Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 65 : Keras Kepala


__ADS_3

Ketika Sera membuka matanya, Xavier sudah tidak ada di sana.


Sera menghela napas panjang, dia beranjak duduk di atas ranjang, membungkuskan selimut ke tubuhnya dan menatap ke sekeliling kamar dengan perasaan hampa.


Kamar tempat tidurnya cukup luas, dengan penataan feminim yang didominasi oleh warna krem berpadu putih dengan tidak meninggalkan nuansa cokelat kayu yang sudah menjadi ciri khas rumah ini. Setiap ruangan di rumah ini sepertinya memang dihiasi oleh jendela lebar yang hampir memenuhi satu sisi dinding dengan kaca satu arah di mana yang di dalam bisa melihat ke luar, tetapi yang di luar tidak bisa mengintip ke dalam. Saat ini, tirai jendela kamarnya telah dibuka, menampilkan pemandangan air mancur besar di taman samping rumah yang tampak begitu menyegarkan, kontras dengan cuaca hari ini nan terang benderang.


Para pelayan mungkin telah masuk tadi pagi untuk membuka tirai kamar dan meletakkan bunga segar harum di atas meja kamar yang menebarkan aroma harum lembut menyenangkan ke seluruh penjuru kamar.


Matahari sudah tinggi di atas langit dan Sera langsung melirik jam dinding besar dari bahan kayu antik berukir di dinding seberang ranjang. Sudah jam sepuluh pagi, pantaslah matahari sudah menyinari dengan kuat, menembus kaca kamarnya dan menciptakan sulur terang yang penuh dengan kilauan spektrum cahaya.


Bukankah lelaki itu kemarin mengatakan bahwa hari ini dia akan mengantarnya mengunjungi ayahnya di rumah sakit? Kenapa Xavier malah pergi? Apakah kehamilan Sera membuat Xavier berubah pikiran? Apa yang harus Sera lakukan? Haruskah dia menghubungi Xavier untuk bertanya?


Tapi, entah kenapa seolah ada sesuatu yang menghalangi Sera untuk menghubungi Xavier. Lelaki itu pergi begitu saja dan meninggalkan kehampaan aneh di dalam hatinya. Seolah-olah Xavier telah mengucapkan selamat tinggal, lalu pergi tanpa niat untuk menoleh kembali.


Sera tahu bahwa dirinya tak boleh terpaku dalam kehampaan yang mengosongkan jiwanya. Xavier sudah pergi. Lelaki itu melakukan persis seperti apa yang dikatakannya. Mereka sudah sepakat untuk berpisah di jalan masing-masing, hingga nanti kesepakatan itu diakhiri.


Bukankah berpisah sekarang ataupun nanti, tak ada bedanya? Toh jalan mereka memang ditakdirkan untuk berujung pada cabang yang berbeda, kan?


Sera menundukkan kepala, tangannya lalu bergerak untuk mengusap perutnya dan senyum lembut langsung terukir di bibirnya.


Bahkan sampai detik ini, dengan segala hasil test dan USG itu, Sera masih sulit mempercayai bahwa dia sedang hamil. Perutnya juga belum bertambah buncit sedikit pun, seolah masih menyembunyikan dengan baik benih kecil yang sedang bertumbuh di dalam sana. Sedangkan kondisi tubuhnya sendiri, selain lelah dan mengantuk, Sera tak merasakan apapun. Dia tidak mengalami muntah atau mual seperti yang dialami oleh ibu-ibu hamil kebanyakan.


Atau mungkin memang belum waktunya?


Mual dan muntah di awal kehamilan disebabkan oleh tingginya hormon HCG yang dihasilkan oleh proses terbentuknya plasenta yang berperan dalam penyaluran nutrisi makanan dan oksigen dari ibu kepada bayinya. Ketika pembentukan plasenta sudah sempurna dan usai, maka kadar hormon HCG di dalam tubuh juga menurun.


Karena itulah, mual dan muntah akibat tingginya kadar hormon HCG di dalam tubuh, biasanya memuncak pada awal masa kehamilan di trisemester pertama kehamilan, lalu menghilang setelah lewat trisemester pertama kehamilan dimana saluran plasenta bayi sudah tumbuh dengan sempurna.


Kehamilan Sera sebelumnya tak terdeteksi karena hormon HCG di darahnya belum memenuhi ambang batas minimal untuk bisa dinyatakan hamil. Tetapi, dua minggu kemudian setelah dilakukan pemeriksaan, kadar hormon HCG di dalam darahnya ternyata sudah meningkat hingga melebihi ambang batas minimal. Kemungkinan besar, dalam beberapa minggu ke depan, kadar hormon HCG di darahnya akan bertambah semakin tinggi dan barulah mual serta muntah itu terjadi.


Sera mengusap wajahnya, berdoa dalam hati semoga serangan mual dan muntah itu tak perlu datang di masa kehamilannya. Ataupun, jika memang kondisi itu menimpanya, mual muntahnya tidaklah terlalu parah.


Sera ingin anaknya bertumbuh di perutnya tanpa gangguan sampai tiba waktunya dilahirkan nanti.


Bagaimanapun, meski kehamilannya masih belum kelihatan, sudah dipastikan bahwa saat ini anaknya sedang bertumbuh di dalam perutnya. Anak Xavier dan dirinya.


Ya. Sera memutuskan untuk memfokuskan diri pada anak tak berdosa yang sekarang sedang bertumbuh di dalam perutnya. Dia harus mengerahkan seluruh tenaganya supaya anak ini terlahir dengan selamat nantinya. Dia harus berjuang supaya anak ini hidup bahagia di masa depan.


Apapun yang menjadi masalah di antara kedua orang tuanya, anak tak berdosa ini tak terlibat sama sekali. Dia adalah makhluk mungil yang berharga, milik Sera, anaknya.


Sera mengusap buliran bening haru di sudut matanya, menghela napas berkali-kali untuk menguatkan dirinya. Setelahnya dia membungkus tubuhnya dengan selimut dan melangkah menuju kamar mandi.


Dirinya akan mandi, membersihkan diri lalu memberi makan anak ini supaya mendapatkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya. Selagi dia tak mengalami mual dan muntah, akan dimanfaatkannya jeda waktu itu untuk memberikan nutrisi sebanyak-banyaknya bagi anaknya.


***


“Aku ingin dia disingkirkan.”


Xavier meletakkan chip data di tangannya ke meja besar tempat Akram duduk di belakangnya. Ekspresinya serius, tak menyimpan canda sedikit pun.


Tadi pagi setelah tiba di rumahnya sendiri untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, Xavier memutuskan untuk mengunjungi Akram di perusahaan. Segala hal yang berhubungan dengan Serafina dan berbagai insiden yang susul menyusul di belakangnya, membuat Xavier berhalangan hadir untuk bekerja di sana. Kini, dia memutuskan untuk menemui Akram dan mulai bekerja kembali karena kondisi tubuhnya sudah cukup sehat untuk beraktivitas seperti semula.


Tetapi, sebelum mulai bekerja, ada sesuatu yang harus dibereskannya dulu, dan itu memerlukan otoritas Akram untuk memuluskannya.


Akram menjalinkan jari jemarinya di bawah dagu, kedua sikunya bertumpu di atas meja kerjanya yang besar sementara matanya mengawasi chip kecil yang diberikan oleh Xavier, sebelum kemudian beralih kembali menatap Xavier dengan tajam.


“Kau sudah mulai bekerja?” Akram tak mempedulikan chip itu dan memilih berbicara tentang hal lain. Matanya mengawasi Xavier lekat, seolah mempelajari kondisinya.


“Luka ini bukan masalah untukku. Aku pernah mengalami yang lebih buruk.” Xavier menyeringai meremehkan ketika menjawab.


“Aku mendengar bahwa kau berhasil. Serafina Moon sudah hamil.” Akram langsung memberitahu tanpa basa-basi, membuat seringaian Xavier membeku sejenak.


“Kau tahu…. Ah! Pasti Nathan yang langsung melaporkan kepadamu. Dokter itu terlalu setia kepadamu sehingga rela menjadi mata-matamu, bukan?” sahut Xavier dengan nada sinis.


Akram menipiskan bibir, menggelengkan kepala sedikit. “Dia melakukannya untuk kebaikanmu,” sahutnya dengan nada dingin. “Lupakan itu. Bagaimana dengan rencanamu? Dengan adanya bayimu, maka otomatis akan ada sel punca plasenta bayi yang kau butuhkan, bukan? Kau sungguh-sungguh tidak berniat menggunakannya untuk kesembuhanmu?”

__ADS_1


Mata Xavier meredup, tampak kelam hingga akhirnya lelaki itu menggelengkan kepalanya.“Itu bukan prioritas utamaku. Prioritasku sekarang adalah menjaga Sera supaya kehamilannya aman dan menjauhkannya dari segala gangguan,” sahutnya cepat. “Karena itulah aku meminta bantuanmu untuk menjauhkan orang ini dari perusahaanmu.”


Mendengar perkataan Xavier tersebut, barulah Akram tertarik dengan chip kecil yang disodorkan oleh Xavier kepadanya di atas mejanya itu. Diraihnya chip itu dan dipasangnya ke alat pembaca chip di mejanya.


Tampilan digital langsung muncul, menampakkan data informasi seorang karyawan wanita yang menjadi General Manager di salah satu hotel terbaik milik Akram di kota ini.


“Liliana.” Akram memiringkan kepala, menatap Xavier lekat penuh rasa ingin tahu. “Dia adalah salah satu karyawan yang berdedikasi, gigih dan menyimpan potensi besar yang cukup bagus bagi kemajuan perusahaan, karena itulah dia bisa menduduki jabatan penting di usianya yang masih muda. Kesalahan apa yang dilakukannya hingga kau berusaha menyingkirkannya?”


Xavier menggertakkan gerahamnya. “Dia menawarkan dirinya kepadaku secara terang-terangan di depan umum, di hadapan Serafina. Dia bahkan menghina dan merendahkan Sera, padahal jelas-jelas dia tahu bahwa Sera datang bersamaku sebagai tamu.” Xavier menatap Akram tajam. “Salah satu inti utama terhadap kesuksesan bisnis perhotelan, adalah penerimaan dan pelayanan kepada tamu yang mampu memberikan kepuasan kepada konsumen yang membayar. Bagaimana bisa kau menitipkan resiko kesuksesan hotelmu di tangan seorang perempuan murahan yang menawarkan dirinya dengan genit di depan tamu, bahkan ketika dia tahu bahwa tamu itu membawa istrinya bersamanya? Aku khawatir dia akan menghancurkan reputasi hotelmu dan mengubahnya menjadi hotel kelas rendahan yang dipakai oleh wanita-wanita j*alang untuk menggaet pelanggan-pelanggan tak bermoral yang menjadi tergetnya.”


Akram terkekeh. “Aku yakin bukan alasan moral yang menjadi pertimbanganmu. Pun dengan alasan kemajuan dan masa depan hotelku, aku tahu pasti bahwa kau tidak mempedulikan itu. Bukankah jika dirimu yang dulu yang mendapatkan penawaran menggoda dari Liliana, maka kau akan menerima tawaran itu tanpa pikir panjang? Kau hanya ingin menyingkirkan Liliana, bukan?” tebaknya tepat.


Mata Xavier bersinar tajam. “Kau benar. Aku tidak menerima penghinaan yang dia berikan kepada Serafina. Liliana, perempuan itu merasa dirinya terlalu tinggi dan merendahkan semua wanita lain di sekelilingnya. Apakah kau tidak berpikir bahwa dia kemungkinan besar juga akan merendahkan Elana jika kebetulan mereka bertemu nanti?”


Mata Akram berkilat oleh kobaran api yang menyala seketika. Hanya membayangkan Elananya dihina perempuan lain saja, sudah langsung bisa menyulut api kemarahan di jiwanya.


Akram menipiskan bibir, mencoba menguasai dirinya di depan Xavier.


“Baik. Aku akan mempertimbangkan… untuk menyingkirkannya,” jawabnya kemudian.


Xavier masih tampak tidak puas, matanya mengawasi Akram dengan tatapan menyelisik.


“Pastikan dia dibuang jauh dari sini, pindahkan dia ke cabangmu yang paling buruk, atau kemanapun yang tidak dia sukai. Jika dia tak mau menerimanya, dia akan terpaksa mengundurkan diri dari perusahaan ini. Dan pastikan juga Liliana tahu bahwa dia disingkirkan dari perusahaan ini atas rekomendasi dariku.” Mata Xavier menyipit penuh ancaman ketika melanjutkan kalimatnya kemudian. “Aku akan terus mengawasinya. Jika menurutku Liliana tidak mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya, maka aku sendiri yang akan turun tangan untuk memberikan hukuman baginya… dengan caraku sendiri.”


Cara Xavier tentulah terlalu mengerikan untuk dibayangkan, Akram tahu itu. Karena itulah dia membuka mulutnya untuk memberi peringatan kepada Xavier supaya tidak perlu turun tangan langsung dalam hal-hal yang berhubungan dengan karyawan perusahaannya.


Tetapi, sebelum Akram bisa membuka mulut dan mengucapkan sepatah kata pun, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka, dan kedua makhluk kesayangan yang muncul di sana, langsung membuat perhatiannya teralihkan sepenuhnya.


Elana ada di sana, tampak ceria sambil membawa Zac dalam gendongannya.


“Akram, aku membawakanmu makan siang.” Mata Elana beralih ke arah Xavier dan senyumnya melebar ketika menyadari kehadiran lelaki itu. “Xavier! Kau sudah sehat? Aku membawa cukup banyak makanan. Ayo kita makan siang bersama.”


***


“Terima kasih atas makan siangnya. Kau tampak sangat sehat, sepertinya kehamilan yang kedua ini berbeda dengan kehamilan pertamamu, eh?” Xavier tersenyum lebar sambil menyelipkan jarinya ke tangan Zac yang langsung digenggam kuat-kuat oleh bayi itu.


Mereka sudah menyelesaikan makan siang mereka dan duduk santai di sofa besar yang ada di ruang kerja Akram. Zac sendiri tampak ceria, duduk dengan nyaman di pangkuan Xavier sambil menggumamkan celotehan lucu dengan gembira. Entah sudah berapa kali Elana meminta maaf kepada Xavier karena kondisinya tak mengizinkan dirinya untuk menjenguk Xavier ketika dirawat di rumah sakit, dan berkali-kali pula Xavier menjawab bahwa hal itu bukan masalah untuknya.


“Kau sedang hamil. Kau harus menghindari berada di rumah sakit. Aku mengerti.” Xavier tersenyum lembut dan membiarkan Zac bermain-main dengan jari jemarinya. “Aku senang memikirkan bahwa kau hamil bersamaan dengan Sera,” sambungnya kemudian dengan nada mengambang seolah sedang melamun.


“Serafina sudah hamil?” Mata Elana berbinar ketika mendengarkan informasi itu dari mulut Xavier sendiri. “Wow! Kenapa aku tidak tahu kabar itu? Bukankah tes beberapa minggu yang lalu hasilnya negatif?”


“Kami baru mengetahuinya kemarin. Dokter Nathan berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan darah ulang dan akhirnya hasilnya menunjukkan hasil positif,” sahut Xavier senang.


Mata Elana berkaca-kaca ketika menatap ke arah Xavier, perempuan itu layaknya buku yang terbuka, tak bisa menyembunyikan emosi kebahagiaannya.


“Selamat Xavier! Kau… astaga… akhirnya Serafina hamil, aku masih tak percaya mendengarnya. Tapi, dia sehat, bukan? Bagaimana dengan mual muntahnya? Apakah dia mengalaminya?”


“Tidak,” Xavier menggelengkan kepala lembut. “Sera baik-baik saja. Meskipun kemungkinan besar, dia akan mengandung anak kembar.” Xavier sendiri tampaknya tak bisa menyembunyikan kebanggaan yang terselip jelas di dalam kalimatnya dan hal itu membuat Elana terkekeh senang.


“Anak kembar? Ah, kau pasti senang sekali, bukan?” tebaknya dengan ceria ke arah Xavier.


Xavier menganggukkan kepala. “Rasanya seperti kemustahilan yang menjadi nyata bagiku,” jawabnya kemudian dengan nada jujur.


Elana saling bertukar pandang dengan Akram yang duduk di sebelahnya. Dia tahu Akram memikirkan hal yang sama. Kehamilan ini membuat Xavier tampak berbinar oleh rasa senang, lelaki itu mungkin boleh saja berusaha menyembunyikannya sekuat tenaga, tetapi tetap saja sinar di matanya tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang bergolak di dalam jiwanya.


“Aku senang sekali mendengarnya, Xavier. Bolehkah aku menghubungi Serafina? Kurasa dua orang ibu hamil bisa menghabiskan waktu bersama-sama dengan sangat menyenangkan,” seru Sera dengan nada bersemangat.


‘"Kurasa Sera akan senang sekali jika kau melakukannya. Dia… tak punya banyak teman dan aku khawatir bahwa dia akan kesepian di rumahnya sendirian. Jika kau tak keberatan, aku akan sangat terbantu kalau kau bersedia menyempatkan diri untuk mengunjungi Sera beberapa kali di rumahnya.”


“Di rumahnya?” Elana terperangah, keningnya berkerut dan matanya langsung tertuju ke arah Akram. Setelahnya, Elana menoleh kembali ke arah Xavier dengan bingung. “Sera… tidak tinggal bersamamu?”


“Xavier menempatkan Sera di salah satu villaku yang dia beli. Villa yang dulu ditempati oleh Nolan.” Akram yang sejak tadi terdiam dan memilih menatap saja interaksi percakapan antara Xavier dengan Elana, akhirnya memilih menyahuti.


Perkataannya itu membuat Elana semakin terpana. “Kau memutuskan menempatkan Sera tinggal terpisah denganmu? K-kau sadar bahwa Sera sedang hamil muda, bukan? Dia membutuhkanmu di sampingnya! Bagaimana bisa kau meninggalkan Sera di rumah besar itu sendirian? Kami para perempuan hamil, membutuhkan orang terdekat untuk menopang kami sepanjang masa kehamilan. Entah saat kami mual dan muntah saat hamil muda, atau pada saat perut kami menjadi begitu besar dan kami bahkan kesulitan hanya untuk buang air kecil ke kamar mandi. Apakah kau sudah memikirkannya, Xavier?” Elana memberondong Xavier dengan protes karena dia tak habis pikir atas keputusan Xavier itu.

__ADS_1


“Aku sudah memikirkan semuanya.” Xavier menjawab dengan nada datar dan dingin. “Karena itulah aku menempatkan bodyguard lengkap, juga para pelayan, supir, koki dan bahkan perawat dengan sertifikat medis untuk mendampingi Sera di rumah itu. Dia akan baik-baik saja.”


“Xavier….” Elana terbata. Rasa tak puas memenuhi hatinya hingga dia hampir-hampir kesulitan berkata. “Bukan hanya itu yang dibutuhkan oleh seorang perempuan hamil. Sera sudah pasti membutuhkan topangan, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental. Itu semua hanya bisa diberikan oleh keluarga terdekat, atau karena Sera tak memilikinya, maka kaulah yang harus mengambil tanggung jawab itu sebagai suami dan ayah dari anak-anaknya. Apalagi saat ini Sera kemungkinan sedang mengandung anak kembar, kau tidak seharusnya….”


“Aku lelah.” Xavier menyentuh kepalanya sedikit, menunjukkan sikap tubuh yang menyatakan dengan jelas bahwa dia tak ingin mendengarkan nasehat apapun dari Elana. Dengan lembut Xavier mengangsurkan Zac kembali ke pangkuan Elana. Anak itu merengek dan menggapai-gapai ke arah Xavier seolah meminta digendong kembali. Namun, Xavier tak melakukannya. Lelaki itu hanya terkekeh lembut, mengusap rambut Zac dengan sayang sebelum kemudian beranjak berdiri dan menjauh dari area sofa itu.“Kurasa aku harus kembali ke ruanganku sendiri dan beristirahat.” Mata Xavier menatap ke arah Elana dan lelaki itu mengulas senyum meminta maaf. “Terima kasih atas makan siangnya, Elana. Enak sekali,” sambungnya kemudian.


Xavier lalu mengangguk ke arah Akram yang duduk diam mengawasi, setelahnya dia melangkah meninggalkan ruangan tanpa kata.


***


Ketika pintu tertutup di depan mereka, Elana langsung menoleh ke arah Akram. Tak bisa menahan diri, dia langsung menggunakan jemari mungilnya untuk mengguncang lengan Akram pelan.


“Xavier tidak mungkin melakukan itu, bukan? Kau tidak mungkin mendukungnya melakukan itu, kan? Bagaimana bisa Xavier meninggalkan Sera sendirian di rumah terpisah saat Sera sedang hamil?” serunya kebingungan.


Akram meraih jemari istrinya dan mengecupnya lembut.“Itu adalah kesepakatan antara Xavier dan Sera sendiri. Mereka sudah sama-sama dewasa dan bisa memutuskan jalan mereka sendiri. Kita tidak bisa ikut campur,” jawab Akram, berusaha menenangkan istrinya.


“Tapi… kau tahu sendiri kan betapa payahnya diriku saat kehamilan pertamaku? Aku tak bisa membayangkan Sera harus mengalami itu sendirian,” ucap Elana dengan nada khawatir.


Akram menghela napas panjang.


“Xavier terlalu keras kepala. Sangat susah untuk membuatnya mengubah pikirannya.” Kening Akram berkerut, tampak berpikir. “Kecuali….”


“Kecuali apa?” Suara Akram yang terhenti dan menggantung di udara membuat Elana langsung menyahuti dengan penasaran.


Akram memiringkan kepala, tampak menimbang-nimbang.


“Kecuali jika kita meminta bantuan orang lain untuk mencoba mengubah pikiran Xavier.”


“Orang lain? Siapa?” Elana bertanya lagi dengan penuh rasa ingin tahu.


Akram menyeringai. “Credence Evening. Kurasa akan sangat menyenangkan bisa melibatkan Credence untuk menyadarkan Xavier dari kekeraskepalaannya.”


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


***


***


***


Author mengucapkan, Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin


Yours Sincerely

__ADS_1


AY


__ADS_2