
"Love is a strange thing, it can make the strongest person weak, and make the weakest person strong."
Begitu Akram melangkah dengan punggung kaku meninggalkan ruang makan dan masuk ke ruang kerjanya, dokter Nathan pun menyusul tak lama sesudahnya tanpa menghabiskan sarapan di piringnya.
Sementara itu, Elana yang ditinggalkan sendirian, masih tampak mengunyah sarapannya, menikmatinya dengan penuh syukur.
Ketika Elana makan dengan lahap, itu semua bukanlah sandiwara, yah mungkin memang Elana sedikit melebih-lebihkan cara makannnya dengan mengunyah keras dan juga memasukkan makanannya ke mulut dalam jumlah besar yang pasti cukup mengganggu bagi Akram.
Si Tuan bangsawan nan elegan itu pun memilih buru-buru pergi tanpa menghabiskan makanannya seolah tak tahan menyantap makanannya satu meja dengan orang barbar seperti Elana.
Elana sendiri sudah terbiasa dibesarkan dalam kondisi kekurangan makananan, di panti asuhan takaran makanan mereka dijatah dalam porsi pas karena mereka harus menghemat uang sumbangan dari donatur. Dan bahkan setelah Elana keluar dari rumah panti dan hidup mandiri, pernah dalam suatu malam dia harus menahan lapar dan perih di perut karena tidak punya uang sepeser pun untuk membeli makanan.
Jadi Elana tentu tidak akan menyia-nyiakan makanan berlimpah dan sangat lezat di depan matanya ini, biar saja dua tuan elegan di sana itu membuang-buang makanan semau mereka tanpa rasa syukur.
Sambil terus mengunyah sarapannya, mata Elana terpaku pada pintu ruang kerja yang tertutup rapat setelah Akram dan Nathan masuk ke dalamnya. Pintu yang disebut oleh Akram sebagai pintu ruang kerjanya itu memang terletak di lorong yang tepat berseberangan dengan ruang makan, karena itulah Elana bisa mengawasi pintu itu dari tempatnya duduk saat ini.
Ketika pertama kali Akram meninggalkannya untuk ke pusat kota, Elana menghabiskan hari pertamanya dengan menjelajahi seisi villa. Dia menelusuri setiap ruangan dari lantai satu ke lantai dua dengan penuh rasa ingin tahu. Villa ini sangatlah luas dan memiliki lorong dengan begitu banyak pintu-pintu yang menghubungkan satu ruangan ke ruangan lainnya. Jadi, kalau Elana tidak bisa menghapal ruangan-ruangan di villa ini, sudah pasti dia akan kerepotan karena dia akan berakhir dengan tersesat dan kebingungan.
Kepala pelayan menjelaskan padanya bahwa hampir semua ruangan di villa ini boleh diakses, seperti dapur , ruang makan, ruang keluarga, perpustakaan, ruang musik, kolam renang indoor dan beberapa kamar tidur tamu yang tetap terawat dan dibersihkan secara teratur meski kondisinya kosong karena belum pernah ada tamu yang datang menginap di sini. Bahkan Bibi Ana mengatakan dengan penuh arti bahwa belum pernah sama sekali ada tamu perempuan yang dibawa oleh tuannya ke pulau ini selain Elana.
Elana mengerucutkan bibirnya dengan sikap mencibir ketika mengingat kembali ekspresi Bibi Ana ketika mengatakan itu kepadanya, perempuan setengah baya itu menatap ke arah Elana dengan begitu cerah seolah-olah Elana seharusnya bersujud syukur karena menjadi yang teristimewa dan mendapatkan kesempatan langka untuk tinggal di pulau ini.
Tidakkah Bibi Ana pernah menduga bahwa mungkin saja di dunia ini ada perempuan yang tidak memuja dan tergila-gila pada tuannya? Elana contohnya. Baginya, kekejaman Akram yang telah menculiknya paksa dan memperkosanya lalu menyekapnya di tempat ini, sudah cukup untuk membuat Elana kehilangan rasa hormat dan respeknya kepada Akram. Setinggi apapun para anak buahnya memuja Akram sebagai tuan mereka, di mata Elana, Akram Night hanyalah seorang pria kejam tak punya hati yang tak segan-segan memaksakan kehendaknya dengan keji kepada orang lain.
Elana mengerjapkan mata ketika pandangannya terarah pada pintu besar ruang kerja Akram yang tertutup rapat itu. Pintu itu bisa dibilang sebagai pintu terlarang karena Bibi Ana bilang bahwa tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam ruang kerja itu selain Tuan Akram dan orang yang beliau izinkan masuk.
Lagipula, siapa yang bisa masuk ke dalam sana kalau pengamanannya saja berlebihan seperti itu?
Tanpa sadar Elana membuat gerakan bibir mencibir lagi. Pintu itu jelas-jelas diblokir dengan pengamanan ketat yang membuat siapapun kesulitan memasuki ruangan. Pengamanan itu berbentuk sebuah kotak putih berselubung kaca dengan tampilan digital yang sangat canggih dan posisinya menempel di pintu itu. Elana menduga itu adalah alat scan sidik jari yang berpadu dengan tempat pembaca kode pin rahasia yang harus dimasukkan dengan tepat untuk bisa memperoleh akses ke dalam ruangan. Dan dari lampu merah kecil serupa titik yang berkedip tanpa henti di kotak itu, Elana menduga ada kamera tersembunyi dan alarm yang dipasang di sana.
Mungkin jika Elana mendekat dan berusaha membobol masuk, alarm itu akan meraung-raung dan membuat Elana langsung dibekuk oleh para bodyguard yang bergegas datang.
__ADS_1
Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang disimpan Arkram di dalam ruangan itu sehingga pengamanannya bisa seketat itu?
Elana yakin Akram tidak akan menyimpan uang atau harta berharga seperti emas batangan dan berlian di dalam brankas yang ada di ruangan itu. Sebagai pengusaha sukses yang sangat kaya, sudah tentu Akram tidak akan menyimpan hartanya dengan cara konvesional. Lelaki itu pasti memiliki simpanan di bank lokal dan bank luar negeri dengan jumlah sangat besar, dan juga pasti menyewa safe deposit box di bank-bank ternama untuk menyimpan harta berharganya yang lain selain uang.
Kalau bukan uang... mungkinkah Akram menyimpan rahasia gelapnya di ruangan itu, atau bahkan mungkin.... koleksi senjatanya?
Elana mungkin naif dan tidak berpengalaman, tetapi dia tidak bodoh. Dia tahu bahwa Akram tidak hanya bergerak di dunia bisnis legal di siang hari, tetapi juga menguasai dunia bawah tanah di malam hari. Seorang pengusaha biasa tidak mungkin memiliki begitu banyak bodyguard untuk menjaganya, dan juga... Elana masih ingat bagaimana Akram menodongkan pistol dan melemparkan ancaman pencabutan nyawa tanpa berkedip sama sekali.
Ekspresi Akram yang dingin dan caranya memegang pistol yang sangat ahli membuat Elana yakin bahwa Akram sudah sangat berpengalaman memegang senjata, bahkan kemungkinan besar Akram sudah mencabut begitu banyak nyawa dengan tangannya.
Kalau begitu, Elana harus sangat berhati-hati menghadapi Akram. Upayanya melarikan diri harus disusun dengan sangat terencana tanpa ada satu titik pun kesalahan. Elana tahu bahwa dia harus terus menjaga kesabarannnya, berdiam diri dan melakukan observasi untuk meminimalisir kegagalan. Karena, jika sampai dia gagal melarikan diri, bukan hanya dia harus menghadapi kemurkaan Akram, dia mungkin akan kehilangan kesempatan kedua untuk melarikan diri lagi karena Akram sudah pasti akan memperketat penjagaan berkali-kali lipat atas dirinya.
Elana meneguk sesapan terakhir cokelatnya yang sudah mulai mendingin, lalu beranjak berdiri dari tempatnya. Sejenak dia merasa bingung hendak mengarahkan tubuhnya kemana, lalu akhirnya memilih perpustakaan sebagai tempat perlindungannya.
Minggu kemarin ketika Akram menghabiskan akhir pekannya di tempat ini, lelaki itu benar-benar memanfaatkan tubuh Elana untuk memuaskan nafsunya tanps henti. Akram bahkan tidak mengizinkan Elana meninggalkan ruang pribadinya di lantai tiga villa itu, memerintahkan para pelayan mengantarkan makanan mereka ke kamar, lalu mengunci pintu kembali untuk mengurung Elana supaya tetap berada di dalam ruangan.
Kali ini Elana jelas-jelas tidak ingin hal yang sama terjadi. Dia harus berusaha keras menghindari lelaki maniak seks sialan itu kalau mau tubuhnya terselamatkan dari bulan-bulanan Akram. Dan perpustakaan mungkin adalah tempat yang tepat. Di sana Elana bisa mengubur dirinya di antara tumpukan buku sambil berdoa supaya Akram tertimpa banyak masalah hingga tertahan selamanya di ruang kerjanya.
Di sepanjang dinding yang penuh dengan kotak kaca tebal anti peluru yang susah ditembus serta dilengkapi dengan pengaman khusus itu, berjajar dipajang di dinding berbagai macam senjata sebagai bagian dari koleksi milik Akram dalam berbagai bentuk dan ukuran. Kekuatan senjata itu pun beragam, dari yang bisa menciptakan kerusakan hanya serupa lubang kecil di tubuh akibat tertembus peluru, sampai yang mampu meledakkan tubuh manusia jika ditembakkan dari jarak dekat.
Selain memiliki kemahiran menggunakan berbagai jenis senjata, Akram memang suka mengkoleksi beragam senjata, terutama senjata api yang sesuai dengan spesialisasinya. Sebagian besar koleksinya didatangkan dari berbagai negara penghasil senjata dengan kualitas terbaik, bahkan beberapa merupakan senjata langka yang hanya tinggal setengah hitungan jari tangan saja di dunia ini. Senjata-senjata itu ada yang berlisensi resmi, ada pula yang didapatkan dengan cara ilegal. Karena itulah, Akram menempatkan sebagian besar koleksinya di villa Pulau Hijau yang tertutup dari pihak luar.
Tetapi saat ini, mata Akram sama sekali tidak tertarik untuk menatap koleksinya itu. Pandangannya tertuju pada dokumen-dokumen dari Elios yang dititipkan kepada Nathan untuk diserahkan kepadanya.
Dokumen-dokumen itu setumpuk banyaknya, merupakan salinan dari seluruh berkas pembuktian yang telah dikumpulkan oleh Elios sebagai penanggung jawabnya berdasarkan perintah Akram.
Kemarin setelah Akram meminta Elios melenyapkan seluruh bukti kehidupan Elana, Akram memiliki ide untuk memerintahkan Elios menggunakan seluruh sumber daya yang ada guna menyelidiki asal usul Elana.Tujuan Akram melakukan itusudah tentu bukan untuk membantu Elana menemukan akar kehidupannya, tetapi untuk kepentingannya sendiri.
__ADS_1
Dengan posisi Elana yang sebatang kara, tanpa saudara, keluarga atau teman yang dicintai, Akram tahu bahwa dia tidak memiliki apa pun yang dapat digunakannya sebagai senjata untuk menekan perempuan itu.
Selain menggunakan rahasia busuk tersembunyi musuhnya untuk memeras mereka supaya mengikuti kehendak Akram, biasanya Akram akan menggunakan kelemahan perasaan manusia yang selalu terikat dengan orang-orang yang berarti baginya, entah orang tua, saudara, kekasih, sahabat dekat dan lain sebagainya.
Di dunianya yang keras dan penuh dengan musuh yang bersiap menyerang ketika dirinya lengah, Akram sering berhadapan dengan orang-orang yang tak takut kehilangan nyawa tapi mudah dipukul mundur jika orang yang dicintainya dijadikan sandera.
Kelemahan itu mampu membuat Akram dengan mudah menekan orang-orang yang diinginkannya. Katakanlah semisal Akram menemukan mata-mata dari pihak musuh yang tidak mau membuka rahasianya, Akram tinggal mencari orang yang paling dicintai oleh mata-mata itu, menjadikannya sandera dengan ancaman akan dihabisi jika mata-mata itu tidak mau membuka mulut. Dan tentu saja metode itu biasanya berhasil dengan gemilang. Karena rasa cinta dan takut kehilangan orang yang dicintai, adalah bentuk kelemahan paling besar dari manusia yang paling bisa dimanfaatkan oleh orang jahat seperti dirinya.
Tetapi menghadapi Elana, seluruh metode tanpa hati itu sama sekali tidak bisa diterapkan. Akram telah meneliti kehidupan Elana sebelum bertemu dengannya seterperinci mungkin, dan perempuan itu hidup dengan bersih dan lurus sehingga tidak memiliki rahasia busuk yang bisa digunakan untuk memerasnya. Elana juga sebatang kara, cenderung individual dan mandiri sehinga tidak memiliki orang yang begitu dekat yang bisa digunakan untuk mengancamnya.
Karena itulah Akram memerintahkan Elios mencari tahu tentang asal usul Elana, untuk menemukan apapun yang bisa digunakannya sebagai senjata guna membuat Elana patuh kepadanya.
Dan seperti dugaannya, Elios tidak pernah mengecewakannya.
Di berkas-berkas yang tersusun rapih itu, terungkap siapa wanita yang kemungkinan menjadi ibu kandung Elana. Wanita itu adalah remaja dibawah umur yang mengandung di luar nikah, tanpa identitas dan melarikan diri dari keluarganya. Wanita itu kemudian melahirkan di tempat praktek kecil milik bidan yang berada di pinggiran kota atas belas kasihan sang bidan. Beberapa hari kemudian, wanita itu melarikan diri dari tempat praktek bidan tersebut dan tak pernah terdengar kabarnya lagi. Hanya dua hari setelahnya, Elios menemukan bahwa bayi Elana ditinggalkan di panti asuhan, hanya dua blok dari tempat praktek bidan itu berada.
Sungguh kebetulan yang luar biasa, bukan? Entah kenapa di masa lampau tidak ada orang yang menghubungkan dua kejadian ini. Mungkin karena di masa lampau tidak ada yang mau repot-repot mencari tahu asal-usul bayi tak beridentitas yang ditinggalkan begitu saja di depan panti asuhan
Padahal jika ditelisik lebih jauh, bukan hanya itu saja petunjuk yang terpampang jelas di depan mata. Ada petunjuk lain yang semakin menguatkan dugaan mengenai ibu kandung Elana. Sesuai data yang didapatkan Elios dari arsip tempat praktek bidan tersebut, sang bidan ternyata mencatat bahwa ada tanda lahir khas dari bayi yang dilahirkan wanita tanpa identitas itu, sebuah tanda lahir berbentuk lingkaran dengan warna muda nyaris putih di bagian pinggul sang bayi. Dan Akram melihat serta memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Elana memiliki tanda lahir yang sama dengan bayi itu.
Karena sudah cukup jelas, Akram terus memerintahkan Elios menggali lebih dalam, mencari identitas wanita misterius itu. Elios kembali melaksanakan tugas dengan baik, menyusuri seluruh petunjuk yang ada, tentu saja dengan bantuan detektif swasta yang sangat ahli, hingga akhirnya bisa menemukan identitas sesungguhnya mengenai ibu kandung Elana.
Akram memegang berkas laporan Elios yang dibawakan oleh Natahan kepadanya,dan wajahnya muram ketika membaca hasilnya.Sebuah pencarian yang sia-sia. Ternyata Akram tidak bisa menggunakan ibu kandung Elana untuk menekan dan mengancam Elana.
Wanita yang menjadi ibu kandung Elana itu ternyata sudah meninggal lima tahun yang lalu.
"Ibu kandung Elana meninggal dalam kondisi sendirian," Nathan berucap membelah keheningan sehingga membuat tangan Akram yang hendak membalik halaman berkas itu terhenti, "Maksudku sendirian dalam arti yang sesungguhnya. Dia bisa dibilang benar-benar sendirian, tak punya saudara, tak punya orang tua, dan bahkan suaminya juga sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Elios bilang dia juga menelisik kerabat jauh ibu kandung Elana dan menemukan bahwa mereka sudah putus hubungan sejak lama."
"Jadi memang Elana benar-benar sebatang kara di dunia ini." Akram menyimpulkan, keningnya berkerut semakin dalam ketika memutar otak dan berpikir metode apa lagi yang bisa digunakannya untuk mengancam perempuan itu dan membuatnya patuh.
__ADS_1