
"Be mine, and then rest assured , i will take care everything of you"
Kebisuan membentang diantara mereka, seiring dengan tatapan Elana yang membelalak seolah tak percaya dengan adegan yang terjadi tepat di depan matanya saat ini.
Akram masih berlutut, dengan kue di tangannya dan lilin yang masih menyala. Dan kemudian, karena Elana hanya diam tak mampu berucap kata, Akram akhirnya kembali berbicara.
"Ayo tiuplah sebelum lilinnya habis dan membakar kuemu." ujar Akram dengan nada suara sedikit memerintah.
Mata Elana beralih menatap kue yang berada di tangan Akram. Benar apa yang dikatakan oleh Akram, lilin kecil itu sudah hampir meleleh setengahnya.
Secara impulsif, seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Elana sedikit menunduk lalu meniup kue itu hingga nyala apinya padam.
Akram menyeringai ketika cahaya terang dari lilin menghilang, tergantikan dengan nuansa remang yang langsung melingkupi mereka berdua.
"Kau ingin memakan kuemu? Aku tidak keberatan berbagi bersamu," tanpa diduga, Akram mengambil krim putih kue itu dengan jemarinya lalu mengulurkannya ke dekat mulut Elana.
Mata Elana melebar menatap jemari kokoh nan ramping berlumur krim kue di depannya. Matanya membelalak antara keterkejutan bercampur rasa malu.
Apa yang ada di dalam benak Akram? Dia mengira Elana akan sebodoh itu hingga bersedia menjilat jarinya dengan patuh? Lagipula... bagaimana mungkin Elana akan mau melakukan perbuatan mesum yang tidak bermoral itu secara sukarela? Elana tidak menginginkan sedikit pun kontak fisik dengan lelaki yang telah memerkosanya ini. Dan tidak mungkin Elana mau berbuat serendah itu hingga bersedia makan dari tangan Akram!
Di mata Elana malam ini, Akram tampak berbeda. Lelaki itu biasanya begitu kaku dan mengerikan, dengan ekspresi sekeras batu dan tatapan mata tajam yang seolah mampu menusuk sampai ke dasar jiwa. Tetapi sekarang, Akram terlihat agak santai, aura gelap mengerikan yang biasanya melingkupi kehadirannya juga tampak hilang, seolah-olah kendali diri lelaki itu sedikit lebih longgar daripada biasanya.
Akram menggerak-gerakkan jemarinya di depan mulut Elana, seolah tak sabar menunggu Elana yang hanya mematung mendengar tawarannya.
"Mau mencicipi atau tidak?" Akram berbisik dekat. Lelaki itu sedikit memajukan tubuh hingga Elana bisa menghirup aroma alkohol yang menguar dari bibirnya. Aroma manis yang sangat khas. Elana tidak pernah berpengalaman dengan pemabuk sebelumnya, tetapi satu malam bekerja di kelab malam sebagai pembersih toilet sudah cukup untuk memberikan pengetahuan baru bagi dirinya. Akram beraroma alkohol, sama seperti pemabuk-pemabuk di kelab malam itu.
Jadi itu sebabnya sikap Akram sedikit aneh dan berbeda dari biasanya. Lelaki itu saat ini sedang mabuk dan mendatanginya. Elana langsung tahu bahwa sekarang dirinya berada di situasi sulit.
Menghadapi Akram yang normal saja begitu menyusahkan, dan sekarang dia harus menghadapi Akram yang mabuk.
Siapa yang tahu hal mengerikan apa yang akan dilakukan oleh Akram yang telah lepas kendali kepadanya?
Elana harus bisa menunjukkan penolakannya kepada Akram secara gamblang, dengan begitu lelaki brengsek di depannya ini tahu bahwa Elana tidak akan pernah menerima ataupun memaafkan segala perbuatan keji yang telah dilakukan lelaki itu kepadanya.
Dengan wajah panas dan merah padam, Elana menampar jemari Akram, menyingkirkannya dari dekat wajahnya, lalu memalingkan muka untuk menghindari wajah Akram yang semakin dekat.
"A... aku tidak mau!" serunya dengan suara ketus.
Akram mengurai senyum, meskipun begitu, matanya tampak tajam, berkilat di remang malam dan mengirimkan sinyal ancaman yang menakutkan.
"Ah, jadi kau tidak mau memakan kuemu. Sayang sekali," Akram berucap lambat-lambat, lalu dengan sengaja membawa jarinya yang berlumuran krim kue ke mulutnya, menjilat krim itu dengan sensual. Matanya masih tak lepas menatap Elana yang tampak ketakutan di sana. "Tapi meskipun kita tidak memakan kuenya, kurasa kita tidak akan melewatkan perayaan ulang tahunmu, bukan?" suara Akram merendah, makin parau dan sensual. "Kau sudah bertambah dewasa... jadi kita bisa merayakannya dengan cara yang dewasa pula." bisiknya menggoda dengan penuh arti.
Elana menelan ludah, tahu jelas apa makna kalimat tersirat Akram. Meskipun suara Akram terdengar ramah dan tenang, Elena sangat mengenal tatapan mata Akram yang saat ini diberikan dengan gamblang ke arahnya. Ketika mulai bergairah, lelaki itu selalu menatapnya dengan tajam, layaknya serigala kelaparan.
__ADS_1
Jantung Elana mulai berdebar didera oleh lonceng peringatan akan bahaya yang mengancam ketika dia berusaha beringsut mundur dari sofa, bersikeras mengambil jarak sejauh mungkin dari Akram. Sayangnya, sofa besar ini membatasi pergerakannya, punggungnya membentur sandaran sofa, tidak punya kesempatan untuk lebih menjauh lagi.
"La... lagipula ini bukan hari ulang tahunku yang sesungguhnya! Kau pasti tahu kalau anak panti asuhan yang dibuang sejak bayi sepertiku tidak diketahui dengan jelas tanggal lahir aslinya!" dengan tergesa Elana langsung mengucapkan apa yang ada di dalam pikirannya saat itu juga. Dirinya putus asa, panik dalam usahanya mengurai udara sensual yang semakin kental meliputi mereka akibat tatapan Akram kepadanya. "A... aku tidak butuh kue, aku tidak butuh lilin, dan juga perayaan apapun.... dan kau... kau tidak perlu mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku!"
Akram mengangkat alis mendengar jawaban defensif penuh pertahanan diri Elana. Ditatapnya Elana yang bergerak memeluk dirinya sendiri, secara impulsif berusaha membentingi diri dari kedekatan Akram yang dipaksakan kepadanya.
Wajah perempuan itu menerah ketika bibirnya kembali berucap, berusaha mengkonfrontasi Akram untuk membuatnya menjauh.
"Dan bukankah kau sudah membuatku mati di mata dunia? Kau jelas-jelas sudah membuatkan akte kematian atas namaku! Jadi, untuk apa kau merayakan ulang tahun orang yang sudah mati?!" napas Elana terengah akibat emosi, wajahnya memancarkan emosi dan penolakan pasti yang tidak ditutup-tutupi ke arah Akram.
Sayangnya, penolakan Elana itu sepertinya tidak mempan terhadap Akram. Seringai lelaki itu malah semakin lebar, seolah Akram menikmati membuat Elana terdesak ketakutan di dekatnya.
Akram meletakkan kue ulang tahun itu dimeja, tubuhnya tiba-tiba bergerak naik ke sofa, dengan satu lutut di samping paha Elana dan kakinya yang lain menekan di antara dua kaki Elana. Akram membungkuk di dekat Elana, kedua tangannya memaku di punggung sofa, mendorong Elana terperangkap dalam kungkungan tubuhnya yang jauh lebih kuat.
"Kau tidak ingin memakan kue itu jadi aku tidak akan memaksamu. Tetapi, entah ini ulang tahunmu yang sesungguhnya, atau entah ini hari ulang tahun yang dicatatkan negara bagimu, aku tidak peduli. Yang kuinginkan adalah kesempatan menarik untuk merayakan ulang tahun ini bersamamu, perayaan pribadi kita berdua yang menyenangkan." Akram mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Elena, berbisik lembut di sana hingga membuat Elana tersentak.
Seketika itu juga Elana berjuang memberontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Akram. Sayangnya, kelemahan fisiknya sebagai seorang perempuan bertubuh mungil, yang tak sebanding dengan tirani Akram yang bertubuh kuat, membuatnya selalu berujung pada akhir menyedihkan yang sama, kalah menyerah di bawah kekuatan Akram yang mendominasi.
Akram menekan tubuh Elana dengan tubuhnya sendiri yang sekeras batu, setengah **** Elana, membuat punggung Elana tertekan rapat di atas sofa tanpa belas kasihan.
"Aku kelaparan... dan aku ingin berpesta. Kita harus merayakan ulang tahunmu dengan melahap hidangan lezat, bukan?" tatapan Akram begitu lapar ketika lelaki itu menggoda dan mencium bibir Elana tanpa izin.
"Le...lepaskan aku!" Elana mencoba meronta sekuat tenaga, dia menggelengkan-gelengkan kepalanya dengan kasar, berusaha melepaskan diri Akram.
"Kau wanitaku," Akram menggeram ketika jemarinya bergerak mencengkeram rahang Elana dengan kuat, memaksa perempuan itu berhenti memberontak dan menghadapkan wajah Elana langsung ke dekatnya. "Wanita milikku, kau tidak boleh menolakku," Akram menekan rahang Elana, dan menciumnya.
Dan sekarang, perempuan yang menjadi obsesinya telah berada di antara lengan-lengannya, mencakar seperti kucing kecil yang masih liar, tapi tak berdaya di bawah kekuatan Akram.
Bagaimana mungikin Akram mampu menahan diri?
Tangan Akram bergerak merenggut gaun tidur Elena dengan kasar, tidak dipedulikannya segala bentuk perlawanan perempuan itu yang tiada arti baginya.
- - -
- - -
Elana membuka mata dan menemukan dirinya tengah dilingkupi kegelapan. Dia mencoba menggerakkan tubuh tetapi kemudian mengerutkan kening ketika menyadari ada sesuatu yang berat yang **** tubuhnya.
Elana membuka matanya lebar-lebar dan mencoba mengusir kantuk yang menguasainya, berusaha mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.
Dia berada di atas tempat tidur yang luas itu, sementara Akram, lelaki jahat yang tadi telah memaksakan kehendaknya lagi pada Elana tengah berbaring telungkup dekat sekali dengan Elana, lengannya menimpa tubuh Elana, memeluknya erat, dan seakan itu belum cukup, sebagian tubuh Akram terasa berat **** sisi tubuh Elana.
Elana mengerutkan keningnya, dipenuhi rasa jengkel tak terperi ketika menyadari bahwa posisi dirinya berada di ujung tempat tidur yang luas itu dan hampir terjatuh kalau tidak ditahan oleh tangan dan beban tubuh Akram yang menindihnya.
__ADS_1
Tempat tidur ini seharusnya bisa menampung lima orang dewasa yang tidur berdampingan sekaligus, tetapi entah kenapa Akram yang menggunakan tempat tidur ini hanya berdua dengan Elana, seolah memiliki kecenderungan mendesak Elana sampai ke pinggir tempat tidur dan menguasai sebagian besar ranjang itu untuk dirinya sendiri.
Seolah dalam tidurnya sekalipun, Akram tetap ingin menindas dirinya dan menunjukkan superioritasnya.
Sekuat tenaga Elana berusaha menyingkirkan lengan Akram, bergerak dengan hati-hati karena dia tidak mau kalau sampai lelaki itu terbangun dan menyerangnya lagi. Setelahnya dengan susah payah Elana menggeser tubuhnya dan melepaskan diri dari tindihan tubuh kuat Akram. Dan begitu dia berhasil melepaskan diri, tubuhnya terguling duduk di lantai beralas karpet dengan napas terengah.
Elana lalu melangkah perlahan menyeberangi ruangan menuju lemari besar yang tertanam hampir di seluruh sisi dinding, penuh dengan berbagai macam pakaian yang dibelikan Akram kepadanya.
Diraihnya gaun tidur panjang polos yang berada di tumpukan teratas dan langsung dipakainya. Setelahnya, Elana membalikkan badan dan memandang ke sekeliling ruangan sebelum kemudian kembali terpaku pada sosok Akram di atas tempat tidur.
Dia tidak mau kembali berada di dekat Akram lagi.
Elana melirik ke arah sofa dan memutuskan untuk tidur di sana. Dia melangkah ke sofa dan langsung membanting tubuhnya menimpa kelembutan sofa yang langsung memeluknya. Tubuhnya lelah sekali dan lelap kembali memeluknya ketika dia memejamkan mata.
- - -
- - -
Guncangan di pundaknya membuat Elena terkejut dan membuka mata kembali. Mulutnya mengeluarkan keluhan protes karena dia merasa baru sebentar terlelap dan masih sangat mengantuk. Elena membuka matanya yang berat dan keningnya berkerut ketika melihat Akram yang berdiri membungkuk di atas sofa dengan wajah begitu dekat dengannya.
"Kenapa kau berbaring di sini?" Akram bertanya dengan nada tidak suka, ekspresinya gelap membuat hati Elena menciut.
"Kau...kau mendesakku sampai jauh ke pinggir, jadi aku berpindah dari sana," Elana menjawab jujur meskipun alasan sebenarnya tidur di atas sofa ini adalah lebih karena dia ingin menghindari sentuhan fisik Akram yang mendominasi.
Akram berdecak seolah tak mau menerima alasan Elana. Lelaki itu membungkuk dan meraup tubuh Elana ke dalam gendongannya, membawanya berbalik menuju arah tempat tidur tanpa memedulikan teriakan protes yang meluncur dari bibir Elana.
"Tu... turunkan Aku!" Elana berseru panik dan meronta ketika tubuhnya berguncang dalam pelukan Akram seiring dengan langkah lelaki itu yang menggendongnya.
"Akan kuturunkan. Nanti," Akram menjawab singkat dengan nada tegas.
Dan sebelum Elana bisa meronta lebih kuat, Akram tiba-tiba melemparkannya dari gendongan, membuat tubuh Elana terbanting ke atas ranjang empuk itu. Elana berusaha beringsut dan membawa tubuhnya bergerak menjauh dari ranjang, tetapi Akram sudah menyusulnya dan mendekat ke arahnya.
Akram tidak memedulikan sinar kebencian di mata Elana, dia menunduk, mendekatkan bibirnya ke bibir Elana dan menciumnya kembali.
- - -
__ADS_1