Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 118 : Pengakuan Elana


__ADS_3


"Itu tidak mungkin!" wajah Maya langsung pucat pasi tak terperi ketika mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Credence, sementara suara teriakannya begitu kencang sehingga supir Credence yang berada di bagian depan mobil, sedikit menolehkan kepalanya karena terkejut. "Akram Night dikenal memiliki selera tinggi terhadap perempuan! Aku tahu pasti karena aku telah mengikuti segala pemberitaan tentangnya, dia hanya mau memacari perempuan kelas tinggi, dari kalangan ningrat, artis, model terkenal atau wanita-wanita lainnya yang sukses dan terkenal. Bahkan... bahkan tubuh Elana yang kurus, sangat jauh berbeda dengan selera Akram sebelumnya,"


Credence bersedekap, menatap Maya seolah menatap orang bodoh.


"Ketika kau melihat seseorang berkencan dengan tipe yang sama berkali-kali, belum tentu itu adalah seleranya. Bisa saja Akram mengencani perempuan-perempuan itu hanya untuk memenuhi ekspetasi khalayak yang haus informasi tentang dirinya. Kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi di balik layar kehidupan Akram karena kita hanyalah orang luar," Credence menyipitkan mata. "Siapa yang tahu kalau selera Akram sesungguhnya adalah perempuan lugu dan polos seperti Elana?"


"Lugu dan polos?" kembali Maya berteriak sambil diliputi oleh kemarahan. "Bagaimana bisa kau mengira kalau jalang itu adalah sosok lugu dan polos? Apa kau lupa kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dan hampir memergoki ketika Elana dan Elios baru saja bercumbu tanpa moral di ruang toilet kantor?" seru Maya penuh nafsu kemarahan. "Itu baru yang ketahuan olehku, siapa yang tahu kalau Elana juga menggunakan tubuhnya untuk merayu Xavier? Mereka terlalu dekat hingga nyaris mencurigakan! Xavier juga terlihat selalu membelanya!"


"Jaga bicaramu, Maya. Kau bicara tanpa bukti dan hanya berdasarkan asumsi. Jika sampai tuduhanmu ini keluar dan kau ternyata salah, entah apa yang akan dilakukan oleh Akram Night kepadamu," Credence menggeram, mulai merasa tak suka akan sikap negatif Maya yang berada di luar kendali.


Maya mengigit bibir dengan tangan terkepal. "Aku percaya dengan apa yang mataku lihat. Entah apa yang digunakan oleh Elana untuk memikat Akram, mungkin benar katamu, dia menggunakan kepolosan dan keluguannya untuk membuat Akram tergoda karena Akram hampir tidak pernah menemukan perempuan semacam itu dalam lingkup pergaulannya. Tetapi sudah jelas, kalau apa yang ada di balik penampilan lugu itu tidak sama seperti tampak luarnya! Perempuan jalang itu telah menipu Akram!" mata Maya bersinar dengan penuh tekad. "Aku akan membuat Akram menyadari kesalahannya!"


Credence melirik ke arah Maya yang sibuk dengan pikiran jahatnya sendiri itu. Sinar jijik terlintas di matanya, menunjukkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap perempuan di sebelahnya itu. Selama ini dia mentoleransi kearoganan dan kesombongan Maya, karena Maya adalah seorang jenius dan hasil kerjanya selalu gemilang. Tetapi, jika Credence sudah berbaik hati dan bersedia menasehati, sementara Maya tetap keras kepala dan tak mau menerimanya, maka lebih baik Credence diam dan melihat saja bagaimana Maya menggali lubang kuburnya sendiri menuju kehancuran.


"Hanya kali ini saja aku memperingatkanmu, Maya. Selebihnya aku tak akan ambil pusing jika kau bertindak ceroboh dan merugikan dirimu sendiri," Credence mendesiskan kalimat peringatannya dengan nada lambat-lambat. "Aku adalah seorang pengamat hebat, dan jelas-jelas aku melihat kalau Elana, memiliki arti sangat penting bagi kakak beradik itu, Akram Night dan Xavier Light. Dua orang itu, meskipun terlihat seperti bussinessman biasa di permukaan, tetapi sangat berbahaya di baliknya. Dua kakak adik itu begitu mengerikan hingga orang-orang lebih memilih menghindar daripada melawan langsung," suara Credence begitu tegas hingga memaksa Maya menengadah dan menatap matanya lekat.


"Jadi, kuharap kau mendengarkan saranku, kau datang ke Night Corporation untuk bekerja, Maka bekerja sajalah dan tidak perlu ikut campur dalam urusan internal orang-orang di sana. Aku tahu kau mengagumi Akram Night, tetapi sadarilah posisimu sebagai orang luar dan berhenti berusaha merangsek masuk dengan paksa untuk menjadi bagian dari hidupnya. Kau seorang perempuan, bukan porsimu mengejar-ngejar laki-laki. Apa kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan, jika seorang laki-laki tak menginginkanmu, tak akan ada cara untuk membuatnya mau disampingmu, begitupun sebaliknya, jika seorang laki-laki menginginkanmu, tak akan ada cara untuk membuatnya berhenti mengejarmu. Jadi, daripada kau menyerang kemana-mana, lebih baik kau diam dan tidak membuat masalah. Karena, jika memang Akram Night menyukaimu, dia akan mengejarmu tanpa kau harus berbuat apa-apa," Credence menipiskan bibirnya penuh ancaman. "Satu hal lagi, kalau sampai kau membuat masalah, dengan tegas aku akan mengembalikanmu ke kantor pusat dan mengambil asistenku yang lain untuk mendampingiku di sini."


Credence memberikan penjelasan dengan begitu gamblang dan bermaksud baik. Sayangnya, lawan bicaranya, Maya, adalah sosok arogan yang selalu merasa paling pintar hingga tak mau menerima nasehat orang lain.


Kedua tangan Maya masih mengepal, sementara api cemburu dan api kemarahan membara kuat di dadanya. Nasehat Credence kepadanya hanyalah bagai angin lalu yang tak didengarnya dengan sungguh-sungguh. Yang ada di pikirannya sekarang, adalah bagaimana caranya membuka kedok Elana di depan Akram, sehingga Akram akan menyadari seperti apa sosok asli Elana yang buruk itu.


***



***


Perawat yang menggantikan pakaian Elana baru saja melangkah keluar ketika pintu kembali terbuka dan Akramlah yang kali ini memasuki ruangan.


Lelaki itu tampaknya juga sudah berganti pakaian, dengan pakaian yang lebih santai, rambutnya juga tampak basah seperti baru saja mandi.


Elana memandangi Akram dan perasaan bersalah langsung memenuhi dirinya. Tadi saat mengurusinya ketika sedang muntah, pakaian Akram juga ikut basah terkena air. Tetapi yang membuat Elana kagum, lelaki itu sangat telaten memperlakukannya, membantunya sampai selesai muntah dengan cekatan, tanpa sedikitpun ada jejak rasa jijik terlintas di wajahnya.


Ketika Akram menarik kursi ke dekat ranjang dan duduk di sana, Elana langsung memusatkan perhatiannya pada wajah Akram, dengan niat baik hendak meminta maaf. Tetapi dia kemudian terkejut ketika mendapati ekspresi Akram yang sangat muram. Seolah-olah mendung meliputi jiwa lelaki itu dan tak ada cahaya di matanya.


Elana langsung menduga-duga, pikirannya berputar liar mencari jawaban.


Kenapa tiba-tiba Akram menjadi begitu muram? Bukankah tadi sebelumnya ketika lelaki itu meninggalkannya untuk berbicara dengan dokter Nathan, ekspresi wajahnya tampak baik-baik saja? Apa jangan-jangan.... Akram baru saja menerima kabar buruk tentang kondisi Elana? Dia muntah-muntah tanpa sebab beberapa hari ini... apa jangan-jangan, dia menderita kanker perut?


Wajah Elana memucat ketika bayangan paling mengerikan itu menderanya, dia membuka mulutnya hendak bertanya, tetapi pada saat yang sama, Akram mendongakkan kepala dan menatapnya tajam.


"Apakah kau benci dan jijik kepadaku, Elana?"


Pertanyaan itu sekonyong-konyong saja keluar dari bibir Akram tanpa diduga sebelumnya, membuat Elana tertegun dengan mulut terbuka, kesulitan mencerna arti pertanyaan itu di dalam otaknya meskipun telinganya jelas mendengar.


"A...apa?" Elana tak bisa mempercayai telinganya sendiri, karena itulah dia membalas pertanyaan dengan pertanyaan.


Akram menghela napas sebelum berucap.


"Nathan bilang kalau muntah-muntahmu... bukan karena masalah fisik, tetapi karena masalah psikis...," sejenak Akram menghentikan kalimatnya dan menatap tajam. "Kalau kuingat-ingat, kau selalu muntah-muntah ketika kau sedang bersamaku, sementara ketika aku sedang tak ada di sekitarmu, kau baik-baik saja...," Akram mengacak rambutnya seolah frustasi. "Jadi, kupikir... akulah penyebab kau muntah... yah mungkin... kau masih menyimpan rasa jijik dan kebencian kepadaku?"


Elana terpana mendengar penjelasan Akram. Entah bagaimana lelaki itu bisa mengambil kesimpulan tersebut, seolah-olah lelaki itu... tidak percaya diri....

__ADS_1


Di mata Elana, Akram selalu tampak sebagai sosok dominan yang kuat dan penuh percaya diri, menggilas siapapun yang lemah tanpa ampun, dan juga berjiwa keji. Dirinya sama sekali tak menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk melihat sosok Akram yang seperti ini, sosok Akram yang tak yakin...dan menunjukkan kerapuhannya yang Elana pikir tak akan pernah ada dalam diri lelaki itu.


Lalu, benarkah semua itu karena dirinya? Karena Akram masih tak yakin akan perasaan Elana kepadanya?


Elana langsung terngiang kembali perkataan Xavier sebelum pergi tadi, bahwa dia harus menekan rasa rendah dirinya, bahwa dia harus yakin bahwa dirinya pantas dicintai oleh Akram, dan bahwa Akram benar-benar mencintainya.


Sekarang saat ini, di depan matanya, dia seolah diberikan jawaban atas keraguannya selama ini. Sosok Akram yang tampak diterpa mendung hanya karena mengira Elana membenci dan jijik kepadanya...


Ah, Elana harus mampu bersikap jujur dan menghentikan siksaan terhadap Akram.


"Aku tidak jijik dan membencimu," dengan terbata, Elana mengumpulkan keberaniannya untuk mengaku, "Aku... aku cuma cemburu...."


Akram mendongak seketika, matanya melebar oleh binar keterkejutan yang nyata.


"Cemburu?" ulangnya tak percaya.


Pipi Elana merah padam, sementara dirinya berjuang keras melontarkan kalimat yang menjadi perwakilan perasaannya. Saat ini, Elana memutuskan untuk jujur dengan isi hatinya. Dia pasrah, akan tanggapan Akram berikutnya.


"Se... sebenarnya... aku... aku selalu mual dan muntah... setiap membayangkan... adegan ketika Maya mabuk dan melemparkan dirinya ke dalam pelukanmu...." ujarnya pelan, hampir tak terdengar sambil menundukkan kepala, tak berani menatap langsung ke arah mata Akram.


Keheningan membentang di antara mereka. Akram sendiri tampak membeku, dengan ekspresi syok nyata yang nyaris menggilas napasnya hingga dadanya terasa sesak.


Sementara itu, ketika tak ada suara, gerakan, atau tanggapan apapun dari Akram, Elana akhirnya mendongakkan kepala dan menatap Akram dengan takur-takut.


"Kau... kau tak menertawakanku, kan?" tanyanya lirih.


Akram tergeragap, matanya yang semula kosong langsung beralih kembali ke arah Elana, menatap tajam seolah ingin masuk dan menelusup ke kedalaman jiwa Elana.


"Kau... kau cemburu kepadaku ketika melihat... melihatku bersama wanita lain?" ujarnya kemudian seolah tak percaya. Sementara, matanya sendiri menyala oleh tuntutan jawaban yang dipenuhi ketidaksabaran.


Apakah mereka berdua sama? Sama-sama merasa tak yakin akan perasaan satu sama lain?


Akram sudah mengakui perasaannya dengan tegas sampai dengan saat itu, dan pria itu dengan konsisten menunjukkan bahwa cintanya teguh serta tak berubah hati. Sementara Elana sendiri... karena rasa rendah dirinya... dia takut mengakui perasaannya sendiri.


Sampai kapan Elana akan mengombang-ambingkan kejelasan hubungan mereka dan menyiksa dirinya sekaligus Akram?


"Aku tak tahu.. hari itu di restoran, ketika aku melihatmu bersama Maya - waktu itu aku tak tahu kalau dia adalah Maya - aku menduga kalau dia adalah salah satu wanita yang pernah menjadi kekasihmu," Elana berusaha menyingkirkan bayangan memualkan itu ketika berucap. Dia sudah berganti dengan pakaian bersih sekarang dan perutnya bahkan masih kosong setelah memuntahkan segala isinya tadi. Jangan sampai dia muntah lagi. "Lalu... lalu ketika wanita itu menjatuhkan dirinya ke dalam pelukanmu... perutku langsung bergolak hebat dan aku muntah sejadi-jadinya. Begitupun malam ketika aku sadarkan diri di rumah sakit, saat melihatmu, aku langsung teringat adegan itu dan mual lagi," Elana menghela napas setelah mengatakan kalimat beruntun dengan cepat. Pipinya kembali memerah karena malu. "Dan juga... tadi ketika kau menyebut bahwa perempuan itu ternyata adalah Maya... aku teringat lagi dan mual lagi...."


Suara Elana terhenti ketika tiba-tiba saja Akram beranjak dari duduknya dan naik ke atas ranjang, lelaki itu berada dekat sekali dengan Elana, lengannya bergerak melingkari tubuh Elana, melingkupinya ke dalam pelukan kuat hingga wajah Elana menempel di dadanya. Akram sendiri mengubur wajahnya di rambut Elana, bibirnya mengecup di sana sebelum kemudian berucap dengan penuh perasaan.


"Maafkan aku," ujarnya parau.


Kembali Elana mengerutkan kening, karena sekali lagi, reaksi Akram sungguh-sungguh di luar dugaan. Dia mencoba mendongakkan kepala, tetapi pelukan Akram terlalu kuat sehingga Elana hanya bisa menempelkan pipinya rapat di dada lelaki itu.


"Kenapa kau harus minta maaf?" tanya Elana kemudian.


Akram melonggarkan sedikit pelukannya, tangannya bergerak menangkup pipi Elana, menengadahkan wajah perempuan itu ke arahnya, lalu mencium bibirnya dengan begitu lembut. Jika sebelumnya Akram selalu menyelipkan hasrat membara dalam pagutan bibirnya, kali ini ciuman lelaki itu terasa berbeda. Sebuah ciuman lembut yang sarat akan kasih sayang yang seolah meluap dari jiwa lelaki itu.


"Aku minta maaf. Karena diriku yang membiarkan seorang wanita mengambil keuntungan dan memaksakan kontak fisik pada tubuhku, kau sampai harus mengalami ini semua dan begitu menderita," Akram berbisik sambil memindahkan kecupannya ke pipi Elana. "Kau sampai harus mengalami sakitnya mual, muntah, kehilangan nutrisi tubuhmu hingga harus menerima infus dan dirawat di rumah sakit," mata Akram bersinar penuh tekad ketika lelaki itu melanjutkan. "Aku berjanji, kalau aku tak akan pernah membiarkan diriku didekati dan disentuh wanita lain mulai sekarang, dan jika ada wanita yang berani-beraninya bersikap licik dan memaksakan kontak fisik terhadapku, aku akan langsung melenyapkannya dari muka bumi," ujar Akram dengan nada serius.


Elana terkekeh, tak bisa menahan tawanya mendengar perkataan Akram tersebut. Dulu dia mungkin akan lari terbirit-birit ketika mendengar Akram berucap kejam tanpa belas kasihan seperti itu. Tetapi sekarang berbeda, Elana tahu bahwa sekejam-kejamnya Akram, dia bisa mencoba melembutkan hatinya dan biasanya selalu berhasil.


"Jangan sampai bersikap terlalu ekstrim Akram," Elana kini berani memasang senyumnya terhadap lelaki itu. "Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa merasa cemburu karena itu..."


"Mungkin karena kau mulai belajar mencintaiku dan ingin memilikiku, ingin memonopili diriku untukmu sendiri," Akram meraih jari Elana dan mengecupnya. "Jangan membebani pikiranmu, Elana. Aku milikmu sepenuhnya dan akan selalu setia kepadamu,"

__ADS_1


Hati Elana tersentuh mendengar kalimat Akram itu. Kalau menengok kembali awal pertemuan mereka, sama sekali tak disangkanya bahwa mereka berua bisa mencapai titik ini..Titik dimana mereka bisa duduk berpelukan erat satu sama lain, tanpa ada paksaan, tanpa ada permusuhan... dimana yang satu menyatakan cemburu sementara yang lain meyakinkannya dengan pernyataan kepemilikan dan janji setia.


Akram memainkan jari jemari Elana, dan nada suaranya berubah berbahaya ketika berucap kemudian.


"Mengenai Maya ini... aku merasa kalau dia sudah mulai mengganggu, obsesinya yang berlebihan membangunkan alarm tanda bahaya di benakku. Apalagi... dia jelas-jelas sudah mengobarkan api permusuhan kepadamu, entah kenapa," nada suara Akram semakin menggelap ketika meyambung kembali kalimatnya. "Apakah kau... ingin aku melenyapkannya saja supaya tak mengganggu lagi?"


"Akram!" Elana berseru sambil sedikit mengguncang tangannya yang berada dalam genggaman Akram. Meskipun dia tahu bahwa kekejaman Akram bisa dilembutkan, tetapi mendengar Akram bilang akan menyingkirkan orang lain seperti menyingkirkan lalat, tetap saja terasa mengerikan baginya. "Jangan begitu, mungkin Maya tidak menyukaiku karena dia menganggapku kurang kompeten untuk mendapatkan kedudukanku sekarang. Dia pasti... berpikir aku menggunakan cara lain untuk meraih kedudukanku, apalagi dirinya merupakan akademisi yang sangat pandai dan mahir di bidangnya, sudah tentu dia mencemoohku karena aku seolah meloncati jenjang jabatan padahal kemampuanku belum seberapa," Elana menundukkan kepala, suaranya memelan ragu. "Dan itu semua bukan kesalahan Maya, itu semua kesalahanku, seharusnya aku belajar dulu sampai lebih baik sehingga bisa lebih kompeten dan layak, sebelum menerima tawaran Xavier untuk menjadi asistennya."


"Kenapa kau disibukkan oleh pikiran yang membuatmu merasa inferior lagi?" Akram mendongakkan kepala Elana ke arahnya, matanya bersinar tajam. "Yang harus kau tanamkan di pikiranmu hanya satu, bahwa kau adalah calon istri Akram Night, pemilik perusahaan Night Corporation. Jadi, jangankan menjadikanmu asisten Xavier, aku bahkan bisa mengalihnamakan perusahaan atas nama dirimu dan menjadikanmu pemilik perusahaan secara legal tanpa siapapun -termasuk Maya yang arogan dan bodoh itu- bisa menentangnya,"


"Aku tak mau menjadi pemilik perusahaanmu," Elana menyahut cepat dengan kengerian yang nyata di wajahnya.


Akram sendiri terkekeh melihat ekspresi Elana, dia tak bisa menahan diri untuk mengecup Elana sekilas sebelum kemudian mengutarakan ultimatumnya.


"Itu tak bisa diubah, Elana. Setelah kita menikah nanti, aku akan mengalihnamakan hak atas setengah kepemilikan Night Corporation atas namamu sebagai hadiah pernikahan," mata Akram menyipit ketika lelaki itu menatap Elana lekat-lekat. "Dan mengenai pernikahan... sudahkah kau pikirkan jawaban atas lamaranku tadi pagi?"


***



***



***


***



***



MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN


Sekarang ada sistem Ranking berdasarkan vote POIN di NOVELTOON ( dan akan segera menyusul di MANGATOON ).


Jadi, jika ingin memberi dukungan kepada Author, kalian boleh mendownload NOVELTOON untuk memberikan poin kamu buat vote author ya.


DI NOVELTOON, ada fasilitas untuk VOTE menggunakan POIN ke karya author ini


Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :


Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis


Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin nama by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing


Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request nama tulisan di tumblernya.


Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.


Regadrs, AY


PS: hari ini satu part aja ya... lagi banyak kerjaan, ahahaha.

__ADS_1



__ADS_2