
Begitu pintu kamar tidur pada salah satu ruangan kamar hotel itu menutup di belakang tubuh mereka, Xavier tak membuang-buang waktu lagi. Lelaki itu melemparkan tongkat penyangga tubuhnya dan membiarkannya jatuh tergeletak di karpet tebal hotel, sebelah tangannya lalu menarik lengan Sera yang masih digenggamnya. Dihentakannya lengan Sera dengan lembut sekaligus kuat sehingga tubuh Sera langsung terbanting, menabrak dadanya.
Sebelum Sera sempat mengucapkan kalimat apapun, kedua tangan Xavier bergerak cepat menangkup sisi pipi kiri dan kanannya. Lalu, ibu jarinya bergeser lembut untuk membuka bibir bawah Sera, dan dalam sekejap, ditanamkannya bibirnya di sana. Ciuman itu sepenuhnya egois. Xavier menyesap lembut sepuas hati dan menikmati rasa dari sari kerinduan yang telah tertahan begitu lama.
Kenikmatan yang langsung menghantamnya membuat Xavier tanpa sadar mengerang. Tubuhnya lalu bergerak dan membalikkan posisi mereka. Ditekannya Sera supaya perempuan itu bersandar ke dinding, terperangkap dalam rengkuhan lengannya. Sementara itu, bibir mereka masih lekat bertautan dan tubuh Xavier mendesak Sera rapat, tidak memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk melarikan diri.
Sepuas-puasnya Xavier menyesap seluruh rasa diri Sera, mengambil sebanyak yang diberikannya, membuai perempuan itu dengan keahlian seorang pencium yang tanpa tanding. Hingga akhirnya, ketika bibir yang saling memuaskan diri satu sama lain dalam sebentuk pertautan lapar yang penuh hasrat itu akhirnya terlepaskan.
Napas Xavier terengah, meniupkan uap panas dari bibirnya yang masih menempel di bibir Sera, seolah tak rela melepaskan. Xavier membuka matanya yang berlumur hasrat dan menatap langsung ke dalam mata Sera yang sama-sama berkabut, terbuai oleh keahlian menciumnya yang berpengalaman. Perempuan itu sudah pasti terhanyut dalam hasrat yang sama seperti dirinya.
"Kau terasa sangat enak." Xavier mengecupi bibir Sera dan menyelinginya dengan gigitan lembut menggoda. "Aku ingin melahapmu bulat-bulat," erangnya parau, dikuasai hasrat.
Perkataan Xavier mengirimkan senyar panas yang merambati seluruh pembuluh darah Sera, menderas di alirannya sehingga membuat debaran jantungnya semakin mengeras kencang.
"Xa-Xavier...." Ketika lelaki itu mulai melucutinya, bibir Sera yang bergetar akhirnya mampu mengucap kata, berusaha menarik perhatian Xavier yang tampaknya terlalu dikuasai gairah. Lelaki itu telah selesai membuka kancing gaun Sera, lalu menurunkan kain yang menutupi pundaknya. Bibirnya menyusul kemudian, menghadiahkan kecupan panas di sana, meninggalkan jejak-jejak kepemilikannya yang tak terbantahkan di seluruh permukaan kulit Sera nan lembut.
"Ssh...." Xavier mendesiskan isyarat supaya Sera tidak membantah, lelaki itu menggigit sedikit, menggoda dengan sikap memiliki. Bibirnya tersenyum puas ketika merasakan bahwa tubuh Sera gemetar di bawah sentuhannya. "Jangan melawan apa yang diinginkan oleh tubuhmu, sayang. Apakah kau tidak merasakan yang sama seperti yang kurasakan? Tubuh kita berdua sangatlah cocok bersama, seolah-olah kau diciptakan untuk memuaskanku dan aku diciptakan untuk menyenangkanmu."
Tanpa menunggu reaksi Sera, Xavier lalu bergerak mundur sambil menggandeng tangan Sera, membawa perempuan itu melangkah bersamanya menuju ranjang. Lelaki itu lalu duduk tepi ranjang dan menarik Sera yang masih berdiri merapat kepadanya supaya masuk di antara kedua pahanya yang terbuka. Tangan Xavier merengkuh pinggang Sera, sementara wajahnya menengadah, menatap Sera dengan tatapan mata redup merayu.
"Aku sudah bilang bahwa aku akan menghiburmu, kan?" Xavier menyeringai lebar. Lelaki itu mengambil tangan Sera dan membawanya ke bibirnya yang panas, menghadiahkan ciuman lembut di pergelangan tangan. Setelahnya, Xavier membawa tangan Sera ke dadanya, menempelkan jari jemari Sera yang gemetaran itu ke permukaan halus kain kemejanya.
"Kau tahu, aku sangat ingin melakukan banyak hal kepadamu, sayangnya kondisi tubuhku sedang tak memungkinkan." Kalimat Xavier terdengar lembut, mengalun dan menggoda di telinga Sera. "Aku sudah berjanji bahwa kali ini kau bebas menggunakan tubuhku semaumu sebagai penghiburanmu. Itu berarti, kali ini kau yang harus memimpin percintaan kita." Mata Xavier menyipit, dipenuhi oleh hasrat ketika lelaki itu melanjutkan kembali kalimatnya. "Aku akan membimbingmu, mungkin... kau bisa memulai dengan melepaskan kemejaku?"
***
Malam sudah begitu larut, tetapi Dokter Nathan masih menenggelamkan diri di ruang kerjanya. Hampir semalaman penuh dia menyibukkan diri dengan membantu beberapa kasus darurat di UGD, hingga tanpa sadar waktu telah berlalu dan menjelang dini hari. Karena besok pagi dia sudah harus berada di rumah sakit lagi, Dokter Nathan akhirnya memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya, memilih beristirahat dengan tidur di sofa ruang kerjanya saja demi kepraktisan.
Tetapi ketika memasuki ruang kerjanya, lembaran hasil test darah yang masih terbuka lebar di atas meja kerjanya telah menarik perhatiannya sehingga membuat Dokter Nathan mengurungkan niat untuk berbaring di sofa. Lelaki itu malahan membanting tubuhnya duduk di kursi besar depan meja kerjanya untuk mempelajari kembali lembaran hasil test darah tersebut.
Rasanya tidak mungkin kalau Sera tidak hamil. Dokter Nathan mengerutkan kening ketika membaca ulang hasil test darah Sera yang terpampang di meja besar yang ada di hadapannya.
Kedua hasil test darah yang diambil dalam rentang jarak satu minggu itu sama-sama menyatakan hasil negatif alias Sera tidak sedang mengandung. Hasil negatif itu dinyatakan berdasarkan pada jumlah hormon HCG di dalam darah Sera yang tidak memenuhi angka minimal untuk bisa dinyatakan mengandung.
Tetapi, masih ada sesuatu yang mengganjalnya. Sebab, bagaimana mungkin Sera tidak berhasil mengandung? Bukankah perempuan itu diberikan obat kesuburan dan Xavier juga telah memastikan bahwa mereka berdua melakukan intercouse di waktu yang tepat, yaitu pada masa subur Sera?
Apa yang salah?
Dokter Nathan memiringkan kepala, mempelajari angka-angka di hadapannya dengan saksama. Tidak ada yang salah dengan kesuburan Sera maupun Xavier. Bahkan dalam kondisinya yang menderita anemia aplastik, Xavier tetap mampu menghasilkan sel ****** kualitas baik dalam jumlah mencukupi. Begitupun dengan Sera, perempuan itu memiliki sel telur sehat dengan ukuran normal yang siap untuk dibuahi.
Mungkin bukan faktor itu yang membuat hasilnya negatif, tetapi waktu yang dipilih oleh Dokter Nathanlah yang tidak tepat. Waktu pengambilan sampel darah Sera mungkin terlalu cepat sehingga jumlah hormon HSG yang seharusnya terdeteksi banyak pada saat pembentukan plasenta janin, ternyata belumlah terakumulasi sepenuhnya dan belum memenuhi standar minimum hasil positif pada test kehamilan.
Dirinya bisa saja melakukan test kehamilan ulang, sebab, dia masih mempunyai sampel darah terbaru miliki Serafina. Untuk berjaga-jaga dalam rencana persiapan kehamilan Sera berikutnya, dokter Nathan memang terus melakukan pengambilan sampel darah Sera secara rutin. Bahkan sampai dengan hari kemarin pun, pengambilan sampel darah Sera terus dilakukan oleh anak buahnya yang sengaja dikirim ke rumah Xavier untuk mengambil darah Sera setiap tiga hari sekali. Tujuan awalnya hanyalah untuk melakukan test TORCH demi memastikan tubuh Sera terbebas dari segala virus dan penyakit sehingga bisa menjadi wadah yang benar-benar sehat untuk mengandung anaknya nanti.
Apakah seharusnya dia mengikuti instingnya saja dan melakukan apa yang terbersit di dalam pikirannya?
Dokter Nathan menimbang-nimbang, lalu akhirnya dia mengangkat telepon dan menghubungi asisten kepala laboratorium yang dia ketahui sedang berjaga malam di sana.
“Aku ingin meminta tolong kau melakukan test kehamilan ulang pada sampel darah yang tersedia…." Dokter Nathan segera memberikan instruksi dengan cepat, memutuskan untuk menghilangkan ganjalan serta rasa penasaran di hatinya dengan melakukan test darah ulang kepada Sera.
***
Xavier terbawa perasaan.
Hari sudah menjelang pagi ketika Xavier masih saja menatap nanar langit-langit kamar hotel tempatnya berbaring telentang saat ini. Tubuhnya lelah setelah percintaan mereka yang kesekian kalinya, tetapi matanya menolak tidur, terbuka lebar karena diganjal oleh berbagai pikiran rumit yang mengkontaminasi otaknya.
Di dalam rengkuhan lengannya, Sera terbaring rapat, tertidur lelap dengan pipi menempel erat pada dadanya yang telanjang, di sisi yang berlawanan dengan bekas luka tusukan di sana yang masih dibebat sepenuhnya.
Perempuan itu langsung jatuh tertidur setelah percintaan mereka yang terakhir, sama kelelahannya seperti dirinya.
Memikirkan bagaimana mereka telah melangkah masuk kepada pengalaman baru dalam variasi percintaan mereka tadi membuat Xavier tanpa sadar menyeringai senang. Sera telah belajar banyak untuk menyenangkannya, memuaskan Xavier hingga mungkin saja dirinya tak akan pernah bisa meniduri perempuan lain tanpa membayangkan Serafina Moon sebagai pasangannya.
Jari jemari Xavier mengusap punggung serta sisi lengan Sera dengan lembut dan semakin mendekatkan perempuan itu kepadanya. Tangannya yang satunya lalu bergerak menarik selimut untuk melingkupi tubuh Sera, melindunginya dari hawa dingin kamar yang membuat permukaan kulit Sera ikut terasa dingin.
Percintaan mereka terasa menyenangkan sekaligus bisa melepaskan rasa frustasi yang menumpuk di jiwa lelaki itu karena menahan diri untuk menyentuh Sera sejak kepulangannya dari rumah sakit. Tetapi, entah kenapa pikirannya tak mau berpesta pora dan larut dalam kebahagiaan yang memuaskan itu. Ada sesuatu yang berbisik mengganggu, mendesiskan peringatan bahwa Xavier telah berbuat kesalahan besar dengan melanggar garis batas yang telah ditentukannya sendiri.
Xavier menghela napas panjang, merasakan pening menggayuti kepalanya yang membuat tangannya otomatis menekan pangkal hidungnya untuk menyingkirkan rasa pening itu.
Seumur hidupnya, tidak pernah Xavier dikalahkan oleh emosi perasaan sehingga melakukan tindakan impulsif yang menyalahi skenario yang telah ditetapkannya seperti saat ini.
__ADS_1
Tadinya dia hanya ingin menyingkirkan tangis itu dari wajah Sera dengan menawarkan tubuhnya tanpa pikir panjang untuk membuat perempuan itu melupakan kepedihannya. Memang itulah yang dia lakukan. Sepanjang malam hingga menjelang pagi ini, mereka lupa diri, lupa waktu dan lupa segalanya, larut di dalam percintaan yang seolah tak berujung. Kecocokan tubuh mereka dalam memberi dan menerima ketika berpadu untuk memuaskan hasrat satu sama lain benar-benar mencengangkan.
Kalau saja Xavier tidak sedang menahan sakit akibat bekas luka tusukan di dadanya yang belum sembuh benar, mungkin saat ini mereka masih bercinta sampai terang tanah menyapa bumi.
Tetapi, bukan percintaan itu yang menjadi masalah bagi Xaver, melainkan apa yang bergolak di dalam jiwanya setelah dia memuaskan dirinya menyentuh istrinya.
Menggunakan tubuhnya untuk menghibur Sera? Siapa yang sebenarnya coba dia bohongi? Dirinya sendirikah?
Karena saat ini, bukan Sera yang mendapatkan penghiburan dari percintaan mereka, tetapi malah Xavierlah yang mendapatkan kenyamanan setelah memeluk perempuan itu.
Kedekatannya dengan Sera membuatnya menginginkan lebih, membuatnya mengharapkan kembali secercah cahaya yang sudah bertekad dilupakannya dan hal itu membuatnya dilanda ketakutan.
Xavier dikenal memiliki nyali yang cukup besar. Bisa dibilang karena dia tidak takut mati, maka dia tidak takut kepada apapun dan siapapun. Sungguh menyedihkan karena ternyata sosok mungil yang ada dalam pelukannya inilah yang malahan berhasil membuatnya ketakutan setengah mati.
Seluruh rencananya kacau balau dan Xavier tak yakin bisa memperbaikinya esok pagi. Dia telah membuat rencana untuk bersikap jahat kepada Sera, sekuat tenaga berusaha supaya perempuan itu membencinya. Dia juga telah bertekad untuk menjauhkan Sera darinya, baik secara fisik maupun emosional, sehingga akan lebih mudah bagi mereka berdua untuk menjaga jarak dan mencegah kedekatan emosional yang membuat mereka berdua jadi terikat lebih dalam. Dia berjuang untuk memuluskan jalannya berpisah dari Sera. Untuk selamanya.
Seharusnya dia menjaga hubungan mereka berdua tetap pada jalurnya: hubungan transaksional yang dilandasi oleh kepentingan membalas budi dan mendapatkan keuntungan satu sama lain.
Sayangnya, malam ini telah mengubah segalanya. Malam ini, Xavier telah kehilangan garis tekad yang membentengi perasaannya.
Xavier menghela napas dalam-dalam, ekspresinya mengeras ketika lelaki itu berpikir keras.
Tidak. Dia tidak boleh tergoda. Jalurnya sudah ditentukan untuk menemui akhir secepat dia bisa. Xavier sudah bersiap membiarkan gelapnya kematian memeluk dirinya. Dia tidak akan membiarkan dirinya dirayu lagi untuk berusaha menggapai terang itu. Dia tak akan tergoda lagi untuk mencoba meraih kebahagiaan yang disyarati oleh tekad semangat hidup.
Tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Xavier sudah siap mati, tanpa syarat, tanpa beban, tanpa menoleh lagi.
Tangan Xavier langsung bergerak meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja pada nakas samping ranjang. Dia segera menghubungi kepala pelayan di rumahnya dan memberikan serentetan instruksi tegas yang sifatnya mendesak.
***
“Selamat pagi.”
Ketika Sera membuka mata, dirinya langsung bertatapan dengan wajah luar biasa tampan yang tersenyum menyeringai ke arahnya. Xavier tampak sudah segar dengan rambut basah dan pakaian rapi, sungguh berkebalikan dengan Sera yang acak-acakan dan tak berpakaian di balik selimutnya.
Lelaki itu sudah mandi?
Pemikiran tersebut menarik perhatian Sera dan membuatnya mengerutkan kening. Dia langsung mendorong tubuhnya untuk duduk di atas ranjang itu, membuat selimutnya yang menutupi tubuh telanjangnya hampir-hampir melorot sampai pinggang kalau saja Sera tidak menahannya dengan kedua tangannya.
Xavier menggelengkan kepala sedikit, lalu menatap Sera penuh arti.
“Kau tahu, untuk membasuh area yang terjangkau aku bisa melakukannya. Tetapi, untuk menjaga supaya perbanku ini tetap kering, aku tidak bisa. Aku menelepon perawat dari rumah sakit untuk membantuku mandi dan mengganti perbanku tadi. Perawat itu telah pergi setelah menyelesaikan tugasnya.”
Jawaban Xavier membuat mata Sera melebar. "K-kau memanggil perawat ke kamar ini?" serunya terkejut.
Xavier terkekeh. "Aku memanggil seorang perawat perempuan, seorang perawat senior yang cukup tua untuk menjadi ibu kita berdua." Tangan Xavier bergerak untuk menangkup pipi Sera yang merah padam dan mengusapnya lembut. "Lagipula, perawat itu hanya berada di area ruang tamu kamar hotel dan mungkin tidak menyadari keberadaanmu di dalam kamar ini."
Kamar mereka sendiri merupakan kamar president suite yang yang berukuran sangat besar, nyaris seukuran apartemen dengan tiga ruangan luas sebagai fasilitasnya. Tiga ruangan itu terdiri dari ruang tamu yang menyambung ke ruang dapur serta ruang makan. Sementara ruangan paling luas dengan batas dinding berpintu kokoh adalah kamar tidur tempat Sera setengah duduk saat ini. Pintu menuju kamar mandi sendiri bisa diakses dari dua sisi, dari ruang tamu juga dari kamar tidur.
Kamar hotel ini memiliki privasi yang sangat terjamin, dan bukan hal itu yang ada di pikiran Sera saat ini.
“Bukan begitu maksudku… seharusnya kau membangunkanku saja. A-aku bisa menggantikan perbanmu dan membantumu mandi." Sera menawarkan dengan sikap tulus, akan tetapi, entah kenapa pipinya malahan memerah ketika mengucapkan kalimat itu.
Seolah-olah… dia sedang menawarkan hal yang sensual kepada Xavier dan bukannya menawarkan bantuan.
Ada kilasan penuh hasrat di mata Xavier ketika melihat semu merah yang menggemaskan di pipi Sera. Tetapi, entah kenapa di mata Sera sekarang, lelaki itu terlihat lebih dingin dan menjaga jarak pagi ini. Sungguh berbeda dengan kemarin ketika Xavier seolah melepaskan batas dan menjadi lebih bebas saat memuaskan dirinya dengan menjamah Sera.
“Aku tidak ingin merepotkanmu." Xavier berucap dengan bibir menipis dan tanpa ekspresi. Lelaki itu mengawasi Sera dalam-dalam sebelum kemudian berucap kembali. "Lagipula, aku harus membiasakan diri untuk tidak bergantung kepadamu. Karena kau tidak akan bersamaku ke depannya nanti.”
Kalimat Xavier terdengar penuh makna, dan hal itu membuat Sera mengerutkan keningnya bingung.
“Apa maksudmu?" tanyanya kemudian.
Xavier yang berdiri di dekat ranjang memasukkan tangannya ke dalam saku dan berdehem seolah tak nyaman.
“Kurasa, kau sekarang sudah baik-baik saja, bukan? Bagaimana perasaanmu?" tanyanya dengan nada berhati-hati.
Sera menatap wajah Xavier dengan mata lebarnya, seketika dia langsung menyadari bahwa lelaki itu sedang membicarakan tentang insiden penghinaan Aaron yang menghancurkannya hingga lebur penuh air mata kemarin.
Perlahan Sera menelaah dirinya sendiri, berusaha mencari jawaban akan apa yang sedang dirasakan oleh hati terdalamnya. Dia mencari-cari rasa sakit yang menorehkan pedih menganga, tetapi… tidak ditemukannya rasa sakit itu. Seolah-olah, percintaan dan penghiburan Xavier semalam telah menambal lukanya, membuat hatinya yang patah karena sikap jahat Aaron jadi tidak sesakit seperti yang sebelumnya.
__ADS_1
“Aku… sudah baik-baik saja." Sera menyahuti perlahan. Matanya mengawasi ekspresi gelap Xavier dan dia kemudian menyambung kalimatnya dengan nada berhati-hati. "Terima kasih kepadamu.”
Kembali Xavier menyeringai, tidak menyembunyikan sikapnya yang berpuas diri. "Bagus. Aku senang bisa membantumu. Jika kau bisa melepaskan Aaron sepenuhnya, maka sekarang kau mampu fokus untuk mempersiapkan diri menjalankan kesepakatan kita berdua." Xavier mengawasi Sera yang tampak begitu cantik dalam kondisi acak-acakan dan hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Lelaki itu mengeraskan gerahamnya, menahan keinginan kuat untuk menyerbu ke atas ranjang dan bercinta lagi dengan perempuan itu.
Tidak. Xavier sudah merencanakan semuanya. Mungkin semalam dia sempat keluar jalur, tetapi pagi ini, akan dipastikannya semua kembali kepada jalannya semula.
“Bersiap-siaplah. Aku akan mengantarmu hari ini," ucapnya kemudian dengan nada dingin, bergemeretak dari sela gigi gerahamnya yang terkatup rapat.
“Mengantarku?" Sera tampak berpikir sejenak, lalu setelah menemukan jawabannya sendiri, wajahnya jadi berseri-seri. "Kita akan menjenguk ayahku?" sahutnya penuh antisipasi. Perempuan itu seketika dipenuhi semangat, seolah tubuhnya dipantik oleh nyala api yang membara. Sera bergegas meloncat turun dari ranjang sambil melilitkan selimut di tubuhnya yang telanjang, langkahnya terlihat ringan, melenting seolah hendak menghambur menuju kamar mandi.
Xavier menganggukkan kepala, berusaha keras menjaga sikap dinginnya meskipun sikap Sera yang bersemangat hampir-hampir mengulaskan senyum di bibirnya.
“Ya. Kita akan pergi untuk menjenguk ayahmu, tetapi sebelumnya aku akan mengantarmu untuk melihat rumahmu sendiri," sahutnya datar kemudian.
Sera yang hampir mencapai pintu kamar mandi langsung menghentikan langkah ketika mendengar kalimat Xavier tersebut. Perempuan itu menoleh, menatap Xavier dengan matanya yang dilumuri kebingungan.
“Ke rumahku sendiri?" tanyanya cepat, menyuarakan rasa ingin tahu.
Rumah yang mana? Bukankah rumahnya sudah hangus terbakar dan rata dengan tanah? Apakah jangan-jangan, Xavier telah membangun kembali rumahnya itu?
Mata Xavier menyipit dan ekspresinya tampak kejam ketika menyahuti.
“Aku sudah mempersiapkan sebuah rumah untukmu, sesuai dengan perjanjian yang telah kita sepakati sebelumnya. Rumah dengan fasilitas lengkap untuk dirimu sendiri." Xavier menatap Sera dengan dingin. "Kurasa, sudah saatnya kita mengikuti perjanjian di dalam kesepakatan kita untuk tidak mencampuri kehidupan kita masing-masing dan hanya bertemu pada saat proses pembuahan serta pada saat kelahiran anakmu nanti." Xavier berucap tegas, memberikan ultimatum yang tak terbantahkan. "Para pelayan sudah mengepak seluruh pakaian dan barang-barang pribadimu dan mengirimkannya ke rumah baru yang telah disiapkan untukmu. Mulai hari ini, kau keluar dari rumahku dan tinggal di rumahmu sendiri.”
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan.
__ADS_1
AY