Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 50 : Teracuni


__ADS_3


Begitu mata Elana berpadu dengan mata Xavier, seberkas ketakutan yang nyata langsung muncul di seluruh sikap tubuh Elana, membuat tangannya mencengkeram gagang payung dalam genggamannya dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


Rintik hujan semakin deras bagaikan tirai yang melingkupi mereka berdua dan memisahkan mereka dari dunia luar. Jantung Elana berdetak kencang, memikirkan segala cara yang bisa dilakukannya untuk melarikan diri dari sosok menakutkan di depannya.


Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia perlu menggunakan payung di tangannya menjadi senjata yang akan diayunkannya jika Xavier mendekat? Efektifkah itu untuk melindungi dirinya? Bagaimana jika Xavier memiliki banyak anak buah layaknya Akram yang siap untuk meringkusnya ketika dia lari? Terlebih lagi... apa yang terjadi dengan supir dan bodyguardnya yang seolah menghilang begitu saja ditelan bumi?


Berbagai pertanyaan sulit layaknya ujian mengenai kehidupan dan kematian, muncul tanpa ampun di benak Elana, berkelebatan di wajahnya dan menciptakan gurat kecemasan tak terkendali yang menyulut gemetar datang menguasai tubuhnya.


Xavier mempelajari wajah Lana dengan saksama, bibirnya menyunggingkah senyum manis yang lembut.


"Lana," sapanya dengan nada suara tak kalah lembut. Lelaki itu melangkah maju untuk mendekat ke arah Elana.


Di detik yang sama, Elana langsung melangkah mundur menjauh.


Xavier tertegun hanya sepersekian detik. Ketakutan yang melumuri wajah Elana terasa begitu mengganggunya, membuatnya memasang seringaian penuh ironi di wajahnya ketika dia menatap kembali perempuan itu dengan tatapan dalam penuh arti.


"Kau sudah tahu, ya?"


Seketika itu juga, seperti menunggu momen yang paling tepat, suara guntur terdengar membelah langit dalam gelegar memekakkan telinga, disambung dengan kelebat kilat putih yang menyilaukan mata. Seolah itu semua belum cukup mendramatisir suasan, awan hitam pun tampaknya tak rela berbelas kasihan, menumpahkan seluruh isinya begitu saja membanjiri bumi, dalam limpahan hujan yang menderas tiba-tiba.


***



***


Akram telah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap pulang. Dia melangkah keluar dari ruang kerjanya dan hampir bertabrakan dengan Elios yang sepertinya tengah menghambur masuk dengan terburu-buru.


"Ada apa?" Akram menegur sambil mengangkat alis setelah Elios berhasil mengatur keseimbangannya sehingga tak sampai terjatuh.


"Salah satu orang yang kita tempatkan untuk mengawasi rumah yang disewa Gabriella mulai merasa curiga karena hingga malam menjelang perempuan itu tak pulang juga. Gabriella memang selalu bermabuk-mabukan tiap malam di kelab tempatnya bekerja, tetapi paling lama di siang hari dia sudah pulang ke rumahnya. Karena itulah orang kita memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ke kelab tempat Gabriella bekerja," Elios mengerutkan kening dengan ekspresi cemas. "Para saksi yang dia mintai keterangan mengatakan hal yang sama, bahwa Gabriella dijemput oleh sosok yang sangat mencolok karena keindahan fisiknya."


"Xavier," Akram menyimpulkan sambil menyipitkan mata.


"Xavier pasti mendengar gosip yang beredar tentang Anda yang menghancurkan Gabriella dan dia mencoba mencari tahu tentang Nona Elana darinya.... mengingat bahwa Gabriella pernah berinteraksi dengan Nona Elana, maka bisa saja...."


"Bisa saja saat ini Xavier sudah tahu mengenai Elana dan aku yakin Gabriella sudah mati dibunuhnya," ekspresi Akram menajam. "Aku ingin kau mengatur untuk memberikan pengawalan tambahan bagi Elana. Apakah dia sudah sampai di rumah?"


Elios melirik jam tangannya lalu menganggukkan kepala tipis. "Seharusnya saat ini Nona Elana sudah mencapai rumah. Saya akan memastikan..." Elios mengangkat telepon dan menghubungi pihak keamanan Apartemen. Ketika mendengar jawaban dari lawan bicaranya, ekspresinya berubah cemas luar biasa. "Tuan Akram, mobil yang membawa Nona Elana belum sampai apartemen sejak tadi...."


"Hubungi supir Elana dan bodyguardnya!" Akram menyela dengan cepat, matanya melirik dengan cemas ke arah jendela besar di dinding. Bisa saja mobil yang membawa Elana hanya sedang tertahan oleh hujan lebat di luar. Tetapi, entah kenapa Akram tidak bisa tenang dan malahan merasakan firasat buruk yang merayapi jiwanya.


Ditatapnya Elios yang berusaha keras menghubungi orang-orang yang saat ini seharusnya ada di dekat Elana dan menjaganya. Tetapi, sepertinya Elios tidak berhasil mencapai keduanya. Ekspresinya semakin cemas ketika beberapa kali mencoba dan tetap tidak berhasil. Anak buah Akram selalu menjawab telepon mereka jika dihubungi oleh atasan pada deringan pertama. Jika sampai dihubungi berkali-kali dan mereka tetap tidak mengangkat, itu berarti....


Elios menengadahkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan Akram yang mengambil kesimpulan sama dengannya.


Ekspresi Akram menggelap ketika dia bergerak cepat menuju lift, memberikan serentetan perintah kepada Elios.


"Siapkan mobil yang paling cepat dan juga bawa sejumlah anak buah kita yang paling ahli, lengkapi mereka dengan senjata terbaik!"


***



***

__ADS_1


"Kau tak akan bisa lari, Lana. Tidak kalau kau ingin menyelamatkan nyawa pengawal dan supirmu. Aku membuat mereka tak sadarkan diri dan saat ini mereka ada di bawah pengawasan anak buahku," Xavier mengangkat alis melihat sinar menuduh dan kengerian di mata bening perempuan di depannya. Dia langsung mengangkat kedua tangan ke atas seolah berusaha membela diri. "Oh, tidak. Hapuskan pikiran mengerikan itu dari benakmu, Lana. Aku tidak membunuh mereka. Sudah kubilang, bukan? Kita hanya akan bicara dan aku akan membebaskan mereka segera setelah kita selesai."


Elana memindai ekspresi Xavier dengan saksama. Ekspresi lelaki itu yang sangat lembut dan penuh senyum benar-benar tak tertembus untuk dibaca. Tetapi, entah kenapa Elana tahu bahwa Xavier bukanlah orang yang suka berbohong. Dikepalkan jemarinya dengan kuat, sementara Elana menahan dirinya supaya tetap berdiri kaku di tempatnya.


"Kau... kau ingin bicara apa?" Elana bertanya dengan suara tersekat diliputi kewaspadaan. Bagaimanapun juga, dengan situasi mereka saat ini, bisa disimpulkan bahwa baik Elana maupun Xavier telah sama-sama sudah mengetahui posisi masing-masing.


Elana sudah tahu bahwa Xavier adalah kakak angkat Akram yang jahat, dan Xavier sudah tahu bahwa Elana adalah perempuan yang disembunyikan Akram supaya tidak terjangkau oleh kekejamannya.


"Aku hanya ingin menuntaskan rasa penasaranku," Xavier menyipitkan mata. "Bagaimana bisa kau berakhir dengan Akram? Perempuan polos sepertimu... apakah kau jadi rela menggadaikan kepolosanmu karena silau oleh harta? Apakah kau sudah lelah hidup miskin hingga memutuskan menjual dirimu pada Akram?" Xavier mengucapkan kalimat pertanyaan yang dibumbui dengan tuduhan secara beruntun, membuat Elana terpaku, kebingungan harus menjawab apa.


Saat ini, di mata Xavier, di mata siapapun, di mata mereka yang melihat hubungan Akram dengan Elana, semua pasti akan menyimpulkan hal yang sama: Bahwa Elana adalah perempuan materialistis yang menggunakan segala cara untuk menjerat Akram, dan Akram mungkin telah terkena sihir aneh hingga bisa terjerat oleh perempuan sepertinya.


Elana mungkin bisa menjelaskan seluruh awal mula cerita, tentang bagaimana Akram menjebak, menawan dan memaksanya menjadi milik lelaki itu. Tetapi... siapa yang akan percaya? Lagipula, entah kenapa Elana tidak ingin mengumbar keburukan Akram di depan orang lain...


Ketika Elana tak juga menjawab, Xavier melangkah mendekat dengan tak sabar, seketika memangkas jarak di antara mereka. Sementara, Elana yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri seolah tak sadar akan kedekatan Xavier sehingga sama sekali tak beranjak mundur.


"Kenapa kau tak menjawab? Apakah kau begitu malu untuk mengakui kebusukan yang kau simpan di balik penampilan polos dan sucimu? Yang lebih penting lagi, apa yang kau lakukan hingga bisa membuat seorang Akram Night tergila-gila kepadamu? Wanita lain bilang kau menggunakan sihir... tetapi, aku sangat tertarik untuk menebak sendiri jawabannya,"


Pertanyan Xavier membuat Elana kembali membelalakkan mata bingung.


Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan itu sementara dia sendiri juga tidak tahu apa yang menyebabkan Akram tertarik kepadanya? Lagipula, kesialan apa yang sebenarnya melingkupi dirinya sehingga dia harus berakhir dengan orang-orang mengerikan semacam Akram dan Xavier?


Xavier meraih dagu Elana, menghadapkan wajah perempuan yang tak mau menatapnya itu ke arahnya, memaksa Elana untuk membalas pandangan matanya yang tajam.


Sudah terlambat bagi Elana untuk mencoba melarikan diri. Xavier sudah berdiri terlalu dekat dan pegangannya di tubuh Elana bukanlah main-main. Yang bisa dilakukan oleh Elana sekarang hanyalah berdiri kaku dengan tangan terkepal, sementara kewaspadaan membanjiri aliran darahnya, membuat jantungnya berdetak luar biasa kencang, memukul-mukul rongga dadanya hingga hampir terasa nyeri.


Mata Xavier menelusuri seluruh wajah Elana, memindai dan mempelajarinya dengan saksama. Lalu, tanpa diduga, Xavier menghela napas panjang seolah menyerah pada satu kesimpulan.


"Kurasa, kau memang memiliki sihir alami di dalam dirimu. Sikapmu yang tidak tertarik, membuat kami kaum laki-laki merasa tertantang untuk menundukkanmu, bertekad membuatmu terpesona pada kami..." Xavier berucap perlahan seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.


Suara tamparan keras terdengar membahana menembus suara derasnya hujan yang melingkupi mereka. Tanpa pikir panjang Elana telah mengayunkan tangannya sekuat tenaga untuk menampar Xavier keras-keras. Napasnya terengah dipenuhi kemarahan dan rasa terhina yang menyakitkan. Begitu marahnya Elana hingga dia lupa akan rasa takutnya pada Xavier.


"Berhenti berucap kotor dari pikiranmu yang kotor itu!" Elana berseru marah, membentak dengan suara sekeras mungkin untuk mengalahkan derasnya hujan.


Xavier tertegun. Pipinya terasa panas akibat tamparan dari tangan kurus yang tidak disangkanya memiliki kekuatan yang sedemikian besar ketika marah.


Jantung Xavier berdegup oleh suatu perasaan yang tak bisa dia definisikan sebelumnya. Xavier selalu terlihat begitu mempesona bagaikan malaikat sehingga tak ada satu wanitapun yang mampu menamparnya. Ini adalah kali pertama seorang wanita menamparnya dengan begitu marah. Dan jangan lupa, ini juga adalah kali pertama seorang perempuan tidak hanyut dalam pesonanya tetapi malahan menolaknya mentah-mentah.


Xavier tahu dia seharusnya marah. Tetapi, entah kenapa jejak rasa itu tidak ada sama sekali di dalam jiwanya. Dia malah merasakan seberkas rasa kagum berbalut keterpesonaan kepada perempuan di depannya ini.


Ditatapnya Elana dengan tatapan menyipit penuh perhitungan. Sikap lembutnya memudar, begitupun dengan nada suaranya.


"Kau menamparku padahal aku mengungkapkan kenyataan," desis Xavier lambat-lambat. "Jadi, kau menolak tawaranku? Apa yang dimiliki oleh Akram Night yang tak kumiliki? Kenapa kau memandang dia seolah lebih baik dari diriku? Perempuan sepertimu tidak seharusnya pilih-pilih lelaki, bukan?"


Elana mendongakkan dagu dan menatap Xavier dengan angkuh. Hinaan Xavier telah mengusik kemarahannya, membuat Elana lupa pesan Akram bahwa lelaki di depannya ini adalah sosok berbahaya yang harus dihindari sejauh mungkin.


"Akram Night, meskipun dia kejam dan selalu mengambil apapun yang diinginkannya tanpa pikir panjang, jelas-jelas dia lebih baik dari dirimu! Akram memiliki traumanya sendiri tapi dia memilih menghadapinya! Sementara kau, kau melarikan ketakutanmu dengan sibuk menyalahkan dan menumpahkan kebencianmu pada orang lain! Kau selalu merasa dirimu lebih baik dari Akram Night, padahal kau tak lebih dari sosok pendengki lemah yang tak punya hati besar untuk menerima kekalahan!'


Perkataan terakhir Elana menciptakan kilat di sinar mata Xavier. Lelaki itu menggerakkan tangan dengan cepat dan dalam sekejap, jemarinya sudah mencengkeram leher Elana. Xavier tidak menekan leher Elana dengan keras seolah akan mencekiknya, lelaki itu hanya menempelkan jemarinya di sana, dengan sentuhan seringan jaring laba-laba. Tetapi, efek yang ditumbulkannya sungguh sangat terasa.


Elana langsung terkesiap dan menghentikan perkataannya. Wajahnya menengadah seketika, menatap ke arah Xavier. Ekspresi lelaki itu gelap, meskipun matanya tetap bersinar teduh, seperti menyimpan kesedihan yang amat sangat.


"Jika kau mengalami apa yang kualami sedikit saja, mungkin kau sudah bunuh diri," Xavier berbisik perlahan dengan suara tertahan. "Membenci Akram adalah satu-satunya cara supaya aku memiliki tujuan untuk bertahan hidup...."


Suara deru mobil bersusul-susulan tiba-tiba menggerus suara derasnya hujan, mengalihkan perhatian Elana dan Xavier bersamaan. Keduanya menoleh dan mata mereka langsung terpaku pada rangkaian mobil berwarna hitam yang memenuhi lajur parkir di taman itu, lalu berhenti ketika mobil yang paling depan berada dekat dengan posisi Elana dan Xavier berdiri.


Pintu mobil itu terbuka mendadak dan Akram Night keluar dari sana, diikuti puluhan anak buahnya dari mobil di belakangnya yang langsung mengambil posisi membidik ke arah Xavier dengan senjata api di tangan mereka.

__ADS_1


Hujan deras mengguyur semua orang, tetapi tampaknya tidak ada satupun yang mempedulikannya. Akram menghentikan langkah demi keamanan Elana, lelaki itu berdiri tepat di depan Xavier dan Elana, matanya menggelap ketika melihat jari jemari Xavier yang berlabuh di leher Elana.


"Lepaskan dia, Xavier. Sedikit saja kau berani meninggalkan tanda di kulitnya, aku akan memastikan kau mengami kematian paling menyakitkan yang pernah ada." Akram menggeram dari kertak giginya yang merapat, gerahamnya mengeras menahan emosi, sementara pistol di tangannya dibidikkan tanpa main-main ke arah Xavier.


Tidak pernah sebelumnya Elana merasa sesenang ini melihat Akram. Bibirnya mendesahkan nama Akram dalam kelegaan yang amat sangat, tubuhnya otomatis bergerak hendak menghambur ke arah lelaki itu. Sayangnya, tangan Xavier yang masih ada di lehernya menahannya. Dengan gerakan halus yang sangat ahli, Xavier menarik Elana membelakanginya dan menyeretnya mundur hingga punggung Elana membentur dadanya. Tangan Xavier masih berada di leher Elana, memakunya dari belakang hingga membuat Elana tak bisa bergerak sementara payung di tangannya terlempar, membuat hujan deras mengguyur tubuhnya tanpa pertahanan.


Mata Elana melebar, menatap ketakutan ke arah Akram yang ekspresinya semakin menggelap dipenuhi kemarahan.


Xavier telah memosisikan Elana sebagai tamengnya!


"Tidak ada gunanya menyuruh puluhan anak buahmu untuk membidikku, Akram. Apa kau pikir aku datang kemari tanpa persiapan? Puluhan anak buahku ada di berbagai tempat strategis mengepung tempat ini dan mereka semua adalah penembak jitu yang diinstruksikan untuk menembak jika terjadi sesuatu kepadaku."


Akram tidak menurunkan pistolnya dan masih membidik ke arah Xavier. "Apakah kau pikir aku tidak melakukan hal yang sama? Jika kau menginginkan pertumpahan darah, maka aku akan memberikannya. untukmu," jawabnya penuh ancaman.


Xavier malahan tersenyum lebar sementara matanya berkilat, sama sekali tak terlihat gentar mendengar ancaman Akram. Tangannya yang memegang leher Elana mengencang ketika dia berucap.


"Sepertinya kau begitu menyukai perempuan ini, hingga rela memberikan segalanya, ya?" Xavier menggeserkan jemarinya di leher Elana dengan gerakan provokatif yang disengaja. "Bagaimana kalau aku meremukkan leher yang rapuh ini di depan matamu? Kau akan mendapatkan kehormatan untuk menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri kematian perempuan ini...."


"Singkirkan tanganmu dari perempuanku, Xavier! Di detik kau menyakiti Elana, aku akan menembak kepalamu sampai hancur berkeping-keping!" hardik Akram cepat. Dia memiringkan kepalanya sedikit, sungguh-sungguh membidik sementara jarinya bersiap menekan pelatuk.


Akram mencoba bersikap tenang meskipun jantungnya berdebar semakin kencang didera ketakutan yang amat sangat. Sungguh, jika tangan Xavier benar-benar melakukan apa yang diancamkannya dan menyakiti Elana, Akram tidak akan bisa membayangkan apakah dia akan mampu menanggungnya atau tidak.


"Jadi, namamu adalah Elana," Xavier berbisik perlahan di telinga Elana. "Tetapi, kau akan selalu menjadi 'Lana'ku" sambungnya kemudian.


Xavier kemudian menengadahkan kepala kembali untuk menatap Akram. "Aku akan mengembalikan Lana kepadamu, Akram. Karena, kurang menyenangkan bagiku jika aku mengakhiri semuanya dengan mudah di sini, saat ini." Sebelum bisa dicegah, Xavier bergerak cepat dan menusukkan sesuatu dengan alat suntik berbentuk mesin injeksi otomatis sebesar kelingking ke lekukan antara leher dan bahu Elana. Entah apa yang disuntikkan Xavier ke tubuhnya, tetapi Elana langsung merasakan aliran dingin membekukan melaju di pembuluh darah lehernya dan mengalir ke sekujur tubuhnya.


Xavier membalikkan tubuh Elana ke arahnya, memeluknya dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di rambut perempuan itu.


"Maafkan aku. Tapi kita akan segera bertemu lagi, Lanaku. Aku berjanji kau akan baik-baik saja," bisiknya lembut di telinga Elana.


Xavier kemudian membungkuk dan mendaratkan kecupan lembut di titik yang sama dimana dia menyuntik Elana, lalu melepaskan pegangannya dari tubuh Elana dan mendorongnya ke depan hingga tubuh Elana oleng ke arah Akram. Seketika Akram bergerak maju dan menangkap Elana yang lunglai dalam pelukannya.


"Apa yang kau lakukan pada Elana?!" Akram memeluk Elana dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain kembali membidik murka ke arah Xavier, bersiap menembak.


"Kau tidak bisa menembakku, Akram," Xavier menyeringai penuh kepuasan. "Racun yang kusuntikkan ke tubuh Lana, hanya aku yang memiliki penawarnya." mata Xavier mengawasi Elana yang lunglai dalam rangkulan lengan Akram. "Waktu bagi Lana untuk bertahan tanpa penawar adalah tujuh hari. Aku akan menghubungimu kembali nanti untuk bernegosiasi mengenai penawar bagi Lana. Kita lihat seberapa besar kau rela berkorban untuk menyelamatkan perempuanmu kali ini,"


Xavier membungkukkan tubuh dengan sikap layaknya seorang aktor yang memberikan penghormatan setelah pentas besar yang sangat sukses, lalu membalikkan tubuh tanpa kata, sebelum kemudian lelaki itu menghilang ditelan derasnya hujan yang berpadu dengan temaramnya lampu taman.


Akram sendiri sudah tidak lagi memperhatikan Xavier, lelaki itu memfokuskan seluruh pandangannya ke arah Elana. Ketika mata Elana tampak berkabut dan hampir kehilangan kesadaran, seluruh diri Akram langsung dipenuhi kecemasan yang amat sangat. Dicengkeramnya tangan Elana yang dingin, diguncangnya dengan putus asa, mencoba meneriakkan nama perempuan itu agar tetap sadar.


"Elana! Elana!"


Sayangnya, tidak ada gunanya. Panggilan Akram yang begitu keras hanyalah terdengar sebagai suara samar di telinga Elana yang berdenging. Lalu, Elana akhirnya tak mampu bertahan lagi, kesadarannya terenggut seketika saat bayangan hitam yang keras kepala datang tiba-tiba, merangkulnya erat dan menyeretnya tenggelam ke dasar kegelapan yang paling dalam


***



***





__ADS_1


__ADS_2