Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 123 : Ayah


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website PROJECTSAIRAAKIRA  + bonus mini novel part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana


****


****


****


 


“Kau ternyata telah menunggu kami.”


Xavier berucap sambil bersedekap di tengah ruangan. Ada kursi kosong yang tersedia untuknya, tetapi dia menolak untuk duduk. Dalam rumah yang sangat jorok seperti ini, siapa yang tahu bakteri atau virus apa yang menempel di benda-benda yang terdapat di dalamnya? Xavier tidak boleh jatuh sakit karena virus dan bakteri busuk itu. Selain karena situasi berbahaya saat ini yang menuntutnya untuk tetap bertahan sehat, Xavier juga memiliki dua putri kecil yang masih rentan sistem imunnya. Dia tak ingin tak bisa memeluk anaknya karena dia terkena virus atau bakteri yang mungkin bisa menulari anak-anaknya.


“Aku tahu bahwa sejauh apapun aku bersembunyi, kalian pasti akan menemukanku. Karena itulah aku memilih menghampiri kalian dan menawarkan kompromi. Aku juga menyimpan informasi yang pasti akan sangat berguna bagimu.” Dokter Rasputin berucap perlahan.


Lelaki itu tampak kurus dan kotor, jauh berbeda dengan tampilan di fotonya sebagai seorang dokter di masa lampau. Dari foto dan keterangan identitas mengenai dokter Rasputin yang dibaca oleh Xaver, Dokter Rasputin sudah jelas sangat tampan di masa lampau, bahkan ketika menua pun, gurat ketampanannya masih nyata di wajahnya. Lelaki itu dulu sangat terkenal, menghiasi media masa Rusia sebagai dokter terbaik yang sangat jenius dimana tangan ajaibnya mampu mengubah wajah dan tubuh seseorang dengan sempurna, memberikan hasil terbaik dari operasi plastik yang mereka inginkan tanpa gagal. Reputasi dokter Rasputin bahkan begitu hebatnya sampai merambah seluruh dunia hingga orang-orang datang mengantri untuk disentuh oleh tangan ajaibnya. Sungguh suatu kehilangan besar bagi dunia bedah plastik dan estetika ketika dokter Frederick memutuskan untuk pensiun dari dunia praktek kedokteran dan menghilang serta menyepi untuk menikmati masa pensiunnya.


Sungguh suatu hal yang bodoh mengubah wajah tampannya itu menjadi sosok lelaki tua yang kurus, pucat dan kotor seperti ini hanya demi kepentingan penyamaran.


Xavier menyeringai dengan sinis.


“Kau tidak punya sesuatu yang menarik sebagai nilai lebihmu. Posisimu sudah terperangkap dan nyawamu ada di bawah kendali tanganku. Kenapa aku harus repot-repot menerima tawaran kompromi darimu jika aku sudah berada di atas angin?”


Dokter Rasputin terdiam sejenak, lelaki itu lalu menganggukkan kepalanya, seolah menyetujui perkataan Xavier.


“Memang benar, posisimu sudah di atas angin. Aku tak punya kekuatan apapun untuk melawan. Kau bahkan bisa membunuhku detik ini juga kalau kau mau.” Dokter Rasputin menatap Xavier dengan ekspresi cerdasnya yang kuat. “Akan tetapi, kau belum juga membunuhku. Itu berarti, masih ada hal-hal yang kau perlukan dariku biarpun sedikit, bukan?”


“Jika maksudmu aku ingin mencari tahu tentang penyamaran Aaron Dawn, maka itu tidak perlu kulakukan. Penyamarannya sebagai dokter Oberon sudah terbongkar.” Xavier menyahuti dengan nada dingin. “Kenyataan bahwa aku belum membunuhmu sampai dengan detik ini, itu semua kulakukan karena aku penasaran dengan apa yang kau lakukan di sini. Kau seolah mengumpankan dirimu untuk kutemukan. Apa sebenarnya yang kau inginkan? Apakah kau sedang berusaha menjebakku supaya jatuh ke dalam perangkapmu?”


Dokter Rasputin merentangkan tangannya yang kurus ke kiri dan kanan tubuhnya.


“Tidak ada jebakan apapun. Anak buahmu tentu sudah memeriksa bahwa aku tidak memiliki senjata, atau bom, atau perangkap apapun untukmu. Sesungguhnya aku sudah siap menyambut kematianku. Hanya saja, sebelum saat kematianku, aku ingin menawarkan kompromi kepadamu. Sebuah kompromi untuk membantumu sebagai penebusan untuk diriku karena aku menyesali tindakanku sebelumnya.”


Mata Xavier mengamati ekspresi wajah dokter Rasputin. Kalimat lelaki itu tampak diucapkan dengan nada sedikit mengambang, seolah-olah lelaki itu tengah berada dalam pengaruh obat. Xavier mengerutkan keningnya dalam, memandang dokter Rasputin dengan ekspresi jijik.


“Kau menggunakan narkoba? Itukah sebabnya kau sampai jatuh terpuruk ke lembah sampah seperti ini?” ucapnya dengan nada mencela yang nyata.


Celaan Xavier tidak menyakiti hati dokter Rasputin. Lelaki itu malahan tertawa terbahak-bahak, dengan tangan masih terentang seolah menunjukkan bahwa dirinya pasrah terhadap nasibnya.


“Ya. Aku adalah seorang dokter yang sukses di masa lampau. Aku memiliki banyak uang dari kemampuan jeniusku untuk merombak wajah orang lain dengan sangat hebat.” Dokter Rasputin sepertinya mulai meracau dan bercerita kesana kemari. “Lalu aku tergoda dengan banyaknya uang yang kudapatkan dari hasil ilegal, mengoperasi para penjahat dan pelarian yang ingin mengubah identitas mereka, menarik keuntungan dari para penjahat yang memiliki uang melimpah dan memperkaya diriku sendiri. Aaron adalah salah satunya, dia memiliki tujuannya sendiri dan aku menerima banyak uang darinya. Jadi, aku mengoperasi wajahnya dengan keahlianku yang sangat hebat dan bahkan menyediakan banyak topeng wajah yang berkualitas tinggi untuk membantu penyamarannya berikutnya.”


“Kau menyediakan topeng wajah untuknya?” Suara Xavier terdengar meninggi, dipenuhi kemarahan. “Kau sudah cukup banyak campur tangan dalam kejahatan Aaron, Pria Tua. Aku akan membuatmu menerima bayaran yang setimpal!” serunya dengan nada geram.


Xavier sudah siap. Dia memiliki peralatan untuk menginterograsi yang cukup kejam yang bisa membuat orang membuka mulutnya. Di kepalanya, dia sudah membuat rencana. Akan dibuatnya dokter Rasputin mengaku, mengidentifikasikan dan menggambarkan wajah-wajah seperti apa yang telah dibuatnya sebagai topeng untuk penyamaran Aaron. Baru setelah dia mendapatkan informasi yang cukup, akan dibunuhnya pria tua ini sesuai dengan kejahatan yang telah dilakukannya.


Dokter Rasputin tampaknya memahami naluri membunuh yang ada di mata Xavier, meskipun begitu, sama sekali tak tampak ketakutan di matanya. Lelaki itu malahan kembali tertawa, menyeringai seolah hendak menyambut kematiannya dengan bahagia.


“Kau tidak perlu mengancamku Xavier Light, karena tanpa kau ancam pun, aku akan membantumu.” Dengan tenang, Dokter Rasputin menyorongkan tumpukan kertas yang tersusun rapi di mejanya, di atas tumpukan kertas itu, ada microchip kecil yang terbungkus kotak metal hitam untuk melindunginya dari kerusakan. “Di dalam microchip ini, tersimpan semua data wajah, identitas, dan gambaran dari citra topeng yang kubuatkan untuk Aaron. Kau bisa menggunakannya untuk melacak keberadaan Aaron dengan mudah, begitu mengetahui identitas dari topeng-topeng yang kubuat itu.” Dokter Rasputin menyipitkan matanya. “Bukan hanya itu, aku juga menawarkan diriku sendiri untuk membantumu supaya memancing Aaron dan mendapatkan lelaki itu untuk kau tangkap.”


Xavier memberi isyarat kepada Derek dan dengan sigap Derek langsung bergerak maju untuk mengambil berkas dan microchip itu. Derek memeriksa berkas itu dengan cepat, lalu meletakkan microchip kecil itu ke alat pembaca digital berbentuk kotak kecil seperti ponsel yang dibawanya. Derek hanya melihat sekilas isinya, membaca informasi yang menurutnya penting, setelahnya lelaki itu menolehkan kepala kembali kepada Xavier dan menganggukkan kepalanya.


“Isinya sesuai dengan apa yang diucapkan oleh dokter Rasputin,” ujarnya kemudian.

__ADS_1


Xavier membalas anggukan itu, lalu menolehkan kepala kembali ke arah dokter Rasputin dan menatap waspada.


“Kau tadinya membantu Aaron, bukan? Kenapa kau tiba-tiba saja berubah halauan dan membantuku? Apakah kau sudah putus asa untuk menyelamatkan nyawamu sehingga kau berpikir bahwa jika kau berpihak kepadaku, aku akan mengampuni nyawamu?” tanyanya dengan nada sinis.


Dokter Rasputin langsung menggelengkan kepalanya. Senyum penuh ironi muncul di bibirnya seketika.


“Aku memang butuh pengampunan. Namun, bukan atas nyawaku. Jika menyangkut nyawaku, aku sudah tak peduli lagi, karena sebentar lagi aku akan mati.”


“Kau akan mati?” Xavier tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulang perkataan dokter Rasputin. Lelaki ini sejak tadi berbicara berputar-putar, mungkin karena dirinya sedang berada di bawah pengaruh obat. Namun, hal itu memancing ketidaksabaran Xavier hingga batasnya. Dia ingin segera mendapatkan pencerahan dan titik terang, hingga dia bisa segera memutuskan tindakannya dan meninggalkan tempat kumuh berbau busuk ini.


“Ya. Aku menggunakan narkotika untuk menghilangkan rasa sakit yang menderaku karena obat biasa sudah tak mampu lagi membantuku. Rasa sakitnya memang hilang, tapi itu tak menyembuhkan akar dari penyakitku, malah merusak tubuhku dari dalam dan membuatku kecandian. Sudah jelas aku sedang mempercepat kematianku sendiri. Tapi, sekarang aku tak peduli lagi. Sebelum saat kematianku, aku ingin mendapatkan pengampunan dan menebus dosaku.”


Dokter Rasputin menatap Xavier lekat-lekat. “Ketika aku mendapatkan kekayaan melimpah, aku dipukul oleh kenyataan bahwa harta yang melimpah ternyata tak bisa menolongku untuk sembuh dari penyakitku. Penyakitku ini tak tersembuhkan, tumbuh pelan-pelan di dalam tubuhku dan merusakku diam-diam. Satu-satunya harapan aku untuk sembuh adalah ketika aku mendapatkan bantuan dari keturunanku yang memiliki genetik sama denganku. Sayangnya, kalaupun dia masih hidup, aku tak tahu dimana mencari keberadaannya. Dalam keputusasaan untuk bertahan hidup, aku melakukan pencarian besar-besaran secara rahasia, mengerahkan seluruh harta, seluruh kemampuan dan seluruh daya upayaku. Sesungguhnya, itulah alasanku pensiun dari pekerjaan regularku dan memilih berkutat di dunia bawah tanah. Di dunia bawah tanah, kita bisa mendapatkan informasi apapun yang kita mau dengan mudah, asalkan ada uang dan koneksi yang kita miliki. Karena itulah aku mengkhususkan diri sebagai dokter bedah plastik yang khusus melayani dunia bawah tanah untuk mengumpulkan harta dan mendapatkan jaringan koneksi.”


Dokter Rasputin menghentikan kalimatnya. Suaranya sedikit terengah seolah-olah berucap dengan kalimat sepanjang itu merupakan pekerjaan berat bagi paru-parunya. Lelaki itu kemudian terbatuk-batuk dan menutup mulutnya dengan tisu putih yang ada di meja. Ketika dokter Rasputin melepaskan tisu itu dari mulutnya, bercak noda darah tampak muncul di sana, terlihat nyata dan kontras dengan putihnya tisu.


Xavier langsung menatap dengan ekspresi jijik bercampur waspada.


“Apakah kau sedang menderita penyakit menular yang sengaja ingin kau tularkan kepada kami?” bentaknya dengan nada mengancam.


Dokter Rasputin langsung terkekeh dan menggelengkan kepala mendengar pertanyaan itu.


“Jangan khawatir, ini bukan sejenis penyakit TBC atau penyakit dengan virus menular lainnya. Sakit yang kuderita ini tak menular, hanya bisa diturunkan secara genetik. Penyakitku membuatku mudah mengalami pendarahan, bahkan oleh pemicu sekecil apapun.” Mata dokter Rasputin tiba-tiba menatap tajam ke arah Xavier kembali, ekspresinya berubah sangat serius.


“Menyambung ceritaku tadi, aku akhirnya menemukan informasi yang kubutuhkan. Tapi... semuanya sudah terlambat, dan aku menyadari kesalahan besar yang telah kubuat. Jadi, disinilah aku sekarang, berusaha menebus kesalahanku dan membantumu untuk memperbaiki semuanya.”


“Apa maksudmu?” Xavier bertanya dengan nada waspada. Dia bisa membaca ekspresi seseorang, dan setelah membaca ekspresi dokter Rasputin itu, entah kenapa dia mendapatkan firasat buruk, seolah-olah dokter Rasputin akan mengucapkan sesuatu yang tak ingin didengarnya.


Dokter Rasputin terbatuk-batuk lagi, tubuh kurusnya berguncang menyedihkan karenanya. Wajahnya pun memucat seiring mulutnya yang menyemprotkan banyak darah di sana. Lelaki itu tampak semakin kepayahan seolah hendak kehilangan kesadarannya dalam sekejap, tetapi sepertinya dokter Rasputin cukup keras kepala sehingga dia masih berjuang untuk tetap melontarkan kalimat demi kalimat dari mulutnya yang kini merah berlumuran darah yang mengalir dari bibirnya.


“Namun, takdir seolah sedang menertawakanku. Keturunan yang kujadikan tumpuan untuk menyelamatkanku, ternyata menderita penyakit yang sama denganku. Hanya saja, dia lebih beruntung karena dia memiliki anak-anak yang mendonorkan sel punca untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi, aku kemudian menyadari bahwa aku memang pantas ditertawakan oleh takdir dan rela menyambut kematianku dengan tenang, aku sudah berbuat dosa di masa lampau dan penyakitku ini sepertinya adalah hukuman pamungkas untukku.”


Dokter Rasputin menatap Xavier lekat-lekat. “Aku tak akan meminta maaf karena kau terbuang dan tumbuh sebatang kara. Kau memang tidak seharusnya dilahirkan ke dunia ini, ibumu yang ******* itu seharusnya menggugurkanmu saja sehingga kau tak seharusnya lahir dan hidup menderita. Aku juga tak akan meminta maaf karena menurunkan penyakit genetik merusak ini ke tubuhmu, seperti yang kubilang, jika saja ibumu menurutiku untuk menggugurkanmu, kau tak akan membawa penyakit terkutuk itu ke tubuhmu.” Lelaki itu terus mengutarakan pikirannya dengan beruntun tanpa perasaan. “Hanya saja, aku menyesal karena telah menyulitkanmu dengan membantu orang yang menjadi musuhmu. Karena itulah, sebelum aku mati, aku ingin menebus kesalahanku karena telah membantu musuhmu sebelumnya... meskipun aku melakukannya sebelum aku tahu siapa sesungguhnya dirimu, Xavier. Untuk menebus kesalahanku itulah aku ingin membantumu melawan Aaron untuk menebus kesalahanku.”


Dokter Rasputin memandang wajah Xavier yang memucat mendengar kalimatnya.


“Ya, Xavier, aku adalah ayahmu. Aku adalah ayah kandungmu.” Dokter Rasputin mengucapkan kalimat pamungkasnya dengan suara bergetar. Matanya menatap Xavier yang membeku kaku, tak bergerak ataupun bereaksi dengan pengakuannya.


Napas dokter Rasputin terengah ketika lelaki itu menguatkan diri untuk berdiri. Tubuhnya terhuyung melangkah mendekati Xavier dan tangannya terulur seolah ingin menyentuh lelaki itu.


“Kau... bisa melakukan pemeriksaan darah dan pelacakan jejak genetik jika kau... tidak percaya.” Dokter Rasputin berucap dengan suara parau berlumur darah. “Aku memang merombak seluruh tampilan luarku, tapi darah yang mengalir di tubuhku tetaplah sama tanpa modifikasi sama sekali. Kau... akan menemukan kebenaran dari kata-kataku... anakku... aku adalah... ayahmu... ayah kandungmu....”


Dokter Rasputin semakin mendekat, tangannya menggapai seolah hendak menyentuh Xavier, tapi di detik tinggal sejangkauan jauhnya dia bisa menyentuh anak lelaki yang dicarinya itu, Xavier melangkah mundur, menjauh seolah tak sudi disentuh oleh lelaki di depannya itu.


Tubuh Dokter Rasputin langsung terpaku oleh penolakan itu, tapi lelaki itu kemudian tertawa pelan.


“Yah, mungkin kau memang tak mau mengakui ayahmu yang seperti ini. Tidak apa-apa, bukan masalah, bukan masalah.... aku tetap akan membantumu sebelum aku mati, karena bagaimanapun, ikatan darah tidak bisa diingkari begitu saja, bukan?”


Pada saat dokter Rasputin selesai mengucapkan kalimatnya, muntahan darah langsung tersembur dari mulutnya. Kali ini jumlahnya sangat banyak hingga sebagian menciprati baju Xavier, menunjukkan bahwa lelaki itu sudah berada di tingkat paling parah penyakitnya.


Lalu, seolah tak punya kekuatan lagi untuk menopang dirinya, tubuh dokter Rasputin terhuyung ke depan, dan kemudian jatuh berdebum di kaki Xavier yang masih terpaku dan membeku, menatap sosok yang terbujur kaku di kakinya dengan tatapan nanar.


***


 

__ADS_1


Suara pintu ruangannya yang terbanting membuat Sera langsung terjaga dari tidur lelapnya. Hari sudah menjelang dini hari dan Sera sendiri merasa dirinya sudah tidur lelap berjam-jam lamanya.


Perlahan mata Sera membuka dengan waspada, tetapi kemudian dia mengenali langkah kaki itu. Posisinya yang semula memunggungi pintu bergerak hendak menoleh dan menyapa suaminya yang baru saja memasuki kamar perawatan tempatnya berbaring tidur.


“Xavier?” Sera menyapa karena lelaki itu tampaknya memilih berdiri kaku di tepi ranjang setelah masuk ke dalam kamar. Namun, tangan Xavier tiba-tiba saja bergerak dan menahan pundak Sera supaya tak menoleh menghadap ke arahnya.


“Sshh, tak perlu berbalik. Aku akan menyusulmu tidur.” Suara Xavier entah kenapa terdengar parau dan aneh, seolah-olah lelaki itu menanggung beban berat di pundaknya.


Sera mengerutkan kening mendengar nada suara Xavier yang tak biasa itu. Firasat buruk dan pertanyaan memenuhi hatinya, namun dia memutuskan untuk tak mendesak suaminya dan menuruti perkataan Xavier untuk tetap berbaring miring dan memunggungi lelaki itu.


Ranjang terasa bergerak ketika Xavier menempatkan lututnya di atas tempat tidur itu. Tanpa menunggu lama, lelaki itu kemudian naik ke atas ranjang dan berbaring di belakang Sera, merapat erat hingga dadanya yang kokoh menyentuh punggung Sera. Aroma harum dari sabun dan shampo yang segar dan melingkupi Xavier langsung menyapa indra penciuman Sera, membuat batinnya bertanya-tanya.


Kenapa Xavier mandi di dini hari yang begitu dingin? Ada apa? Lelaki itu habis dari mana?


Tangan Xavier lalu bergerak menyelip di bawah tubuh Sera dan satu lagi menyelip di bawah lengan Sera, lalu menyatu erat di bagian depan tubuh Sera untuk menarik perempuan itu mundur dan semakin merapat ke tubuhnya.


Sera merasakan Xavier menundukkan kepala dan lelaki itu menenggelamkan wajahnya di lekukan antara leher dan bahunya, membuatnya kebingungan.


Napas lelaki itu terdengar berat seolah-olah ada yang menyekat tenggorokannya dan menghalangi jalan udara yang masuk ke paru-parunya


“Xavier? Ada apa?” bisik Sera lirih penuh kekhawatiran.


Xavier tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apakah lelaki itu sakit? Apakah kondisi kesehatannya menurun?


Sera ingin membalikkan tubuh untuk menatap suamianya, tetapi pelukan Xavier begitu keras di tubuhnya, membuatnya tak bisa bergerak dan terpaku dalam perangkap pelukan suaminya yang terasa semakin erat.


Napas Xavier terdengar panas di telinga Sera. Lelaki itu kembali mengembuskan napas berkali-kali seolah mencoba menguasai diri.


“Hanya kalian....” suara Xavier terdengar serak dan tercekik. “Hanya kalianlah keluargaku. Kau dan si kembar... hanya kalian....” Lelaki itu memaksakan melanjutkan kalimatnya dan ketika suaranya menyentuh kata terakhir, nadanya langsung pecah berantakan, dinodai oleh isakan tertahan yang mengejutkan.


“Hanya kalianlah keluargaku... aku... tak perlu yang lainnya.”


Setelah mengucapkan kalimatnya itu, pertahanan Xavier runtuhlah sudah. Lelaki itu menangis terisak, menumpahkan rasa sambil menenggelamkan wajahnya di leher istrinya yang kebingungan dan memeluknya erat-erat.


 


***


***


***


***


Hello.


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website projectsairaakira  +  part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely


AY

__ADS_1


__ADS_2