Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 101 : Penantian


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


 


****


****


****


Xavier langsung menegakkan punggung ketika mendengar berita yang sangat tak disangkanya itu.  Suaranya terdengar serak dan dia meninggikan nadanya tanpa menyadarinya.


“Apa yang terjadi pada Elana?” Xavier tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Elana selama ini menjalani kehamilan yang aman, bahkan Akram sendiri mengatakan kepadanya bahwa kehamilan Elana ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kehamilan pertamanya, begitu amannya sehingga Elana selalu sehat dan seolah-olah tak sedang hamil.


Bagaimana bisa Elana mengalami pendarahan jika kondisinya begitu baik?


Di seberang sana, Elios sendiri tampak kehabisan kata-kata. Lelaki itu melanggar prosedur yang dibuatnya demi keamanannya sendiri dan menelepon sambil menyetir mobilnya melaju menembus jalanan menuju rumah sakit. Beruntung di situasi dini hari seperti ini, jalanan cukup sepi sehingga membuatnya tak kesulitan melaju. Meskipun begitu, konsentrasinya yang terpecah membuat Elios kesulitan berucap.


“Saya juga tidak tahu pasti. Tuan Akram menelepon ketika sedang berada di perjalanan. Beliau tidak menjelaskan apa-apa dan meminta saya menyusul ke rumah sakit.”


Xavier mengerutkan kening mendengar jawaban yang tidak memuaskan dari Elios, dia mengepalkan jemarinya dan mendekus sebelum kemudian berucap dengan nada kuat.


“Aku akan menyusul ke rumah sakit,” putusnya cepat sebelum menutup pembicaraan.


Xavier meletakkan ponselnya ke nakas samping ranjang dan bersiap untuk turun dari ranjang. Pada saat itulah, disadarinya Sera sudah membuka mata, mungkin percakapan Xavier dan gerakannyalah yang membangunkan Sera dari tidurnya.


Tatapan mata Xavier melembut ketika lelaki itu duduk di tepi ranjang sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi istrinya.


“Ada apa? Apa yang terjadi dengan Elana?” Sera bertanya dengan nada ngeri. Percakapan Xavier sedikit banyak telah merasuk ke dalam mimpinya ketika kesadarannya sedang menggeliat bangun.


Dia tidak mendengar dengan jelas, tetapi Sera paham bahwa sesuatu yang buruk terlah terjadi pada Elana.


Xavier menatap Sera ragu, berada di dalam dilema apakah dia akan menjelaskan secara jujur atau tidak. Xavier takut Sera akan merasa ngeri ketika mengetahui bahwa Elana mengalami pendarahan di saat sedang hamil besar dan itu akan mempengaruhi kondisi psikologisnya yang sedang sama-sama hamil besar seperti Elana.


Namun, Xavier tidak bisa menyembunyikan fakta. Dia tahu bahwa Sera sedikit banyak telah mendengar percakapannya dengan Elios tadi.


“Elana mengalami pendarahan. Akram membawanya ke rumah sakit.” Akhirnya Xavier memilih jujur, memberitahu perlahan dengan nada suara berhati-hati.


Mata Sera melebar, keterkejutan bercampur kecemasan langsung melumuri bola mata indahnya yang berkilauan.


“Astaga….” Sejenak Sera seolah kehilangan kata-kata. Lalu tiba-tiba saja dia mendongakkan kepala dan menatap Xavier dengan penuh tekad. “Aku ikut ke rumah sakit,” putusnya dengan nada kuat.


“Tidak.”


Seketika Xavier menjawab, ekspresi tak setuju tampak mengental di wajahnya.


“Aku harus ikut ke rumah sakit. Aku harus melihat Elana.” Sera berucap setengah memohon, tangannya terulur dan menangkup lengan piyama hitam Xavier. “Xavier, aku mohon. Aku harus melihat Elana,” ulangnya lagi seolah putus asa.


Xavier menipiskan bibir menunjukkan ketidaksetujuannya dengan gamblang di ekspresi wajahnya.


“Kau kelelahan hari ini setelah perjalanan panjang pulang pergi dari dan ke fasilitas kesehatan tempat ayahmu dirawat. Sekarang kau harus pergi lagi ke rumah sakit di dini hari padahal tidurmu belum cukup lama. Aku tidak ingin kalau kondisimu jadi menurun. Kau tentu ingat kalau kehamilan kembarmu itu termasuk dalam kehamilan berisiko, bukan?”


Xavier berusaha menekankan kata-katanya ke dalam Sera supaya perempuan keras kepala itu menyetujuinya.


“Lagipula, saat ini situasi tidak pasti. Aku masih belum tahu kondisi Elana yang sesungguhnya. Kalau yang terburuk terjadi….” Suara Xavier menghilang tertelan di tenggorokannya seolah dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. “Kalau sampai Elana… kehilangan bayinya karena insiden ini, percayalah, kurasa kau tak ingin ada di sana. Bukan karena hal itu bisa membuatmu trauma, tetapi juga karena kondisi hamil besarmu bisa membuat Elana semakin terguncang.”


Sambil berucap Xavier beranjak berdiri sementara Sera mengikuti duduk di tepi ranjang. Lelaki itu lalu membungkuk di hadapan Sera dan menangkup kedua sisi pipi Sera dengan penuh perhatian.


“Dengarkan aku dan tinggallah di rumah untuk saat ini, ya? Tunggu hingga aku mendapatkan kepastian mengenai kondisi Elana.”


Sera menengadah, menatap mata Xavier yang memandangnya dengan penuh kelembutan dan penghargaan.


Xavier sudah jauh berubah dari pertama kali Sera bertemu dengannya, dan perubahan itu sangatlah drastis hingga kadang-kadang ketika menerima sikap baik lelaki itu, Sera ingin mencubit dirinya sendiri untuk memastikan bahwa itu bukanlah mimpi.


Xavier yang dulu mungkin akan mengikat dan mengunci Sera di dalam kamar tanpa penjelasan, tetapi Xavier yang sekarang bersedia membujuk dan meminta pendapat Sera sebelum memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya.


Sera mungkin adalah perempuan keras kepala yang kadang siap melawan jika ditekan terlalu keras, tetapi untuk saat ini dia sadar posisi dirinya. Xavier sudah bersikap baik kepadanya, itu berarti secara rasional Sera harus membalasnya dengan sikap sabar dan tak memaksakan kehendaknya.


Lagipula, dia memahami apa yang dikhawatirkan oleh Xavier. Jika sampai… Elana kehilangan bayinya –meskipun Sera sungguh berdoa semoga hal itu tidak terjadi – Pasti akan sangat sulit dan menyedihkan bagi Elana ketika harus melihat Sera yang sedang hamil dengan perut membuncit besar yang sudah tak bisa disembunyikan lagi.


Perlahan Sera menganggukkan kepala ke arah Xavier, menunjukkan bahwa dia mengerti. Hal itu membuat Xavier tersenyum lega.

__ADS_1


“Kalau begitu, aku akan berangkat sekarang. Aku akan mengabarimu nanti.” Dengan cepat Xavier melangkah menuju lemari kamar, lalu membukanya dan mengganti piyamanya dengan baju berpergian.


“Jika nanti kondisi Elana ternyata baik… bolehkah aku datang menengok ke rumah sakit?” Sera akhirnya berhasil mengucapkan keinginannya perlahan ke arah Xavier yang sedang memunggungi dan mengancingkan kemejanya.


Xavier menolehkan kepala, menatap Sera sambil menganggukkan kepala.


“Aku akan mengusahakan supaya kau bisa melakukannya. Bagaimanapun, itu semua tergantung kondisi tubuhmu. Kau harus benar-benar sehat jika kau ingin ke rumah sakit.”


Sera menganggukkan kepala, ada sepercik semangat yang menyala di matanya.


“Aku akan beristirahat dan minum vitaminku dengan baik. Pokoknya, jika kondisi Elana ternyata baik, izinkan aku untuk menengoknya, ya?” Mata Sera menemukan keraguan di ekspresi Xavier dan lelaki itu tak juga menjawab hingga membuatnya nekad memberi usul. “A-atau jika menurutmu memungkinkan… aku bisa tinggal di rumah sakit seperti yang kau usulkan dulu sampai dengan kondisiku stabil menurut dokter Nathan, atau bahkan sampai aku melahirkan.”


Mata Xavier melebar seolah tak percaya.


“Kau setuju untuk tinggal di rumah sakit sampai kau melahirkan?” ulangnya lagi, bertanya untuk memastikan.


Sebenarnya, sudah beberapa kali Xavier mengusulkan kepada Sera untuk tinggal di rumah sakit sejak perutnya membesar dengan pesat dan kakinya membengkak hingga membuatnya sulit berjalan. Namun, Sera selalu menolaknya dengan alasan bahwa rumah sakit selalu membawa kenangan buruk untuknya.


Sera menganggukkan kepala dengan segera untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Xavier. Bagaimanapun, meskipun kondisi Elana membaik, Sera tahu bahwa lelaki seposesif Akram Night yang begitu melindungi istri kesayangannya, tak akan mungkin membiarkan Elana meninggalkan rumah sakit dengan mudah. Bisa dibilang, kemungkinan besar Akram akan menahan Elana di rumah sakit hingga tiba perkiraan hari kelahiran anak mereka yang seharusnya jatuh kurang lebih sebulanan lagi.


Sera yang dijadwalkan melahirkan dua bulan lagi memang tak menyukai jika harus dirawat di rumah sakit begitu lama, tetapi jika dia ditemani oleh Elana, mungkin kondisinya akan lebih mudah. Selain itu, rumah sakit itu jauh lebih dekat dengan lokasi pusat kesehatan tempat ayahnya dirawat jika dibandingkan dengan rumah yang mereka tempati saat ini.


Xavier mengawasi ekspresi Sera seolah mempelajarinya, lalu setelah menyimpulkan bahwa perempuan itu serius dengan kata-katanya, dia menganggukkan kepala.


Bisa dibilang bahwa jika Sera bersedia tinggal di rumah sakit sampai anak mereka lahir, maka segalanya akan lebih mudah. Tadinya Xavier berencana untuk meminjam salah satu apartemen milik Akram yang berada dekat dengan rumah sakit, tetapi sepertinya untuk sekarang dia tak perlu melakukannya.


Yang harus dipastikan saat ini adalah kondisi Elana. Semoga adik iparnya itu baik-baik saja.


Xavier melangkah mendekat ke arah Sera, lalu meletakkan tanganya di kedua sisi pundak Sera dan menundukkan kepala untuk mengecup pucuk kepala perempuan itu. Seolah itu belum cukup, tubuhnya lalu membungkuk dan bibirnya berangsur mengikuti, mengecup sisi pelipis kiri dan kanan Sera sebelum kemudian bergeser ke pipi dan berlabuh di bibir Sera.


Kecupan itu bukanlah kecupan penuh nafsu seperti yang sering dihadiahkan oleh Xavier kepada Sera. Kecupan itu lembut dan penuh sayang, dimaksudkan sebagai ucapan selamat tinggal dari seorang suami kepada istrinya.


“Kalau aku tidak pergi sekarang aku tidak akan bisa berhenti menciumimu.” Xavier tersenyum lembut dan matanya melahap serta menikmati rona merah yang menjalar pekat di permukaan wajah Sera. Tak bisa menahan diri lagi, Xavier kembali menunduk dan menghadiahkan kecupan lembut ke bibir Sera. “Aku pergi dulu ya, berjanjilah untuk tidur kembali dan memuaskan waktu istirahatmu. Aku akan mengabarimu segera setelah mendapatkan kepastian.”


Sambil menitipkan pesannya dengan kalimat lembut, Xavier lalu melangkah mundur dan meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke rumah sakit.


***


 


Beberapa petugas keamanan juga masih setia, tampak berjaga di sana, memandang sekeliling dengan waspada meskipun mereka mungkin telah menghabiskan berjam-jam waktu mereka untuk melakukan hal yang sama terus menerus dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan manusia-manusia pun masih tampak berlalu lalang di lobby, entah dari petugas kesehatan atau dari keluarga pasien rawat inap yang memiliki keperluan masing-masing.


Salah satu bagian paling ramai di rumah sakit ini yang tak kenal waktu adalah di Unit Gawat Darurat yang terletak di sisi samping area lobby dan memiliki pintu tembusan langsung ke area depan untuk memudahkan mobil ambulance menjangkau pintu masuk UGD tersebut tanpa halangan.


Mata Xavier terpaku pada pintu kaca bagian dalam ruang UGD yang menyatu dengan area lobby, tapi dirinya kemudian menggelengkan kepala sejenak.


Karena panik, Xavier mengakui bahwa dirinya telah berbuat kesalahan dengan memarkir mobilnya di lantai bawah. Akram tidak mungkin menggunakan jalur resmi di area depan. Demi keamanan Elana, lelaki itu pasti menggunakan jalur khusus di lantai atas yang tidak mudah diakses sembarangan oleh orang luar.


Memikirkan itu membuat Xavier bergegas melangkah menuju ke area lift khusus yang akan membawanya ke lantai tujuan. Benar saja, ketika mendekat ke area lift khusus itu, dilihatnya dua orang bodyguard Akram berjaga di sana dengan waspada.


Akram rupanya telah memetik pelajaran dari serangan Maya di masa lampau yang berhasil menjangkau Elana dan mengancam nyawa istrinya itu. Sekarang, bukan hanya di pintu lift lantai atas, Akram juga menempatkan penjaganya di pintu lift lantai bawah, tak peduli bahwa para bodyguard bertubuh tinggi besar itu tampak mencolok berdiri tegak seperti patung di area umum seperti itu.


Ketika Xavier melangkah mendekat, dua bodyguard itu langsung menganggukkan kepala memberi salam. Mereka tentu telah diberitahu bahwa Xavier akan datang sehingga langsung bergerak memberi jalan bagi Xavier untuk masuk ke dalam lift.


Di dalam lift yang pengap itu, waktu singkat yang dibutuhkan untuk menuju lantai atas terasa menyiksa dirinya. Xavier terus menatap tulisan menyala merah di bagian atas lift yang menunjukkan angka dari tingkatan lantai-lantai yang dia lalui sambil menghitung dalam hati, tak sabar mencapai tujuannya.


Tidak pernah Xavier segugup ini sebelumnya. Dia adalah seseorang yang berpegang teguh pada ilmu pasti, dimana setiap hal pasti bisa dijelaskan secara ilmiah. Itu semua karena dia tidak suka pada ketidakpastian, terutama ketidakpastian menyangkut orang-orang yang penting baginya.


Tentu saja Elana penting bagi Xavier. Perempuan itu memegang titik balik dalam kehidupannya. Perempuan itulah yang mengajarinya bahwa hatinya bisa melembut, dia juga yang menjadi malaikat penentu untuk menghapus kesalahpahamannya dengan Akram dan memperbaiki hubungan mereka yang telah rusak membusuk bertahun-tahun lamanya.


Xavier pernah hampir mencintai Elana, beruntung dia berhasil menjaga hatinya tepat waktu sehingga tidak terlanjur jatuh lalu tak bisa menyelamatkan diri. Untuk sekarang, rasa yang tertinggal di hatinya bagi Elana adalah rasa sayang, layaknya seorang kakak yang mencintai adiknya, Elana adalah keluarga baginya.


Jika sesuatu terjadi pada Elana….


Sekali lagi Xavier menggelengkan kepala. Kerutan di dahinya semakin dalam saat dia menarik napas dan berusaha menyingkirkan pikiran mengerikan yang menggayuti.


Beruntung pintu lift itu kemudian terbuka, membuat Xavier berhasil menyingkirkan pikiran buruknya dengan cepat. Dia bergegas melangkah keluar dari lift tersebut dan menyempatkan diri menganggukkan kepala kepada para penjaga yang berdiri tepat di depan pintu lift.


Xavier melalui lorong berdinding dan berlantai putih itu dalam senyap, keheningan menyambut kedatangannya, hanya menggaungkan suara ketukan langkah sepatunya yang berjalan sendirian di lorong tersebut.


Xavier menghela napas panjang. Keheningan ini mencekiknya, membuatnya ingin segera mencari ujung dan mendapatkan pencerahan.


Beruntung Xavier tak perlu lama berada dalam kesesakan. Di area paling ujung dimana area tunggu dari ruang gawat darurat berada, matanya bertemu dengan mata Elios yang tampaknya sudah beberapa lama berada di sana dan duduk menunggu dengan sabar.

__ADS_1


“Bagaimana kondisi Elana?” Xavier tak tahan lagi, langsung menanyakan pertanyaan paling penting yang sejak tadi membuatnya cemas.


Elios melirik ke arah ruang gawat darurat.


“Tuan Akram bilang Elana kehilangan keseimbangannya lalu terpeleset jatuh di kamar mandi. Posisi jatuhnya sangat keras dan pendarahan hebat langsung terjadi. Tuan Akram langsung melarikannya ke rumah sakit. Dokter saat ini sedang menanganinya di ruang khusus di dalam sana. Tuan Akram juga berada di dalam untuk mendampingi.”


Xavier menghela napas. Rupanya dia harus tersiksa lebih lama lagi, Elios yang datang menyusul belakangan sama-sama tak tahu apa-apa seperti dirinya.


Dengan gontai Xavier membanting tubuhnya duduk di sebelah Elios. Dua laki-laki itu saling termenung karena memang tak ada yang bisa dibicarakan satu sama lain. Sekali-kali mata mereka melirik ke arah pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat, merapalkan doa dalam hati supaya Elana tidak apa-apa.


Detik berlangsung sangat lama hingga mereka berdua tak bisa menghitung lagi berapa lama waktu berlalu. Suasana area tunggu itu begitu hening tanpa ada orang lain selain dirinya dan Elios. Seolah-olah semua orang sedang sibuk di tempat lain dan melupakan keberadaan mereka yang menunggu di sini.


Xavier sendiri membeku seperti patung, tidak bergerak seinci pun, hanya napas pendek-pendeknya saja yang membuatnya terlihat seperti manusia dan bukannya manekin.


Semakin lama waktu yang mereka jalani dalam penantian, semakin menegang seluruh urat tubuh mereka karena direntangkan oleh tarikan kecemasan yang hampir tak tertahankan.


Xavier menggertakkan gerahamnya, merasakan dirinya sudah hampir meledak kalau sampai harus menunggu tanpa kepastian lebih lama lagi. Beruntung, tiba-tiba saja, pintu ruang penanganan darurat itu terbuka, membuat Xavier terkesiap dan seketika langsung beranjak berdiri dengan diikuti oleh Elios yang sama tegangnya seperti dirinya.


Mata mereka terpaku pada sosok Akram yang melangkah keluar dari sana. Lelaki itu terlihat pucat pasi dan sepertinya tidak sempat berganti pakaian karena masih mengenakan piyama warna abu-abu muda yang hanya dirangkap dengan jaket tebal warna hitam.


Yang membuat Xavier dan Elios didera rasa cemas bukanlah gaya pakaian Akram yang serampangan karena terburu-buru, tetapi karena mereka melihat bercak noda gelap yang menodai halusnya warna abu-abu muda di piyama Akram.


Tanpa diberitahu pun, mereka yakin bahwa bercak dalam jumlah banyak dan mengerikan yang masih setengah basah itu adalah darah… darah Elana.


 


 


***


***


***


***


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


 


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt


 


 


Yours Sincerely


AY


 


***


***

__ADS_1


***


__ADS_2