
Aaron Dawn ditempatkan di kamar perawatan berpenjagaan khusus. Kondisinya yang cukup mengkhawatirkan akibat terpapar gas beracun membuat dia harus mendapatkan penanganan medis segera.
Beberapa jam sebelumnya, tubuhnya yang terbaring tengkurap di lantai sebuah pondok berburu di tengah hutan pinus, ditemukan oleh pasukan penyisir yang dikirim oleh Xavier. Aaron langsung dibawa ke rumah sakit ini karena Xavier telah memberikan perintah tegas bahwa lelaki itu harus diseret ke hadapan Xavier dalam kondisi bernyawa.
Anak buahnya bilang bahwa Aaron tengah sadarkan diri saat ini. Tentu saja kondisinya jauh lebih baik daripada kondisi Sera, karena lelaki itu telah meminum penawarnya duluan dibandingkan dengan Sera.
Xavier menggertakkan gigi untuk mengendalikan kobar kemarahan yang menyeruak di hatinya ketika langkahnya semakin dekat menuju ruang perawatan Aaron.
Tidak. Dia tidak akan membiarkan emosi menguasai hati dan melemahkannya. Ini layaknya pertarungan untuk memperebutkan sebuah hati yang lemah dan tak tahu harus berpijak ke mana. Dan Xavier akan memastikan bahwa dirinyalah yang akan menjadi tempat bertuju, tanpa hati itu bisa memiliki pilihan lainnya.
Ketika langkahnya berhenti tepat di samping ruang perawatan Aaron, Xavier memberi isyarat untuk memperbolehkan pergi salah satu anak buahnya yang mengantarnya tadi. Setelahnya, dia membiarkan bodyguard yang bertugas di depan ruang perawatan itu membukakan pintu untuknya.
Xavier melangkah masuk, dan membiarkan anak buahnya menutup pintu di belakangnya.
Mendengar pergerakan dari arah pintu, Aaron langsung menolehkan kepala untuk mencari tahu. Dirinya sebelumnya berhasil melarikan diri masuk jauh ke dalam hutan. Tetapi, kondisi tubuhnya yang terkontaminasi racun semakin lama semakin memburuk, ditambah lagi dengan hawa dingin menusuk tulang dari salju tebal yang menyelimuti seluruh permukaan sejauh mata memandang. Beruntung dia akhirnya menemukan pondok berburu yang dinding kayunya cukup hangat untuk menahan embusan angin yang meniupkan kebekuan setajam pedang ke permukaan kulitnya. Sayangnya, kondisi tubuhnya sudah terlalu lemah saat itu hingga dia langsung jatuh rubuh kehilangan kekuatan setelah berhasil memasuki pondok berburu yang tak dikunci itu untuk berlindung.
Ketika terbangun, Aaron sudah berada di rumah sakit ini. Meskipun telah mendapatkan kesadarannya sepenuhnya, tetapi sekujur tubuhnya terasa sakit dan kehilangan kekuatan hingga untuk mengangkat lengannya saja Aaron tidak mampu. Dia diinjeksi oleh obat-obatan entah apa dan cairan infus juga dimasukkan ke tubuhnya. Sisi tangannya yang tak diinfus diborgol ke besi ranjang, begitupun dengan sebelah kakinya.
Dirinya mendapatkan penanganan medis profesional baik, tetapi tubuhnya diperlakukan bak tawanan yang diikat.
Memikirkan itu semua membuat Aaron langsung sadar bahwa dia telah gagal melarikan diri. Tubuhnya telah jatuh ke tangan Xavier Light yang keji serta mengerikan. Entah kekejaman mengerikan macam apa yang akan dilakukan oleh Xavier ke tubuhnya sekarang, mengingat lelaki itu mengikat dirinya di ranjang rumah sakit ini.
Sekarang, ketika mata Aaron bersirobok dengan Xavier Light yang baru memasuki ruangan, gemetaran pun tak tertahankan langsung merasuki setiap sel tubuhnya, membuat aliran darahnya mengencang dan jantungnya langsung memukul kasar rongga dadanya, seolah akan meloncat melarikan diri.
“Kau tampak ketakutan.” Xavier menyeringai melihat ekspresi wajah Aaron. “Apakah kau takut mati? Karena itulah kau mengambil kapsul penawar itu dan lari? Tidakkah kau tahu bahwa itu adalah jatah kapsul penawar untuk Sera?”
Kalimat Xavier tersebut membuat Aaron terkejut, wajahnya yang pucat pasi semakin memucat seputih kertas. Dia mencoba menggerakkan tubuh, tetapi tubuhnya lunglai tak bertenaga. Akhirnya yang bisa dilakukannya hanyalah menolehkan kepalanya ke arah Xavier dan memberanikan dirinya untuk mengeluarkan pertanyaan.
“S-Sera… bagaimana dia? A-aku tak tahu kalau itu kapsul penawar miliki Sera… kupikir dia sudah meminum punyanya…. Bagaimana… bagaimana kondisinya? Apakah dia masih hidup? Apakah dia sudah mati?” seiring dengan mulutnya yang tak bisa berhenti menyemburkan pertanyaan, ketakutan menggayuti diri Aarron ketika membayangkan kemungkinan yang terburuk.
Xavier mengangkat alis, menatap tanpa belas kasihan ke arah Aaron.
"Kenapa? Apakah kau takut jika Sera mati, maka aku tidak punya alasan apapun lagi untuk mempertahankanmu tetap hidup?" Xavier mengulas senyum manis, tetapi entah kenapa senyum itu terasa mengerikan, seperti jenis senyum dari malaikat kematian yang membukakan pintu neraka, sambil berbisik bahwa tidak akan ada api di bawah sana.
"Bukan begitu...," Aaron tahu bahwa mengirimkan Sera kepada Xavier Light memiliki resiko kematian yang cukup besar, terutama jika Sera gagal. Tetapi, sama sekali tak disangkanya kalau Sera akan bersua dengan ajal secepat itu. Ketakutan semakin merengkuh Aaron sambil membisikkan bayangan-bayangan mengerikan, tetapi kemudian pikiran nalarnya mulai bekerja.
Apa yang dikatakan Xavier benar adanya... Jika Sera sudah mati, untuk apa lelaki itu membiarkannya mendapatkan penanganan medik? Itu berarti, Xavier sedang mengupayakan kehidupannya, bukan? Kalau begitu....
"Sera masih hidup." Aaron menyimpulkan dengan cepat, tanpa sadar di menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya itu dengan suara keras.
Xavier menipiskan bibir. "Ya. Sera masih hidup. Itulah satu-satunya alasan kau masih bernapas hingga kini, meskipun rasanya tak pantas kau mendapatkan kemewahan itu."
Aaron melebarkan mata. "Apa... apa maksudmu?" tanyanya gugup.
Xavier menyeringai. Tatapannya tajam menusuk langsung kepada Aaron, seolah-olah lelaki itu bisa membaca apa yang tersembunyi di belakang benak Aaron.
"Apakah kau tak ingin menyombongkan betapa berhasilnya dirimu memanipulasi Sera? Saat ini aku yakin bahwa kedudukanmu sangat penting di hati Sera, karena itulah dia sampai teguh dengan niat mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawamu." Xavier berucap lambat-lambat, matanya memindai Aaron, seolah ingin menilai reaksinya.
Aaron menelan ludah. Sungguh sial dia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Seandainya saja dia bisa bergerak dan melepaskan diri dari belenggu di tangan dan kakinya, sudah pasti Aaron akan melarikan diri dari intimidasi Xavier yang terasa sangat mencekik saat ini.
__ADS_1
"A-aku tidak mengerti maksudmu." Aaron masih berusaha melindungi dirinya, bertingkah tak tahu apa-apa.
Gelak tawa Xavier memenuhi ruangan, penuh dengan tawa mengejek.
"Tak perlu memasang wajah tak berdosa di hadapanku, Aaron Dawn. Aku sudah tahu segalanya tentangmu."
"A-aku benar-benar tak mengerti." Aaron masih berusaha mengelak sementara keringat dingin yang mengucur di pelipisnya seolah mengkhianati semuanya, meneriakkan kebenaran.
"Anastasia sedang dalam kondisi mengandung ketika dia meninggal dan anak yang dikandungnya itu adalah anakmu. Kalian berdua meyakini itu karena hanya denganmulah Anastasia tidak menggunakan pelindung untuk mencegah kehamilan." Xavier melemparkan kebenaran mengejutkan yang baru diketahuinya. "Kalian berdua sangat menjijikkan. Meskipun hubungan kekeluargaan kalian jauh, tetapi dia tetap saudara sepupumu. Sungguh aku tidak menyangka kalau mentalmu seperti binatang, meniduri keluargamu sendiri apalagi saat itu usiamu bahkan lebih muda dibanding Anastasia. Meskipun begitu, untuk saat ini tentu saja aku tak akan membahas rusaknya moralitasmu sejak usiamu masih muda, itu bukanlah sesuatu yang penting untukku."
Xavier tak bisa menyembunyikan nada jijik di dalam suaranya ketika dia melangkah mendekati ranjang dan melucuti topeng kepalsuan Aaron selama ini.
"Roman dan Anastasia Dawn mengetahuinya, tapi sudah tentu mereka tidak bisa menikahkan dirimu dengan Anastasia. Karena itulah mereka mendorong supaya Anastasia menjerat Akram supaya dinikahi segera." Xavier menyeringai. "Sayangnya insiden penculikan Anastasia yang berujung pada bunuh diri itu merusak semua rencana. Roman Dawn bukan hanya kehilangan anak perempuan satu-satunya, tetapi juga kehilangan impian mereka untuk menjadi bagian keluarga Night dengan menyelipkan cucu haram mereka sebagai pengikat untuk Akram Night."
Xavier mengamati ekspresi ketakutan Aaron Dawan sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. "Karena itulah, dendam Roman Dawn berlipat ganda kepadaku. Roman akhirnya memutuskan untuk merekrutmu karena tahu bahwa kau bisa menjadi sekutu berguna dan juga akan setia kepadanya, mengingat ikatanmu dengan Anastasia sebelum perempuan murahan itu mati." Xavier menyipitkan mata, menatap Aaron dengan menyelidik. "Jadi, apa tugasmu sebenarnya menyangkut Sera? Apakah saat itu kalian sedang memainkan metode polisi jahat dan polisi baik untuk memanipulasi mental Sera? Roman dan Samantha Dawn berperan sebagai polisi jahat sesuai aslinya, sementara kau berperan sebagai polisi baiknya? Bersikap baik dan menjadi penolong untuk memenangkan kepercayaan Sera?"
Pertanyaan Xavier sesungguhnya tak perlu mendapatkan jawaban, karena itu memang adalah kebenarannya. Sejak awal Roman Dawn merekrutnya, menjadikannya anak angkat sekaligus pewaris tunggal, Aaron memang sudah mendapatkan tugasnya sendiri. Tebakan Xavier sungguh tepat, Aaron harus mengambil sepenuhnya kepercayaan Sera. Supaya, saat perempuan itu bimbang dan tergoda untuk beralih pihak, Aaron yang selalu ada dan menolongnya ini akan menjadi ikatan kuat yang mendorong Sera untuk selalu memilih berpihak kepada Keluarga Dawn.
"Jika dilihat bagaimana Sera rela memberikan kapsul penawarnya kepadamu dan mengorbankan dirinya sendiri, maka sepertinya kau telah berhasil memanipulasi pikiran Sera, membuatnya berpikir bahwa kau adalah malaikat terbaik yang menjadi penyelamat dalam kehidupannya." Xavier menyambung kalimatnya, memandang Aaron dengan tatapan menimbang-nimbang, seolah-olah sedang berpikir apakah akan membunuh Aaron atau tidak.
Aaron menjadi panik, dengan sia-sia dia berusaha menggerakkan tubuh untuk menunjukkan kesungguhannya.
"M-mungkin... mungkin memang aku ditugaskan seperti itu oleh Roman Dawn, tapi aku... aku menolong dan membantu Sera dengan tulus... aku... aku...."
"Hentikan omong kosongmu. Kau pikir aku akan mempercayai mulut penipumu? Kau sudah pengecut sejak awal, kau tak berani bertanggung jawab atas bayi yang dikandung oleh Anastasia dan dengan pengecut mendukung tindakan Roman Dawn untuk mengumpankan Anastasia kepada Akram dengan menggunakan bayi itu. Kau juga bersikap pengecut dan memilih mendukung Roman Dawn meskipun kau tahu bahwa segala siksaan yang dia lakukan kepada Sera adalah perbuatan salah. Aku bahkan berpikir bahwa mungkin saja kau menyimpan dendam kepadaku karena menjadi penyebab Anastasia dan anak di kandungannya terbunuh." Xavier sedikit membungkuk ke arah Aaron. "Sekarang kau berpura-pura berhati baik dan seolah-olah menolong Sera dengan tulus di hadapanku. Padahal, aku tahu, kau kembali menggunakan topeng munafikmu itu untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Pengecut dan pengkhianat, satu paket lengkap yang membuatku ingin menyuntikmu dengan racun paling ganas dan efek paling menyakitkan dari semua racun yang pernah kubuat."
"Ti... tidak! Jangan lakukan itu...!" Aaron benar-benar ketakutan. Bayangan kematian yang merenggut jiwanya mungkin masih bisa dia hadapi dengan menguatkan diri, tetapi bayangan kematian ala Xavier dengan racun mengerikan yang dibuatnya, sungguh-sungguh membuat Aaron merasa ngeri.
Jika dia memang harus mati, dia ingin mati dengan cepat, dia tak mau mati dalam proses kesakitan mengerikan yang menyiksa jiwa dan raganya sebelum nyawanya tercabut sepenuhnya.
Xavier menegakkan punggung dan menyambung, "Sebab, jika aku melakukan itu serta memberikan semua buktinya pada Sera, maka kau tak akan punya arti lagi di mata wanitaku itu. Jika kau tak punya arti lagi di mata wanitaku, maka aku tak punya sandera yang cukup berguna untuk membuat Serafina Moon tunduk kepadaku. Apakah kau mengerti?"
Tanpa diduga, Xavier mengakhiri penjelasannya dengan kalimat pertanyaan yang membuat Aaron terperanjat dan tak tahu harus berbuat apa selain menganggukkan kepalanya cepat-cepat.
Xavier tertawa mengejek melihat sikap Aaron itu. Lelaki itu bersedekap, berucap lambat-lambat supaya Aaron mendengarkan kalimat yang diucapkannya dengan jelas.
"Seandainya saja ayah Serafina Moon dalam kondisi baik, maka aku akan menggunakannya sebagai sandera yang sempurna untuk membuat Sera patuh kepadaku dan aku tak perlu membutuhkanmu. Sayangnya, hasil pemeriksaan dokter terakhir yang belum kutunjukkan kepada Sera, mengatakan bahwa Salvatore Moon menderita kanker stadium akhir dan umurnya tak akan lama lagi." Xavier menyeringai, menatap ke arah Aaron dengan tatapan jahat. "Disitulah kau berperan, Aaron Dawn. Jika Salvatore Moon mati, maka kau sebagai sandera cadangan akan menggantikannya untuk membuat Sera tunduk kepadaku. Untuk saat ini, aku akan berperan sebagai antagonis dalam kisah hidup Sera dan menutupi kedokmu. Tetapi, kau akan hidup di bawah tawananku seumur hidupmu, terbelenggu tangan dan kakimu dan tak akan pernah bisa bebas lagi kecuali jika nyawamu tercabut. Sebab, jika nanti aku sudah berhasil menundukkan hati Sera, dengan senang hati aku akan membuka seluruh kepalsuanmu dan membunuhmu sebagai hadiah bagi Sera."
Xavier menarik kursinya dan mengambil posisi tempat duduk di samping ranjang tempat Sera masih berbaring terpejam.
Dokter bilang kondisi Sera sudah pulih sepenuhnya, dan dosis penghilang sakit yang membuat Sera tertidur pulas juga tidak diberikan lagi pada jadwal injeksi ke infus yang terakhir tadi.
Itu berarti bahwa Sera bisa bangun kapan saja, dan Xavier tak mau melepaskan kesempatan untuk memberikan salam selamat datang kembali kepada perempuan itu di saat pertama kali Sera membuka matanya.
Karena itulah dia ada di sini, duduk dan menunggu entah sudah berapa waktu berlalu.
Malaikat penebus dosanya akan menjadi miliknya. Yah, merupaka sebuah kesalahan Sera karana masuk ke dalam hidupnya dan menarik perhatian Xavier. Perempuan itu seperti laron yang terjerat ke dalam indahnya api lentera dan Xavier akan memastikan menjadi api lentera yang dengan kejam tega membakar sayap rapuh laron tersebut, sehingga dengan begitu, sang laron akan terjebak dan tak bisa kemana-mana lagi.
Bulu mata tebal yang berwarna gelap itu tampak mengerjap perlahan, bergerak-gerak seiring dengan kesadaran pikiran pemiliknya yang telah pulih. Melihat itu, Xavier menegakkan punggungnya dan menunggu dengan penuh antisipasi sampai mata indah itu terbuka.
Apa yang diinginkan oleh Xavier terkabul. Perlahan, mata itu terbuka, berkedip-kedip pelan untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang telah diredupkan dengan sengaja oleh Xavier, sebelum kemudian terbuka sepenuhnya dan langsung menatap langit-langit kamar dengan kening berkerut.
__ADS_1
Xavier sudah tentu tak mau membiarkan Sera berlama-lama dalam kebingungan. Dengan lembut, dia langsung menyapa, memecahkan keheningan.
"Selamat datang kembali, Serafina Moon."
Suaranya diucapkan dengan nada halus dan manis, tetapi tentu saja tanggapan Sera seperti dugaan, dipenuhi dengan keterkejutan dan rasa takut.
"A-aku masih hidup?" tanyanya tak percaya dengan suara parau yang meluncur dari tenggorkannya.
Xavier tersenyum penuh ironi dan memiringkan kepala sedikit dengan sikap mengejek.
"Tentu saja. Meskipun kau berbuat kebodohan yang sangat menjengkelkan, aku tak akan membiarkanmu mati, Sera." jawab Xavier dengan sikap sinis.
Sera membelalak, mata besarnya yang berkilauan indah menatap ke arah Xavier dengan bingung.
"Kenapa... kenapa kau tidak membunuhku saja? Bukankah akun pantas mati? Aku juga sama seperti keluarga Dawn yang menyimpan dendam dan ingin membunuhmu, bukan?" tanyanya terbata.
Xavier terkekeh. "Kenapa? Mungkin karena kau sedikit banyak mirip denganku, hanya saja hatimu setelah mengalami tempaan dan siksaan, malah bergerak ke jalur kebaikan, bukan ke jalur kegelapan seperti diriku. Karena kau begitu berbeda itulah aku jadi tertarik kepadamu dan ingin mengeksplorasi keseluruhan dirimu ." Xavier menatap tajam ke arah Sera, lalu bersuara dengan tegas dan mantap. "Aku ingin memilikimu, Sera."
Nada suara Xavier yang posesif dan sedikit gila itu membuat Sera begidik ketakutan. Dia mencoba menggerakkan tangannya dan terkejut ketika menyadari bahwa tangannya diborgol ke besi ranjangnya.
"K-kenapa kau membelenggu tanganku? Kau mau apa?" seru Sera dengan nada panik, tidak memedulikan tenggorokannya yang terasa perih dan kering ketika bersuara.
Sekali lagi, suara kekehan Xavier memenuhi ruangan. Lelaki itu kemudian berucap dengan lembut, meskipun hal itu sungguh berkebalikan dengan tatapan matanya yang tajam menusuk.
"Apakah aku harus mengatakan kepadamu untuk keseratus kalinya? Aku menahanmu karena aku ingin menjadikanmu milikku. Dan aku akan mengikatmu dengan cara paling efektif yang bisa diberikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan."
"Cara paling efektif? Apa maksudmu?" Sera menjadi panik mendengar perkataan Xavier yang misterius itu. Dia berusaha menggerakkan tangannya yang diborgol untuk melepaskan diri, tetapi tentu saja sia-sia. "Bisakah... bisakah kau melepaskan tanganku dulu?" mohonnya dengan parau dan putus asa kemudian
Xavier melirik ke arah pergelangan tangan Sera yang diborgol, dia lalu memutuskan untuk mengabaikan permintaan tolong Sera itu dan melanjutkan ucapannya.
"Aku akan mengikatmu dengan pernikahan, lalu aku akan menjadikan tubuhmu sebagai wadah untuk menyemai benihku." Xavier menyeringai dengan niat menakuti yang tak ditutup-tutupi. "Serafina Moon, kau akan menjadi ibu dari anak-anakku." sambungnya kemudian, memberikan ultimatum mutlak kepada wanitanya.
\====PRAKATA DARI AUTHOR====
Terima kasih atas Vote Poinnya selama ini, terimakasih telah memberikan poinnya untuk author.
Terima kasih juga untuk like, komen, subscribe favorite, dan rate bintang limanya. Sekali lagi terima kasih
Dan maaf postingan tersendat kemarin karena sedang banyak kerjaan. Mudah2an author bisa menebus semuanya.
Jangan lupa baca novel author yang lain di mangatoon juga, berjudul INEVITABLE WAR, sudah sampai episode 65 sekarang lho.
Postingan ini tanpa gambar dulu biar lolos reviewnya cepat ( kalau pakai gambar lolos review lama.bisa dua atau tiga hari kadang lebih). Nanti kalo udah lolos, baru diedit author dikasih gambar visualisasi. Bisa dicek EOTL part 1-15 sekarang sudah lengkap full gambar visualisasi yak.
Thank You - by AY
__ADS_1