yang sama pula ketika tiba-tiba Xavier membungkukkan tubuh dan meraup Sera ke dalam rengkuhan lengannya yang kokoh. Gerakannya kuat dan tak terduga hingga dalam sekejap wajah Sera sudah membentur dada kerasnya tanpa bisa melawan. Lelaki itu memerangkap Sera dalam kekangan pelukannya, mendekapnya erat hingga hampir-hampir terasa menyakitkan.
"Xavier?" Sera bertanya bingung, didera keterkejutan karena tindakan mengejutkan lelaki itu yang sama sekali tak disangkanya.
Mengingat pengalaman mereka sebelumnya ketika kekeraskepalaan menguasai keduanya, dia menduga bahwa mereka akan saling beradu mulut dan berdebat dengan panas hingga salah satu dikalahkan. Sera sama sekali tak menyangka bahwa dirinya malahan berakhir dengan dipeluk erat-erat oleh Xavier.
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
__ADS_1