
Xavier mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, tak mau membalas pertanyaan Dokter Nathan dan membiarkannya menggantung di udara.
"Bawa saja Sera kemari. Biarkan kami berbicara," ujarnya kemudian dengan nada datar.
Dokter Nathan tak mau menyerah, lelaki itu melangkah mendekat ke tepi ranjang, memaksa Xavier menatap ke arahnya.
"Jika kau memutuskan melakukan terminasi pada anak dalam kandungan Sera, maka aku tak akan membantumu. Aku akan lepas tangan dari segala permasalahanmu dan tak akan campur tangan lagi," ancamnya dengan suara setengah menggeram.
Xavier menipiskan bibir. "Sejak awal mula bukankah kau memang tak terlibat?" ejeknya dengan nada sinis.
Kening Nathan berkerut dalam.
"Xavier, ini menyangkut seorang calon ibu dan bayi dalam kandungannya. Aku bisa mengabaikan yang lainnya. Tetapi, jika menyangkut yang satu itu...."
"Aku akan memberikan penyelesaian terbaik bagi Sera. Bahkan jika dia mengandung sekalipun, dia akan mendapatkan yang terbaik." Perlahan Xavier menyela, seolah tak ingin mendengarkan nasehat Nathan lebih jauh lagi.
Nathan menatap Xavier, mencoba mempelajari ekspresi wajahnya agar bisa menemukan apa yang dikandung oleh hatinya, sayangnya dia tak bisa menemukan apa-apa.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran secepat ini, Xavier?" Nathan akhirnya mengutarakan pertanyaan yang sama kembali, menyerah untuk mencoba mencari sendiri. "Sebelum penusukan itu, kau masih begitu bersemangat untuk menghamili Sera dan menyelamatkan nyawamu dengan bantuan anak itu. Kenapa sekarang berbeda? Apa yang memicumu? Apa alasanmu?"
Kali ini Xavier akhirnya mau menatap langsung ke arah Nathan, ekspresinya tampak penuh ironi.
"Bagaimana jika aku bilang, bahwa aku mendapatkan refleksi kematianku sendiri saat aku mengalami koma?" jawabnya kemudian.
Nathan tergugu sejenak, kehabisan kata untuk menanggapi.
"Aku sering berbicara dengan para pasienku setelah mereka terlepas dari koma. Sebagian besar dari mereka memang mendapatkan pengalaman seperti kematian yang terekam jelas dalam memori mereka. Tetapi tidak ada yang pernah tahu apa yang divisualisasikan oleh otak ketika kesadaran mereka ditekan sampai ke titik terdalam. Bisa saja itu hanyalah merupakan hasil kontemplasi bayangan manusia tentang alam kematian yang kemudian terefleksikan ke alam bawah sadarmu." Nathan menyipitkan mata, memastikan Xavier mendengarkan setiap patah kata yang diucapkannya. "Mendapatkan penglihatan nyata akan kematianmu, bukan berarti kau akan mati," sambungnya kemudian.
Xavier mengetatkan gerahamnya.
"Aku akan memutuskan semua hubunganku dengan kehidupan supaya aku bisa menyambut kematianku," geramnya keras kepala.
"Dan membuang istrimu sendiri? Kau menikahinya dengan kesadaran penuh. Tidakkah kau memikirkan tentang anak itu? Anak dari seorang Xavier Light yang memiliki banyak musuh yang berniat untuk membalas dendam kepadamu di masa depan. Jika kau tak ada di sana untuk melindungi anak itu, kau pikir apa yang akan terjadi kepada mereka?" sahut Nathan mulai emosi.
"Karena itulah sebaiknya anak itu tak terwujud." Xavier menyahuti dengan nada dingin.
"Tak terwujud? Kau tahu persis bahwa kemungkinan anak itu terbentuk adalah hampir seratus persen. Kau pikir aku tak tahu? Kau sudah menyiapkan tubuh Sera sebagai ladang yang kau semai sejak awal! Kau memberinya obat tanpa sepengetahuannya! Obat untuk meningkatkan kesuburannya dan memastikan dia terbuahi dengan sempurna. Bagaimana bisa kau melepaskan tanggung jawabmu begitu saja setelah kau memaksakan itu terbentuk dengan segala cara?" Suara Nathan sedikit meninggi karena ketidaksabaran, sayangnya hal itu sepertinya tak menyentuh hati Xavier. Lelaki itu tetap memasang ekspresi datar, seolah-olah ada pagar pembatas yang membentengi hatinya.
"Sera akan senang memperoleh kebebasannya. Masih belum terlambat." Xavier lalu mengutarakan pikirannya dengan sikap keras hati.
"Jika anak itu sudah terbentuk, maka sudah terlambat. Itu sama saja Sera sudah berada di bawah tanggung jawabmu dan tak bisa kau buang begitu saja." Nathan menyahut cepat. "Apa alasanmu membebaskan Sera? Supaya dia bisa bersatu kembali dengan Aaron? Karena itukah kau menitipkan serum penawar untuk menyembuhkan dan membebaskan Aaron?" Nathan menyuarakan pertanyaannya bertubi-tubi, dan akhirnya hanya bisa menyeringai ketika dia tak mendapatkan jawaban apapun dari Xavier.
Berusaha menenangkan diri, Nathan menghela napas beberapa kali, sehingga ketika dia berucap kemudian, nada suaranya rendah tanpa emosi.
"Kau adalah orang tercerdas yang pernah aku kenal, Xavier. Tetapi terkadang, kecerdasanmu itu menghalangi kemampuanmu memahami perilaku manusiawi orang lain. Jika kau membebaskan Sera dalam kondisi mengandung anakmu, atau nanti saat kau membebaskannya ketika dia telah melahirkan anakmu, kau pikir Aaron akan mau menerima Sera yang merupakan bekas lelaki lain? Bekas musuhnya pula." Nathan mengamati kembali ekspresi Xavier, menahan sedikit kepuasan karena kali ini dia melihat lelaki itu tertegun mendengar kalimat yang dilontarkannya.
"Aku membebaskan Sera dari cengkeramanku hingga dia bebas ingin menentukan bersama siapa di masa depannya." Xavier mengoreksi kalimatnya dengan tenang. Tidak seperti Nathan, dia tahu warna asli Aaron yang sesungguhnya. Lelaki itu memanipulasi Sera supaya merasa bergantung dan berhutang budi kepadanya, membuat Sera memandang Aaron sebagai malaikat penyelamat. Sedangkan di hati Aaron, sudah tentu lelaki itu tak peduli pada Sera dan sibuk dengan ambisinya sendiri.
Xavier memang tak mengatakan pengetahuannya itu kepada siapapun, yang pasti, dia tahu bahwa tak ada Sera di hati Aaron. Lelaki itu memandang Sera sebagai alat untuk mencapai tujuannya, selama Sera bisa digunakan dan bermanfaat, maka dia akan bersikap baik kepada Sera. Jangankan menerima Sera yang sudah bekas disentuhnya, dalam kondisi Sera yang tak ternoda pun, Xavier yakin Aaron akan lebih memilih wanita lain yang dianggapnya sesuai dengan standarnya untuk mendampinginya.
Tetapi sesungguhnya, Xavier memberikan serum penawar untuk menyembuhkan Aaron memang bukan untuk membuat lelaki itu bisa berakhir dengan Sera. Dia menyembuhkan Aaron supaya Sera tak terikat dengan hutang budi masa lalunya menyangkut Aaron. Jika dulu Aaron pernah menyelamatkan nyawa Sera, maka sekarang, Xavier akan membuat Sera menyelamatkan nyawa Aaron. Itu semua supaya kedudukan Aaron dan Sera sama-sama impas.
Dengan begitu, Sera bisa melangkah menghadapi masa depannya tanpa terbelenggu rantai berat masa lampaunya.
Nathan mendengkus, lalu mengangkat bahu ketika mendengarkan kalimat sanggahan terakhir Xavier.
"Kurasa aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah pikiranmu. Aku akan membawa Sera kemari untuk menemuimu." Nathan sengaja berpamitan pergi meninggalkan ruangan itu, ingin memberi waktu bagi Xavier untuk berpikir ulang.
***
Jantung Sera berdebar ketika Dokter Nathan secara khusus mendorong kursi roda untuk membawa Sera menuju ruang perawatan Xavier. Sera sesungguhnya sudah mengatakan kepada sang dokter bahwa dia bisa berjalan sendiri, tetapi dokter Nathan bersikeras menyiapkan kursi roda baginya dan mendorongnya sendiri untuk mengantarnya.
Sang dokter bahkan bilang kalau Sera lebih baik duduk di kursi roda demi keamanan mereka bersama. Kondisi Sera memang masih lemah, dan Dokter Nathan bahkan sempat bercanda kalau sampai Sera pingsan lagi nanti, lebih baik jika Sera pingsan ketika dia sedang duduk di atas kursi roda saja, jadi lelaki itu tinggal mendorongnya, tidak perlu mengangkatnya.
Apakah yang akan dikatakan oleh Xavier kepadanya hingga bisa membuatnya pingsan? Adakah yang lebih mencengangkan dari kenyataan bahwa Xavier akan menceraikannya?
Sera sudah menyiapkan hati, tetapi tetap saja rasa takut merayapinya ketika dia akan menghadapi Xavier sebentar lagi. Rasanya seperti seekor domba yang hendak digiring ke tempat penjagalan, hanya bisa kelu menerima ultimatum, tak bisa melawan nasib.
__ADS_1
Ruang perawatan Xavier hening seperti biasa, hanya terdengar suara alat penunjang kehidupan yang berbunyi spontan, menunjukkan bahwa kondisi Xavier sudah stabil.
Semua masih sama seperti yang diingat oleh Sera ketika meninggalkan ruangan ini. Yang membedakan adalah, sosok Xavier yang ada di atas ranjang saat ini, sedang membuka matanya, sadar sepenuhnya dan bukannya terbaring tak berdaya seperti sebelumnya.
Malam sudah bergulir melintasi poros tengahnya dan melangkah ke jenjang dini hari yang sedang menanti, tetapi Sera yakin, bahwa tak ada satupun di antara mereka berdua yang memikirkan tentang tidur.
Tanpa suara, Dokter Nathan mendorong kursi roda Sera hingga berada dekat sekali dengan tepi ranjang rumah sakit itu. Memposisikan Sera di tempat yang tepat sehingga dirinya bisa melihat wajah Xavier dengan jelas ketika mereka berbicara nanti, begitupun sebaliknya.
"Kurasa aku akan meninggalkan kalian berdua untuk bercakap-cakap." Dokter Nathan mengamati pasangan suami istri yang tiba-tiba tampak canggung satu sama lain, lalu memutuskan bahwa dia harus memberi mereka ruang.
"Dokter." Xavier menolehkan kepala, memanggil Dokter Nathan yang hendak beranjak pergi. Sera sendiri mengamati, bahwa lelaki itu masih belum menatap matanya secara langsung sejak dia memasuki ruangan ini.
Dokter Nathan menghentikan langkahnya yang hendak menjauh, mengerutkan kening karena tak menyangka bahwa Xavier akan memanggilnya.
"Ada apa?" tanyanya kemudian ketika Xavier tak juga berucap.
"Kapan paling cepat kau bisa melakukan test darah?" Xavier akhirnya menyambut pertanyaan Dokter Nathan dengan pertanyaan juga.
Alis Dokter Nathan langsung terangkat. Xavier meminta test darah, pasti itu dilakukan terhadap Sera untuk deteksi dini guna memastikan apakah kehamilan Sera benar-benar terbentuk atau tidak.
Apakah itu berarti, Xavier berpikir ulang mengenai keputusan impulsifnya untuk menceraikan Sera secara mendadak? Jika nanti ternyata ada bayi, maka semuanya akan berbeda, bukan?
Sepercik harapan muncul di benak Dokter Nathan, harapan supaya dua orang malang yang terdampar bersama di hadapannya ini, mendapatkan perahu penyelamat yang menyatukan mereka dan bukannya menceraiberaikannya.
"Paling cepat 7-9 hari setelah proses pembuahan barulah test itu bisa dilakukan. Aku akan melakukan test darah berturut-turut, minimal tiga kali untuk mendapatkan hasil yang akurat," jawabnya cepat.
"Aku ingin kau melakukannya segera begitu keadaan memungkinkan, dan mengenai hasilnya, aku juga ingin hasil akuratnya bisa dikeluarkan secepatnya," sahut Xavier tenang.
Dokter Nathan menganggukkan kepala.
"Anggap saja sudah terlaksana," gumamnya sambil lalu sebelum kemudian melangkah meninggalkan ruang perawatan itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.
***
Aaron sebenarnya masih ada di area sekitaran motel itu ketika penyergapan datang ke sana.
Dia lapar dan masakan dari pasangan suami istri tua pemilik motel kecil ini yang disediakan untuk tamu motel, sama sekali tak cocok dengan lidahnya. Karena itulah Aaron memutuskan untuk keluar saja dan mencari makanan untuk mengisi perutnya.
Sabina sendiri telah meninggalkan beberapa lembar uang di meja, sepertinya perempuan itu tak ingat telah melakukannya, tetapi hal ini tentu saja menjadi keuntungan bagi Aaron karena dia jadi bisa membeli makanan di luar dan tak perlu terpaksa bertahan dengan makanan tak enak yang disiapkan oleh pihak motel.
Hanya keluar di sekitaran motel tak akan membahayakan nyawanya, bukan? Sepertinya tak akan ada yang memperhatikan sosok pria yang membaur dan membeli makanan dari pedagang kaki lima pinggir jalan.
Wajah Aaron memang babak belur dan bibirnya bengkak akibat pukulan yang diterimanya dari para pegawal Xavier sialan itu. Tetapi dia yakin bahwa malam yang remang, ditambah lagi topi yang dipakainya, akan cukup untuk menyamarkan penampilannya.
Larangan dari Sabina adalah menggunakan teknologi meskipun hanya sedikit karena Sabina yakin bahwa dengan hal itu dia akan bisa terlacak. Sementara Aaron tak menggunakan teknologi apapun, jadi bisa dibilang situasi aman terkendali.
Dengan santai, Aaron memesan makanan pada pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya tepat di pintu samping motel. Dia sedang menunggu pesanannya siap, ketika matanya melihat iring-iringan mobil gelap warna hitam yang masuk ke dalam tempat parkir motel itu secara berurutan.
Firasat buruk langsung merayapi benaknya. Mobil-mobil gelap itu terlalu mewah untuk tinggal di motel tua yang disewakan oleh Sabina baginya.
Mereka pasti anak buah Xavier!
Kalau begitu, posisinya sudah pasti telah ketahuan. Dan hal itu berarti hanya ada dua kemungkinan. Satu, Sabina telah tertangkap dan diinterograsi hingga sampai membocorkan keberadaan Aaron, sementara yang kedua, mungkin saja Sabina berubah pikiran dan tak mau lagi berada di pihak Aaron. Bagaimanapun, lawan Aaron adalan Xavier, bisa saja Sabina berkhianat dan memilih berada di pihak yang kuat, bukan?
Aaron meringis, dipenuhi oleh dendam. Semua wanita sama saja! Baik Sera maupun Sabina, tak ada yang bisa dipercaya!
Aaron langsung melupakan perut laparnya, dia segera membalikkan tubuh dan meninggalkan pesanan makanannya yang belum dibayar lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu, memutuskan untuk menjauh sebisanya dari bahaya yang mengejarnya.
***
"Kau tentu sudah tahu kenapa aku memanggilmu kemari dan mengajakmu berbicara." Xavier memutuskan untuk tak berbasa-basi. Lelaki itu menatap Sera tanpa ekspresi, dengan bola matanya yang dingin tak beremosi. "Aku berasumsi bahwa kau sempat mendengar percakapan kami sebelum kau pingsan."
Sera menatap Xavier tajam, mencoba menyelisik supaya dia bisa menemukan setitik saja emosi di mata Xavier untuk memberi petunjuk kepada Sera seperti apa isi hati Xavier. Sayangnya, dia harus bersua dengan kebingungan karena tak mampu menemukan apapun di sana.
"Ya." Sera memutuskan mengakui karena dia tahu bahwa tak ada gunanya dia berbohong. Bibirnya gemetar ketika dia melanjutkan kalimatnya, "aku sudah mendengarnya."
"Bagus. Kurasa aku tak perlu menjelaskannya lagi. Aku menawarkan kebebasan kepadamu yang akan menguntungkanmu di semua sisi. Tidak akan ada satupun dari aspek perceraian yang kutawarkan yang akan merugikanmu. Kau akan mendapatkan jaminan penuh, baik dalam bentuk jaminan perlindungan maupun jaminan tunjangan materi sebagai mantan istriku. Seluruh jaminan itu baru akan kulepaskan jika nanti kau menikah lagi." Xavier menatap Sera sambil lalu, seolah tak penting baginya menatap langsung mata Sera ketika berbicara. "Jika nanti Dokter Nathan memastikan bahwa ada bayi di dalam kandunganmu, maka aku akan memundurkan tanggal perceraian kita untuk memastikan nama keluargaku tersemat di belakang nama anakku. Sehari setelah kau melahirkan anak itu, maka aku akan resmi menceraikanmu."
__ADS_1
Sungguh ajaib Xavier bisa menyelesaikan kalimat panjangnya tanpa kehabisan napas. Dadanya masih terasa nyeri, tetapi Xavier menahannya sekuat tenaga. Dia bahkan memaksa diri berucap dengan suara jelas dan artikulasi lambat-lambat supaya Sera bisa mencerna setiap kata yang diucapkannya dengan baik.
Rasa sakit yang menusuk paru-parunya, dicegatnya dan dihentikannya secepatnya, supaya hanya terasa mendera di tubuhnya, tapi tak sampai tercermin di wajahnya.
Xavier menghentikan kalimatnya dan baru kali ini matanya benar-benar menatap lurus ke arah Sera.
"Berkas-berkas klausul perjanjian dua versi kemungkinan tersebut, sudah ada di sini. Pengacaraku telah menyiapkan semuanya. Kau bisa membacanya perlahan dan kita bisa berdiskusi jika ada klausul yang ingin kau negosiasikan untuk diubah." Xavier menunjuk ke arah nakas samping ranjangnya, tempat dokumen-dokumen itu tertumpuk rapi di sana. "Ambilah, aku akan beristirahat sejenak sembari menungguimu membaca dan mempelajarinya sekarang."
Xavier memberi perintah sambil mengibaskan tangannya seolah tak sabar menunggu Sera segera membereskan urusannya di sini dan meninggalkan ruangan. Lelaki itu bahkan sengaja memejamkan mata, berpura-pura terpejam hanya karena tak ingin menatap kehadiran Sera.
Sera mengawasi sikap Xavier dengan hati terluka, meraskan penolakan gambang terhadap keberadaannya yang menyakiti hatinya. Dia lalu melirik ke arah berkas-berkas di atas nakas tersebut dan akhirnya berucap,
"Tidak, Xavier."
Suara Sera tiba-tiba terdengar, memecahkan keheningan kamar yang mencekik itu.
Xavier terkejut hingga langsung membuka mata, dan matanya sendiri segera bersirobok dengan mata Sera yang menatapnya dengan ketegasan penuh tekad menyala-nyala.
Perempuan itu tampak rapuh dan sakit, begitu pucat dan kusut masai, tetapi entah kenapa seolah ada energi kekuatan yang meluap-luap dari tubuhnya dan menjadi bahan bakar semangatnya.
"Kau bilang apa?" Xavier akhirnya bertanya. Dirinya masih tak yakin dengan maksud dari perkataan Sera tersebut.
Sera menipiskan bibir, menatap Xavier dengan sinar mata membara, seolah ingin menahan emosi yang mendidih di dalam jiwanya.
Tak disangka, hal itu membuat Xavier terpesona.
Berkali-kali Sera marah, mengamuk, ataupun merajuk kepadanya, tetapi baru kali ini Xavier melihat Sera dalam intensitas emosi sekuat ini, membuatnya jadi begitu cantik di mata Xavier.
"Tidak, Xavier Light." Mata Sera membara dan bibirnya menipis menahan getaran di sana. "Kau telah memaksaku, merendahkanku, mengancamku semaumu selama ini. Tetapi untuk sekarang, tak akan kubiarkan kau membuangku semudah itu," ujar Sera kemudian dengan tangan terkepal, siap menantang habis-habisan.
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih.
__ADS_1
AY