Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 130 : Menghapus Kenangan Buruk


__ADS_3


Hai ini adalah episode 6/10 yang author upload sesuai jadwal. Untuk kapan lolos reviewnya, author tak tahu, tetapi sabar saja ya, karena memang untuk part yang menggunakan gambar, proses reviewnya lebih lama daripada yang tanpa gambar.


***


***


***



Oh ya sebelum membaca, jangan lupa VOTE dengan menggunakan POIN ke novel EOTD ini ya.


Untuk sementara, VOTE hanya bisa dilakukan di NOVELTOON. Jadi kalau mau bantu VOTE author dengan POIN, boleh install NOVELTOON, lalu login dengan akun Mangatoon ( sama saja) dan berikan vote untuk novel ini ya.


Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler  yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.


***


***


***


EOTD akan tamat minggu depan - Lalu akan dilanjut session 2 ( Xavier di bulan Januari 2020)



***


***


***


 


 


“Apakah kau sudah mempersiapkan semuanya?”


Akram berdiri di jendela besar yang terpasang di salah satu sisi dinding di area lorong menuju kamar Elana. Jendela kaca itu terbentang luas dari atap sampai ke lanti bangunan, menampilkan pemandangan kota dari area tinggi lantai rumah sakit tempatnya berpijak.


Malam gelap sudah menjelang, sehingga yang terbentang di pandangan Akram saat ini adalah lampu-lampu gedung yang menerangi ditambah dengan lampu kendaraan yang tampak kecil dan bergerak silih berganti jauh di bawah sana.


Elios, yang berdiri di belakang Akram dengan sikap formal  langsung menganggukkan kepala ketika mendengar pertanyaan itu.


“Semua sudah siap, tuan. Pulau Hijau hampir sepenuhnya siap untuk upacara pernikahan minggu depan,” jawab Elios dengan nada tegas.


Ya, Akram memang merencanakan pernikahan secara pribadi yang hanya dihadiri oleh orang-orang kepercayannya di Pulau Hijau. Tempat itu dipilih bukan secara acak, tetapi memang dengan pertimbangan, bahwa Pulau Hijau adalah tempat cikal-bakal hubungannya dengan Elana.


Di sana, adalah pertama kalinya Akram mengembangkan perasaannya kepada Elana, yang bahkan mungkin sudah tumbuh mendalam pada saat itu sebelum dia menyadari dan mau mengakui rasa cintanya pada Elana.


Pernikahan ini memang dilakukan secara pribadi dan rahasia untuk menutup tanggal tepat pernikahannya dengan Elana, guna menghindari para wartawan penggosip yang akan menghitung-hitung dan menghubungkan kehamilan Elana nantinya dan menghubungkannya dengan tanggal pernikahan mereka.


Tetapi, tentu saja Akram tidak berniat menyembunyikan pernikahannya terlalu lama, ada satu titik dalam jiwanya yang terus menggelitik, sebuah keinginan dalam untuk memamerkan wanitanya kepada dunia. Akram sudah merencanakan untuk mengadakan resepsi pernikahan mewah yang besar dan mengundang semua koleganya untuk mengumumkan pernikahan mereka nanti. Dan pada saat itulah dia akan memperkenalkan Elana kepada semua orang.


Meskipun begitu, ada ketakutan di benak Akram ketika memutuskan untuk membawa Elana datang ke pulau hijau guna melangsungkan upacara pernikahan.


Akram telah mengambil resiko besar dengan memberikan kejutan besar ini pada Elana. Yang mungkin terjadi, pertama-tama adalah, Elana mungkin akan menapaki kenangan pertama mereka ini dengan sikap positif sama seperti dirinya. Tetapi, bisa juga hal itu malahan membangunkan Elana tentang ingatan akan rasa trauma mendalam akibat perbuatan Akram kepadanya di masa lampau.


Tetapi, apapun yang terjadi nanti, sungguh Akram ingin menghapuskan semua kenangan yang mungkin traumatis bagi Elana di pulau hijau itu, dengan kenangan baru yang lebih indah. Kenangan akan pernikahaannya dengan Elana nantinya.


“Akhir pekan minggu depan. Segera setelahnya, Elana akan menjadi milikku dan anak yang dilahirkannya nanti akan menyandang namaku,” Akram bergumam perlahan, seolah berkata pada dirinya sendiri.


Elios menatap punggung Akram yang tegap. Dia sedikit ragu, tetapi akhirnya memutuskan untuk mengutarakan apa yang ada di dalam benaknya.


“Saya sudah memastikan bahwa yang hadir hanyalah orang-orang dalam yang mengetahui tentang hubungan Anda dan Nona Elana, serta bisa menjaga rahasia, tetapi…” keraguan dalam suara Elios mengental ketika dia memaksakan diri untuk melanjutkan kalimatnya. “Jika itu dihitung, maka yang hadir hanyalah saya, dokter Nathan, dan… Nolan… itu saja.”


Akram mengerutkan keningnya. Memang, jika dibicarakan secara gamblang seperti itu, upacara pernikahan mereka akan terasa menyedihkan karena hanya dihadiri oleh orang yang jumlahnya saja tak bisa menggenapi sebelah tangan. Tetapi, itulah kenyataannya yang sesungguhnya.


Dalam kehidupannya yang keras dan penuh kekuasan ini, Akram tak pernah memiliki orang yang dekat dengannya yang cukup dipercaya untuk menjadi temannya. Bahkan bisa dibilang dia tak memiliki teman. Manusia dalam kehidupannya hanya ada dua macam, jika mereka bukan anak buahnya, berarti mereka adalah musuh.Dan dua orang yang paling dipercayainya saat ini hanyalah Elios dan Nathan. Hanya dua orang itu.

__ADS_1


Sementara Elana, dia memiliki Nolan yang tak boleh ditinggalkan pada saat-saat berbahagia kakaknya yang akan menikah. Selebihnya, tidak ada lagi. Elana mungkin memiliki teman atau sahabat di masa lampau, tetapi Akram sendirilah yang telah mencabut kehidupan Elana sebelumnya, memusnahkan identitasnya dan menggantinya dengan yang baru. Dan dikehidupan Elana dengan nama baru ini, Elana tidak mempunyai teman sama sekali.


Memandang sikap diam Akram yang tampak berpikir, Elios memutuskan untuk berucap lagi.


“Karena itu….saya pikir, bagaimana jika Xavier dan Credence juga… juga diundang ke pernikahan ini?”


“Apa kau sudah gila?” Akram membentak dengan keras, kemarahan menyulutnya ketika dia menaikkan nada suaranya. “Aku tak peduli dengan Credence meskipun aku tak merasa dia cukup dekat denganku untuk hadir di upacara pernikahanku. Tetapi, mengenai Xavier, apa kau lupa kejahatan Xavier di masa lampau? Dia selalu menghancurkan apa yang menjadi milikku tanpa kecuali. Meskipun saat ini Xavier bersikap baik dan membantu, kita tak boleh lengah. Lelaki itu sangat licik dan memiliki kepandaian melebihi komputer paling canggih sekalipun, siapa yang tahu skenario licik apa yang sedang dia jalankan untuk menghancurkan kita nantinya? Dan mengundangnya ke pernikahanku, itu seperti membawa bom waktu yang bisa meledak dan menghancurkan semuanya dalam sekejap,” mata Akram menyipit menatap Elios dengan tatapan mengancam. “Lagipula, berani-beraninya kau mengusulkan ini kepadaku? Apa yang terjadi sebenarnya ketika aku sedang tak hadir di perusahaan?” tanyanya curiga.


Elios menelan ludah, sementara wajahnya memucat penuh rasa bersalah.“Xavier… sepertinya Xavier sudah menduga tentang upacara pernikahan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Dan saya lengah, tuan Akram, mohon maafkan saya. Xavier telah meretas komputer saya sehingga dia bisa mendapatkan perincian tentang perencanaan pernikahan Anda. Dia bilang bahwa dia akan datang meskipun tanpa diundang, karena dia telah mentasbihkan diri sebagai sahabat Elana dan seorang sahabat tidak mungkin tidak menghadiri pernikahan sahabatnya.”


“Sialan!” Akram langsung mengumpat ketika mendengar penjelasan Elios tentang Xavier, membuat Elios hampir terlompat ke belakang karena waspada.


Mata Akram membara ketika menatap ke arah Xavier, layaknya iblis penghuni neraka yang naik ke bumi untuk mengobarkan perang dengan umat manusia.


“Kau fokuslah mengurus persiapan pernikahanku dengan Elana. Aku ingin semuanya sempurna. Dan mengenai Xavier… biarkan aku yang mengurusnya.” Putusnya kemudian, masih menggenggam kemurkaan dalam nada suaranya.


***



***


Beberapa jam sudah berlalu dan Akram menghabiskan waktunya untuk membahas masalah pekerjaan dengan Elios sampai dia menyadari bahwa sepertinya dia sudah memberikan cukup waktu bagi Elana dan Nathan untuk menghabiskan waktu mereka berdua bersama.


“Apakah menurutmu aku sudah bisa mengganggu mereka?” Akram langsung menghentikan pembahasan menyangkut bisnis dan menatap langsung ke arah Elios, meminta pertimbangan.


Elios sendiri tergeragap, tak menyangka Akram akan meminta pertimbangan kepada dirinya. Atasannya itu biasanya bersikap tegas ketika menyangkut masalah pribadi dan selalu memutuskan segala sesuatunya dengan cepat.


Tak pernah sebelumnya Akram bersikap ragu, dan Elios menyadari bahwa Akram bersikap tak yakin kepada dirinya sendiri, hanya jika hal itu menyangkut tentang Elana.


“Sepertinya dua jam lebih adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan segala sesuatunya,” Elios menganggukkan kepala, memberikan sinyal setuju jika memang Akram hendak menginterupsi kedua kakak beradik itu dari melewatkan waktunya berdua saja.


“Kalau begitu aku akan kesana,” dengan cepat Akram berdiri, melangkah ke pintu tempat lounge khusus yang mereka gunakan untuk bekerja, lalu menolehkan kepala ke arah Elios dengan penuh isyarat. “Kau ikut denganku.” Perintahnya cepat.


***



***


Mata yang sama persis itu sama-sama langsung menatapnya Akram dari dua kepala yang tertengadah ketika Elios yang mengikuti di belakang Akram menutup pintu di belakang mereka.


Senyum terkembang di bibir Elana ketika matanya berpadu dengan mata Akram. Dari tatapan matanya itu, tercipta pesan penuh isyarat. Elana sudah berhasil mengatakan kebenaran kepada Akram, dan segala sesuatunya berlangsung dengan baik.


Sepertinya malam ini mereka bisa merayakan satu lagi jejak kebahagiaan dengan hati dipenuhi kelegaan.


“Sepertinya kalian menghabiskan waktu dengan senang hingga lupa waktu,” Akram bergerak mendekat, lalu duduk di samping ranjang, menatap Elana dengan posesif.


Elana saling bertukar pandang dengan Nolan, lalu keduanya terkekeh hampir bersamaan. Perempuan itu terlihat sangat bahagia hingga hati Akram terasa hangat karenanya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh orang-orang. Jika kita mencintai seseorang, maka kita otomatis akan ikut berbahagia ketika orang yang kita cintai merasakan kebahagiaan.


“Percakapan kami sangat menyenangkan, kami banyak bercerita. Semua hal yang terjadi ketika kita belum bersama,” Elana berucap dengan nada bersemangat, tangannya menyentuh tangan Akram, lalu memandang dengan tulus. “Terima kasih, Akram. Kalau bukan karenamu, mungkin kami… mungkin kami tak akan pernah bertemu sebelumnya.”


“Saya juga mengucapkan terima kasih,” secara refleks, Nolan juga ikut mengucapkan terima kasih dengan nada tulusnya.Akram menipiskan bibir. Tidak tahu harus berucap apa. Tiba-tiba rasa bersalah menggayuti kembali jiwanya.


Dahulu, dia memerintahkan penyelidikan dan penelusuran atas masa lalu Elana, adalah demi kepentingannya sendiri. Tetapi sekarang, dua makhluk berwajah mirip di depannya ini malahan memandangnya seperti malaikat penyelamat.


Akram segera menggelengkan kepala. “Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku senang kalau kalian berakhir dengan kebahagiaan,” ucapnya canggung, merasa tak pantas mendapatkan ucapan terima kasih itu, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Karena besok libur, Elios akan menemanimu ke ruang apartement suite di rumah sakit ini untuk menginap, jadi kau bisa menghabiskan waktumu besok dengan Elana,” suara Akram terdengar ramah. “Apakah kalian senang dengan pengaturan itu?” tanyanya kemudian.


Elana dan Nolan saling bertukar pandang lagi, lalu kedua makhluk itu menganggukkan kepala hampir bersamaan.


“Terima kasih,” ucap keduanya dengan hampir bersamaan pula.


Dua mata berbinar penuh rasa terima kasih itu terlau menyilaukan dan malahan menumbuhkan rasa bersalah Akram hingga hampir-hampir dia memalingkan kepala.


Beruntung Elios cepat tanggap dan langsung bertindak. Lelaki itu melangkah mendekat dan mengambil alih percakapan


.“Kurasa sekarang sudah malam dan Nona Elana membutuhkan waktu untuk beristirahat. Aku akan menemani Nolan ke kamarnya,” ucap Elios kemudian.


Nolan menganggukkan kepala dan berdiri. Secara impulsif, anak itu langsung memeluk Elana, merangkulkan tangannya ke leher Elana, lalu mengecup pipinya dengan sayang.


“Sampai ketemu lagi, kakak,” ucap Nolan penuh semangat, membuat Elana terkekeh bahagia dan membalas mengecup pipi anak itu dan memeluknya erat-erat.

__ADS_1


***



***


Sepeninggal Nolan dan Elios, Akram duduk di tepi ranjang, menatap Elana dengan senyuman.


“Kurasa kau berhasil dengan baik?” tanyanya lembut.


Segera Elana menganggukkan kepala penuh semangat.


“Seperti yang kau katakan. Nolan… Nolan ternyata senang menjadi adikku, sesenang diriku ketika menjadi kakaknya,” sahut Elana gembira.


Dengan lembut Akram membawa Elana ke dalam pelukannya dan merengkuhnya erat


.“Aku ikut senang mendengarnya. Kurasa sekarang kita bisa menjadi satu keluarga yang bahagia, eh?” Akram sedikit menjauhkan Elana dari pelukannya dan menatap wajahnya. “Meskipun sepertinya, terhadapku Nolan agak membatasi diri. Berbeda dengan dia yang bisa dengan ringan memelukmu dan mencium pipinya, terhadapku Nolan bersikap seperti sedang menghadapi gurunya yang galak.”


Perumpamaan yang diguanakan oleh Akram membuat Elana terkikik geli.


“Kau… kau memang terlihat galak, meskipun kau tidak terlihat seperti seorang gulu,”


Akram menyeringai. “Karena itukah kau ketakutan ketika melihatku pertama kali dulu?”


Elana melebarkan mata. “Siapapun akan ketakutan kalau melihat orang lain memukuli orang dengan begitu kejam dan tanpa belas kasihan.”


Akram menghela napas panjang. “Tetapi itulah kekasihmu yang sesungguhnya Elana. Kau mungkin telah menjadi saksinya. Tanganku berlumuran darah musuh-musuhku dan mungkin akan lebih banyak lagi di masa depan. Aku harus melakukannya untuk melindungi kau, orang yang kucintai, melindungi perusahaanku, dan juga melindungi kebahagiaan kita. Aku tak bisa menjamin bahwa aku akan berhenti bersikap kejam setelah aku menikahimu nanti. Mungkin aku bahkan akan menjadi sosok yang lebih menakutkan dari sebelumnya, karena setelah aku menikahimu, aku harus menjamin keselamatanmu dengan membuat musuh-musuhku lebih takut kepadaku.”


Elana menatap Akram dengan sayang. “Aku mengerti. Sisi dirimu yang itu… aku juga mencintainya,” bisiknya kemudian tanpa merasa ragu. Sekarang, setelah mengakui perasaannya dan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya, kalimat cinta itu terasa lebih mudah meluncur untuk kali berikutnya.


Akram memeluk Elana lagi, mengecup pucuk kepalanya penuh sayang. “Jika kubilang kalau kita akan mengadakan upacara pernikahan di Pulau Hijau, apakah kau akan melarikan diri?” tanyanya kemudian dengan nada berhati-hati.


Elana melebarkan mata, menjauhkan diri untuk menatap Akram.


“Pulau… pulau hijau?” segala kenangan di masa lampau ketika dia pertama kali jatuh ke tangan Akram langsung membanjiri dirinya, membuat dadanya entah kenapa terasa sesak. Elana menghela napas panjang dan berusaha menetralkan perasaannya ketika akhirnya dia berhasil mengeluarkan suara kembali dan mengutarakan pertanyaan.


“Kenapa… kenapa kau memilih pulau hijau untuk….  upacara pernikahan?”


“Kurasa, itu karena aku ingin menyingkirkan semua kenangan buruk yang kau dapatkan di sana dan menggantikan dengan kenangan baru yang lebih indah?” Akram menyipitkan mata, berusaha mengungkapkan rasa bersalahnya. “Meskipun pada akhirnya aku mendapatkan cintamu, aku sama sekali tidak merasa bangga dengan caraku mendapatkanmu di masa lalu. Aku memaksamu, menawanmu, menggilasmu dengan kekuatanku dan menekanmu untuk memastikan kau tak punya pilihan selain menerimaku. Aku ini bukan orang baik, Elana. Aku bukan pangeran berkuda putih seperti dalam kisah dongeng yang diimpikan oleh para wanita. Aku tak sebaik itu, bahkan mungkin aku bisa menjadi pemeran antagonis di dalam kisah dongeng manis itu. Seorang penjahat yang merenggut wanita yang diinginkannya di luar kemauan wanita tersebut. Bahkan ketika kalian berdua, kau dan Nolan mengucapkan terima kasih kepadaku tadi, aku sama sekali tak merasa senang. Aku merasa bersalah dan kau pasti tahu sebabnya,” Akram mengambil tangan Elana dan mengecupnya. “Karena pada awalnya, aku hendak menggunakan Nolan untuk mengancammu supaya kau menuruti kemauanku. Sejahat itulah aku.”


“Tetapi, bahkan seorang penjahatpun tak bisa mengatur takdir orang lain, bukan?” Elana menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Akram. “Pada akhirnya kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Itu sudah cukup untuk menghapuskan semua rasa bersalah dan luka di masa lalu,” ujarnya.


Akram menatap Elana dalam. “Kalau begitu, apakah kau tidak keberatan jika upacara pernikahan kita dilangsungkan di pulau Hijau?” tanyanya kembali.


Elana menggelengkan kepala dan mengurai senyumannya. “Tidak Akram… aku mungkin memiliki pikiran sama denganmu. Tempat itu… adalah tempat di mana aku merasa sangat membencimu dan ingin melarikan diri darimu di masa lampu. Aku… juga ingin membasuh semua rasa itu dengan kenangan baru, kenangan dimana aku mencintaimu dan dengan sukarela mengikat diri denganmu…”


Elana tak bisa menyelesaikan perkataannya karena Akram langsung membawanya ke dalam pelukan dan menciumnya sepenuh hati. Lelaki itu mendorong kembali tubuh Elana ke atas ranjang tanpa melepaskan ciumannya.


Tubuh Akram yang kuat begitu kokoh melingkupi Elana, menjaga supaya dirinya tak **** Elana dan menyakiti perempuan rapuh di bawahnya. Sementara bibirnya bergerak menjelajahi bibir Elana dengan hasrat tak kenal ampun yang ingin dipuaskan terhadap perempuannya.


“Kau membalas ciumanku,” bisik Akram dengan suara parau penuh nafsu. “Apakah itu berarti, kita bisa melanjutkan apa yang sempat tertunda tadi?” godanya merayu.


Godaannya itu membuat pipi Elana memerah. Tetapi tak urung, dengan sikap tulus dia menawarkan.


“Kau mau aku membantumu lagi… untuk melakukan cara yang lain-lain?” tanyanya bersungguh-sungguh.


Seketika Akram menggeram, melumat bibir Elana dengan dalam seolah ingin merenggutnya dalam sekali ciuman.


“Jangan bersikap pasrah kepadaku, mungkin aku akan menggilasmu,” bisiknya parau.


Senyum Elana melebar di tengah tatapannya yang malu-malu. “Aku… aku akan bertahan…”


Elana tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Akram langsung melumatnya bibirnya kembali. Tangannya bergerak menyentuh perempuan itu dimana-mana, memuaskan hasratnya yang tertunda.


“Kali ini, aku juga akan membantumu, Elana. Kita saling membantu untuk menyenangkan satu sama lain,” bisik Akram penuh janji, dipenuhi hasrat untuk memeluk kekasih dan memuaskannya.


***



__ADS_1


__ADS_2