Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 39 : Tatap Mata


__ADS_3


Senyum puas mewarnai bibir Akram ketika lelaki itu merebahkan kepalanya di pundak Elana.


Keheningan yang damai membentang di antara mereka berdua, hanya diiringi oleh suara napas yang bersahutan, seolah-olah keduanya tidak merasa perlu mengucapkan sepatah katapun lagi. Mata Elana sendiri hampir terpejam rapat, hendak lelap di pelukan Akram.


Lalu, tiba-tiba terdengar suara bel pintu yang langsung menodai keheningan tersebut, merobek suasana senyap nan magis yang terwujud sebelumnya. Suara itu membuat Elana yang hampir saja tertidur kelelahan di atas pangkuan Akram langsung membuka mata dengan terkejut. Punggungnya menegang ketika matanya berhadapan dengan mata Akram yang masih tampak berkabut.


"Elios?" Elana membisikkan pertanyaannya dengan suara tersekat.


Akram mengangguk, senyum santai muncul di bibirnya.


Berkebalikan dengan Elana yang wajahnya merah karena malu, Akram tampak seolah tak peduli.


Sebenarnya apa yang ada di dalam di dalam benak Akram sehingga lelaki itu tampak begitu santai di saat anak buahnya datang dan mereka.... mereka sedang berada dalam posisi yang cukup intim seperti ini?


Tiba-tiba saja Elana ingin memukul dirinya sendiri. Lagipula, ada apa dengan dirinya? Kenapa dia menurunkan kewaspadaannya dan hampir saja tertidur di pelukan Akram? Oh, Elana yakin itu bukan seratus persen kesalahannya. Akram telah membuatnya begitu kelelahan hingga bahkan otaknya pun menolak untuk diajak bersiaga.


Akram sendiri mengawasi berbagai macam perubahan ekspresi di wajah Elana yang merah merona dan dirinya tak bisa menahan diri untuk menyeringai senang. Perempuan ini begitu polos hingga bagaikan buku yang terbuka di hadapannya. Apa yang ada didalam pikiran Elana, bisa dibaca dengan jelas melalui ekspresi wajahnya.


Perlahan Akram menyapukan jarinya ke sisi pipi Elana, menelusuri dengan lembut sampai ke bibir dan dagunya, sengaja membuat gerakan sensual di sana.


"Kau bisa tidur lagi kalau kau mau, biarkan Elios menunggu," Akram membuka peluknya dengan sikap menggoda. "Elios cukup mengerti tugasnya. Jika aku belum membuka pintu, dia akan tetap berdiri di depan pintu berapapun lamanya itu...." Akram menjelaskan sikap santainya secara tidak langsung, membuat Elana mengerti.


Alis Elana berkerut, menatap Akram dengan pandangan mencela.


"Kau... kau jahat sekali pada anak buahmu! Aku tidak akan setega itu kepada Elios!" sambil berucap dengan nada sinis ke arah Akram, Elana beranjak turun dari pangkuan lelaki itu. Dia segera merapikan gaunnya yang dibuat berantakan tak karuan oleh Akram, lalu kembali menenengadahkan kepala untuk menatap Akram dengan ekspresi canggung.


"A... aku akan segera kembali!" setengah berseru, Elana langsung membalikkan tubuh dan berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.


***



***


Elana memeriksa bahan-bahan makanan yang dibawa oleh Elios, mencocokkan dengan daftar belanjaannya. Secara ajaib, Elios berhasil membawakan seluruh bahan yang tertulis di dalam daftar belanjannya itu dengan tepat tanpa kecuali.


Memang sungguh Elios adalah asisten Akram yang memiliki kemampuan sangat hebat sehinggga sepertinya selalu mampu mengerjakan tugas apapun yang diberikan kepadanya dengan sempurna.


"Hebat sekali!" Elana menatap Elios dengan sinar berbinar penuh kekaguman. "Anda bahkan membeli semua bahan dengan label organik." ujar Elana dengan nada sopan.


Ditatap dengan kekaguman yang tidak ditutup-tutupi. oleh Elana itu membuat pipi Elios merona. Elana mungkin tidak tahu betapa besarnya kesulitan yang dia tanggung untuk mendapatkan benda-benda di dalam daftar makanan itu dengan sempurna. Tetapi, ucapan terima kasih dan tatapan kagun Elana kepadanya seolah membuat semua usahanya sepadan.


Entah kenapa sikap Elana yang polos dan penuh kejujuran itu sepertinya berhasil membuat lelaki manapun ingin bersikap sebagai kesatria berbaju zirah dan membantunya mengabulkan semua keinginannya. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Tuannya Akram....


Memikirkan tentang Akram membuat Elios tiba-tiba menyadari tatapan mata tajam menusuk yang diarahkan kepadanya dengan terang-terangan. Akram yang sejak tadi diam mengamati interaksi antara Elios dan Elana sambil bersedekap dan bersandar di dinding, tampak menyipitkan mata dan ekspresinya berubah semakin gelap ketika melihat bagaimana Elana tersenyum lebar pada Elios dengan begitu tulus. Itu masih ditambah dengan tatapan mata kagum pula! Sesuatu yang tak pernah diberikan Elana pada Akram sebelumnya.


Elana sendiri sepertinya tidak menyadari aula gelap posesif yang menyelubungi Akram, perempuan itu malah memusatkan perhatiannya pada Elios, masih dengan senyummya yang cantik.


"Apakah Anda bisa memasak?" Elana memerhatikan Elios dan sedikit mengerutkan kening ketika melihat wajah Elios yang berubah pucat.


"Ti... tidak, nona Elana, saya tidak bisa memasak," Elios menjawab cepat dengan serba salah. Jika tatapan tajam Akram yang menusuk itu bisa membunuh, Elios saat ini pastilah sudah terkapar berlumuran darah di lantai, penuh dengan luka tusukan.


"Oh... Anda kelihatan kelelahan setelah berbelanja, maafkan saya belum mengambilkan minum.... Tunggu sebentar, saya akan mengambilkan minum," dengan bingung Elana berbalik, membuka beberapa counter dapur untuk mengambil satu set cangkir bersih, lalu membuka kaleng teh beraroma harum yang tampak berjajar dengan berbagai variasi di rak paling bawah dapur itu. Setelahnya, segera dia menyeduh teh itu dengan air yang telah dididihkan, sebelum kemudian menyajikannya kepada Elios.


Warna teh di dalam cangkir itu berubah menjadi nuansa hijau keemasan yang cantik, sementara aromanya menguar ke udara, memanjakan indra penciuman dan menampilkan dengan nyata kesegaran pucuk daun teh berkualitas tinggi yang diseduh di dalamnya.


"Saya tidak tahu cara membuat teh dengan jenis daun seperti ini. Saya biasanya saya menggunakan teh celup instant yang dijual di minimarket," Elana memulai percakapan kembali dengan nada malu. "Tetapi, sepertinya semua teh akan terasa enak hanya dengan diseduh air panas, bukan? Semoga Anda menikmatinya," Elana kembali mendorong cangkir teh itu di konter dapur, mendekat ke hadapan Elios. Rupanya Elana berpikir bahwa jangan-jangan Elios tidak segera mengambil cangkir tehnya karena lelaki itu meragukan metode pembuatan teh yang dilakukan Elana.


Elios menatap cangkir teh di depannya dengan ragu, bukan karena dia meragukan rasanya, tetapi lebih karena Akram sepertinya akan membunuhnya jika dia berani mengambil dan meminum teh itu.


Lalu sekejap, bahkan sebelum Elios bisa memutuskan apakah dia akan mengambil cangkir teh itu atau tidak, Akram tiba-tiba bergerak mendekat dan mengambil cangkir teh itu, menghidu sejenak aromanya dan langsung menyesapnya perlahan tanpa memedulikan seruan protes dari Elana.


Ketika Akram meletakkan cangkir teh itu, ekspresinya berkerut.


"Tidak enak. Ini adalah russian blend, campuran teh hijau dan daun jeruk dari Dammann Freres, dan kau menyeduhnya dengan air mendidih? Black tea bisa kau seduh denganĀ air mendidih, sedangkan green tea sebaiknya diseduh dengan suhu 80 derajat." Akram menatap Elana dengan pandangan mencela, "Kalau suhu terlalu panas, maka teh hijau itu hampir seperti direbus, bukannya diseduh. Itu akan merusak cita rasa dan membuat rasa serat daunnya jadi terlalu menonjol. Karena itulah, rasa teh buatanmu tidak enak," simpulnya dengan nada merendahkan yang sengaja.

__ADS_1


Elana melotot ke arah Akram, napasnya bahkan mulai terengah oleh emosi.


"Kau...," Elana seolah berusaha menetralkan napasnya yang menguat karena emosi. "Lagipula... siapa yang menyuruhmu meminumnya? Aku tidak membuatnya untukmu!" sentak Elana kehilangan kendali. Perempuan itu lalu menghela napas dalam, tampaknya berusaha menguasai diri, lalu kembali menoleh ke arah Elios dan mengabaikan Akram dengan sengaja.


"Saya akan memasak makan siang dengan bahan-bahan ini, Anda... eh belum makan siang, bukan?" Elana entah kenapa merasa merasa bersalah karena teh yang sedianya untuk Elios telah direbut oleh Akram dengan jahat. Akram rupanya terbiasa memperlakukan anak buahnya dengan tidak baik. Karena itulah, secara impulsif Elana berani memberi tawaran kepada Elios. "Anda ingin makan siang bersama kami? Hanya menunggu sebentar dan makan siangnya akan segera matang.... mungkin memang hanya masakan sederhana, tapi...." Elana menghentikan kalimatnya, merasa bingung karena Elios tampak semakin pucat pasi mendengar tawarannya.


Apakah Elios sebenarnya sedang sakit? Ataukah lelaki itu juga meragukan kemampuan memasak Elana serta takut keracunan kalau sampai memakan masakan Elana?


"Elios memiliki urusan yang harus dikerjakan setelah ini. Apa kau lupa bahwa ini adalah hari libur dan Elios memiliki acara pribadinya sendiri?" Akram menyela, lelaki itu melangkah di di depan Elios, seolah sengaja menghalangi pandangan Elana ke arah Elios.


Pipi Elana memerah. Oh, Astaga! Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga melupakan tata krama. Tentu saja! Dirinya bahkan telah menyebabkan Elios harus bekerja untuk berbelanja bahan masakan di hari liburnya, dan sekarang tanpa tahu malu, dia malahan masih berusaha menahan waktu Elios dengan menawarkan makan siang bersama?


"Ma... maafkan saya, saya lupa kalau ini hari libur...." pipi Elana memerah ketika dia meminta maaf.


Elios menggelengkan kepala cepat, dan Elana bisa melihat dengan jelas kelegaan yang terpatri di wajah lelaki itu, membuat Elana semakin merasa malu.


"Jangan meminta maaf, Nona Elana... saya berterima kasih dengan tawaran Anda," Elios menjawab cepat dengan nada teramat sopan, menyadari isyarat pengusiran yang dikirimkan terang-terangan dari tatapan mata Akram ke arahnya. "Tetapi, saya harus segera pergi... saya benar-benar ada urusan. Tuan Akram, saya mohon diri dulu...." Elios sedikit membungkuk hormat, lalu lelaki undur diri dari area dapur dan melangkah cepat-cepat menuju pintu keluar sebelum kemudian melangkah pergi dari apartemen itu.


***



***


Suara pintu yang tertutup kembali membentangkan keheningan di antara mereka. Akram mengawasi Elana yang berpura-pura sibuk mengatur bahan makanan yang dibawakan oleh Elios ke atas meja, lalu memutuskan memulai percakapan dengan damai.


"Kau akan memasak apa?" tanya Akram tanpa bisa menyingkirkan nada arogan dalam suaranya.


Elana mengangkat alis dan menatap Akram dengan tatapan bermusuhan yang kental.


"Aku akan memasak makanan sederhana untuk rakyat jelata," jawabnya cepat.


Geraham Akram mengeras oleh provokasi dari pernyataan Elana. Perlahan dia berucap, nadanya mengancam seperti titah seorang raja yang harus dipatuhi.


"Buatkan dua porsi. Aku juga kelaparan dan ingin makan," geram Akram kemudian.


"Jika kau kelaparan, kenapa kau tidak memesan saja makanan dari restoran mewah seperti niatmu semula? Aku ragu jika pencernaanmu yang biasa diisi dengan makanan kelas tinggi akan sanggup menelan makanan rakyat jelata seperti masakanku," ujarnya dengan kalimat meninggikan tetapi memiliki maksud jelas untuk merendahkan.


"Tunggu!" tangan Elana secara refleks memegang lengan Akram dan menahannya, sebuah keberanian yang tidak diduga akan bisa dilakukannya.


Akram menunduk dan mengawasi tangan Elana yang mencengkeram lengannya seolah tak percaya jika belum memastikan sendiri, kemudian tatapannya kembali ke arah Elana, matanya menyipit dipenuhi ketidaksabaran.


"Ada apa?" desisnya perlahan.


Elana menelan ludah. Sudah kepalang basah, kenapa dia tidak menceburkan diri sekalian?


"Kau bilang kau sudah kelaparan, bukan? Kalau kau... kalau kau membantuku memasak, masakan kita akan selesai lebih cepat dan kita bisa segera makan," Elana melepaskan pegangannya dari Akram, meraih pisau ramping nan tajam dari rak pisau, lalu menggenggamkannya ke tangan Akram sebelum Akram bisa menolak. "Aku akan memasak sup sayuran dan telur omelet isi jamur. Untuk sekarang, kau bisa membantuku mengupas bawang! Ah, dan kenakan apron kalau kau tak mau pakaianmu kotor," Elana menyorongkan semangkuk penuh aneka bawang di counter dapur berlapis marmer hitam itu ke hadapan Akram, lalu membalikkan tubuh dan memasang apron yang diambilnya dari tumpukan di rak bawah, sebelum kemudian mengambil sayur-sayuran, meletakkkannya di wadah besar dan membawanya ke wastafel untuk dicuci bersih.


Akram terpaku menatap punggung Elana yang sekarang sudah mulai mencuci sayuran sambil bersenandung di depannya. Matanya lalu beralih ke arah pisau yang digenggamkan paksa ke tangannya.


Dia biasanya menggunakan pisau untuk menorehkan luka di tubuh manusia lain. Untuk mengancam mereka hingga di titik batas ketakutan yang paling mengerikan. Sekarang... perempuan ini memintanya menggunakan pisau untuk mengupas bawang??


***



***


"Wow!" Elana melongok dari samping bahu Akram yang sedang duduk dan mengerjakan pekerjaannya dengan tekun selama beberapa waktu tanpa suara. Mata Elana melebar dipenuhi kekaguman sehingga dia lupa untuk bersikap bermusuhan.


Akram sedang mengiris bawang merah dan bawang putih dengan gerakan cepat dan presisi. Hasil irisannya luar biasa, sangat rapi, bersih dan berukuran sama dengan garis memanjang dan ketebalan yang nyaris identik. Jika ada perlombaan mengiris bawang paling cepat dengan hasil paling rapi, pastilah Akram menjadi juaranya!


Sepertinya sudah merupakan sikap dasar Akram untuk melalukan pekerjaan apapun dengan sempurna. Bahkan untuk hal remeh seperti mengiris bawangpun, Akram mengerahkan seluruh keahliannya untuk melakukannya.


"Kemampuanmu mengiris akan membuat para koki ahli dengan teknik mengiris tingkat tinggi merasa malu," puji Elana dengan tulus.


Akram menengadah, dan ketika menyadari bahwa Elana tidak sedang menghinanya, dia tidak bisa menahan diri untuk menyeringai dengan sedikit senyum kesombongan tersirat di wajahnya.

__ADS_1


"Aku memang sangat ahli menggunakan pisau," ujarnya dengan pongah, dan entah kenapa hal itu menggelitik rasa geli Elana hingga perempuan itu terkekeh lepas tanpa bisa menahan diri.


"Kalau begitu, mulai sekarang, ketika kita memasak, kau bertugas menyelesaikan hal-hal yang berhubungan dengan pisau!" Elana menghadiahkan senyum lebarnya yang ceria kepada Akram, lalu mengambil irisan bawang merah dan bawang putih yang sempurna itu dari hadapan Akram. "Aku akan menggoreng bawang ini untuk taburan, kau sudah boleh mencuci tanganmu dan menunggu di meja makan, sebentar lagi aku akan menyajikan hidangan," ujarnya ramah.


Akram tidak membantah, dibiarkannya Elana kembali ke arah kompor dan menggoreng bawang merah ke dalam wajan berisi minyak panas yang sudah menunggu, menyebabkan aroma harum kembali menguar diudara.


Akram pun beranjak ke wastafel dan mencuci tangannya. Aroma bawang yang tajam begitu sulit dihilangkan hingga membuat Akram mengerutkan kening jengkel ketika terus menerus menggosok kedua tangannya dengan sabun.


Tetapi, entah kenapa untuk saat ini, Akram sama sekali tidak merasa keberatan. Dia telah mendengar kekeh tawa Elana yang ceria, dan dia telah menerima senyum lebar Elana yang begitu tulus kepadanya. Untuk mendapatkan imbalan seperti itu, seluruh kerepotan membantu Elana memasak tadi, rasanya sungguh sangat sepadan bagi Akram.


***



***


"Enak?"


Elana mengamati ekspresi Akram yang tengah menyuap sup ke dalam mulutnya. Seperti biasa, Lelaki itu makan dengan etiket yang sangat elegan hingga seolah makanan yang tersaji di hadapannya itu adalah makanan mewah kelas atas, bukan hanya semangkuk sup dan omelet jamur sederhana.


Akram menatap ke arah Elana, lalu menganggukkan kepala tipis dan menyuapkan lagi sesendok sup ke dalam mulutnya tanpa memprotes. Entah kenapa mulut Akram yang seolah tak pernah kehabisan kalimat tajam menusuk itu sekarang tidak diaktifkan untuk menyerang Elana.


"Aku melihat struk belanja Elios dan harganya cukup murah. Yah, sebenarnya harganya bisa sedikit ditekan kalau Elios tidak memilih bahan masakan organik murni untuk semua barang... tapi tetap saja itu jauh lebih murah daripada harus memesan makanan mewah di restoran. Kau tahu, harga pizza saja bisa menghabiskan uang lebih banyak daripada berbelanja bahan makanan seperti tadi..." Elana melahap makanan dengan cepat sambil berbicara. Dia kelaparan tapi sekaligus tak ingin ada suasana hening nan canggung di meja makan, karena itulah dia terus berbicara.


Akram meletakkan sendoknya setelah supnya tandas. Dia memutuskan bahwa masakan Elana tidak terlalu buruk, dan indra perasanya bisa menerima cita rasa masakan itu dengan baik. Akram mengelap mulutnya dengan sikap elegan, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap Elana.


"Pizza bukan makanan mewah, itu junk food. Dan sesuai dengan namanya, makanan itu hanya akan berakhir menjadi sampah di pencernaanmu." ujarnya dengan nada sinis. "Aku bisa membeli makanan mewah yang harganya berpuluh-puluh kali lipat dari pizza dan mendapatkan cita rasa nomor satu serta kualitas terbaik untuk makananku setiap hari. Itu semua tidak akan membuat dompetku menipis. Apakah kau lupa bahwa aku sangatlah kaya? Aku tidak perlu menghemat-hemat uangku untuk makan. Karena kau hidup bersamaku, maka kau juga tidak perlu melakukannya." sambungnya memberi ultimatum.


Elana tidak membantah. Dia memilih untuk tetap meneruskan makannya dengan lahap dan hanya memutar bola matanya jengkel ketika mendengar ucapan Akram tersebut.


Tuan Bangsawan yang kaya raya nan sombong dan arogan ini rupanya telah kembali menunjukkan sifat aslinya!


***



***


"Anda memiliki jadwal di jam enam sore dan jam delapan malam. Pertemuan jam delapan nanti adalah jamuan minum tertutup dengan para pengusaha dari perancis. Apakah saya perlu memasukkan ini ke jadwal tetap Anda, ataukah ada yang ingin Anda batalkan?"


"Jamuan malam itu hanyalah pertemuan sekumpulan orang-orang tua yang penuh dengan omong kosong tak berarti. Batalkan itu," Akram memberikan perintah tanpa ekspresi, lalu melirik jam tangannya. "Ini sudah jam makan siang. Apakah kau sudah mengirimkan orang untuk menjemput dan membawa Elana ke lantai atas?"


Saat ini Akram tengah berada di ruang konferensi besar yang terletak di area gedung konferensi tersendiri yang memilili lorong penghubung langsung ke lobby lantai satu tempat area resepsionis dan ruang penerimaan tamu dari luar berada.


Gedung konferensi itu berbentuk lingkaran, dengan kubah menutup bagian atasnya dan memiliki ukuran sangat luas, terdiri dari banyak ruang-ruang raksasa dengan meja besar dan puluhan kursi tersedia. Ruangan meeting di dalam gedung ini memiliki berbagai variasi kapasitas untuk keperluan meeting khusus dengan tamu dari luar. Kapasitas minimalnya adalah untuk ruang meeting dua puluh orang, dan kapasitas maksimalnya adalah untuk ruang konferensi dengan area tempat duduk melingkar bertingkat seperti amphitheater yang bisa menampung hingga tiga ribu orang.


Lokasi gedung konferensi ini diletakkan di lantai satu untuk mencegah orang luar bisa masuk ke area dalam perusahaan yang mungkin saja menyimpan data tertutup untuk pihak luar.


"Saya sudah mengirimkan orang untuk menjemput Nona Elana, tetapi sepertinya Nona Elana sedang mengerjakan tugas tambahan... mungkin dia akan sedikit terlambat...." suara keributan yang tiba-tiba terdengar dari lorong penghubung lobby kantor dengan gedung referensi itu membuat Elios menghentikan kalimatnya dan mengerutkan kening dengan waspada.


Seorang bodyguard datang tergopoh-gopoh diikuti oleh beberapa bodyguard lain. Ekspresinya tampak cemas.


"Tuan Akram," bodyguard itu membungkuk sedikit dengan sikap hormat. "Tuan Xavier tadi ada di lobby dan mengatakan ingin membuat janji temu dengan Anda. Beliau datang seorang diri tanpa pengawal sehingga kami bisa memastikan bahwa saat ini beliau tidak berbahaya. Tetapi, beliau menolak pergi sebelum Anda memastikan untuk menemuinya. Jadi, untuk mencegah kehadiran beliau menarik perhatian karyawan lain, kami menempatkan beliau di area ruang tunggu tamu VVIP yang terletak di belakang area resepsonis."


"Apa?" Elios tak bisa menahan diri untuk berseru dengan ekspresi terkejut. Xavier pasti sudah tahu kalau Akram telah menemukan bahwa dirinyalah yang menjadi dalang di balik peristiwa kecelakaan yang menimpanya. Meskipun begitu, Xavier tetap punya nyali untuk datang ke perusahaan Akram, seorang diri tanpa pengawal pula!


Apa yang sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Xavier kali ini?


Elios jadi bertanya-tanya, seberapa banyak batas titik kegilaan Xavier hingga aksinya begitu tak tertebak dan pikirannya sangat tidak mudah dipahami?


Akram mengangkat tangannya, memberi isyarat dengan tenang. Ekspresinya gelap tak terbaca sebelum kemudian dia beranjak berdiri.


"Tidak apa-apa, aku akan menemuinya." Langkah Akram cepat diikuti oleh Elios dan para bodyguardnya meninggalkan gedung referensi. Ketika sampai di depan pintu ruang tunggu tamu VVIP, Akram memberi isyarat kepada Elios untuk menunggu di luar, dan dia melangkah masuk sendirian ke ruangan itu, lalu menutup pintu di belakangnya.


Mata Akram langsung bersirobok dengan mata Xavier. Lelaki itu tengah duduk santai di sofa yang tersedia, menyilangkan kakinya dengan elegan. Lalu, bibir Xavier perlahan mengurai senyum ketika mendapati Akram telah berada di ruangan ini bersamanya.


***

__ADS_1




__ADS_2