
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
"Sejak awal aku tidak yakin kalau Aaron akan semudah itu mati, jadi aku terus mengetatkan penjagaan di sekitar perimeter rumah. Aku juga menambah penjaga di fasilitas kesehatan yang saat ini merawat ayah Serafina." Xavier menyambung kembali kalimatnya dengan nada tidak puas. "Bagaimanapun, ayah Sera kemungkinan dianggap sebagai pion penting bagi Aaron. Dulu keluarga Dawn menggunakan ayah Sera sebagai sandera supaya Sera menurut dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya."
"Ah, ayah Serafina." Akram mengawasi lekat-lekat ke arah Xavier yang tampak muram. "Kau seperti didera rasa bersalah?"
Xavier menipiskan bibir, lalu seolah beban pikirannya begitu membebani jiwanya, lelaki itu mendekus pelan sebelum mengucapkan kalimatnya. "Aku selalu berpikir bahwa dulu aku juga tak ada bedanya dengan keluarga Dawn. Aku juga menggunakan Salvatore, Ayah Sera sebagai sandera. Bahkan sekarang pun...."
"Kau masih melarang Sera untuk bertemu dengan ayahnya? Bagaimana kondisi Salvatore?" Akram menegakkan punggung, tubuhnya sedikit condong ke depan, penuh rasa ingin tahu.
"Saat ini, Salvatore masih berada dalam kondisi koma. Otaknya sudah tak berfungsi akibat pukulan yang diterimanya di penjara bertahun-tahun yang lalu. Aku sudah berbicara dengan dokter yang terbaik, tetapi mereka semua bilang bahwa sangat kecil kemungkinan dia bisa terbangun kembali. Bahkan jika bisa terbangun pun, fungsi otaknya sudah benar-benar rusak sehingga dia hanya akan menjadi cangkang kosong." Ekspresi Xavier benar-benar serius ketika berucap. "Sedangkan mengenai kanker stadium akhir yang menggerogoti tubuhnya.... aku sudah mengusahakan semua obat yang bisa kubuat untuk meredam kanker itu serta meminimalisasi kerusakan organ dalam tubuhnya. Tapi, obat itu hanya untuk menghentikan sementara, bukan untuk menterminasi kankernya. Jadi, kurasa.... yang kulakukan hanyalah menahan kematian Salvatore sampai Sera sehat kembali setelah melahirkan dan bisa menemuinya."
"Kurasa kau juga tak bisa membicarakan masalah kanker ini dengan Sera. Dia mungkin sudah menerima bahwa ayahnya berada dalam kondisi koma selama bertahun-tahun, tetapi kenyataan bahwa ayahnya menderita penyakit mematikan dan usianya tak lama lagi, akan membuatnya shock. Itu tentu akan berpengaruh mentalnya, padahal dia sedang mengandung." Akram menganggukkan kepala, tampak jelas menyetujui apa yang dilakukan oleh Xavier.
"Yah. Karena itulah aku membuat kesepakatan dengan Sera. Aku membuat alasan bahwa berkunjung ke fasilitas kesehatan yang dipenuhi orang-orang dengan penyakit menular, cukup berbahaya bagi seorang ibu yang sedang mengandung. Sera setuju untuk menahan diri dan kami sepakat bahwa Sera baru akan mengunjungi Salvatore setelah dia melahirkan. Selama ini aku selalu menunjukkan foto dan video serta rekam jejak catatan kesehatan yang dilaporkan oleh tim dokter yang menangani Salvatore kepada Sera, tentu saja dengan menyembunyikan catatan kesehatan yang membahas kankernya." Xavier menghela napas. "Untuk saat ini, kurasa Sera puas dengan keadaan ini. Tinggal tugasku saja untuk menahan supaya Salvatore tak mati sebelum Sera bisa menemuinya."
"Itu sudah bagus. Tunggu sampai saatnya tepat, sampai Sera benar-benar sehat sehingga kau bisa mengatakan semua kepadanya. Kurasa Sera pasti akan mengerti alasanmu." Akram mengerutkan kening. "Menurutku kau harus menambah lagi penjagaan di rumah sakit. Jika Aaron ingin menggunakan Salvatore...."
"Menurutku, lebih baik Salvatore mati saja secepatnya. Itu akan lebih mudah bagi semuanya."
Tiba-tiba saja Xavier menyela, ekspresinya dingin, suaranya tegas tanpa ragu dan wajahnya dipenuhi kekejian yang tersirat menyeramkan. Ucapannya itu membuat Akram menghentikan kalimatnya seketika dan menatap tajam ke arah Xavier dengan tubuh menegang.
"Kau tidak akan membunuh Salvatore tanpa alasan, bukan? Sera tidak akan memaafkanmu jika sampai dia tahu dan kau tak mungkin bisa merahasiakan kejahatanmu selamanya. Sebuah hubungan yang didasari oleh rahasia tak terungkap, hanya akan berakhir sebagai kisah cinta yang buruk." Akram langsung menasehati dengan waspada.
Xavier menggerakkan jemarinya untuk meremas pangkal hidungnya dengan frustasi. Lelaki itu tampak kebingungan mendeskripsikan perasaannya sendiri.
"Kau tidak tahu perasaanku. Aku merasakan dorongan posesif yang kuat untuk menguasai Sera bagi diriku sendiri. Aku ingin memilikinya, aku ingin matanya hanya memandang kepadaku, bibirnya hanya untuk berbicara mengenaiku, hatinya hanya tertuju padaku, kecemasannya hanya ditujukan untukku dan semuanya. Aku ingin setiap sel tubuhnya ditujukan untukku. Hanya diriku. Aku tak ingin Seraku memiliki ikatan dengan orang lain selain diriku." Xavier menghela napas kembali berkali-kali seolah ingin menenangkan dirinya. "Kenyataan bahwa ada orang lain yang dicemaskan oleh Sera, membuatku gila, bahkan ketika orang itu adalah ayah kandung Sera sendiri. Selama ini, Salvatore selalu menjadi beban bagi Sera, keberadaannya malahan selalu menjadi sandera yang merantai kaki Sera sehingga perempuan itu tidak bebas melangkah. Salvatore menjadi alasan Sera disiksa tanpa bisa melawan, bahkan besar kemungkinan musuh di masa depan akan menggunakan Salvatore sebagai sandera jika lelaki tua itu masih hidup. Karena itulah, menurutku jika Salvatore mati, maka beban yang merantai kaki Sera akan musnah dan istriku bisa bebas melangkah."
"Xavier." Akram mencoba menyusun kalimatnya seefektif mungkin. "Kau tidak bisa memutuskan hubungan seorang ayah dan anak denga paksa, bahkan dengan kematian sekalipun. Salvatore adalah seorang ayah bagi Sera, ayah yang dicintainya, ayah yang membuatnya rela berkorban menahan kesakitan demi keselamatannya. Bunuh pikiran kejammu itu dan singkirkan jauh-jauh, jangan labuhkan tanganmu untuk mencelakai Salvatore. Dia mungkin akan mati dalam waktu dekat, tapi jangan sampai dia mati karena perbuatan tanganmu. Jika kau tak bisa menahan nafsu membunuhmu yang didorong oleh keinginan posesif menguasai Sera, kau akan menghancurkan seluruh hubungan rapuh yang kau jalin bersama Sera sampai berkeping-keping dan tak bisa diperbaiki lagi."
Xavier meremas rambutnya dengan marah. "Aku tak mengerti ikatan antara seorang ayah dengan anak." Lelaki itu mengerang, seolah otaknya yang biasanya cemerlang itu menolak berpikir dan menolak memberikan jawaban.
"Kau akan mengerti nanti. Kau akan menjadi ayah. Ayah dari dua bayi kembar yang sedang menanti saat dilahirkan di dunia ini. Jika nanti kau menggendong keajaiban kecil itu di pelukanmu, maka tanpa perlu mempelajari, secara alami kau akan langsung mengerti ikatan kuat antara seorang ayah dengan anaknya yang tak bisa diputuskan dengan mudah." Akram menyahut cepat dan nadanya terdengar pasti.
Bagaimanapun apa yang dirasakan oleh Akram itu adalah kenyataan yang diambil dari pengalamanannya ketika dia memeluk Zac pertama kalinya.
***
Dari gerbang perumahan sampai ke gerbang rumah megah Xavier yang sangat besar, lapisan penjagaan tampak begitu ketat dan bersiaga.
Ya, Xavier telah menambahkan personel penjaga kelas tinggi hingga beberapa kali lipat untuk mengawasi semua titik di lingkar perimeter rumahnya.
Untuk siapapun yang bekerja di bawah Xavier ataupun untuk para pegawai yang memiliki akses memasuki rumah dan mendekati Sera, dilakukan cek latar belakang dan pengawasan dari GPS yang ditanamkan ke tubuh mereka. Yang lebih ekstrim lagi, meskipun Xavier memberikan gaji yang luar biasa tinggi bagi siapapun yang bekerja kepadanya, alih-alih dengan ancaman seperti yang dilakukannya sebelum-sebelumnya, Xavier membuat kontrak persyaratan resmi dimana pegawainya itu harus setuju untuk disuntikkan racun khusus yang tidur di dalam tubuh dan bisa diaktifkan sewaktu-waktu jika mereka mengambil langkah berkhianat. Untuk penawarnya, baru diberikan setelah kontrak kerja itu selesai. Cara ini sangat efektif untuk mencegah pengkhianatan orang dalam.
Semua penjagaan ketat ini akan terus dilakukannya sampai mereka bisa mengeliminasi Aaron. Tidak mungkin ada penyusup yang bisa masuk, semua akses sudah ditutupnya dengan sempurna.
__ADS_1
Ketika mobil Xavier memasuki gerbang rumah dan melaju mulus melewati jalan luas dengan taman indah di kiri kanannya, lelaki itu merenung sambil menatap melalui jendela kaca mobilnya, memperhitungkan apakah ada yang terlewatkat olehnya.
Semua sudah sempurna. Teramat sangat sempurna.
Akan tetapi, kenapa dia masih merasa tidak tenang? Situasi ini seperti ketenangan menyesakkan sebelum badai besar datang....
Ketika mobil berhenti, Xavier sedikit terkesiap ketika terlepas dari lamunannya. Punggungnya menegak dan lelaki itu langsung membuka pintu mobil dan melangkah turun dari mobilnya tanpa menunggu dibukakan pintu oleh pegawainya. Beberapa penjaga dan pelayan membungkuk hormat ketika menyambutnya di pintu dan Xavier membalasnya dengan anggukan tanpa ekspresi.
"Bagaimana Nyonya?" Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sama yang selalu ditanyakannya ketika memasuki rumah ini sejak dia tinggal bersama Sera. Meskipun Xavier memasang kamera di rumah dan mengawasi Sera untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja, tetapi dia tetap ingin mendengar kondisi Sera secara langsung dari keterangan para pelayannya.
"Nyonya baik-baik saja. Beliau memakan makanannya dan menghabiskan waktunya untuk membaca, lalu berjalan-jalan sebentar untuk melenturkan panggulnya. Tetapi... kondisi kakinya yang bengkak membuat nyonya kepayahan sehingga nyonya akhirnya menghabiskan sore harisnya berbaring. Dokter Nathan juga berkunjung untuk memeriksa tadi, beliau meninggalkan salep dan minyak khusus untuk memijat Nyonya." Kepala pelayannya memberikan laporan dengan cepat dan terperinci seperti biasa, membuat Xavier menganggukkan kepalanya puas.
Setelahnya, Xavier membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk. Nuansa kamar yang senyap dan temaram langsung menyambutnya, membuatnya seketika bergerak dengan hati-hati untuk menutup pintu di belakangnya supaya tak menimbulkan suara.
Sosok Sera tampak berbaring di atas ranjang besar di ujung ruangan. Selimut tampak menutupi tubuhnya dan Sera terlihat terlelap sehingga tak menyadari kehadiran Xavier yang memasuki kamar.
Langkah Xavier perlahan ketika dia menyeberangi karpet kamar yang tebal, lalu lelaki itu berjalan mendekati ranjang dan membawa dirinya duduk di tepi ranjang.
Posisi ranjang yang sedikit bergerak membuat Sera terusik dari tidurnya. Perempuan itu membuka mata, lalu menolehkan kepala langsung ke arah Xavier. Ketika matanya bertemu dengan mata Xavier, bibirnya seketika mengulas senyum.
"Xavier." Sera mengucapkan nama Xavier lambat-lambat dengan suara serak karena baru bangun dari tidurnya. "Kau sudah pulang? Urusanmu sudah selesai?"
Sejak kandungan Sera semakin besar dan Sera mulai kepayahan untuk bergerak, Xavier otomatis menghabiskan hampir seluruh harinya di rumah dan hanya keluar dalam waktu singkat sebelum kemudian kembali lagi ke rumah. Lelaki itu telah memindahkan segala hal menyangkut pekerjaannya ke rumah, dan merombak ruang kerjanya lebih dengan menyediakan ruang untuk sekertaris dan asisten pribadinya. Meskipun kadang Xavier sibuk bekerja di ruangannya, lelaki itu selalu menyempatkan diri untuk menemui Sera dan menghabiskan waktunya bersama Sera.
Bagi Sera sendiri, kenyataan bahwa Xavier selalu ada di dekatnya dan hampir tidak pernah meninggalkan rumah, membuat hatinya terasa lebih tenang.
Tadi pagi Xavier berpamitan kepada Sera dan mengatakan bahwa dia akan menemui Akram untuk menyelesaikan urusan pekerjaan. Tentu saja Xavier tidak mengatakan kepada Sera bahwa urusan itu adalah untuk memeriksa mayat yang diduga adalah Aaron. Tetapi setelah dia mendapatkan kesimpulan, banyak urusan lain menyusul termasuk penyusunan strategi baru untuk melacak Aaron serta kepentingannya untuk memperketat penjagaan keamanan di sekitar Sera. Pada akhirnya, Xavier baru berhasil pulang kepada Sera lagi setelah malam dilarutkan oleh waktu.
Sera membalas senyuman Xavier dengan tenang. Beberapa bulan ini, mereka seolah telah mencapai pengertian sebagai pasangan yang saling membantu. Mungkin tidak ada cinta di dalam hubungan mereka -setidaknya dari sisi Xavier- tetapi bisa dikatakan mereka lebih seperti... sahabat.
Tubuh Sera bergerak perlahan, mencoba untuk sedikit menegakkan punggung dan setengah duduk sambil mengganjal punggungnya di kepala ranjang.
"Masih sedikit nyeri. Tapi tidak apa-apa, lama-lama aku terbiasa," jawabnya jujur. Sera memang mengatakan yang sebenarnya. Bengkak di kakinya terasa semakin memberatkan, belum lagi dengan dadanya yang sering terasa sesak ketika dia tidur malam dan kesulitan mencari posisi tidur yang nyaman. Tidak pernah dia sangka bahwa meskipun kehamilannya sangat mudah di awal dan tanpa harus mengalami mual muntah berlebihan, ternyata masa-masa ketika kehamilannya menualah yang menyulitkannya.
Xavier mengamati ekspresi Sera dan keningnya tampak berkerut dalam. Lelaki itu lalu mengalihkan pandangan mata dan tatapannya langsung tertuju pada beberapa obat yang diletakkan rapi di atas nampan di nakas samping ranjang. Xavier mencondongkan tubuhnya, lelaki itu mengambil salah satu benda di wadah kaca putih berukuran sedang, lalu membaca tabel instruksi yang ditempel di bagian depannya.
"Ini krim khusus untuk mengurangi rasa sakit di kakimu. Aku akan membantumu mengaplikasikannya." kerutan di kening Xavier semakin dalam ketika lelaki itu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Sera. "Kudengar, ibu hamil tidak boleh sembarang mengaplikasikan kosmetik yang mengandung bahan kimia ke tubuhnya karena kemungkinan kandungan bahan kimia itu diserap oleh bayi melalui jalur plasenta dan bisa mempengaruhi janin di dalam kandungan. Apakah menurutmu, krim ini aman?" Xavier membolak-balik tabung kaca di tangannya itu, seolah-olah berharap menemukan merk, nama atau keterangan bahan dasar pembuatan krim tersebut. Sayangnya, karena krim ini sepertinya adalah racikan manual, maka bahan dasarnya tidak tertulis di kemasannya, yang tertulis hanyalah keterangan bahwa ini adalah obat luar dan cara pemakaiannya saja.
Bagi Sera pertanyaan itu terdengar konyol, apalagi diucapkan oleh seseorang yang katanya memiliki kepandaian luar biasa seperti Xavier. Hal itu membuat Sera terkekeh sejenak sebelum kemudian menjawab.
"Tentu saja itu aman, itu diresepkan dan dibawa langsung oleh dokter Nathan sendiri. Kau tentu tidak berpikir bahwa dokter Nathan akan setega itu mencelakaiku dengan memberikan krim yang tidak aman, kan?"
Xavier tampak bersungut-sungut. "Siapa tahu dia mendendam padaku dan diam-diam ingin mencelakai istriku untuk memberiku pelajaran." Xavier menipiskan bibirnya. "Kurasa, lebih baik aku meminta perincian resep untuk mengetahui apa bahan dari krim ini dari Nathan, jika dia tidak mau memberikannya, aku bisa membawanya ke lab untuk 'membedahnya'...." Suara Xavier terhenti ketika Sera menyentuh tangannya lembut.
"Xavier, kau tidak serius dengan perkataanmu, bukan? Kau tentu tahu bagaimana dedikasi dokter Nathan dalam menangani kehamilanku ini. Beliau sangat telaten dan merawatku dengan baik. Dokter Nathan tidak mungkin mencelakaiku dan anak kita. Kau harus meminta maaf kepada dokter Nathan karena telah berpikiran buruk kepadanya."
Xavier berdehem ketika ditegur seperti itu, meskipun kerutan di keningnya masih tak memudar, lelaki itu memilih tak mengatakan apa-apa. Ya, sikap Xavier sekarang terlihat seperti anak kecil yang menunduk patuh ketika diomeli oleh ibunya. Hanya Serafina Moonlah yang memiliki kekuatan untuk menundukkan seorang Xavier Light hingga patuh sepenuhnya.
"Kurasa aku hanya sedikit paranoid." Xavier mengangguk, mengaku bersalah. Tentu saja dia tak mengatakan kepada Sera apa yang sesungguhnya mengganggu pikirannya. Ini semua mengenai Aaron Dawn. Lelaki itu masih hidup entah di mana dan entah berganti menjadi wajah siapa. Mereka tidak tahu seperti apa wujud Aaron saat ini dan bagaimana rencananya meraih Sera. Dan itulah yang paling membuat Xavier merasakan ketakutan terbesar dalam hidupnya.
Bagaimana jika Aaron berganti identitas menjadi sosok yang dengan mudah menembus perimeter keamanan mereka dan kemudian tanpa disadarinya bisa mencapai Sera dengan mudah? Bagaimana jika Aaron ternyata mencuri wajah dan identitas supir pribadinya, kepala pelayannya, kokinya atau bahkan dokter Nathan? Apakah Xavier harus mulai mencurigai orang-orang terdekatnya mulai sekarang?
__ADS_1
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
***
***
***
Mohon maaf atas keterlambatan posting belakangan ini dikarenakan masih ada gangguan sedikit yang menghalangi author untuk bisa menulis. Mohon dimaklumi. Semoga diterima dengan senang hati. Thank You.
__ADS_1