
Xavier mengusap wajahnya yang basah setelah dirinya mencuci muka di wastafel kamar mandinya. Tatapan matanya nanar ketika memandang balik bayangannya sendiri di cermin, dipenuhi oleh perasaan yang bergolak dari dalam jiwanya.
Perkataan Gabriella sebelum ajalnya tadi sungguh mengganggu pikiran Xavier, merusak kemampuannya membuat rencana yang sempurna, membayanginya dengan dilema.
Lana. Lana. Lana.
Kembali dia merapal nama itu layaknya mantra. Matanya terpejam ketika dia menundukkan kepala kembali ke kran air wastafel, lalu menggunakan air dingin untuk menetralkan otaknya yang memanas Percikan air dingin menimpa wajahnya, sementara benaknya membayangkan sebentuk wajah polos dengan sinar ketulusan yang tak pernah ditemukannya pada perempuan manapun sebelumnya.
Bagaimana mungkin satu-satunya wanita yang telah berhasil mengetuk hatinya, ternyata adalah wanita yang dia cari selama ini dengan tujuan untuk dia hancurkan? Lana yang begitu polos dan tanpa dosa... apa yang membuatnya terikat dengan Akram?
Padahal Lana, baik secara penampilan fisik maupun sifatnya, sungguh jauh berbeda dengan wanita-wanita selera Akram selama ini. Xavier telah begitu lama mengawasi Akram hingga dia tahu bahwa Akram hanya mau menyentuhkan tangannya pada wanita-wanita yang sesuai kriterianya. Mereka harus luar biasa cantik, berasal dari kelas atas atau berdarah ningrat, memiliki tubuh molek berlekuk wanita dewasa yang menggiurkan, dan yang paling penting, tidak melibatkan hati dalam hubungan percintaan yang disepakati sebagai hubungan tanpa beban tanggung jawab satu sama lain.
Sementara Lana.... dipikir dari sudut manapun, perempuan itu sungguh bertolak belakang dengan selera Akram. Kecantikan Lana unik, bersinar karena kepolosan tulus di matanya. Sementara, dilihat dari pekerjaannya sebagai cleaning service, sudah tentu Lana bukan berasal dari kaum kelas atas.Tubuh Lana juga tak menggoda, malahan mungil cenderung kurus yang membuat siapapun ingin memeluk serta melindunginya. Yang paling penting.... mungkinkan perempuan seperti Lana bisa menjalin hubungan cinta tanpa hati dengan Akram?
Xavier sangat ahli dalam melakukan analisis dan memprediksi hasil akurat dalam investasi saham yang selalu menguntungkannya dalam setiap pertaruhan. Selain itu, dia juga sangat ahli memprediksi watak manusia dan selalu tepat menebak sifat asli mereka hanya dari pemindaian sekilas.
Tetapi, apakah sekarang adalah waktu baginya untuk mengakui kekalahan? Mungkinkah firasat baiknya dan keterpesonaannya pada Lana, ternyata berasal dari prediksi yang salah?
Satu-satunya jawaban yang masuk akal kenapa Lana menjadi kekasih Akram adalah karena perempuan itu silau dengan pesona Akram, ditambah dengan kekayaan dan kekuasaannya. Tidak ada jawaban lain, meskipun Xavier sejak tadi berusaha menyangkalnya.
Semua wanita sama saja....
Xavier telah mempelajari bahwa semua wanita adalah pengkhianat yang mudah beralih hati. Jika mereka tak bisa digoda dengan harta, maka mereka akan tergoda dengan wajahnya yang memesona. Dia telah membuktikan itu semua dari pengalamannya selama ini ketika dia berupaya merebut dan menghancurkan wanita-wanita yang dari luar tampak mencintai Akram dengan tulus.
Aroma disinfektan yang menusuk hidung menguar di udara, terselip dari pintu terbuka ruang makannya yang saat ini tengah melalui proses 'pembersihan'. Aroma itu menempelkan partikelnya tanpa permisi di indra penciuman Xavier, membuat Xavier langsung teringat pada keberadaan wanita busuk yang baru saja dilenyapkannya. Mayat perempuan itu saat ini pasti telah disingkirkan oleh petugas khususnya yang sangat ahli untuk menghilangkan seluruh hasil praktek kekejaman Xavier, hingga berakhir tanpa jejak dan tanpa bukti.
Seperti halnya Gabriella, perempuan yang sekarang telah menjadi mayat mengenaskan. Perempuan murahan itu sama dengan yang lainnya, begitu mudah ingin meloncat ke tangan Xavier yang bahkan baru saja dikenalnya, lupa bahwa dia sebelumnya memuja Akram Night setengah mati.
Bahkan Anastasia pun....
Xavier mengerutkan keningnya semakin dalam, ekspresinya berubah keras tak terperi sementara dia mengeraskan hati, berusaha melupakan kegelapan masa lalu yang sesungguhnya tak ada guna untuk diingat.
Jika dia terus-terusan mengingat masa lalu, maka otaknya yang keras kepala ini tak akan mau berhenti untuk membangunkan ingatan lamanya semakin dalam. Meluncurkan ingatannya terus mundur semakin jauh, hingga ke titik hitam paling mengerikan di hidupnya: Ke masa tiga bulan dia diculik, disiksa dan mengalami seluruh kesakitan yang tak seharusnya dirasakan oleh seorang anak kecil berumur sembilan tahun.
Kelebatan-kelebatan siksaan itu tiba-tiba berhasil menyelinap keluar dari timbunan paling dalam di dasar memori Xavier, muncul begitu saja dan tergambar jelas di depan matanya seolah-olah hal itu masih segar dan baru saja terjadi.
Wajah Xavier memucat sementara rasa mual bergolak di perutnya, memanjat naik ke kerongkongannya dan membanjiri mulutnya tanpa bisa ditahan.
Xavier membungkukkan tubuhnya di wastafel dan muntah sejadi-jadinya, benaknya tersiksa oleh trauma masa lalu yang masih menorehkan luka besar yang menganga dan bernanah di kalbunya.
Sebuah luka yang terlalu dalam untuk bisa disembuhkan oleh waktu.
***
***
"Kau bisa datang ke ruanganku siang nanti, untuk makan siang bersamaku," Akram merapikan dasinya dan memasang jasnya, lalu melirik ke arah Elana yang tengah mengunyah gigitan terakhir dari sesuatu yang tadinya berwujud setangkup roti panggang di tangannya.
Pagi tadi, mereka berdua berhasil menjalani persiapan untuk berangkat ke kantor dalam situasi damai tanpa cela. Mereka terbangun ketika alarm ponsel Akram berbunyi. Lalu, dengan tegas Elana menolak rayuan sensual Akram yang mengajaknya untuk mandi bersama dan langsung memilih lari terbirit-birit meninggalkan kamar Akram untuk lari ke kamarnya sendiri.
Sebuah keputusan yang bijaksana. Sebab, jika Akram sampai berhasil menyeretnya ke kamar mandi, sudah pasti lelaki itu akan lupa diri dan menyebabkan mereka berdua gagal pergi bekerja hari ini.
Sekarang, mereka sedang menikmati sarapan di dekat pantry dapur. Elana tengah berupaya menghabiskan setangkup roti panggang buatannya dengan isian butter dan parutan keju gouda yang renyah. Elana menemukan keju aneh ini di lemari pendingin dan ketika dia bertanya pada Akram, lelaki itu mengatakan bahwa rasanya akan cocok dengan lidah Elana. Tetapi, ketika Elana menawarkan roti pa asnggangnya pada Akram, lelaki itu menolak dengan alasan tidak suka makanan manis.
Akram bilang keju gouda memiliki dominan rasa manis karena kandungan asam laktatnya yang hilang selama proses pembuatannya. Benarlah adanya, lelehan keju gouda yang renyah, manis dan gurih terasa sangat lezat bercampur aroma wangi khas nan creamy dari butter yang terpanggang semerbak.
Akram sendiri sudah menghabiskan kopi hitamnya yang dibuat dengan metode drip Vsixty yang rumit, padahal ada mesin espresso di dapur yang malah tidak dipakainya. Lelaki itu juga telah berbaik hati membuatkan secangkir cokelat lezat yang untuk Elana yang langsung dihabiskan oleh Elana sampai tandas.
Mereka telah melewati session sarapan tanpa pergolakan berarti dan tiba-tiba Akram menawarkan jebakan berbalut tawaran makan siang baginya. Terdengar menggoda, tetapi tentu saja Elana tidak akan jatuh dalam jeratnya. Bahkan jika Akram memang sungguh-sungguh menawarkan makan siang tanpa maksud apapun, Elana yakin bahwa pada prakteknya, makan siang itu tidak akan berakhir sebagai makan siang biasa.
"Tidak. Terima kasih," Elana menjawab perlahan. "Rekan-rekan kerjaku akan curiga kalau setiap jam makan siang aku menghilang dengan alasan membuat laporan untuk panti asuhan, lalu...," pipi Elana memerah. "Lalu aku tak kembali," sambungnya kemudian dengan suara tersekat.
Mata Akram berkilat. "Mereka akan maklum kalau menghabiskan waktu makan siangmu untuk 'membuat laporan' pada boss mereka, secara langsung," sahutnya dengan nada menggoda berbalut sarkasme.
Pipi Elana makin merah, laksana lapisan kelopak mawar sehalus beledu yang baru mekar. Perempuan itu tampak bersungut-sungut, membuat Akram harus menggertakkan gigi untuk menahan diri supaya tidak mendorongnya ke pantry dapur dan melakukan session bercinta singkat yang menyenangkan.
"Kau sudah berjanji," Elana menengadah, lalu menatap Akram dengan tatapan mencela.
Akram menipiskan bibir. "Cium aku," geramnya tiba-tiba.
Elana membelalakkan mata, seolah tak percaya dengan peralihan inti percakapan mereka yang berubah jalur secara tiba-tiba.
"Ap... apa ...?" ditatapnya Akram bingung, seolah tidak mempercayai pendengarannya.
"Kau masih belajar untuk bersikap aktif ketika bercinta dan aku bersedia berkompromi karena kau memang tidak memiliki pengalaman selain denganku," Akram mendesis lambat-lambat dan mengawasi Elana dengan mata tajamnya yang mendebarkan jantung. "Sebagai gantinya, aku ingin kau menciumku setiap pagi sebelum kita berangkat bekerja,"
__ADS_1
Sejak insiden kecelakaan itu, Akram telah membuat pengaturan supaya mereka berangkat dan pulang kantor secara terpisah agar Elana terhindar dari bahaya. Supir akan mengantarkan Elana lebih pagi dan menurunkannya di area aman dekat dengan panti asuhan yang dikelola oleh perusahaan Akram, lalu Elana akan berjalan kaki menuju halte terdekat dan menunggu bus jemputan karyawan datang menjemput.
Begitupun ketika pulang, Elana akan naik bis karyawan dan turun di halte yang sama, lalu berjalan kaki di halte penjemputan tempat supir sudah menunggunya. Elana masuk ke perusahaan Akram sebagai anak panti asuhan yang memperoleh pekerjaan karena program sosial perusahaan, maka rekan-rekan kerjanya tak akan curiga kalau Elana dijemput dan turun di halte tersebut.
Akram juga telah menyusupkan salah satu bodyguardnya yang paling ahli untuk menyamar menjadi cleaning service guna mengawal Elana. Lelaki itu berperan sebagai karyawan pindahan dari kantor cabang yang kebetulan turun dan naik di halte yang sama dengan Elana, padahal sebenarnya dia bertugas menjaga dan melindungi Elana sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kantor.
"Menciummu sebagai kompensasi?" Elana mengerutkan kening, seolah berpikir bahwa apa yang diajukan oleh Akram itu merupakan sesuatu yang tak masuk akal.
"Ya. Menciumku. Di sini," Akram menunjuk bibirnya sendiri tanpa tahu malu.
Elana mengerucutkan bibir. "Bagaimana bisa sebuah ciuman menjadi kompensasi?" protesnya dengan suara lemah, merasa jengkel pada sikap Akram yang absurd.
"Aku bisa memutuskan apapun semauku. Aku bahkan bisa meminta kompensasi yang lebih lagi kalau aku mau," Akram menyipitkan mata, bergerak lebih dekat ke arah perempuan itu dan menunggu. "Jadi?" tuntutnya kemudian dengan nada arogan.
Elana menelan ludah, dalam hatinya mengutuk betapa tidak tahu malunya lelaki di depannya ini yang selalu berusaha mengambil keuntungan dari setiap situasi yang ada, terutama di situasi yang sekiranya bisa menindas Elana sampai tandas.
Tapi, tak urung Elana melangkah mendekat ke arah Akram. Dia harus berjinjit untuk mencapai wajah Akram. Karena, jika Akram berdiri tegak dan tidak sedang membungkuk ke arahnya, selisih tinggi badan mereka terlalu jauh. Perlahan, Elana menyentuhkan jemarinya ke pipi Akram, membuat mata Akram langsung berkilat penuh antipasi.
Tak lama kemudian, dengan gerakan secepat kilat, Elana mendaratkan bibirnya. Bukan di bibir Akram, tetapi di pipinya.
"Aku... aku berangkat duluan!" Elana melepaskan sentuhannya dari Akram, lalu lari terbirit-birit dan keluar dari apartemen sambil membanting pintu di belakangnya, meninggalkan Akram yang masih terpaku dengan tangan mengusap pipinya yang bekas dicium oleh Elana.
***
***
Xavier mematung di balik kemudi mobil yang terparkir dalam bayang-bayang pohon rimbun di posisi yang sedikit tertutup. Posisi parkirnya berada di tempat sempurna dimana dia bisa mengawasi jalur keluar masuk di bagian depan gerbang perusahaan Akram.
Dia mulai muak bermain kucing-kucingan dengan anak buah Akram yang secara terang-terangan ditempatkan mengepung rumahnya. Tadi, Xavier keluar dengan mengendarai sendiri mobil yang tak mencolok, sementara dia menyebar dua mobilnya yang lain, dengan anak buahnya berperan sebagai dirinya di kursi penumpang belakang supir sebagai pengalih perhatian. Saat ini anak buah Akram sudah pasti tengah mengikuti mobil-mobil itu berputar-putar di sekeliling kota tanpa tujuan sampai Xavier nanti memerintahkan mereka kembali ke kota.
Xavier tahu waktunya sempit untuk memastikan apa yang dicarinya. Anak buah Akram bukanlah manusia-manusia bodoh. Mereka pasti akan menyadari ada yang salah ketika mobil yang mereka ikuti terus berkeliling ke tujuan yang tidak tentu dan mereka akhirnya akan sadar kalau telah diperdaya.
Akram sepertinya benar-benar putus asa dan mengerahkan segala cara untuk melindungi gadis favoritnya dari serangan Xavier. Rupanya, gadis yang satu ini berbeda, membuat Akram sungguh tidak mau kehilangannya.
Kalau dia berhasil merusak yang satu ini, maka kehancuran yang akan diterima oleh Akram pasti sangat luar biasa. Bahkan, mungkin akan jauh lebih fatal dibandingkan dengan kejadian Anastasia sebelumnya....
Perlahan, ditatapnya layar digital yang berhubungan langsung dengan alat komunikasi di telinganya.
"Apakah kau mendapatkannya?" Xavier diam sejenak, mendengarkan jawaban lawan bicaranya di seberang. "Oke. Aku akan melihatnya. Aku akan menghubungimu nanti." Xavier memutus pembicaraan, lalu menatap layar digital di depannya dengan tertarik.
Ada data masuk yang harus diunduhnya sebelum kemudian Xavier bisa melihatnya. Data itu otomatis terbuka kemudian, isinya adalah informasi mengenai karyawan yang bekerja di kantor pusat perusahaan Akram. Data itu tidak utuh karena sistem keamanan milik perusahaan Akram langsung mengetahui ada peretasan hingga memutus proses pengambilan data ketika belum selesai sepenuhnya. Tetapi data tak utuh ini sudah cukup bagi Xavier.
Setelah beberapa lama, Xavier menemukan halaman khusus untuk divisi kebersihan. Dia langsung menelusuri nama-nama itu dengan saksama. Tidak ada yang bisa mengalahkan Xavier dalam hal membaca data, otaknya yang jenius memiliki kemampuan untuk membaca data dengan cepat dan tanpa terlewat. Dia mencoba mencari nama Lana dari seluruh nama yang ada dan bibirnya menipis ketika akhirnya mengambil kesimpulan.
Nama Lana, atau sesuatu yang mirip dengan itu, sama sekali tidak tercatat di data karyawan di depannya. Entah perempuan itu tercatat sebagai karyawan divisi lain yang kebetulan tidak ada di data yang dia dapatkan, atau sesuai dugaannya, Lana masuk ke perusahaan berdasarkan otoritas dari atas langsung, yaitu dari Akram Night sendiri.
Xavier tahu dia harus memastikan segalanya sebelum bertindak...
Ditekannya alat penghubung di tangannya, dan langsung berucap begitu tersambung dengan lawan bicaranya.
"Aku ingin kau melakukan pengawasan terhadap satu orang dengan spesifik dan melaporkannya kepadaku secepat mungkin di detik dia melangkah keluar dari perusahaan Akram Night."
***
"Silahkan lewat area ini, perwakilan dari divisi riset dan pengembangan akan menunggu di ruangan depan guna menunjukkan progress yang telah kita capai dalam periode tiga bulan terakhir." Elios menggerakkan tangannya dengan sopan untuk menunjukkan jalan bagi perwakilan mitra perusahaan dari negara tetangga yang tertarik bekerjasama dalam pengembangan riset teknologi terbaru mereka.
Akram sendirilah yang memimpin langkah di depan, membawa calon mitra kerja sama mereka menuju aula besar di mana demonstrasi dan simulasi teknologi terhadap robot penemuan terbaru mereka akan dilakukan. Dia berbicara cepat dalam bahasa asing milik calon mitra usahanya untuk menjelaskan detail terperinci yang diperlukan.
Tetapi, langkah Akram tiba-tiba tersendat ketika di lorong lantai enam itu, kepalanya menoleh ke salah satu pintu ruangan meeting yang sedikit terbuka dan tertarik oleh gerakan di dalamnnya.
Itu Elana... perempuan itu tampaknya telah selesai mengepel lantai dan hendak keluar dari ruangan tersebut.
Dengan sengaja, Akram sedikit menghentikan langkah, membuat rombongan yang mengikutinya ikut berhenti. Tindakannya itu membuat Elana langsung berpapasan dengan Akram dan rombongan yang dibawanya begitu dia melangkah keluar dari ruangan.
"Oh," mata Elana melebar ketika dia mengenali Akram. Pandangannya terarah pada kelompok orang-orang asing berpakaian jas resmi yang ada di belakang Akram dan dirinya langsung membungkuk sambil menganggukkan kepala dalam untuk memberi salam.
"Se... selamat siang, Tuan," seru Elana dengan gugup.
Akram mengangkat sebelah alis, lalu membalas anggukan Elana tipis.
"Selamat siang," jawab Akram tenang, lalu tidak menoleh dua kali sebelum melanjutkan langkahnya berlalu diikuti oleh orang-orang di belakangnya.
Elana masih berdiri terpaku sambil menatap Akram dan yang lainnya sampai mereka menghilang di ujung lorong, lalu dia mengangkat bahu sambil melangkah ke ruang meeting kosong di sebelah ruang yang baru dibersihkannya tadi, melanjutkan pekerjaannya tadi dengan riang dan tanpa lelah.
***
__ADS_1
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga siang dan Elana menghela napas ketika satu lagi ruangan dibersihkannya sampai berkilauan di semua sisi.
Patner kerjanya untuk melakukan pembersihan di area lantai enam sedang sakit dan para petugas cleaning service sebagian besar dialihkan ke area sayap kiri gedung yang sedang direnovasi. Karena itulah mereka kekurangan tenaga pembersih sehingga Elana harus melakukan kegiatan pembersihan sendirian.
Lantai enam ini khusus digunakan untuk area meeting intern dalam ruangan-ruangan besar yang berjajar sepanjang lorong dimana nantinya terdapat area demonstrasi serupa aula bulat yang berukuran besar di ujung lorong. Ruangan-ruangan meeting di lantai enam ini sedang kosong sehingga Elana bisa membersihkannya dengan selesa.
Sekarang dia sudah beres membersihkan ruang meeting terakhir di lantai ini, dan telah menyelesaikan tugasnya hari ini dengan gemilang.
Suara pintu yang ditutup di belakangnya membuat Elana menolehkan kepala, dan mata Elana melebar oleh keterkejutan ketika melihat siapa yang datang.
"Akram?"
Elana mengangkat alis ketika menemukan sosok Akram yang bersedekap sambil bersandar pada pintu tertutup di belakang punggungnya.
"Kau adalah kekasih pemilik perusahaan ini. Kalau kau mau, kau bisa tampil dengan dagu terangkat di tempat ini dan membuat semua orang memberi hormat kepadamu," Akram mengawasi Elana dengan tatapan tajam menembus jiwa. "Kenapa kau malah memilih bekerja menjadi cleaning service yang harus menguras tenagamu hingga sore menjelang?" tanyanya kemudian. Kening Akram berkerut sementara jejak kebingungan yang langka tersirat dari suaranya.
Elana melebarkan mata. "Aku hanya sedang menjadi diriku sendiri..." pipi Elana memerah ketika dia mengangkat dagu dengan sikap menantang ke arah Akram. "Dan aku.... aku bukan kekasihmu!" bantahnya keras.
Sebuah tindakan yang salah, karena itu sama saja memprovokasi srigala lapar yang sedang menimbang-nimbang apakah akan melahap mangsanya sekaligus ataukah bermain-main dengannya dulu.
Akram langsung mendekat ke arah Elana, mendorong perempuan itu hingga terjebak sisi meja meeting besar di belakangnya.
"Bukan kekasihku? Kau tinggal bersamaku, makan bersamaku, tidur di ranjangku dan bercinta denganku," Akram melingkarkan lengannya di tubuh Elana dan menariknya mendekat. "Bagaimana mungkin kau bukan kekasihku, kalau begitu?" sambil berbisik di telinga Elana, Akram mendaratkan kecupan di sisi wajah perempuan itu.
"Le... lepaskan aku, Akram. I... ini masih di jam kerja," Elana menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada Akram yang keras, tapi percuma karena Akram sama sekali tak bergeming.
"Tidak ada yang akan mengganggu kita. Aku menempatkan dua bodyguardku di depan pintu," Akram menunduk, menenggelamkan bibirnya di lekukan antara leher dan bahu Elana, lalu memagut di sana, sengaja meninggalkan tanda.
Elana membelalakkan mata, sebuah erangan lepas dari bibirnya akibat tindakan intim Akram kepadanya. Dengan panik dia menggerakkan tangannya ke lengan Akram, berusaha melepaskan lengan lelaki itu yang melingkari tubuhnya.
"Akram... kau tidak bermaksud bercinta di... di sini, bukan? Aku... aku baru membersihkan ruangan ini!"
Akram langsung menyeringai mendengar kalimat Elana. Diangkatnya kepala dan dia menunduk ke arah Elana yang menengadah sehingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Tentu saja aku tidak akan menodai hasil kerjamu," ucap Akram lembut. Lelaki itu menggerakkan jemarinya untuk menyingkirkan anak-anak rambut Elana yang terurai, lalu menyelipkan ke belakang telinga Elana. Sementara, sebelah tangannya menggenggamkan sesuatu ke tangan Elana. "Aku hanya ingin menyapa sebentar untuk menghargai kerja kerasmu. Sampai jumpa nanti malam di rumah," sambung Akram kemudian. Lelaki itu tiba-tiba mendaratkan bibirnya di pipi Elana dan mengecupnya pelan, sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh kembali ke arah Elana.
Elana terpaku menatap pintu tertutup yang ditinggalkan Akram dan mengerutkan kening karena bingung akan sikap lelaki itu.
Apa sebenarnya maksud Akram? Apa lelaki itu sedang membalas perbuatan Elana tadi pagi kepadanya?
Ketika Elana menunduk dan menatap benda yang digenggamkan Akram ke tangannya, mata Elana melebar ketika menemukan sebatang cokelat terbungkus rapi dalam kemasan yang tampak sangat mahal di tangannya
***
***
Hujan menderas ketika Elana melangkah turun dari bus karyawan yang berhenti. Dari sudut matanya, Elana melihat sosok bodyguard yang menyamar menjadi karyawan tampak ikut turun dari bus dan mengikuti di belakangnya seperti yang seharusnya.
Elana mengembangkan payung dan melangkah perlahan melalui jalur trotoar pejalan kaki yang menghubungkan antara halte bus dengan area parkir di sebuah taman kota tak jauh dari sana. Seperti biasa, mobil jemputan yang akan mengantarnya ke apartemen Akram, telah menunggu di sana.
Suasana sore ini tampak lebih gelap dari biasanya, dengan langit terbebani mendung menghitam yang seakan siap menggungah awan kelam hingga memuntahkan hujan deras yang hampir tak tertampung lagi. Sekeliling Elana juga sepi, mungkin karena sebagian besar orang memilih berlindung karena tahu bahwa hujan deras akan datang sebentar lagi.
Elana mempercepat langkah, tahu bahwa dia harus segera mencapai mobil yang menunggu jika dia tak ingin terjebak dalam hujan deras. Langkahnya tersendat ketika sudah mendekati mobil. Entah kenapa rintik hujan yang turun membuat nuansa di sekelilingnya begitu berbeda, mendorong Elana ingin lekas pergi dari sini.
Mobil hitam gelap itu tampak terparkir sendirian di tengah area parkir dan Elana mengerutkan kening ketika dia melangkah semakin dekat dan tak menemukan seorang pun di sana.
Biasanya supir itu sudah berdiri dengan sopan menanti sambil membukakan pintu untuknya begitu Elana datang mendekat...
Segera Elana menolehkan kepala untuk bertanya pada bodyguard Akram yang dia tahu sedang mengikuti. Matanya langsung melebar ketika menemukan tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
Kemana lelaki itu pergi?
Elana mengawasi sekeliling dengan waspada. Lampu-lampu taman mulai menyala bersamaan ketika kegelapan pekat telah memenuhi sekeliling Elana sepenuhnya, menciptakan nuansa mengerikan yang membuat bulu kuduk berdiri
Tangan Elana langsung mengepal menahan ngeri seiring dengan gemuruh guntur yang membuat langit bergolak di atasnya. Butiran hujan makin menderas dan firasat buruk Elana langsung meneriakkan alarm peringatan, seolah menyadari ada bahaya yang mendekat.
Tiba-tiba saja dia merasakan dorongan untuk berbalik dan lari sekencang mungkin.
Sayangnya situasi sepertinya sudah terlambat untuk Elana. Sosok Xavier tiba-tiba melangkah dari balik pepohonan besar di taman itu, dekat dengan tempat Elana berdiri dan menatap Elana penuh arti.
***
__ADS_1