
"Xavier pulang hari ini?"
Sera membelalakkan mata, buku yang tadi dipegang ditangannya langsung diletakkannya ke sofa di samping tubuhnya.
Pelayan itu menganggukkan kepala, tampak serba salah.
"Betul, Nyonya. Dokter Nathan tadi menelepon kepala pelayan untuk menpersiapkan segalanya. Pemberitahuannya mendadak, baru kira-kira satu jam yang lalu." Pelayan itu menelan ludahnya. "K-kami tidak menginformasikan kepada Nyonya karena kami pikir Nyonya sudah diberitahu," ucapnya kemudian dengan nada takut-takut.
Sera menghela napas panjang ketika menyadari kecanggungan pelayan itu, dengan segera dia menganggukkan kepalanya.
"Oh, iya. Dokter Nathan pasti telah meneleponku untuk memberitahukan informasi ini. Tetapi sayangnya, aku meninggalkan ponselku di kamar." Sera berbohong untuk menyelamatkan mukanya. Padahal, ponselnya sepanjang pagi ini tersimpan di sakunya dan sama sekali tak pernah berbunyi, pertanda bahwa tak ada siapapun yang menghubunginya.
Sera berhasil menutupi perasaannya dengan baik, lalu memasang senyum ke arah pelayan itu.
"Terima kasih atas informasinya. Kau boleh pergi." Dengan suara datar, Sera mengizinkan pelayan itu untuk pergi. Bagaimanapun, banyak hal yang harus dikerjakan oleh pelayan tersebut dan lebih baik Sera tak menahannya di sini.
Sepeninggal pelayan itu, Sera menyandarkan tubuhnya di punggung sofa dan memejamkan mata, berusaha menenangkan diri.
Bukan salah siapa-siapa kalau tak ada yang memberitahu dirinya. Sera yakin, yang terjadi adalah sama persis seperti yang dikatakan oleh pelayan tadi. Mereka semua bukannya sengaja mengabaikannya menyangkut informasi kepulangan Xavier, tetapi mereka merasa tak perlu memberitahunya karena mengira bahwa Sera -sebagai istri Xavier- pastilah sudah diberitahu.
Selama Xavier berada di rumah sakit dan Sera tinggal di rumah ini tanpa suaminya, para pelayan selalu memperlakukannya dengan sopan, baik dan penuh hormat, sama sekali tidak membedakan dengan adanya Xavier atau tidak di rumah ini dan Sera yakin itu semua terjadi atas instruksi Xavier.
Tetapi, kenapa dia tidak diberitahu mengenai kepulangan Xavier oleh pihak rumah sakit?
Bahkan, Dokter Nathan pun hanya menginformasikannya kepada pelayan dan tak mengatakan apapun kepadanya.
Apakah Dokter Nathan mungkin berpikir bahwa kepala pelayan pasti nantinya akan memberitahu Sera? Ataukah Sera memang sengaja tak diberitahu atas perintah Xavier?
Seorang pelayan yang melintas cepat dan melewati tempat Sera duduk sambil membawa setumpuk selimut tebal dan satu set sprei bersih membuat perhatian Sera teralihkan. Pada saat itu, barulah Sera menyadari bahwa pintu kamar tamu utama yang terletak di area depan rumah, dekat dengan ruang tamu, telah dibuka lebar-lebar.
Para pelayan tampak sibuk berlalu lalang keluar masuk pintu kamar tamu tersebut. Dari tempat Sera duduk sekarang, bisa terlihat bahwa para pelayan sedang sibuk membersihkan debu di kamar itu, mereka juga mengganti sprei dan tirai jendela yang kemudian dibuka lebar-lebar untuk menghantarkan sinar matahari masuk dan melenyapkan udara pengap dan lembab dari dalam kamar. Bahkan, tampak salah satu pelayan masuk ke dalam kamar itu sambil membawa sebuah vas bunga besar berisi rangkaian bunga lily segar nan harum yang baru dipetik.
Seolah-olah kamar itu sedang disiapkan untuk ditempati seseorang....
Firasat buruk langsung menyergap batin Sera, membuatnya terhenyak dari posisinya duduk dan langsung bangkit berdiri sebelum kemudian melangkah menuju ambang pintu kamar itu.
Kali ini, Sera bersikap tahu segalanya supaya tak mempermalukan dirinya sendiri di hadapan para pelayan seperti kejadian sebelumnya. Dia menahan diri sekuat tenaga supaya tak mengajukan pertanyaan menyangkut untuk siapa kamar itu disiapkan karena dia sudah bisa menduga jawabannya.
Sera memasang ekspresi biasa, lalu bertanya sambil lalu.
"Oh? Pembersihan kamarnya sudah siap?" Sera melongok dari ambang pintu, membuat para pelayan yang sedang sibuk menolehkan kepala ke arahnya.
Salah seorang pelayan yang paling tua memasang senyumnya, tampak berseri-seri.
"Iya Nyonya, karena Tuan Xavier harus menggunakan kursi roda selama beberapa lama dan tidak bisa tinggal di kamar lantai dua, kami mendapatkan perintah bahwa Tuan Xavier akan menempati kamar ini dan diminta menyiapkan kamar tamu untuk beliau. Karena itulah kami bergegas menyiapkan kamar ini sesuai dengan selera Tuan Xavier. Semua serba terang dan putih, kami bahkan sempat memetikkan bunga lily segar kesukaan Tuan Xavier untuk menyambut kepulangan beliau."
Jadi, Xavier akan menggunakan kamar tamu di lantai bawah, dan memilih untuk menyerahkan kamar pribadinya di lantai dua guna dipakai oleh Sera sendirian. Alasannya sangat rasional, karena Xavier harus menggunakan kursi roda untuk sementara. Tetapi, Sera tahu bahwa alasannya bukan hanya itu saja.
Xavier telah menerapkan apa yang dikatakannya sebelumnya. Lelaki itu bilang bahwa dia tidak akan pernah menyentuh Sera lagi, kecuali pada saat pembuahan dan pisah kamar adalah salah satu dari cara Xavier supaya tak menyentuh Sera lagi.
Pemikiran bahwa Xavier tak sudi menyentuhnya selain untuk pembuahan transaksional itu mengusik benak Sera dan entah kenapa membuat dadanya nyeri. Karena itulah, Sera langsung mengalihkan perhatiannya ke arah wajah-wajah ceria para pelayan dan mengangkat alisnya.
Para pelayan, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan para bodyguard yang biasanya tak berekspresi sekalipun, semuanya tampak bersemangat menyambut kepulangan Xavier dari rumah sakit.
Kenapa mereka senang? Bukankah Xavier selalu menggambarkan hubungan antara dirinya dan seluruh pegawainya sebagai hubungan antara iblis dengan manusia-manusia yang terjerat lehernya dan bisa dibunuh setiap saat?
Xavier bahkan bilang bahwa dia meracuni semua pegawainya sebagai jaminan kesetiaan dan loyalitas mereka kepadanya.
Jika orang-orang ini menunjukkan loyalitasnya hanya karena nyawanya tergantung pada Xavier, mereka tidak seharusnya sesenang ini ketika Xavier pulang dari rumah sakit, bukan?
"Kalian semua tanpak senang dan bersemangat." Sera tersenyum, tak tahan untuk tak bekomentar.
Senyumnya dibalas oleh para pelayan itu.
"Tentu saja, Nyonya. Tuan Xavier mulai pulih dan bisa pulang dari rumah sakit, bukankah itu sesuatu yang pantas untuk dirayakan?" Suara si pelayan terdengar tulus, rasa syukurnya tak bisa diragukan lagi.
Sera mengerutkan kening, lalu akhirnya memutuskan untuk bertanya terus terang.
"Kalian semua yang bekerja di sini, pasti tahu siapa Xavier Light yang sebenarnya, bukan? Apakah... kalian tidak merasa takut?" tanyanya dengan nada hati-hati.
Para pelayan itu saling berpandangan, lalu akhirnya ada satu yang memberanikan diri untuk menjawab.
"Saya sudah bekerja di sini lima tahun lebih, Nyonya. Pada awal saya masuk di sini, saya sangat ketakutan, apalagi ketika saya harus disuntik racun sebagai jaminan kesetiaan saya. Hari-hari saya terasa mengerikan, sebab jika Tuan Xavier memutuskan untuk mengeliminasi orang jahat di rumah ini, maka kami yang kebagian mengurus hal-hal yang terlewat dibersihkan oleh tim pembersih milik Tuan."
Pelayan itu lalu mendongakkan kepala ke arah Sera, menatap dengan sungguh-sungguh sebelum kemudian melanjutkan kembali ucapannya. "T-tapi pada suatu hari, suami mengalami kecelakaan hebat dan luka parah. Saya tidak punya uang untuk membiayai operasinya dan saya akhirnya datang meminta tolong kepada Tuan Xavier dengan mempertaruhkan nyawa saya. Tak disangka... beliau langsung mengurus semuanya, memindahkan suami saya ke fasilitas kesehatan yang lebih baik dan membereskan prosesnya sehingga suami saya mendapatkan operasinya di bawah penanganan dokter ahli, hingga sembuh total seperti sedia kala. Sejak saat itu... saya berpikir bahwa Tuan Xavier sesungguhnya adalah orang yang baik, beliau hanya bersikap kejam kepada orang jahat dan juga pengkhianat."
"Beliau juga selalu mengingat hari ulang tahun kami dan tak pernah salah tanggal. Beliau tidak pernah absen mengucapkan selamat ulang tahun dan juga dengah royal memberikan bonus gaji yang cukup besar." Salah seorang pelayan lain terdengar menyahuti dengan bersemangat. "Bahkan beliau juga mengingat hari ulang tahun anak-anak kami dan selalu menitipkan kado kecil seperti mainan atau peralatan sekolah untuk mereka sebagai hadiah ulang tahun."
"Beliau tak pernah lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan paling kecil sekalipun. Itu membuat kami para pekerja di sini, merasa sangat dihargai." Yang lain ikut-ikutan menyuarakan pendapatnya.
__ADS_1
"Dan beliau sangat tampan. Apalagi ketika beliau sedang tersenyum." Salah satu pelayan wanita muda tiba-tiba menyahut dan seketika tersipu malu ketika yang lain langsung melemparkan tatapan penuh peringatan kepadanya. "Ma-maafkan saya Nyonya, saya memuji ketampanan Tuan Xavier bukan dengan maksud lebih. Saya sudah punya suami yang sangat saya cintai. Saya hanya mengagumi ketampanan fisik Tuan Xavier seperti mengagumi sebuah mahakarya yang luar biasa indah, tidak lebih dari itu." Pelayan itu langsung berusaha menjelaskan, suaranya terbata karena takut.
Sera menganggukkan kepala dan tersenyum. Dia tidak bisa menyalahkan wanita-wanita yang terpesona kepada ketampanan fisik Xavier. Bagaimanapun, lelaki itu memiliki keindahan wajah dan tubuh yang melemahkan hati wanita manapun, termasuk Sera sendiri.
"Tidak apa-apa, aku senang kalian bersikap loyal kepada Tuan kalian," jawabnya tenang, lalu menggerakkan tangannya sedikit sebagai isyarat undur diri. "Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian, aku tak akan menganggu lagi."
Setelah berucap, Sera membalikkan tubuh, lalu melangkah meninggakan ambang pintu kamar tamu tersebut dan menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.
Saat ini, dia mendapatkan pengetahuan baru, bahwa meskipun Xavier dipandang sangat mengerikan di luar sana laksana algojo keji yang tak punya belas kasihan, ternyata di rumahnya sendiri, di mata para pegawainya, Xavier dipandang sebagai seorang malaikat.
***
Ketika sore disambut oleh malam lalu melebur dalam kegelapan yang memeluknya, mobil Xavier akhirnya tiba di rumah, sedikit terlambat dari yang dijadwalkan sebelumnya.
Sera tidak turun, tidak juga datang menyambut. Jika memang Xavier tidak berniat memberitahukan kedatangannya kepada Sera, itu berarti Xavier tidak membutuhkan Sera untuk menyambutnya.
Biarpun begitu, Sera tak bisa menahan diri untuk mengintip dari jendela ketika mendengar hiruk pikuk di bawah sana saat sang tuan rumah akhirnya pulang kembali ke kediamannya.
Dari lantai dua, dia bisa melihat bagaimana mobil Xavier meluncur perlahan melewati gerbang rumah, lalu melintasi hamparan taman luas di area depan sebelum kemudian menghilang di bawah kubah atap area lobby depan rumah.
Xavier sudah pulang.
Entah kenapa jantung Sera jadi berdebar penuh antisipasi, seolah-olah, adrenalin memancar keras dari aliran darahnya, membuat dadanya sesak oleh sesuatu yang tak bisa dideskripsikannya.
Sera menutup kembali tirai jendela tempatnya mengintip, lalu dia melangkah mundur dan mendudukkan tubuhnya di atas sofa, berusaha menenangkan diri.
Kenapa dia jadi gelisah? Bukankah Xavier sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa dia tak mau berurusan lagi dengan Sera selain untuk melakukan pembuahan transaksional demi kesepakatan mereka?
Bahkan para pelayan telah membawa seluruh pakaian Xavier dari lemari di kamar lantai dua ini dan memindahkannya ke kamar baru Xavier di lantai satu. Bukankah itu sudah menjadi sinyal nyata bagi Sera supaya dia tidak boleh melibatkan urusan hati dalam hubungan mereka?
Tetapi entah kenapa ada luka yang menyerpih di dalam hatinya, rontok berjatuhan meninggalkan lubang-lubang kecil yang terasa pedih. Perasaan tak enak ini adalah perasaan sakit karena ditolak. Dan Sera, yang selama tahun-tahun terakhir ini hidup sebagai pelampiasan kebencian Samantha Dawn, tahu pasti bahwa rasa sakit karena ditolak ini sangat susah untuk disembuhkan.
Suara ketukan di pintu yang terdengar tiba-tiba itu membuat Sera terkesiap. Dia menolehkan kepala ke arah pintu kamarnya dan akhirnya bertanya dengan suara lemah.
"Siapa?"
"Nyonya Light." Suara seorang pelayan terdengar dari luar pintu. "Makan malam sudah siap, Tuan Light meminta Anda turun untuk makan malam bersama."
***
"Bagaimana kondisimu?"
Saat ini, Aaron bisa dibilang sudah pulih sepenuhnya, beberapa hari ini dia bahkan sudah bisa bergerak bebas dan berjalan-jalan berkeliling kamar tanpa merasa sakit.
Saat Aaron diizinkan keluar dari kamar dan berjalan-jalan bebas ke luar, barulah dia menyadari bahwa dirinya ditempatkan di sebuah cottage kecil di pinggir danau yang cukup terpencil. Ada beberapa pengawal yang berjaga lengkap dengan pelayan yang melakukan tugas kebersihan, memasak dan melayani segala kebutuhan Aaron, bahkan seorang tenaga medis juga berkunjung dalam setiap periode untuk memeriksa kondisinya.
Sepertinya, Dimitri sengaja menyembunyikan Aaron di tempat terpencil ini supaya dirinya tak terlacak oleh Xavier Light. Dimitri sendiri tak pernah datang kembali sejak mereka berjabat tangan untuk menandai persekutuan mereka. Baru kali inilah lelaki itu datang, di malam hari ketika Aaron sudah hendak beranjak tidur karena bosan dan tak ada kegiatan yang bisa dilakukannya di tempat terpencil ini.
Aaron langsung bangkit dari duduknya, menyingkapkan selimutnya dan berdiri.
"Aku baik-baik saja," sahutnya dengan nada suara meyakinkan.
Dimitri mengangkat alisnya, dia tampak santai ketika memindai Aaron, lalu kemudian menganggukkan kepala seolah setuju dengan apa yang diungkapkan oleh lelaki itu.
"Bagus. Kalau kau sudah pulih sepenuhnya, maka kau pasti sudah menentukan langkahmu selanjutnya, bukan?" tanyanya dengan nada suara menyelisik.
"Sudah." Kembali Aaron menyahut mantap. "Aku ingin dipulangkan ke Rusia untuk mengurus warisan dari Keluarga Dawn dan menghimpun kekuatan, lalu aku akan kembali untuk membalas dendam."
Dimitri menipiskan bibir. Ada terbersit rasa jengkel di hatinya karena lelaki tak berguna di depannya ini malahan sudah mendapatkan penawar racun dari Xavier hingga sembuh benar, sementara dirinya bukan hanya masih dalam kondisi teracuni, tapi juga bertambah sial karena disusupi bom yang bisa meledak kapan saja di tubuhnya.
Sungguh, kadang-kadang orang bodoh memang lebih dianugerahi keberuntungan sebagai kelebihannya.
"Kau ingin kembali untuk membalas dendam? Setelah kutimbang-timbang, aku memutuskan untuk tak memaksamu bersekutu denganku. Aku memang memiliki masalah dengan Xavier Light yang harus kubereskan. Tetapi, dilihat dari kasusmu, urusanmu dengan Xavier Light seharusnya sudah beres. Kau sudah mendapatkan penawar racun dan bebas melenggang pulang ke negaramu, buat apa kau membalas dendam?" Mata Dimitri menyipit setengah memyelidik. "Tentunya kau bukanlah anak angkat berbakti yang bersemangat membalas dendam atas nama paman dan bibimu yang telah dibunuh oleh Xavier, bukan? Atau... kau mendendam karena kekasihmu direbut oleh Xavier?"
"Sera bukan kekasihku. Dia hanyalah binatang peliharaan yang tak setia kepada majikannya." Ekspresi Aaron menggelap. "Dia termasuk salah satu yang akan kuberi pelajaran karena mengkhianatiku. Begitupun dengan Xavier Light, lelaki itu telah meracuniku, membuatku sakit, menyekapku, berniat membunuhku dan membuatku dipukuli oleh anak buahnya. Aku tak akan pernah melupakan segala penghinaan yang diberikannya." Napas Aaron agak tersengal karena emosi. "Aku tahu bahwa Xavier Light sialan itu gagal mati padahal sudah kutusuk di bagian jantungnya. Kali ini mungkin dia beruntung, tetapi kali kedua nanti saat aku sudah menghimpun kekuatanku untuk melawan dan memberinya penghukuman, dengan senang hati akan kuinjak kepalanya di bawah sepatuku. Jika saat itu tiba, aku bersumpah bahwa Xavier Light tak akan selamat."
***
Langkah kaki Sera sedikit ragu ketika sampai di ambang pintu ruang makan tempat Xavier katanya telah menunggunya untuk makan malam bersama.
Sera mulai menyesali keputusannya bersedia turun untuk makan malam bersama. Dia menunduk, menatap kakinya sendiri dan tak ingin mengangkat kepala untuk melihat Xavier di sana. Malahan dia jadi berharap seandainya dia punya sepatu terbang yang bisa membawanya berbalik arah dan meninggalkan ruang makan itu secepat kilat.
Sayangnya, pemikiran Sera untuk melarikan diri itu sepertinya sudah terlambat. Mata Xavier yang awas sudah melihat kehadirannya dan lelaki itu langsung menyapa dengan sopan.
"Duduklah, Sera. Mari makan malam bersama."
Ajakan itu terdengar formal dan diucapkan dengan sengaja supaya Sera merasa tak enak untuk menolak.
Karena tak bisa melakukan hal lain, Sera akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang makan. Dilihatnya Xavier yang tampak sedikit kurus daripada seharusnya dengan permukaan kulit pucatnya yang seperti porselen. Lelaki itu duduk di atas kursi roda dan kursi rodanya ditempatkan di kepala meja. Sementara itu berbagai macam hidangan lezat untuk menyambut kepulangannya telah tersaji lengkap di atas meja makan.
__ADS_1
"Duduk dan makanlah, Sera. Aku tak mungkin menghabiskan semua menu ini sendirian, mungkin nanti kita akan minta para pelayan bergabung untuk menghabiskan semuanya, tetapi sebelum itu, aku ingin bersantap berdua denganmu dulu sambil bercakap-cakap." Lelaki itu menunjuk sebuah kursi paling dekat dengannya di meja itu, memerintah dengan cara halus tapi tak bisa dibantah.
Mau tak mau, Sera melangkah mendekati meja makan, tetapi sebagai bentuk pemberontakannya, dia tidak menduduki kursi yang ditunjuk oleh Xavier baginya, malahan menduduki kursi lain yang berselisih dua kursi jauhnya dari posisi Xavier.
Sikap menantangnya itu langsung membuat Xavier mengulas senyum, tetapi tidak berkomentar. Lelaki itu memberi isyarat kepada Sera supaya mengambil makanan dan mulai makan.
Sera menurut, memilih untuk mengisi perutnya dulu karena kebetulan dia sudah lapar. Semua hidangan yang tersaji di sana sudah pasti lezat, apalagi kali ini menunya sengaja dibuat untuk perayaan. Tetapi selera makan Sera entah kenapa tak bisa dibangkitkan oleh tampilan lezat makanan itu, karena itulah dia akhirnya mengambil berbagai macam menu tersebut secara random dan meletakkannya ke piringnya, sebelum kemudian menyantapnya dengan kaku laksana robot.
Sera berusaha memfokuskan diri pada kunyahan makanannya dan mengabaikan Xavier, tetapi dia tahu bahwa lelaki itu tengah mengamatinya.
"Kau tampak sehat dan baik-baik saja," Xavier akhirnya berkomentar, mengulas senyum di bibirnya.
Sera akhirnya mau mengangkat pandangannya dan menatap ke arah Xavier.
"Tentu saja. Aku banyak bersenang-senang dan bersantai beberapa hari terakhir ini. Aku juga makan-makanan enak yang memenuhi giziku. Terima kasih kepadamu," sahut Sera sambil menyelipkan nada sinis di dalam suaranya.
Xavier menyeringai seolah-olah sindiran Sera tak mengena baginya.
"Bagus. Kau harus mempersiapkan tubuhmu untuk pembuahan periode ke depannya.Tubuh seorang calon ibu yang sehat membutuhkan nutrisi lengkap sebagai ladang untuk persiapan pembenihan, itu juga harus didukung dengan iklim suasana hati yang baik dari sang calon ibu. Kedua hal itu, ditambah benih yang sehat dariku, akan menentukan keberhasilan kita." Xavier meletakkan garpunya dan menatap Sera tajam. "Dokter Nathan sudah memberitahumu, kan? Untuk periode kali ini kita terpaksa melewatkannya karena aku belum pulih benar. Jadi, kita harus mempersiapkan diri dengan baik untuk ke depannya, supaya yang berikutnya benar-benar berhasil."
"Baik, Xavier." Sera menjawab perlahan, genggaman tangannya di peralatan makannya mengencang, tetapi dia memilih memasang wajah datar untuk menutupi perasaannya.
"Kau kenapa?" Pertanyaan Xavier tiba-tiba menggema di udara setelah lelaki itu menghabiskan waktu beberapa lama untuk mengawasi Sera.
Kali ini giliran Sera yang meletakkan peralatan makannya dan menatap Xavier dengan dingin.
"Kenapa kau bertanya? Aku tidak apa-apa," sahutnya ketus.
Xavier memiringkan kepala dan mengawasi Sera dengan tatapan lekat. Lelaki itu tampaknya lebih dari siap untuk menyulut api pertengkaran dan menciptakan konflik di antara mereka supaya mereka saling membenci.
"Entah kenapa, kau tampak marah." Seringai Xavier makin lebar. "Apa yang membuatmu marah Serafina Moon? Apakah itu karena aku tak memberitahumu mengenai kepulanganku, atau karena aku memilih berpisah kamar denganmu?" Xavier mengawasi Sera dengan pandangan angkuh merendahkan. "Kau tak seharusnya terusik dengan hal-hal semacam itu karena kita sudah sepakat untuk menjalin hubungan transaksional. Tetapi, melihatmu bersungut-sungut seperti seorang kekasih yang merajuk ini, aku jadi bertanya-tanya, apakah jangan-jangan, kau sesungguhnya sudah jatuh cinta kepadaku?"
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan 10 besar.
AY
__ADS_1