Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 34 : Janji Akram


__ADS_3

Ketika Xavier akhirnya meninggalkan ruangan, seorang pelayan datang tak lama kemudian untuk mengantarkan obat pereda nyeri dan kompres air hangat untuk Sera. Sera sengaja mengabaikannya, tetap berbaring miring dan meringkuk memunggungi pintu, berpura-pura tidur meskipun sesungguhnya dirinya masih terjaga.


Setelah pelayan itu pergi, Sera akhirnya menguatkan dirinya untuk bangkit dari ranjang, lalu duduk di samping tempat tidur dan menatap ragu ke arah obat dan kompres itu.


Sesungguhnya, rasa nyeri yang dirasakan oleh Sera, tidaklah seberat itu hingga membuatnya harus mengkonsumsi obat pereda nyeri untuk menghilangkan sakitnya.


Sebenci apapun Sera pada perbuatan Xavier, dia mengakui bahwa Xavier cukup berbaik hati dalam memperlakukannya di atas ranjang malam pertama mereka. Lelaki itu terasa jelas berusaha keras tidak melukai tubuh dalam proses bercinta tadi.


Lelaki itu begitu sabar, membimbing Sera, membantunya, dan hanya menyatukan diri dengannya setelah Sera benar-benar siap…


Pipi Sera langsung memerah ketika dirinya mengingat pengalaman intim pertamanya dengan laki-laki, pengalaman pertamanya dengan Xavier. Sungguh Sera tak mau memikirkan itu, tetapi sayangnya otak dan memorinya berkeinginan lain, membawa kilasan adegan demi adegan yang membuat sekujur tubuhnya merona panas karena malu terus menerus di dalam ijmajinasinya.


Sera menghela napas berkali-kali dan berusaha mengusir pikiran itu dari benaknya. Matanya kembali teralih ke arah obat dan kompres yang telah diletakkan oleh pelayan di samping ranjang. Dirinya akhirnya memutuskan untuk mengkonsumsi obat yang disediakan tersebut, hanya sekedar untuk berjaga-jaga jika nanti rasa sakitnya ternyata baru muncul kemudian.


Tentu saja Sera memeriksa obat itu sebelum meminumnya, masih takut diracuni tanpa sadar oleh Xavier yang sangat licik. Dia menghela napas panjang ketika membaca merk obat itu yang kemudian dikenalinya. Jenis obat generik yang dikenalnya dan cukup aman untuk dikonsumsi.


Xavier sudah pasti tidak akan membahayakan tubuh Sera yang sedang dipersiapkan untuk mengandung anaknya, bukan?


Setelah selesai menelan obatnya dengan air putih yang tersedia di gelas bening pada nakas samping ranjang, Sera menatap lagi ke arah mangkuk keramik putih dengan air hangat dan kompres yang tersedia di sana. Keningnya lalu berkerut dalam, dipenuhi kebingungan.


Untuk mengompres apa sebenarnya ini? Apakah ini untuk kepalanya? Atau bagian tubuhnya yang lain?


Lagipula, Sera hanya merasakan rasa pegal yang tidak nyaman, sebuah rasa yang tersisa setelah dijamah oleh Xavier sebelumnya, dan rasa tak nyaman itu masih berada dalam batas yang bisa ditanggungnya.


Pemikiran mengenai Xavier membuat pipi Sera memerah lagi. Dia akhirnya memaksa dirinya beranjak dari tempat tidur, membungkus dirinya dengan selimut dan memaksa kakinya melangkah untuk membawa tubuhnya menyeberangi ruangan untuk menuju ke kamar mandi yang pintunya terletak di sudut ruangan kamar.


Mandi air panas adalah yang terbaik yang bisa dilakukannya saat ini. Selain bisa menghilangkan rasa pegal dan tak nyaman di tubuhnya, Sera sangat ingin bisa menghapus bekas jamahan Xavier yang masih tertinggal di tubuhnya, melarutkannya dengan air dan membuangnya jauh-jauh hingga tak bersisa.


***


"Kau pikir aku tak bisa memuaskan wanitaku?"


Xavier berucap dengan nada tersinggung untuk menanggapi perkataan Akram sebelumnya. Lelaki itu akhirnya memutuskan meletakkan botol vodka di tangannya dan meninggalkannya begitu saja di atas meja bar sebelum kemudian melangkah ke arah Akram dan membanting tubuhnya di sofa besar depan Akram.


Akram menipiskan bibir setengah mengejek.


"Kau diusir istrimu dari ranjangnya, bukan? Yang lebih menyedihkan lagi, kau diusir di malam pertama pernikahanmu. Perlu kau tahu, sepanjang pernikahanku dengan Elana, tak pernah sekalipun aku diusir dari ranjangnya," sambung Akram dengan nada sombong.


"Kau merayu Elana supaya luluh dahulu, baru menikahinya. Karena itulah ranjang pernikahanmu tak bermasalah," sanggah Xavier dengan nada sinis.


Akram terkekeh. "Dan kau masih berpegang teguh pada prinsip sucimu itu. Aku ingat kau memintaku untuk menghargai Elana dengan cara menikahinya dulu, baru menuntut tubuhnya. Karena prinsip penghargaan terhadap wanita itukah, kau menikahi Sera meskipun kau tahu bahwa dia sangat membencimu?" tanya Akram kemudian.


Xavier tertegun. "Itukah yang kau lihat dari diri Sera? Bahwa dia sangat membenciku?"


Akram mengangkat bahu. "Menurutmu bagaimana? Orang bodoh yang tak berpengalaman membaca ekspresi wajah sekalipun, pasti bisa melihat bagaimana perempuan itu menatapmu dengan penuh dendam dan kebencian. Bahkan, di upacara pernikahan kalian, alih-alih tampak bahagia, Sera lebih seperti sedang menahan diri sekuat tenaga supaya tidak kabur dan melarikan diri darimu."


Akram selalu mengatakan kejujuran dan tak pernah mau berbasa-basi, bahkan jika hal itu menyakiti lawan bicaranya sekalipun, sama sekali tak akan menahan Akram untuk meluncurkan kalimatnya.


"Begitu ya?" Xavier tersenyum miris. "Tetapi, kalau dipikir-pikir, semua wanita sepertinya memang selalu ingin kabur dariku. Itulah yang sering terjadi di masa lampau," sambungnya kemudian.


Akram memandang Xavier dengan ekspresi jijik. "Apakah sekarang kau sedang bersiap-siap mencurahkan perasaanmu tentang kisah cintamu di masa lampau?" tanyanya cepat.


Xavier terkekeh. "Aku tak pernah punya banyak wanita, tak seperti dirimu."


"Seperti diriku di masa lampau. Sekarang tidak lagi, aku cukup puas dengan satu wanita saja, wanita yang terbaik." Akram mengoreksi dengan cepat. "Setelah kejadian Anastasia, aku kesulitan membuka hati untuk wanita manapun, bukan hanya karena aku mengkhawatirkan nasib mereka yang kemungkinan akan kau bunuh dengan kejam, tetapi juga karena aku tidak menemukan wanita yang yang cukup memiliki kualitas untuk mendorongku supaya mau membuka hatiku. Sebelum bertemu dengan Elana, aku membayar wanita-wanita yang melayaniku dengan berbagai kemewahan dan fasilitas dan menurutku itu adalah pertukaran yang adil. Bukankah kau juga melakukan hal yang sama? Kulihat kau memiliki kekasih di masa lampau yang selalu muncul menemanimu hadir ke acara-acara penting. Kau tentu tidak memaksa wanita-wanita itu menemanimu di bawah ancaman, kan?"


"Wanita yang mendampingiku di masa lampau bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan kau yang memberi jadwal serta masa tenggang pada wanita dan berganti dengan yang baru setiap kau bosan," ujar Xavier dengan nada sedikit mengejek.


Akram mengangkat alisnya. “Aku jadi bertanya-tanya, ada di manakah wanita-wanitamu yang bisa dihitung dengan jari itu? Aku tidak melihat mereka muncul dimana-mana, apakah kau membunuh mereka semua karena mereka terbukti tak setia?” tanya Akram dengan penuh rasa ingin tahu.


Xavier menyeringai. “Apa kau pikir aku suka membunuh orang tanpa alasan? Mereka semua menghilang karena mereka tenggelam dalam kehidupan mereka masing-masing. Mereka bukan berasal dari kalangan selebritis seperti wanita-wanitamu sebelum Elana.” Senyum Xavier berubah misterius. “Yah, mungkin memang ada beberapa yang cukup pantas dibunuh karena kelakuan mereka yang keterlaluan, tetapi, sebagian besar masih tetap hidup.”


Akram mengawasi ekspresi Xavier, lalu akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi sudah mengantri di lidahnya.


“Lalu, bagaimana dengan yang satu ini? Istrimu? Kau memberikan nama belakangmu kepadanya, itu berarti kau memberikan keistimewaan yang tak kau berikan pada wanita lain yang pernah menjalin hubungan denganmu. Tentunya, kau menikahinya bukan hanya karena dia membawa genetik kembar yang kuat di tubuhnya, bukan? Karena jika hanya itu alasanmu, kupikir kau tak perlu repot-repot mengambil langkah rumit menikahinya dan sebagainya. Kau cukup melakukan prosedur bayi tabung dengan ibu pengganti yang bisa dibayar dengan sejumlah uang untuk pergi dari hidupmu setelah melahirkan anakmu. Bahkan, sang ibu pengganti ini tak perlu mengetahui nama dan identitasmu. Bukankah itu lebih mudah, daripada menikahi seorang Serafina Moon yang jelas-jelas terikat dendam masa lalu denganmu, dan membencimu?”


Xavier termenung, ketika dia membuka mulutnya kemudian, seberkas kesedihan tampak muncul di matanya.


“Aku selalu berpikir bahwa Sera sedikit banyak memiliki kesamaan denganku, dan aku ingin menjaganya supaya tetap bersamaku. Menikahinya, menjadikannya ibu dari anak-anakku adalah salah satu cara mengikatnya supaya tidak bisa lepas dariku.”

__ADS_1


Akram menatap Xavier dengan berhati-hati. “Apakah ini berarti, kau memiliki perasaan lebih kepadanya?” Sejenak Akram berdehem seolah kesulitan untuk melontarkan kalimat pertanyaanya yang berikutnya. “Apakah kau meresakan keterikatan yang sama seperti yang kurasakan pada Elana? Apakah kau mencintai Serafina Moon?”


Keheningan membentang di udara setelah Akram mengutarakan kalimat pertanyaan itu ke udara. Xavier sendiri memilih untuk menjaga keheningan tersebut supaya tak pergi, lelaki itu malahan menunduk dan termenung seolah berusaha menelaah perasaannya sendiri.


Lalu, ketika Xavier akhirnya mengangkat kepalanya, terdapat ekspresi bingung yang cukup langka untuk bisa muncul di wajah Xavier.


“Aku tak tahu. Aku tak tahu tentang cinta. Aku hanya merasa ingin bersamanya,” jawabnya singkat.


Akram mendengkus mendengar jawaban mengambang Xavier itu,  tetapi dia memakluminya. Hati Xavier mungkin terlalu kelam untuk bisa merasakan cinta. Bahkan, bisa saja lelaki itu ternyata sudah jatuh cinta, tetapi tidak mengenali perasaan itu karena tak pernah merasakannya sebelumnya. Bukankah itu dulu yang juga dirasakan oleh Akram? Waktulah nanti yang akan menjawab segalanya.


“Baiklah. Anggap saja dia cukup istimewa bagimu karena dia bisa membuatmu ingin bersamanya. Lalu, apakah perasaan itu permanen? Bagaimana setelah dia melahirkan anak-anakmu nanti dan kau mendapatkan sel punca dari plasenta anak kalian untuk ditransplatasikan kepadamu?”


Xavier menghela napas panjang. “Untuk saat ini aku tak tahu.” Xavier menekankan kejujuran dalam suaranya, lelaki itu tampak ragu sebelum melanjutkan kalimatnya. “Bahkan mungkin saja aku tak akan hidup untuk menjawab pertanyaan itu di kemudian hari. Transplantasi sunsum tulang belakang adalah proses medis yang beresiko tinggi. Meskipun semua sudah dikerjakan dengan baik dan teliti, bisa saja aku mati  di meja operasi dalam prosesnya, atau malahan mati pada periode pemulihan setelah transplatasi karena terjadi penolakan tubuh akibat ketidakcocokan dengan donor yang baru saja ditemukan kemudian.”


Xavier memberi jeda kalimatnya, ketika berucap kemudian, matanya menatap Akram dengan serius.


“Akram….” Xavier berhenti berucap lagi, seolah-olah kesulitan untuk berkata. Sementara itu, keraguan yang tadinya hanya setitik di wajahnya bertambah makin pekat ketika lelaki itu melanjutkan kalimatnya, “Jika terjadi sesuatu kepadaku nanti, aku harap kau dan Elana mau menanggung anak dan istriku dalam perlindungan kalian, menjadikan mereka keluarga kalian. Aku punya banyak musuh yang mungkin akan menyerang mereka jika aku tak ada untuk melindungi mereka. Hanya kalianlah yang cukup kuat untuk menjaga mereka.”


Akram tak bisa berkata. Matanya menatap sosok Xavier yang entah kenapa terlihat begitu sendu dan kesepian dalam balutan penampilannya yang sempurna. Pada saat ini, barulah Akram bisa melihat sisi diri Xavier yang rapuh dan kelelahan, seolah-olah lelaki itu sedang kepayahan karena menanggung beban seluruh dunia di pundaknya.


Butuh beberapa lama bagi Akram untuk akhirnya bisa mengeluarkan  suara dari tenggorokannya yang seolah tersekat.


“Anggap saja aku sudah berjanji,” ucap Akram kemudian, dengan suara tegas tanpa niat mengingkari.


***


Gerakan di sisi ranjangnya mengusik Sera dari tidurnya yang mulai nyenyak.


Tadi, setelah selesai mandi air hangat yang menyenangkan, Sera mengenakan salah satu gaun tidur yang tersedia di lemari, lalu menyurukkan tubuhnya ke atas ranjang empuk yang nyaman itu, bergelung di balik selimut dan langsung terbuai oleh tidur pulas karena kelelahan.


Entah sudah berapa lama Sera tertidur, yang pasti, kesadarannya mulai bangun kembali ketika dirasakannya tubuh yang hangat menyusup ke samping ranjangnya, masuk ke balik selimutnya dan memeluknya erat dari belakang sambil menempelkan tubuh bagian depannya tanpa jeda di punggung Sera.


“Kau tidak mengompres dirimu? Itu masih utuh di meja,” Xavier berbisik parau kemudian dengan bibir berbisik dekat sekali di telinga Sera. Lelaki itu kemudian menyusupkan tangannya ke bawah lengan Sera dan mengusap area perut bawah Sera dengan lembut. “Itu untuk menghilangkan ketidaknyamananmu di sini,” sambungnya kemudian dengan nada lembut menggoda.


Sentuhan Xavier yang kurang ajar membuat Sera terkesiap. Tangannya sendiri langsung refleks bergerak mencengkeram tangan Xavier di perutnya, berusaha menyingkirkannya. Sayangnya, lagi-lagi, Sera kalah kuat, Xavier bergeming, membuat Sera frustasi dan akhirnya melakukan tindakan kekanak-kanakan dengan berusaha menyikut lelaki itu supaya menjauh.


“Menyingkir dariku!” Seru Sera setengah panik. Kesadarannya masih belum sepenuhnya terpanggil dari tidur nyenyaknya yang tadinya terasa nyaman. Tetapi, satu hal yang Sera tahu, Xavier menguarkan nuansa berbahaya yang membuatnya dipenuhi firasat buruk.


“Kenapa kau begitu terusik?” tanya Xavier dengan nada mengejek. “Aku hanya bertanya kenapa kau tidak menggunakan kompresmu,” sambungnya kemudian.


Sera mendengkus. “Aku tak membutuhkan kompres itu. Terima kasih. Aku juga sudah mandi air hangat….” Sera memekik dan tak berhasil melanjutkan kalimatnya karena Xavier tiba-tiba menurunkan kepalanya, mengembuskan napas panas di area lehernya, sebelum kemudian menghadiahkan kecupan panas di sana.


“A-apa yang kau lakukan?” Sera bertanya dengan ngeri ketika dia merasakan tubuh Xavier yang berhasrat menekan bagian belakang tubuhnya.


“Aku hanya membaui istriku,” suara Xavier serak, penuh dengan nada sensual yang kental. “Hmm… kau harum sekali, aroma sabun yang bercampur dengan harum khas dirimu sangatlah menggoda, membuatku ingin melahapmu.” Xavier tiba-tiba saja menggunakan kekuatannya untuk menggulingkan tubuh Sera supaya terlentang, lalu dengan cepat, sebelum Sera sempat melawan, Xavier menempatkan dirinya di atas tubuh Sera dan memerangkapnya.


Sera menengadah, pipinya merah padam dan napasnya mulai terengah ketika matanya bertemu dengan mata Xavier yang mulai berkabut penuh hasrat.


Lelaki itu mengawasi wajah Sera, lalu ekspresinya melembut penuh senyum yang dialasi oleh kobaran keinginan untuk menyatukan diri.


“Kau bilang kau sudah tak apa-apa. Kalau begitu, aku ingin memiliki istriku lagi sepuasku.”


Sambil mengucapkan kalimatnya, Xavier menurunkan tubuhnya mendesak Sera sementara bibirnya menyambar bibir Sera, memagut, menciumi tanpa belas kasihan dengan keahlian yang membuat Sera tak bisa melawan lagi.


***


Ternyata, rasa sakitnya baru terasa di pagi hari setelah Sera terbangun kemudian.


Ketika sinar matahari menembus tirai jendelanya dan gerakan-gerakan di kamarnya mengganggu lelapnya, Sera akhirnya membuka mata dan menyadari bahwa ada dua orang pelayan di ruangan itu. Yang satu sedang membersihkan kamarnya, sementara yang lain tampak meletakkan nampan yang penuh dengan makanan di meja besar dekat sofa yang terletak di sisi lain ruangan tersebut.


Sera berusaha bangkit dari ranjang, lalu dengan panik menyadari bahwa selimutnya telah melorot ke pinggang dan menampilkan tubuhnya yang berada dalam kondisi urian. Wajahnya merah padam ketika menatap ke arah dua pelayan itu yang memasang ekspresi datar seolah pura-pura tak melihat, lalu dia memalingkan wajahnya lagi sambil menunggu dengan rasa tersiksa sampai kedua pelayan itu akhirnya menyelesaikan tugasnya masing-masing dan berpamitan meninggalkan ruangan.


Setelah sendirian di dalam kamar, Sera mencoba menggerakkan tubuhnya dan hendak turun dari ranjang. Dia meringis ketika merasakan pinggang dan beberapa area tubuhnya yang lain terasa pegal dan sedikit nyeri.


Tubuhnya yang polos terpaksa kembali dibungkusnya dengan selembar selimut saja ketika dia terhuyung berdiri, lalu matanya menatap miris, memandang gaun tidurnya yang teronggok begitu saja di atas karpet yang membentang menutup lantai kamar setelah dibuang oleh Xavier sebelumnya.


Ingatan samarnya kini sudah menjadi jelas dan terang benderang. Xavier datang kembali ke kamar itu pada dini hari untuk menyentuhnya kembali.


Kali kedua bahkan lebih berkobar dari sebelumnya karena dirasakannya bahwa lelaki itu melepaskan sedikit kendali dirinya dan menyentuh Sera tanpa ditahan-tahan lagi.

__ADS_1


Tangan Sera bergerak memeluk dirinya sendiri dan mengusap lengannya dengan kening berkerut.


Mungkin karena itulah Sera merasa lebih pegal pagi ini….


Ketika Sera masih sibuk dengan pikirannya sendiri itulah, tanpa peringatan, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka kembali, membuat jantung Sera hampir saja lepas dari rongga dadanya karena terkejut.


Xavierlah yang ternyata memasuki ruangan itu dan menutup pintu di belakangnya dengan tatapan lekat ke arah Sera.


Lelaki itu tampak segar pagi ini, dengan penampilan memesonanya yang selalu luar biasa. Di bawah cahaya matahari yang bersinar dan menghadiahkan sulur cahayanya menerangi kamar ini, Xavier terlihat seperti makhluk tampan dari negeri dongeng yang menjadi impian setiap wanita dengan hati mendamba cinta.


Mata Sera bersirobok dengan mata Xavier dan rasa kesal langsung memenuhi dirinya ketika menyadari betapa berlawanannya penampilannya dengan penampilan Xavier. Lelaki itu tampak segar dan sempurna pagi ini, sementara Sera terlihat kusut masai dan menyedihkan.


Apakah lelaki itu sama sekali tak lelah setelah sepagian ini memuaskan dirinya dengan menggunakan tubuh Sera?


Xavier tentu saja menyadari tatapan sebal yang dilemparkan oleh Sera kepadanya. Tetapi, lelaki itu tak berkomentar, malahan mengeluarkan kalimat perintah dengan nada datar sedikit tegas.


“Lekaslah mandi, sarapan lalu bersiap-siap,” Xavier mengedikkan dagunya penuh isyarat ke arah lipatan pakaian Sera yang sudah ditata rapi di atas meja di dalam ruang kamar itu. “Kita akan meninggalkan negara ini dan pulang siang ini.”


Sera melebarkan mata. “P-pulang? Tapi… bagaimana dengan Aaron? Apakah kau akan meninggalkannya di sini?” tanyanya impulsif dipenuhi oleh harapan.


Sera langsung menyesal telah mengajukan pertanyaan itu tanpa pikir panjang ketika menyadari ekspresi Xavier yang berubah gelap dengan nyala kemarahan menyeramkan yang lolos dari sinar matanya.


“Sayangnya, aku tak akan membebaskan Aaronmu itu begitu saja di sini sesuai kemauanmu. Aaron akan ikut bersama kita.” Xavier akhirnya berucap lambat-lambat dengan gerahamnya mengeras dan terkatup rapat. “Kau pasti senang, karena dia akan ikut pesawat kita pulang siang ini. Mungkin kau bahkan bisa menghabiskan waktu di perjalanan dengan bernostalgia bersamanya,” sambung Xavier kemudian dengan sikap ramah misterius yang malahan terdengar sangat mengerikan.


***


***


***


REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR


JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom


PENULIS : YOZORA


 


***


***


***


___PRAKATA DARI AUTHOR___


- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.


-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya


- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR\, klik aja profil author\, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.


- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara\, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.


Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.


Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).


- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata\, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.


Thank You


Yours Sincerely - AY


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2