Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 111 : Rasa Percaya Diri


__ADS_3


***


Hai Beautiful Ladies,


Ini adalah 4 dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019.


Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.


MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN


Kalian mungkin sudah tahu sistem ranking novel di mangatoon terbaru yang akan di samakan dengan noveltoon, dimana sistem ranking didasarkan oleh POIN yang disumbangkan sebagai Vote untuk author dan karyanya ya.


Dengar-dengar, per 25 November 2019, sistem vote menggunakan POIN akan mulai bisa dilakukan di MANGATOON ( Untuk sekarang, sistem vote dengan poin baru bisa dilakukan di NOVELTOON )


Karena itu nanti setelah tanggal 25 November 2019 ketika sistem vote dengan poin di mangatoon sudah berlaku, author mohon dukungan sebanyak-banyaknya dengan memberikan POIN mu untuk vote novel Essence of The Darkness karya author ya.


Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :


1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis


2. Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin namamu by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing


3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request tulisan namamu di tumblernya.


Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.


Regadrs, AY


***



***



Akram sendiri mengawasi reaksi Elana, lalu tersenyum lembut menenangkan seolah-olah dia  bisa memahami kecemasan Elana.


“Kau mencemaskan penampilanmu, meskipun menurutku, penampilanmu akan selalu lebih cantik dibandingkan wanita-wanita lain yang mungkin ada di sana,” Akram terkekeh ketika menerima tatapan tak setuju dari Elana, lalu memutuskan untuk tak akan menyiksa Elana lebih lama lagi. “Tapi, karena aku memahami ketidaknyamananmu, maka aku akan membuatmu tenang. Aku memiliki sebagian saham restoran ini, dan karena aku merupakan salah satu pemiliknya, aku memiliki akses khusus,” ucapnya misterius.


“Akses khusus?” karena tidak mengerti, Elana mengulang kembali perkataan Akram sambil menatap penuh rasa ingin tahu.


Akram menganggukkan kepala. “Ya, akses khusus. Seperti kekuasaan untuk mengosongkan restoran ini dalam sekejap dan mengusir semua orang sehingga aku bisa menggunakan restoran ini untukku sendiri misalnya…”


“Kau jangan melakukan itu!” Elana berseru cepat, menatap ke arah orang-orang yang tampak sudah ramai berdatangan memenuhi restoran itu.


Bahkan tempat parkir di mana mobil mereka berada ini sudah terlihat penuh menjelang waktu makan malam. Para tamu yang berdatangan ke tempat ini pasti sudah melakukan reservasi sebelumnya, dan sengaja berniat datang sambil membawa teman kencan mereka untuk menikmati kencan makan malam yang menyenangkan dengan menikmati sajian lezat khas restoran ini. Elana tidak mungkin membuat Akram membuat acara kencan orang-orang ini kacau balau.


Lagipula… dengan mengusir semua tamu pergi, bukankah itu akan mendatangkan kerugiaan bagi restoran itu secara keuangan?


“Aku cuma bilang kalau aku bisa melakukan itu jika aku mau,” Akram menyeringai ketika melihat reaksi Elana. Lelaki itu menggunakan jemarinya untuk mengangkat dagu Elana. “Tentu saja aku sudah bisa menebak kalau kau tidak akan senang jika aku melakukan itu, mengingat sifatmu yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentinganmu sendiri… jadi… aku sudah memikirkan cara lain,” kembali Akram menggunakan nada berteka-teki dalam suaranya yang memancing Elana untuk langsung bertanya.


“Cara lain seperti apa?” mata Elana melirik ke arah restoran mewah yang ramai itu dan kepanikan mulai melanda dirinya. “Bagaimana kalau kita makan di restoran lain… mungkin yang tidak perlu turun dari mobil… semacam drive tru restoran begitu?” tawarnya takut-takut.


Reaksi Akram langsung seperti yang diduganya, lelaki itu memasang ekspresi jijik tak terperi.


“Kau memintaku membeli makanan di restoran cepat saji? Aku baru saja sembuh dari sakit dan aku lapar karena tak bisa makan dengan benar kemarin, jadi tidak mungkin aku akan membiarkan tubuhku yang baru pulih ini dicemari oleh makanan sampah dari restoran cepat saji. Menu makanan yang paling terkenal di sini adalah wagyu peringkat satu yang sangat sehat dan tentu saja membantu kepulihanku, jadi aku tak akan makan di tempat lain,” sahut Akram dengan nada arogan yang menjengkelkan.


“Kalau begitu, cara lain seperti apa yang kau maksudkan?” tanya Elana akhirnya dengan nada putus asa.


Akram membuka pintu keluar, menoleh ke arah Elana dengan tatapan penuh arti. “Akses khusus, aku sudah bilang kepadamu, bukan? Itu berarti kita punya pintu masuk sendiri, dan tersedia ruangan sendiri di restoran ini untuk kita sehingga kita tidak akan diganggu oleh orang lain ketika kita menikmati hidangan,”


Elana memiringkan kepala. “Kenapa kalian para orang kaya membutuhkan perlindungan seperti itu sehingga harus masuk sembunyi-sembunyi ke dalam restoran?” tanyanya penasaran.

__ADS_1


Akram terkekeh. “Karena semakin kaya seseorang, semakin ingin orang lain mengorek-ngorek dan mencari tahu rahasia mereka,” jawabnya sambil lalu.


Kembali Elana mengerutkan kening. “Itukah aku bagimu? Sesuatu yang harus dirahasiakan?” tanyanya dengan nada polos.


Pertanyaan itu membuat Akram yang hendak keluar dari mobil langsung membeku. Lelaki itu tak jadi membuka pintu mobilnya, malahan menghadap ke arah Elana dengan ekspresi serius.


“Kau harus mengetahui dengan jelas bagaimana kedudukanmu di sisiku, Elana. Kau harus tahu dengan jelas bagaimana aku ingin memperlakukanmu, bahwa aku sama sekali tak ingin merahasiakan keberadaanmu. Sebab, jika boleh memilih, aku ingin memamerkanmu ke hadapan dunia, menunjukkanmu kepada mereka. Tetapi, aku tentu mengerti bahwa meskipun aku sudah siap untuk memamerkanmu kepada khalayak, kau sendiri yang masih merasa belum siap untuk kuklaim menjadi milikku. Aku benar bukan?” Akram mendekatkan wajahnya ke arah Elana, memaksa perempuan itu menatapnya. “Sebab jika kau menjawab bahwa kau sudah siap, aku tak akan menunggu lebih lama lagi untuk mengumumkan hubunganku denganmu. Persetan dengan semua manusia itu. Kita bisa memasuki restoran dari pintu depan, di bawah pandangan mata semua orang dan mungkin juga para wartawan yang menunggu di sana, sambil mendongakkan kepala penuh rasa bangga. Aku bahkan tak sabar melakukannya,” Akram menghentikan kalimatnya, menatap Elana dengan tatapan bertanya. “Jadi, sayangku. Kau ingin masuk lewat mana?”


Elana tertegun. Ketegasan dalam nada suara Akram sungguh tak terperi sehingga tak perlu diragukan lagi. Dan makna yang terkandung dalam kalimatnya, berhasil membuat Elana tersipu malu.


Tetapi, tentu saja penghargaan dan pemujaan Akram terhadap dirinya tak sampai membuat Elana lupa diri. Dia tahu posisinya, dia masih belum pantas mendampingi Akram. Dia sungguh tak ingin membuat Akram merasa malu nantinya ketika lelaki itu memamerkannya di depan umum. Rasa percaya dirinya belumlah sebesar itu untuk bisa berdiri mendampingi Akram sambil mengangkat dagu penuh rasa bangga.


Elana berdehem sejenak, berusaha mengusir nada serak dalam suaranya.


“Kurasa… kurasa kita masuk ke restoran itu lewat jalur khusus saja,” jawabnya dengan nada terbata.


***



***


Makanan yang mereka santap malam itu memang luar biasa lezatnya. Penyajiannya juga menggunakan metode internasional dimana menu makanan disajikan bertahap sesuai urutannya. Yang pertama adalah hidangan pembuka, hidangan penutup, hidangan pencuci mulut, lalu setelahnya pelayan menawarkan kopi atau anggur untuk teman mereka bercakap-cakap.


Akram dengan bijaksana memilih kopi, karena dia masih teringat akan rasa sakit akibat hangover mabuknya beberapa malam yang lalu. Lagipula, dia masih meminum obat medis pagi ini sehingga tidak bijaksana untuk mengkonsumsi minuman beralkohol pada hari yang sama.


Dengan tenang, Akram menyesap kopinya sementara matanya menatap ke arah Elana yang sibuk mengaduk krim ke dalam kopi hitamnya, membuat warna pekat kopi itu memudar dan berubah menjadi warna krem lembut.


“Apa yang mengganggu pikiranmu?” dengan cepat Akram menebak ketika melihat Elana yang memusatkan perhatiannya pada kopi yang diaduknya searah dengan dengan jarum jam.


Elana mendongakkan kepala, lalu memasang senyuman lemah.


“Aku… tadi aku belum mengatakan kepada Nolan bahwa aku adalah kakaknya,” ucapnya perlahan.


Akram tentu sudah tahu itu bahkan ketika Elana belum mengucapkannya. Saat dia menjemput Elana di gazebo tadi, tidak ada perubahan ekspresi atau keterkejutan yang tersisa di wajah Nolan. Mereka memang tampak lebih akrab dari sebelumnya, tetapi hanya itu saja. Karena itulah, Akram langsung menyimpulkan bahwa Elana belum mengatakan mengenai hubungan darahnya dengan Nolan kepada anak itu.


Elana mendesah perlahan. “Aku…. Tidak percaya diri,” jawabnya pelan.


Seketika kening Akram berkerut. “Tidak percaya diri? Kenapa?”


Elana menghela napas panjang. “Nolan… dia begitu luar biasa. Maksudku prestasi dan kecerdasannya. Kami berdua sama-sama berasal dari panti asuhan sederhana. Tapi Nolan, di usianya yang muda sudah memenangkan beberapa olimpiade sains mewakili sekolah maupun daerahnya, belum lagi prestasi dan kemampuan di sekolahnya. Begitu berbicara dengannya, aku tahu bahwa dia adalah anak yang cerdas dengan wawasan yang luas, ditambah lagi dengan kepribadian baik yang sangat sopan…. Sementara aku membandingkan dengan diriku sendiri, aku selalu menjadi anak yang biasa-biasa di sekolahku dulu, aku mungkin lulus dengan nilai baik, tetapi hanya itu saja, tak ada yang luar biasa. Berbeda dengan Nolan yang mungkin akan mencapai masa depan gemilang ketika seumuranku, aku malahan berakhir menjadi seorang kasir supermarket dan juga seorang pembersih toilet tanpa mampu menorehkan prestasi ataupun kelebihan apapun... Karena itu mulutku tak sampai hati untuk mengungkapkan kepada Nolan bahwa aku adalah kakaknya, aku…. Aku takut dia merasa malu memiliki seorang kakak sepertiku yang… yang sangat biasa-biasa saja ini…”


“Elana,” Akram langsung meraihkan tangannya untuk menggenggam jemari Elana, lalu meremasnya lembut. “Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kita sudah membahasnya tadi. Kau harus menekan rasa rendah dirimu itu dan membuangnya. Tidakkah kau sadar? Dirimu yang seperti itulah yang membuatku jatuh cinta kepadamu,” ucap Akram dengan nada tegas.


Elana mengerutkan kening, menatap Akram dengan pandangan tak yakin. “Tapi… kau juga tertarik kepadaku pada awalnya bukan karena kepribadianku, tetapi… tetapi karena tubuhku…”


Akram berdehem. “Ya, aku mengakui itu. Bukankah sudah kusebutkan ada ketertarikan fisik misterius yang kurasakan kepadamu? Tetapi dengan ketertarikan tubuh itulah yang mendorongku untuk berinteraksi lebih denganmu, membuatku dekat denganmu dan semakin mengenalmu… lalu ketika aku mengenalmu lebih dalam…. Maka aku jatuh cinta kepadamu…”


“Tapi tetap saja….” Elana menyela kembali, ketidakyakinan makin kental memenuhi dirinya.


“Elana,” Akram berucap dengan nada tegas, seolah memaksa perempuan itu supaya memusatkan perhatian kepadanya. Keinginannya terpenuhi karena perempuan itu langsung menengadah dan menatap ke arahnya.“Aku mencintaimu karena dirimu. Kau mungkin tak berprestasi di sekolahmu seperti adikmu, kau mungkin bekerja sebagai pembersih toilet, tetapi itulah yang kusyukuri. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan melihatmu di insiden dalam toilet kelab malam itu dan mungkin aku akan kehilangan kesempatan terbesar dalam hidupku untuk memiliki anugerah paling nyata dalam hidupku. Pada detik ini, aku bisa merasakan dengan sangat nyata, jujur, tulus dari hatiku bahwa aku mencintaimu, setiap inci dirimu, setiap titik kepribadianmu tanpa kecuali. Seluruh kekuranganmu, seluruh kelebihanmu, aku memujanya dengan hatiku. Kau sempurna di mataku dan kau adalah yang terbaik bagiku.” Akram menatap Elana dengan sungguh-sungguh. “Jadi kuharap kau membuang sikap rendah dirimu itu. Kau menjadi nomor satu di mata Akram Night, siapa yang bisa membantah itu?” sambung Akram dengan nada bercanda.


Elana menatap ke arah Akram dengan tatapan mata berkaca-kaca. Senyum tulus terurai di bibirnya.


“Te… terima kasih, Akram,” ujarnya kemudian dengan suara bergetar.


Akram *** tangan Elana lembut, bibirnya menyeringai senang karena tahu bahwa dia telah berhasil menyentuh perasaan Elana.


“Karena itu, cepatlah jatuh cinta kepadaku. Aku berani menjamin kalau kau tak akan menyesal,” ucapnya kemudian dengan senyum penuh sayang yang sudah pasti bisa membuat jantung siapapun berdetak lebih cepat  melihatnya.


***



***

__ADS_1


Akram berdiri bersandar di area samping restoran yang berupa sebuah lounge bersantai tempat para tamu pria menunggu wanitanya yang sedang membereskan diri di toilet. Ada pintu khusus dari lounge ini yang mengarah langsung ke lorong yang merupakan akses keluar masuk khusus untuk tamu VVIP.


Saat ini mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka dan bersiap untuk pulang, tetapi Elana berniat merapikan diri dulu di toilet sehingga Akram memutuskan untuk menunggu di sini.


Hari ini, meskipun tidak dilalui dengan bercinta dan memuaskan hasrat, tetapi cukup menyenangkan dan memuaskan jiwa bagi Akram. Dia telah berhasil menyampaikan kembali isi hatinya kepada perempuan itu, membuat perempuan itu menyadari betapa besarnya cinta Akram kepadanya.


Dan Elana… sudah pasti mulai membuka hati kepadanya.


Bibir Akram mengurai senyum ketika dia membayangkan nanti saatnya, ketika Elana sepenuhnya mengakui cintanya kepadanya.  Mereka akan menikah segera dan punya bayi. Akram sungguh tidak sabar menunggu hal itu terjadi.


Memiliki seorang anak buah cinta, yang dilahirkan dari rahim wanita yang dicintai… pasti rasanya akan sangat luar biasa. Akram sendiri diliputi perasaan penuh antisipasi ketika membayangkan Elana yang berjalan dengan perut membuncit besar karena mengandung anaknya…


“Akram?”


Suara seorang wanita yang menyapa dengan hati-hati membuat Akram terlepas dari lamunannya. Keningnya langsung berkerut ketika menyadari siapa sosok perempuan yang saat ini sudah berdiri di depannya itu.


“Aku menghadiri acara makan malam dengan keluargaku,” wanita itu menjelaskan tanpa diminta, eskpresinya seolah terpesona bercampur rasa senang tak terhingga. “Tidak kusangka akan bertemu denganmu di sini. Kau sedang bersama seseorang? Atau kau makan malam sendirian di restoran ini?” tanya perempuan itu tanpa menyembunyikan rasa ingin tahu yang kental di matanya.


Seketika Akram menyipitkan mata, menatap perempuan itu dengan ekspresi dingin sebelum kemudian berucap kasar.


“Bukan urusanmu,” jawabnya lugas, membuat wajah perempuan itu memucat karena tak menyangka akan disahuti dengan nada sekasar itu.


***



***


Elana menatap wajahnya di cermin, menyadari ada rona merah karena tersipu yang masih nyata ada di sana. Bibirnya mengulas senyum dan dia menghela napas panjang kemudian.


Hari ini sungguh menyenangkan dan penuh makna. Perasaannya bergolak, campur aduk oleh berbagai rasa dan pikiran yang berkecamuk, tetapi pada akhirnya, Akram telah berhasil meyakinkan dirinya, bahwa dirinya berharga, bahwa dirinya layak untuk dicintai.


Elana menghela napas kembali, masih mengulas senyum di sana. Akram mungkin pernah menghempaskan kehidupannya sampai ke dasar, tetapi lelaki itulah yang kemudian mengangkatnya sampai setinggi mungkin, mengembalikan rasa percaya dirinya yang telah hancur dan membuatnya bisa berdiri di sini, menatap dirinya di depan cermin sebagai seorang individu yang punya nilai sebagai manusia.


Karena itu, Elana berhadap dia akan bisa menapak masa depan nanti dengan lebih percaya diri.


Setelah membulatkan tekadnya, Elana melangkah keluar dari toilet wanita tempatnya merapikan diri sebelumnya dan berjalan melalui lorong untuk menghampiri Akram yang sudah menunggu di ujung lorong. Mereka akan kembali keluar lewat pintu khusus nantinya, pintu yang sama tempat mereka memasuki ruangan sebelumnya.


Ketika sampai di ujung lorong, Elana hendak menghampiri Akram yang sedang memunggunginya, tetapi langkahnya terhenti seketika saat menyadari bahwa Akram tidak sedang sendirian.


Lelaki itu tengah bercakap-cakap dengan seorang perempuan yang wajahnya tak kelihatan karena tertutup oleh bahu Akram yang lebar.


Sambil berdiri berhati-hati supaya dirinya tak terlihat oleh lawan bicara Akram, Elana berusaha mengintip sosok perempuan itu dengan rasa penasaran. Dari sedikit yang terlihat, tampak bahwa perempuan itu memiliki tubuh tinggi semampai dengan lekuk menggoda, dan mengenakan gaun biru tua berhiaskan kristal berkilauan yang sangat indah.


Perempuan yang sedang berbicara dengan Akram itu pastilah sangat cantik, mungkin salah satu dari artis-artis  yang pernah menjadi kekasih Akram. Elana langsung menduga, seiring dengan usahanya mengintip siapa sebenarnya wanita lawan bicara Akram.


Tetapi, sebelum Elana bisa melihat wajah perempuan itu dengan jelas, tiba-tiba dia terkesiap ketika melihat ketika perempuan itu, dengan gerakan yang sangat alami, tiba-tiba saja kehilangan keseimbangan dari pijakan sepatu hak tingginya, sehingga tubuhnya terhuyung jatuh ke depan dan otomatis menubruk ke arah Akram yang langsung menangkap perempuan itu dengan sigap.


Kedekatan Akram dengan sosok perempuan itu entah kenapa langsung menohok ke dalam jiwa Elana membuat jantungnya berdenyut seolah ditusuk dengan sembilu. Elana memegang dadanya, dan tiba-tiba dia merasakan perutnya bergolak.


Rasa mual langsung menghantam Elana cepat tanpa peringatan, membuat keringat dingin langsung mengaliri tubuhnya. Semua makanan lezat yang tadi dinikmatinya bersama Akram seolah sekarang memanjat naik tak   terkendali, melewati batang tenggorokannya dan merangsek dinding penghalang seolah ingin menyembur dari mulutnya.Elana langsung menahan mulutnya dengan tangan, sebelum kemudian dia menghambur dan membalikkan tubuh ke dalam toilet wanita.


Beruntung tak ada siapapun di sana, sehingga tak ada yang melihat bagaimana Elana dengan membabi buta berusaha membuka bilik toilet dan langsung membungkuk di sana tanpa daya, memuntahkan seluruh isi perutnya dengan sejadi-jadinya.


***




***



***

__ADS_1



__ADS_2