
Itu adalah jenis pernikahan yang sederhana. Dilakukan di pagi hari, di tengah hujan salju yang menderas di luar sana, menghiasi pemandangan yang tergambar jelas dari kaca jendela transparan, menampilkan serpihan putih bersih yang gemulai menari saat terjun bebas, lalu jatuh bertumpukan menutupi hamparan permukaan bumi.
Langit masih tampak gelap meskipun putaran jam telah menari melingkari hari dan beranjak menapaki seperempat lingkaran jam dinding. Mungkin badai salju yang berlangsung penuh semangat sejak semalam, membuat matahari merasa rendah diri dan jadi enggan memunculkan bias sinarnya menerangi bumi.
Upacara pernikahan itu dilangsungkan di lobby luas rumah yang telah disulap menjadi ruangan formal bernuansa putih. Entah sejak kapan dekorasi sederhana yang manis itu ditambahkan di sana, Sera juga tak tahu karena dia dikurung di dalam kamarnya sejak kemarin. Tetapi, ketika melewati lobby ini saat menuju ruang duduk dan ruang makan, Sera ingat bahwa tempat ini sudah berubah drastis dibandingkan semalam. Tirai-tirai yang semula berwarna cokelat tua dengan hiasan sulur keemasan, telah diganti dengan warna putih bersih dengan simpul pita berwarna senada yang manis. Taplak meja juga diganti berwarna putih, pun dengan hiasan rangkaian aneka macam bunga segar, mawar, lily, tulip yang semerbak mewangi.
Sungguh hebat Xavier bisa menemukan bunga segar yang mekar dengan indah sempurna di tengah musim dingin terberat Rusia ini. Tetapi, lelaki itu memiliki uang dan kekuasaan yang berlimpah, perkara mencari bunga segar tentulah bukan masalah sulit untuknya, bukan?
Sayangnya, meskipun sekeliling mereka dihias dengan nuansa putih indah yang terasa begitu menyenangkan, yang dirasakan oleh Sera sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan itu semua.
Sebab Sera tahu, bahwa ini adalah pernikahan palsu.
Ini bukanlah jenis pernikahan yang diimpikan oleh wanita polos penuh harapan yang matanya masih berbinar berharap-harap cemas memimpikan kesempurnaan jodohnya di masa depan. Pangeran tampan dengan tampilan yang sempurna memang menjadi mempelai laki-lakinya, tetapi itu hanyalah cangkang indah untuk menyembunyikan monster gelap yang sangat berbahaya di baliknya.
Alam selalu memberikan peringatan tak kasat mata pada manusia-manusia lemah yang hanya terbuai oleh tampilan luar saja. Tidakkah manusia-manusia itu melihat, bahwa makhluk hidup dengan tampilan luar yang begitu indah, mencolok, penuh warna cantik yang memanjakan indra penglihatan, biasanya adalah jenis makhluk yang paling beracun? Tampilan cantik itu hanya berfungsi untuk menarik korban supaya tergoda mendekat, sebelum kemudian dibunuh dan dijadikan mangsa.
Begitupun dengan Xavier. Lelaki ini memiliki tampilan indah yang mengaburkan kegelapan jiwanya. Bodohnya Sera yang lengah dan terjebak, menganggap remeh kekejian Xavier yang tersembunyi di balik sikap ramah dan santainya, hingga akhirnya dia terpaksa terikat dalam pernikahan palsu yang berlumur ancaman ini.
Sungguh, ini mungkin adalah jenis pernikahan paling menyedihkan yang bisa dialami oleh seorang gadis.
Tak ada tetesan air mata syahdu penuh haru, tak ada musik romantis yang menghangatkan hati, melambangkan romansa penyatuan jiwa yang mensyukuri. Tak ada persilangan tatapan penuh cinta antara dua mempelai, tak ada pula ucapan janji pernikahan yang dilantunkan sepenuh kasih dalam genggaman saling menguatkan. Dan yang paling utama adalah, tak ada cinta yang seharusnya menjadi landasan pernikahan ini, setitik pun tak ada kebyar jejaknya melintas di hati.
Sera menjalani semuanya seperti robot, memaksakan dirinya berdiri kaku tanpa ekspresi dan mengikuti semua prosesi sampai selesai tanpa emosi. Dia hampir berhasil melakukannya sampai tuntas, tapi konsentrasinya terpecahkan tanpa daya, ketika dirasakannya Xavier meraih jemarinya, lalu tanpa izin langsung menyelipkan logam dingin cincin pernikahan ke jari manisnya. Xavier lalu membimbing Sera yang setengah linglung untuk memakaikan cincin emas polos yang maskulin ke jarinya yang kokoh. Lalu, lelaki itu mengangkat dagu Sera supaya tengadah menatapnya.
Mata Xavier berkilauan, penuh binar senyum rupawan yang bisa saja disalahartikan sebagai kebahagiaan kalau saja Sera tak tahu kenyataan yang sebenarnya.
"Istriku." Xavier berbisik dalam, lalu lelaki itu menunduk, menempelkan bibirnya yang hangat ke bibir Sera dan menciumnya lembut seolah-olah sedang memberikan segel sah ikatan pernikahan kepada mempelai wanitanya.
Jantung Sera berdegup kencang seiring dengan semakin dalam dan semakin intimnya ciuman itu. Xavier sangatlah ahli dan berpengalaman, sedangkan Sera nol besar dalam hubungannya dengan laki-laki. Tingkat kemampuan mereka sangat jauh berbeda jika menyangkut sentuhan fisik satu sama lain.
Pengetahuannya tentang cara memanipulasi dan merayu laki-laki hanyalah sebatas teori saja, yang dipaksakan oleh Samantha Dawn untuk dipelajarinya guna menundukkan Xavier, dalam rencana pembalasan dendam ala perempuan yang disusun oleh Samantha sendiri.
Sayangnya, jangankan berhasil menundukkan Xavier, nyatanya, itu semua gagal total. Tak ada satupun teori yang dipelajari Sera yang berhasil dipraktekkannya kepada Xavier karena lelaki itu begitu ahlinya dan tak bisa diperdaya.
Bahkan sekarang, saat Xavier menciuminya dengan keahlian seorang pemain perempuan yang mumpuni, Sera tak berdaya untuk melawan.
Lelaki itu merangkul pinggang Sera dengan erat, seolah tubuh mereka yang merapat masih kurang dekat, bibirnya menjelajah bibir Sera, menyesap dan menggoda dengan ahli. Pikiran Sera langsung berkabut ketika dirinya menahan desahan yang nyaris lolos dari mulutny. Lalu, di detik ketika Sera hampir kehilangan pertahanan dirinya dan menyerah sepenuhnya, Xavier tiba-tiba melepas pertautan bibir mereka dan menempelkan hidungnya di hidung Sera.
Napas mereka berpadu, satu terengah dan yang satunya lagi menahan senyum. Bibir mereka hanya terpisahkan seinci jauhnya, masih menyisakan kehangatan nan lembab dari pertautan sebelumnya.
"Aku benar." Xavier berbisik dengan suara parau. "Kita berdua sangatlah cocok... dimanapun," rayunya perlahan dengan nada penuh isyarat. "Nanti kalau kita sudah tidak ada dihadapan para tamu, aku akan...."
Sera terkesiap, dilanda kejut luar biasa ketika dia akhirnya berhasil mencerna kata-kata Xavier itu.
Astaga! Para tamu! Saat ini mereka masih di penghujung acara pernikahan, dihadapan banyak orang yang menjadi saksi!
Wajah Sera merah padam karena malu, dia bahkan menundukkan mukanya yang terasa panas membakar, tak berani menatap ke arah semua orang yang kemungkinan besar sejak tadi sudah menonton dengan jelas kemesraan ciuman sepertinya sengaja ditunjukkan oleh Xavier dengan kurang ajarnya.
Sementara itu Xavier tampak tak terpengaruh, lelaki itu tersenyum lebar, lalu merangkul Sera dan menghelanya supaya menghadap para tamu.
"Mungkin sudah waktunya kita membuka sampanye untuk merayakan," ucap Xavier tenang, seolah tanpa beban.
***
"Sera."
Panggilan itu membuat Sera membuka matanya yang tadinya terpejam dengan terkejut. Tak disangkanya akan ada orang yang menemukannya di sini.
__ADS_1
Tadi dia melarikan diri dari cengkeraman Xavier yang terus menerus menautkan jemari mereka dan tak mau melepaskannya, berpura-pura hendak ke toilet karena dia ingin menenangkan diri dan melakukan sinkronisasi atas perasaannya yang campur aduk setelah upacara pernikahan ini.
Lalu, ketika sedang dalam perjalanan ke toilet, Sera menemukan ruangan kecil ini. Sebuah ruangan yang terletak di sudut di ujung lorong ke arah toilet, dan sebagian besar dindingnya dipenuhi oleh rak-rak tinggi berisi buku tersusun rapi. Ketika berdiri di ambang pintu ruangan tersebut, Sera langsung berhadapan dengan sebuah jendela besar berbentuk prisma yang menghiasi bagian sudut di seberang ruangan, terbuka lebar tanpa tirai, menampilkan indahnya hujan salju putih yang masih tak bosan-bosannya menuruni bumi, padahal hari sudah beranjak siang.
Mungkin karena ruangan itu tampak nyaman dan menawarkan kehangatan, secara impulsif Sera akhirnya berbelok masuk ke tempat itu, mengurungkan niat sebelumnya untuk bersembunyi dan menenangkan diri di toilet.
Tak ada yang dilakukannya di ruangan itu selama beberapa waktu, selain duduk di sofa, dan membungkuk dalam, menenggelamkan wajahnya yang disangga telapak tangan ke atas pangkuannya.
Dia meratapi nasibnya yang tak bisa diputar mundur lagi. Sera sudah menjadi istri Xavier Light dan ini semua terasa laksana mimpi buruk yang mau tak mau harus diterimanya sebagai kenyataan.
Sera tahu bahwa Xavier sudah pasti tak akan membuang-buang waktu. Lelaki itu akan menyentuhnya sampai dia bisa memastikan bahwa Sera sudah hamil.... lalu.... waktunya akan tiba ketika Sera harus mengandung dan melahirkan anak itu.
Mampukah dia? Bisakah dia menjadi seorang ibu yang bertanggung jawab kepada anak yang dilahirkannya ke dunia ini? Beranikah dia mengambil tanggung jawab atas sebentuk nyawa yang dihantarkannya masuk ke dalam kehidupan fana ini?
Ketakutan demi ketakutan mendera diri Sera hingga dia tak mampu mengangkat kepalanya. Bahkan, Sera masih berada dalam posisi yang sama ketika kemudian terdengar suara yang memanggil namanya, membuatnya lepas dari gelombang panik yang hampir mencengkeramnya lalu segera mendongakkan kepala ke arah suara tersebut.
Elana Night tampak berdiri di ambang pintu, menatap Sera dengan ragu.
"Bolehkah aku masuk?" tanya Elana perlahan.
Sera mengerutkan kening, masih merasakan disorientasi dalam benaknya. Tapi tak urung dia menganggukkan kepala, memasang senyum lemah tanpa penolakan.
Menanggapi persetujuan Sera, Elana melangkah masuk, lalu duduk di sofa di depan Sera dengan hati-hati. Perempuan itu lalu meletakkan sesuatu yang terbungkus kotak putih, ke atas meja yang memisahkan mereka berdua dan mengangsurkannya ke arah Sera.
"Ini cokelat hitam yang sangat enak," Elana berdehem tampak serba salah. "Cokelat memiliki efek menenangkan.... aku melihat kau gelisah sepanjang pagi, jadi cokelat ini mungkin baik untukmu," ucapnya penuh perhatian.
Kembali Sera memasang senyum lemahnya, lalu menggumamkan ucapan terima kasih sambil mengambil cokelat dalam kotak putih tersebut. Dibukanya kotak itu, dilihatnya susunan rapi cokelat-cokelat ukuran sekali lahap yang berbungkus alumunium foil warna emas. Tanpa kata, Sera mengambil satu, membuka bungkusnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
Cokelat itu langsung meleleh di dalam mulutnya, membalur lidahnya dengan nuansa manis yang menyenangkan, sementara indra penciumannya diasapi oleh aroma harum cokelat hitam yang khas. Jejak getir masih terasa karena persentase kokoa murni yang cukup besar dalam cokelat hitam. Tetapi, rasa getir itu tidak merusak nuansa cokelat tersebut, malah semakin memperkaya cita rasanya, membuat lidahnya berpesta pora dalam genangan simfoni rasa yang menyenangkan, hingga akhirnya berhasil menciptakan efek yang diinginkan: menenangkannya.
"Terima kasih," Sera berucap perlahan pada Elana yang mengawasinya dengan saksama.
Sera mengerutkan keningnya, kali ini tak bisa menahan dirinya untuk tetap diam.
"Elana, kau sudah mendengar ceritanya, jadi kau pasti tahu bahwa Xavier menggunakan semua ancamannya untuk menikahiku, bukan? Dia mengancam akan melenyapkan nyawa ayahku dan juga sahabatku jika aku tak menurutinya, dia juga menyuntikkan racun ke tubuhku. Bagaimana bisa orang sekejam itu menyimpan kebaikan di dalam jiwanya?"
Elana menghela napas panjang. "Itulah yang kubilang kenapa Xavier menyembunyikan kebaikan di dalam jiwanya, dia selalu bertujuan baik, tetapi melakukannya menggunakan metode dan cara yang unik, yang membuatnya sering disalahpahami oleh orang-orang." Elana menatap Sera dengan hati-hati. "Tahukah kau kalau Xavier juga pernah meracuniku?"
Sera membelalakkan mata terkejut. Melihat betapa baiknya hubungan Elana dengan Xavier sekarang, dia sama sekali tak menyangka kalau Elana pernah diracuni oleh Xavier.
Bagaimana bisa Elana memaafkan dan malah sekarang menjadi pembela serta pendukung Xavier yang notabene adalah orang yang telah meracuninya?
"Xavier sangat menyayangi Akram sebagai adiknya. Sebagai perwujudan unik kasih sayangnya, Xavier akan menyingkirkan, melukai dan bahkan membunuh orang-orang yang mengkhianati Akram. Salah satu contohnya kasus Anastasia." Elana menghentikan kalimat sejenak, menatap Sera dengan hati-hati karena tahu bahwa dia telah membawa percakapan ini ke ranah sensitif. Ketika dilihatnya Sera menganggukkan kepala tipis, Elana pun melanjutkan kalimatnya. "Dia meracuniku untuk menguji kesetiaanku pada Akram. Sebuah cara yang ekstrim tetapi efektif. Pada akhirnya ketika melihat keteguhan hatiku, Xavier memberiku penawar racunnya. Kau lihat sendiri, bukan? Xavier selalu berdiam seolah-olah sengaja membuat orang-orang salah paham kepadanya dan mengira bahwa dia adalah yang terjahat dari yang paling jahat. Itu semua dilakukannya untuk membuat orang-orang menjauhinya, untuk melindungi dirinya...."
Suara gerakan di pintu membuat Elana menghentikan kalimatnya, lalu dia dan Sera menolehkan kepalanya bersamaan. Di ambang pintu, terlihat pengasuh Zac sedang menggendong Zac yang tampak begitu tampan mengenakan kemeja dan celana putih mungil yang begitu pas membungkus tubuh montoknya.
"Maaf, Nyonya. Anda meminta saya memanggil Anda tepat jam dua belas karena sudah waktunya Zac menyusu," ucap pengasuh bayi itu dengan sopan.
Tatapan Elana tertuju pada mata Zac yang sembab seolah habis menangis. Zac tertidur terus sepanjang upacara pernikahan tadi, sekarang bayi itu rupaya terbangun dan menagih susu ibunya.
"Ah, maafkan, aku harus pergi dan menyusui Zac dahulu," Elana bangkit dari duduknya, menatap Sera dengan pandangan penuh permintaan maaf. "Aku harap kita memiliki kesempatan di lain waktu untuk melanjutkan percakapan ini." Elana menghela napas panjang, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada serius. "Kumohon kepadamu, berilah Xavier kesempatan dalam pernikahan ini. Bukalah hatimu dan cobalah memandang Xavier sebagai manusia, bukan sebagai iblis atau penjahat. Aku yakin kau akan menemukan sisi manusiawi dirinya yang baik, yang tak akan kau sangka-sangka bisa dimilikinya. Percayalah kepadaku."
Elana berucap dengan nada bersungguh-sungguh, lalu setelah menggumamkan kalimat berpamitan sekali lagi pada Sera, Elana membalikkan tubuh dan berhenti sejenak untuk mengambil Zac dari gendongan pengasuhnya. Perempuan itu lalu meninggalkan ruangan, memberikan kesempatan bagi Sera agar bisa berpikir seorang diri tanpa diganggu.
***
"Kau menghilang di tengah pesta dan tak kembali lagi."
__ADS_1
Xavier melangkah memasuki kamar tempat Sera berada, matanya mengawasi Sera yang telah berganti pakaian dengan gaun rumahan polos warna pucat sederhana yang ditemukannya di dalam lemari pakaian di kamar tersebut.
Xavier sendiri masih mengenakan celana dan kemeja formalnya, sementara jas dan dasinya sudah dilepas entah kemana. Lelaki itu menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah masuk ke tengah ruangan, memancarkan aura mendominasi yang membuat nuansa kamar yang tadinya nyaman menjadi buyar.
Sera yang tengah duduk di sofa yang berada di dekat jendela mengangkat kepala dari buku yang dibacanya. Buku itu diambil dari ruangan perpustakaan mungil tempat dirinya merenung beberapa waktu yang lalu dan sejenak mampu mengalihkan pikirannya dari kekalutan. Sayangnya, hal itu tak bertahan lama karena kehadiran Xavier di kamar ini merusak semuanya.
"Kenapa kau meninggalkan pesta? Kau tak tahu aku harus mencarikan alasan untukmu supaya tak mempermalukan diriku sendiri, karena mempelaiku tak hadir untuk merayakan pernikahan kita." Xavier memasang senyumnya yang biasa, lelaki berdiri hanya sejangkauan tangannya dari tempat Sera duduk dan entah kenapa menguarkan aura berbahaya yang membuat Sera terpaksa menelan ludahnya.
Tetapi, tak semudah itu Sera bisa ditakuti. Dengan angkuh, dia mendongakkan kepala, menatap Xavier dengan pandangan mencemooh.
"Tadi itu bukanlah peristiwa yang harus dirayakan dari sudut pandang mempelai wanita. Menikahimu adalah sesuatu yang harus disesali dalam tangisan," sahut Sera sinis. "Lagipula, bukankah para tamumu itu semuanya sudah tahu mengenai tujuan awal pernikahan kita? Kau menggunakan ancaman untuk memaksa pengantin perempuan menikahimu, hanya demi mendapatkan anak yang bisa kau ambil plasentanya guna menyelamatkan nyawamu. Mereka semua pasti memaklumi ketika melihat bahwa pengantin perempuannya tak mau berpesta!" seru Sera dengan nada suara bersungut-sungut.
Kalimat Sera itu membuat secercah senyum yang tadinya sempat menghiasi wajah Xavier langsung memudar sebelum kemudian menyublim lenyap tanpa bekas. Mata lelaki itu berubah tajam, sementara aura berbahaya yang gelap semakin menguar dari tubuhnya ketika dirinya memindai Sera dengan tatapan menusuk.
"Ah," Xavier berucap lambat-lambat, sengaja menahan-nahan kalimatnya. Lelaki itu berkacak pinggang, berdiri menjulang di depan Sera dengan sikap arogannya yang penuh kuasa. "Terima kasih kepadamu, mempelaiku. Aku sempat terbawa pada euforia upacara pernikahan kita tadi, tetapi kau telah membantu mengingatkanku kembali pada tujuan utama pernikahan ini. Kalau begitu, aku tak akan membuang-buang waktu lagi. Tadinya aku berniat memperlakukanmu dengan penuh penghargaan sebagai wanita yang sah menjadi istriku. Tetapi, sepertinya kau lebih ingin diperlakukan hanya sebagai mesin pembuat anak. Baiklah, Serafina Moon, kau akan mendapatkan apa yang kau mau. Kupastikan kau tak akan kecewa."
Sera menengadah, entah kenapa merasakan firasat buruk merayapinya.
"A-apa maksudmu?" tanyanya terbata, berusaha menelan kecemasan yang bergulung di dadanya.
"Hari ini kemungkinan besar adalah rentang masa suburmu." Xavier mengangkat bahu ketika melihat keterkejutan langsung melumuri mata Sera yang kini wajahnya merona merah karena malu. Lelaki itu bahkan bersikap tak peduli karena telah membawa tema percakapan yang cukup intim di antara mereka. "Ya. Aku mengamati dan menghitung masa suburmu. Aku juga mendapatkan riwayat catatan pemeriksaan kesehatanmu selama ini. Masa subur seorang perempuan hanya berlangsung satu hari atau dua puluh empat jam, pada saat itulah sel telur yang sudah matang siap untuk dibuahi. Tetapi, tidak ada yang tahu kapan tepatnya satu hari itu berlangsung. Kita bisa saja melakukan test hormon atau test dengan air ludah untuk memastikan tepatnya, tapi menurutku opsi kedua yang paling mudah dan efektif adalah dengan memastikan terjadinya pembuahan secara berturut turut, di tiga hari sebelum perkiraan masa subur dan tiga hari setelah perkiraan masa subur."
Seringaian Xavier melebar ketika lelaki itu menatap Sera dengan tatapan penuh hasrat. "Aku sendiri, sangat tak keberatan untuk melakukan opsi kedua," bisiknya dengan nada berbahaya. Lelaki itu menggerakkan tangannya untuk melepaskan kancing kemejanya, tak peduli dengan sinar ketakutan di wajah Sera ketika mendengar kalimatnya. "Buka pakaianmu dan naiklah ke ranjang, Serafina Moon. Aku akan membuahimu dalam tujuh hari ke depan untuk memastikan kehamilanmu."
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
__ADS_1
Thank You
Sincerely Yours - AY