Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 14 : Sandiwara Berhenti


__ADS_3


"Aku pernah merasa sama sepertimu." Tiba-tiba saja Akram berucap.


Perkataan Akram itu membuat Xavier yang tengah menatap kosong dengan pandangan getir itu tertegun dan mendongakkan kepala.


"Apa maksudmu?" tanyanya cepat.


Akran sedikit meringis. "Elana. Aku dulu berpikir bahwa Elana adalah hukuman yang dikirimkan takdir untukku. Mungkin memang sedikit berbeda dengan situasimu sekarang. Tetapi, apa yang kurasakan kurang lebih sama. Dulu aku selalu menganggap bahwa diriku adalah yang paling kuat di antara semuanya dan bahwa aku tidak membutuhkan siapa pun." Mata Akram menyipit ketika menyambung kalimatnya, "Tetapi, ketika kau meracuni Elana dan aku memeluk tubuhnya yang dingin antara hidup dan mati, aku menyadari bahwa jika Elana sampai mati, maka aku akan ikut mati. Lalu aku merasa, bahwa situasi itu mungkin diciptakan sebagai penghukuman bagiku, untuk memukul kesombonganku."


Akram menatap ke arah Xavier dengan berhati-hati.


"Kau lemah terhadap yang satu ini. Jika tidak, kau pasti akan segera membunuhnya dan menurutku, kelemahanmu ini, karena kalian memiliki masa lalu yang sama dan juga... aku sudah melihat fotonya."


Keheningan membentang di dalam ruang kerja Akram itu, dan suasana tak nyaman seolah mencekik tenggorokan, sementara Xavier terlihat mengacak rambut dengan frustasi, suatu emosi yang jarang sekali diperlihatkan oleh Xavier kepada siapa pun.


"Memangnya kenapa dengan fotonya?" Xavier memasang senyum palsu sebagai bentuk penyangkalannya.


Akram menipiskan bibir. "Dia mirip dengan Marlene, dengan ibu kita." simpulnya cepat.


Xavier segera menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Tidak. Dia tidak mirip sama sekali! Ibuku adalah yang tercantik. Tidak mungkin...,"


"Xavier." Akram menyela dengan tenang. "Kau dan aku sama-sama tahu, kita berdua mencari sosok ibu kita pada wanita-wanita yang ada di dekat kita, bukan sepenuhnya secara fisik, melainkan secara citra diri. Lalu, mau tak mau, kita lemah pada wanita-wanita seperti itu, sama seperti yang kurasakan pada Elana." Senyum Akram tampak penuh ironi. "Menyedihkan, bukan? Musuh-musuh kita pasti akan tertawa ketika menyadari bahwa kelemahan kita ternyata terletak pada sesuatu yang sesederhana itu."


Kali ini Xavier tidak membantah. Ekspresinya berubah serius.


"Roman Dawn tidak menyadari bahwa wanita yang dikirimkannya kepadaku sebenarnya adalah kelemahanku," simpulnya perlahan. "Dia mengirimkan Serafina kepadaku hanya karena dia ingin melakukan pembalasan dendam sekaligus. Baik kepadaku, maupun kepada Salvatore Moon."


"Kenapa kau tidak memilikinya saja?" Akram bertanya tenang.


Untuk kedua kalinya, pernyataan Akram itu seolah membuat otak Xavier menjadi bebal. Xavier mengerutkan kening dan bertanya kembali.


"Apa maksudmu?"


Akram menatap tajam ke arah Xavier. "Serafina Moon. Kau menginginkannya, bukan?" tanya Akram kembali.


Hanya perlu waktu beberapa detik bagi Xavier untuk merenungkan pertanyaan itu, tak lama lelaki itu langsung menjawab dengan seringaian di bibirnya.


"Ya. Aku menginginkan Serafina Moon."


Akram menjawab seringaian itu dengan tatapan tahu sama tahu.


"Lalu kau hendak menunggu apa lagi? Satu-satunya penghalangmu untuk memiliki Serafina Moon, adalah keluarga Dawn," ujarnya kemudian dengan nada penuh arti.


"Apakah kau tidak akan menghalangiku jika aku mengincar keluarga Dawn?" Xavier bertanya dengan nada menyelidik.


Tatapan Akram tampak kejam ketika menjawab.


"Kenapa aku harus menghalangimu? Kau, Serafina Moon, dan Keluarga Dawn, kalian semua sama-sama terbelit dalam benang kusut masa lalu yang menjebak kalian bersama-sama. Tidak ada hubungannya denganku. Tidak mungkin jika kau ingin mengurai benang yang sudah terlanjur kusut itu, satu-satunya cara adalah memotongnya sampai habis." Akram beranjak dari duduknya, mengakhiri percakapan mereka tanpa bantahan. "Ayo. Elana pasti sudah menunggu di ruang makan." perintahnya sambil memimpin langkah keluar ruangan.



"Aku akan mengantar Xavier ke pintu."


Begitu Xavier berpamitan hendak pulang, Elana berucap cepat ke arah Akram yang tengah menggendong Zac dan membuainya supaya anak itu terlelap.


Elana memasang senyum tipis ke arah Akram, mengabaikan tatapan tidak setuju dari mata suaminya itu, lalu memimpin langkah Xavier menuju pintu keluar.


Malam sudah cukup larut dan mereka telah menyelesaikan makan malam mereka bersama, yang ajaibnya berlangsung dalam situasi damai yang cukup menyenangkan.


Tidak ada situasi saling sindir atau saling provokasi yang menegangkan antara Xavier dan Akram sepanjang acara makan malam tadi, dan itu membuat Elana senang karena sepertinya, hubungan dua bersaudara ini, meskipun pelan, tampaknya sudah mulai membaik dan semakin hangat dari hari ke hari.

__ADS_1


Seorang pelayan membukakan pintu depan, dan Xavier menerima mantel yang diserahkan dengan sopan kepadanya, lalu memakai mantel itu dan menoleh kembali ke arah Elana di ambang pintu.


"Terima kasih atas makan malamnya. Aku akan datang lagi nanti," ucap Xavier lembut dengan nada tulus.


Elana menganggukkan kepala. "Kau tampak banyak pikiran." Pengamatan Elana memang tajam, bagaimanapun dia pernah bekerja selama beberapa lama sebagai asisten Xavier, sehingga dia cukup mengenal lelaki itu. "Apakah Akram membebanimu dengan banyak pekerjaan karena saat ini dia sedang mengambil cuti kerja?" tanya Elana lagi dengan nada cemas.


Xavier terkekeh, lalu menggelengkan kepala.


"Tidak, Elana, jangan cemas. Suamimu mungkin membenciku, tetapi dia bukan diktator yang akan membebankan pekerjaan kepada anak buahnya di luar kapasitas yang bisa ditanggung."


"Kurasa Akram tidak membencimu. Dia mungkin sedikit canggung, tapi... aku melihat hubungan kalian sudah berkembang lebih baik dari sebelumnya," Elana tahu betapa berartinya ini untuk Xavier, sebab, meskipun tak ditunjukkan, Xavier sesungguhnya sangatlah menyayangi Akram.


"Sepertinya kau benar," Xavier tersenyum tipis. Sebuah senyum yang benar-benar tulus. Lalu, tiba-tiba ekspresi lelaki itu berubah serius ketika lelaki itu menatap ke arah Elana dengan penuh selidik dan bertanya. "Elana, maaf jika pertanyaanku terlalu pribadi. Tetapi, di masa lampau, pernahkah kau merasa membenci Akram sampai ingin membunuhnya?"


Pertanyaan itu membuat Elana tertegun. Perempuan itu mengerutkan kening, lalu berucap dengan nada berhati-hati.


"Bolehkah aku bertanya lebih dulu alasan kenapa kau menanyakan itu?"


Xavier berdehem, seolah-olah lelaki itu kehilangan kemampuannya sejenak untuk berucap, sama sekali tak terlihat seperti Xavier yang biasanya.


"Yah. Bisa dibilang, ada seorang wanita yang menarik perhatianku, tetapi aku... mungkin telah berbuat sesuatu di masa lalu yang membuatnya sekarang ingin membunuhku," jawab Xavier kemudian dengan nada penuh ironi.


Elana terpana. Seorang wanita? Xavier Light yang tak punya hati dengan perilaku yang hampir mendekati seorang psikopat ini, sedang membicarakan seorang wanita, tetapi bukan dengan niat untuk meracuni atau membunuh?


Jika wanita itu sampai bisa membuat Xavier sampai seperti ini, berarti kemungkinan besar, dia adalah wanita yang istimewa.


Elana tak tahu apa yang terjadi di antara Xavier dan wanita itu. Tetapi, jika jawaban yang diberikannya bisa membantu Xavier, tentu Elana akan memberikannya dengan senang hati.


"Ya, Xavier. Aku pernah sangat membenci Akram. Benci, jijik, muak dan segala macam perasaan negatif lainnya, sampai di titik aku ingin Akram Night lenyap dari dunia ini. Tetapi, kau harus ingat, hati perempuan itu, pada dasarnya lembut dan rapuh. Pada titik tertentu, jika kau cukup berusaha, kau bisa mengubah hati yang membencimu menjadi mencintaimu," Elana berucap dalam senyuman jujur dan matanya berbinar penuh cinta ketika mengingat tentang Akram. "Dulu aku ingin Akram lenyap dari dunia ini, tetapi sekarang, aku tak akan bisa menjalani hidup tanpa Akram di sisiku."



"Aku ingin kau mengunci posisi keluarga Dawn di Rusia dan terus melaporkan pergerakan mereka kepadaku."


Duduk di kursi belakang mobilnya, Xavier menelepon Dimitri yang menanggapi perintahnya itu dengan sikap pahit.


"Aku bukan bosmu, tapi aku adalah kunci yang menentukan apakah kau masih bisa bernapas esok hari atau tidak." Xavier menjawab dengan nada kasar. "Apakah sekarang kau sudah mengerti posisimu, atau aku harus mengingatkanmu lagi bahwa hidupmu bergantung pada penawar racun yang kumiliki?"


"Baiklah," suara Dimitri terdengar jengkel. "Itu saja? mengawasi Keluarga Dawn dan tidak melakukan apa-apa?"


"Kau harus mengunci posisi mereka. Sebaiknya mereka tidak berpindah tempat, atau jika mereka melakukannya, kau harus langsung tahu posisi terbaru mereka dan melaporkannya kepadaku." Xavier menyambung kembali perintahnya dengan nada tegas.


"Oke. Anggap saja sudah dikerjakan." Dimitri sebenarnya tak ingin ikut campur dengan urusan Xavier, tapi rasa ingin tahu membuat mulutnya tak bisa ditahan. "Untuk apa kau mengunci posisi Keluarga Dawn?"


Xavier menyeringai mendengar pertanyaan itu.


"Untuk apa? Sebab, aku tak ingin mereka pergi kemana-mana saat aku datang."


"Kau akan datang? Kemari? Ke Rusia?" Dimitri tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dalam suaranya.


Xavier terkekeh. "Aku berencana untuk mengunjungi Keluarga Dawn dalam waktu dekat dan membawa hadiah kejutan untuk mereka," jawabnya dengan nada penuh misteri.



Kamarnya dijaga oleh anak buah Xavier.


Serafina yang tak mau menyerah atas ultimatum dan intimidasi Xavier tadinya berniat melarikan diri dari tempat ini dan pergi untuk menunjukkan bahwa Xavier tak bisap seenaknya mengaturnya. Tetapi kemarin setelah Xavier meninggalkannya, tubuh Sera masih terasa lemas dan untuk meninggalkan ranjang kakinya terasa terlalu lemah. Sera akhirnya menahan niatnya dan memutuskan untuk beristirahat sepenuhnya dan tidur guna mengumpulkan tenaga demi esok hari


Pagi ini, Sera langsung memindai seluruh jalan keluar yang bisa dia raih tanpa harus berhubungan dengan Xavier. Jika lelaki itu masih ingin menjadikannya asistennya, maka Xavier harus bisa menerima kalau Sera tak harus tinggal di rumahnya.


Dia masih punya beberapa teman yang meskipun tak terlalu akrab bisa dimintai pertolongan. Dia juga punya piutang pada rekan sekerjanya di masa lampau yang bisa ditagihnya jika situasi benar-benar mendesak.


Sera tak semenyedihkan itu hingga harus bergantung sepenuhnya pada Xavier. Dia tak akan membuat Xavier merasa terlalu berkuasa hingga bisa mengatur-aturnya.

__ADS_1


Dari jendela kamar perawatannya, Sera tahu bahwa lantai tempatnya dirawat berada di tingkat yang cukup tinggi. Lalu, ketika dia menyeret infusnya ke pintu dan membuka pintu tersebut dengan keinginan untuk melihat situasi di luar, dia harus berhadapan dengan bukan satu, bukan dua, tetapi empat orang penjaga yang memakai jas hitam lengkap, kacamata gelap dan sudah pasti menyembunyikan senjata di balik jas mereka. Salah satu dari bodyguard itu dengan sopan berkata kepada Sera, bahwa Sera sebaiknya masuk ke dalam kamarnya kembali dan tidak mencoba keluar.


Dengan gemetar, antara takut dan marah, Sera masuk kembali ke dalam kamar, tetapi memutuskan untuk tidak berbaring dan memilih duduk di tepi ranjang sambil menggigit bibir dengan frustasi.


Memangnya Xavier pikir dirinya itu siapa? Sera adalah calon asisten pribadinya, bukan sanderanya. Senaknya saja lelaki itu mengurungnya di dalam kamar rumah sakit dan menahannya supaya tidak keluar kamar?


Tiba-tiba sebersit firasat buruk terlintas di benak Sera. Entah kenapa, Xavier tiba-tiba begitu terlibat dalam kehidupannya, apalagi setelah bencana kebakaran kemarin.


Ada sesuatu yang janggal... seolah-olah, semua kebetulan yang terjadi itu terlalu banyak untuk disebut sebagai suatu kebetulan.


Apakah jangan-jangan... Xavier terlibat dengan kebakaran itu?


Pintu ruangan terbuka dan sosok yang sedang dipikirkan oleh Sera melangkah memasuki kamar.


Xavier Light selalu tersenyum, seolah-olah dia memiliki semua kebahagiaan di dunia ini dan tidak menanggung beban sedikit pun dari kekejaman dunia yang kadang tak kenal ampun.


Dan Sera membenci senyum itu, sangat-sangat membencinya. Bagaimana bisa lelaki itu tersenyum seringan ini saat begitu banyak perbuatan kejamnya di masa lalu yang menghancurkan kehidupan banyak manusia?


"Anak buahku bilang kau mencoba keluar. Maaf karena aku menempatkan penjagaan di luar kamar perawatanmu. Aku hanya tak ingin terjadi hal-hal di luar kendaliku." sapa Xavier ramah. Tanpa dipersilahkan, lelaki itu langsung duduk di kursi yang tersedia di dekat ranjang.


Sera yang masih duduk di tepi ranjang mendongakkan dagunya dengan angkuh, bersiap menantang.


"Bisakah kau jelaskan apa yang dimaksud dengan hal-hal yang berada di luar kendalimu itu? Sepertinya kau lupa kalau di sini aku adalah calon asisten pribadimu, bukan seorang tahanan yang harus dijaga," ujar Sera dengan sikap mencela yang nyata.


Xavier tak segera menjawab. Lelaki itu mengawasi Sera dengan tajam sebelum berucap,


"Entah kenapa, kadang aku merasa kalau kau sangat membenciku, Sera."


Kalimat Xavier itu membuat Sera tertegun dan langsung mengutuki dirinya sendiri karena tak bisa mengendalikan emosinya di hadapan Xavier.


"Apa maksudmu? Aku... aku bukannya membencimu, aku hanya tak setuju dengan caramu bertindak...,"


"Mari kita hentikan segala kepura-puraan ini, Serafina Moon. Atau bisa kubilang, putri dari Salvatore Moon yang dikirimkan oleh keluarga Dawn untuk membalas dendam kepadaku?" Xavier tiba-tiba menyela, ekspresinya berubah gelap mengerikan, senyum yang biasanya selalu terulas di wajahnya dan seolah menjadi perlengkapan patennya, lenyaplah sudah. Mata lelaki itu mengawasi ekspresi syok yang tercermin di wajah Sera. "Terkejut? Bagaimana jika kukatakan bahwa aku sudah mengetahui semuanya sejak awal, hmm?"


Tanpa diduga, Xavier tiba-tiba bergerak dan sudah berada dekat sekali dengan Sera, aura lelaki itu berubah dalam sekejap, dari aura manis yang membuai, menjadi aura gelap penuh hasrat membunuh.


"M-menjauhlah dariku," dilanda oleh rasa panik dan takut, Sera menggerakkan kedua tangannya ke depan untuk mendorong dada Xavier yang entah kenapa sudah berdiri begitu dekat dengannya, memerangkapnya di tepi ranjang rumah sakit itu.


Ternyata, meskipun sudah melatih diri sekuat tenaga untuk melawan ketakutannya kepada Xavier, Sera masih belum cukup kuat. Aura yang ditebarkan oleh Xavier sekarang begitu mengerikan, sama persis dengan Xavier yang digambarkan oleh Roman dan Samantha Dawn, sosok monster kejam yang membuat anak perempuan mereka jadi bernasib tragis dan kehilangan nyawa.


Rasa takut itu membuat Sera seolah-olah lumpuh, tak mampu bergerak dan tak mampu melawan ketika Xavier yang berdiri, menempatkan dirinya dekat dengan Sera yang sedang duduk di tepi ranjang, lalu mencengkeram dagu perempuan itu dengan tangannya, mendongakkan ke arahnya sebelum kemudian lelaki itu membungkukkan wajahnya di sisi kepala Sera dan menempatkan bibirnya dekat dengan telinga Sera.


"Serafina Moon. Kau begitu bodoh karena memilih berada di sisi pihak yang lemah. Apakah kau pikir, keluarga Dawn dengan kekuatannya itu, bisa melawanku? Mereka tak berdaya melawanku, karena itulah mereka mencari cara yang lain dengan mengirimmu kepadaku, bukan?" Xavier sengaja mengucapkan kalimatnya lambat-lambat, mengembuskan napas panasnya di sisi telinga Sera sementara jemarinya yang ada di dagu Sera mencengkeram kencang ketika perempuan itu mulai memberontak dan berusaha mendorongnya.


"Kau terlalu memandang remeh kepadaku dengan menganggap diriku mudah dibodohi oleh amatir sepertimu. Tahukah kau bahwa kau sangat beruntung? Seandainya saja kau adalah perempuan lain, kau tak akan berada di sini dalam kondisi masih bernyawa," suara Xavier semakin menajam ketika lelaki itu sengaja menggesekkan bibirnya ke telinga Sera, membuat Sera terkesiap ketakutan dan berusaha menghindar.


Sayangnya, Xavier ternyata begitu kuat. Tubuhnya yang ramping ternyata sekokoh batu, menyimpan kekuatan tersembunyi yang tak bisa dengan mudah dilawan oleh tubuh perempuan Serafina yang secara alami jauh lebih lemah.


"Kau sudah memasukkan dirimu sendiri ke dalam sarang ular, tikus kecil. Dan aku bukan ular yang baik hati. Aku senang mempermainkan tikus kecil yang malang sampai kelelahan sebelum kemudian melahapnya bulat-bulat."


***



***


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR

__ADS_1


Thank You. By AY



__ADS_2