
Sudah lewat tengah malam ketika perlahan, Xavier melepaskan pelukannya dari tubuh Sera. Perempuan itu tampak pulas kelelahan, meringkuk sambil membelakangi tubuh Xavier dengan kaki ditekuk dan tangan memeluk dirinya sendiri.
Xavier bergeser tanpa suara dengan gerakan seminim mungkin supaya tak mengganggu Sera yang sedang tidur. Setelahnya, lelaki itu berdiri di tepi ranjang, mengawasi Sera yang sam sekali tak terusik dari lelapnya.
Perempuan ini memiliki figur tubuh yang indah, kulit lembut dan porsi pas di tubuhnya yang sangat menyenangkan untuk disentuh dan dipeluk. Lekuk tubuh Sera yang lunak seolah diciptakan untuk dilengkapi oleh kekuatan tubuhnya yang kokoh, sepasang tubuh yang saling mengisi satu sama lain.
Xavier menipiskan bibir, menahan sekuat tenaga hasrat yang bergolak ketika dia mengawasi tubuh istrinya yang polos. Tangan Xavier lalu bergerak menarik selimut kusut masai yang teronggok di bagian kaki ranjang untuk kemudian menyelimutkannya ke tubuh Sera.
Sera sedikit bergerak, tetapi hanya untuk mengubah tubuhnya ke posisi yang lebih enak, setelahnya Sera kembali begelung nyaman di balik selimut dan terlelap lagi.
Xavier sendiri tak ingin tergoda untuk berbuat lebih jauh. Lelaki itu memalingkan muka, sengaja mengalihkan pandangannya dari tubuh Sera supaya pikirannya juga bisa teralihkan dari adegan ranjang yang mau tak mau membuat hasratnya semakin bergolak.
Xavier melirik ke arah pakaiannya dan juga pakaian Sera yang berserakan di karpet lantai kamar sejak sebelum percintaan mereka tadi. Perlahan, diraihnya celananya dan dipakainya kembali untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Dia kemudian memaksakan tubuhnya berbalik dan melangkah ke kamar mandi.
Ketika membuka pintu kamar mandi, Xavier masih sempat melirik ke arah Sera yang tak berpindah dari posisinya semula, helaan napas terembus dari bibirnya sebelum kemudian dia melangkah masuk ke kamar mandi dan menutup serta mengunci pintunya dari dalam.
Xavier menyalakan keran air hangat untuk shower dan membuat dinding kaca yang mengitari shower itu dipenuhi embun akibat kabut uap air hangat yang naik ke udara. Dia hendak masuk ke bawah shower. Tapi lalu teringat akan benda yang disembunyikan oleh Sera di pot tanaman yang digantung sebagai dekorasi di bagian atas kamar mandi ini.
Xavier kemudian melakukan hal yang sama dengan Sera, mengambil kursi untuk menjangkau benda kotak kecil yang masih tersembunyi di tempat terakhir Sera menaruhnya, lalu menggenggam benda elektronik berbentuk kotak hitam itu dalam genggamannya.
Tangan Xavier menekan satu-satunya tombol yang ada di sana, dan layar dari benda serupa ponsel mini itupun menyala, menampilkan pesan dari Aaron yang dikirim sore hari, Xavier membacanya perlahan kata demi kata, dan matanya semakin menggelap dengan sinar mengerikan saat dia menyelesaikan membaca keseluruhan pesan itu.
Perlahan Xavier melangkah menuju meja marmer wastafel, lalu meletakkan ponsel mini itu di sana. Tangannya sendiri bergerak untuk mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak seukuran pemantik rokok yang terbuat dari bahan logam yang tampak kuat.
Xavier mengeluarkan sebuah benda seukuran jarum dari sana. Benda itu, meskipun berukuran kecil, sangatlah canggih. Itu adalah alat penyadap dengan teknologi nano yang hampir-hampir tak bisa dideteksi saking tipis dan kecilnya. Tebalnya hampir sebesar helaian rambut, sepanjang ukuran jarum jahit dan sangat hebat untuk menyadap teknologi apapun.
Perlahan Xavier memasang alat itu di bagian dalam ponsel mini yang telah dibukanya. Alat itu secara otomatis menempel pada permukaan elekteronik tempatnya diletakkan, cukup aman sehingga Sera bahkan tak akan menyadari bahwa alat tersebut dipasang di sana.
Setelahnya, Xavier menutup kembali ponsel mini tersebut, hendak mengembalikannya ke tempatnya. Pada saat yang sama, ponsel itu berkedip-kedip, membuat Xavier menunduk dan menatap layar dari benda di tangannya tersebut.
Pesan dari Aaron terpampang nyata di sana, terbaca dengan jelas oleh Xavier.
-Sera, aku di bawa ke sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota. Aku tak tahu ada di mana, tetapi situasinya sangat sepi, hanya ada langkah penjaga di luar dan tak ada kendaraan apapun. Aku menduga ini ada di tepi pantai, karena ada aroma laut terhembus dari ventilasi udara di ruangan tempat aku dikurung. Bantulah aku, dapatkan informasi untukku dari Xavier mengenai di mana sebenarnya tempat aku dikurung-
Xavier mengetatkan gerahamnya dengan marah, tangannya mengepal, seolah hendak meremas ponsel mini itu sampai hancur. Tetapi, tentu saja dia tidak melakukkannya. Untuk saat ini, dia akan tetap berpegang teguh pada niatnya semula, bersikap hati-hati dan terkendali sampai nanti tiba saatnya untuk menghancurkan Aaron dengan cara paling mengerikan yang bisa dia lakukan.
Jika saat itu akhirnya tiba, Xavier akan memastikan bahwa Sera berada di pihaknya dan perempuan itu akan bertepuk tangan mendukungnya ketika dirinya menghukum Aaron.
Xavier lalu meletakkan kembali ponsel mini itu di tempatnya semula, membersihkan semua jejak hingga Sera tak akan bisa tahu bahwa dia telah menjamahkan tangannya di benda sialan tersebut.
Setelahnya, Xavier melepaskan celananya dan melangkah masuk ke bawah pancuran yang telah menunggu. Diguyurnya tubuhnya dengan semburan air hangat yang mengalir keras dan menciptakan sensasi pukulan-pukulan kecil di permukaan kulitnya.Air hangat itu menyegarkan, tetapi tak mampu mematikan bara di hatinya yang begitu panas membakar.
Sebuah pertanyaan membahana berulang dalam benaknya, membuatnya harus berjuang keras untuk mengontrol kemarahan dan gelisah di dalam kepalanya.
Apakah keputusan yang diambilnya ini benar? Apakah sudah tepat dia menempatkan diri sebagai sosok antagonis dalam kehidupan Sera? Apakah Sera akan memilih berpihak kepada Aaron lalu mengkhianatinya?
…. Apakah Xavier harus membunuh Sera, jika perempuan itu terbukti berkhianat nanti?
***
Sera menatap langit-langit kamar dengan gelisah. Matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Dia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang terjadi di dalam sana, tetapi dia tahu pasti bahwa Xavier sedang mandi.
Xavier lama sekali berada di kamar mandi. Apakah biasanya lelaki itu memang menghabiskan waktu begitu lama hanya untuk mandi?
Ya. Sejak Xavier turun dari ranjang tadi, menyelimutinya dan melangkah masuk ke kamar mandi, Sera sebenarnya sudah terbangun. Tetapi, dia tetap berjuang keras menjaga tubuhnya tak bergerak supaya Xavier tak tahu bahwa dia telah terbangun.
Sekarang, berkali-kali Sera menghela napas dengan panik, dipenuhi oleh gemuruh perasaan gelisah bercampur ketakutan.
Mungkin tak seharusnya dia menyimpan ponsel mini itu di kamar mandi. Akan ada masa Xavier menutup pintu kamar mandi itu, sendirian di dalam sana dan Sera tak bisa mengintervensi seperti saat ini.
Kenapa tadi dia tak menyimpan benda kecil itu di bawah ranjang atau di tempat lain yang mudah dijangkau serta diawasinya?
Sera mengutuki dirinya sendiri, sementara kembali matanya tertuju ke arah kamar mandi, menanti lelaki yang sepertinya betah sekali berlama-lama di dalam sana.
Xavier tidak akan mengetahui bahwa dia menyembunyikan sesuatu di atas sana, bukan? Posisi pot bunga itu berada di atas dan tak mudah dijangkau, bahkan kemungkinan besar akan selalu lepas dari perhatian siapapun yang memasuki kamar mandi.
Sera menghela napas sekali lagi, berusaha menenangkan dirinya. Rasa was-was itu terasa mencekik seiring dengan semakin banyaknya detik berputar dimana Xavier berada di dalam kamar mandi tersebut.
Pikiran buruk bahkan mulai menghantuinya, membuat Sera semakin ketakutan.Dia bahkan tak memeriksa alat itu lebih dulu.
Apakah ada kemungkinan alat itu mengeluarkan suara? Jangan-jangan, ketika Aaron mengirimkan pesan kepadanya, alat itu akan berbunyi dan menarik perhatian Xavier ke tempatnya disembunyikan?
Sera seakan tercekik, ketegangan menjerat lehernya, membuatnya tersengal dan dadanya panas seolah kehilangan oksigen. Lalu, tiba-tiba, terdengar suara kunci di buka dari kamar mandi, membuat tubuh Sera terkesiap dan tak bisa berbuat apapun selain menoleh ke arah pintu tersebut dengan mata membeliak dan jantung berdebar seolah pecah karena tegang menanti Xavier muncul dari sana.
Ekspresi Xavier tampak santai ketika keluar dari kamar mandi. Lelaki itu mengenakan jubah mandi berwarna gelap yang diikat dengan serampangan di pinggangnya, rambutnya basah dan sehelai handuk berwarna gelap ada di tangannya, digosokkan ke rambutnya dalam upaya untuk mengeringkannya.
Lelaki itu mengulas senyum ketika matanya bertemu dengan mata Sera.
“Kau terbangun? Apakah kegiatanku di kamar mandi membangunkanmu?” tanya Xavier dengan ramah.
__ADS_1
Mata Sera mengawasi sosok suaminya yang berdiri di tengah ruangan, diterangi oleh lampu tidur kamar yang temaram.
Syukurlah, lelaki itu tampak ramah seperti biasa. Itu berarti Xavier tidak mengetahui bahwa Sera menyembunyikan ponsel mini tersebut di kamar mandi, bukan?
Pertanyaan Sera teralihkan ketika matanya menatap penampilan Xavier yang indah. Meskipun hatinya benci, tetapi mau tak mau Sera harus mengakui bahwa lelaki di depannya ini benar-benar tampan luar biasa. Sekarang, bahkan dengan pencahayaan minim, Xavier malah tampak seperti malaikat yang berdiri dengan segala kesempurnaan ragawi yang membuat debaran tak tertahan bergolak di dada Sera.
“A-aku terbangun bukan karena dirimu,” Sera berbisik perlahan untuk menjawab dengan suara tersendat. Pikirannya berputar, sibuk mencari alasan. “Aku cuma haus,” sambungnya kemudian.
Xavier tersenyum, menatap Sera dengan penuh isyarat. “Apakah kau juga lapar? Kalau iya, kita bisa turun ke dapur mencari makanan. Kita tadi belum sempat makan malam.”
Tawaran itu terasa sangat menggiurkan, dan tanpa sadar tangan Sera menyentuh perutnya yang bergemuruh, memberi isyarat pada sang pemilik raga bahwa sudah waktunya perutnya diisi.
“Mau?” Xavier bertanya kembali, nadanya terdengar lembut sedikit menggoda.
Sera menelan ludah, lalu dengan malu-malu dia menganggukkan kepala.Ada senyum terkembang di bibir Xavier ketika lelaki itu membalas anggukan Sera.
“Oke. Tunggu sebentar, aku akan berganti baju.” Lelaki itu berucap tenang, lalu dengan santai melangkah ke depan pintu lemari pakaiannya dan melepaskan jubah mandinya begitu saja, memamerkan tubuh kokohnya yang berada dalam kondisi urian.
Lelaki itu benar-benar tak tahu malu, berganti pakaian begitu saja seolah tak ada orang lain di dalam ruangan ini.
Seketika Sera memalingkan muka, wajahnya merah padam dan terasa panas. Meskipun mereka telah begitu dekat dalam hal yang tak mungkin dilakukan Sera bersama orang lain, tetap saja melihat tubuh Xavier yang tak tertutup apapun, membuatnya jengah.
Tak lama kemudian, lelaki menyelesaikan berganti baju, mengenakan celana piyama warna gelap yang dipadu t-shirt longgar keabuan. Setelahnya, Xavier menolehkan kepala ke arah Sera, lalu mengangkat alis ketika melihat Sera masih duduk di atas ranjang dengan canggung, mencengkeram selimut yang membungkus tubuhnya ke dadanya, seolah-olah selimut itu adalah tameng pelindungnya.
“Ah, pakaianmu.” Xavier tersenyum ketika menyadari kenapa Sera terlihat kebingungan di atas ranjang. Piyama yang tadi diberikannya untuk dipakai Sera sudah terlempar ke lantai dalam kondisi kusut akibat percintaan mereka, jadi sepertinya, Xavier harus mencarikan pakaian lain untuk dikenakan oleh perempuan itu.
Lelaki itu menoleh kembali ke arah lemari pakaiannya, lalu mengeluarkan pakaian dari sana dan melangkah mendekati Sera, meletakkan pakaian itu di pangkuannya.
“Kau bisa mengenakan ini. Berganti pakaianlah,” ujarnya setengah memberi perintah.
Sera menundukkan kepala, menatap pakaian yang diletakkan oleh Xavier di pangkuannya.
Itu adalah T-shirt putih dan….
Mata Sera membelalak ketika menyadari ada boxer berwarna hitam polos di balik t-shirt warna putih itu. Hampir-hampir Sera melemparkannya karena terkejut, beruntung dia masih bisa menguasai diri hingga tak sampai melakukannya.
“I-ini…. Celana dalammu?” serunya terbata, dipenuhi ketidakpercayaan.
Sudut bibir Xavier berkedut, seolah menahan tawa.
“Ya, itu boxer-ku,” jawabnya singkat mengiyakan.
Xavier menyeringai. Ada rasa puas tak ternilai ketika melihat keterkejutan Sera yang membuatnya ingin tertawa terbahak. Perempuan ini layaknya hiburan tersendiri baginya. Tidak sia-sia Xavier menyembunyikan seluruh pakaian Sera di lemari sebelah, hanya untuk membuat perempuan itu telanjang sepanjang malam.
Ekspresi Sera saat ini sungguh tak ternilai harganya.
“Maafkan aku, tuan putri. Aku tak punya stok celana dalam baru yang belum pernah kupakai untukmu. Lagipula, boxer itu masih lebih baik daripada tak mengenakan apapun sama sekali. Ukurannya mungkin sedikit kebesaran, tetapi ada tali serut di sana dimana kau bisa mengikatkannya dengan kencang supaya tak melorot. Boxer itu bisa menutup setidaknya setengah pahamu, jauh lebih baik daripada keluar kamar hanya mengenakan t-shirt dan tak bercelana, bukan?
Jawaban Xavier begitu tepatnya hingga Sera tak mampu menyanggah. Dia menipiskan bibir, menimbang-nimbang, lalu akhirnya mengambil keputusan.
Sera ingin keluar dari kamar ini, menghela napas sejenak dari nuansa kamar yang penuh dengan jejak keintiman dirinya dan Xavier dan tawaran Xavier untuk pergi ke dapur mencari makanan sangatlah menggoda. Lagipula, Sera benar-benar lapar dan ingin makan. Dia sungguh yakin Xavier akan bersikap jahat dan tak akan mau membantunya kalau Sera sampai memohon supaya tidak perlu keluar dan meminta Xavier mengantarkan makanan ke dalam kamar ini.
“Baik, aku akan memakainya.” Sera bersungut-sungut, lalu menatap Xavier dengan pandangan marah.
Lelaki itu benar-benar tidak peka, malahan mengangkat alisnya seolah tanpa dosa.
“Ada apa?” tanya Xavier kemudian dengan nada menjengkelkan.
Sera mengerucutkan bibirnya. “Tidak bisakah kau bersikap sopan dan membalikkan tubuhmu ketika aku berganti pakaian?”
Xavier terkekeh. “Ah, permintaan itu lagi. Terakhir kali aku mengabulkannya karena kita belum menikah. Tetapi sekarang, kurasa aku tak mau membalikkan tubuh. Kau dan aku sudah melakukan hal-hal intim yang tak akan kujelaskan secara terperinci di sini. Seharusnya, sudah tak boleh ada lagi rasa malu di antara kita berdua.” Xavier sedikit berkacak pinggang, menatap Sera dengan tatapan menantang. “Berganti pakaianlah di depanku, karena aku tak mau berpaling.”
Sera membeliak, menatap lelaki paling menjengkelkan di muka bumi ini dengan tatapan luar biasa geram. Tetapi, sekali lagi, Sera ditempatkan dalam posisi terdesak tanpa bisa membantah, begitu inferior dan tak mampu melakukan hal lain selain menuruti suaminya yang arogan ini.
Dengan wajah merah padam, Sera memutuskan untuk berdiri dan mulai berganti pakaian perlahan-lahan. Tetapi, tentu dia tak kurang akal, dililitkannya selimut itu supaya menutup melingkar di bagian atas dadanya, lalu barulah Sera mengenakan t-shirt Xavier yang agak longgar melalui kepalanya. Setelahnya, dengan pintar, Sera memasukkan celana boxer Xavier dari balik selimut dan memasang ke tempatnya dengan hati-hati, menjaga supaya tidak ada sedikit pun bagian sensitif yang bisa dilahap oleh mata Xavier yang tak tahu malu.
Xavier tersenyum sinis melihat tingkah Sera. Bibirnya membentuk seringaian ketika melihat Sera berusaha mengikat tali celananya sekencang mungkin di pinggangnya supaya tak melorot jatuh.
“Perlu bantuan?” Xavier menawarkan lembut, dengan sikap sengaja.
“Tidak!” Suara Sera sedikit mengeras di akhir intonasinya, menolak mentah-mentah tawaran bantuan lelaki mesum yang berbahaya itu.
Setelah selesai, Sera melepaskan ikatan selimut di tubuhnya, mendongakkan dagu dengan penuh harga diri ke arah Xavier.
“Aku sudah siap,” ujarnya dengan nada angkuh.
Xavier menelusuri tubuh mungil Sera yang seolah tenggelap dalam t-shirt longgarnya yang panjang sampai pertengahan paha, sementara boxer hitam yang dikenakannya, tampak mengintip dari ujung t-shirt yang kepanjangan itu.
Sera sungguh tak tahu bahwa Xavier harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendorong perempuan itu kembali ke atas ranjang, lalu bercinta dengannya kembali sampai pagi.
__ADS_1
Tidak. Xavier tahu bahwa perempuan itu kelaparan karena dirinya belum memberinya makan sejak mereka tiba di rumah ini. Adakalanya kebutuhan perut harus diprioritaskan terlebih dahulu. Karena makan akan memberikan tenaga, dan jika tubuh Sera bertenaga, barulah perempuan itu kuat melayaninya sampai pagi.
Xavier mengulurkan tangan, tatapannya memaksa hingga Sera tak bisa berbuat apapun selain menerima uluran tangan yang diberikannya.
“Ayo ke dapur,” ajaknya lembut, menghela Sera supaya melangkah keluar dari kamar.
***
Dapur itu tampak begitu bersih dan sangat lebar. Ada pantry memanjang di salah satu sisi ruangan, lengkap dengan kompor modern delapan ruas, kulkas besar dan juga berbagai peralatan modern untuk memasak lainnya yang terpasang di sana.
“Duduklah. Aku yang akan menyiapkan makanan dan minuman hangat untukmu.” Xavier meremas bahu Sera pelan, lalu mendudukkan perempuan itu di kursi tinggi yang ada di depan pantri besar berlapis marmer yang ada di dapur itu.
Setelahnya, Xavier melangkah memutar ke sisi seberang pantri dan mengeluarkan dua cangkir berwarna putih bersih dari salah satu nakas lemari dapur, lalu meletakkannya di atas meja dapur
“Susu atau cokelat?” tanya lelaki itu ramah.
Sera yang tak bisa berbuat apa-apa selain duduk dan mengawasi, mau tak mau menjawab.
“Cokelat saja,” jawabnya perlahan, seolah tak yakin.
“Aku bukan peminum cokelat, jadi maafkan aku jika hanya memiliki cokelat instant di dalam persediaan makananku. Cokelat akan menenangkan pikiranmu yang kalut.” Xavier berucap penuh arti. Lalu mengeluarkan bubuk cokelat dari toples kristal bening yang terpasang di sana. “Meskipun begitu, kandungan kafein di dalam cokelat mungkin bisa membuatmu susah tidur. Tetapi, sepertinya itu bukan masalah. Kita tidak sedang berencana untuk tidur, bukan?” sambungnya kemudian.
Semu merah kembali menghiasi wajah Sera ketika dia langsung bisa membayangkan apa yang sedang direncanakan oleh Xavier ketika mereka kembali ke kamar nanti.
“Ah, susu saja. A-aku tidak butuh ditenangkan, dan kurasa aku butuh tidur,” sela Sera cepat, berubah pikiran dengan sengaja.
Beruntung Xavier belum sampai menuangkan bubuk cokelat itu ke cangkir. Gerakan lelaki itu terhenti, lalu menutup kembali tutup dari toples berisi cokelat yang sempat dibukanya.
Tanpa mengomentari perubahan pikiran Sera yang menyiratkan penolakan untuknya, Xavier meletakkan kembali toples cokelat itu ke tempatnya, lalu melangkah ke kulkas dan mengeluarkan karton kotak berisi susu putih dan menuangkannya ke atas wadah panci kecil yang telah disiapkan di atas kompor.
Lelaki itu menyalakan kompor, menghangatkan susu tersebut dengan nyala api kecil.
“Tidak butuh ditenangkan?” Xavier bertanya lambat-lambat, tubuhnya masih memunggungi Sera, tampak fokus pada susu yang sedang dihangatkannya. “Kenapa aku seperti melihat yang sebaliknya darimu, Sera?” tanya Xavier perlahan.
Sera terkesiap. Matanya melebar menatap punggung Xavier, tangannya berjalinan saling meremas dengan gugup ketika menyadari betapa berbahayanya pertanyaan Xavier kepadanya itu.
Kenapa Xavier bertanya seperti itu kepadanya? Apakah… apakah jangan-jangan lelaki itu benar-benar telah menemukan ponsel mini yang disembunyikannya di dalam kamar mandi?
“A-apa maksudmu?” Sera bertanya terbata, mencoba terdengar biasa tapi tak bisa menyembunyikan gemetar dalam suaranya.
Xavier menolehkan kepalanya sedikit ke arah Sera, cukup untuk membuat Sera bisa melihat matanya yang tajam.
“Kau terlihat gelisah sejak kita datang ke rumah ini. Apakah kau sedang memikirkan sesuatu yang sengaja kau sembunyikan dariku?” tanya Xavier kemudian dengan nada yang tak kalah menusuk tajam.
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
Thank You
__ADS_1
Yours Sincerely - AY