Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 89 : Aroma


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


 


“Mereka bilang kau mengurung diri di dalam ruang lab-mu selama berhari-hari.”


Akram bersedekap sambil menyandarkan tubuh tingginya ke pintu yang baru saja dimasukinya. Keningnya sedikit berkerut ketika melihat Xavier yang sedang sibuk di belakang meja besar penelitiannya yang merupakan salah satu perabotan paling besar dan luas di dalam ruang laboratorium itu. Berbagai macam tabung kaca dalam posisi rumit tersusun di atas meja itu, belum lagi ditambah dengan banyak jenis peralatan lab yang Akram sendiri bahkan tak mampu mendeskripsikannya.


Xavier tidak mengangkat kepalanya. Lelaki itu sedang begitu fokus dengan berbagai cairan kimia yang tersedia berwarna-warni dalam tabung-tabung kaca di depannya. Di sebelah tangan Xavier, terpegang pensil yang digunakannya untuk mencoret-coret sebentuk rumus-rumus senyawa kimia rumit di atas kertas yang diletakkannya di samping tabung-tabung kaca penelitiannya. Kertas itu penuh dengan hasil coretannya sendiri berdasarkan kesimpulan dari ratusan percobaan yang dilakukannya sebelumnya.


“Mereka membiarkanmu masuk begitu saja kemari?” Xavier menyapa dengan nada ringan tanpa menjawab pertanyaan Akram sebelumnya. Laboratorium kimia khusus milik Xavier ini, dibangun di bunker bawah tangah yang terletak di area paling ujung belakang dari komplek rumah megahnya yang hampir-hampir tak terjangkau oleh manusia biasa. Areanya dijaga ketat oleh pasukan pengamanan yang hampir tak mungkin tertembus, ditambah lagi dengan sistem pengamanan elektronik yang ketat, yang mampu mengunci setiap jalur masuknya dengan berbagai penguncian yang tak tertembus.


“Kau memberiku kartu pas masuk.” Akram mengerutkan kening. “Apakah kau sudah lupa?” Pertanyaan Akram seharusnya sudah menemukan jawabannya bahkan sebelum dilontarkan. Xavier tidak pernah lupa, Akram tahu itu dan Akram memang sengaja melemparkan pertanyaan kepada kakak angkatnya untuk memprovokasinya. Hubungan mereka berdua mungkin sudah benar-benar membaik akhir-akhir ini, tetapi bukan berarti mereka jadi berhenti saling memprovokasi dan mengejek satu sama lain.


Xavier menyeringai. “Ah, tak kusangka kau memilih menggunakan kartu pas itu untuk menembus perimeter keamanan menembus laboratorium tempatku berada saat ini. Kau tahu, laboratoriumku ini merupakan tempat yang sangat berbahaya, siapa tahu ada kontaminasi virus yang lolos mencemari udara, atau mungkin ledakan akibat fomulasi bahan kimia yang tidak tepat?” tanyanya penuh arti, membalas provokasi Akram dengan kalimat yang menyiratkan ancaman.


Xavier memang sengaja memberikan kartu pas kepada Akram beberapa bulan yang lalu. Kartu itu memang dibuat supaya Akram bisa menjangkaunya dimanapun Xavier berada. Karena memiliki banyak musuh, Xavier selalu dikelilingi perimeter keamanan yang sangat ketat dan hampir tak tertembus. Terlebih lagi, ketika dia berada di tempat berbahaya seperti laboratoriumnya ini, perimeter keamanannya bahkan berkali-kali lipat lebih ketat daripada biasanya. Dengan membawa kartu itu, Akram akan mampu menembus perimeter keamanan dengan penjagaan seketat apapun, karena seluruh penjaga sudah diintruksikan untuk membiarkan pembawa kartu itu masuk menemui Xavier tanpa halangan.


Akram menipiskan bibir, menatap ke arah Xavier dengan ekspresi serius. “Kau bukan jenis yang ceroboh, mungkin bertahun-tahun lalu saat masih muda kau melakukannya, tetapi sekarang kau sudah tidak pantas meledakkan labmu atau melakukan tindakan serampangan seperti meloloskan virus berbahaya di ruang penelitianmu sendiri.”


Apa yang dikatakan Akram benar adanya. Dulu, meskipun memiliki kejeniusan yang mumpuni, bukan berarti kemampuan Xavier diperoleh dengan kesempurnaan dari awal, ada kalanya kakak angkatnya itu meledakkan sesuatu di dalam ruang labnya, atau bahkan menumpahkan cairan berbahaya yang melukai permukaan kulitnya. Tetapi, kemampuan diperoleh dari pengalaman. Untuk saat ini, bisa dibilang Xavier telah mencapai apa yang disebut dengan kesempurnaan dan hampir tidak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaannya.


“Kau repot-repot datang kemari, apakah ada informasi yang berguna untuk kuketahui?” Xavier akhirnya menatap Akram langsung dengan tajam. “Mengingat ternyata aku telah meremehkan si busuk itu. Dia benar-benar mampu bersembunyi. Sudah beberapa bulan berlalu dan aku bahkan masih tak bisa menemukan jejaknya sama sekali. Mungkinkah dia bersembunyi di dasar laut? Atau jangan-jangan Aaron malahan sudah mati?” tanyanya pelan.


“Bicara mengenai kematian. Itulah alasanku datang kemari menemuimu.” Akram menyahuti dengan tenang, menikmati ketika melihat Xavier yang tertegun mendengar perkataanya.


Yah, beberapa bulan sudah berlalu dengan cepat dan secara menakjubkan, mereka bisa melaluinya dalam kedamaian tanpa insiden yang berarti. Sayangnya, mereka juga menemui jalan buntu dalam pencarian mereka terhadap Aaron. Keberadaan Sabina sebagai umpan ternyata juga tak bersambut, tidak pernah sekalipun Aaron berusaha mendekati Sabina meskipun mereka telah melakukan pengawasan ketat di seluruh perimeter yang mengelilingi Sabina. Pada akhirnya, untuk saat ini Sabina dipekerjakan di bawah pengawasan Dimitri yang sampai detik ini masih dipaksa untuk bekerja sama dengan mereka, sambil menunggu instruksi lebih lanjut.


“Mengenai kematian?” Xavier menatap ke arah Akram dengan sikap tak percaya. “Jangan bilang kalau si brengsek pengecut itu sudah mati?”


“Kami belum bisa memastikannya.” Akram menatap ke arah Xavier dengan hati-hati. “Sesosok mayat ditemukan terdampar di padang salju di Serbia. Karena tubuhnya masih utuh, kami bisa mengidentifikasi bahwa mayat itu memiliki wajah dan penampilan yang sama dengan Aaron. Bahkan postur tubuh dan ciri khas di tubuhnya juga sama persis, termasuk tahi lalat dan tanda lahir berbentuk bulan sabit di punggungnya.”


“Kalau memang mayat itu sebagian besar menunjukkan bukti bahwa dia adalah Aaron, kenapa kau masih tampak belum puas?” Xavier sangat ahli membaca ekspresi wajah. Tentu dia tahu dengan jelas kalau Akram tidak terlihat suka dengan kabar berita mengenai Aaron ini.


“Karena ini terlalu mudah, lagipula….” Akram menahan suaranya sejenak, matanya mengawasi wajah Xavier untuk memastikan lelaki itu benar-benar mendengar apa yang hendak dikatakannya. “DNA mayat itu tak bisa dilacak.”


“Apa maksudmu?” Xavier menegakkan punggung. Dia sudah menduga bahwa ada yang aneh, tetapi dia sama sekali tak menyangka kalau musuhnya akan melakukan metode secanggih itu dengan menggunakan pengacak DNA.


“Kau tahu pasti apa maksudku. Mayat itu seolah-olah telah dirusak dari dalam dengan racun khusus. Para ahliku tidak bisa mengidentifikasi apakah dia benar-benar Aaron atau tidak. Satu-satunya pegangan kita adalah wajah, ciri fisik dan juga tanda lahir yang sama persis dengan Aaron.” Akram menyahuti dengan nada merenung.


“Bagaimana dengan sidik jarinya?” Xavier bertanya lagi.

__ADS_1


Akram menghela napas panjang. “Meskipun kondisi fisik utuh dan baik seperti mayat yang masuk ke dalam lemari pendingin, kondisi tangan dan kakinya tidak baik. Seakan-akan ketika hidup, orang itu dipaksa berjuang di tengah badai salju sampai mati, tanpa pelindung yang cukup baik. Jari-jari tangan dan kakinya menghitam dan hancur karena Deep severe frostbite.”


Xavier menganggukkan kepalanya tipis. Sudah dia duga. Frostbite adalah kondisi kulit dan jaringan di sekitarnya yang membeku kemudian rusak. Kondisi ini umumnya terjadi akibat paparan suhu sangat rendah, terutama yang di bawah -0,55 derajat Celcius. Ketika berada di tempat bersuhu rendah, tubuh akan berusaha meningkatkan aliran darah ke organ vital. Proses ini dilakukan dengan mempersempit pembuluh darah di area-area lain, seperti kaki dan tangan. Akibatnya, area tersebut menjadi dingin dan mudah membeku. Jika jaringan sudah membeku, akan terbentuk kristal-kristal es yang dapat merusak sel maupun jaringan di sekitarnya. Penurunan aliran darah juga akan mengurangi suplai oksigen pada area tersebut dan memperparah kerusakan jaringan yang disebut dengan frostbite.


Sedangkan yang menyerang mayat itu sebelum kematiannya adalah Deep severe frostbite, kondisi itu merupakan level kerusakan paling parah, kulit menjadi keras dan hitam dimana gejala ini menandakan kematian jaringan. Ketika seluruh kulit di jari-jari menjadi keras dan hitam, lapisan luar permukaan kulit akan hancur total sehingga sidik jari yang terpatri di sana tidak akan bisa teridentifikasi.


Xavier mendekus dengan ekspresi terganggu. “Semua hal yang menyertai mayat itu, membuat kita seolah-olah dipaksa untuk menyetujui bahwa mayat itu adalah Aaron dengan melihat segala ciri fisik tanpa identifikasi DNA-nya. Apalagi, mayat itu ditemukan di tumpukan padang salju Siberia yang dingin, seakan-akan ingin memastikan tubuh fisik mayat tersebut tidak rusak kecuali ujung jarinya, bukan? Dengan mayat yang utuh, wajah Aaron dan segala tanda lahirnya, akan utuh pula di mata kita.”


“Kau curiga bahwa itu bukan Aaron, meskipun seluruh ciri fisiknya sama persis?” Akram tidak mengatakan bahwa dia setuju atau tidak dengan pola pikir Xavier, dia memutuskan untuk mendengar lebih lanjut penjelasan lelaki itu sebelum memutuskan.


“Aku tidak akan pernah mempercayai bahwa itu adalah mayat Aaron jika aku tidak mendapatkan laporan identifikasi DNA secara pasti. Bisa saja ini hanya sebuah skenario yang mencoba membodohi kita sehingga kita tidak mengejar Aaron lagi.” Xavier menjawab dengan nada marah.


Akram menatap Xavier dengan pandangan menilai sebelum berucap kemudian. “Anak buahku masih menyimpan mayat itu di lemari pendingin. Apakah kau ingin melihatnya? Orang lain mungkin tidak akan menemukan petunjuk baru, tetapi kalau selevel dirimu, aku yakin kau bisa menemukan apa yang orang lain tidak bisa temukan.”


Xavier menganggukkan kepala tipis. “Aku akan mengatur jadwal, setelah aku selesai dengan ini.” Lelaki itu kembali menunduk, fokus dengan formula yang sedang dirumuskannya.


Akram memiringkan kepala sedikit dan menatap dengan pandangan tertarik. “Mereka bilang kau menghabiskan waktumu di dalam ruang lab ini berhari-hari. Sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan? Virus baru apa yang akan kau ciptakan? Atau racun jenis apa yang kau hasilkan?”


Xavier menggelengkan kepala tipis. “Ini bukan virus atau racun,” jawabnya kemudian dengan nada misterius.


Jawaban itu membuat Akram semakin ingin tahu. Xavier yang dikenalnya memiliki ketertarikan yang sangat kuat menyangkut virus ataupun racun. Bisa dibilang, hanya dua hal itu yang biasanya dikerjakan oleh Xavier dengan sepenuh hati.


“Jika itu bukan virus atau racun, jadi kau sedang mengerjakan apa?” Karena Xavier tak juga memberikan penjelasan lebih lanjut, Akram akhirnya menyuarakan pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.


“Aku mengerjakan sabun. Sabun foam cair.” Xavier menjawab singkat, ekspresinya masih serius menatap lembaran kertas rumus di depannya, seolah-olah mencari-cari kesalahan di sana yang kemungkinan bisa menggagalkan hasil akhirnya.


Xavier terkekeh. “Ayolah Akram, bagaimana mungkin aku melakukan hal sekonyol itu dengan repot-repot menciptakan sabun beracun?”


“Lalu kau membuat apa? Jangan bilang kau membuat sabun biasa, karena aku tak akan percaya.” Akram menyahuti dengan tak sabar, penuh rasa ingin tahu akan tingkah Xavier yang cukup aneh di matanya.


Xavier menyeringai, tersenyum lebar ke arah Akram sambil menunjukkan kertas coret-coretannya.“Aku sudah hampir berhasil. Kemarin-kemarin aku sempat gagal karena belum menemukan formulasi yang tepat untuk keautentikan aromanya. Masih ada yang kurang sehingga aku harus mengulang dan mencoba lagi. Tetapi untuk yang ini, kurasa aku akan berhasil,” ujarnya kemudian.


“Sebenarnya kau sedang membuat apa?” Akram menyahuti dengan nada tak sabar.


“Aku membuat sabun beraroma.” Xavier mengangkat bahu, menjawab dengan nada ringan dan tanpa rasa bersalah.


“Aroma apa yang membuatmu begitu kesulitan untuk membuat tiruan yang autentik? Apakah itu aroma kematian?” sahut Akram dengan nada sarkasme yang kental.


Xavier tergelak. “Tentu saja tidak, aku tidak mungkin memberikan sabun aroma kematian kepada Serafina.”


“Kau membuat sabun beraroma untuk Serafina?” Akram kembali mengerutkan kening dengan bingung.Xavier menganggukkan kepala.


“Aku membuat sabun ini atas permintaan Sera. Kau tahu, perut Sera semakin besar dan syukurlah selain punggungnya yang sakit dan kakinya yang sedikit bengkak, dia sama sekali tidak mengalami kesulitan makan atau sakit yang serius. Cuma… akhir-akhir ini permintaannya semakin sulit dituruti.”


Usia kandungan Sera sudah hampir mencapai tujuh bulan dengan dua bayi kembar yang sesuai hasil USG tiga dimensi satu bulan yang lalu, berjenis kelamin perempuan. Meskipun begitu, dokter masih belum memberikan kepastian dan meminta mereka datang lagi di usia kandungan tepat tujuh bulan untuk melakukan USG kembali dan kali ini benar-benar memastikan jenis kelamin kedua bayi mereka. Perut Sera semakin besar, apalagi tubuh kecilnya harus menampung dua bayi kembar di dalam rahimnya yang membuat perutnya luar biasa buncit jika dibandingkan dengan kehamilan biasa. Akram sendiri tahu persis bagaimana Xavier berusaha meringankan beban kehamilan Sera dengan mengikuti apapun permintaan istrinya itu.


“Sebagai seorang suami, sudah kewajibanmu untuk mengikuti permintaan istri hamilmu sesulit apapun itu. Kehamilan Elana yang sekarang sangat berbeda dengan kehamilannya yang sebelumnya. Saat ini, Elana benar-benar mandiri hingga hampir tidak meminta apapun dariku. Tetapi aku ingat, dulu aku sampai memaksa koki hotelku membuat hidangan khusus, karena dia meminta menu yang tak biasa. Tetapi, permintaan ibu hamil biasanya menyangkut makanan. Sedangkan Sera… dia meminta sabun?” Akram seolah-olah tak habis pikir, menatap Xavier bingung.

__ADS_1


“Yah, sebenarnya masih berhubungan dengan makanan juga.” Xavier menghentikan kalimatnya, seolah bingung hendak menjelaskan dari mana. “Jadi, beberapa hari yang lalu, aku mengajak Sera makan di sebuah restoran. Dia sangat menyukai hidangan pembukanya, cream sup jagung dengan aroma gurih yang sangat lezat. Lalu, Sera bilang, seandainya saja dia bisa berendam di dalam adonan cream soup hangat ini di dalam bath tub, mungkin dia bisa benar-benar merasa rileks. Kau tahu, perutnya yang membesar membuat punggungnya sering sakit akhir-akhir ini.” Xavier berucap dengan nada bersalah yang kental, menatap Akram dengan sungguh-sungguh. “Segila-gilanya diriku, aku tak mungkin membuat istriku berendam di dalam cream soup jagung. Jadi, disinilah aku, berusaha membuat sabun foam beraroma cream soup jagung supaya istriku bisa mandi berendam di dalamnya dan merasa rileks.”


 


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Yours Sincerely


AY


 


***


***


***


 


 

__ADS_1


Mohon maaf atas keterlambatan posting belakangan ini dikarenakan masih ada gangguan sedikit yang menghalangi author untuk bisa menulis. Semoga diterima dengan senang hati. Thank You.


__ADS_2